Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Kamis, 22 Juni 2017

Bimbingan Idul Fitri

by Rory Rachmad  |  at  22 Juni

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 27 Ramadhān 1438 H / 22 Juni 2017 M
👤 Penulis: Adid Adep Dwiatmoko
👤 Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
📔 Bimbingan Idul Fitri
🌐 Sumber: https://muslim.or.id/370-bimbingan-idul-fitri.html
-----------------------------------

Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.

Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa.

Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Allāh dan Rasūl-Nya?

Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia?

Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.


Definisi ‘Ied

Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang.

Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Allāh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hamba-Nya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thawaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya.

Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini.

(Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “Iedul Fitri” adalah kembali kepada fitrah (suci) karena dosa-dosa kita telah terhapus.

Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i.

Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya “Iedul Fithrah” (bukan ‘Iedul Fitri).

Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.

Dari Abu Hurairah berkata: Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah bersabda:

"Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka." (HR Tirmidzi dan Abu Daud, shahih) (Majalah As Sunnah 05/I, Ustadz Abdul Hakim).

Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).

Pensyariatan ‘Ied (hari raya) adalah Tauqifiyyah

Hari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain?

Jawabnya: tidak ada.

Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Allāh ‘azza wa jalla.

Suatu hari dikatakan hari raya apabila Allāh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (’Ied).

Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut.

Alasannya adalah hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas Radhiyallāhu 'anhu bahwa beliau berkata:

“Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah.

Lalu beliau bersabda:

'Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Allāh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri)'.” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)

Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrajan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan.

Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus.

(Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Tatkala Nabi datang, Allāh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Allāh pilih untuk hamba-hamba-Nya.

Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi.

Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah tauqifiyyah (sesuai dengan perintah Allāh).

Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Allāh (Al Qurān) maupun Rasūl-Nya (Al Hadits).

Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan/perayaan yang sama sekali tidak ada tuntunannya.

Di antaranya: peringatan/perayaan maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Qurān, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.

Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allāh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu:

(1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Allāh semata, dan
(2) Sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ada beberapa hal yang dituntunkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

(1) Mandi Sebelum ‘Ied.

Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk shalāt.

Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdullah At Thayyar – edisi Indonesia).

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk shalāt (HR. Malik, sanadnya shahih).

Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib:

“Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum shalāt ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shahih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

(2) Makan di Hari Raya.

Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan shalāt dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari shalāt dan makan dari daging sembelihan kurbannya.

Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah, bahwa beliau berkata:

"Rasūlullāh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan).

Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum shalāt saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya shalāt ‘Iedul Fitri.

Seakan-akan Rasūlullāh mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

(3) Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya.

Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allāh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.

(4) Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya.

Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata:

“Rasūlullāh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhāri).

Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalāt, jika telah selesai shalāt, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih).

Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan:

“Taqabbalallahu minnaa wa minkum."

(Semoga Allāh menerima amal kita dan amal kalian.)

Atau dengan:

"A’aadahulahu ‘alainaa wa ‘alaika bil khairat war rahmah."


(Semoga Allāh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat.)

Sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdullah At Thayyar – edisi Indonesia).

Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu Hari

Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban shalāt Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan shalāt ‘Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan shalāt Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum shalāt ‘Ied.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan shalāt ‘ied saja dan tidak menghadiri shalāt Jumat.” (Ahkamul Iedain, Dr. Abdullah At Thayyar – edisi Indonesia).

Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas

Karena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan shalāt ‘Ied, di antaranya:

(1) Dasar disyari’atkannya:

QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata:

“Aku ikut melaksanakan shalāt ‘Ied bersama Rasūlullāh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan shalāt ‘Ied sebelum khutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Hukum shalāt ‘Ied: Fardhu ‘Ain, menurut pendapat terkuat.

(3) Waktu shalāt ‘Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu dhuha), menurut kebanyakan ulama.

(4) Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Thalib).

(5) Tata cara shalāt ‘Ied: Dua raka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di raka’at pertama (selain takbiratul ihram) dan lima takbir di raka’at kedua (selain takbir intiqal -takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain).

(6) Adzan dan iqamah pada shalāt ‘Ied: Tidak ada adzan dan iqamah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan shalāt karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut.

(7) Khutbah pada shalāt ‘Ied: Satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat.

(8) Qadha’ shalāt ‘Ied jika terluput: Tidak perlu meng-qadha’, menurut pendapat yang terkuat.

Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri

(1) Tasyabbuh (meniru-niru)

Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan)

Dan sabda Nabi yang lain:

“Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khamr (sesuatu yang memabukkan) dan alat musik…” (HR. Al Bukhari secara mu’allaq dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shahih dan bersambung sesuai syarat shahih).

Dan Ibnu Mas’ud radhiyallāhu 'anhu mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Lahwal Hadits’ (perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah Al Ghinaa‘ (nyanyian).

(2) Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan)

Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan) wanita dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama.

Hal tersebut diharamkan di dalam syari’at ini, di mana Allāh berfirman:

“Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah shalāt serta tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab: 33).

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi:

“….salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.” (HR. Muslim)

(3) Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram

Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati Allāh.

Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah 226) (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

(4) Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘Ied

Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Allāh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat ‘Iedul Fitri.

Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat ‘Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).” (HR. Muslim)

(5) Begadang saat malam ‘Iedul Fitri.

Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam ‘Ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

“Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim).

Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras.

Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan shalāt subuh secara berjamaah.

Bahkan ada yang sampai ogah-ogahan menjalankan shalāt ‘Ied.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.

Semoga Allāh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca dan yang menyebarkannya.
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;
🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/
💰 INFAQ    
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq
➡Konfirmasi transfer : http://cintasedekah.org/konfirmasi
-------------------------------------            

        

gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.