Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Kamis, 11 Mei 2017

Fiqih Ramadhān Bagian 1

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  11 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Sya'ban 1438 H / 08 Mei 2017 M
👤 Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA
📗 Materi Tematik: Fiqih Ramadhān (Bagian 1 dari 7)
⬆ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AI-FiqihRamadhan-01
~~~~~~

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Alhamdulillāhiladzī bini'matihi tatimmushshālihāt.

Ikhwāniy fīddīn, ma'āsyiral muslimin rahimani wa rahimakumullāh.

Tanpa terasa kita sudah hampir sampai dan bertemu kembali dengan bulan Ramadhān.

Sepertinya Ramadhān kemarin baru saja kita tinggalkan. Masih teringat kita shalāt tawarih, buka bersama, sahur.

Sekarang dihadapan kita sudah menanti bulan Ramadhān.

Mudah-mudahan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyampaikan kita kepada bulan Ramadhān dan ini adalah nikmat dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mungkin disana saudara-saudara kita yang Iebih dahulu mendahului kita tidak berkesempatan lagi bertemu dengan bulan Ramadhān.

Mudah-mudahan (in syā Allāh) Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyampaikan kita ke bulan Ramadhān, bertemu lagi dengan bulan Ramadhān yang penuh berkah dan penuh dengan kebaikan serta penuh dengan keutamaan.

Satu bulan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla pilih dari bulan-bulan yang ada.

Ada 12 bulan dalam satu tahun Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada kita dan Allāh pilih satu bulan dari 12 bulan itu, bulan yang penuh dengan keutamaan, bulan yang sangat spesial (istimewa) berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Maka kita juga harus memperlakukannya dengan istimewa. Ibarat tamu istimewa yang datang mengunjungi kita, kitapun memberikan pelayanan yang terbaik, khidmat yang terbaik untuk tamu istimewa tersebut.

Seperti Itulah bulan Ramadhān yang datangnya satu tahun sekali. Rugi kalau kita lewatkan begitu saja.

Maka sungguh sangat merugi orang-orang yang diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhān tetapi tidak dia manfaatkan sebaik-baiknya, sehingga bulan Ramadhān Berlalu begitu saja tanpa makna.

Ini adalah orang yang sangat rugi.

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ *

Dan dia betul-betul kena ayat itu. Allāh Subhānahu wa Ta'āla beri baginya bulan Ramadhān tapi dia lewatkan begitu saja.

√ Tanpa mendapatkan maghfirah dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Tanpa mendapatkan keutamaan dibebaskan dari api neraka.
√ Tanpa mendapatkan segudang keutamaan yang dijanjikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla  di bulan Ramadhān.

Seperti:

⇒Dibukakan pintu-pintu surga
⇒Ditutupnya pintu-pintu neraka
⇒Dikabulkannya do'a-doa
⇒Dan banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lainnya.

Pada kesempatan kali ini kita gunakan waktu kita untuk sedikit memperdalam beberapa hal yang berkaitan dengan bulan Ramadhān (fiqih Ramadhān) karena kita tidak hanya membahas masalah puasa.

Salah satu ibadah yang wajib di bulan Ramadhān adalah ibadah puasa (shaum). Maka terlalu kalau bulan Ramadhān (bulan puasa) seharusnya shaum tapi dia tidak berpuasa, sebagian orang ada seruannya:

 الطعام خير من الصوم

"(Di bulan Ramadhān) makan lebih utama daripada shaum."

Kalau di bulan lainnya, mungkin ma'zhur dia tidak pernah puasa sunnah. 11 bulan-bulan yang lain berlalu tanpa puasa mungkin ma'zhur karena yang diwajibkan rukun Islām adalah puasa di bulan Ramadhān. Namun sangat terlalu dan merupakan salah satu dosa besar ketika tiba bulan Ramadhān dia tidak puasa tanpa udzur.

Ikhwāniy fīdīn, ma'āsyiral muslimin rahimani wa rahimakumullāh jami'an

Bulan puasa, tentunya bulan yang syarat dengan makna. Keliru jika sebagian orang yang menjadikan ibadah puasa sebagai alasan, ibadah puasa dikambinghitamkan.

Untuk apa?

Untuk tidak mencari nafkah, bahkan untuk tidak shalāt.

Aneh, sebagian orang, dia berpuasa tetapi tidak shalāt, hingga sebagian orang mengidentikkan shaum dengan naum.

Sudah dekat bulan puasa adalah waktu untuk istirahat, waktu untuk memperbanyak tidur, ini adalah pandangan yang keliru.

Ibadah puasa itu tidak menghalangi aktifitas. Kita tidak akan lemas bila berpuasa. Itu anggapan yang keliru karena puasa di dalam Islām itu sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan bertentangan dengan fitrah manusia.

⇒Ada sahur yang tidak boleh kita lewatkan.

Boleh dikatakan hukum sahur itu nyaris wajib karena ada larangan untuk tidak sahur, perintah untuk bersahur dan keutamaan-keutamaan bersahur.

Di antara keutamaan bersahur adalah untuk menyelisihi puasanya orang-orang Yahūdi (ahlul kitāb).

Disyaratkan juga untuk melambatkan makan sahur.

⇒ Ada menyegerakan berbuka puasa

Di dalam puasa yang kita lakukan ada berbuka puasa, dan disunnahkan menyegerakan berbuka puasa.

Jadi tidak ada alasan puasa itu dijadikan sebagai kambing hitam untuk tidak beraktifitas (libur dari ibadah lainnya) bahkan libur dari mencari nafkah.

Bahkan rugi orang-orang yang melewatkan waktu puasanya hanya dengan tidur.

Begitu habis sahur (habis shalāt subuh) tidur sampai ādzān zhuhur. Setelah shalāt zhuhur (tidak ke masjid karena alasan panas) kemudian tidur lagi, bangun lagi menjelang ādzān ashar. Setelah shalāt ashar tidur lagi sampai menjelang waktu berbuka puasa (maghrib) ada sebagian orang yang puasanya seperti ini.

Ini rugi dia. Ibadah puasa dijadikan kambing hitam untuk beristirahat (libur) dari berbagai aktifitas.

Sekali lagi, ibadah puasa bukanlah halangan bagi kita untuk beraktifitas.

Orang yang merasa lemas, tidak bertenaga waktu dia berpuasa bukan karena tidak ada energi sebenarnya, ini adalah orang yang terkena penyakit virus malas. Dia ikutilah malasnya dan dia jadikan ibadah puasa sebagai kambing hitamnya.

Dia lemas karena sedang berpuasa (alasannya), tidak!

Puasa tidak membuat orang lemas, apabila seseorang tidak sahur dan berbuka ketika sedang berpuasa tentunya akan lemas. Kita dilarang melakukan puasa wishāl (puasa tanpa sahur dan berbuka).

Ibadah puasa yang dicontohkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah ibadah puasa yang berjalan dengan fitrah manusia tidak menyimpang dari fitrah manusia karena ini adalah agama yang hanīf.

Jadi sekali lagi, bagi orang-orang yang kebiasaannya di bulan Ramadhān tidur, bukan tidak boleh tidur, silahkan tidur. Ada tidur yang dianjurkan yaitu tidur siang menjelang zhuhur, tidurlah 30 menit atau 15 menit, itu akan mengembalikan kebugaran kita, itu sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Tapi kebanyakan tidur tidak membuat badan sehat malah menjadi penyakit. Penyakit malaslah yang mendorong untuk melakukan seperti itu.

Jadi jangan lewatkan waktu puasa kita hanya dengan tidur.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah & Sosial Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
4. Operasional Dakwah & Kegiatan Sosial

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
----------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.