Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Jumat, 19 Mei 2017

Maraih Ampunan Di Bulan Ramadhan Bagian 3

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  19 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21 Sya'ban 1438 H / 18 Mei 2017 M
👤 Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc
📔 Materi Tematik | Meraih Ampunan Di Bulan Ramadhan (Bagian 3 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MeraihAmpunan-03
-----------------------------------

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و آله و صحبه ومن وله

Kemudian di antara sebab ampunan di bulan Ramadhān, yaitu:

⑸ Bersungguh-sungguh menjaga shalāt tarawih (shalāt tahajjud di bulan Ramadhān)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang bangun di bulan Ramadhān karena keimānan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (Hadīts Riwayat Bukhāri 2014 dan Muslim 760)

Maksudnya bangun di waktu malam di bulan Ramadhān.

Kalau di Indonesia, masjid-masjid penuh di awal bulan Ramadhān, hari ke-15 tambah maju, hari ke-20 tambah lagi, semakin dekat hari raya kembali lagi seperti semula, orang-orang sudah tidak sabar ingin segera berhari raya.

Dahulu para salafus shālih ketika Ramadhān hendak selesai mereka bertambah kesungguhannya di dalam ibadah, sementara kita hanya bisa menghitung hari untuk lebaran.

Kenapa?

√ Karena kita tidak menikmati lezatnya ibadah di bulan Ramadhān.
√ Karena kita tidak merasakan lezatnya berpuasa.
√ Karena kita menganggap puasa adalah beban.
√ Karena kita menganggap bulan Ramadhān adalah beban.

Māsyā Allāh.

Maka dari itulah, jaga baik-baik shalāt tarawih terutama shalāt Tarawih berjama'ah bersama Imām, sebagaimana Al Imām Ibnu Khuzaimah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Abū Dzar radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Abū Dzar berkata:

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam shalāt Tarawih berjama'ah pada malam ke-23 sampai sepertiga malam pertama, kemudian di malam ke-24 Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak keluar. Di malam ke-25 Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kembali shalāt tarawih berjama'ah sampai pertengahan malam."

Setelah selesai shalāt Abū Dzar berkata:

"Wahai Rasūlullāh, masih tersisa malam, bagaimana kalau kita shalāt kembali?"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

"Barangsiapa qiyam bersama imām sampai selesai maka akan dicatat untuknya shalāt semalam penuh." (Hadīts Riwayat Ahmad, Abū Dāwūd, Tirmidzi, Ibnu Mājah, An Nasāi' dan lainya, lihat Al Ijabat Al Bahiyyah, 7)

Māsyā Allāh.

Oleh karenanya jangan sia-siakan shalāt berjama'ah tarawih di masjid bersama Imām sampai selesai karena pahalanya besar disisi Allāh (sama dengan shalāt semalam suntuk).

Māsyā Allāh.

Shalāt sunnah yang paling sering disebut oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam Al Qurān adalah shalāt malam.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan shalāt malam di dalam Al Qurānul Kārim sekitar 8 kali.

Ketika Allāh menyebutkan tentang orang yang bertaqwa yang masuk surga, ternyata karakter mereka, sifat mereka, amalan utama mereka ternyata shalāt malam.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa di dalam surga dan mata air-mata air yang mengalir, mereka mengambil apa yang Allāh berikan kepada mereka berupa kenikmatan, sesungguhnya dahulu mereka termasuk orang-orang yang berbuat Ihsān, dahulu mereka sedikit tidur di waktu malam dan di waktu sahur (akhir malam). Mereka beristighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (QS Adh Dhāriyāt: 15-18)

Oleh karenanya, kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al Qurān kelak pada hari kiamat akan memberikan syafā'at bagi seorang hamba.

Puasa akan berkata:

"Wahai, Rabbku, aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat.?, karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya."

Sedangkan Al Al Qurān berkata:

"Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari.?, karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya." (Hadīts Riwayat Ahmad nomor 6337, Al Hākim, I/554, dari Abdullāh bin ‘Amr)

Māsyā Allāh.

Maka dari itulah, shalāt malamlah, shalāt malamlah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

"Hendaklah kalian shalāt malam, karena ia adalah pembiasaan orang-orang shālih sebelum kalian." (Hadīts Riwayat At-Tirmidzi dalam kitāb Da’awaat, bab Du'ā'-un Nabiy (hadīts nomor 3549).

Orang yang shalāt malam, akan terlihat wajahnya bersinar dan bercahaya di waktu siang.

Orang yang selalu shalāt malam, Allāh akan berikan kekuatan dihatinya untuk selalu istiqamah.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sesungguhnya shalāt malam itu, lebih menguatkan hati dan merupakan ibadah yang paling bagus (kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla)." (QS Al Muzaammil: 6)

Apalagi kita yang hidup di zaman fitnah ini, di zaman fitnah shalāt malam lebih ditekankan lagi sebagaimana Imām Bukhāri dan Muslim meriwayatkan.

Suatu malam Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bangun tiba-tiba kemudian beliau mengucapkan, "Lā ilāha illallāh," dalam satu riwayat, "Subhānallāh."

مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الآخِرَةِ

"Fitnah apa yang Allāh turunkan malam ini? Dan perbendaharaan apa yang Allāh turunkan dimalam ini? Siapa yang mau membangunkan pemilik-pemilik kamar itu, untuk shalāt malam? Berapa banyak orang yang berpakaian di dunia ternyata dia telanjang di kehidupan akhirat." (Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 1126)

Kata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullāh dalam Kitāb Fathul Barī ketika menafsirkan hadīts ini beliau mengambil faidah apa?

Dalam hadīts ini menunjukkan bahwa di zaman yang penuh fitnah kita sangat dianjurkan untuk banyak beribadah terutama di waktu malam.

________
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah & Sosial Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
4. Operasional Dakwah & Kegiatan Sosial

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.