Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Senin, 02 Juli 2018

Halaqah 009 | Hadits 09

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  02 Juli

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 02 Sya’ban 1439 H / 18 April 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 009 | Hadits 09
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H009
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 9*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-9 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Halaqah kita kali ini membahas hadīts ke-9 yaitu hadīts dari Abdullāh bin 'Umar radhiyallāhu Ta'āla 'anhumā, dia mengatakan.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كل شيء بقدر،حتى العجز والكيس (رواه مسلم)

Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Segala sesuatu itu ditetapkan dengan taqdir, sampai-sampai kemalasan dan kesungguh-sungguhan." (Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Syaikh Abdurrahmān As Sa'dī rahimahullāh mengatakan bahwa hadīts ini adalah hadīts yang agung yang berisi tentang salah satu pokok dari pokok-pokok keimānan yang keenam, (yaitu) imān terhadap taqdir yang baik dan buruk.

Beliau (rahimahullāh) menyebutkan bahwa keimānan terhadap taqdir tersebut adalah dengan mengakui dan meyakini bahwa ilmu Allāh Subhānahu wa Ta'āla mencakup segala sesuatu, dimana Allāh mengetahui perbuatan para hamba-Nya. Dan Allāh mengetahui segala kondisi dan urusan yang mereka perbuat.

Di samping itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga telah menuliskan taqdir tersebut di dalam Lauh Mahfuzh.

Sebagaimana yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla  sebutkan di dalam surat Al Hajj ayat 70.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidakkah engkau tahu bahwa Allāh mengetahui apa yang di langit dan di bumi ? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitāb (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allāh."

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla menetapkan terjadinya taqdir-taqdir tersebut di waktu-waktu yang telah Allāh tentukan, sesuai dengan hikmah dan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dimana hikmah dan nasehat tersebut mencakup segala perkara yang telah terjadi maupun yang sedang dan yang akan terjadi.

Dan mengimāni bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga menetapkan atau memberikan kepada para hamba qudrah dan iradah (kemampuan untuk beramal dan kehendak untuk melakukan atau memilih amalan yang akan dia amalkan), sehingga Allāh tidak memaksa mereka.

Karena Allāh telah menciptakan di dalam diri mereka adanya kehendak untuk beramal dan juga adanya kemampuan untuk mengamalkan, maka beliau (rahimahullāh) sebutkan di sini bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla  telah:

√ Menciptakan sebab (yaitu) kehendak dan kemampuan tersebut.

dan juga,

√ Menciptakan musababnya (yaitu) amalan hamba-Nya.

Sampai Allāh juga telah menetapkan taqdirnya dan Allāh juga memudahkan bagi setiap hamba apa yang itu merupakan taqdirnya.

Barangsiapa dia mengarahkan dirinya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka Allāh akan jadikan dia cinta kepada keimānan dan Allāh jadikan dia benci kepada kekufuran dan kefāsiqkan. Dan Allāh jadikan dia termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah sehingga dia mendapatkan nikmat Allāh dalam segala hal.

Barangsiapa mengarahkan dirinya kepada selain Allāh, dia berpaling kepada syaithān, maka Allāh tidak akan membukakan jalannya kepada jalan Allāh. Bahkan Allāh akan memalingkan kemana dia ingin berpaling. Dan Allāh menelantarkan dia dan menyerahkan dirinya kepada jiwanya itu sendiri, sehingga dia akan tersesat dan dia tidak memiliki hujjah lagi di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menciptakan berbagai sebab yang bisa diambil oleh seorang hamba untuk mencari jalan hidayah. Akan tetapi karena dia memilih kesesatan dibandingkan dengan hidayah yang telah Allāh bukakan, maka dia nanti tidak akan mencela kecuali dirinya sendiri.

Kemudian beliau juga menyebutkan, bahwa di dalam hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan, bahwa taqdir yang Allāh tetapkan mencakup segala kondisi dan keadaan seorang hamba. Bahkan sampai-sampai rasa malas yang ada pada dirinya dan juga rasa semangat untuk melakukan amalan yang ada dalam dirinya merupakan taqdir yang telah Allāh tentukan.

Dan dua sifat ini merupakan dua hal yang menjadi titik tolak amalan seorang hamba.

Dua sifat itu adalah:

⑴ Malas

⇒ Malas merupakan sebab dia akan merugi

⑵ Semangat dan bersungguh-sungguh

⇒ Semangat dan bersungguh-sungguh adalah sebab yang akan mengantarkan dia kepada ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Beliau sebutkan, ahlus sa'adah atau orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang yang Allāh bukakan jalan bagi mereka untuk menuju jalan kebahagiaan yang itu juga didasari atas kesungguhan mereka dan juga taufīq dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla  yang Allāh anugerahkan kepada mereka.

Maka dari sini kita ketahui bahwasanya mengimāni taqdir bukan berarti menjadikan seorang hamba itu malas untuk beramal dan hanya bergantung kepada taqdir, tidak!

Akan tetapi mengharuskan hamba tersebut berusaha, berupaya untuk mencari jalan hidayah, supaya Allāh mudahkan jalannya menuju ke jalan taqdir yang Allāh tetapkan untuk dirinya.

Sebagaimana beliau juga menyampaikan di sini sebuah hadīts lain yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ  الأماني

"Orang yang bersunguh-sungguh, orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Adapun orang yang malas maka dia adalah orang yang menjadikan dirinya tunduk kepada hawa nafsu dan dia berangan-angan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla saja."

Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kita kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________



gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.