PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 21 Juni 2019

Halaqah 039 | Hadits 36

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  21 Juni

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 15 Syawwal 1440 H / 19 Juni 2019 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 039 | Hadits 36
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H039
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 36


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-39 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai pada pembahasan hadīts yang ke-36, yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: "مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقْد آذَنْتهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْت سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ". وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ".

Sesungguhnya Allāh berfirman:

"Barangsiapa memusuhi seorang wali-Ku maka sungguh aku telah menyatakan perang dengannya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu apapun daripada sesuatu yang lebih Aku cintai dari perkara-perkara yang telah aku wajibkan kepadanya dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nāfilah hingga Aku mencintainya.

Apabila Aku telah mencintainya maka Aku akan menjadi pendengerannya yang dengannya dia mendengar dan pandangannya yang dia pandang dan tangannya yang dengannya dia melakukan sesuatu dan kakinya yang dengannya dia berjalan.

Seandainya dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan seandainya dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku merasa ragu dari sesuatu hal yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku dari mencabut nyawa seorang mukmin, dia tidak senang terhadap kematian dan Akupun tidak senang untuk menyusahkanya, akan tetapi kematian itu adalah sesuatu ketetapan yang telah tetap baginya.” (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri)

Di dalam hadīts yang mulia ini, terdapat faedah yang besar dimana di dalam hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang keutamaan wali-wali-Nya serta sifat wali-wali-Nya tersebut.

Allāh mengabarkan bahwasanya barangsiapa memusuhi wali-wali Allāh maka berarti Allāh menyatakan permusuhan juga dengan meraka. Dan tentunya barangsiapa telah dinyatakan bermusuhan dengan Rabbul Ālamīn maka dia akan menjadi orang yang terlantar dan rugi. Dan Rabbnya (penciptanya) telah menyatakan permusuhan dan berperang dengannya.

Maka tidak ada lagi yang bisa melindunginya dan menaunginya. Dia termasuk orang yang merugi, suatu ancaman yang besar.

Sebaliknya barangsiapa yang Allāh telah menjamin untuk membelanya, niscaya  dia termasuk orang yang menang dan akan selalu ditolong. Yang demikian itu dikarenakan para wali-wali Allāh, mereka mencintai Allāh dengan sempurna. Dan mereka mencintai sesuatu karena Allāh.

Sehingga Allāh mencintai mereka dan Allāh menjaga serta mencukupi mereka.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan tentang sifat wali-wali-Nya tadi setelah mengabarkan pembelaannya tentang wali-wali Allāh.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mensifatkan siapa wali-wali tersebut, agar seorang tahu siapa dari kalangan para hamba-Nya yang menjadi wali-Nya sehingga tidak dimusuhi, karena itu akan berdampak permusuhan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla terhadap orang yang memusuhi wali tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan sifat wali itu adalah:

✔Orang-orang yang bertaqarrub kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan melaksanakan hal-hal yang telah Allāh wajibkan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

_"Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya.”_

Yang pertama kali yang paling Allāh cintai dari amalan taqarrub yang dia lakukan adalah jikalau dia mengerjakan perkara-perkara yang wajib.

Yang Allāh telah wajibkan ia tunaikan semua. Baik shalāt, puasa, zakāt, haji, amal ma'ruf nahi munkar dan hak-hak lainnya yang berkenaan dengan hak-hak manusia dia tunaikan yang merupakan kewajiban yang telah ditetapkan kepadanya.

✔Kemudian tidak cukup sampai disitu, dia terus melakukan taqarrub kepada Allāh dengan menambah hal-hal yang wajib itu dengan hal-hal yang nāfilah (hal-hal yang bersifat dianjurkan/disunnahkan) meskipun tidak sampai wajib untuk menambah dan menyempurnakan amalan-amalan ibadah yang wajib, maka dia senantiasa menambahnya.

Seperti dalam ibadah shalāt dia menambah ibadah shalāt-shalāt sunnah, pada puasa dia menambah dengan puasa-puasa sunnah demikian seterusnya.

Maka hakikat wali Allāh adalah mereka yang menjalankan perintah Allāh (kewajiban-kewajiban dari Allāh) dan menambahnya dengan hal-hal yang sunnah yang dengan itu maka Allāh akan mencintai mereka dan Allāh menjadi wali mereka. Dan Allāh menanggung dan menjaga mereka serta memudahkan segala urusan mereka, serta Allāh memberikan taufīq dan petunjuk kepada anggota-anggota tubuh dan perilaku mereka.

Allāh menunjukkannya kepada perkara-perkara yang mendatangkan kebaikan dan Allāh mengarahkan dan menuntunnya kepada perkara-perkara kebaikan.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

_"Jikalau aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya aku mendengar, penglihatan yang dengannya dia melihat, dan tangannya yang dengannya dia melakukan sesuatu dan kakinya dengannya dia melangkah.”_

Ini menunjukkan bahwasanya Allāh mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada anggota-anggota tubuhnya untuk menjalankan sesuatu yang baik.

Allāh menuntunnya kepada perkara-perkara yang baik, Allāh senantiasa bersama anggota tubuhnya ketika ia akan melakukan suatu perbuatan sehingga perbuatannya bukanlah perbuatan yang dimurkai dan mendatangkan kebencian Allāh.

Ini merupakan suatu bentuk keutamaan yang didapatkan oleh wali-wali Allāh dikarenakan mereka mengedepankan kecintaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Selain itu Allāh juga sebutkan:

وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ

Jikalau dia meminta maka niscaya Allāh akan memberikannya.

Jikalau dia meminta pertolongan niscaya Allāh akan melindunginya.

Inilah sifat dan keutamaan yang didapatkan oleh seorang wali Allāh yang disebutkan di dalam hadīts qudsi ini.

Ini sejalan dengan apa yang Allāh firmankan tentang sifat wali-wali Allāh, dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman di dalam surat Yūnus 62 dan 63.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ۞ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

"Ingatlah wali-wali Allāh itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa.”

Maka barangsiapa dia beriman dan bertaqwa, maka dia adalah wali Allāh.

Dan dari hadīts ini pula kita bisa mengambil suatu faedah bahwasanya al faraidh atau amalan-amalan yang wajib, ini harus didahulukan daripada amalan-amalan yang sifatnya nāfilah.

Karena amalan yang wajib lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka dia memprioritaskan terlebih dahulu untuk menunaikan yang wajib dibandingkan dia memperbanyak amalan yang sunnah.

Karena meninggalkan amalan yang wajib akan menjadikannya berdosa.

Demikian hadīts qudsi yang begitu mulia ini yang menjadi pokok di antara hadīts-hadīts pokok yang lain yang menyebutkan sifat-sifat para wali Allāh serta keutamaan yang didapatkan oleh para wali tersebut.

Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kita kali ini, in syā Allāh  akan kita lanjutkan kembali pada halaqah yang akan datang.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________


Proudly Powered by Abu Uwais.