Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Sabtu, 06 Mei 2017

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah Bagian 6

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  06 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 04 Sya'ban 1438 H / 01 Mei 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Materi Tematik: Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Bagian 6 dari 13)
⬆ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-FA-AqidahAhlusSunnah-06
~~~~~~

بســـمے اللّه الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  


Berikutnya di antara penyimpangan dalam tauhīd rububiyyah, contohnya kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah adalah mengaku bahwasanya Tuhan berbilang.

Dan ini seperti keyakinannya orang-orang Hindu bahwasanya Tuhan ada 3, dewa pencipta (dewa Brahma), dewa pemelihara (dewa Wisnu), dewa perusak (dewa Siwa).

Yang 3 (tiga) dewa ini yang kemudian terjadinya pengaturan alam semesta, namun tentunya ini tidak benar.

⇒Jadi ini tidak benar, Tuhan tidak boleh berbilang.

Tuhan yang benar itu adalah semuanya dia bisa.

Makanya Nabi Yusuf berkata:

أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

"Apakah Tuhan yang beraneka ragam itu lebih baik ataukah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha Esa dan Maha Kuasa." (QS Yūsuf: 39)

⇒Ini kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah.

Dan sama seperti meyakini bahwasanya Allāh punya anak kemudian anak tersebut nabi 'Īsā 'alayhissalām.

Sebenarnya sebagian ulamā mengatakan seperti Syeikh Al-Adzami, beliau menyebutkan dalam buku beliau sebenarnya agama Nashrāni itu secara sejarah munculnya setelah Hindu dan banyak hal yang mereka ambil dari Hindu seperti teori trinitas.

⇒Trinitas itu asalnya dari Hindu, 3 dewa ini seakan-akan satu, karena Brahma, Siwa, dan Wisnu tidak bisa dipisahkan satu kesatuan.

Cuma ada 3 oknum, jadilah trinitas. Sama seperti Nashrāni, Nashrāni Tuhan bapak, Tuhan anak, Tuhan ruhul qudus. Maka ini juga satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, sama.

Ini diambil juga dari Hindu, sama seperti Tuhan menjelma menjadi manusia. Itu juga ada dalam agama Hindu.

Mereka ada namanya dewa Agna. Itu pernah menjelma menjadi manusia, di atas muka bumi. Sama keyakinan sebagian mereka bahwasanya Allāh menjelma menjadi nabi 'Īsā 'alayhissalām.

Jadi  keyakinan Nashrāni, Allāh sebutkan dalam Al Qurān ada berbagai macam, diantaranya mereka ada yang meyakini Allāh menjelma menjadi janin dalam perutnya siapa Maryam.

Makanya Allāh mengatakan:

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

"Sungguh telah kāfir orang-orang yang mengatakan Allāh adalah Al Masih ibnu Maryam." (QS Al Māidah: 17)

Yaitu keyakinan sebagian Nashrāni yang meyakini Allāh menjelma masuk dalam perut Maryam. Jadi Allāh adalah 'Īsā, ini satu firqah sendiri.

Firqah yang lain mengatakan bahwasanya:

عِيْسَى ابْنُ الله

" 'Īsā adalah anak Allāh."

⇒Ini firqah lagi tersendiri.

Firqah yang lain mengatakan tiga.

... وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ....

"Jangan kalian mengatakan tiga." (QS An Nisā: 117)

⇒Ini adalah lagi firqah sendiri, makanya:

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

"Sungguh telah kāfir orang-orang yang mengatakan Allāh satu dari yang tiga." (QS Al Maidah: 73)

Ini semua 'aqidahnya disebutkan dalam Al Qurān yang meyakini Allāh masuk dalam perut Maryam, yang meyakini 'Īsā adalah anak Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang meyakini Allāh adalah satu dari yang tiga.

Dan semuanya merupakan kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah.

⇒Allāh tidak punya anak dan Allāh tidak punya ibu dan Allāh tidak punya istri, Allāh Maha Esa.

Makanya kalau antum berbicara dengan Nashrāni, yang bisa saya sampaikan, kalau debat sama orang Nashrāni jangan debat masalah yang lain.

Jangan debat masalah babi, jangan debat masalah cerai, percuma, antum debat langsung masalah Tuhan.

Karena jika antum debat masalah babi, nanti dia banyak dalīlnya, maka akan kalah debat, katanya babi banyak bahayanya, tapi dia mengatakan babi banyak manfaatnya juga, dia bisa sebutkan dalīl-dalīlnya. Sudah masalah Tuhannya langsung debat.

Bagaimana nabi 'Īsā kok bisa jadi Tuhan?

Bagaimana ceritanya?

Apa maksudnya satu dari yang tiga?

Suruh mereka jelaskan dan mereka pasti bingung untuk menjelaskan satu sama dengan tiga susah.

Mereka akan bingung. Antum tanyakan kepada tiga orang, mereka pasti berbeda pendapat. Dan mereka berusaha untuk mencari namun tidak akan bisa, tidak akan masuk akal, tiga sama dengan satu. Ini adalah agama tidak masuk akal.

Makanya sampai sebagian orang masuk Islām gara-gara apa ? Keyakinan bahwasanya Tuhan sempat mati kemudian bangkit lagi, namanya hari apa ? Hari kebangkitan.

Thoyyib, waktu Tuhan mati (yesus mati)  Allāh bagaimana ?

Allāh ikut mati atau tidak?

Ini bingung mereka waktu yesus mati, yesus mati karena disalibkan.

Waktu mati, Allāh kemana coba ? Bingung mereka.

Kalau Allāh ikut mati, berarti sempat alam semesta tanpa Tuhan, Tuhannya mati.

Kalau Tuhannya mati kok bisa hidup sendiri, terus kalau Allāh tidak mati berarti Allāh lain, 'Īsā lain.

Kita ingin melepaskan ini, melepaskan tiga ini beda-beda. Allāh lain, 'Īsā lain.

Kita bilang sekarang waktu nabi 'Īsā meninggal dunia, Allāh lagi kemana?

Mereka bingung kalau mereka bilang Allāh ikut mati karena satu kesatuan, selesai.

Habis agama Nashrāni !

Kalau sudah mati, kok hidup sendiri.

Kemudian yang kedua kalau dia bilang Allāh tidak mati berarti Allāh lain, nabi 'Īsā lain, maka hancurlah agama. Banyaklah bantahannya.

Maksud saya adalah kalau ingin bantahan terhadap mereka, bantah dari sisi ketuhanan nabi 'Īsā , ini yang dibicarakan, jangan masalah yang lain.

• Thayyib, di antara kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah adalah meyakini Allāh Subhānahu wa Ta'āla bersatu dengan makhlukNya.

Ini adalah aqidah wihdatul wujud, atau dalam bahasa jawa, manunggaling kawulo gusti. Meyakini Allāh bersatu dengan makhlukNya. Ini merupakan kesyirikan.

Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla bersatu dengan makhlukNya?

Karena konsekuensi Allāh Subhānahu wa Ta'āla bersatu dengan makhlukNya, Allāh butuh terhadap makhlukNya tersebut sebagai tempat.

Karena Allāh akan menurunkan levelnya supaya bersatu dengan makhluk. Untuk apa Allāh bersatu dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan, yang penuh dengan kotoran dalam tubuhnya. Ini tidak benar. Maka ini merupakan kesyirikan.

• Kemudian di antara kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah yang berkaitan dengan masalah tadbir (masalah pengaturan) yaitu bahwasanya meyakini ada yang memiliki hak otonomi, mengatur alam semesta ini, maka itu merupakan kesyirikan dalam tauhīd ar-rububiyyah.

⇒Contoh sederhananya,  seperti meyakini adanya Nyi Roro Kidul yang mengatur pantai selatan. Ini kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah.

Adapun memberikan korban menyembelih sapi untuk Nyi Roro Kidul tauhīd uluhiyyah.

Tapi meyakini bahwasanya Nyi Roro Kidul telah diberi kekuasaan Allāh secara mutlak otonomi untuk mengatur alam bagian pantai selatan saja ini kesyirikan.

Karena yang mengatur alam semesta adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak pernah menyerahkan penguasaan pantai selatan kepada Nyi Roro Kidul.

Siapa yang meyakini ada jinn mengatur pantai selatan, maka dia telah melakukan kesyirikan, karena berarti ada pengatur selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang tanpa izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sama seperti  meyakini, misalnya gunung merapi, ada jinn, ada penunggunya, jika penunggunya mengatakan belum meledak, maka tidak akan meledak. Harus tunggu wangsit dari penunggunya.

⇒Ini syirik dalam tauhīd rububiyyah, seakan-akan ada pengatur yang mengatur gunung merapi tersebut yang menentukan gunung meledak atau tidak, ini merupakan kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah.

• Demikian juga keyakinan orang-orang sufi, seperti dalam tariqat tijaniyyyah dalam buku jawahitul ma'āni yang menyebutkna bahwasanya Ahmad Tijani telah diberikan Kun oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mengerikan bahwa Ahmad Tijani diberikan Kun Fa Yakun, jika dia bilang Kun, maka jadi. Ini tidak pernah diberikan kepada nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jika Nabi mempunyai Kun Fa Yakun, maka orang-orang Quraysh akan hancur langsung. Kun Fa Yakun, orang Quraysh sudah hancur sejak awal.

Tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terluka, dilempar batu, bersedih, para shahābat meninggal dunia, mana kun fa yakun nya ? Tidak ada !

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam perlu berdo'a dulu kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla waktu perang Badar, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a, mengangkat kedua tangannya.

Jika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mempunyi kun fa yakun, sudah selesai sejak dahulu orang kafir Quraysh, Kok bisa Ahmad Tijani diberi kun fa yakun ?

⇒Ini adalah bentuk kesyirikan dalam tauhīd rububiyyah.

Sebagian mereka meyakini wali mengatur sebagian alam semesta, kata mereka dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ini sering mereka katakan, dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sama seperti mengatakan wali sudah mati, tetapi dia bisa bertasharruf, dia bisa melakukan sesuatu, karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengizinkan.

Justru mereka mengatakan, jika anda meyakini mayat tidak bisa apa-apa, justru anda meragukan kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nah Allāh Subhānahu wa Ta'āla mampu memberikan izin dan kekuatan kepada mereka.

Kita katakan, kita tidak ragu bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla mampu memberikan kekuatan kepada mereka, tapi mana dalīlnya bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada mayat tersebut izin untuk mengatur alam semesta, mana dalīlnya ?

Mana dalīl bahwa dia diberi izin untuk menolong anda ketika anda berdo'a kepadaNya.

Mana dalīlnya ? Tidak ada.

Makanya itu hanya Auham, hanya dugaan-dugaan, persangkaan yang bathil.

Oleh karenanya meminta-minta kepada mayat merupakan kesyirikan, dibangun di atas keyakinan, bahwasanya mayat-mayat tersebut masih bisa bertasharruf karena izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mereka mempunyai syubhat, "karena izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla".

Kita katakan, bahwa izin itu tidak pernah turun, mana izinnya ? Tidak ada dalīlnya, jika ada dalīlnya maka kita percaya. Tapi izinnya tidak ada.

Thayyib, kita selesai dari pembahasan tauhīd rububiyyah.


Bersambung ke bagian 7, in syā Allāh.
 __________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah & Sosial Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
4. Operasional Dakwah & Kegiatan Sosial

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
----------------------------------------    

                 

gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.