Minggu, 09 Juni 2019

Halaqah 27 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  09 Juni

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 19 Rajab 1440 H / 26 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 27 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-27
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYISIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta'āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-27) kita akan masuk pada hadīts nomor 33.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ هُوَ الرَّقَاشِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ دَهْنَ رَأْسِهِ وَتَسْرِيحَ لِحْيَتِهِ، وَيُكْثِرُ الْقِنَاعَ حَتَّى كَأَنَّ ثَوْبَهُ، ثَوْبُ زَيَّاتٍ.

Shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata:

"Adalah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sering meminyaki rambut Beliau. Begitu juga Beliau banyak menyisir jenggotnya dan Beliau juga sering memakai kain pelindung saat meminyaki rambut. Karena seringnya Beliau meminyaki rambut, baju Beliau seperti baju pen jual minyak."

Hadīts ini merupakan hadīts yang dhaif begitu juga kata Syaikh Albāniy rahimahullāh dan Syaikh Abdur Razzaq Al Badr, karena dalam hadīts tersebut ada berita yang mungkar tidak mungkin ada pada diri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Di dalam hadīts disebutkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam karena seringnya memakai minyak rambut sampai baju Beliau seperti baju yang dipakai oleh oleh penjual minyak.

Tentu ini merupakan hal yang tidak layak bagi Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Bagaimana tidak,  ada shahābat yang datang kepada Beliau dalam keadaan bajunya kotor, kemudian Beliau menegur shahābat tersebut dengan cukup tegas sebagaimana dalam hadīts Abū Dāwūd nomor 4062 yang di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

 أ ما كانَ يجدُ هذا ما يغسِلُ بهِ ثوبَهُ؟

"Apakah orang ini tidak menemukan benda yang bisa mencuci bajunya?"

Sehingga bisa disimpulkan ini merupakan hadīts yang dhaif sebagaimana kata para ulamā.

Kemudian hadīts ke-34, Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنِ الأَشْعَثِ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ، وَفِي تَرَجُّلِهِ إِذَا تَرَجَّلَ، وَفِي انْتِعَالِهِ إِذَا انْتَعَلَ

Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā berkata:

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci dan saat menyisir atau merawat rambut, begitu juga saat beliau memakai sandal."

Sahabat BiAS rahīmakumullāh,

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh yang diriwayatkan juga oleh Imām Bukhāri dalam hadīts nomor 168, dengan tambahan lafazh:

وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

"Dan Beliau senang mendahulukan yang kanan dalam setiap urusan Beliau."

Imām Muslim pun meriwayatkan dengan tambahan lafazh yang sama dengan nomor hadīts 268, sehingga hadīts ini merupakan hadīts yang bisa dijadikan dalīl.

Pelajar dari hadīts ini adalah :

⑴ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam suka mendahulukan yang kanan saat bersuci baik itu wudhū', mandi ataupun tayammum.

Ketika Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) membasuh, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Misalkan Beliau berwudhū', maka Beliau membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri, kaki kanan sebelum kaki kiri.

Begitu juga ketika Beliau menyisir rambut, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Begitu juga ketika Beliau memakai sandal, Beliau memasukan kaki kanan terlebih dahulu sebelum kaki kiri.

Alasan kenapa hadīts ini dimasukan dalam bab menyisir rambut adalah:

√ Karena dalam hadīts tersebut bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan saat Beliau menyisir rambut.

Dan sunnah ini masuk dalam berbagai hal yang baik termasuk memberi, menerima, makan, memakai baju,  memakai celana, dan lain sebagainya.

Adapun untuk hal-hal yang kotor Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menggunakan yang kiri.

Misalnya: Saat beristinjā, istijmār dan yang lainnya.

Imām An Nawawi rahimahullāh berkata:

قاعدة الشرع المستمرة استحباب البداءة باليمين، في كل ما كان من باب التكريم والتزين وما كان بضدها استحب فيه التياسر

"Kaidah syar'iat yang telah baku, sunnahnya memulai dari kanan dalam setiap hal yang di situ ada kemuliaan dan berhias. Adapun lawannya disunnahkan menggunakan yang kiri terlebih dahulu.”

Inilah agama Islām, ada banyak adab indah yang terkadang tidak ditemukan di dalam agama lain, bahkan dalam hadīts ini untuk menggunakan atau mendahulukan anggota badan yang kananpun ada hadīts nya. Itulah agama Islām.

Pertemuan kali ini cukup sampai disini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Proudly Powered by Abu Uwais.