Rabu, 18 Oktober 2017

Tafsir Surat Al Qāri'ah Bagian 02

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  18 Oktober

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 14 Muharam 1439 H / 04 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Qāri'ah (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0702
~~~~~

TAFSIR SURAT AL QĀRI'AH (BAGIAN 2)


الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Ikhwaj dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita lanjutkan pembahasan tafsir kita tentang kandungan dari surat Al Qāri'ah.

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

ما الْقَارِعَةُ

"Apa itu Al Qāri'ah?"

Ini adalah uslub dalam bahasa Arab untuk mengagungkan sesuatu. Bahwasanya hari tersebut bukan hari yang biasa.

Barang siapa yang mengerti bahasa Arab dia akan mengerti.

Allāh menyebutkan mubtada tanpa ada khabarnya.

Dan ini adalah salah satu uslub untuk menunjukkan dahsyatnya sesuatu. Seakan-akan Allāh mengatakan:

 الْقَارِعَةُ القريبة

"Hari kiamat dekat."

Atau seakan-akan Allāh mengatakan:

"Atatil qāri'ah (sungguh akan terjadi hari kiamat)."

Kemudian Allāh mengulangi:

 مَا الْقَارِعَةُ

"Dan apa itu Al Qāri'ah?"

Dan ini juga uslub dalam bahasa Arab. Allāh tidak akan mengatakan:
 ما هي

"Apakah dia?"

Tapi Allāh ulangi penyebutan الْقَارِعَةُ

Dan ini juga, kata para ulamā, uslub untuk menekankan dan menjelaskan sesuatu bahwasanya sesuatu tersebut dahsyat, sehingga diulangi penyebutannya.

Oleh karenanya dalam hadīts "niat", kata Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amalan itu tergantung kepada niatnya, dan bagi setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang telah ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allāh dan RasūlNya, maka hijrahnya adalah kepada Allāh dan RasūlNya, dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang hendak ia dapatkan atau karena seorang wanita yang akan ia nikahi, maka hijrahnya akan mendapatkan sesuai apa yang ia maksudkan." (HR Abu Daud nomor 1882, versi Baitul Afkar AdDauliah nomor 2201)

Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Barang siapa yang hijrahnya karena Allāh dan Rasūl-Nya,"

Jawabannya (balasannya) Rasulullah shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan lagi kalimat "Allāh dan Rasūl-Nya":

"Maka hijrahnya kepada Allāh dan Rasūl-Nya."

Rasūlullāh  Shallallāhu 'alayhi wa sallam, tidak menggunakan kata ganti, tidak menggunakan dhamir, tapi Rasūlullāh mengulangi:

 فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Dan ini menurut para ulamā uslub dalam menjelaskan bahwa sesuatu itu dahsyat, bahwasanya hijrah kepada Allāh dan RasūlNya merupakan. hijrah yang luar biasa.

Namun tatkala pada kalimat yang kedua Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam  mengatakan:

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا,  أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

"Adapun barang siapa yang berhijrah karena dunia atau dia berhijrah karena seorang wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya kepada niatnya."

⇒ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menggunakan kalimat ganti, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  tidak menggunakan:

 فَهِجْرَتُهُ إِلَى لدُنْيَا و امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا,
Tidak!

Dan ini uslub dalam metode untuk menunjukkan dahsyatnya sesuatu, hebatnya sesuatu.

Kemudian metode berikutnya, Allāh mengatakan:

 وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

Dan ini sering Allāh sebutkan dalam Al Qur'ān untuk menekankan dahsyatnya sesuatu.

Contohnya, Allāh pernah sebutan dalam surat yang lain.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ * ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

⇒ Dan ini semua, kata para ulamā, bahwasanya Al Qāri'ah adalah hari yang sangat dahsyat.

Setelah Allāh mengulang-ulang:

الْقَارِعَةُ مَا الْقَاروَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

"Hari yang menakutkan, apa itu hari yang menakutkan? Tahukah kamu apa itu hari yang sangat menakutkan?"

⇒ Setelah muncul 3 (tiga) pertanyaan ini maka Allāh jelaskan hari tersebut, kapan terjadinya.

Saya katakan surat ini surat Makkiyyah yang turun kepada nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk dibacakan kepada orang kāfir musyrikin yang mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, adanya hari kiamat.

Maka Allāh menjelaskan:

 يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوث

"Hari di mana manusia tatkala itu seperti anai-anai (laron-laron) yang bertebaran."

Kata: كَالْفَرَاشِ, dalam bahasa kita "laron". Di sini diterjemahkan anai-anai, mutafarriqa (bertebaran).

Dan ini Allāh sebutkan juga dalam ayat yang lain. Allāh sebutkan:

يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ

"Manusia akan keluar dari kuburan-kuburan mereka dan mereka seperti belalang-belalang yang bertebaran."

⇒ Jadi, orang-orang keluar dari kuburan dalam keadaan bingung menyaksikan dahsyatnya hari kiamat.

Mereka binggung sebagaimana kalau kita melihat belalang bertebaran, tidak tentu arahnya. Demikian juga laron-laron yang bertebaran.

Allāh menggambarkan hal tersebut demikian, kenapa?

Karena hari tersebut hari yang sangat dahsyat.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam Sebutkan dalam hadits:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً بهما

"Manusia akan dibangkitkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada hari kiamat kelak dalam keadaan tidak memakai alas kaki, dalam keadaan telanjang bulat, dalam keadaan belum disunat, dalam keadaan tidak membawa apapun." (HR Muslim nomor 5102 versi Syarh Muslim nomor 2859)

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membaca firman Allāh:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ

"Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla memulai penciptaan, Allāh akan memulainya lagi." (QS Al Anbiyā': 104)

⇒ Bukankah seorang manusia tatkala dilahirkan bayi tatkala dilahirkan dalam keadaan telanjang, dalam keadaan tidak memakai alas kaki, dalam keadaan belum disunat dan tidak ada sedikitpun dunia yang dia bawa?

Maka demikianlah manusia akan dibangkitkan.

Dibangkitkan dalam keadaan dewasa tetapi kondisinya sama: telanjang bulat, belum disunat, tidak pakai alas kaki dan tidak satu duniapun yang dia bawa.

Yang selama ini dia kumpulkan tidak ada yang dia bawa sedikitpun.

Maka manusia tatkala itu dibangkitkan dalam keadaan ketakutan sehingga mereka:

 كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنتَشِرٌ

"Seperti belalang-belalang yang bertebaran."

 كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

"Seperti laron-laron yang bertebaran."

Demikian, wabillāhi taufīq.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
________

◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
-------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.