PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 07 Juni 2019

PERTEMUAN ANTARA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL-ABBÂD DENGAN SYAIKH ABU ISHAQ AL-HUWAINI

by Rory Rachmad  |  at  07 Juni

MEMETIK FAIDAH DARI PERTEMUAN ANTARA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL-ABBÂD DENGAN SYAIKH ABU ISHAQ AL-HUWAINI

Syaikh Khalid bin ‘Abdurrahman al-‘Arabî berkata :
Segala puji hanyalah milik Allâh Pengatur Alam Semesta. Sholawat dan Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah dan penghulu para rasul, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma Ba’du

Di waktu Ashar pada hari Jum’at, tanggal 21 Sya’ban 1438 H, bertempat di kota Madinah Nabawi ﷺ, telah berkumpul dua orang ulama ahli hadits, yaitu ahli hadits Mesir Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dan ahli hadits Madinah Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbâd -semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya dan memberkahi mereka, serta menjadikan ilmu mereka bermanfaat.

Pertemuan ini adalah pertemuan yang sangat menggembirakan, sarat akan ilmu dan faidah serta penuh dengan etika yang mulia dari kedua ulama yang mulia ini, beserta seluruh hadirin yang turut serta dalam pertemuan ini.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh anak-anak dan cucu-cucu Syaikh al-‘Abbâd, disamping itu juga dihadiri oleh anak-anak dan murid Syaikh al-Huwaini, diantaranya adalah saudara saya, Syaikh Ahmad Dibân.

Syaikh al-‘Abbad benar-benar memuliakan kami di rumah beliau dengan keramahtamahan, penyambutan dan penghormatan terhadap tamu-tamu beliau, semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan.

*****

Di awal pertemuan, Syaikh al-Huwaini bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd tentang siapa saja ulama kontemporer yang paling menonjol?
Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Diantara ulama kontemporer yang paling kami anggap ada tiga, yaitu Ibnu Bâz, Ibnu ‘Utsaimîn dan al-Albânî -semoga Allah merahmati mereka semua-. Kami menganggap mereka sebagai marja’ (acuan) bagi setiap penuntut ilmu. Mereka sangat mencintai antara satu dengan lainnya, semoga Allah menjadikan mereka dan ilmu mereka bermanfaat bagi seantero dunia.”

Syaikh al-Huwaini bertanya : “Apakah Anda pernah berjumpa dengan Syaikh al-Albânî?”
Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Iya, ketika beliau masih menjadi dosen di Universitas Islam Madinah.”

Kemudian Syaikh al-‘Abbâd berkata : “Al-Albânî, tidak ada seorang pun yang bisa menyamai beliau, bahkan tidak ada seorangpun di zaman ini yang bisa mendekati (keilmuan) beliau dalam bidang ilmu hadits. Adapun al-‘Allâmah Ibnu Bâz, maka beliau adalah pakarnya fatwa yang menghimpun antara fiqh (pemahaman) dengan atsar (riwayat). Beliau adalah public figure yang Allah jadikan melalui perantaraannya mampu mengurusi urusan orang banyak.”
Syaikh al-‘Abbâd juga menceritakan bahwa beliau pada tahun 1383 H pernah melakukan safar bersama Syaikh al-Albânî dalam rangka berhaji sebagai delegasi. Universitas Islam Madinah biasa mengutus sejumlah pelajar dan pengajar (untuk mengajar) di perkemahan haji. Syaikh al-Albânî saat itu bepergian dengan mengendarai mobil bersama Syaikh al-‘Abbâd dan Syaikh Muhammad al’Abûdi, pulang pergi. Saat itu sedang musim dingin yang sangat dingin sekali.

*****

Syaikh al-Huwaini bertanya : “Siapa ulama Mesir yang paling menonjol yang pernah Anda jumpai, atau Anda pernah belajar kepadanya?”
Syaikh al-‘Abbâd menjawab : “Saya pernah belajar kepada Syaikh Muhammad Khalîl Hirrâs. Selain itu, Syaikh ‘Abdurrazzâq ‘Afîfî juga termasuk guru saya dalam bidang aqidah dan ushûl fiqh. Syaikh ‘Athiyah Sâlim adalah sahabat kelas saya di Universitas Islam Madinah dan Riyadh.”
Kemudian Syaikh al-‘Abbâd menyebutkan bahwa diantara guru yang paling spesial bagi beliau ada 5 ulama yang mulia, yaitu : Ibnu Bâz, ‘Abdurrazzâq ‘Afîfî, ‘Abdurrahman al-‘Afriqî, Hammâd al-Anshôrî dan Muhammad al-Amîn asy-Syinqithî -semoga Allah merahmati mereka semua-.
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini : “Apakah Anda pernah bersua dengan Syaikh al-Mu’allimî (al-Yamanî) dan Syaikh Ahmad Syâkir (al-Mishrî)?”
Syaikh al-‘Abbâd : “Saya belum pernah bersua dengan Syaikh al-Mu’allimî maupun Syaikh Ahmad Syâkir.”

*****

Syaikh al-Huwaini : “Apakah Anda pernah berhubungan dengan ulama ahli hadits Syam?”
Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, dengan Syaikh ‘Abdul Qâdir al-Arnâ`uth. Saya bertemu dengan beliau sebanyak empat kali. Adapun Syaikh Syu’aib (al-Arnâ`uth), saya belum pernah bertemu dengannya.”
Syaikh ‘Abdul Qâdir diantara ulama ahli hadits yang memuliakan Syaikh al-Albânî rahimahullâhu.
Syaikh al-Huwaini : “Apakah Anda pernah bertemu dengan Syaikh Ahmad Ma’bad”?
Syaikh al-‘Abbâd : “Saya pernah bertemu dengannya sekali saja.”

*****

Kemudian Syaikh al-Huwaini bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd tentang penyebab minimnya tulisan-tulisan beliau padahal beliau banyak memberikan penjelasan (syarah) terhadap kutubus sittah (Kitab Induk Hadits yang enam, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan an-Nasâ’I, Sunan Abi Dâwud, Sunan at-Tirmidzî dan Sunah Ibnu Mâjah) di masjid Nabawi. Kenapa tidak ditranskrip lalu dicetak?

Syaikh al-‘Abbâd menjawab dengan penuh tawadhu’ (rendah hati) : “Saya tidak ingin pelajaranku dicetak sampai saya benar-benar menelaahnya dan mengeceknya. Namun saya belum ada waktu, jadi mau tidak mau, saya hanya bisa memberikan syarah saja.”
Lalu Syaikh al-Huwaini pun mengusulkan kepada Syaikh al-’Abbâd -semoga Allah memberi taufiq kepada mereka berdua- agar sekiranya ada salah satu pelajar yang bisa mentranskrip syarah (penjelasan) Syaikh al-‘Abbâd, lalu membukukannya dan mengoreksikan kepada Syaikh, agar manfaatnya bisa lebih meluas, karena buku-buku syarah (penjelasan hadits) amatlah penting bagi para penuntut ilmu.

*****

Syaikh al-Huwaini : “Manakah yang lebih utama menurut Anda, Alfiyah karya as-Suyuthî ataukah Alfiyah karya al-‘Irâqî?”
Syaikh al-‘Abbâd : “Masing-masing memiliki keistimewaan. Alfiyah karya al-‘Irâqî banyak faidah di dalamnya, sedangkan Alfiyah karya as-Suyuthi lebih ringan dan di dalamnya banyak berisi tambahan.”

*****

Syaikh al-Huwainî : “Manakah yang lebih mumpuni di dalam karya tulis (dalam bidang hadits), apakah al-Hâfizh al-‘Irâqî ataukah muridnya, al-Hâfizh Ibnu Hajar?

Syaikh al-‘Abbâd : “Demi Allah, masing-masing memiliki kebaikan. Akan tetapi Ibnu Hajar -semoga Allah menjadikan karya beliau, Fathul Bâri, memiliki manfaat yang besar-, saya menamai buku beliau dengan Kitabul Ilmi. Baru-baru ini saya menulis sebuah makalah berjudul, “Salâmatu an-Nawawî wa Ibnu Hajar min ‘Aqîdatil Mutakallimîn” [Terbebasnya an-Nawawi dan Ibnu Hajar dari Aqidah Ahli Kalam (Scholastic)]

Makalah beliau ini bisa diunduh di link berikut : http://al-abbaad.com/articles/932078
“Sedangkan an-Nawawi sendiri, mayoritas pendapat beliau di dalam masalah aqidah lebih jelas daripada Ibnu Hajar.”

*****

Syaikh al-Huwaini : “Manakah yang lebih unggul antara Fathul Bâri (Syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar) dengan ‘Umdatul Qôrî (Syarah Shahih al-Bukhari karya Badrudin al-’Aini)?”
Syaikh al-‘Abbâd : “Ibnu Hajar, beliau menulis buku lalu menghafalkannya. Setiap kali beliau selesai dari malzamah (majelis hafalan)-nya, baru beliau sebarkan.”

Syaikh al-Huwainî mengomentari : “Iya, as-Sakhôwî di dalam al-Jawâhir wad Duror (fî Tarjamati Syaikhil Islâm Ibni Hajar) [Buku biografi Ibnu Hajar yang ditulis Syamsuddîn as-Sakhôwî, pent.] menyebutkan bahwa al-Hâfizh Ibnu Hajar setiap kali selesai dari malzamah, barulah beliau sebarkan kepada murid-muridnya. Maka dengan demikian, buku beliau menjadi sumber referensi yang terkoreksi.”

Syaikh al-Huwaini juga menyebutkan bahwa isi dan metode penulisan al-‘Ainî pada sepertiga bagian akhir buku tidak seperti awalnya, berbeda dengan Fathul Bârî yang isi dan metode penulisannya konsisten dari awal sampai akhir buku.

Syaikh al-‘Abbâd mengomentari bahwa betapa beliau merasa takjub dengan al-Hafizh, bagaimana bisa beliau menghimpun ilmu ini seluruhnya tanpa adanya sarana kutipan seperti saat ini (yaitu seperti Maktabah Syamilah dan semisalnya, pent.)

Syaikh al-Huwanî : ‘iya, sebagaimana yang Anda sebutkan. Padahal beliau dulunya adalah hakim utama, melancong dengan penguasa dan puteri-puteri beliau wafat di kala beliau masih hidup. Apa gerangan rahasianya wahai Syaikh yang mulia menurut pendapat Anda? Apakah ini kembali kepada kedisplinan waktu?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, beliau bisa menjaga waktu dan penuh keberkahan.”

*****

Syaikh al-Huwaini : “Mana yang lebih unggul antara buku karya as-Sakhowî yang berjudul Fathul Mughîts (bisyarhi Alfiyah al-Hadîts) dengan buku karya as-Suyuthî yang berjudul Tadrîbu ar-Râwî (fî Syarhi Taqrîbun Nawawî)?

Syaikh al-‘Abbâd : “Buku karya as-Suyuthî lebih mudah.”

Syaikh al-Huwainî : “Iya, dan kitab as-Sakhowî lebih kaya dengan faidah, namun sebagaimana penjelasan Anda, isinya tidaklah mudah (dipelajari).”

Lalu Syaikh al-Huwainî menginformasikan bahwa Kitab al-Kamâl (fî Asmâ`ir Rijâl) karya ‘Abdul Ghanî al-Maqdisî telah dicetak di Kuwait bulan kemarin. Kemudian Syaikh al-‘Abbad mengomentari : “Saya punya, namun Tahdzîbul Kamâl (karya al-Mizzî) lebih sempurna daripada al-Kamâl itu sendiri.”

*****

Syaikh al-Huwainî : “Syaikh yang mulia, apakah Anda mempelajari sanad-sanad al-Bukharî dengan studi terperinci?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, apabila saya selesai dari menjelaskan hadits, saya kembali mempelajari sanad-sanadnya, agar saya bisa mengeluarkan kesimpulan (hukumnya).”

*****

Syaikh al-Huwainî lalu menanyakan tahun kelahiran Syaikh al-‘Abbâd : “Tahun berapa Anda dilahirkan?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Sepekan dari sekarang ini, yaitu saya dilahirkan tahun 1353 H tepatnya pada malam Ahad tanggal 3 Ramadhan, tahun wafatnya al-Mubârokfûrî (Beliau adalah ahli hadits India, penulis buku Tuhfatul Ahwadzî syarh Jâmi’ at-Tirmidzî) dan setelah wafatnya asy-Syaukânî seabad lebih 3 tahun (yaitu asy-Syaukanî wafat tahun 1255 H.)”

Syaikh al-Huwainî : “Semoga Allah menjadikan Anda sebagai pengganti beliau.”

Lalu Syaikh al-Huwainî ditanya tentang tahun kelahirannya, dan syaikh menjawab tahun 1375 H [22 tahun lebih mudah dari Syaikh al-‘Abbâd, pent.].

*****

Syaikh al-Huwainî bertanya kepada Syaikh al-‘Abbâd mengenai pekerjaan resminya, dan Syaikh pun menjawab : “Saya pertama kali mengajar pada tahun 1379 H di Ma’had Buraidah al-‘Ilmi. Lalu pada tahun 1380 pindah ke Riyadh, lalu 1381 mengajar di Universitas Islam Madinah sampai saat ini.”

Syaikh al-Huwainî : “Apakah anda menjumpai Syaikh Muhammad bin Ibrahîm (Âlu Syaikh, mantan mufti umum KSA) saat studi?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah belajar kepada beliau. Akan tetapi beliaulah yang mengangkat saya (sebagai dosen) di Universitas Islam Madinah, dan beliau saat itu sebagai rektornya dan memerintahkan saya untuk mengajar bersama Syaikh Ibnu Bâz. Syaikh Ibnu Bâz datang di awal bulan sebagai wakil rektor, dan saya datang pada bulan berikutnya sebagai dosen. Allah memberikan kehormatan bagi saya untuk bisa menemani Syaikh Ibnu Bâz selama 15 tahun lamanya.

*****

Syaikh al-Huwainî : “Apakah anda pernah berjumpa dengan Syaikh (‘Abdurrahman bin Nâshir) as-Sa’dî?

Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah belajar kepada beliau dan belum pernah berjumpa dengannya. Beliau tinggal di Qashim sedangkan saya di Zalfa. Kalau Syaikh Ibnu Ghudayyan dan Ibnu Qu’ûd, saya pernah bertemu dengan mereka. Saya kenal dengan mereka dan merekapun kenal dengan saya.”

*****

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda memiliki sanad dan ijazah buku-buku hadits yang sudah dikenal?
Syaikh al-‘Abbâd : “Saya tidak mengambil ijazah maupun sanad, tidak pula memberikannya”
Beliau lalu menceritakan tentang Syaikh al-Basyîr al-Ibrâhîmî, bahwa suatu ketika beliau berada di Madinah, kemudian ada seorang pria menawarkan padanya untuk memberikan ijazah sehingga menyebabkan Syaikh al-Ibrâhîmî tertawa. Beliau lalu mengatakan suatu kalimat yang membuatku takjub dan kuambil ucapannya tersebut, yaitu beliau berkata kepada pria tersebut : “Anda tidak pernah bersusah payah di dalam belajar sedangkan saya tidak perlu bersusah payah di dalam talaqqi (mengambil ijazah dan sanad dari orang yang tidak pantas).”
Syaikh al-Huwainî lalu mengomentari bahwa tergesa-gesa di dalam membaca (hadits) dan adanya sejumlah pelajar yang jarang hadir (di majelis ilmu) lalu mengambil ijazah, maka ini bukanlah hal yang aneh buat beliau.

*****
Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah berjumpa dengan kakak beradik al-Ghumarî (yaitu Ahmad bin Shiddiq al-Ghumârî dan ‘Abdullâh bin Shiddiq al-Ghumârî, keduanya adalah tokoh fanatikus madzhab, pent.).

Syaikh al-‘Abbâd : “Ya, saya pernah berjumpa dengan ‘Abdullâh al-Ghumârî. Saya pernah berkata kepadanya bahwa saya heran dengan kakak anda, Ahmad al-Ghumârî.”

Syaikh al-Huwainî : “Apa karena Ahmad al-Ghumârî yang paling alim dari mereka?”

Syaikh al-‘Abbâd : “Bahkan, dia yang paling buruk dari mereka. Karena orang ini (Ahmad al-Ghumârî) mengumpulkan keyakinan Jahmiyah, dan dia memiliki hal-hal yang aneh seperti misalnya dia menshahihkan hadits : Saya adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Selain itu juga ucapannya yang keras terhadap Imam adz-Dzahabî dan tuduhannya bahwa beliau berpemahaman Nâshibi serta membenci keluarga Nabi ﷺ. Dia juga memiliki buku berjudul Ihyâ’ul Maqbûr (min Adillati Jawâzi Binâ’il Masâjid wal Qobâb ‘alal Qubûr, buku yang berisi legitimasi untuk membangun kubah dan masjid di atas kuburan) yang nyeleneh.”

Syaikh al-Huwainî : “Ahmad al-Ghumârî ini lebih luas penelaahannya.”

Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, tidak diragukan bahwa dia memang banyak menelaah.”

*****

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah bertemu (Muhammad Zahid) al-Kautsari (salah satu ulama Jahmiyah kontemporer yang fanatik dengan madzhab Hanafi)?”
Syaikh al-‘Abbâd : “Tidak, saya tidak pernah bertemua dengan dia. Dan saya bersyukur kepada Allah karena saya tidak pernah bertemu dengannya.”
Lalu syaikh al-‘Abbâd menceritakan bahwa antara Ahmad al-Ghumârî dan al-Kautsarî sendiri terdapat permusuhan.

*****

Syaikh al-Huwainî : “Apakah Anda pernah bertemu Syaikh ‘Abdul Fattâh Abû Ghuddah (tokoh IM yang berpemahaman Asy’ari Shufi tulen)? Karena beliau tinggal di Riyadh.”
Syaikh al-‘Abbâd : “Iya, saya pernah bertemu dengan dia dalam perdebatan.”

*****

Lalu syaikh al-‘Abbâd bertanya kepada Syaikh al-Huwainî tentang sebab penamaan dirinya dengan al-Huwainî. Syaikh Abu Ishâq menjawab : “Ini adalah nisbat kepada kampung saya, Huwain.”

Syaikh al-‘Abbâd : “Apakah itu nisbat kepada al-Wajhul Bahrî (wilayah Delta di Sungai Nil) ataukah nisbat kepada kabilah?”

Syaikh al-Huwainî : “Nisbat kepada wilayah”.

Syaikh al-‘Abbâd : “Apakah dekat dengan Damanhur (kota di pertengahan barat Delta sungai Nil)”. Syaikh bertanya karena beliau pernah bertanya kepada Syaikh ‘Abdul Fattâh al-Qodhî rahimahullâhu tentang negara asalnya, dan dia menyampaikan bahwa asalnya adalah Damanhur.

*****

Di akhir pertemuan, Syaikh al-‘Abbâd berkata kepada Syaikh al-Huwainî : “Anda adalah orang terbaik di dalam kunjungan ini.” Lantas Syaikh al-Huwainî menjawab : “Kebaikan Andalah yang lebih dahulu”.

Kemudian dua putera Syaikh al-Huwainî, yaitu Hâtim dan Haytsam saat menyalami Syaikh al-‘Abbâd, Syaikh al-Huwainî berkata : “Ini Hâtim, putera tertuaku.”

Syaikh al-‘Abbâd menukas : “Kalau begitu Anda Abu Hâtim”

Syaikh al-Huwainî berkata : “Abu Ishâq adalah kuniyah saya dan saya senang dengan kuniyah ini dari semenjak saya masih muda.”

Lalu Syaikh al-‘Abbâd dengan cerdasnya menyampaikan bahwa  mayoritas nabi itu berasal dari keturunan Ishâq. Adapun Nabi kita ﷺ berasal dari keturunan Nabi Ismâ’îl, karena itulah di dalam al-Qur’an seringkali nama Ishâq disebut bergandengan dengan nama Ibrâhîm dan Ya’qûb, sedangkan nama Ismâ’îl disebutkan bersendirian dari para nabi.

Semoga Allah membalas dua syaikh kami yang mulia ini dengan balasan yang paling baik. Kami memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung agar menganugerahkan kepada kita semua ilmu dan bermanfaat dan amal yang shalih.

Inilah akhir dari doa kami, segala puji dan sanjungan hanyalah milik Allah, pengatur alam semesta.
_______________________
✍🏻 Ditulis oleh : Khalid bin Muhammad al-‘Arabî.
@khaled_alaraby
✏ Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad (@abinyasalma) atas permintaan guru kami, al-Ustâdz al-Fâdhil Mubarak Bâmu’allim hafizhahullâhu Ta’âlâ.
🌐 URL : http://abusalma.net/2017/06/08/pertemuan-syaikh-al-abbad-dengan-syaikh-al-huwaini/


Proudly Powered by Abu Uwais.