PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Kamis, 29 Desember 2016

Hasad Dan Merendahkan Sesama Muslim Bagian 4

by Rory Rachmad  |  in Kitab Jami' at  29 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 02 Rabi'ul Awwal 1438 H / 01 Desember 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 15 | Hasad Dan Merendahkan Sesama Muslim (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H15-4
~~~~~~~
HASAD DAN MERENDAHKAN SESAMA MUSLIM (BAGIAN 4)


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Sahabat BIAS yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Kita masih pada hadits yang ke 15 dan akan kita fokuskan pada bagian yang terakhir yaitu larangan keras dari Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam tentang merendahkan atau menghina orang lain.

Kata Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam:

 وَلاَ يَحْقِرُهُ

"Tidak boleh merendahkan (saudara)nya."

Seorang muslim tidak boleh merendahkan saudaranya, kenapa?

Kata Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam:

التَّقْوَى هَا هُنَا  وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

"Taqwa itu tempatnya di sini (sambil menunjuk ke dadanya 3 kali)."

Kemudian kata Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam:

 بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

"Cukuplah seseorang dikatakan buruk tatkala dia merendahkan saudaranya."

Kita tahu bahwasannya yang menjadi barometer di masyarakat adalah masalah dunia.  Masyarakat menilai seseorang, mengagungkan seseorang, memuliakan seseorang karena melihat dunianya.

Kalau ada orang yang kaya raya atau memiliki jabatan yang tinggi atau memiliki nasab yang tinggi, baru dihormati atau dihargai.

Adapun jika seseorang tidak memilki apa-apa dari dunia, dia orang yang miskin, orang yang rendah, tidak memiliki jabatan, jadi bawahan, maka dia tidak dinilai oleh masyarakat.

Ini kenyataan yang ada.

Oleh karenanya Allāh Subhanahu wa Ta'ala menegaskan dalam Al Qur'an bahwasannya barometer yang benar adalah ketaqwaannya.

Kata Allāh Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa." (QS Al Hujurāt: 13)

Makanya, Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam berisyarat, "Taqwa tempatnya di sini (dihati)."

Ini isyarat dari Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam bahwa:

Yang pertama, orang yang merendahkan orang lain berarti ada kibr (kesombongan), maka ketaqwaannya dipertanyakan.

Yang kedua, taqwa tempanya di hati maksudnya, "Jadilah engkau dalam menilai orang lain dari ketaqwaannya, bukan dari masalah dunia."

Bagaimana engkau merendahkan saudaramu sementara engkau tidak tahu bagaimana ketaqwaanya.

Ketaqwaan adalah masalah hati bukan masalah zhahir, bukan masalah penampilan, bukan masalah duit, bukan jabatan, tidak.

Bahkan dalam hadits-hadits menunjukkan bahwa bisa jadi orang itu misikin, tidak punya apa-apa, tapi dia lebih mulia di sisa Allāh dari pada orang yang kaya.

Dalam Shahih Al Bukhari, dari Sahl radhiyallāhu 'anhu, beliau bertakata:

مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ لِرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ " مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا ". فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ، هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ. قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا ". فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ، هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لاَ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لاَ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لاَ يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

Suatu hari ada seseorag melewati Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam (Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam sedang bersama para shahabat), Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam berkata: "Bagaimana menurut kalian tentang orang ini?"

Maka mereka menjawab: "Orang ini, kalau dia melamar pasti sangat mudah untuk diterima, kalau dia memberi syafaat maka mudah untuk diterima syafaatnya, kalau dia ngomong akan didengar."

Kemudian Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam pun diam.

Tidak lama kemudian lewatlah seorang lelaki dari kaum fuqara (miskin), maka Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam  bertanya kepada para shahabat: "Bagaimana menurut kalian tentang orang ini?"

Mereka berkata:

"Orang ini, kalau malamar tidak diterima, kalau memberi syafaat tidak diterima, kalau dia ngomong tidak didengar."

Maka Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda:

"Orang yang kedua ini (yang miskin) lebih baik dari pada sebumi orang pertama tadi." (HR Bukhari nomor versi Fathul Bari nomor 6447)

Jadi kalau orang yang pertama jumlah sepenuh bumi masih lebih baik orang yang kedua.

Di sini sangat jelas bahwasannya kebanyakan orang menilai seseorang dengan masalah dunia, tapi Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam mengatakan bahwa orang ini (orang yang kedua) lebih mulia di sisi Allāh dari ketaqwaannya dibandingkan dengan orang yang kaya tadi, kenapa?

Karena penilaian Allāh adalah masalah hatinya (yang ada dihati).

Kata Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

"Sesungguhnya Allāh tidak melihat rupa kalian, tidak melihat penampilan kalian tapi Allāh melihat hati kalian." (HR Muslim nomor 4650 versi Syarh Muslim nomor 2564)

Yang paling penting adalah masalah taqwa.

Dalam hadits yang lain Rasulullāh shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda dalam Shahih Bukhari juga:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ

"Sungguh beruntung (atau: akan mendapatkan surga tuba) seorang hamba yang mengambil tali kekang kudanya untuk berjihad di jalan Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Rambutnya semrawut (tidak disisir), kedua kakinya penuh dengan debu. Kalau dia ditugaskan di bagian depan untuk menjaga pasukan dari musuh maka dia akan berjaga di depan, kalau dia ditugaskan di bagian belakang, dia bertugas dengan baik di bagian belakang.

Kalau dia minta izin, tidak diizinkan. Kalau dia memberi syafaat maka tidak diberi syafaat." (HR Bukhari nomor 2673 versi Fathul Bari nomor 2886)

Orang ini, dia ditugaskan sebagai apa saja diterima. Di depan pasukan, OK. Di bagian belakang juga tidak mengapa, tidak mesti tampil. Dan orang ini tidak begitu dianggap sehingga kalau dia minta izin, tidak diizinkan karena tidak punya kedudukan. Orang yang punya kedudukan kalau minta izin akan diizinkan.

Namun orang ini kata Nabi, "Tuba lahu." Dia dapat lembah di Surga, luar biasa.

Oleh karenanya, saya ingatkan ikhwan dan akhwat.

Yang pertama, bisa jadi orang menliai dari dunianya, dan ini kebanyakan orang, dan tatkala orang itu terlihat dunianya rendah maka diapun dihinakan, tapi bisa jadi orang tersebut sangat mulia di sisi Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Kemudian yang kedua, kalaupun kita menilai dari ketaqwaan, mungkin kita hanya bisa melihat dari zhahir amalan saja.

Kalau ada orang, mungkin dia rajin shalat, rajin kepengajian, rajin ke masjid, hafal Al Qu'ran. Kemudian, dia melihat saudaranya yang mungkin jarang ke masjid, ada sedikit maksiat yang dia lakukan atau mungkin penampilanya kurang Islami, kemudian direndahkannya orang tersebut, jangan. Kenapa?

Karena penilaian di sisi Allāh barometernya adalah ketaqwaan, semantara kita tidak tahu  ketaqwaan orang tersebut. Kita hanya bisa melihat zhahirnya.

Zhahirnya mungkin kita lebih baik dari pada dia, kita sering shalat berjamaah dan dia kurang, tetapi bisa jadi dia punya amalan-amalan yang kita tidak tahu.

Mungkin dia sering bersilaturahim, mungkin bersedekah kepada orang lain, mungkin berbakti kepada orang tuanya, mungkin dia baik kepada istrinya, mungkin dia sayang kepada anaknya, kita tidak tahu.

Belum lagi amalan hatinya, kita tidak  bisa menilai. Mungkin dia orangnya tidak suka hasad, jauh dari dengki, suka husnuzhan kepada Allāh, mungkin penyabar, tidak berburuk sangka kepada saudaranya.

Oleh karenanya, darimana kita merasa lebih bertaqwa dari pada dia?

Apakah kita mempunyai barometer untuk mengukur bahwa taqwa kita lebih tinggi dari pada dia?

Jawabnya: tidak ada.

Karena kita tidak tahu bahwa taqwa kita lebih baik dari pada dia maka jangan rendahkan dia.

Seorang salaf pernah ditanya tentang makna zuhud, maka dia mengatakan:

"Zuhud itu, engkau keluar dari rumahmmu dan engkau tidak bertemu dengan seorangpun kecuali engkau merasa bahwa orang tersebut lebih baik daripada dirimu."

Karena kita tidak tahu masalah hati. Itulah yang namanya zuhud, tawadhu, yaitu  menjauhkan diri kita dari kesombongan.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Kalaupun kita memiliki kelebihan, maka kelebihan tersebut untuk kita syukuri kepada Allāh, bukan untuk disombongkan, apalagi untuk merendahkan saudara kita.

Wallāhu Ta'ala A'lam.
__________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------

Proudly Powered by Abu Uwais.