Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Senin, 12 Februari 2018

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  12 Februari

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 23 Jumadal Ūla 1439 H / 10 Februari 2018 M
👤 Ustadz Nur Rosyid Abu Rosyidah
📔 Materi Tematik | Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
⬇ Download Audio: BiAS-RAR-KeutamaanMenjengukOrangSakit
🌐 Sumber: https://youtu.be/pVsmJzxdJ9o
----------------------------------

*KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT*


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة االله وبركاته
الحمد الله وكفى وصلاة وسلام على رسوالله المصطفى وعلى آله وصحبه، ومن والاه ولاحولا ولاقوة الابالله

Saudara-saudaraku sekalian, Ikhwātal imān ahābakumullāh.

Bagaimana menurut antum, ketika kita kerja berangkat dari rumah pagi hari dan pulang kembali ke rumah di malam hari, kita sebagai kepala rumah tangga mencari māisyah tanggung jawab untuk keluarga, bekerja keras banting tulang, namun ternyata di awal bulan atau di akhir bulan kita tidak mendapatkan hak kita sebagai karyawan, hak kita sebagai pegawai ?

Padahal yang kita korban kan adalah waktu bersama keluarga, energi kita dan lain sebagainya.

Maka bagaimana perasaan antum?

Tentu saja di sana ada rasa tidak terima, tentu saja di sana ada rasa berontak, bagaimana mungkin saya sudah mengerjakan kewajiban saya, namun hak tidak dapat saya maksimalkan?

Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Saudara-saudaraku sekalian yang mencintai sunnah dan dicintai Allāh.

Kita berbicara tentang hak sesama muslim. Jikalau kita saja ketika ada hak yang tidak bisa kita manfaatkan, ada hak yang bisa kita ambil, kita merasa tidak menerimanya? k

Kita merasa berontak dalam hati. Bahkan ketika kita tidak berani untuk menyampaikan dan mengungkapkannya, banyak cibiran-cibiran mengatakan kepada kita, tidak tegas, tidak berani menuntut hak dan lain sebagainya.

Maka perhatikanlah saudaraku.

Begitu pula saudara-saudara kita yang lain memiliki hak terhadap diri kita.

Apa hak yang dimaksud?

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

"Ada 6 (enam) hak sesama muslim.”

Ada 6 (enam) hak sesama muslim yang hendaknya bisa kita amalkan dan kita praktekan diantara kita.

Kita tidak membahas ke-enamnya namun salah satunya adalah:

و إذا مرض فعده

"Ketika ada di antara kalian sedang sakit maka jenguklah."

Sejatinya menjenguklah saudara kita yang sakit ini adalah penunaian hak terhadap saudara kita.

Bisa jadi saudara kita itu tidak meminta kepada kita, "Jenguklah saya! Saya sedang sakit tolong datang kemari."

Bisa jadi saudara kita tidak melakukan itu, bisa jadi tidak menyuarakan hal itu. Namun sejatinya, tetap saudara kita memiliki hak untuk kita menjenguknya.

Maka Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit membahas berkaitan tentang adab-adab tatkala menjenguk saudara-saudara kita yang sakit.

• Yang pertama | Yang perlu kita perhatikan adalah berkaitan tentang rasa ikhlās ketika kita menjengguk saudara kita.

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah serta Ahmad dalam Musnadnya. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda tatkala ada seorang hamba yang ia pergi mengunjungi saudaranya, maka ibaratnya dianalogikan ia akan mendapatkan fadilah-fadilah yang besar digambarkan dalam hadīts.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

Ketika ia jalan, ibaratnya ia sedang memetik buah-buahan surga sampai dia duduk. Dan ketika dia duduk, dia akan mendapatkan curahan rahmat yang besar dari Allāh 'Azza wa Jalla.

Maka sampai di sini, kita bisa melihat satu hikmah besar. Takala kita mengunjungi saudara kita bukan hanya kita sedang memberikan manfaat kepada saudara kita, yaitu penunaian haknya, namun kita juga mendapat fadilah yang besar.

Digambarkan dalam hadīts, ketika kita sedang berjalan dari rumah kita sampai ke tempat saudara kita yang sakit, seakan-akan kita sedang memetik buah-buahan surga sampai kita duduk. Dan ketika kita sudah duduk saat menjenguknya maka ibarat kita sedang mendapatkan limpahan yang deras dari rahmat Allāh Subhānahu 'Azza wa Jalla.

Bahkan kelanjutan dari hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

"Ketika ada saudaranya yang ia menjenguk di pagi hari maka tujuh puluh ribu malāikat mendo'akannya sampai sore hari. Sebaliknya ketika ia mengunjungi saudaranya di sore hari maka tujuh puluh ribu malāikat bershalawat sampai pagi hari."

Mā'syiral muslimīn rahimani wa rahimakumullāh.

Sekali lagi, hadits ini bukan hanya membahas bagaimana kita mendapatkan fadhilah selaku orang yang menjenguk saudara kita.

Namun jikalau kita melihat hadīts yang tadi kita sampaikan berkenaan dengan hak sesama muslim, kitapun sudah memberikan fadhilah, kita pun sudah memberikan keutamaan kepada saudara kita yang sakit dengan menjenguknya yaitu penunaian hak mereka selaku sesama saudara muslim.

• Yang kedua | Adab yang perlu kita perhatikan ketika menjenguk saudara kita yang sakit adalah menjenguk kondisi sang pasien dan juga keadaan rumah sakit.

Ketika kita melihat pasien kita atau saudara kita sedang butuh istirahat yang panjang maka tentu saja kita jangan menjenguknya dikala istirahatnya.

Kita bisa kontak (hubungi) keluarganya terlebih dahulu atau kontak yang sedang bersamanya, apakah bisa dikunjungi atau tidak ?

Begitupula kita tidak menerobos jam-jam berkunjung rumah sakit.

• Yang ketiga | Bolehnya seorang wanita menjenguk laki-laki dan laki-laki menjenguk wanita.

Dalīl dari hadits ini adalah apa yang menjadi kisah antara 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā ketika menjenguk bapaknya yaitu Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga Bilal Ibnu Ra'bah radhiyallāhu 'anhu.

Tatkala didapati Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga Bilal ibnu Ra'bah sedang demam, maka 'Āisyah datang menanyakan kabar kepada abinya yaitu Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu dan juga menanyakan kabar kepada Bilal ibnu Ra'bah.

Hal ini menunjukan bolehnya laki-laki menjenguk wanita begitu pula sebaliknya, wanita menjenguk laki-laki.

Yang menjadi catatan adalah jangan sampai di sana ada ikhtilaf, jangan sampai di sana ada celah-celah syaithān yang dapat merusak dan mengotori isi hati kita.

• Yang keempat | Adab yang perlu di perhatikan adalah hendaklah kita membawa buah tangan, apapun itu.

Baik buah-buahan atau susu atau yang lain sebagainya, yang mana itu bisa mendekatkan hubungan antara kita dengan saudara kita yang sedang sakit.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda melalui hadītsnya yang umum, beliau mengatakan:

تَهَادُّوْا تَحَابُّوْا

"Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai."

(Hadīts riwayat Bukhāri dalam Al Adabul Mufrad nomor 594, dihasankan Syaikh Albāniy rahimahullāh didalam Irwa'ul Ghalil nomor 1601)

Dengan kita menjenguk merupakan bukti rasa cinta kita, namun dengan kita membawa buah tangan itu bisa menjadi contoh yang tepat, praktek yang tepat bentuk cinta kasih kita kepada keluarga kita.

• Yang kelima | Hendaklah kita menghibur sekaligus mendo'akannya.

Bagaimana bentuk hiburan yang tepat?

Kadang kala bentuk hiburannya kurang tepat ketika kita mengatakan, "Sabar ya pak," bisa jadi kata-kata itu membuat saudara kita yang sakit merasa tersinggung, seakan-akan dirinya tidak sabar.

Atau mungkin kita menggunakan kata-kata yang sedikit kasar, seperti mengatakan, "Makanya dari dulu sudah saya bilang begini dan begini." Perkataan ini seakan-akan meremehkan.

Lantas bagaimana contoh hiburan yang tepat yang dicontohkan oleh Nabi kita yang mulia (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ?

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

"Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, in Syā Allāh." (Hadīts riwayat Bukhāri)

Ini sejatinya bukanlah do'a, ini adalah bentuk hiburan.

Lantas bagaimana do'a ?

Do'a yang dianjurkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, melalui hadītsnya yang mashyur, yaitu:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

"Ya Allāh Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit."

Maka inilah mā'syiral muslimīn, rahimani wa rahimakumullāh.

Yang bisa kita bagi, yang bisa kita sampaikan dalam rangka berbagi faedah apa saja adab-adab yang perlu kita perhatikan tatkala kita menjenguk saudara kita yang sakit.

Ini mungkin yang bisa saya sampaikan, atas banyak kurangnya dan sedikit lebihnya, saya mohon maaf.


اقول ماتسمعون وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

-------------------------------------
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.