Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Sabtu, 29 Juli 2017

Halaqah - 34 Pembatal keislaman yang ke 7 bagian 5

by Rory Rachmad  |  in HSI-NI at  29 Juli

Download audio : Pembatal keislaman yang ke 7 bagian 3

Halaqah yang ke-34, Penjelasan Kitab Nawaqidhul Islam karangan Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahab at Tamimi rahimahullah

ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ 



Mereka mempelajari sihir yang tidak memudharati mereka dab tidak memberikan manfaat kepada mereka

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ 

Yang memudhoroti mereka di dunia maupun di akhirat

وَلَا يَنْفَعُهُمْ 

Dan juga tidak memberikan manfaat kepada mereka [Surat Al-Baqarah 102]

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ 

Padahal mereka sudah tahu bahwasanya orang yang membeli sihir ini maka dia diakhirat tidak memiliki bagian.

Menunjukkan kepada kita bahwasanya orang yang melakukan sihir nanti diakhirat tidak memiliki bagian artinya tidak memiliki kenikmatan, dan menunjukkan bahwasanya orang yang melakukan sihir dia adalah orang yang kufur.

Karena orang yang kafir di akhirat tidak memiliki kenikmatan sedikit pun dan akan mendapat adzab dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan sungguh jelek apa yang mereka beli seandainya mereka mengetahui.

Ayat ini menunjukkan kepada kita dalam beberapa tempat bahwasanya sihir adalah sebuah kekufuran kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang bisa mengeluarkan seseorang dari islam.

Oleh karena itu seorang muslim hendaklah menjauhi apa yang dinamakan dengan sihir dan menasihati orang lain, saudaranya yang masih melakukan sihir ini dan hendaklah membersihkan masyarakat dari tukang-tukang sihir dan hukumannya berat didalam Islam bagi orang yang menjadi tukang sihir.

Karena didalam hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ 

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipotong dengan pedang”

Kenapa demikian? 

Karena kerusakan yang ditimbulkan, menyakiti manusia memisahkan antara seorang suami dengan istri menghancurkan sebuah keluarga, maka hukumannya didalam islam adalah di potong dengan pedang artinya dibunuh dan hadits ini ada pembicaraan dikalangan para ulama, ada yg mendha'ifkan. Namun membunuh tukang sihir dengan pedang ini telah datang dari beberapa shahabat diantaranya dari Umar bin khaththab radhiyallahu anhu di zaman beliau radiallahu anhu, beliau memerintahkan untuk membunuh setiap tukang sihir baik laki-laki maupun wanita dan ini disetujui oleh para shahabat radhiyallahu anhum.

Demikian pula telah shahih dari Hafshah anaknya Umar bin khaththab pernah ada salah seorang budak Hafshah mensihir Hafshah, kemudian dia mengaku dan mengeluarkan sihir nya setelah itu dia dibunuh karena dia telah mensihir Hafshah radiallahu anha.

Kemudian datang juga dari Jundub radhiyallahu anhu dan Jundub adalah salah seorang shahabat nabi ﷺ yaitu Jundub Ibn Ka'ab ketika suatu saat beliau berada didepan salah seorang Amir /khalifah Bani Umayah yang saat itu ada seorang laki-laki yang dia melakukan sihir Tahyili (sihir yang berupa khayalan) dia seakan-akan dilihat oleh manusia saat itu membunuh seseorang dan memotong kepalanya kemudian dia bisa menghidupkan kembali orang tersebut, ini dilakukan didepan Jundub Ibn Kaaf dan juga salah seorang kholifah di zaman Bani Umayyah.

Maka Jundub mendekati orang tersebut kemudian membunuhnya dan sanad nya shahih, menunjukkan bahwasanya hukuman bagi tukang sihir adalah di bunuh dan yang melakukan adalah pemerintah yang melakukan adalah yang berwenang yaitu penguasa pemerintah yang sah, inilah yang berhak untuk menegakkan qishos atau hukuman bagi orang lain BUKAN dilakukan secara individu seorang menemukan tetangganya ada tukang sihir kemudian dia datang dan membunuh maka ini tidak diperbolehkan, yang menegakkan qishas dan juga hukuman yang berhak adalah yang berwenang yaitu para penguasa / pemerintah yang sah, merekalah yang berhak untuk menentukan dan menegakkan hukuman bagi manusia 

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy


kepada Anggota HSI dilarang menyebarkan transkrip ini di Group HSI yang sedang berjalan

gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.