Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Senin, 25 September 2017

Tujuh Dosa Yang Membinasakan Bagian 2

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  25 September

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 21 Dzulhijjah 1438 H / 12 September 2017 M
👤 Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, Lc MA
📗 Safari Dakwah | Tujuh Dosa Yang Membinasakan (Bagian 02 dari 06)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-SB-7DosaMembinasakan-02
~~~~

TUJUH DOSA YANG MEMBINASAKAN, BAGIAN 02 DARI 06


بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
 
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على فضله متنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه الى يوم الدين. أما بعد :

Alhamdulillāh, ayyuhal ikhwāh fillāh....

Kita lanjutkan kembali kajian kita.

Jadi ibadah itu ada 4 (empat) macam, yaitu:

⑴ Ucapan lisan.

⇒ Dzikrullāh, tilawatil qur'ān, taklim, amal ma'ruf nahi mungkar, bacaan tahmid, takbir, tahlil, do'a.

Kalau seseorang berdo'a, dia minta kesembuhan tetapi mintanya kepada selain Allāh maka dia adalah musyrik. Walaupun dalam hal yang lain-lain semua ditujukkan kepada Allāh, (cuma) dalam hal do'a saja dia minta kepada selain Allāh maka akan mengantarkan dia kepada syirik kepada Allāh. Maka menyebabkan dia binasa bila dia tidak taubat sebelum mati.

Saya mengatakan "cuma" ini karena satu dari sekian banyak.

Seseorang ingin sukses dunia akhirat tetapi dia memintanya kepada selain Allāh, ini juga syirik. Karena yang bisa memberikan kesuksesan dunia akhirat hanyalah Allāh.

Yang bisa menyembuhkan penyakit seseorang adalah hanya Allāh.

Seseorang ingin meminta rejeki, tapi dia minta kepada selain Allāh sebagaimana kalau dia minta kepada Allāh. Meminta apapun hal-hal yang hanya bisa diwujudkan oleh Allāh dan minta kepada selain Allāh itu berarti menyekutukan Allāh, menyamakan Allāh dalam hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Do'a tergolong ibadah dan merupakan inti dari ibadah. Dan ini adalah amal lisan yang terlihat.

Apakah ada ucapan bathin?

Ada. Pembenaran dalam hati itu juga ibadah.

Dia mempercayai bahwa ada selain Allāh walaupun tidak pernah mengucapkan secara lisan tetapi dia percaya dengan kekuatan supranatural, dia percaya bahwa ada hari-hari tertentu dalam satu tahun, pada bulan-bulan tertentu, yang bisa membawa kesialan, ini harus dihindari.

Misalnya:

√ Jangan membuat acara (hajatan) pada hari-hari ini

√ Meyakini bahwa tempat-tempat tertentu atau makhluk-makhluk tertentu bisa memberikan kekuatan.

Ini semua keyakinan, tidak terlihat. Tidak pernah ditunjukkan atau mungkin tidak pernah melihat seseorang ini berbuat sesuatu tetapi dia punya keyakinan seperti itu. Ini namanya ucapan bathin.

Ada hal-hal yang harus dihindari. Seperti, ada hal-hal yang diyakini memberikan manfaat secara langsung dan sebaliknya. Atau ada hal-hal yang diharapkan bisa begini bisa begitu tapi semuanya tidak berdasarkan pada dalīl.

Kalau berdasarkan kepada dalīl maka tidak apa-apa. Akan tetapi bila tidak ada dalīl maka ini sama dengan menyekutukan Allāh.

Hati-hati, walaupun tidak terlihat! Karena ibadah itu tidak semuanya terlihat. Rasa takut kalau dalam bentuk tertentu dalam kriteria tertentu adalah ibadah.

Contoh:

Dijelaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika menafsirkan surat Al Jinn:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat." (QS Al Jin: 6)

Ini adalah ucapan atau pengakuan bangsa jin yang diabadikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat Al Jin, bahwasanya ada sejumlah laki-laki dari golongan manusia yang meminta perlindungan dari jin. Dan gara-gara dimintai perlindungan maka jin itu semakin bertambah rusak (bertambah bahaya).

Dan dijelaskan dalam hadīts bahwa kebiasaan orang-orang musyrik di zaman jāhilīyyah, mereka (orang-orang jāhilīyyah) takut kepada jin yang menunggu suatu tempat. Dulu ketika mereka ingin melewati suatu lembah yang menyeramkan (angker), mereka meminta perlindungan kepada raja jin setempat. Mereka mengucapkan kata-kata perlindungan:

"Aku berlindung kepada raja jin yang menguasai tempat ini agar anak buahnya tidak menganggu."

Mereka meminta perlindungan kepada jin supaya anak buah jinln tersebut tidak dilepas agar tidak menganggu.

Kadang rasa takut kepada jinn yang seperti ini melahirkan ibadah, yaitu dengan meminta perlindungan kepada jin. Padahal meminta perlindungan harusnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Qur'ān, mohonlah perlindungan kepada Allāh dari syaithān yang terkutuk" (QS An Nahl:  98)

Allāh mengatakan:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya mereka hanyalah syaithān yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang berimān." (QS Āli 'Imrān: 175)

Takut kepada syaithān itu ada macam-macam. Takut kepada syaithān yang kemudian malah melahirkan ritual-ritual, persembahan-persembahan, kepada syaithān supaya tidak menganggu. Apa yang syaithān minta dipenuhi.

Misalnya minta ayam hitam disembelih dengan pisau hitam dikegelapan malam, semua serba hitam. Jika dituruti maka ini namanya takut yang melahirkan ibadah, maka menjadi syirik akbar, walaupun hanya seekor ayam.

Tetapi kalau takut yang menjadikan kita menyikapi apa yang ditakuti dengan sikap-sikap yang manusiawi, dengan sikap-sikap yang tidak tergolong ibadah, maka tidak mengapa.

Misalnya:

Saya takut digoda oleh syaithān sehingga saya bermaksiat, ini tidak apa-apa. Kita disuruh minta perlindungan kepada Allāh.

Kalau takut kepada syaithān kemudian kita meminta perlindungan kepada syaithān, maka ini dinamakan syirik.

Jadi syirik juga bisa berupa keyakinan-keyakinan, bisa ucapan, bisa juga amaliyyah lahiriyyah.

Gerakan-gerakan yang tergolong ibadah seperti sujud, sujud kepada selain Allāh, misalnya kepada berhala, maka ini juga merupakan perbuatan syirik akbar, jika dilakukan dalam keadaan sadar tanpa paksaan. Tahu itu berhala kenudian dia sujud di depan berhala tersebut maka itu adalah syirik akbar.

Bahkan ruku'pun juga, karena ruku' merupakan ibadah khasnya kaum muslimin.

 وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Dan ruku'lah beserta orang yang ruku'.” (QS Al Baqarah: 43)

Demikian juga ibadah-ibadah lain, seperti menyembelih binatang dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada selain Allāh, ini juga syirik. Bernadzar untuk selain Allāh ini juga syirik, dan lain-lain.

Jadi yang pertama adalah syirik akbar yang menjadikan pelakunya keluar dari islām dan batal seluruh amal ibadahnya. Dan bila dia meninggal dalam keadaan belum bertaubat maka tidak ada harapan untuk keluar dari neraka. Apalagi masuk surga, keluar saja tidak ada harapan.

Bentuk yang kedua adalah syirik asghar, karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga mengatakan: الشِّرْكُ بِاللَّهِ (syirik kepada Allāh).

Jadi syirik itu meliputi dua macam:

⑴ Syirik Akbar
⑵ Syirik Ashgar

Dan ini adalah jenis syirik yang membinasakan, karena syirik itu secara umum lebih berat daripada dosa-dosa besar, walaupun itu syirik ashgar, karena di dalamnya ada unsur menyekutukan Allāh dengan yang lain.

Dan orang itu tidak ada alasan untuk berbuat syirik.

Coba dipikir!

Siapa yang menciptakan dia? Allāh atau Jin?

Siapa yang mematikan dia?

Siapa yang memberi dia rejeki secara langsung?

Siapa yang memberi dia nikmat yang tidak terhitung banyak ini?

Kalau dia sakit yang betul-betul berkuasa menyembuhkan siapa?

Kalau dia sedang terhimpit bencana, terancam nyawanya, yang langsung bisa menolong dia, siapa?

Kenapa kepada selain Allāh juga diperlakukan dengan perlakuan-perlakuan yang sebetulnya adalah hak mutlaknya Allāh?

Jika saya bisa membuat analogi kenapa dosa syirik itu sangat dibenci oleh Allāh dan Allāh tidak akan mengampuninya, sedangkan dosa orang yang berzina, orang yang mencuri, orang yang membantai orang lain, asal tidak musyrik masih diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Analoginya seperti ini,

Seseorang, dia memiliki anak kandung (anak pertama):

--> Dari kecil dipelihara dinafkahi.
--> Lahir tidak mengerti apa-apa, tidak bisa apa-apa, dirawat dibesarkan dengan penuh kasih sayang,
--> Disekolahkan sampai pintar sampai jadi insiyur, master, doktor, profesor.
--> Mau kerja tidak punya modal, diberi modal sampai kaya raya.

Baiknya luar biasa orang tua ini kepada anaknya.

Dan orang tua ini punya musuh Si A (misalnya). Setelah anaknya besar, Si Anak ini justru mengabdi kepada musuh orang tuanya.

Bagaimana perbuatan Si Anak ini di mata orang tuanya?

Mendingan yang mana:

Orang tua punya anak yang menganggap sama jasa baiknya orang tua yang sekian banyak dengan musuhnya, sehingga dia malah mengabdi kepada musuh orang tuanya (tidak mengabdi kepada orang tua aslinya), bahkan tidak mengakui orang tuanya dan dia memperlakukan musuh orang tuanya dengan perlakuan yang luar biasa baiknya.

Anak yang pertama ini dia hanya kurang ajar terhadap orang tuanya, tapi dia tidak pernah mencuri, tidak pernah zina, tidak pernah dia membunuh orang lain, menyakiti tetangga, tidak pernah!

Dengan:

Orang tua yang punya anak lain (anak nomor 2), anaknya tidak begitu pintar tapi dia tetap mengakui jasa-jasa orang tuanya, tidak pernah dia melupakan jasa orang tuanya, walaupun dia tidak baik dengan tetangganya. Suka mencuri, suka berzina.

Di mata orang tuanya baik mana?

Anak nomor 1 atau anak nomor 2?

Anak yang ke-2 ini tidak mengingkari jasa baik orang tuanya. Dan anak ke-2 ini masih mempunyai alasan bahwa manusia itu mempunyai syahwat: suka kepada harta, suka kepada perempuan, ingin memperkaya diri. Itu syahwat manusia. Apabila dia sampai menyimpang kesana karena memang dia memiliki potensi untuk kesana.

Lalu apa alasan anak  pertama? Mengapa dia tidak mengakui jasa-jasa baik orang tuanya? Kenapa dia mengabdi kepada musuh orang tuanya?

Ini adalah analogi sehingga Allāh tidak bisa mengampuni dosa-dosa syirik, sehingga Allāh tidak pernah mengampuni pelaku dosa syirik sebelum dia taubat.

Bila dia taubat maka Allāh akan mengampuni, asalkan syarat-syarat taubatnya dipenuhi.

Kalau syirik ashgar tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islām, tetapi yang jelas amal tersebut batal tidak ada pahalanya.

Misalnya:

Seseorang melakukan amalan tertentu dengan riyā', maka amal tersebut batal dan dia harus bertaubat dan memperbanyak istighfār.

Wallāhu Ta'āla A'lam

صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و‌َسَلَم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________

◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
______


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.