Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Minggu, 03 Desember 2017

Tafsir Surat Al Ādiyāt Bagian 1

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  03 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Rabi’ul Awwal 1439 H / 28 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Ādiyāt (Bagian 01)
📖 Tafsir Surat Al Ādiyāt (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0801
~~~~~~~~~~~~~~~

*TAFSIR SURAT AL 'ĀDIYĀT (BAGIAN 1)*


بســـمے اللّه الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Ikhwan dan akhwat yang dirahamati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pengajian dari tafsir Juz'amma. Kita akan menyebutkan tafsir dari surat Al 'Ādiyāt atau surat: وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا.

Surat ini dikenal dengan surat Al 'Ādiyāt atau surat: وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا dan saya tidak mengetahui para ulamā menyebutkan nama-nama yang lain dari surat ini, jadi dikenal dengan 2 nama yaitu:

⑴ Surat Al 'Ādiyāt (tanpa huruf و).
⑵ Wal'ādiyāti dhobhā

Dan surat ini diperselisihkan oleh para ulamā apakah surat ini Makkiyyah atau Madaniyyah.

Sebagian ulamā berpendapat bahwasanya surat Wal'ādiyāt adalah surat Makkiyyah yang diturunkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebelum Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  berhijrah ke kota Madīnah.

Dan sebagian ulamā lagi berpendapat bahwasanya surat Al 'Ādiyāt adalah Madaniyyah, diturunkan kepada Nabi setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berhijrah ke kota Madīnah.

Yang mengatakan bahwasanya surat ini adalah Makkiyyah tentunya ditinjau dari topik yang diangkat oleh Allāh dalam surat ini,  mengingatkan tentang ahwal hari kiamat (dahsyatnya hari kiamat). Bahwasanya Allāh akan membuka seluruh rahasia yang tersimpan oleh manusia dalam dada-dadanya akan dibongkar oleh Allāh pada hari kiamat.

Dan biasanya surat-surat yang topiknya tentang hari kiamat adalah surat-surat Makkiyyah.

Adapun para ulamā yang menyatakan bahwasanya ini ada surat Madaniyyah mereka berdalīl bahwasanya Allāh berbicara tentang peperangan, karena diawal surat Allāh berbicara tentang kuda yang berlari kencang:

 وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا* فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا

Ini adalah sumpah-sumpah yang berkaitan dengan kuda yang berlari kencang masuk dalam area peperangan.

Dan peperangan terjadi tatkala Nabi  shallallāhu 'alayhi wa sallam  sudah berpindah ke kota Madīnah dan perang pertama kali yang terjadi adalah perang Badar.

Adapun tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berada di Mekkah maka tidak ada peperangan, karena kaum muslimin dalam keadaan lemah sehingga tidak disyariatkan peperangan. Tidak disyariatkan Jihād tatkala kaum muslimin dalam keadaan lemah.

Buktinya, tatkala Bilal disiksa oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf, disiksa, dicambuk, kemudian dijemur di bawah terik matahari, diberi tumpukan batu di atas dadanya, bahkan ditarik oleh anak-anak di kota Mekkah, dijadikan mainan oleh mereka, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  hanya mengatakan, "Sabar, wahai Bilal."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  tidak bisa berbuat apa-apa, kenapa?

Karena kaum muslimin dalam keadaan lemah dan jumlah mereka sangat sedikit tatkala itu. Yang secara logika kalau terjadi peperangan maka kaum muslimin akan kalah.

Kemudian juga keluarga Ammar bin Yāssir. Ayahnya dibunuh. Ibunya, Summayah, dibunuh, Rasūlullāh dhallallāhu 'alayhi wa sallam  hanya berkata, "Bersabarlah wahai keluarga Yāssir, sesungguhnya Allāh menjanjikan surga bagi kalian."

Oleh karenanya tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan para shahābat di Mekkah mereka tidak disyariatkan untuk berperang bahkan disyariatkan untuk meninggalkan kota Mekkah, karena kondisi tidak memungkinkan. Mereka berhijrah ke negeri Habasyah dua kali, kemudian terakhir berhijrah ke kota Madīnah.

Karena Islām bukan agama hayalan, disuruh berperang tanpa ada modal dan kekuatan, kemudian nekad maju berperang. Ini tidak benar.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang masalah jihād kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

 تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

"Dengan kekuatan tersebut, dengan kuda-kuda dan anak panah tersebut kalian menggentarkan musuh-musuh kalian." (QS Al Anfāl: 60)

Jadi kata para ulamā, kapan disyariatkan jihād?

⇒ Yaitu jika kaum muslimin memiliki kekuatan yang menggentarkan musuh.

Kalau kekuatannya tidak menggentarkan musuh, malah membuat musuh menertawakan kita, maka tidak disyariatkan jihād. Karena "Lā Yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā" (Allāh tidak membebani sesuatu dengan yang tidak dimampui oleh seorang hamba).

Saya ulangi bahwasanya, sebagian ulamā berpendapat bahwa surat Al 'Ādiyāt adalah surat Madaniyyah karena di awal surat Allāh bersumpah dengan kuda-kuda perang, dan tidak disyariatkan peperangan kecuali Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  sudah berhijrah ke kota Madīnah. Kemudian terjadilah perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq dan seterusnya.

Adapun kaitannya dengan surat Al Zalzalah, sering saya sampaikan bahwasanya Al Imām Suyuti rahimahullāh menyebutkan bahwa asalnya suatu surat datang adalah untuk menjelaskan surat sebelumnya. Oleh karenanya para ulamā berusaha mengkait-kaitkan satu surat dengan surat sebelumnya.

Demikian juga sudah kita jelaskan setiap pengajian kita, bahwa surat ini berkaitan dengan surat sebelumnya dari sisi ini. Terus kita sampaikan demikian, sebagaimana dijelaskan oleh para ulamā.

Di antaranya, kata mereka, di surat Al Zalzalah Allāh menyebutkan tentang:

 فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه* وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa yang melakukan kebaikan sedikitpun, akan dia lihat balasannya dan barang siapa yang melakukan keburukan sedikitpun maka dia juga akan melihat balasannya." (QS Al Zalzalah: 7-8)

⇒ Dan dalam surat Al 'Ādiyāt, Allāh menjelaskan tentang orang yang melakukan keburukan.

Di surat Al Zalzalah Allāh memberikan kaedah umum, "Barang siapa melakukan kebaikan ada balasannya dan barang siapa yang melakukan keburukan pasti ada balasannya."

Pada surat Al 'Ādiyāt Allāh menjelaskan tentang:

√ Bagaimana orang yang melakukan keburukan.
√ Orang pelit (bakhil).

· Surat Al 'Ādiyāt topiknya menjelaskan tentang:

⑴ Orang yang sangat cinta kepada harta sehingga dia tidak bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⑵ Kenikmatan yang Allāh berikan kepada dia tidak dia gunakan untuk bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetapi dia menjadi orang yang sangat pelit, tidak mau berinfaq.

⑶ Selalu mengeluh tidak ingat akan anugerah yang Allāh berikan kepada dia sehingga dia tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk bersyukur kepada Allāh tetapi untuk kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka Allāh mengingatkan dia, akan membongkar isi hatinya, membongkar semua amalannya tatkala di hari kiamat.

Wallāhu A'lam bishawab, sampai di sini saja semoga bermanfaat, In syā Allāh  besok kita lanjutkan.

Wabillāhi taufīq

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته


Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.