Rabu, 15 November 2017

Hadits Pertama Bagian 03

by Rory Rachmad  |  in Hadits Arba'in at  15 November

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 14 Shafar 1439 H / 02 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Pertama (Bagian 03 dari 05)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0110
-----------------------------------

*HADĪTS PERTAMA (BAGIAN 3 DARI 5)*

 بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم  صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأعوانه


Sekarang kita lanjutkan kaedah penting berikutnya adalah:

• KAEDAH YANG KEDUA | Masalah amalan yang tercampur dengan riyā'.

- Kondisi Yang Pertama | Jika seorang melakukan ibadah sejak awal karena riyā' maka ibadah tersebut tidak akan diterima.

Contohnya:

Dia memberi sumbangan hewan kurban, misalnya 'Idul 'Adha, dengan niat supaya orang tahu dia yang menyumbang, sehingga orang tersebut menyaratkan:

"Tolong nanti kalau sebelum khutbah 'Idul 'Adha, diumumkan bahwasanya bapak haji Fulān telah menyumbangkan 2 ekor sapi, ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla?"

Ini niatnya memang untuk dipuji.

Niat (riyā') seperti ini kalau sejak awal dia pasang maka tidak ada pahalanya. Amalannya tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena sejak awal niatnya bukan karena Allāh.

Contoh lain:

Seorang memasuki masjid akan shalāt, kemudian dia melihat orang lain melaksanakan shalāt tahiyyatul masjid, sedang dirinya tidak melaksanakan shalāt tahiyyatul masjid. Dia merasa tidak enak karena yang lain melaksanakan shalāt tahiyatul masjid sedang dirinya tidak sehingga dia mengerjakan shalāt tahiyatul masjid. Niat orang ini sejak awal bukan karena Allāh tetapi karena tidak enak dengan orang lain.

Maka sejak awal pahala dia tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Makanya saya sering ingatkan, bahwasannya niat pertama ini sangat penting, karena ini berpengaruh pada selanjutnya.

- Kondisi Yang kedua | Riyā'nya datang ditengah amalan.

Seorang baca Al Qur'ān dengan ikhlās, tidak ada yang lihat. Tiba-tiba ada tamu datang melihat dia sedang baca Al Qur'ān.

Dari situ syaithān datang kemudian membisiki orang tersebut:

"Lihat! Kamu sedang dilihat temanmu membaca Al Qur'ān, baca yang bagus."

Maka diapun membaca Al Qur'ān dengan khusyu' sampai mengeluarkan air matanya. Dia mulai melembutkan hatinya,  (karena dia tahu ada orang yang melihat).

Ini riya' nya datang ditengah-tengah, bukan sejak awal.

Contoh lain:

Seorang mengerjakan shalāt dengan ikhlās kemudian dia bagus-baguskan shalātnya karena ada orang lain yang melihat.

Dan ini telah disebutkan oleh Nabi ﷺ tentang asy syirkul khafi atau syirik yang samar.

Rasūl ﷺ memberi contoh.

يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

_"Seseorang berdiri untuk shalāt, kemudian menghiasi (memperindah)  shalātnya, karena ada orang yang memperhatikan shalātnya."_

(Hadīts riwayat Ibnu Mājah nomor 4204,dari hadits Abū Sa’id al Khudri. Hadīts ini hasan, Shahīh at Targhib wat Tarhib, nomor 30)

Ini riya' yang muncul di tengah.

Atau seseorang sedang thawāf, ketika sedang di tengah-tengah putaran thawāf tiba-tiba datang syaithān membisiki dia agar pamer (update status), kemudian update statuslah orang tersebut:

"Sedang di multazam, mau titip do'a tidak?"

Atau lain sebagainya.

Riyā' ini munculnya di tengah-tengah ketika dia sedang thawāf. Padahal di awal dia thawāf, dia tidak ada riyā'. Tiba-tiba datang iblīs  membisikkan orang tersebut untuk melakukan riyā'.

Bagaimana hukum seperti ini?

Maka hukum seperti ini ada khilāf di antara para ulamā. Sebagian ulamā mengatakan:

Jika riyā' munculnya di tengah maka ada beberapa kondisi (kemungkinan):

⑴ Kemungkinan pertama, dia lawan.

Ketika ditengah-tengah melakukan amalan tiba-tiba datang riyā' dan orang tersebut tersadar maka dia segera istighfār, dia kembalikan niatnya.

Jika dia berhasil menolak riyā' tersebut, maka selamat pahalanya.

⑵ Kondisi yang kedua datang riyā' dan dia berusaha melawan namun tidak berhasil, tetap ingin dipuji.

Dia terus melawan sampai akhirnya dia menyelesai amalan dan masih ada riyā'.

Maka kata para ulamā orang seperti ini juga selamat, karena dia benci dengan riyā' tersebut dan dia sudah melakukan perlawanan.

Masalah keberhasilan itu dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang penting dia benci dan dia melawan.

⑶ Kondisi yang ketiga, datang riyā' ditengah-tengah amalan dan dia bersenang-senang lezat dengan datangnya riyā' tersebut.

Maka kata para ulamā disinilah ada khilāf.

√ Ada yang mengatakan pahala dia batal, karena dia riya'.

√ Ada yang mengatakan pahalanya tidak batal karena hukumnya kembali kepada asalnya.

Inilah, mengapa saya mengatakan pentingnya niat asal.

Sebagian ulamā mengatakan, kalau seorang asal niatnya ikhlās, datang riyā' ditengahnya tidak jadi masalah karena Allāh menilai asal niatnya.

Makanya Rasūlullāh ﷺ mengatakan:

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوُله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَو امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

_"Barangsiapa hijrahnya (niat awal asalnya) karena Allāh dan Rasūl-Nya maka hijrah dia karena Allāh dan Rasūl-Nya, dia dapat pahala._

_Barangsiapa yang hijrahnya (asalnya) ingin dunia atau karena seorang wanita maka hijrahnya tergantung apa yang dia niatkan."_

Makanya saya katakan tadi penting, seseorang memperbaiki niat awal, jangan sampai keliru niat awalnya.

Oleh karenanya ada seorang salaf, tatkala diajak untuk melayat jenazah, dia berhenti.

Dikatakan kepada dirinya sendiri, "Mengapa engkau tidak melayat jenazah?" Kemudian dia berhenti sebentar dan mengatakan, "Sampai saya hadirkan niat dalam hatiku," baru kemudian dia jalan.

Ini butuh waktu 1-2 detik saja, tetapi butuh diam sebentar untuk meluruskan niat.

Meskipun orang tidak melihat hati antum tapi Allāh melihat hati antum. Allāh tahu antum sedang pasang niat, Allāh tahu antum sedang berusaha untuk ikhlās, Allah tahu meskipun orang banyak tidak melihatnya.

Orang hanya bisa menilai zhahir dan penampilan seseorang, tetapi yang bisa melihat hati seseorang hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi kalau riyā' muncul ditengah dan dia biarkan saja:

1.Pendapat pertama mengatakan amalannya selamat karena ditinjau dari niat awalnya.

2.Pendapat yang kedua menyatakan tidak selamat karena amalannya tercampur dengan riyā'.

Dan ini pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh Ta'āla, bahwasannya jika muncul riyā' ditengah dan dia berlezat-lezat dengan riya' tersebut, maka tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian amalan bercampur riyā' juga ada dua model, yaitu:

⑴ Amalan yang terpisah-pisah, masing-masing punya tempat tersendiri.

⑵ Amalan yang bersambung dari awal sampai akhir.

Contoh amalan yang terpisah-pisah.

Misalnya sedekah:

Seorang bersedekah Rp100,000, ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Kemudian ketika dia pergi ke masjid dan ada pengumpulan dana untuk pembangunan masjid maka dia keluarkan Rp 2,000,000 (supaya dipuji manusia).

Maka sedekah yang Rp 2,000,000, tidak diterima karena riyā', dan sedekah yang Rp100,000, diterima.

Dan sedekah yang Rp100,000, ini tidak ada hubungannya dengan sedekah yang Rp 2,000,000,. Ini amalannya masing-masing punya tempat tersendiri.

Berbeda dengan amalan yang berkaitan.

Contohnya shalāt

Shalāt Zhuhur antara raka'at pertama sampai raka'at keempat punya hubungan. Oleh karenanya barangsiapa yang batal di raka'at ketiga dia harus ulang lagi dari awal. Karena raka'at pertama punya hubungan dengan raka'at terakhir.

Seperti orang shalat 'Isyā' demikian juga, raka'at pertama punya hubungan dengan raka'at terakhir, kalau ada seseorang batal di raka'at ketiga atau batal di raka'at keempat maka dia harus mengulang dari awal raka'at.

Demikian pula kata para ulamā, jika riyā' nya datang di raka'at keempat atau pas tasyahud, kemudian dia senang dengan riya' tersebut, sebagian ulamā mengatakan maka tidak diterima pahala shalātnya, karena raka'at pertama sampai raka'at keempat berkaitan.

Intinya untuk bentuk yang ketiga ini ada khilāf diantara para ulamā.

Demikian saja apa yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini, besok in Syā Allāh kit lanjutkan biidznillāhi Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.