Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Kamis, 11 Mei 2017

Fiqih Ramadhān Bagian 4

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  11 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 14 Sya'ban 1438 H / 11 Mei 2017 M
👤 Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA
📗 Materi Tematik: Fiqih Ramadhān (Bagian 4 dari 7)
⬆ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AI-FiqihRamadhan-04
~~~~~~

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

Alhamdulillāhiladzī bini'matihi tatimmushshālihāt. 

Ikhwāniy fīdīn, ma'āsyiral  muslimin rahimani wa rahimakumullāh jami'an

Beberapa ibadah-ibadah yang dianjurkan di bulan Ramadhān. 


⑴ Di malam hari bulan Ramadhān kita dianjurkan untuk melakukan shalāt malam (shalāt Tarawih) 

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang mengerjakan qiyam Ramadhān (qiyamul lail) pada bulan Ramadhān karena imān dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 37 dan Muslim nomor 75)

⇒Ini adalah salah satu amal yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhān. 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan ibadah shalāt Tarawih ini. 

Diantaranya: 

Jumlah raka'at shalāt Tarawih

Kita tidak perlu bertengkar mengenai jumlah raka'at shalāt Tarawih ini, karena disini ada dua pendapat. 

⇛Ada yang membatasi hanya 11 raka'at (pendapat sebagian ulamā). 

⇛Ada yang berpendapat bahwa shalāt Tarawih dan shalāt malam tidak dibatasi raka'atnya. 

Masing-masing berdalīl dengan dalīl-dalīlnya, seperti: 

⑴ Membatasi 11 raka'at 

Yang membatasi dengan 11 raka'at, mereka berdalīl dengan perkataan 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengerjakan shalāt malam baik di bulan Ramadhān ataupun di luar Ramadhān lebih dari 11 raka'at. 

⇛Itu hadīts 'Āisyah, ini dipegang sebagai dalīl oleh orang-orang yang membatasinya dengan 11 raka'at. 

⑵ Tidak terikat jumlah rakat raka'at 

Bagi yang berpendapat shalāt Tarawih itu bebas tidak terikat dan dibatasi dengan jumlah raka'at tertentu, mereka berdalīl dengan sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang shahih di dalam Bukhāri dan Muslim. 

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

صَلَاةُ اللَّيلِ مَثْنَى مَثْنَى

"Shalāt malam itu dua raka'at-dua raka'at."

Perkataan Nabi ini ashbabul wurudnya (sebab Nabi mengatakan itu) adalah ketika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya tentang shalāt malam. 

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Shalāt malam itu dua raka'at-dua raka'at". 

Orang ini bertanya tentang shalāt malam dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab tentang raka'atnya, yaitu shalāt Tarawih dua raka'at-dua raka'at. 

Jika kamu khawatir datang waktu fajar, maka hendaklah kamu berwitir satu raka'at. 

⇛Ini dijadikan dalīl oleh sebagian ulamā bahwa shalāt malam itu termasuk di dalamnya shalāt Tarawih tidak dibatasi jumlah raka'atnya. 

Oleh karena itu riwayat-riwayat dari para ulamā ada yang menyebutkan bahwa, 

- Imām Mālik mengerjakannya 30 raka'at, 40 raka'at. 

-  Imām Syāfi'i mengerjakannya 20 raka'at. 

Jadi tidak perlu saling mencela di dalam bab ini dan tidak perlu kita menyindir atau memburuk-burukkan pendapat yang lain, atau saling menyesatkan satu sama lainnya. Sehingga di bulan Ramadhān, kita justru menghibāhi orang lain karena masalah ini. 

Jadi silahkan tidak perlu saling mencela, bagi yang berpendapat 11 raka'at maka kerjakanlah 11 raka'at, dan bagi yang berpendapat lebih dari itu silahkan kerjakan lebih dari itu yang penting shalāt malam itu dikerjakan dengan cara yang benar. 

Yang berpendapat lebih dari 11 raka'at janganlah shalāt nya seperti shalāt pathuk ayam tanpa tuma'ninah, ini salah! 

Kita menyalahkannya bukan karena jumlah raka'atnya tetapi karena kaifiyat shalātnya, yaitu tidak disertai tuma'ninah. 

Padahal tuma'ninah adalah rukun shalāt, kalau ditinggalkan maka tidak sah shalātnya. 

Nabi menyuruh seseorang yang buruk shalātnya untuk shalāt berulang-ulang karena dia meninggalkan tuma'ninah. 

Jadi yang berpendapat lebih dari 11 raka'at silahkan kerjakan, mau 20 raka'at, 30 raka'at mau tidak dihitung juga tidak mengapa, asalkan dikerjakan dengan kaifiyat yang benar. 

Kemudian yang 11 raka'at juga, janganlah 11 raka'at yang dibaca surat-surat pendek sehingga 11 rakat raka'at 15 menit selesai. 

Ada orang memilih pendapat 11 raka'at karena lebih cepat selesainya, karena sebaik-baik shalāt malam adalah yang panjang berdirinya, yang lama berdirinya, yaitu yang panjang bacaannya. 

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam 11 raka'at sampai waktu fajar karena yang dibaca surat-surat  yang panjang, sehingga 11 Raka'at itu sudah mendekati waktu fajar. 

Jadi apabila kita mengerjakan 11 raka'at maka kerjakanlah dengan baik, karena para salaf dahulu mereka membaca sekitar 100 ayat lebih. 

Nabi membaca surat Al Baqarah, selesai Al Baqarah tidak ruku' melainkan lanjut ke surat An Nisā', setelah An Nisā' tidak ruku' tetapi melanjutkan surat Al 'Imrān. Bayangkan berapa lama beliau berdiri. 

Kita di bulan Ramadhān, ketika imām membaca surat agak panjang sudah kesel. Padahal untuk shalāt malam ini kita tidak perlu kesel terhadap imāmnya kalau imām membaca surat yang panjang. 

Shalāt Tarawih ini adalah shalāt sunnah artinya kalaupun kita berpaling tidak akan jadi masalah dan kalau kita tidak tahan berdiri silahkan duduk. 

Apabila kita merasa bacaan imām panjang dan kita merasa tidak kuat berdiri lama, maka silahkan duduk dan apabila mampu berdiri, silahkan berdiri lagi, ini lebih lapang sifatnya daripada shalāt-shalāt wajib. 

Jangan kita jengkel terhadap imāmnya sehingga shalāt kita menjadi tidak ikhlās. 

Lebih-lebih lagi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhān, di mana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membangunkan keluarga beliau, mengencangkan ikat sarung beliau dan menghidupkan malamnya dengan shalāt berjama'ah. 

Beliau mengerjakan shalāt mulai dari tengah malam sampai menjelang waktu sahur. Beliau menghidupkan malamnya dengan ibadah. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك 
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

_________
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah & Sosial Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
4. Operasional Dakwah & Kegiatan Sosial

Silakan mendaftar di : 

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
----------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.