Rabu, 18 Oktober 2017

Bagaimana Mengimani Nabi ﷺ Bagian 06

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  18 Oktober

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 24 Muharam 1439 H / 14 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, Lc MA
📗 Safari Dakwah | Bagaimana Mengimani Nabi ﷺ  (Bagian 06 dari 06)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-SB-BagaimanaMengimāniNabi-06
~~~~

BAGAIMANA MENGIMANI NABI ﷺ? (BAGIAN 6 DARI 6)


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ونستهديه، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ  من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليّاً مرشداً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الذي قد بلّغ الرسالة وأدى الأمانة , ونصح الأمة , وجاهد في الله حق جهاده حتى أتاه اليقين , صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم أجمعين

Ayyuhal Ikhwāh wa akhawāt.

Ada beberapa kaitan lain tentang mengimāni Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, seperti kita harus mencintai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melebihi siapapun, ini bagian dari mengimāni Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdasarkan surat At Taubah ayat 24.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allāh dan Rasūl-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allāh memberikan keputusan-Nya.” Dan Allāh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fāsiq.

Haq untuk dihormati dan diagungkan secara layak tidak berlebihan. Dan tidak juga dengan perlakuan tidak sopan, tidak kita hormati. Kita posisikan beliau sebagaimana posisi yang layak untuk beliau tempati.

Ketika disebut namanya kita bershalawat. Tidak memanggil beliau dengan menyebut namanya tapi menyebutkan gelarnya, "Yā Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Rasūlullāh bersabda jangan mengatakan Muhammad bersabda, ini termasuk bentuk ihtiram kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (menghormati Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Yang terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah kewajiban untuk tunduk kepada syari'at beliau walaupun, minimalnya, ketundukan secara bathin terlebih dahulu.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat An Nissā' ayat 65 mengatakan:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak berimān sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."

Hakim itu apa fungsinya?

Menjatuhkan vonis, menetapkan aturan, menghukumi. Jika ada hal-hal yang mereka perselisihkan mereka mengadu kepada hakim (penengah), divonis ini yang benar ini yang salah, ini haknya Fulān bukan haknya Fulān. Ini fungsi seorang hakim.

"Mereka tidak dianggap berimān sampai mereka mengangkatmu sebagai hakim dalam apa saja yang mereka perselisihkan."

Dan kemudian tidak cukup hanya diangkat sebagai hakim.

"Tidak boleh ada keberatan, tidak terima dalam hati mereka terhadap keputusanmu."

Hasil keputusannya, apapun, dia harus. Terima dengan lapang dada dan pasrah serta tunduk dengan sepenuhnya.

Jadi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diangkat sebagai hakim agung, maksudnya bukan sosoknya tetapi sunnahnya, syari'atnya. Karena jika sosoknya sudah meninggal maka sunnah Beliaulah yang menjadi sumber dari segala sumber hukum.

Kita harus punya aqidah seperti itu. Minimal aqidah kita harus begitu. Kalau prakteknya sesuai dengan kemampuan.

Yang tidak punya wewenang (kekuasaan) dia tidak akan dituntut. Yang bertanggung jawab, yang wajib, adalah yang mempunyai kekuasaan. Kaum muslimin wajib mempunyai aqidah seperti itu.

Bahwa sumber dari segala sumber hukum adalah Kitābullāh dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ketika ada kesempatan untuk merujuk kepada Kitābullāh maka tidak boleh ada pilihan lain.

Ditegaskan dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allāh dan Rasūl-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allāh dan Rasūl-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."

(QS Al Ahzāb: 36)

Ini harus jadi aqidah dulu, kalau mau menerapkan harus sesuai dengan wewenang yang dimiliki.

Orang pada keluarganya, bos kepada anak buahnya, sebatas yang memungkinkan karena izin ini relatif.

Mungkin ada sebagian orang diberi hak otonomi (umpamanya), silahkan anda terapkan syari'at Islām diwilayah anda, dia harus terapkan ketika itu.

Tetapi bila tidak diberi kekuasaan, tidak diberi wewenang maka itu adalah tanggung jawab yang berkuasa, bukan tanggung jawab yang tidak berkuasa.

Tetapi yang tidak berkuasa, sekali lagi supaya jelas, tidak boleh memilih. Seandainya dia diberi kesempatan untuk memilih hukum Allāh maka dia tidak boleh memilih yang lain.

Minimal aqidah dia harus mengatakan inilah yang terbaik, inilah yang paling adil, inilah yang paling bijak, inilah yang paling penuh kasih sayang. Aturan Allāh adalah aturan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Itu harus, kalau masalah keyakinan tidak ada toleransi di sini. Kalau punya keyakinan lain, ada yang lebih baik, maka batal syahadatnya.

Atau dia membolehkan, "Memang ini yang terbaik, aturan Allāh, aturan Rasūlullāh adalah yang paling baik, tetapi saya boleh pakai yang lain," batal juga syahadatnya. Karena tadi Allāh telah mengatakan:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ

Tidak boleh mukmin maupun mukminah mempunyai pilihan lain.

Kalau dia mengatakan, "Boleh," berarti. dia tidak percaya dengan ayat ini.

Jadi itu adalah cakupan dari mengimāni Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.


Wallāhu Ta'āla A'lam.

Wa shallallāhu 'ala nabiyyinā Muhammad wa 'ala ālihi wa shahbihi wa sallam.


والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________
◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA /SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
________



Proudly Powered by Abu Uwais.