Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Sabtu, 06 Mei 2017

Tafsir Surat Al 'Ashr Bagian 3

by Rory Rachmad  |  at  06 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 24 Jumadal Akhir 1438 H / 23 Maret 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al 'Ashr
📖 Tafsir Surat Al 'Ashr (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0503
~~~~~

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulillāh, kita lanjutkan tafsir surat Al 'Ashr.

Kita akan melihat perkara-perkara yang menyelamatkan manusia dalam kerugian:


1. Beriman

Manusia yang bisa selamat dari kerugian:

 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

"Kecuali orang-orang yang berimān.".

Apa yang dimaksud dengan Imān?

Imān adalah keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib dan imān kalau dimutlakkan mencakup banyak perkara imān.  Seluruh perkara dalam syariat adalah keimānan.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda dalam hadītsnya:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Imān itu ada 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah, "Lā ilāha illallāh dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan bagian dari imān." (Hadīts Shahīh riwayat Muslim nomor 51 versi Syarh Muslim nomor 35)

Jadi, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan imān yang paling tinggi adalah kalimat "Lā ilāha illallāh" dan ini berkaitan dengan lisan.

Dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Menghilangkan gangguan dari jalan adalah keimānan. Barang siapa yang melakukannya karena imān kepada Allāh mendapat pahala.

Kemudian rasa malu adalah salah satu bagian dari pada keimānan.

Ini menunjukan bahwasanya imān cakupannya luas. Sampai-sampai para ulamā menulis buku dengan judul Syu'abul Imān (cabang-cabang keimanan). Diantaranya Al Imām Al Baihaqi, kitābnya Syu'abul Imān, beliau berusaha mengumpulkan cabang-cabang keimānan.

Semakin banyak seorang muslim memiliki cabang-cabang keimānan maka semakin tinggi keimānannya. Semakin hilang cabang-cabangnya maka semakin hilang, tercabut sedikit demi sedikit imānnya.

Jadi imān mencakup:

. Amalan jawarih (tubuh),  misalnya shalāt.
. Amalan lisan, misalnya: berdzikir, bertasbih.
. Amalan hati, diantaranya rasa malu yang merupakan keimānan.

Akan tetapi apabila disebutkan imān secara khusus (spesial) maka kebanyakan imān berkaitan dengan hal-hal yang ghaib.

Contohnya rukun Imān.

Tatkala Rasūlullāh mengandengkan rukun Imān dengan rukun Islām maka rukun Islām berkaitan dengan amalan-amalan tubuh, adapun rukun Imān berkaitan dengan hal-hal yang ghaib.

· Rukun Imān ada 6 (enam):

⑴ Berimān kepada Allāh
⑵ Berimān kepada Mālaikat-Nya
⑶ Berimān kepada para Rasūl-Nya
⑷ Berimān kepada Kitāb-Kitāb-Nya
⑸ Berimān kepada hari akhir
⑹ Berimān kepada Taqdir Allāh Subhānahu wa Ta'āla

6 (enam) perkara ini kebanyakannya adalah hal yang ghaib dan inilah pembeda antara seorang mu'min dengan seorang kāfir.

Oleh karenanya Allāh, di awal surat Al Baqarah, memuji orang-orang yang berimān:

 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

"Yaitu orang-orang yang berimān dengan hal yang ghaib."

Kalau seandainya semua perkara yang harus kita imāni adalah perkara yang kita lihat (yang dilihat oleh mata) maka orang kāfir semuanya akan berimān.

Seandainya Mālaikat bisa dilihat bentuk aslinya oleh kita semua (manusia), maka seluruh manusia di atas muka bumi ini akan berimān.

Seandainya Allāh menampakan surga dan neraka secara langsung, maka semua manusia akan berimān.

Akan tetapi yang membedakan antara seorang yang berimān dengan seorang yang kāfir adalah orang berimān mempercayai hal-hal yang ghaib.

Kenapa?

Karena yang mengabarkannya adalah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang tidak mungkin beliau berdusta.

 مَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

"Yang tidak mengucapkan dari hawa nafsunya." (QS An Najm: 3)


2. Beramal shālih, وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Amal shālih merupakan bagian daripada imān.

Jadi, Allāh pertama menyebutkan iman secara umum. Kalimat imān mencakup syariat seluruhnya termasuk di dalam imān adalah amal shālih.

Kemudian, mengapa Allāh mengkhususkan penyebutan amal shālih?

Karena amal shālih harus diperhatikan.

Sama seperti Allāh mengatakan, "Jagalah shalāt 5 waktu dan shalāt 'ashar."

Shalāt 'ashar bagian dari shalāt 5 waktu tetapi Allāh mengkhususkan penyebutannya agar kita perhatian dengan shalāt tersebut.

Contohnya dalam ayat yang lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

"Barang siapa yang menjadi musuh Allāh, Mālaikat-mālaikat-Nya, Rasūl-rasūl-Nya, Jibrīl dan Mikāil, maka Allāh adalah musuh bagi orang-orang yang kāfir." (QS Al Baqarah: 98)

Setelah Allāh menyebutkan Mālaikat, Allāh mengkhususkan penyebutan Jibrīl dan Mikāil,  kenapa?

Karena kedua Mālaikat itu adalah Mālaikat yang penting.

Sama seperti:

 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

"Kecuali orang-orang yang berimān dan beramal shālih."

Amal shālih merupakan bagian dari imān, tetapi disebutkan secara khusus karena amal shālih harus diperhatikan.

Dan Allāh mengatakan:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

"Masuklah kalian kedalam surga, karena sebab amal shālih kalian." (QS An Nahl: 32)

Allāh tidak menyatakan amal secara mutlak tapi Allāh mengatakan amal yang shālih (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ).

Dan para ulamā telah menyatakan, tidaklah suatu amalan dikatakan amal shālih kecuali telah memenuhi 2 (dua) persyaratan:

⑴ Dia kerjakan amal tersebut Ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
⑵ Sesuai dengan contoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Barangsiapa yang beramal dengan sebanyak-banyaknya, harta yang dia keluarkan dengan sebanyak-banyaknya, tubuh yang dia gunakan dengan seletih-letihnya, dia berpuasa sampai akhirnya dia lapar dan haus akan tetapi tetapi niatnya bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hanya karena ingin dipuji, disanjung-sanjung, maka itu bukan amal shālih dan Allāh tidak akan menerima amal tersebut.

Demikian juga sebaliknya seorang melakukan ibadah, dia ikhlās namun tidak dicontohkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Misalnya:

→ Setelah shalāt 'ashar dia shalāt sunnah terus, padahal Rasūlullāh  Shallallāhu 'alayhi wa sallam  mengatakan:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ

"Tidak ada shalāt sunnah setelah shalāt 'ashar sampai matahari terbenam." (HR Muslim nomor 827)

→ Setelah shalāt subuh dia shalāt sunnah (shalāt sunnah 100 raka'at)

Maka, tdak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ

"Tidak ada shalāt sunnah setelah shalāt subuh sampai matahari naik." (HR Bukhari nomor 586)

→ Orang yang shalāt 2(dua) raka'at setelah sa'i.

Orang yang umrah, sunnahnya setelah thawāf adalah shalāt sunnah 2 raka'at. Lalu sa'i dan cukur rambut, kemudian selesai. Ada sebagian orang setelah sa'i melaksanakan lagi shalāt 2 raka'at setelah sa'i. Ini shalāt 2 raka'at setelah sa'i tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kenapa?

Karena tidak ada contohnya dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karenanya, amalan shālih diterima jika memenuhi dua persyaratan, seperti disebutkan diatas (Ikhlās karena Allāh dan sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, In syā Allāh besok kita lanjutkan kembali.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
_______

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.