PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Kamis, 04 Mei 2017

Amalan Di Bulan Rajab Dan Puasa Rajab Bagian 5

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  04 Mei

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 03 Rajab 1438 H / 31 Maret 2017 M
👤 Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc
📔 Materi Tematik | Amalan Di Bulan Rajab Dan Puasa Rajab (Bagian 5 dari 6)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AT-AmalanRajab-05
-----------------------------------

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ikhwānī fīllāh wa akhawāti rahīmani wa rahīmakumullāh,

Ada sebagian dari saudara-saudara kita yang salah memaknai bulan Rajab ini ataupun salah dalam memuliakan bulan Rajab ini, yaitu dengan mengadakan beberapa ritual ibadah yang kalau kita pelajari, kita merujuk kepada kitab-kitab para ulama, kepada ucapan-ucapan para ulama ahlus sunnah waljama'ah, ucapan-ucapan ulama terdahulu, maka akan kita dapati itu adalah ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ritual yang keempat yang berkaitan dengan bulan Rajab yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin:


(4) Menyebarkan doa atau doa-doa khusus.

Diantaranya menyebarkan doa:

"Allāhumma bāriklana fi Rajab wa fī Sya'ban wa ballighnā Ramadhan."

(Ya Allāh, berkahilah untuk kami bulan Rajab, bulan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan)

Kata para ulama, doa ini tidak ada asal-usulnya dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Haditsnya tidak shahih, tidak boleh dikhususkan di bulan-bulan seperti ini.

Maka kita beritahukan, bahwa tidak boleh mengkhususkan doa seperti itu.

Karena mengkhususkan ibadah pada waktu tertentu yang khusus membutuhkan dalil yang khusus yang shahih yang dijadikan pegangan, karena kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

 مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّا

"Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat tinggalnya di dalam neraka."

Syaikh Utsaimin rahimahullāh mengatakan yang berkaitan dengan doa tersebut:

"Hadits yang dhaif, mungkar, tidak shahih dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Oleh karena itu tidak layak bagi seorang muslim muslimah untuk berdoa dengan doa ini, karena itu tidak shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Kata beliau:

"Aku katakan seperti ini, karena sebagian orang yang suka menasihati dan tazkiyatun nufus mambawakan hadits seperti ini, padahal haditsnya tidak shahih."

Ini adalah peringatan bagi kita supaya tidak mengkhususkan doa atau dzikir tertentu di waktu tertentu atau tempat tertentu, kecuali ada dalil yang shahih dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ritual yang kelima yang berkaitan dengan bulan Rajab yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin:


(5) Peringatan Isra' Dan Mi'raj.

Ikhwānī fīllāh wa akhawāti rahīmani wa rahīmakumullāh.

Wajib untuk kita yakini bahwasanya peristiwa Isra' dan Mi'raj adalah merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan ayat yang berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

"Maha suci Allāh yang memperjalankan hambanya (Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam) pada malam hari dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha yang kami berkahi sekitarnya." (QS Al Isra': 1)

Peristiwa Isra' dan Mi'raj ini wajib kita yakini. Merupakan salah satu kejadian yang luar biasa dan kata para ulama banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari peristiwa tersebut.

Akan tetapi kebanyakan manusia lebih suka merayakan perayaannya karena ada makanan dan hiburannya daripada mengambil pelajaran atau makna yang terkandung di dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj tersebut.

Berapa banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya panitia perayaan Isra' dan Mi'raj tetapi tidak pernah shalat lima waktu atau bolong-bolong atau tidak shalat di masjid untuk lima waktu tersebut.

Padahal inti dari Isra' dan Mi'raj adalah shalat lima waktu yang diwajibkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada Nabi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bahkan lebih dari itu, mereka yang setiap tahunnya merayakan Isra' dan Mi'raj, mengeluarkan banyak biaya, waktu dan tenaga, mereka lupa bahwasanya ada aqidah yang mereka tidak memahaminya yang menyelisihi aqidah mereka.

Mereka tidak meyakini bahwasanya Allāh di atas langit, sedangkan mereka mengatakan Allāh ada di mana-mana, padahal kemana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dimi'rajkan di mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berdialog dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Mereka tidak memikirkannya, tidak merenungkannya, tidak mempelajarinya, tidak mengambil manfa'at dari peristiwa Isra' dan Mi'raj tersebut.

Ini adalah musibah. Mereka yang paling getol merayakannya, namun lupa inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj tersebut.

Demikian pula aqidah yang bisa dipetik dari peristiwa Isra' dan Mi'raj yaitu sifat Al Kalam bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla memiliki sifat berbicara dengan siapa yang Dia kehendaki. Dengan suara yang didengar dan dengan huruf yang bisa ditulis.

Sekali lagi, bahwasanya peristiwa Isra' dan Mi'raj adalah peristiwa yang sangat besar yang wajib kita meyakininya.

Dan itu termasuk ujian bagi kita semuanya. Karena di dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj ada hal-hal yang luar biasa yang terkadang akal tidak bisa mencapainya.

Bahkan itu pula yang dikisahkan dalam sejarah, bagaimana orang musyrikin, mereka mendustakan kabar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Abu Bakar Ash Shiddik orang yang pertama kali mengimani peristiwa tersebut, kata beliau:

"Jika yang mengatakannya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka aku mempercayainya, masuk akal ataupun tidak masuk akal."

Ini juga adalah pelajaran yang berharga, bahwasanya syariat Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla terkadang menjadi ujian bagi akal kita. Orang yang beriman menundukkan akalnya kepada Iman kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana dalam waktu yang sangat singkat dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, dari masjidil Aqsha ke langit ke tujuh. Kemudian mendapati peristiwa-peristiwa yang luar biasa.

Itu semuanya menunjukkan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla 'alā kulli syai-in qadīr. Dan bahwasanya akal manusia sangat sempit tidak bisa meliputi segalanya.

 وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS Al Isra': 85)

Maka dari situ pelajaran yang sangat berharga, jangan menuhankan akal. Akal kita terbatas, tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur.

Akal harus ditundukkan dengan An Naql (Qurān dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam).
_________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
----------------------------------------

Proudly Powered by Abu Uwais.