Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Senin, 02 Juli 2018

Risalah Puasa Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam Bagian 01

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  02 Juli

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Ramadhan 1439 H / 22 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Risalah Puasa Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam Bagian 01
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Risalah-Puasa-Nabi-01
----------------------------------

*RISALAH PUASA NABI SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM, BAGIAN 01*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita masih diberi kesempatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk terus belajar dan menuntut ilmu dan kita masuk pada materi kitāb yang kedua yaitu: سبعون مسألة في الصيام (Risalah Puasa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam), yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shālih Al Munajjib.

Kitāb ini dimulai dengan menjelaskan maksud dari ash shaum.

▪Definisi Puasa

Ash shaum secara bahasa maknanya adalah al imsāk (menahan).

Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah ayat tatkala Maryam ditanya tentang anaknya, maka beliau mengatakan:

إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صوما

"Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah." (QS Maryam: 26)

⇒ Bernadzar untuk berpuasa maksudnya menahan diri dari berbicara

Secara syari'at maksud dari ash shaum adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai terbit fajar (shubuh) hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

▪Hukum Puasa

Ijmā' ulamā dan kaum muslimin sepakat bahwa puasa di bulan Ramadhān hukumnya wajib.

Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadīts.

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: (وذكرمنها): وَصَوْمِ رَمَضَانَ

"Islām dibangun diatas lima perkara,- (diantaranya disebutkan) ouasa dibulan Ramadhān." (Hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim)

Seorang yang meninggalkan puasa Ramadhān dalam keadaan mengingkarinya maka di telah keluar dari millah.

▪Keutamaan Puasa

Keutamaan puasa ini banyak sekali dan sudah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Keutamaan puasa ini adalah;

⑴ Bahwasanya puasa telah dinisbahkan (dikhususkan) oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla bagi diri-Nya. Dan Allāh-lah yang langsung memberikan pahalanya dengan melipat gandakan tanpa batas.

Dalam hadīts disebutkan:

إِلَّا الصِّيَامَ فَإنَّهُ لِي و آَنَا أُجزي نِهِ

"Kecuali puasa, karena puasa adalah bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya." (Hadīts riwayat Bukhāri)

⑵ Orang yang puasa di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan dijauhkan antara dia dengan neraka sejauh 70 tahun.

⑶ Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada bau misk. Karena bau mulut ini, disebabkan karena keta'atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⑷ Di dalam bulan Ramadhān ada malam lailatul qadr.

⑸ Puasa sebab diampuni dosa-dosa seseorang.

Dan banyak lagi keutamaan-keutamaan puasa yang lainnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

  مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

"Barangsiapa siapa yang tercegah dari kebaikannya maka dia adalah orang yang tidak mendapatkan kebaikan."

Bahkan disebutkan di dalam hadīts, tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam naik mimbar beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengatakan, "Aamiin... Aamiin... Aamiin" dan di antara yang beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) sebutkan adalah:

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ قُلْتُ : آمِيْن

"Orang yang mendapatkan bulan Ramadhān tetapi dia tidak mendapatkan ampunan maka celakalah dia."

Di antara keutamaan bulan Ramadhān adalah banyaknya ampunan sehingga sangat rugi apabila seseorang keluar dari bulan Ramadhān dan tidak mendapatkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla

▪Faedah dari puasa

Faedah dari puasa sangat banyak sekali, di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam firman-Nya: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ , yang artinya "agar kalian bertaqwa"

Tujuan dari puasa adalah:

√ Agar kita bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Agar kita takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Agar kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak mendapatkan makanan dan minuman.
√ Agar kita mensyukuri nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla bahwa nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla  kepada kita sangat besar.
√ Agar kita memiliki empati secara sosial, kecerdasan sosial, peduli kepada orang lain.

Orang yang berpuasa hendaknya dia meningkatkan empatinya, meningkatkan kepeduliannya kepada masyarakat.

▪Adab-adab di dalam berpuasa

Tentunya Ikhwāh Fīddīn A'ādzaniyallāh wa Iyyakum wa Akhawātiy Fīllāh.

Tatkala kita berpuasa di sana ada adab-adab yang wajib dan adab-adab yang sunnah.

Di antaranya:

⑴ Sahūr

Berusaha sebisa mungkin untuk sahūr, kita harus menghadirkan dalam hati kita bahwa sahūr adalah sunnah dan penuh keberkahan di dalamnya.

"Bersahūrlah walau hanya dengan seteguk air atau sesuap nasi."

Dalam sebuah hadīts, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ

_"Bersahūrlah kalian, karena dalam bersahūr tersebut terdapat keberkahan."_

(Hadīts riwayat Al Bukhāri)

Sahūr adalah satu kebiasaan yang menyelisihi ahlul kitāb (Yahūdi dan Nashārā), yang mana mereka tidak sahur. Waktu sahūr terbaik adalah tatkala menjelang fajar (shubuh).

⑵ Berbuka

Menyegerakan berbuka, karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka." (Hadīts riwayat Al Bukhāri)

Sunnah berbuka puasa;

① Menyegerakan berbuka

Menyegerakan berbuka dalam rangka menyelisihi ahlul kitāb, karena ahlul kitāb mereka biasa mengakhirkan berbuka puasa.

② Bila mampu berbuka dengan ruthab (kurma yang masih basah)

Sebagaimana hadīts dari Anas beliau mengatakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam biasa berbuka sebelum melaksanakan shalāt dengan memakan beberapa kurma ruthab atau kurma yang sudah dikeringkan, jika tidak ada beliau meneguk beberapa teguk air. (Hadīts riwayat Imām Tirmidzī)

③ Disunnahkan membaca do'a sebelum berbuka puasa.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Umar, beliau mengatakan, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila berbuka puasa beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berdo'a dengan do'a ini.

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

"Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allāh menghendaki." (Hadīts hasan riwayat Ad Dāruquthiy)

Ini yang bisa disampaikan, in syā Allāh kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
_____________________


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.