https://pontrenisbatam.wordpress.com/

Rabu, 07 Maret 2018

Tafsir Surat Al-‘Alaq

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  Rabu, Maret 07, 2018

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 07 Jumadal Akhir 1439 H / 24 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al-‘Alaq
📖 Tafsir Surat Al-‘Alaq (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H1201
~~~~~~~~~~~~~~~

*TAFSIR SURAT AL 'ALAQ (BAGIAN 1)*


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، وشكر الله على توفقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله واهده لا شرك له تعظيم بشأنه, وأشهد أن محمد عبده ورسوله دائلا رضوانه, اللهم صلى عليه وعلى آله وصحبه وإخوانه


Kita melanjutkan kajian kita tafsir dari Juz 'Amma, tafsir surat Al 'Alaq.

Dalam surat Al 'Alaq ini, pokok pembahasannya adalah tentang karunia Allah kepada manusia, tentang ilmu yang Allah berikan kepada manusia.

Dan kita tahu bahwasanya seorang manusia dengan tubuhnya yang indah, jika tidak disertai ilmu yang benar maka dia tidak bernilai. Akan menjadi bernilai indah juga, berharga, jika dia diberi karunia ilmu oleh Allah Subhānahu wa Ta'ālā.

Dan itu yang akan dibahas oleh Allāh di dalam surat Al 'Alaq.

Kita tahu Surat Al 'Alaq disepakati oleh para ulama merupakan surat *Makiyyah* karena surat ini diturunkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di gua Hira, sebagaimana cerita yang sudah masyhur di kalangan kaum muslimin.

Hanya saja para ulama khilaf tentang apakah Surat Al 'Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan oleh Allah Subhānahu wa Ta'ālā. Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwasanya surat yang pertama kali turun adalah Surat Al 'Alaq. Sebagian ulama mengatakan Surat Al Fatihah, sebagian ulama yang lain mengatakan Surat Al Muddatstsir atau Surat Al Muzzammil.

Akan tetapi khilaf ini adalah tentang surat yang turun secara sempurna (lengkap).

Sedangkan 5 ayat pertama dari Surat Al 'Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Maka ulama sepakat bahwa itulah 5 ayat pertama yang turun pertama kali kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Akan tetapi jika ditinjau dari surat secara sempurna (lengkap), jika kita lihat sejarah-sejarah, maka bukan Surat Al 'Alaq yang turun pertama kali kepada Nabi secara sempurna.

Karenanya kita katakan tadi; sebagian ulama berpendapat bahwasanya surat yang pertama kali turun secara sempurna (adalah) Surat Al Fatihah.

Tidak jadi masalah mana yang lebih dahulu turun, akan tetapi para ulama sepakat dalam 2 hal:

1. Surat Al 'Alaq adalah surat Makiyyah, diturunkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala Nabi masih di Mekkah.

2. Lima ayat pertama dari Surat Al 'Alaq adalah ayat-ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana kisah turunnya Surat Al 'Alaq ini?

Kita akan bacakan hadits yang diriwayatkan oleh 'Āisyah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhā, sebagaimana termaktub dalam awal-awal Shahih Bukhari.

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ

Dari Urwah bin Zubair, dari 'Āisyah ummul mukminin radhiyallahu 'anha, "Yang pertama kali dimulai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari wahyu yaitu berupa mimpi yang benar, yang dilihat oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala Nabi tidur."

Jadi, sebelum turun malaikat Jibrīl, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah diberi muqaddimah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berupa mimpi yang benar, yang dilihat oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala Beliau tidur.

فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

_Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah tatkala bermimpi kecuali melihat mimpi tersebut sangat jelas sebagaimana matahari yang menyingsing di waktu pagi hari._

Jadi mimpinya jelas, tidak samar-samar.

Ada orang yang mimpinya samar-samar (tidak jelas), tapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mimpinya jelas.

ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

Setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mulai bermimpi (yang menunjukkan itu wahyu dari Allah Subhānahu wa Ta'ālā, sebagai muqaddimah sebelum turunnya malaikat Jibrīl), maka Nabi dibuat oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā suka untuk berkhalwat (menjauh dari keramaian manusia).

ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mulai senang pergi ke Gua Hira bertahannats. Beliau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā (dengan ibadah yang Allāh berikan ilham kepada Beliau).

Al hants dalam bahasa Arab artinya dosa.

Tahannats artinya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjauhkan dirinya dari dosa, kenapa? Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melihat banyaknya kaum musyrikin yang tenggelam dalam dosa-dosa, praktek-praktek kesyirikan, perzinahan, riba, kezhaliman, thawaf dalam keadaan telanjang. Ini dilakukan oleh musyrikin Arab tatkala itu.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak suka dengan itu semua maka Beliaupun pergi ke Gua Hira bertahannats, yang artinya menjauhkan dirinya dari dosa-dosa.

Dan barangsiapa yang melihat posisi Gua Hira maka dia akan melihat mulut dari Gua Hira tersebut langsung menuju kepada Ka'bah, sehingga Nabi sambil memperhatikan kota Mekkah Beliau bertahannats dalam gua tersebut. Beliau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dengan ibadah yang Allāh berikan ilham kepada Beliau.

اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

Beberapa malam tertentu waktunya.

وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا

Beliau mengambil bekal untuk berkhalwat (bersendirian) di gua tersebut. Jika bekalnya sudah habis maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pulang kembali ke rumah istrinya, maka Khadījah memberikan bekal lagi untuk Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pergi berkhalwat di Gua Hira.

Beliau shalallahu alayhi wasallam merenungkan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, memikirkan bagaimana kerusakan yang terjadi di kaumnya sambil membawa bekal.

حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ

Sampai tiba-tiba Beliau dikagetkan dengan datangnya kebenaran (malaikat Jibrīl) tatkala Beliau sedang di Gua Hira.

Demikian.

وبالله التوفيق

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

——————————
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
———————————

0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.