PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Selasa, 28 Januari 2020

Halaqah 51 | Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  28 Januari

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Jumada Al-Akhir 1441 H / 29 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 51 | Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-51
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Ta'āla dan semoga selalu diluaskan rejekinya, dimudahkan segala urusannya.

Alhamdulillāh pada pertemuan ke-51 ini, In syā Allāh kita akan membaca hadīts nomor 71 yang ada di dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Hadīts ini merupakan hadīts pertama dari dua hadīts yang akan dibawakan oleh Imam At-Tirmidzī dalam bab ke-9. Tentang "Bagaimana kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam”.

Imam At-Tirmidzī menamakan bab ini dengan mengatakan,

 باب ما جاء في عيش رسول الله ﷺ

Bab tentang kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Menurut Syaikh Abdurrazaq, 'Aisy (عيش) disini diartikan seperti makanan dan semisalnya (apa yang dimakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Bab ini terdapat dua hadīts:

Hadīts Pertama | Hadīts dari Muhammad bin Sirīn (salah seorang tābi'in).

Beliau mengatakan:

كُنَّا عِنْدَ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ مُمَشَّقَانِ مِنْ كَتَّان فَتَمَخَّطَ في أحدهما. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: بَخْ بَخْ يَتَمَخَّطُ أَبُو هُرَيْرَةَ فِى الْكَتَّانِ. لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّى لأَخِرُّ فِيمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وحُجْرَةِ عَائِشَةَ رضي الله عنها مَغْشِيًّا عَلَيَّّ، فَيَجِىءُ الْجَانِى فَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى عُنُقِى، يُرَى أَنّ بِي جْنُونٌا، وَمَا بِي جُنُونٍ، ومَا هو إِلاَّ الْجُوعُ.

"Dulu kita pernah berada di sisi Abū Hurairah, ketika itu beliau sedang memakai dua kain yang berwarna dari كَتَّان (linen, diartikan), lalu beliau mengusap air hidungnya dengan salah satu kain tersebut.

Lalu beliau mengatakan,'بَخْ بَخْ' (eh..eh..eh), "Abū Hurairah sekarang mengusap air hidungnya saja pakai kain كَتَّان".

Dan sungguh aku dulu pernah mengalami atau pernah tersungkur jatuh di antara mimbar dan kamar dari Āisyah radhiyallāhu 'anhā (pingsan). Lalu ada seseorang datang dan meletakkan kakinya dileherku. Dia menyangka aku sedang gila, padahal aku tidak gila (kata Abū Hurairah). Ketika itu aku tidak sakit akan tetapi aku lapar." (Hadīts ini shahīh, dan Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts ini dengan nomor 7324 )

Pesan hadīts ini adalah:

Abū Hurairah sedang terheran-heran dengan keadaan dirinya sendiri, dimana dulu ia pernah kelaparan karena tidak ada sesuatu yang bisa dimakan sehingga dia pingsan. Dan sekarang untuk mengusap air hidung saja beliau menggunakan kain linen (sebuah kain yang cukup bagus).

Yang menggelitik dalam benak kita, Imam At-Tirmidzī mengatakan bahwa bab ini menjelaskan tentang kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi mengapa yang disebutkan adalah Abū Hurairah yang kelaparan?

Ini menjadi sesuatu yang menggelitik di benak kita. Bagaimana kita menjawab ini?

Jawabannya adalah:

Keadaan Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu yang  kelaparan sampai beliau pingsan. Menunjukkan bagaimana sempitnya kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Karena, seandainya kehidupan beliau lapang, (beliau memiliki makanan) tentu beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam akan memberikan makanan untuk Abū Hurairah. Dan tidak akan membiarkan Abū Hurairah sampai pingsan gara-gara kelaparan.

Seperti itulah hubungan dari hadīts ini dengan kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bahwasanya Abū Hurairah adalah seorang muslim yang masuk Islām sekitar tahun ke-7 Hijriyyah dan hanya membersamai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (kurang lebih) sekitar 4 tahun saja.

Ini menunjukkan kehidupan Nabi pada tahun-tahun itu, di tahun-tahun akhir keberadaan beliau di dunia, beliau tetap sederhana bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk menghilangkan rasa lapar dari sahabatnya.

نسأل الله السلامة

Hendaknya kita di zaman ini banyak bersyukur, karena sepertinya jarang dari kita yang kehidupannya seperti apa yang dialami para sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di awal-awal keislāman mereķa.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________


© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais