Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Sabtu, 06 Mei 2017

Tafsir Surat Al 'Ashr Bagian 4

by Rory Rachmad  |  at  06 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 25 Jumadal Akhir 1438 H / 24 Maret 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al 'Ashr
📖 Tafsir Surat Al 'Ashr (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0504
~~~~~

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulillāh, kita lanjutkan tafsir surat Al 'Ashr.

3. Tawāshil bilhaq, saling menasehati  dalam kebenaran

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

Ini merupakan syarat yang ke-3 agar selamat dari kerugian, kerugian yang besar, kerugian di akhirat, kerugian masuk dalam neraka Jahannam.

Beramar ma'ruf nahi mungkar adalah bagian dari amal shālih.

Seperti saya katakan sebelumnya, seakan-akan Allāh menyebutkan himpunan besar. Setelah Allāh mengatakan himpunan besar Allāh mengatakan himpunan kecil. Setelah menyebutkan himpunan yang lebih kecil Allāh sebutkan juga himpunan yang lebih keci lagi.

Yang pertama keimānan. Setelah Allāh menyebutkan keimanānan Allāh menyebutkan amalan shālih (yang merupakan bagian dari keimānan). Setelah Allāh menyebutkan amalan shālih, Allāh sebutkan tentang amar ma'ruf nahi mungkar yang merupakan bagian dari pada amal shālih.

Kenapa Allāh sebutkan amar ma'ruf nahi mungkar ?

Karena agar diperhatikan, karena sebagian orang menyangka saya akan selamat kalau saya mengurus diri saya sendiri.

Seakan-akan kata Allāh, "Tidak, engkau belum selamat."

"Engkau harus juga mempedulikan saudara-saudaramu, engkau harus menasehati saudara-saudaramu."

Karena sebagian orang beranggapan yang penting saya shalāt, urusan dengan tetangga  atau keluarga saya tidak peduli.

Diantara syarat keselamatan adalah  "watawāshabil haq", saling nasehat menasehati dalam kebenaran, al amr bilma'ruf wanha 'anilmungkar. Dan ini yang dilupakan oleh banyak orang. Apalagi di kota-kota besar masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.

Kita harus beramar ma'ruf nahi mungkar, menegur orang yang berbuat kesalahan, mengajak orang pada kebaikan. Ini harus kita lakukan, memang beresiko tetapi harus dilakukan dan itu merupakan jalan keselamatan.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Hendaknya ada diantara kalian orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Al Imrān: 104)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kalian adalah umat terbaik yang Allāh keluarkan bagi manusia sifat-sifat kalian adalah mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah orang dari kemungkaran dan kalian berimān kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (QS Al Imrān: 110)

Disini ada faedah yang indah, Allāh mengatakan, "Watawāshau."

Tawāshāu dalam bahasa Arab diambil dari kalimat tawāshi yaitu dari wazan tafa'ala.  Tafa'ala menunjukan ada kerjaan dari kedua belah pihak, seperti kalau dalam bahasa Arab kita mengatakan, "Dharaba fulānun fulānan," Si Fulān memukul si Fulān (si A memukul si B).

Contohnya:

"Dharaba Zaidun Amran," (Si Zaid memukul Amran). Amrannya tidak membalas, Amran dipukul oleh Zaid.

Tetapi kalau saya katakan dalam bahasa Arab, "Tadhāraba Amrun wa Zaidun," (Saling memukul antara Zaid dan Amran) artinya dua-duanya berkelahi. Zaidnya memukul Amrannya juga memukul. Dalam bahasa arab dengan wazan (timbangan) "tafā'ala" berarti saling memukul diantara keduanya.

Demikian juga dalam ayat ini, Allāh mengatakan "tawāshau", saling menasehati (saling mewasiatkan). Artinya hendaklah saling menasehati diantara kaum muslimin, jangan sampai seorang hanya mau menasehati dan tidak mau dinasehati. Ini yang jadi masalah.

Apalagi sudah menjadi Ustadz atau merasa sudah terkenal (sudah keluar di televisi misalnya) kemudian dia tidak mau dinasehati. Ini tidak benar!

Oleh karenanya para shahābat, mereka saling menasehati bahkan mereka membaca surat Al 'Ashr, karena yang Allāh perintahkan saling menasehati, mau menasehati dan dinasehati.

Menasehati dalam kebenaran, berpegang teguh dengan kebenaran. Kalau ada orang yang malas shalāt kita tegur kita suruh shalāt, kalau ada orang yang melakukan kemaksiatan kita tegur.

Yang jadi masalah sekarang Ikhwān, kita hidup dizaman yang orang-orang malu untuk menasehati. Jangankan untuk menasehati, untuk beribadah saja terkadang malu. Ini sangat menyedihkan.

Jarang kita lihat seorang muslim ditempat perkumpulan manusia, misalnya di bandara menunggu pesawat terbang, jarang kita lihat orang membaca Al Qur'ān. Hampir tidak ada, semuanya sibuk dengan internet. Tidak ada yang kelihatan sibuk dengan membaca AlQurān, atau sedang bertasbih, atau sedang berdzikir, atau sedang bershalawat.

Dia mau bershalawat malu karena hanya dia sendiri yang bershalawat.

Tidak kita dapati seorang dalam bus kemudian duduk membaca Al Qurān, tidak ada! Di Indonesia saya hampir tidak pernah melihat.

Kita mau begitu saja malu kenapa?

Karena semua orang tidak ada yang ingat akhirat, hanya kita sendiri yang ingat akhirat. Apa kata dunia? Kata orang.

Bagaimana kita mau beramar ma'ruf sedangkan mau melakukan kebaikan sedikit saja kita malu (sungkan). Ini rasa malu yang tidak pada tempatnya.

Seharusnya kita tidak perlu malu untuk beramal shālih. Lihat bagaimana para shahābat dahulu di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, di fase Mekkah. Mereka saja sulit untuk shalāt sampai ada yang nekad baca Al Qur'ān dipukul oleh orang-orang Musyrikin.

Sekarang, kalau kita baca Al Qur'ān, siapa yang akan memukul kita? Malah kita yang malu, malu di negeri kaum muslimin.

Ditanya, "Mau kemana?" Bilang mau shalāt saja malu. Padahal kalau kita bilang mau shalāt mungkin ini bisa menjadi nasehat secara tidak langsung sehingga orang yang bertanya tadi bisa berpikir, "Subhānallāh dia, shalāt."

Kita melakukan amal kebajikan saja malu, bagaimana mau menasehati orang lain?

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, In syā Allāh  besok kita lanjutkan.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
____

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.