PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Kamis, 04 Mei 2017

Amalan Di Bulan Rajab Dan Puasa Rajab Bagian 6

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  04 Mei

Sabtu, 04 Rajab 1438 H / 01 April 2017 M
👤 Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc
📔 Materi Tematik | Amalan Di Bulan Rajab Dan Puasa Rajab (Bagian 6 dari 6)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AT-AmalanRajab-06
-----------------------------------

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ikhwānī fīllāh wa akhawāti rahīmani wa rahīmakumullāh,

Yang perlu kita ketahui dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj, kapan terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj ?

Kata Al Imam Ibnu Katsir dalam kitab beliau Al Bidayah wan Nihayah:

"Hadits yang menjelaskan bahwasanya peristiwa Isra' dan Mi'raj itu terjadi pada tanggal 27 Rajab, tidak shahih."

Tidak ada hadits/dalil yang shahih yang mencantumkan bahwa peristiwa Isra' dan Mi'raj tanggal 27 Rajab.

Bahkan ulama yang lain yang bernama Ibnu Dihyah, beliau mengatakan:

"Bahwasanya sebagian para pendongeng mengatakan bahwa peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, ulama hadits sepakat mengatakan, ini kedustaan."

Kenapa ?

Karena tidak ada bukti atau dalil yang shahih yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab.

Ini peristiwa ghaib, harus ada dalilnya. Tidak boleh kita sembarangan mengatakan ini demikian ini demikian, kecuali dengan dalil yang shahih.

Kemudian, dikatakan dalam makalah yang ditulis oleh Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili hafizhahullāh, dosen di Universitas Islam Madinah, beliau mengatakan:

"Di antara yang dilakukan oleh sebagaian manusia ketika peristiwa Isra' dan Mi'raj yaitu, melaksanakan shalat malam 27 Rajab tersebut dan berpuasa pada pagi harinya."

"Bahwasanya mereka membawakan riwayat dari Ibnu Abbas, namun riwayatnya dusta, tidak shahih."

Ulama yang lain, Al Hafizh Al Irāqi, beliau mengatakan:

"Hadits tentang shalat pada malam 27 Rajab itu hadits yang mungkar."

Artinya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah.

Dan diantara ulama yang mengingkari hadits tersebut adalah Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Atsqalani rahimahullāhu ta'ālā, beliau mengatakan:

"Dan para ulama telah mengingkari perayaan peristiwa Isra' dan Mi'raj, baik tanggal 27 ataupun selain tanggal 27."

Pertama secara penanggalan tidak ada dalil yang shahih, yang sharih, yang menjelaskan kapan terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj. Banyak khilaf di antara para ulama, artinya tidak dapat ditetapkan kapan tanggalnya, kapan bulannya.

Kedua, apalagi dirayakan. Sudah tidak tepat tanggalnya kok dirayakan.

Sudah double kesalahannya, karena apa?

Tidak pernah dilaksanakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan shahabat.

Padahal Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sendiri yang mengalaminya, tetapi tidak pernah merayakannya.

Para shahabat yang paling antusias memperjuangkan agama Allāh Subhānahu wa Ta'āla, juga tidak pernah merayakannya.

Para tabi'in dan tabiut tabi'in juga tidak pernah merayakannya.

Ini menunjukkan bahwasanya ini semuanya adalah ritual ibadah yang tidak ada dasarnya dari Al Qurān maupun sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan kata seorang ulama yang bernama Ayub Asy Syaikhtiyāni, seorang ulama salaf terdahulu mengatakan:

"Tidaklah orang yang berbuat bid'ah lebih semangat dalam kebid'ahannya, kecuali lebih menambah jauhnya dia dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Jika kita mau mendekatkan diri kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yaitu dengan melaksanakan yang sunnah, yang ada tuntunannya dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Inilah diantara keajaiban manusia, keajaiban sebagian kaum muslimin.

Yang sudah ada dasarnya, sudah ada haditsnya yang shahih, tidak dilaksanakan atau malas-malasan melaksanakan.

Namun yang maudhu, yang dhaif, semangat hidup dan mati untuk memperjuangkan yang dhaif tersebut.

Yang sudah jelas dalilnya, misalnya shalat tahajud setiap malam, ini ada dalilnya yang shahih, begitu pula puasa Senin Kamis, setiap bulannya silahkan, namun banyak yang malas mengerjakannya.

Demikian pula diantara sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang lainnya, tidak mau mengamalkan atau malas mengamalkan. Namun yang bid'ah, hidup mati atas bid'ah tersebut, naudzubillāhi min dzālik.

Maka sekali lagi, ini sebagai bahan koreksian bagi kita semuanya untuk kita istiqamah di atas sunnahnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian, dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh.

"Tidak diketahui dari seorangpun dari kaum muslimin yang menjadikan keutamaan perayaan bagi malam Isra' dan Mi'raj atas malam-malam yang lainnya."

Bahkan lebih parah ada yang menganggap malam Isra' dan Mi'raj lebih mulia daripada malam lailatul qadr.

Karena itulah bid'ah. Yang sudah ada dalilnya dikalahkan dengan yang tidak ada dasarnya yang shahih.

Tidak ada seorangpun dari sahabat, tabi'in yang pernah merayakan peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Demikian pula Imam Asy Syafi'ī, tidak pernah ada riwayat dari beliau apakah beliau merayakan atau menganjurkan acara perayaaan peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Tidak ada seorangpun sahabat tabi'in dan yang lainnya yang mengkhususkan malam Isra' dan Mi'raj dengan ibadah-ibadah dan ritual tertentu.

Oleh karena itu, tidak pernah dikenal kapan peristiwa malam Isra' dan Mi'raj. Meskipun peristiwa Isra' dan Mi'raj termasuk salah satu keutamaan Nabi kita Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Maka tidak boleh mensyariatkan ibadah-ibadah khusus di waktu-waktu tersebut.

Sebagai penutup sekali lagi saya sampaikan sekali lagi ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullāhu ta'ālā, yang berkaitan dengan bulan Rajab ini, kata beliau:

"Aku akan sampaikan kepada kalian tentang kebenaran, bahwasanya bulan Rajab tidak ada shalat yang khusus, baik pada awal malam Jum'at atau selainnya. Demikian pula tidak ada puasa yang khusus tentangnya pada awal hari bulan Rajab atau puasa khusus di hari-hari di bulan Rajab."

Namun bulan Rajab secara ritual ibadah seperti bulan-bulan lainnya. Mau puasa Senin Kamis silahkan pada bulan Rajab, mau puasa tiga hari silahkan, seperti bulan-bulan lainnya. Tidak ada ibadah khusus di bulan Rajab, meskipun bulan Rajab termasuk bulan yang suci tadi.

Kemudian kata beliau:

"Apa yang telah shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari amal-amal shalih itu cukup untuk kita amalkan daripada mengamalkan yang dhaif atau maudhu' makdubah ala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

"Sesungguhnya manusia, apabila dia beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan yang shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka itu adalah syariat Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan dia telah beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di atas al-Ilmu, dan dia berharap pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan takut adzab-Nya."

Hādzā, wallahu ta'alā a'lam, washalallāhu wassalam 'alā 'abdi wa Rasūlulihi Muhammad.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menghidupkan kita di atas sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan di atas pemahaman para sahabat dan mewafatkan kita di atas keduanya.

Wallahu ta'alā a'lam, ini yang bisa kita sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat, kurang lebihnya minta maaf.

Jazākumullāhu khairan katsiran atas perhatiannya.

أقول قولي هذا وآخر دعوانا عن الحمد لله رب العالمين
و اﻟسّلامــ عليكـمــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ
_________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
----------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.