PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 16 Agustus 2017

Manasik Haji Dan Umroh Bagian 26

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  16 Agustus

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 16 Dzulqa’dah 1438H / 08 Agustus 2017M
👤 Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
📔 Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 26 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-26
🌐 Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
-----------------------------------

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 26 DARI 30


بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setelah melempar jamrah 'Aqabah, yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah menyembelih hadyu.


◆ Menyembelih hadyu


Menyembelih hadyu, kalau kita sudah kolektif mengumpulkan dengan panitia haji, maka selesai kita, tidak ada urusan lagi dengan hadyu. Kecuali orang yang ingin menyembelih hadyu sendiri.

√ Haji Tammattu' dan Qirān diwajibkan menyembelih hadyu.

√ Haji Ifrad tidak diwajibkan menyembelih hadyu.

Tetapi jika dia tidak mampu menyembelih hadyu maka dia boleh untuk berpuasa 3 hari selama di tanah suci dan 7 hari setelah pulang ke tempat asalnya, hal ini berdasarkan dalīl surat Al Baqarah ayat 196:

فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Barangsiapa siapa yang menunaikan haji Tammattu' dengan berumrah kemudian berhaji maka dia menyembelih apa yang mudah baginya dari hewan hadyu, jika dia tidak mendapati hewan yang disembelih sebagai hewan hadyu maka dia berpuasa 3 hari pada waktu haji dan 7 hari jika dia pulang dan itu adalah 10 hari yang sempurna.

Yang itu apabila dia bukan penduduk kota Mekkah. Jika penduduk kota Mekkah ingin mengerjakan haji Tammattu' maka tidak ada kewajiban hadyu.”

⇒ Hadyu diperuntukkan untuk orang-orang selain penduduk kota Mekkah.

Setelah hadyu, Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan pencukuran rambut.

Pencukuran rambut yang diperbolehkan dalam rangka tahallul ada 2 macam.

Diantaranya:

⑴ Memendekkan seluruh rambut kepala.

⑵ Menggundul habis rambut kepala.

Untuk yang lebih utama adalah menggundul habis rambutnya, dalīl nya adalah sebuah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim, 'Abdullāh bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā bercerita, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 " رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ " ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : " رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ " ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ " رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ " ، قَالُوا : وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : " وَالْمُقَصِّرِينَ "

"Allāh merahmati orang-orang yang menggundul habis rambut kepalanya."

Kemudian para shahābat bertanya:

"Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya , wahai Rasūlullāh?"

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Allāh merahmati orang-orang yang menggundul rambut kepalanya."

Kemudian para shahābat bertanya untuk kedua kalinya:

"Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya, wahai Rasūlullāh?"

Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda sambil berdo'a:

"Allāh merahmati orang-orang yang menggundul rambut kepalanya."

Kemudian para shahābat bertanya untuk ketiga kalinya:

"Bagaimana dengan orang-orang yang hanya memendekkan rambut kepalanya, wahai Rasūlullāh?"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab"

"Dan orang-orang yang memendekkan rambut kepalanya."

(HR Muslim nomor 1301)

Dari sini kita bisa ambil pelajaran bahwa yang paling utama jika kita ingin tahallul haji yaitu dengan menggundul habis rambut kepala dan ini hanya untuk laki-laki.

Sedangkan untuk wanita, dia bisa mengambil ujung rambutnya seujung ruas jari lalu dia potong.

Jika dia sudah melempar jumrah 'Aqabah, kemudian dia memotong rambut, maka dia dikatakan tahallul awal.

Ketika ada orang yang menunaikan ibadah haji, sebelum tahallul awal dia berjima' maka dia mendapatkan sanksi yang berat yaitu menyembelih unta atau sapi dan dibagi-bagikan kepada faqīr miskin di kota Mekkah tanpa dia ambil sedikitpun.

Setelah itu Nabi Muhammad bertahallul, artinya lepas dari ihrām. Lepas dari ihrām maksudnya larangan-larangan berihrām tidak berlaku lagi bagi orang tersebut.

Beliau kemudian mandi, beliau memakai minyak wangi, dan memakai pakaian biasa (sesudah tahallul awal). Dan dianjurkan untuk memakai pakaian yang paling bagus.

Setelah kita bertahallul lalu kita pergi ke Mekkah untuk melaksanakan thawāf Ifadhah.

Saat kita thawāf Ifadhah kita berihrām dengan menggunakan pakaian biasa, dalīl yang menunjukkan tentang thawāf Ifadhah (rukun haji), artinya tidak bisa ditinggalkan harus dikerjakan.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah surat Al Hajj ayat 29, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

"Kemudian selesaikan pekerjaan pekerjaan haji mereka kemudian tunaikan nadzar-nadzar mereka kemudian thawāflah."

⇒ Thawāf Ifadhah adalah thawāf haji dan merupakan rukun haji.

Tata cara thawāf Ifadhah sama dengan thawāf biasa dimulai dari hajar Aswad kemudian sampai ke rukun Yamani. Dari rukun Yamani menuju rukun hajar Aswad membaca do'a :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ini dihitung satu putaran.

⇒ Thawāf dilakukan dari mulai hajar Aswad ke hajar Aswad sebanyak 7 putaran.

Setelah thawāf Ifadhah, maka bagi yang mengerjakan haji Tammattu' diwajibkan sa’i yang dinamakan sa’i haji.

Adapun yang mengerjakan haji Ifrad dan Qirān, kalau dia diawal sudah mengerjakan sa’i (setelah thawāf Qudum) maka dia tidak perlu lagi mengerjakan sa’i setelah thawāf Ifadhah.

Setelah menyelesaikan sa’i maka kembali lagi ke Minā. Jangan sampai dia bermalam di Mekkah karena bermalam pada hari-hari tasyrik di Minā termasuk amalan-amalan wajib. Yang apabila ditinggalkan tanpa ada udzur maka bisa menyebabkan kita kena sanksi yaitu menyembelih kambing.

Setelah thawāf kita mengerjakan shalāt dua raka'at.

Ketahuilah bahwa setiap thawāf 7 putaran baik thawāf umrah, thawaf qudum, atau thawāf haji selalu ada shalāt dua raka'at setelahnya.

Di dalam riwayat disebutkan:

تصلى بعد كل سبعة أشواط

"Di setiap thawāf 7 putaran ada dua raka'at."

Kalau sudah mengerjakan thawaf Ifadhah maka disebut tahallul tsani (tahallul akbar).

Bedanya dengan tahallul awal apa?

Tahallul awal seluruh larangan-larangan ihrām boleh dia kerjakan kecuali berjima' adapun bila sudah tahallul tsani maka halal segala sesuatu baginya termasuk berjima'.

Permasalahan.

Kalau kita lihat tadi tanggal 10 Dzulhijjah ada berapa pekerjaan?

Jawabannya:

⇒ Ada 4 pekerjaan.

⑴ Melempar jamratul 'Aqabah.
⑵ Menyembelih Hadyu.
⑶ Tahallul.
⑷ Thawāf Ifadhah.

4 perkara ini boleh diputar putar atau dibolak balik.

Misalkan:

⑴ Orang dari Muzdalifah langsung menuju Mekkah (ini yang sering dikerjakan oleh sebagian jama'ah haji) untuk thawāf Ifadhah. Setelah thawāf Ifadhah mencukur rambut (bertahallul) lalu melempar jamratul 'Aqabah. Bolehkah kita melaksanakan seperti ini? Boleh.

⑵ Orang dari Muzdalifah pagi sampai Minā langsung mencukur rambutnya baru melempar jamratul 'Aqabah, ini juga boleh dilakukan.

⑶ Orang melaksanakan hadyu dulu lalu melempar jamratul 'Aqabah lalu bertahallul baru thawāf Ifadhah. Ini juga boleh.

Dalīlnya adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Ada seseorang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tanggal 10 Dzulhijjah, kemudian orang itu berkata:

لَمْ أَشْعُرْ فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَنْحَرَ فَقَالَ اذْبَحْ وَلَا حَرَجَ ثُمَّ جَاءَهُ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَشْعُرْ فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ فَقَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ

"Wahai Rasūlullāh, aku tidak sengaja aku mencukur dahulu rambutku sebelum aku menyembelih hadyu."

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Silahkan sembelih tidak mengapa."

Kemudian datang lagi seseorang dan berkata:

"Wahai Rasūlullāh, aku menyembelih hadyu dulu sebelum aku melempar jamratul 'Aqabah?"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Lempar, tidak mengapa."

(HR Muslim nomor 2301, versi Syarh Muslim nomor 1306)

Padahal Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melempar dahulu, baru hadyu lalu bertahallul setelah iti thawāf Ifadhah.

Ada lagi yang bertanya:

 حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ فَقَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ وَأَتَاهُ آخَرُ فَقَالَ إِنِّي ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ وَأَتَاهُ آخَرُ فَقَالَ إِنِّي أَفَضْتُ إِلَى الْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ

"Wahai Rasūlullāh, aku mencukur dulu rambutku sebelum aku melempar jamratul 'Aqabah?"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Lempar sekarang tidak mengapa bagimu."

Ada lagi yang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Wahai Rasūlullāh, aku menyembelih dulu sebelum melempar jamratul 'Aqabah?"

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Lempar sekarang tidak mengapa bagimu."

Ada lagi yang datang kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Wahai Rasūlullāh, aku thawāf Ifadhah dulu sebelum melempar jamratul 'Aqabah?"

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Lempar sekarang tidak mengapa bagimu."

(HR Muslim nomor 2305, versi Syarh Muslim nomor 1306)

رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ فَقَالَ لَا حَرَجَ

Ada lagi yang bertanya:

"Wahai Rasūlullāh, aku melempar jamratul 'Aqabah setelah masuk waktu sore (waktu malam)?"

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

"Tidak mengapa tidak ada dosa bagimu."

سَعَيْتُ قَبْلَ أَنْ أَطُوفَ أَوْ قَدَّمْتُ شَيْئًا أَوْ أَخَّرْتُ شَيْئًا فَكَانَ يَقُولُ لَا حَرَجَ

“Aku sa'i dulu sebelum thawāf?"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Tidak mengapa."

(Hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd nomor 1723).

⇒ Jadi amalan  tanggal 10 Dzulhijjah ini  boleh tidak berurutan atau di bolak balik, mana yang lebih mudah bagi kita maka kita kerjakan dahulu.

⇒Thawāf Ifadhah juga boleh diakhirkan, bisa di hari ke-11,hari ke-12 atau hari ke-13.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 27, In syā Allāh
________

◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
________


Proudly Powered by Abu Uwais.