Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Kamis, 29 Desember 2016

Hasad Dan Merendahkan Sesama Muslim Bagian 1

by Rory Rachmad  |  in Kitab Jami' at  29 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 28 Shafar 1438 H / 28 November 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 15 |
Hasad Dan Merendahkan Sesama Muslim (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H15-1
~~~~~~~
HASAD DAN MERENDAHKAN SESAMA MUSLIM (BAGIAN 1)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masuk pada hadits yang ke lima belas.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَا هُنَا " . وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ " بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ " .

Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata: Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian saling hasad, janganlah kalian saling melakukan najasy dan janganlah kalian saling bermusuhan membenci, dan janganlah kalian saling bertolak belakang (saling balik belakang), jangan sampai sebagian kalian menjual di atas penjualan yang lainnya.

Jadilah kalian hamba-hamba Allāh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, dia tidak menzhaliminya dan juga tidak meninggalkannya tatkala membutuhkan pertolongannya dan dia tidak merendahkannya.

Taqwa itu tempatnya disini (Rasulullāh shallallahu 'alaihi wasallam berisyarat kepada dadanya tiga kali).

Cukuplah seseorang telah dikatakan melakukan keburukan tatkala dia merendahkan saudaranya sesama muslim.

Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya (tidak boleh ditumpahkan), haram hartanya (tidak boleh diambil) dan harga dirinya haram (tidak boleh dijatuhkan)." (HR Muslim nomor 4650 versi Syarh Muslim nomor 2564)

Ikhwānī fillāh wa akhawātī fīddīn, hadits ini menjelaskan tentang pentingnya persatuan.

Setelah Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang larangan-larangan di atas, Rasulullāh menyebutkan di akhir hadits bahwasanya:

وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

"Jadilah kalian hamba-hama Allāh yang saling bersaudara."

Ini adalah sebab kenapa dilarang saling hasad, saling dengki dan saling benci.

Kalau semua larangan-larangan ini dihilangkan (tidak dilakukan), tidak saling, hasad tidak saling benci, tidak saling boikot, tidak saling balik belakang, maka kalian akan mejadi hamba-hamba Allāh yang bersaudara.

Ketauhilah bahwasanya diantara kaidah dan prinsip dalam Islam adalah persatuan.

Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara." (QS Al Hujurat 10)

Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwasanya persatuan merupakan prinsip yang paling utama setelah tauhid.

Kalau ada orang bertauhid namun tidak bersatu maka akan hancurlah Islam ini. Maka setelah tauhid, butuh yang namanya persatuan.

Makanya, perkara yang paling (selalu) dilakukan oleh syaitan adalah bagaimana agar bisa memecah belah kaum muslimin.

Kata Allāh Subhanahu wa Ta'ala:


وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوّاً مُبِيناً

"Katakanlah kepada hamba-hamba Ku, agar berucap dengan perkataan yang terbaik karena syaitan mengadu domba diantara mereka, menimbulkan permusuhan diantara mereka, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata buat manusia." (QS Al Isrā': 53)

Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

"Sesungguhnya syaitan sudah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, akan tetapi syaitan tidak putus asa untuk mengadu domba diantara mereka."

Hal ini dalil bahwasanya syaitan, yang paling utama adalah dia ingin menjeruskan manusia dalam kesyirikan dengan menyembah syaitan.

Namun tatkala syaitan tidak mampu menjerumuskan orang-orang dalam kesyirikan maka dia masuk pada point yang kedua yang juga sangat penting yaitu bagaimana menghancurkan persatuan mereka.

Karena kalau orang bertauhid namun mereka tidak bersatu, bercerai-berai, maka bagaimana bisa berjalan dakwah? Bagaimana bisa tegak Islam?

Karena Islam butuh dengan persatuan dan syaitan tahu akan hal tersebut.

Makanya, yang diserang adalah masalah tauhid, kalau tidak mampu maka syaitan tidak pernah putus asa untuk mengadu domba diantara kaum muslimin, diantara ahli tauhid.

Dari sini maka segala perkara yang bisa mengantarkan kepada persatuan, mengkokohkan persatuan, disyariatkan dalam Islam. Dari perkara yang besar sampai perkara kecil yang mungkin disepelekan.

Makanya, Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda:

 لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

"Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun meskipun hanya bertemu dengan saudaramu sambil tersenyum wajah berseri-seri."

Ini kelihatannya sepele namun ini menumbuhkan persatuan, menimbuhkan kasih sayang diantara kaum muslimin.

Oleh karenanya, Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam mengatakan:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

"Engkau senyum dihadapan wajah sahabatmu (saudaramu) adalah sedekah." (HR Tirmidzi nomor 1956)

Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam menamakan dengan sedekah, berarti berpahala karena ini menumbuhkan persatuan.

Contohnya lagi, menebarkan salam. Kata Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا . أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian." (HR Muslim nomor 54)

Menebarkan salam ini penting. Menumbuhkan kasih sayang diantara kaum muslimin.

Oleh karenanya, dalam hadits, Abdullah bin Sallam radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata:

أَوَّلَ شَىْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ  " يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ

(Tatkala Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam pertama kali masuk kota Madinah), pertama kali yang saya dengar dari perkataan beliau adalah:

"Wahai manusia sekalian, tebarkanlah salam (diantara kalian)." (HR Ibnu Majah nomor 3251)

Intinya, segala perkara yang bisa mengantarkan kepada persatuan dan mengokohkan persatuan tersebut (saling mencintai diantara kaum muslimin) dianjurkan dalam syariat.

Kemudian, diantara sunnahnya seseorang tatkala bertemu dengan saudaranya adalah berjabat tangan. Dengan berjabat tangan dapat menggugurkan dosa-dosa, luar biasa. Dengan berjabat tangan tersebut akan menumbuhkan kasih sayang.

Seseorang mungkin saling dongkol, saling jengkel, saling hasad, tapi kalau sudah berjabat tangan apalagi sambil tersenyum maka bergugurlah dosa-dosa.

Hasad tersebut akan terkikis, kebencian tersebut akan terkikis karena ada sentuhan tubuh antara satu dengan yang lainnya. Tangan bersentuhan dengan tangan, apalagi kalau sampai berpelukan.

Oleh karenanya, ini semua disyariatkan oleh Islam karena bisa menumbuhkan persatuan.

Demikian juga Rasullulāh shallalāhu 'alaihi wasallam bersabda:

تَهَادُوْا تَحَابُّوا

"Salinglah memberi hadiah diantara kalian maka kalian akan saling mencintai." (HR Bukhari dalam Al Adabul Mufrad)

Hal ini dianjurkan karena bisa menumbuhkan kasih sayang.

Demikian juga dengan yang sudah kita bahas pada awal-awal pengajian kita tentang kitabul adab, dimana Rasullulāh shallalāhu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwasanya:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ " . قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ " إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Hak muslim dengan muslim yang lain ada enam perkara, (diantaranya):

"Kalau dia undang engkau, maka datanglah."

Karena ini menambahkan persatuan dan kasih sayang. Kalau tidak datang akan menyakiti atau menyedihkan dirinya.

"Jika dia sakit maka jenguklah."

Ini juga untuk menumbukan kasih sayang diantara kaum muslimin.

Kemudian juga Rasullulāh shallalāhu 'alaihi wasallam dalam hadits tersebut juga berkata:

"Kalau dia minta nasihat maka nasihatilah."

Sebagai bentuk kasih sayang.

"Kalau dia bersin maka ucapkanlah yarhamukallah."

(HR Muslim nomor 2162)

Hal ini menumbuhkan kasih sayang. Bayangkan satunya mengucapkan, "Alhamdulillah," kemudian dibalas lagi dengan mengucapkan, "Yarhamukallah," dibalas lagi mengatakan, "Yahdikumullah wayushlihu balakum."

Ini semua menumbuhkan kasih sayang diantara kaum muslimin.

Intinya, segala perkara yang menumbuhkan, memperkuat kesatuan maka itu disyariatkan dalam Islam. Karena persatuan merupakan pondasi yang sangat penting setelah tauhid.

Dan Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

"Kaum muslimin itu seperti sebuah bangunan, saling menguatkan satu dengan yang lain." (HR Bukhari nomor 481)

Dalam hadits yang lain, kata Rasullulāah shallalāhu 'alaihi wasallam:-

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan kaum mu'minin dalam saling mencintai (dalam saling kasih sayang, dalam saling kelembutan) seperti jasad yang satu, kalau salah satu anggota tubuh sakit maka yang lain akan merasa akan sakit dan juga ikut demam." (HR Muslim nomor 2586)

Ini gambaran kaum muslimin. Kalau sudah timbul kasih sayang diantara mereka maka mereka akan sampai derajat seperti ini, saling mencintai, saling kasih sayang.

Sampai kata Nabi shallalāhu 'alaihi wasallam:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidaklah salah seorang diantara kalian beriman sampai dia menghendaki kebaikan bagi saudaranya apa yang dia kehendaki untuk dirinya." (HR Muslim nomor 45)

Ini semua dalam rangka untuk memperkuat tali persaudaraan.

Insya Alāh kita lanjutkan lagi pada pertemuan berikutnya.

Wallāhu Ta'ala A'lam bish Shawwab.
____________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.