Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Kamis, 20 Juli 2017

Halaqah - 07 Tidak Dinamakan Ibadah Kecuali Dengan Tauhid

by Rory Rachmad  |  in HSI-QA at  20 Juli

Halaqah yang ke-7 penjelasan kitab Al-Qawa'idul Arba’ karangan Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab At Tamimi rahimahullah

Kemudian beliau mengatakan 

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ

Beliau mengatakan,

"Apabila engkau wahai pembaca, wahai pendengar mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu untuk beribadah kepada-Nya, (فَاعْلَمْ) maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidak dinamakan ibadah kecuali dengan Tauhid"

Seseorang tidak dinamakan beribadah kepada Allah, kecuali apabila dia men-Tauhid-kan Allah meng-Esa-kan Allah didalam ibadah tersebut.

Apabila seseorang mengaku beribadah kepada Allah tetapi dia tidak meng-Esa-kan Allah dalam ibadah tersebut, artinya selain dia beribadah kepada Allah juga menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah 'azza wa Jalla maka ini TIDAK DINAMAKAN dengan ibadah.

Oleh karena itu beliau mengatakan :

Ibadah dinamakan ibadah apabila kita ber Tauhid, hanya meng-Esa-kan Allah didalam beribadah 

Kemudian beliau mengatakan :

كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلَاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ

"Sebagaimana shalat, tidak dinamakan shalat kecuali apabila ada thaharah (ada bersuci)"

Apabila seseorang, misalnya melakukan shalat, ruku' sujud berdiri tetapi dia tidak melakukan thaharah, apakah ini dinamakan shalat? Secara dzhahir orang menyangkal bahwasanya dia shalat, tetapi karena tidak melakukan thaharah (tidak bersuci) melakukan shalat tersebut dalam keadaan tidak suci maka ini tidak dinamakan dengan shalat

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak menerima shalat salah seorang dari kalian apabila dia berhadats sampai dia berwudhu

Berthaharah adalah termasuk syarat sah nya shalat, orang yang shalat tanpa berthaharah maka tidak dinamakan melakukan shalat.

Ini adalah perumpamaan yang beliau bawakan untuk kita supaya kita mudah untuk memahami ucapan beliau.

Demikian pula ibadah, apabila seseorang tidak bertauhid didalam ibadah tersebut maka ini tidak dinamakan ibadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sebagaimana shalat apabila tidak berthaharah (tidak bersuci) maka tidak dinamakan dengan shalat.

Kemudian beliau mengatakan :

فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ

"Maka apabila kesyirikan masuk didalam sebuah ibadah, ibadah tersebut akan menjadi rusak"

كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِةِ

"Sebagaimana hadats kecil maupun besar apabila masuk didalam thaharah maka akan merusak thaharah tersebut'

Orang yang dalam keadaan suci apabila ada hadats baik yang kecil maupun yang besar maka kesucian dia menjadi rusak. Syirik apabila masuk didalam ibadah seseorang ibadah tersebut akan menjadi rusak, akan menjadi gugur, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

”Tidaklah orang-orang musyirikin mereka memakmurkan masjid-masjid Allah dalam keadaan mereka bersaksi bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kafir merekalah orang-orang yang gugur dan terhapus Amalan-amalan mereka dan mereka akan kekal didalam neraka”

Orang-orang musyirikin Quraisy yang ada di zaman Nabi ﷺ, mereka mengaku bahwasanya mereka :

1. Memakmurkan masjidil Haram,
2. Memakmurkan Ka’bah,
3. Menghormati orang-orang yang datang kesana,
4. Memberikan minum kepada Jamaah Haji yang datang kesana.

Ini adalah pengakuan orang-orang musyirikin. Allah mengatakan tidaklah orang-orang musyirikin mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah sedangkan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kufur.

Dan Allah mengabarkan bahwasanya amalan-amalan yang mereka lakukan adalah amalan-amalan yang batal yang terhapus

أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

”Mereka adalah orang-orang yang batal amalan-amalan dan mereka kekal didalam neraka”

Kenapa batal?

Padahal mereka melakukan amalan yang besar, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang datang untuk beribadah kesana, karena ibadah haji ini sudah ada semenjak zaman dahulu, bahkan sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ

Ibadah Haji ini termasuk dalam peninggalan dari Nabi Ibrahim 'alayhissalam yang merupakan nenek moyang dari orang-orang Quraisy itu sendiri, meskipun sudah dirubah caranya oleh orang-orang Quraisy

Jadi mereka mengaku memakmurkan masjid-masjid Allah akan tetapi mereka adalah orang-orang yang kufur sehingga Allah batalkan amalan-amalan mereka, menunjukkan bahwasanya kesyirikan, kekufuran ini bisa membatalkan amalan sebagaimana hadats ini bisa membatalkan thaharah seseorang

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy


kepada Anggota HSI dilarang menyebarkan transkrip ini di Group HSI yang sedang berjalan

gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.