Jumat, 07 Juni 2019

Kajian 114 | Kewajiban-Kewajiban Haji

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  07 Juni

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Jumādā atsTsānī 1440 H / 04 Maret 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUSH HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 114 | Kewajiban-Kewajiban Haji
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H114
〰〰〰〰〰〰〰

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN HAJI


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, atas karunia Allāh Subhānahu wa Ta'āla kita sampai pada halaqah yang ke-114, dan masih membahas mengenai ibadah haji. Kita masuk pada wājibātul haj.

Pertemuan lalu kita telah membahas rukun haji, maka sekarang kita membahas kewajiban-kewajiban di dalam haji.

Adapun rukun apabila ditinggalkan maka ibadah tersebut tidak sah, baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Sementara kewajiban di dalam haji, apabila ditinggalkan maka hajinya tetap sah, akan tetapi orang tersebut wajib untuk membayar dam.

Berkata penulis rahimahullāh:

واجبات الحج غير الأركان ثلاثة أشياء: الإحرام من الميقات ورمي الجمار الثلاث والحلق.

_Kewajiban haji selain rukun itu ada 3 (namun di dalam madzhab syāfi'i ada beberapa kewajiban lain yang tidak disebutkan di dalam matan ini, in syā Allāh nanti akan kita sebutkan):_

⑴ Ihrām mulai dari miqāt (الإحرام من الميقات)
⑵ Melontar jumrah tiga (رمي الجمار الثلاث)
⑶ Bercukur rambut kepala (memendekkannya saja (الحلق)

⇒ Al halq di dalam madzhab yang muktamad termasuk di dalam rukun.

Kewajiban lain adalah:

⑷ Mabit di Mudzalifah.
⑸ Mabit di Mina pada hari tasyrik.

⇒ Ini merupakan kewajiban yang apabila ditinggalkan tanpa udzur maka wajib untuk membayar dam.

Penjelasan:


• Pertama | Ihrām mulai dari miqāt (الإحرام من الميقات)

Ihrām artinya seseorang masuk di dalam nusukh ibadah, dan ihrām ada tiga macam, diantaranya:

√ Ihrām Ifrad (berniat untuk langsung berhaji).
√ Ihrām Qirān (berniat haji dan umrah digabungkan tanpa ada tahalul).
√ Ihrām Tamattu' (berniat umrah dan berhaji dengan diselangi dengan tamattu' dan tahalul).

Ihrām mana saja yang dilakukan oleh jama'ah haji, maka wajib dilakukan di miqāt, (maksudnya) seorang berniat nusukh (masuk di dalam ibadah) artinya, "Saya mulai saat ini masuk dalam ibadah haji."

Miqāt adalah tempat-tempat yang ditentukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ

"Miqāt itu bagi penduduknya dan bagi orang yang melewatinya selain dari mereka, bagi yang berniat untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah."

Artinya:

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menetapkan miqāt menjadi dua yaitu miqāt zamani dan miqāt makani.

Miqāt zamani untuk haji dimulai bulan Syawwāl artinya dia berniat untuk berhaji sejak bulan Syawwāl sampai nanti haji, maka ini boleh.

Miqāt makani adalah miqāt tempat, miqāt makani ada 5 (lima) yang telah ditentukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, ini merupakan ketentuan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan kita harus mengikuti bagaimana ketentuan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menentukan miqāt,

⑴ Dzul Hulaifah (Bir Āli) adalah miqāt penduduk Madīnah atau yang melewati Madīnah.

Jama'ah haji Indonesia yang akan melaksanakan umrah atau haji  yang dia pergi ke Madīnah dahulu baru menuju Mekkah, maka dia wajib berihrām akan di Dzul Hulaifah (Bir Āli)

⑵ Al Juhfah adalah miqāt bagi penduduk Syām (Sekitar Suriah, Jordania, Isrāel) dan orang-orang yang melalui jalan mereka.

⑶ Qarnul Manazil adalah miqāt bagi penduduk Najed (wilayah bagian timur jazirah Arab) dan orang-orang yang melalui jalan mereka.

⑷ Yalamlam adalah miqāt bagi penduduk Yaman dan orang-orang yang melalui jalan mereka.

⇒ Jama'ah Indonesia jika dia langsung menuju Mekkah maka tempat miqātnya adalah di Yalamlam (di atas pesawat dia berniat ihrām, bukan di Jeddah).

⑸ Dzatu 'Irq adalah miqāt bagi penduduk Iraq dan orang-orang yang melalui jalan mereka.


• Kedua | Melontar jumrah tiga (رمي الجمار الثلاث)

Melempar jumrah yang tiga jumrah Ula, Wustha dan Aqabah.

√ Pada hari pertama tanggal 11 Dzulhijjah adalah wajib.
√ Pada hari kedua tanggal 12 Dzulhijjah adalah wajib.

Bagi orang yang ingin lebih dahulu pergi (nafar awwal) maka diperbolehkan:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

"Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya." (QS AlBaqarah 203)

Yang sampai hari ke-12 apabila dia sudah melempar jamrah maka dia wajib meninggalkan Mina sebelum matahari tengelam, apabila matahari tengelam dan dia masih berada di Mina maka dia wajib melempar jamrah pada hari yang ke-13 (Dzulhijjah).

Kewajiban ini berlaku bagi semua kecuali bagi mereka yang memiliki udzur maka boleh diwakilkan.


• Ketiga | Bercukur rambut kepala (memendekkannya saja)  (الحلق)

Yang muktamad dalam madzhab syāfi'i ini adalah termasuk di dalam rukun, walaupun terdapat khilāf bahwasanya al khalq ini adalah bagian dari tahallul awwal dan tahallul tsani.


• Keempat | Mabit di Mudzalifah

Mabit di Mudzalifah adalah termasuk kewajiban berdasarkan hadīts dari 'Usāmah bin Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhumā.

فَلَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ، فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ، ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيرَهُ فِي مَنْزِلِهِ، ثُمَّ أُقِيمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا.

"Tatkala sampai di Muzdalifah, beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhu dan menyempurnakannya. Kemudian diserukan iqamah lalu beliau shalāt Maghrib. Setelah shalāt Maghrib, para shahābat menderumkan unta mereka di tempat persinggahan. Lalu iqamah dikumandangkan kembali, kemudian shalāt Isya. Dan tidak ada shalāt di antara keduanya."

Ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh mabit di Mudzalifah dan ini menunjukkan suatu perkara yang wajib.

Berapa lama waktu mabit?

Berdasarkan madzhab syāfi'i (patokannya adalah tengah malam) walaupun sebentar setelah tengah malam maka diperbolehkan (dianggap sah) jika ingin meninggalkan.

Adapun pendapat dari madzhab yang lain bahwa minimal mabit adalah separuh malam dihitung berapa jam dari terbenam matahari sampai terbit matahari.

Adapun jika seorang ingin lengkap maka ini lebih baik, hal itu berdasarkan hadīts tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan izin kepada Saudah binti Zam'ah.

أفاضت في النصف الأخير من مزدلفة بإذن النبي - صلى الله عليه وسلم - ولم يأمرها بالدم ، ولا النفر الذين كانوا معها

"Bahwasanya beliau pergi untuk thawaf ifadhah pada pertengahan malam yang terakhir dari Mudzalifah dengan ijin Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tidak memerintahkan untuk membayar dam begitu juga orang-orang yang bersama beliau  (Saudah binti Zam'ah).”


• Kelima | Mabit di Mina

Mabit di Mina pada hari-hari tasyrik dan diperbolehkan bagi seseorang untuk tidak bermalam di Mina. Minimal 6 jam.

Dan diperbolehkan seseorang tidak bermalam di Mina jika memiliki udzur, sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengijinkan ‘Abbas karena beliau harus memberikan minuman bagi ternak-ternaknya dan tidak diperintahkan untuk membayar dam.

Ini yang bisa disampaikan pada kewajiban-kewajiban haji.

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Proudly Powered by Abu Uwais.