Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Rabu, 21 Februari 2018

Tafsir Surat Al-Qadr Bagian 1

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  21 Februari

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Jumadal Akhir 1439 H / 19 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al-Qadr
📖 Tafsir Surat Al-Qadr (Bagian 1 dari 5)

⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H1101
~~~~~~~~~~~~~~~

*TAFSİR SURAT AL QADR (BAGIAN 1 DARI 5)*


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، وشكر الله على توفقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله واهده لا شرك له تعظيم بشأنه, وأشهد أن محمد عبده ورسوله دائلا رضوانه, اللهم صلى عليه وعلى آله وصحبه وإخوانه


Sekarang kita membahas tafsir dari surat Al Qadr.

Para ulamā berselisih tentang surat Al Qadr ini, apakah dia surat Makkiyyah atau  Madaniyyah.

Jumhūr ulamā mengatakan bahwasanya surat Al Qadr adalah surat Madaniyyah. Kita sudah jelaskan berulang-ulang bahwasanya perbedaan antara surat Makkiyyah dan Madaniyyah bukan ditinjau dari tempat turunnya tetapi ditinjau dari waktu.

Surat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam  sebelum Nabi berhijrah maka dinamakan surat Makkiyyah atau ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah namanya ayat Makkiyyah. Dan ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam setelah Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam  berhijrah ke kota Madīnah namanya ayat Madaniyyah.

Surat Al Qadr jumhūr ulamā (mayoritas ulamā) menyatakan bahwasanya surat Al Qadr adalah surat Madaniyyah, kenapa bisa demikian ?

Karena dalam surat Al Qadr Allāh Subhānahu wa Ta'āla berbicara tentang malam yang termulia, yaitu malam lailatul Qadar. Malam lailatul  Qadar berkaitan dengan shiyām Ramadhān (puasa di bulan Ramadhān) dan puasa di bulan Ramadhān tidaklah disyari'atkan kecuali setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di Madīnah.

Puasa di bulan Ramadhān tidak disyari'atkan kecuali setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berhijrah kekota Madīnah.

⇒ Oleh karenanya mayoritas para ulamā menyatakan bahwasanya surat Al Qadr adalah surat Madaniyyah bukan surat Makkiyyah.

Apa hubungan antara surat Al Qadr dengan surat sebelumnya?

Al Imām As Suyuti rahimahullāh menjelaskan, bahwasanya asalnya setiap surat memiliki hubungan dengan surat sebelumnya dan surat sesudahnya. Berdasarkan istiqra' maka kebanyakan surat akan ada hubungannya dengan surat sebelumnya. Terkadang diketahui hubungannya terkadang tidak diketahui hubungannya. Namun pada dasarnya ada hubungan antara surat dengan surat sebelumnya.

Di sini kita tahu, yang sekarang kita bahas adalah surat Al Qadr ( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) kemudian surat sebelumnya adalah surat Al 'Alaq ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ).

Hubungannya apa?

Hubungannya sangat erat.

⑴ Surat Al 'Alaq

Di surat Al 'Alaq Allāh menjelaskan tentang 5 (lima) ayat pertama kali turun kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ *  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ *  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ *  عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Ayat-ayat tersebut turun tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berada di gua Hira'.

⑵  Surat Al Qadr

Surat Al Qadr menjelaskan ayat-ayat tersebut turun kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala dimalam lailatul Qadr.

Jadi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  tatkala di gua Hira' kemudian turun 5 (lima) ayat dari surat Al 'Alaq dan pada saat itu adalah malam lailatul Qadr.

Oleh karenanya seakan-akan Allāh ingin menjelaskan bahwasanya Al Qurān adalah sesuatu yang sangat mulia.

√ Allāh turunkan di tanah suci (di kota Mekkah) dan demi kota yang suci ini (aman) yaitu kota Mekkah.

√ Allāh turunkan awal surat dari Al Qurān di malam termulia:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan." (QS Al Qadr: 1)

√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga turunkan kepada Nabi yang termulia yaitu (Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam).

√ Dan yang menurunkan (mengantarkan) Al Qurān tersebut kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah mālaikat yang termulia yaitu Jibrīl 'alayhissalām.

Bahkan nanti ayat terakhir dari Al Qurān dalam surat Al Māidah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Māidah: 3)

√ Diturunkan pada hari yang termulia, yaitu hari Arafah.

Oleh karenanya Al Qurān semuanya mulia

Seakan-akan Allāh ingin menjelaskan surat Al 'Alaq ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق) yang Allāh turunkan 5 ayat pertama diturunkan pada malam yang termulia yaitu malam lailatul qadar.

Pada kesempatan kali ini, kita sama-sama belajar untuk mencoba menjelaskan penjelasan para ulamā tentang tafsiran dari surat Al Qadr.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman di awal surat :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya kami telah menurunkannya di malam lailatul qadar."

⇒ "Nya" di sini sebelumnya tidak disebutkan "nya" ini apa.
⇒ Dhamir "nya" (hu) ini kembali kemana tidak disebutkan.

Namun kata para ulamā bahwasanya setiap dhamir هُ (hu) kalau disebutkan dalam Al Qurān maka asalnya kembali kepada Al Qurān meskipun sebelumnya Al Qurān tidak disebutkan, kecuali ada dalīl yang menunjukan bahwasanya "hu" tersebut kembali kepada yang lain.

Jadi kalau tiba-tiba muncul dhamir "hu" seperti ini:

إِنَّآ أَنزَلْنٰهُ

"Kami turunkan dia."

"Dia" ini apa?

Orang semua tahu maksudnya adalah Al Qurānul Karīm.

فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"(Kami turunkan Al Qurān) di malam lailatul qadr."

Perhatikan di sini!

Allāh menggunakan kalimat "Innā" (انَّا), "Kami", Allāh tidak mengatakan "Aku", tetapi Allāh mengatakan "Kami".

Sebagian orang-orang Nashrāni, mereka berdalīl dengan ayat-ayat yang seperti ini, menyatakan:

"Allāh itu ganda, Allāh itu majemuk bukan satu. Buktinya Allāh mengatakan "Innā" (Kami). Sama dengan keyakinan kami orang-orang Nashrāni bahwasanya Allāh trinitas, satu dari yang tiga, tiga sama dengan satu, satu sama dengan tiga. Allāh sama dengan 'Īsā, ruhul qudus sama dengan 'Īsā."

Kata mereka,  "Ini tiga serangkai dan ini dikuatkan dalam Al Qurān karena Allāh mengatakan 'kami turunkan'."

Dan ini merupakan pendalīlan yang konyol dari orang-orang Nashrāni.

Kenapa?

Karena Al Qurān diturunkan dalam bahasa Arab dan ini salah satu ushlub (metode) bahasa Arab untuk menunjukan pengagungan bahkan dalam bahasa Indonesiapun demikian.

Kalau kita berbicara dengan orang mengatakan, "Kamilah yang membangun rumah ini, kamilah yang telah berjasa." Maksud "Kamilah" adalah "Saya".

Kita menggunakan kalimat "kami" dan ini merupakan ushlub dalam bahasa Arab.

Seandainya "kami" itu menunjukan jumlah yang banyak, maka Abū Jahal, Abū Lahab sudah akan protes kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan mengatakan:

"Wahai Muhammad, kamu bilang Tuhanmu maha Esa, kenapa di Al Qurān disebutkan: Innā (kami)."

Karena mereka lebih paham bahasa Arab daripada orang-orang Nashrāni.

Seandainya Innā di situ artinya "kami" berarti banyak (bukan satu) maka sudah diprotes oleh Abū Jahal, Abu Lahab dan yang lainnya. Akan tetapi mereka sama sekali tidak pernah protes. Ini menunjukan mereka paham dan ini merupakan salah satu ushlub (metode) bahasa Arab untuk menunjukan pengagungan. Ini merupakan salah satu jawaban.

Jawaban kedua, Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan "Innā" (Kami) maksudnya adalah malāikat yang menurunkan. Karena yang menurunkan Al Qurān kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah malāikat Jibrīl 'alayhissalām.

Oleh karenanya dalam Al Qurān dalam ayat yang lain Allāh mengatakan:

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

"(Wahai Muhammad,) kalau kami bacakan, ikutilah bacaanmu."  (QS Al Qiyāmah: 18)

Kata Allāh, "Kalau "Kami" bacakan, yang membacakan adalah malāikat Jibrīl 'alayhissalām, bukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang mendiktekan kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah malāikat Jibrīl 'alayhissalām."

Kita tahu bahwasanya malāikat adalah tentara-tentaranya Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Allāh bisa mengatas namakan tentaranya dengan "Kami".

Seperti seorang amir (gubernur/raja) yang apabila memerintahkan anak buahnya untuk membangun istana. Tatkala ditanya siapa yang membangun istana itu? Maka raja tersebut akan mengatakan,  "Kami yang membangunnya," maksudnya anak buahnya yang membangun atas perintah sang raja. Ini adalah jawaban yang kedua.

Intinya perkataan Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Kami turunkan Al Qurān di malam lailatul qadr."

Tidak melazimkan bahwasanya Allāh itu ganda, tiga atau empat sebagaimana dipersangkakan oleh sebagian orang-orang Nashrāni yang tidak mengerti tentang bahasa Arab.

Sementara orang-orang Arab tidak ada yang protes, hanya mereka saja yang mencoba mencari-cari kesalahan dari Al Qurān dan mereka tidak akan mendapatkannya.

Demikian.

وبالله التوفيق
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
——————————
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.