https://pontrenisbatam.wordpress.com/

Sabtu, 10 Juni 2017

Menyambut Bulan Ramadhan Bagian 1

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  Sabtu, Juni 10, 2017

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 25 Sya'ban 1438 H / 22 Mei 2017 M
👤 Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc
📔 Materi Tematik | Menyambut Bulan Ramadhan (Bagian 1 dari 6)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AYBS-MenyambutRamadhan-01
🌐 Sumber: https://youtu.be/FfCa4yQUNOQ
-----------------------------------

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
قال الله تعالى في كتابه الكريم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و انتم مسلمون أما بعد


Para shahābat BiAS, Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas limpahan karunia dan nikmat yang Allāh telah berikan kepada kita.

Kita membahas tentang "Menyambut bulan Ramadhān".

Karena memang bulan Ramadhān adalah bulan yang sangat luar biasa, memiliki keistimewaan-keistimewaan yang sangat agung sekali.

Sebagaimana Imām At Tirmidzi rahimahullāh meriwayatkan sebuah hadīts dalam sunannya, bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

"Apabila malam pertama di bulan Ramadhān maka syaithān-syaithān yaitu jinn-jinn yang jahat akan diikat dan akan ditutup pintu-pintu api neraka dan akan dibuka pintu-pintu jannah dan akan ada penyeru yang akan menyeru, wahai yang menginginkan kebaikan kemarilah dan wahai yang menginginkan keburukan kurangilah dan Allāh memerdekakan dari api neraka hamba-hambanya dan itu terjadi di setiap malamnya." (Hadīts Riwayat At Tirmidzi dalam sunnannya nomor 682)

⇒Hadīts ini menunjukkan akan keagungan bulan Ramadhān.

Karena di bulan Ramadhān kebaikan-kebaikan diberi kemudahan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, demikian pula keburukan-keburukan dikunci atau dipersempit jalannya.

Dengan seseorang berpuasa syahwatnya akan berkurang sehingga jalan syaithān untuk mengganggu dirinya sangat sempit sekali.

Oleh karena itu kedatangan bulan Ramadhān adalah perkara yang ditunggu-tunggu oleh salafuna shālih.

Dahulu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan para shahābat, apabila datang bulan Ramadhān mereka bergembira dan bersuka cita  Bahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhān bulan yang penuh berkah." (Hadīts Riwayat An Nasāi)

Dan para shahābat saling memberikan selamat kepada satu sama lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhān.

⇒Sunnah sebelum Ramadhān adalah saling memberikan tahniah (selamat) dengan datangnya bulan Ramadhān.

Adapun bermaaf-maafan sebelum Ramadhān ini tidak ada contohnya.

Adapun hadīts yang tersebar di masyarakat yang disebutkan katanya malāikat Jibrīl berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Wahai Muhammad, abaikan puasa orang yang sebelum Ramadhān belum minta maaf kepada istrinya, orang tuanya, kerabatnya."

⇒Ini hadīts palsu yang dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Ucapan ini tidak pernah diucapkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, oleh karena itu tidak ada satupun riwayat ada hadīts yang menyebutkan sebelum Ramadhān kita disyari'atkan maaf-maafan.

Karena minta maaf itu kata para ulamā disyari'atkan ketika kita berbuat salah kepada seseorang, segera kita meminta maaf.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam riwayat Bukhāri dan Muslim:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

"Siapa yang pernah berbuat zhālim kepada saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia minta maaf pada hari itu juga, sebelum datang hari ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham." (Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 2449)

Banyak kaum muslimin yang berkeyakinan:

√ Disyari'atkan saling memaafkan sebelum Ramadhān.
√ Untuk pergi kekuburan sebelum Ramadhān.

Hal ini termasuk perkara yang dilarang oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Kenapa?

Karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا

"Jangan kamu jadikan kuburanku ini sebagai 'Ied."

Apa itu 'Ied?

Kata Syaikh Abdul Qadir Al Munawwi dalam kitāb beliau Al Faidhul Qadir Al-Jami' Ash Shaghir yang dimaksud dengan:

"Jangan kalian menjadikan kuburan sebagi 'Ied."

Adalah:

"Janganlah kalian mengunjungi kuburan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan berkumpul di sana, baik itu seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali."

Sebagaimana disebut 'Ied Al Fithr, 'Ied Al'Adh.


◆ 'Ied Al Fithr

Dinamakan 'Ied Al Fithr karena 'Ied berpulang setahun sekali setiap tanggal 01 Syawwāl.

Sehingga nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا

Jangan engkau jadikan kuburanku sebagai 'Ied

-->Yaitu yang dikunjungi di waktu yang telah ditentukan dan berkumpul disana.

Maka mengkhususkan ziarah kubur dan berkumpul di sana sebelum Ramadhān atau setelah Ramadhān ini jelas masuk di dalam larangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⇒Ziarah kubur tidak ditentukan waktunya oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam hanya bersabda:

زوروا القبور ؛ فإنها تذكركم الآخرة

"Berziarah kuburlah, karena ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kehidupan akhirat." (Hadīts Riwayat Ibnu Mājah nomor 1569)

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan:

√ Ziarah kuburlah setiap Jum'at.
√ Ziarah kuburlah setiap Senin.
√ Ziarah kuburlah seminggu sekali.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan ini!

Justru Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang untuk menjadikan kuburan sebagai 'Ied yang dikunjungi di waktu yang telah ditetapkan dan di sana orang-orang berkumpul.

Ini adalah perkara-perkara yang tidak disyari'atkan sebelum kita menghadapi bulan Ramadhān.

Bersambung kebagian dua, In syā Allāh
________
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah & Sosial Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
4. Operasional Dakwah & Kegiatan Sosial

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
-------------------------------------


0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.