https://pontrenisbatam.wordpress.com/

Sabtu, 29 Juli 2017

HSI 12 - 18 Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 18

by Rory Rachmad  |  in HSI-NI at  Sabtu, Juli 29, 2017

■ *Halaqah 18 | Pengantar Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām*

download audio : http://goo.gl/S4QU8i

 _Diantara mereka ada yang beralasan:_

Kita ini adalah seorang hamba, sementara Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah seorang Al-Kholik. Kita di dunia ketika (bertemu) ingin bertemu dengan seorang Presiden / seorang kepala negara, kita tidak bisa langsung bertemu dengan Presiden tersebut, tidak bisa menyampaikan permintaan kita secara langsung disana ada Menteri, disana ada Ajudan & disana ada pembantu-pembantu, sulit untuk seseorang untuk sampai kesana kecuali dengan melalui perantara-perantara tersebut. Kemudian dia mengatakan demikian pula kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kita perlu wasithah /kita perlu perantara yang menyampaikan hajat kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

_Ini adalah alasan sebagian & ini adalah alasan yang sangat-sangat lemah, kenapa demikian?_

⇒ *Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla lain dengan makhluk, Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah As Sami’ (Maha Mendengar), Al Bashir (Maha Melihat), Al Qodir (Maha Mampu melakukan sesuatu), seandainya manusia semuanya & juga Jin berada dalam satu tempat masing-masing berdoa kepada Allāh dengan bahasanya dengan hajat nya, niscaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla bisa mendengar semuanya & bisa menunaikan hajat mereka semuanya*, Allāh Subhānahu wa Ta’āla

*« عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ »*

_*Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.*_ Adapun _makhluk_ maka *dia adalah lemah tidak bisa dia mendengar beberapa orang berbicara di depannya dalam satu waktu, apalagi menunaikan hajatnya dalam satu waktu dia perlu pembantu, dia perlu ajudan atau menteri apalagi yang diurus jutaan manusia.*

_Apabila kita mengatakan:_

“kita dalam beribadah kepada Allāh perlu wasithoh/perlu perantara”

Berarti _seakan-akan_ kita menyamakan antara Allāh dengan makhluk & ini adalah *bahaya yang besar*. _Menyamakan Allāh dengan makhluk adalah bahaya yang besar._

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

*_“Tidak ada yang serupa dengan Allāh & Dia adalah Maha Mendengar & juga Maha Melihat”._*

 Apabila didalam beribadah, dia menjadikan washitoh menjadikan perantara antara dia dengan Allāh dengan alasan seperti ini _maka seakan-akan dia telah menyamakan antara Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan makhluk & ini adalah *bahaya yang besar.*_

 *Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Maha Mendengar, Maha Melihat*. Oleh karena itu Allāh menyuruh kita *berdoa kepadaNya langsung tanpa adanya perantara* 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ 

[QS Ghafir 60]

_“dan Rabb kalian telah berkata berdoalah kalian kepada Ku_

أَسْتَجِبْ لَكُمْ 

_niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian”._

_Allāh tidak mengatakan:_

“berdoalah kalian kepada Ku dengan perantara dengan washitoh dengan washilah”.

_*Allāh mengatakan:*_

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

_“berdoalah kalian kepada Ku niscaya Aku akan mengabulkan”._

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

[QS Al-Baqarah 186]

_“apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu_

فَإِنِّي قَرِيبٌ

_Maka beritahukanlah kepada mereka sesungguhnya Aku adalah dekat_

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ 

_Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila berdoa kepadaKu”._

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kepada kita untuk berdoa *tanpa adanya washitoh.*

Dan diantara mereka beralasan bahwasanya kita adalah berdosa banyak maksiat, apabila kita berdoa nanti tidak dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & tidak diampuni dosa kita…

*Kita katakan*

⇒ _Selama kita masih mau berdoa kepada Allāh & masih mengharap kepada Allāh maka itu adalah sebab kita mendapatkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla._

_Selama seseorang masih mau berdoa mengangkat tangan kepada Allāh & masih mengharap kepada Allāh maka itu adalah sebab dia diampuni dosanya sebagaimana didalam hadits Qudsi_

*Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata:*

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَو
ْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ،

_Di dalam hadits Qudsi Allāh berkata :_

*“Wahai anak Adam selama engkau masih*

دَعَوْتَنِيْ

*Berdakwah/berdoa kepada Ku*

وَرَجَوْتَنِيْ

*Dan engkau masih mengharap kepada Ku*

غَفَرْتُ لَك

*Maka niscaya Aku akan mengampuni dosamu*

عَلَى مَا كَانَ مِنكَ وَلَا أُبَالِيْ ، 

*Apapun dosa yang kau lakukan & Aku tidak akan peduli”*

 Menunjukkan kepada kita bahwasanya *Allāh akan mengampuni dosa kita selama kita masih mau berdoa kepada Nya & masih mengharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.*

Jadi caranya *bukan* justru kita menjadikan disana washitoh perantara antara kita dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.

*Ini adalah alasan yang tidak dibenarkan* 

◎ Demikian pula mereka beralasan dengan alasan-alasan yang lain, yang semuanya adalah _alasan-alasan yang lemah_ & seseorang untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat *sudah dijelaskan caranya oleh Allāh & RasulNya & untuk dekat kepada Allāh / menjadikan dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga sudah diterangkan oleh Allāh & juga RasulNya.*

 _Oleh karena itu_ *jangan sampai* kita mencari cara yang *tidak diterangkan* oleh Allāh & RasulNya, bahkan menjadikan cara orang-orang musyrikin menjadikan cara mereka untuk mendapatkan syafaat & juga kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 


Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.