PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Minggu, 06 Agustus 2017

Manasik Haji Dan Umroh Bagian 24

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  06 Agustus

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 13 Dzulqa’dah 1438H / 05 Agustus 2017M
👤 Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
📔 Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 24 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-24
🌐 Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
-----------------------------------

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 24 DARI 30


بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے 
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته   

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak. 

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji tanggal 9 Dzulhijjah (hari 'Arafāh) 

Setelah terbenam matahari tanggal 9 Dzulhijjah kita bertolak dari 'Arafāh menuju Muzdalifah dengan tenang. 

Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts riwayat Muslim: 

أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ 

"Wahai manusia hendaklah kalian tenang-tenang." (HR Muslim nomor 1218)

Dalam riwayat yang lain: 

 أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ بِالإِيضَاعِ 

"Wahai manusia hendaklah kalian tenang, sesungguhnya kebaikan bukan dengan cara mengerjakan sesuatu yang melalaikan (yaitu) menyakiti orang." (HR Bukhari nomor 1671)

Ada perkataan dari (kalau tidak salah) 'Ummar bin Abdul Aziz, bahwasanya haji yang benar itu bukan kita bersegera sampai duluan di Muzdalifah, tetapi haji yang benar adalah kita diampuni atau tidak pada hari itu.

Kemudian perlu diketahui, wuqūf di 'Arafāh adalah amalan inti ibadah haji, siapa yang berhaji tapi tidak wuqūf di 'Arafāh maka tidak sah hajinya. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

.الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ لَيْلَةَ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ 

"Inti amalan haji adalah berwuqūf di 'Arafāh. Barangsiapa yang datang ke 'Arafāh sebelum shalāt shubuh pada malam Muzdalifah maka dia sudah sempurna hajinya." (HR Ibnu Majah nomor 3015 diriwayatkan oleh imam Nasā’i dengan lafazh yang berbeda)

Artinya, waktu wuqūf di Arafāh dari mulai tanggal 9 Dzulhijjah pagi (terbitnya matahari sampai terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah). 

Permasalahan. 

Bila ada orang terlambat datang ke 'Arafāh, (misalnya) datangnya malam hari dan orang-orang sudah berangkat ke Muzdalifah semua, pada waktu itu dia sampai di sana lalu berhenti sejenak baru dia bertolak ke Muzdalifah, maka hajinya tetap sah berdasarkan hadīts ini. 

Kita sekarang berbicara tanggal 9 Dzulhijjah malam 10 Dzulhijjah, apabila terbenam matahari kita bertolak dari 'Arafāh ke Muzdalifah. 

Kata bertolak ini menunjukkan bahwanya shalāt Maghribnya tidak di 'Arafāh tetapi di Muzdalifah. 

◆ Muzdalifah 

Jika seorang yang menunaikan ibadah haji sudah sampai ke Muzdalifah maka di sana dia shalāt Maghrib (tiga raka'at) kemudian digabung dengan shalāt 'Isyā (dua raka'at) otomatis ini dikerjakan pada waktu 'Isyā. Jadi bukan dikerjakan di 'Arafāh. 

Pertanyaan: 

Pertanyaan yang sering ditanyakan, kalau kita di 'Arafāhnya gara-gara menunggu bis atau bisnya terlambat jadi di 'Arafāh sampai sebelum pertengahan malam. 

Jawabannya: 

Shalātlah Maghrib dan 'Isyā di "Arafāh, karena waktu terakhir mengerjakan shalāt 'Isyā adalah pertengahan malam. Daripada kita nanti terlambat maka kita kerjakan di 'Arafāh. 

Ini kejadiannya kalau bisnya terlambat tapi bagi yang berjalan kaki maka silahkan dia berjalan dari 'Arafāh kemudian sampai di Muzdalifah shalāt Maghrib dan 'Isyā disana. 

Shalāt Maghrib 3 rakat disambung dengan shalāt 'Isyā 2 raka'at. 

√ Satu kali ādzān
√ Dua kali iqāmah

Hal ini berdasarkan dari hadīts 'Usamah ibnu Zaid radhiyallāhu 'anhu  ketika itu beliau bercerita: 

رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ عَرَفَاتٍ فَلَمَّا بَلَغَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الشِّعْبَ الأَيْسَرَ الَّذِي دُونَ الْمُزْدَلِفَةِ أَنَاخَ، فَبَالَ

 ثُمَّ جَاءَ فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ الْوَضُوءَ، فَتَوَضَّأَ وُضُوءًا خَفِيفًا. فَقُلْتُ الصَّلاَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ  " الصَّلاَةُ أَمَامَكَ ". فَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ، فَصَلَّى ثُمَّ رَدِفَ الْفَضْلُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ جَمْعٍ. قَالَ كُرَيْبٌ فَأَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ الْفَضْلِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى بَلَغَ الْجَمْرَةَ

Aku berboncengan dengan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari 'Arafāh ketika beliau sampai ke sebuah tempat sebelum Muzdalifah beliau menambatkan untanya dan beliau kencing. 

Kemudian beliau datang dan akupun menuangkan air untuk beliau berwudhu, kemudian beliau berwudhu dengan ringan lalu aku berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Apakah kita sekarang ingin mengerjakan shalāt, wahai Rasūlullāh?" Kemudian kata beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam): "Shalāt itu didepanmu (maksudnya di Muzdalifah)".  (Hadīts riwayat Imām Bukhāri nomor 1669, 1670) 

--> Berwudhu ringan artinya karena airnya terbatas maka wudhunya dengan ringan tetapi disempurnakan.

Dalam riwayat Muslim: 

..فَلَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيرَهُ فِي مَنْزِلِهِ ثُمَّ أُقِيمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلاَّهَا وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا.

"Ketika beliau sampai ke Muzdalifah, beliau turun (dari untanya) kemudian beliau berwudhu dengan sempurna, kemudian di iqāmahkan shalāt lalu beliau shalāt Maghrib setelah itu seluruh orang menambatkan untanya kemudian setelah itu di iqāmahkan shalāt 'Isyā kemudian beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) shalāt 'Isyā, baru beliau tidak mengerjakan shalāt apapun dan pekerjaan apapun di antara dua shalāt tersebut.” (HR Muslim nomor 1280)

⇒ Jadi tidak benar ada dzikir-dzikir di antara 2 shalāt tersebut atau setelah dua shalāt tersebut. 

√ Yang benar sampai Muzdalifah kita mengerjakan ādzān kemudian iqāmah shalāt Maghrib, lalu shalāt Maghrib 3 raka'at. 
√ Kemudian iqāmah untuk shalāt 'Isyā, lalu shalāt 'Isyā dua raka'at. 

Semuanya dikerjakan secara berjama'ah meskipun kelompoknya sedikit misalnya 10 orang, 20 orang. 

Setelah selesai shalāt kemudian tidur (istirahat) karena besok banyak pekerjaan berat dan ini yang dikerjakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

◆ Tinggal di Muzdalifah 

Untuk tinggal di Muzdalifah ada permasalah, karena ada perbedaan. 

⇒ Bachelor (bujang) atau tidak membawa keluarga, dia mabit (bermalam) di Muzdalifah sampai shalāt Shubuh. 

⇒ Berkeluarga (ibu-ibu, saudari-saudari, orang tua, anak-anak) atau yang menemani mereka dari para lelaki, diperbolehkan mereka singgah sebentar di Muzdalifah menunggu pertengahan malam. 

Sebelum pertengahan malam mereka pergi dari Muzdalifah ke Minā dan dianjurkan untuk mengambil keringanan ini, karena menunggu waktu Shubuh dikhawatirkan orang akan penuh dan tidak cocok untuk para wanita. 

Sebagaimana yang diceritakan oleh 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā, 'Āisyah bercerita: 

فَاسْتَأْذَنَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَوْدَةُ أَنْ تَدْفَعَ قَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ، وَكَانَتِ امْرَأَةً بَطِيئَةً، فَأَذِنَ لَهَا 

"Saudah istri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam minta izin kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada malam Muzdalifah untuk pergi ke Minā sebelum orang-orang bertolak kesana (yaitu pada waktu malam) dan beliau adalah wanita yang sudah tua, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengizinkannya.” (HR Bukhari nomor 1681)

Adapun 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā beliau tetap tinggal bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan dalam sebuah hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim, 'Abdullāh bin 'Abbās radhiyallāhu 'anhumā bercerita: 

أَنَا مِمَّنْ، قَدَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ الْمُزْدَلِفَةِ فِي ضَعَفَةِ أَهْلِهِ.

"Aku termasuk orang yang diperintahkan oleh Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mendahului beliau pada malam Muzdalifah dalam orang-orang lemah dari keluarga Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam."

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya sampai yang menemani orang-orang yang lemah tersebut diperbolehkan mereka bertolak setelah pertengahan malam dari Muzdalifah ke Minā. 


والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد 
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 25, In syā Allāh
_____

◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
____        

            

Proudly Powered by Abu Uwais.