Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Minggu, 03 Desember 2017

Tafsir Surat Al Ādiyāt Bagian 4

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  03 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Rabi’ul Awwal 1439 H / 01 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Ādiyāt (Bagian 04)
📖 Tafsir Surat Al Ādiyāt (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0804
~~~~~~~~~~~~~~~

*TAFSIR SURAT AL 'ĀDİYĀT (BAGİAN 4)*


بســـمے اللّه الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Kita lanjutkan pengajian dari tafsir Juz ‘Amma. Kita akan menyebutkan tafsir dari surat Al 'Ādiyāt.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

"Dan sesungguhnya manusia itu, kecintaannya kepada al khaīr adalah sangat besar."

⇒ Al khaīr di sini maksudnya adalah harta. Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan harta dengan al khaīr karena demikianlah manusia menganggap bahwasanya harta adalah kebaikan.

Padahal tidak selalu begitu. Kalau harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat maka menjadi keburukan. Dan Allāh berfirman dalam surat Al Baqarah:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ

"Diwajibkan bagi salah seorang dari kalian jika akan meninggal dunia, jika dia meninggalkan harta, maka dia tulis wasiat untuk kedua orang tuanya dan untuk kerabatnya dengan baik." (QS Al Baqarah: 180)

Jadi dalam surat Al-l Baqarah, Allāh menamakan al khaīr dengan harta. Demikian juga dalam surat ini,  Allāh menyebutkan:

 وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ .

Sesungguhnya manusia itu sangat cinta kepada harta.

Dan ini sifat dasar manusia.

√ Siapa di antara manusia yang tidak suka harta?
√ Siapa di antara kita yang tidak suka harta?

Harta itu indah dan manis. Harta itu lezat, manusia wajar mencintai harta. Yang tidak boleh kalau berlebih-lebihan sehingga menjadikan harta yang mengatur segalanya.

Manusia, karena mencari harta, dia rela untuk begadang, dia rela untuk bertengkar dengan ayah dan ibunya, dia rela memutuskan silaturahmi, bahkan rela menjual agamanya (murtad). Semua demi harta.

Kalau harta sudah menjadi puncak cita-citanya (tujuan utama) maka tercelalah manusia.

Oleh karenanya do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

"Yā Allāh, jangan kau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami yang terbesar." (HR Tirmidzi nomor 3502)

"Jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami yang terbesar, tetapi dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat."

Tidak mungkin kita hidup di dunia tanpa ada harta, tidak mungkin! Karena kita sedang berjalan menuju akhirat dan harus melewati dunia dan kita berusaha mencari dunia, tetapi jangan sampai dunia menjadi tujuan utama.

Dan jangan sampai dunia menjadi Tuhan, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ

"Sungguh celaka, penyembah dinnar dan dirham." (HR Ibnu Majah nomor 4136)

Ada orang-orang yang seperti ini, dia menyembah harta. Harta adalah segala-galanya bagi dia, sehingga dia rela melakukan kemaksiatan, keharāman bahkan kekufuran demi untuk meraih harta.

Ini tafsiran pertama bahwasanya, "Manusia cintanya kepada hartanya sangat besar." Oleh karenanya mencegah dia dari perbuatan-perbuatan baik.

Tafsiran kedua yang disebutkan  oleh Al Hafizh Ibnu Katsīr dalam Tafsirnya, yang dimaksud dengan:

 وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Adalah manusia  sangat bakhil dan ini tafsiran yang tidak bertentangan. Manusia sangat cinta kepada harta akibatnya dia sangat bakhil.

Makanya dalam surat Al Fajr Allāh mengatakan:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

"Kalian benar-benar cinta kepada harta."

⇒ Sehingga:

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيم

"Kalian tidak memuliakan anak-anak Yatim."

⇒ Kenapa?

Karena cinta terhadap dunia sehingga dia menjadi bakhil.

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِين

“Kalian tidak pernah saling memotivasi untuk memberikan makanan kepada fakir miskin.”

Orang yang mendapat harta dengan begitu mudah saja pelit, apalagi orang yang mendapatkan harta dengan sulit, pasti lebih pelit lagi. Kalau dia tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا

"Dan kalian makan harta dicampur antara yang halal dan harām."

⇒ Prinsipnya yang penting dapat harta

Kemudian kata Allāh:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

"Semuanya disebabkan karena kalian mencintai harta dengan kecintaan yang sangat besar."

Oleh karenanya kecintaan terhadap harta yang sangat besar membuat seorang menjadi pelit (bakhil). Jika mengeluarkan harta dia merasa berat.

Yang menakjubkan, para ulamā menjelaskan bahwasanya bakhil (pelit) ada dua tingkatan:

⑴ Orang yang bakhil terhadap orang lain.

Dia yang punya harta dia yang mencari sendiri harta tersebut dan apabila ada orang yang minta tidak akan dikasih.

⑵ Orang yang bakhil terhadap dirinya sendiri.

Dia punya uang (harta) banyak tetapi untuk dirinya sendiri pelit.

↝Beli mobil yang paling murah.
↝Beli baju yang paling murah.
↝Kalau membeli sesuatu menawarnya luar biasa murahnya.

Yang lebih berbahaya, dia tidak hanya membuat dirinya menderita (padahal dia kaya raya), dia tidak menikmati hartanya sendiri tetapi juga dan dia membuat anak istrinya menderita.

Oleh karenanya pernah kejadian di Arab Saudi ada seorang meninggal dunia kemudian setelah diperiksa ternyata hartanya banyak maka keluarganya pun marah tatkala mengetahui uangnya banyak. Orang-orang pun heran, seharusnyakan keluarga itu bergembira karena punya ayah yang hartanya banyak. Ternyata selama ini mereka hidup susah karena ayahnya bakhil.

Ada seorang ulamā, Al Jahiz, membuat buku judulnya Al Bukhala', tentang kisah orang-orang pelit. Al Jahiz menyebutkan tentang kisah dalam Al Bukhala':

Ada seorang yang kaya raya, punya teman orang yang miskin. Maka orang miskin ini ingin memberi pelajaran kepada si kaya agar tidak pelit.

Maka diundanglah si kaya kerumahnya, dihidangkan makanan yang enak.

Si miskin ini mengumpulkan uang agar bisa mengundang si kaya dan dia melakukan ini semua agar si kaya mendapatkan pelajaran.

Ketika diajak makan, si kaya itu makan dengan begitu banyak karena si kaya tidak pernah makan makanan enak meski dia kaya (karena di pelit juga terhadap dirinya). Karena terlalu banyak makan akhirnya dia muntah dan diapun menangis.

Kemudian si miskin bertanya:

"Wahai saudaraku,  kenapa engkau menangis?"

Ternyata si kaya itu nangis karena dia merasa rugi telah makan banyak dan telah memuntahkan makanan tersebut.

Ternyata orang kalau sudah pelit luar biasa pelitnya. Sebagian orang bersumpah, "Kalau saya punya uang banyak maka saya akan bersedekah"

Demikian pula sebagian orang-orang miskin lupa diri dan bersumpah, "Kalau saya punya uang banyak saya akan bersedekah."

Ini sifat-sifat orang munāfiq.

 وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76)

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:

"Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.”

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

==> Tatkala Allāh memberikan anugerah kepada dia, maka diapun berpaling tidak mau bersedekah, dan ini banyak terjadi.

Oleh karenanya Allāh mengatakan:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya manusia itu sangat cinta kepada harta."

⇒ Cinta kepada harta adalah manusiawi, sesuatu yang fitrah. Yang tidak boleh kalau berlebih-lebihan, sampai menjadikan harta yang utama.

Oleh karenanya orang mengatakan, "Peganglah harta ditanganmu dan jangan masukan dihatimu."

Ini adalah perkataan yang mudah tapi prateknya susah. Sulit untuk mengeluarkan uangnya berinfaq dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu A'lam bishshawab, sampai disini saja, semoga bermanfaat dan In syā Allāh besok kita lanjutkan.

Wabillāhi taufīq.
​​​
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته


Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.