Jumat, 17 November 2017

Dakwah Secara Sembunyi Dan Terang-Terangan Bagian 03

by Rory Rachmad  |  in sirah nabawiyah at  17 November

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 26 Shafar 1439 H / 15 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 08 |Dakwah Secara Sembunyi Dan Terang-Terangan (Bag. 3 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0803
~~~~~~~~~~~~~~~

*DAKWAH SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN (BAGIAN 3 DARI 6)*


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأخوانه


Kemudian, di antara yang masuk Islām adalah:

⑸ Zayd bin Hāritsah (budaknya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Telah kita jelaskan pada pertemuan sebelumnya, Zayd bin Hāritsah adalah seorang Arab yang suatu hari keluar bersama ibunya, tiba-tiba datang orang-orang Arab Badui kemudian mencuri Zayd bin Hāritsah dari ibunya.

Setelah dicuri lalu dijadikan budak dan diperjual-belikan di pasar dan dibeli oleh seorang shahābat bernama Hakīm bin Hizam (keponakannya Khadījah) dengan harga 400 dirham.

Setelah itu, Hakīm bin Hizam menghadiahkan Zayd bin Hāritsah (budaknya ini) kepada Khadījah bintu Khuwailid radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Setelah itu Khadījah menghadiahkan budak ini kepada suaminya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat cinta kepada Zayd bin Hāritsah dan para shahābat pun mengenal bahwa Zayd bin Hāritsah adalah kesayangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam senang memiliki anak laki-laki.

Kita tahu tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan Khadījah dikaruniai 6 orang anak (2 laki-laki yaitu 'Abdullāh dan Qasim) dan 4 perempuan yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fāthimah), sementara saat diangkat menjadi Nabi kedua putranya sudah meninggal dunia semua, tinggal putri-putrinya.

Maka tatkala Zayd bin Hāritsah tinggal dirumahnya, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam cinta kepadanya.

Akhirnya lama-lama keluarga Zayd bin Hāritsah mengetahui bahwa Zayd bin Hāritsah masih hidup, mereka mencari-cari anaknya yang hilang, kemudian mereka menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk meminta kembali anak mereka.

Dan mereka mengatakan:

"Kami ingin membayar kepadamu uang untuk menebus anak kami."

Kemudian kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Tidak perlu repot-repot-repot bayar, tanya saja kepada Zayd, kalau dia mau maka silakan ambil dan tidak usah membayar."

Kemudian mereka pergi ke Zayd bin Hāritsah dan memberi penawaran untuk kembali kepada keluarganya atau tetap bersama Muhammad.

Maka Zayd bin Hāritsah memilih untuk tetap bersama Muhammad. Padahal bapak dan pamannya Zayd bin Hāritsah sendiri yang langsung meminta.

Kemudian mereka marah dengan mengatakan:

"Apakah engkau memilih jadi budaknya Muhammad daripada ikut kami?"

Walaupun statusnya budak tetapi Zayd bin Hāritsah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Setelah itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Wahai orang-orang Quraysh, persaksikanlah bahwasanya Zayd adalah anakku, dia mewarisi dariku dan aku mewarisi darinya."

Akhirnya Zayd dikenal dengan nama Zayd bin Muhammad, sampai akhirnya Allāh memansukhkan (melarang) bahwa tidak boleh seseorang menisbahkan kepada yang bukan ayahnya. Maka jadilah Zayd bin Hāritsah.

Kemudian Zayd memiliki anak yang bernama Usamah bin Zayd yang juga dicintai oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Zayd bin Hāritsah adalah seorang budak yang masuk Islām karena dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kita perhatikan bahwa yang masuk Islām rata-rata anak muda. Abū Bakr Ash Shiddīq yang paling tua karena Abū Bakr sejawat dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Umurnya 37.5 atau 38 tahun.

Adapun 'Utsman dan 'Ali baru 10 tahun. Dan Zayd bin Hāritsah sekitar 20 tahun, Zubbair bin Awwam masih 15 tahun, 'Abdurrahman bin 'Auf 30 tahun, Sa'ad bin Abi Waqqash masih 17 tahun, Thalhah bin Ubaidillah masih 16 tahun.

Oleh karenanya para ulamā mengatakan, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memulai dakwah kepada anak muda karena anak muda lebih mudah menerima daripada orang-orang tua.

Banyak faktor yang menyebabkan anak muda mudah menerima dakwah;

⑴ Orangtua sulit menerima dakwah karena sudah bertahun-tahun terikat dengan tradisi, kalau anak-anak tidak sulit, mereka baru sekedar ikut-ikutan.

⑵ Anak muda senang dengan yang baru, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membawa ajaran baru yang menyelisihi tradisi.

Bayangkan, mereka ratusan tahun dalam kesyirikan, kemudian datang Muhammad menyatakan ini kesyirikan maka inilah yang membuat orang-orang tua gerah, sebaliknya pada anak muda.

Padahal bukan ajaran yang baru melainkan dikembalikan kepada ajarannya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām, ini perkara yang lebih tua tetapi menurut kaum musyrikin ini adalah dakwah yang baru.

⑶ Karena anak muda lebih semangat.

Ini kita bicara secara umum, ada orang-orang tua yang lebih hebat semangatnya dari anak muda.

Oleh karenanya Al Imām Ibnu Katsīr rahimahullāh, tatkala  menafsirkan surat Al Kahfi ketika Allāh berfirman:

إِنَّهُمْفِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

_"Mereka adalah anak-anak muda yang berimān kepada Rabb mereka."_

(QS Al Kahfi 13)

Tatkala Allāh menyebutkan tentang kisah anak yang masuk tidur dalam Al Kahfi ratusan tahun, mereka adalah anak muda.

Kata Ibnu Katsīr, demikianlah anak-anak muda lebih mudah menerima dakwah daripada orang-orang tua.

Oleh karenanya di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kebanyakan dakwah diterima oleh anak-anak, demikian juga AshvHābul Kahfi mereka anak-anak muda dan berimàn kepada Allāh sementara penduduk negerinya semuanya kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenannya jangan pernah meremehkan anak muda, mereka harus didakwahi. Dan juga jangan meremehkan orangtua tetapi anak muda sangat penting.

Tatkala orang-orang tua menolak dakwah karena terkait tradisi maka anak mudanya yang didakwahi.

Anak-anak muda ini (shahābat Nabi) semuanya akan menjadi pejuang Islām dan generasi masa depan.

Orang-orang kāfir faham bahwa merusak anak-anak muda Islām sangatlah penting karena akan rusaklah generasi Islām.

Demikian saja.


وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.