Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Kamis, 05 Januari 2017

Akhlak Yang Buruk dan Al Bukhl / Pelit Bagian 2

by Rory Rachmad  |  in Kitab Jami' at  05 Januari

🌍 BimbinganIslam.com

Kamis, 07 Rabi'ul Akhir 1438 H / 05 Januari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 18 | Akhlak Yang Buruk dan Al Bukhl/Pelit (Bagian 2/3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H18-2
~~~~~~~

AKHLAK YANG BURUK DAN AL-BUKHL/PELIT (BAGIAN 2/3)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masih melanjutkan bahasan tentang hadits nomor 18 tentang buruknya akhlak yang buruk dan sifat al bukhl (pelit).

Telah kita sebutkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang tercelanya sifat pelit, oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdoa agar terjauhkan dari sifat pelit, seperti doa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ و الْبُخْلِ

"Ya Allāh, aku berlindung kepada Engkau dari sifat penakut dan juga sifat pelit."
(Riyadush Shalihin, diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 5893 versi Fathul Bari nomor 6370 dengan lafazh yang berbeda)

Penakut dan pelit adalah perkara yang buruk. Tidak pantas dimiliki seorang mu'min, tidak terkumpulkan di hati seorang mu'min, kenapa?

Karena sifat bukhl itu menunjukkan lemahnya iman seorang.

Oleh karenanya tidaklah seorang itu bakhil atau tidaklah seorang itu pelit, kecuali jika disertai dengan su'uzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dia berburuk sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dia menyangka kalau harta tersebut dia keluarkan maka hartanya akan berkurang, tidak akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Berarti berburuk sangka kepada Allāh dan kurangnya keimanan dia kepada hari akhirat.

Karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala menyeru hal-hal yang berkaitan dengan berbuat baik kepada orang lain, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkaitkan dengan iman kepada Allāh dan hari akhir, contohnya:

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

"Barang siapa yang beriman kepada Allāh dan hari akhirat, maka hendaknya dia memuliakan tamunya." (HR Muslim nomor 67 versi Syarh Muslim nomor 47)

Memuliakan tamunya butuh biaya: menjamu tamu, membelikan makanan. Kalau orang pelit susah menjamu tamu, dia akan menjamu tamu seadanya. Seharusnya seseorang harus berusaha menjamu tamu dengan sebaik-baiknya.

Makanya Rasulullah shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat."

Ini butuh keimanan kepada hari akhirat

Oleh karenanya Rasulullah shallallāhu 'alayhi wa sallam juga mengatakan:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Muslim nomor 4689 versi Syarh Muslim nomor 2588)

Butuh orang yang imannya kuat untuk meyakini hal ini. Sehingga dia bisa melawan rasa pelitnya. Sehingga dia bisa keluarkan harta di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karena ini orang yang pelit maka terkumpul padanya su'uzhan (berburuk sangka kepada Allāh) Menyangka hartanya tidak akan kembali, kemudian yang kedua kurang beriman terhadap janji-janji Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian perkara berikutnya yang disampaikan adalah bakhil.

Sifat bukhl (sifat pelit) ada beberapa bentuknya. Diantara bentuk yang paling nampak adalah bakhil terhadap harta yaitu tidak mau mengeluarkan uang, tidak mau sedekah, tidak mau bantu orang lain.

Namun sebenarnya pelit itu juga bukan hanya pada harta, bisa juga pelit dengan kedudukan. Dia punya kedudukaan, dia bisa memberi syafaat, bantu orang lain, namun dia tidak mau, dia merasa repot.

Ada juga orang yang pelit dengan waktunya. Dia mungkin tidak punya uang untuk bantu orang lain tapi sebenarnya dia bisa bantu dengan waktu. Menyisihkan waktu dia untuk bantu orang lain.

Atau juga pelit dengan tenaganya dan lain-lain.

Pelit itu bentuknya banyak. Diantara bentuk pelit yang buruk adalah pelit dengan ilmu. Karena ada sebagian orang yang mereka punya ilmu namun dia sembunyikan ilmunya, tidak mau disampaikan kepada orang lain. Seakan-akan harus dia yang tahu sendiri ilmu tersebut.

Ini indikasi bahwasanya orang ini orang yang riya'. Dia ingin tampil beda, ingin disanjung maka ilmunya tidak sebarkan kepada orang lain.

Kalau seseorang punya ilmu hendaknya dia tidak usah pelit dengan ilmu tersebut.

Oleh karenanya, disebutkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam itu jawad (sangat dermawan). Dalam segala hal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dermawan, termasuk diantaranya dermawan dengan ilmu.

Jika ada orang yang bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka Nabi jelaskan.

Jika ada yang perlu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beritahukan kepada umatnya, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beritahukan.

Demikianlah juga kita dapati para ulama, mereka sangat dermawan dengan ilmu mereka. Bahkan, seperti yang saya diceritakan tentang Syaikh bin Baz hafizhahullāhu Ta'āla, tatkala musim haji, beliau memegang telepon menjawab pertanyaan begitu banyak. Beliau tidak pelit dengan ilmu-ilmu beliau.

Orang-orang merasa butuh bertanya kepada beliau maka beliau menjawab pertanyaan. Sampai ada Syaikh yang bercerita kepada saya tatkala melihat Syaikh bin Baz, dia pun  merasa kasihan kepada Syaikh bin Baz. Karena begitu waktunya habis, suaranya serak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada beliau. Beliau tidak pelit dengan ilmu.

Dan orang yang pelit dengan ilmu lebih tercela daripada orang yang pelit dengan harta. Karena kalau orang yang pelit dengan ilmu selain merupakan indikasi riya', juga kita tahu kalau orang yang membagikan ilmunya, ilmunya tidak akan habis bahkan bertambah, semakin kokoh.

Orang kalau punya ilmu kemudian diceramahkan, ilmunya tidak akan habis. Bahkan semakin kokoh dan akan semakin tidak lupa dengan ilmu tersebut.

Beda dengan harta, kalau harta secara zhahirnya, kalau kita infakkan akan berkurang.

Oleh karenanya orang yang pelit dengan ilmu lebih parah dari pada orang yang pelit dengan hartanya.

Demikian Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati oleh Allāh, in syā Allāh kita lanjutkan pada kajian berikutnya.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishshawab
__________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.