Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Senin, 25 September 2017

Tafsir Surat At-Takatsur Bagian 3

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  25 September

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 15 Dzulhijjah 1438 H / 06 September 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat At-Takatsur
📖 Surat At-Takatsur | Bagian 3
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0603
~~~

TAFSIR SURAT AT TAKATSUR, BAGIAN 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أ لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dari satu hadīts yang diriwayatkan oleh Imān Muslim dari Abdullāh bin Shikhir radhiyallāhu 'anhu, beliau mengatakan:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Saya datang kemudian bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang membaca surat Alhākumuttakātsur (telah melalaikan kalian sikap berlomba-lomba dalam berbanyak-banyakan).

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

_"Anak Ādam berkata: Hartaku dan hartaku. Maka dikatakan kepada anak Ādam tersebut: Hartamu tidak ada kecuali apa yang engkau makan atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang atau harta yang engkau sedekahkan lalu kau habiskan." (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 5258, versi Syarh Muslim nomor 2958)

⇒ Adapun harta yang engaku sisakan, tidak kau gunakan, maka itu bukan hartamu.

Karenanya dalam suatu hadīts, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى وَاحِدٌ عَمَلُهُ

"Mayat diikuti oleh tiga perkara: istrinya dan keluarganya yang mengikutinya (anak-anak dan istrinya), kemudian budaknya yang juga mengikutinya, kemudian amalnya. Maka yang dua akan kembali meninggalkan dia (keluarga dan hartanya), tidak ikut dikubur bersama dia. Dan tersisa satu yaitu amalnya." (Hadīts shahīh riwayat An Nasāi nomor 1937 dan Bukhāri dan Muslim dengan lafazh yang berbeda)

⇒ Harta yang dia kumpulkan selama ini tidak akan ikut dikubur bersamanya.

Orang muslim dikuburkan hanya dengan kain kafannya. Subhānallāh, bahkan di Arab Saudi, kain kafanpun sedekah (gratis), proses penguburannya pun gratis.

Artinya, uang yang dia kumpulkan sebanyak-banyaknya tidak akan dibawa, bahkan tidak ada manfaatnya tatkala dia masuk ke dalam kuburan.

Hartanya akan dia tinggalkan, istrinya yang sangat mencintainya dan sangat dia cintai pun tidak akan mau masuk ke dalam kuburan bersamanya. Begitupun dengan anak-anaknya.

Oleh karenanya, harta yang benar-benar milik kita adalah yang kita gunakan di dunia atau kita sedekahkan untuk di akhirat.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Ad Dimasyq menyebutkan suatu riwayat dari seorang yang bernama Ahnaf bin Qais:

رأى الأحنف بْن قيس فِي يد رجل درهما ، فَقَالَ : لمن هَذَا الدرهم ؟ فَقَالَ : لِي ، فَقَالَ الأحنف : ليس هُوَ لك حَتَّى تخرجه فِي أجر أو اكتساب شكر ، ثُمَّ تمثل : أنت للمال إذا أمسكته وإذا أنفقته فالمال لك .

Dia melihat ada seorang membawa dirham. Kemudian dia bertanya kepada orang ini:

"Ini dirham milik siapa?"

Kata orang tersebut, "Milik saya."

Kemudian kata Ahnaf bin Qais:

"Itu harta jadi milikmu, kalau engkau infaqkan atau engkau memberi kepada seorang sehingga kemudian orang tersebut berterima kasih kepadamu, tetapi kalau tidak engkau gunakan itu bukan milikmu."

Kemudian dia menyebutkan syair yang artinya:
"Engkau adalah milik hartamu jika engkau masih pegang hartamu (tidak engkau gunakan). Tetapi ketika engkau infaqkan hartamu maka hartamu jadi milikmu."

Artinya, sebenarnya seseorang adalah milik hartanya. Kenapa?

Karena dia sibuk mencari harta jadi dia bekerja untuk harta. Karena dia menjadi anak buahnya harta. Dia yang bekerja keras untuk mencari harta, maka dia adalah milik hartanya.

Kapan harta menjadi miliknya?

Kalau dia gunakan barulah harta itu benar-benar miliknya. Kalau dia tidak gunakan maka harta tersebut bukan miliknya.

Maka di dalam hadīts, kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

"Adapun selain harta yang engkau gunakan, yang tidak engkau sedekahkan, maka harta tersebut akan hilang atau engkau tinggalkan untuk orang lain (ahli warismu)." (HR Muslim nomor 5259 versi Syarh Muslim nomor 2959)

Sebagaimana hadīts yang pernah saya sampaikan, dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyembelih kambing, kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan agar istri-istri Nabi membagi-bagikan kambing tersebut (disedekahkan). Setelah itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya:

"مَا بَقِيَ مِنْهَا" . قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلاَّ كَتِفُهَا . قَالَ " بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا "

"Apa yang tersisa dari kambing tetsebut?"

Maka 'Āisyah mengatakan:

"Seluruhnya telah dibagikan wahai Rasūlullāh, kecuali tinggal pundak kambing (yang belum dibagikan)."

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Justru seluruh harta yang di infaqkan (disedekahkan) itulah yang tersisa, sedangkan pundak kambing yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa." (HR Tirmidzi nomor 2470)

Artinya apa?

Harta yang kita sedekahkan itu yang tersisa bagi kita di akhirat, itu yang bermanfaat (pahalanya) bagi kita di akhirat. Adapun harta yang tidak kita gunakan, yang kita simpan, itu bukan untuk kita (bukan milik kita) tetapi milik orang lain.

Oleh karenanya, seorang begitu meninggal dunia maka hartanya langsung masuk ke dalam warisan, bukan milik dia lagi.

Karenanya seorang hendaknya berpikir cerdas, dia mengumpulkan harta untuk dirinya atau untuk orang lain?

Kalau dia berpikir hartanya untuk dirinya, maka gunakanlah untuk sedekah di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, untuk perkara-perkara yang diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita kembali, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Sesungguhnya telah melalaikan kalian dari sikap berlomba-lomba (berbanyak-banyakan).

Baik dalam harta, kedudukan, rumah, mobil sehingga menjadikan orang tersibukan.

Bayangakan, untuk membangun rumah mewah butuh waktu yang banyak, sibuk seseorang. Rumahnya sudah bagus namun kurang puas tatkala melihat ada rumah yang lebih bagus, diapun berlomba-lomba ingin rumah yang lebih tinggi, lebih hebat, lebih bagus.

Waktunya banyak terbuang sehingga lalai dari beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, padahal  sudah ada rumah cukup yang dia tempati.

Dan anehnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah mengabarkan sikap seperti ini, yaitu manusia semanggat untuk mencari harta. Bahkan sampai dia sudah tua terus berlomba-lomba untuk memperbanyak dunia. Sampai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

يهرم ابن آدم ويبقى منه اثنان الحرص والأمل

"Seorang lelaki sudah tua, tetapi ada dua perkara yang masih terus bersama dia yaitu semanggat dan cita-cita yang tinggi (cita-cita dunia)." (HR Ahmad)

Kita dapati ada orang yang sudah tua masih sibuk dengan dunia. Harusnya sudah istirahat dan beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Demikian saja yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, kurang lebihnya mohon maaf.

Wabillāhi taufīq.

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
____

◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
----------------------------------------



gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.