Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Senin, 02 April 2018

Halaqah 001| Muqaddimah - Pentingnya Menuntut Ilmu Syar’i

by Rory Rachmad  |  in ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah at  02 April

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Rajab 1439 H / 19 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 001| Muqaddimah - Pentingnya Menuntut Ilmu Syar’i
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H001
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH - PENTINGNYA MENUNTUT ILMU SYAR'I*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليك ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masuk pada halaqah yang pertama dari kitāb yang berjudul Al 'Aqidah Al Wāsithiyyah (العقيدة الواسطية).

Kitāb ini, sebagaimana judulnya, menjelaskan 'aqidah-'aqidah yang penting bagi seorang muslim untuk dipelajari.

Sedangkan kata yang digandeng atau disandingkan setelah kata 'aqidah (sebagaimana telah disinggung bahwa judul halaqah kita ini dan halaqah-halaqah berikutnya adalah Al 'Aqidah Al Wāsithiyyah) adalah nama sebuah daerah yang bernama Wāsith yang berada di Irāq.

Kenapa dinamakan demikian?

Karena kitāb ini dikarang di daerah yang bernama Wāsith, dikarang oleh Imām (ulamā) yang cukup terkenal yaitu Ibnu Taimiyyah atau yang diberi gelar Syaikhul Islām.

Sebelum kita membahas lebih lanjut apa itu 'Aqidah Wāsithiyyah atau siapa itu Ibnu Taimiyyah dan seberapa penting kita mengkaji Al 'Aqidah Al Wāsithiyyah dan seberapa penting kita memuliakan atau mengambil ilmu dari Ibnu Taimiyyah, maka pada halaqah kali ini saya mengingatkan diri saya pribadi dan kaum muslimin untuk senantiasa mengingat pentingnya menuntut ilmu atau belajar.

Pentingnya belajar ini harus kita ulang terus 17 kali kurang lebih sehari semalam, yaitu di dalam bacaan shalāt kita, kita diwajibkan membaca Al Fatihah.

Di dalam Al Fatihah ada ayat di mana kita meminta agar:

⑴ Dijauhkan untuk menjadi kaum yang sesat, dan
⑵ Kita meminta kepada Allāh dijauhkan menjadi kaum yang di murkai.

Yaitu :

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

"Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang dhāllin (sesat)." (QS Al Fatihah: 7)

Jadi setelah kita meminta shirātal mustaqīm (meminta jalan yang lurus), kita meminta kepada Allāh dijauhkan dari orang-orang yang dimurkai.

Siapa orang-orang yang dimurkai itu?

Jika kita merujuk kitāb-kitāb yang membahas tafsir Al Fatihah, maka orang yang dimurkai adalah kaum Yahūdi.

Tentu akan timbul pertanyaan, kenapa kaum Yahūdi dimurkai?

Orang-orang Yahūdi dimurkai karena mereka sudah berilmu atau sudah tahu tetapi tidak mengamalkan ilmunya.

Kalau kita lihat di Al Qur'ān atau di sejarah, bagaimana orang-orang Yahūdi, mereka sudah tahu akan datang seorang nabi bernama Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam tetapi mereka tetap mengingkarinya.

Bagaimana orang Yahūdi dilarang mengambil ikan pada hari sabtu, tetapi mereka tetap mengambilnya dengan tipu daya muslihat dan sebagainya.

Lantas, lebih baikkah jika kita tidak usah berilmu?

Tidak demikian, karena ketika Yahūdi dimurkai karena berilmu tetapi tidak beramal. Mungkin sebagian kita akan bertanya:

"Akan berat bila kita mempunyai ilmu lalu tidak diamalkan, apakah sebaiknya tidak berilmu saja?"

Jawabannya akan kita temukan dibacaan selanjutnya yaitu:

 وَلَا الضَّالِّينَ .

"(Yā Allāh) jangan juga masukan kami menjadi orang-orang yang dhāllin." 

Apa itu dhāllin?

Dhāllin adalah sesat.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa sesat?

√ Mereka sesat karena mereka beramal tanpa ilmu, atau
√ Mereka sesat karena mereka tidak belajar sehingga meninggalkan hidayah, meninggalkan kebenaran.

Siapakah orang-orang yang dhāllin?

Orang-orang yang dhāllin adalah kebalikan dari orang-orang yang dimurkai, mereka adalah orang-orang Nashrāni. Mereka beramal tapi tanpa ilmu.

Jadi, bila dikatakan lebih baik tidak berilmu saja, maka ini pun salah.

Karena apabila dia tidak mau belajar, dia seperti orang yang dhāllin (orang yang sesat) dan kalau dia belajar dan tidak mengamalkan ilmunya maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimurkai.

Maka itulah jalannya orang Islām,  الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, jalannya para nabi, jalan yang sesuai Al Qur'ān yaitu ilmu dan amal.

Semoga 'Aqidah Wāsithiyyah ini merupakan wasilah atau sarana kita untuk mengangkat diri kita dari kebodohan yaitu kebodohan atau ketidaktahuan akan agama ini.

Yang semoga dengan itu, kita bisa menjadi hamba-hamba yang berada di jalan: الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ,sebagaimana yang selalu kita minta setiap shalāt kita.

Demikian, kurang lebihnya saya mohon maaf.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________



gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.