Sabtu, 28 Januari 2017

Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam Bagian 5

by Rory Rachmad  |  in sirah nabawiyah at  28 Januari

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 27 Rabi'ul Akhir 1438 H / 25 Januari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah 
📖 Bab 02 |Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam (Bag. 5 dari 8)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0205
~~~~~~


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة 
إِنَّ الْحَمْدَ لله, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, ونتوب إليه وَنَعُوذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ الله فَلاَ 
مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فإن اصدق الحديث كتاب الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَاتٍ بدعة وكلّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وكلّ ضلالة في النار

Ikhwāni fīllāh azaniyallāhu wa iyyakum.

Inilah kesyirikan yang terjadi, harus ada suatu simbol yang mereka ibadahi. Sampai-sampai kalau mereka tidak sempat membuat patung, maka mereka cari cara yang lain. 

Dalam Shahīh Bukhāri, Abū Raja'  'Athāridi, dia adalah seorang tābi'īn yang hidup di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Hanya saja saat di zaman Nabi dia tidak masuk Islām, bahkan sempat ikut Musailamah Al Kadzab, dan masuk Islām setelah Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat. 

Dia pernah bercerita bagaimana dahulu mereka menyembah patung. Dia berkata: 

كنا نعبد الحجر فإذا وجدنا حجراً هو خير منه ألقيناه وأخذنا الآخر، 

"Kami dahulu menyembah patung. Kami jadikan batu sebagai patung, dan jika kami dapati ada batu yang lebih bagus maka batu ini (maksudnya patung yang lama) kami buang."

Mereka tidak meyakini bahwa patung ini yang menciptakan, tidak!  

Jangan kita anggap orang Arab dahulu begitu bodohnya meyakini patung menciptakan alam semesta, tidak. Patung itu hanya simbol. Dan jika ada simbol yang lebih bagus, maka simbol yang lama dibuang. 

Disebutkan oleh para ahli sejarah, sampai-sampai kalau mereka mau safar, mereka mengusap dahulu patungnya baru bersafar, supaya tenang. Dan sepulangnya dari safar, patung itu diusap lagi. Jadi sangat tergantung dengan simbol tersebut. 

Kata Abū Rajā 'Athāridiy: 

فإذا لم نجد حجراً جمعنا حثوة من تراب ثم جئنا بالشاة فحلبنا عليه ثم طفنا به

"Kalau kami tidak temukan batu (untuk dijadikan Tuhan), maka kami mengumpulkan pasir, kami masukkan dalam suatu tempat (kantung), setelah itu kami datangkan kambing lalu kami perah susunya sehingga air susu itu jatuh di atas kumpulan pasir supaya agak mengeras, setelah itu kami thawāf disekeliling patung-patung tersebut."

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al Qurān bahwasanya patung-patung tersebut bukanlah tuhan, tetapi hanya sekedar dituhankan. 

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla: 

إلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ الله بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ 

"(Apa yang kalian sembah itu) hanyalah sekedar batu-batu yang kalian dan nenek moyang kalian namakan sebagai tuhan. Allāh tidak pernah menurunkan dalīl bahwasanya itu adalah tuhan (atau wakil tuhan atau simbol tuhan, tidak ada dalīl nya)." ( QS An Najm: 23)

Oleh karenanya, aneh bagi orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai tuhan. Lihatlah kebodohan mereka sampai menjadikan batu sebagai tuhan. 

Disebutkan ada seorang Arab, tatkala dia ingin menyembah tuhannya, tiba-tiba dia melihat ada 2 ekor anjing atau serigala yang mengencingi tuhannya, maka dia protes, dia mengatakan:

أَرَبٌّ يَبُولُ الثُّعْلُبَانُ بِرَأْسِهِ لَقَدْ ذَلَّ مَنْ بَالَتْ عَلَيْهِ الثَّعَالِبُ

"Apakah ada tuhan yang kepalanya dikencingi oleh anjing? sungguh hina tuhan yang dikencingi oleh anjing."

Lalu dia berfikir lagi, "Apakah dia pantas menjadi tuhan?"

Ikhwāni fīllāh azaniyallāhu wa iyyakum.

Inilah bentuk kesyirikan.

Diantara bentuk kesyirikan lain yang tersebar di jazirah Arab seperti penyembahan terhadap jin. 

Allāh sebutkan dalam Al Qurān: 

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا 

"Dan dahulu ada sebagian manusia yang mereka meminta perlindungan kepada jinn maka semakin menambah kekufuran mereka dan semakin menambah kesombongan para jin." (QS Jinn: 6)

Disebutkan dalam buku-buku tafsir, mereka dahulu tatkala melewati suatu lembah dan mereka khawatir ada jin-jin yang mengganggu mereka maka mereka berkata: 

نعوذ بسيد هذا الوادي من سفهاء قومه

"Kami berlindung kepada pimpinan lembah ini supaya tidak diganggu oleh anak buahnya."

Kalau mereka telah membaca do'a seperti itu, tenanglah hati mereka karena merasa tidak akan ada yang mengganggu. Ini kesyirikan! 

⇒ Kata Allāh, " فَزَادُوهُمْ رَهَقًا " , menambah kesombongan jinn. 
⇒ Dalam tafsir lain, " فَزَادُوهُمْ رَهَقًا ", diartikan semakin menambah kekufuran mereka (manusia-manusia) 

Dan ini banyak tersebar di tanah air kita, kalau mau melewati jembatan harus minta izin atau memberi kode. 

Kesyirikan lain yang ada pada bangsa Arab adalah tathayyur, yaitu mengkaitkan nasib sial dengan suatu yang dilihat atau didengar. 

Disebutkan, orang-orang jāhilīyyah dahulu, tatkala hendak bersafar, mereka pergi ke sejenis burung tertentu lalu mereka usir burung tersebut. Kalau burung itu terbang ke arah kanan maka mereka bersafar, namun kalau burungnya terbang ke arah kiri maka mereka tidak jadi safar karena takut sial. 

Mereka juga bertathayyur dengan bulan Shafar (bulan sial). 

Dan banyak tathayyur mereka, in syā Allāh  kita akan sampaikan pada waktunya, ini hanya sekedar memberikan gambaran umum tentang kesyirikan-kesyirikan yang dahulu terjadi. 

Segala bentuk kesyirikan yang terjadi sekarang, seperti menyembelih untuk jin, menyembelih untuk selain Allāh, semua telah dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu. 

Jadi secara keagamaan, terjadi kerusakan yang amat parah di kota Mekkah. 

Kita cukupkan disini saja, In syā Allāh  besok kita lanjutkan kembali. 

Wabillāhi taufīq wal hidayah. 


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ 
__________ 

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

⑴ Pembangunan dan Pengembangan Rumah Tahfizh 
⑵ Support Radio Dakwah dan Artivisi
⑶ Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia

📝 Silakan mendaftar di : 

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
-----------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.