PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 13 Januari 2020

Audio 2 Kaidah dan Prinsip penerapan dan pengambilan dalil aqidah

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  13 Januari

بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ للهِ  وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Para ikhwah wal akhwat yang menyimak kajian ini adalah bagian yang pertama dari pembahasan mengenai aqidah yaitu kaidah-kaidah tentang cara menerima dan menerapkan dalil menurut pemahaman ahlussunah wal jamaah

Bahwa sumber pengambilan dalil dalam masalah-masalah aqidah itu hanya 3 yaitu Kitabullah, Sunnah Rasulullah ﷺ yang valid, dan Ijma'nya (kesepakatan) as-salafushalih kitabullah  yakni Al Quranul karim

Sunnah Rasulullah ﷺ yang valid yang dinyatakan oleh ahlul hadits sebagai hadits atau sunnah yang benar  penisbatannya kepada Rasulullah ﷺ
    
Ijma'nya (kesepakatan) as-salafushalih, kalau mereka telah sepakat tentang suatu perkara aqidah maka kesepakatan mereka merupakan dalil bahwasanya itu adalah aqidah yang wajib kita imani


Masih berkaitan dengan salah satu sumber pengambilan dalil yaitu tentang sunnah Rasulullah ﷺ bahwa setiap sunnah yang telah divalidasi (dinyatakan valid ) oleh ahlul hadits baik derajatnya shahih maupun hasan, maka dia wajib diimani (diterima) walaupun tidak masuk katergori hadits mutawatir

Setiap hadits yang shahih penisbatannya kepada Nabi yang telah divalidasi oleh ahlinya (ahli hadits) maka dia wajib diterima (diimani) walaupun dia tidak termasuk kategori hadits mutawatir alias dia masuk kategori hadits ahad, Karena hadits mutawatir lawan dari hadits ahad, mengapa demikian?

Karena mayoritas hadits Nabi ﷺ itu memang tidak masuk kategori hadits mutawatir, dan karena adanya perbedaan dikalangan mereka yang mengklasifikasikan hadits menjadi mutawatir dan hadits ahad tadi, tentang kriteria mutawatir itu yang seperti apa, ada diantara mereka yang mengatakan mutawatir itu, mereka medifinisikan terlebih dahulu bahwasanya yang namanya mutawatir adalah suatu berita yang disampaikan oleh banyak orang dan begitu berita itu sampai kepada kita maka kita langsung meyakininya (memastikan) sebagai kebeneran itu namanya mutawatir, jadi dia memeberikan kepastian, 

Kemudian mereka berbeda pendapat bagaimana suatu berita itu, atau berapa banyak orang yang harus meriwayatkan suatu berita itu sehingga beritanya akan  menimbulkan kepastian, ada diantara mereka yang mempersyaratkan minimal 10 orang ada yang 12, ada yang 2, ada yang 40, ada juga yang minimalnya 70 orang, karena adanya perbedaan kriteria inlah akhirnya standard berita yang boleh dijadikan aqidah itu harus mutawatir menjadi standard yang tidak jelas, 

Tentunya sesuatu yang tidak jelas standardnya tidak bisa menjadi acuan, karena apa yang dianggap mutawatir oleh sebagian kalangan, belum tentu dikatakan mutawatir oleh kalangan yang lain, yang memiliki syarat yang berbeda, sehingga hasilnya tidak mungkin suatu berita itu harus dianggap mutawatir barulah dia boleh dipercaya

Demikin juga secara aplikasi mengapa kita tidak mengatakan bahwa aqidah itu hanya diambil dari berita yang mutawatir, karena secara aplikasi ini tidak memungkinkan, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari kita seringkali meyakini sesuatu dan itu bukan berdasarkan informasi yang sifatnya mutawatir, alias kalau didefinisikan dia masih masuk dalam definisi khabar ahad, berita yang belum sampai ketingkat mutawatir, tetapi kita sudah menentukan (mempercayai) sikap tak ada keraguan sedikitpun, dan ini menunjukan bahwa persyaratan ini yang seringkali digaungkan oleh sebagian kalangan, bahwa kalau tidak mutawatir tidak boleh jadi dalil ini adalah perkara yang bathil (tidak benar)

Ahlussunah wal jamaah meyakini bahwa tidak disayaratkan harus menjadi hadits mutawatir baru dia menjadi dalil dalam masalah aqidah, bukankah Nabi ﷺ mengutus 1 atau 2 orang sahabatnya saja, Mu'adz ibnul jabal diutus ke yaman, Abu musa diutus ke yaman, Ali diutus ke yaman ada lagi yang diutus ke negeri lain mereka jumlahnya masih ahad, person-person sama sekali tidak ada yang menganggap jumlah mereka itu sudah mutawatir akan tetapi diutusnya mereka membawa ajaran Nabi ﷺ sudah dianggap cukup sebagai penegakan hujjah sehingga ketika apa yang mereka sampaikan dari Nabi ﷺ tidak dipercayai oleh orang -orang yang ada disana, maka mereka langsung bisa diperlakukan sebagai orang-orang yang tidak beriman ini menunjukan bahwa perkara aqidahnya memang tidak dipersyaratkan harus disampaikan secara mutawatir

thayyib (baik) berkaitan dengan bagaimana kita memahami suatu dalil,

Karena suatu dalil walaupun dia sudah benar namun jika dipahami salah, maka hasilnya akan salah

Demikian pula ketika dia itu dalilnya sudah tidak benar, walaupun dipahami benar, maka dia juga akan salah, sehingga harus benar dari 2 sisi :

Dalilnya benar, Pemahamannya juga benar

Oleh karena ahlus sunnah wal jamaah merupaka salah satu pokok kaidah mereka adalah dalam memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ pertama-tama ahlussunnah akan mencoba mencarikan penafsirannya dari sesama Al Quran dan Hadits itu sendiri

Apabila mereka mendapati ayat-ayat yang kurang jelas maknanya, mereka akan mencari ayat-ayat yang menjelaskannya, bila tidak ditemukan didalam alquran maka mereka mencari penjelasannya dari sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ

Demikian pula ketika mereka menemukan hadits-hadits yang kurang jelas maknanya, mereka akan mencarinya terlebih dahulu dari hadits itu sendiri dalam hadits-hadits yang ada  dalam bab tersebut ketika sudah terkumpul  semua hadits yang ada dalam bab itu yang saling menjelaskan satu sama lain maka mereka akan beralih ke metode yang berikutnya yaitu bagaimana hadits-hadits tersebut dipahami oleh as-salafus shalih 

Kenapa lagi-lagi harus salafusshalih yang menjadi rujukan karena mereka adalah orang-orang pertama yang paling memahami bahasa arab, bahasa arab adalah bahasa ibu mereka, bahasa asli mereka, justru bahasa arab yang kita kenal hari ini dirumuskan, diambil ilmunya, dikonsep berdasarkan gaya bicara mereka, berdasarkan tutur kata mereka, dan kita tahu bahwasanya Al Quran turun dengan bahasa arab

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Kami menjadikannya sebagai Al Quran dalam bahasa arab agar kalian bisa memahaminya" (Surat Az-Zukhruf : 3)

1. Sunnah Rasulullah ﷺ hadits-hadits Nabi itu ucapan Rasulullah ﷺ hanya diucapkan dalam bahasa arab, sehingga orang yang paling memahami bahasa arab, dia paling berhak untuk memahami maksud Al Quran  maupun Sunnah

2. Karena tidak hanya melihat, tidak hanya membaca teks ayat dan teks hadits sebagaimana yang kita lakukan hari ini, mereka tidahk hanya mendengar ayat Al Quran dibacakan atau hadits Nabi ﷺ dibacakan sebagaiman kita, namun mereka juga menyaksikan secara langsung bagaimana kronologi turunnya ayat maupun hadits Nabi ﷺ tersebut  dan bagaiman Nabi menerapkannya, tentunya siapa saja yang menyaksikan tidak akan sama dengan hanya yang mendengar

Nabi ﷺ bersabda


laisal khabaru kal mu'ayanah

Nabiyullah Musa عليه وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ ketika meninggalkan kaumnya selama 40 hari, kemudian Allah memberitahu bahwasanya kaumnya telah kembali menyembah anak sapi, Nabi Musa tidak memberikan reaksi yang sama seperti ketika dia melihat langsung, begitu dia melihat langsung kaumnya menyembah anak sapi langsung dia memberika reaksi

وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ

"...Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya..." (Surat Al-a'raf : 150)

Dia lemparkan kepingan-kepingan taurat dan dia jambak rambut saudaranya (harun) sambil murka dia marahi saudaranya, kenapa sampai saudaranya membiarkan bani israil kembali menyembah anak sapi, inilah hanya contoh kasus bahwa siapapun yang menyaksikan sesuatu pasti dia akan lebih paham, pasti dia akan lebih mengerti daripada orang yang hanya mendengar berita tentang sesuatu tadi dan tidak menyaksikan


3. kita harus memahami pemahaman as-salafushalih yang telah kita definiskan sebagai para sahabat Nabi , para tabi'in dan siapapun yang mengikuti para sahabat dengan baik, karena pemahaman mereka telah dijamin hasilnya oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى hasilnya mereka mendapatkan ridha Allah dan mendapatkan jannahnya sebagaimana didalam surat at-taubah ayat 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ


"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar" (Surat At-Taubah : 100)

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ (dari kalangan al muhajirin) mereka adalah sahabat Nabi وَالْأَنْصَارِ mereka juga sahabat nabi وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ dan orang-orang yang mengikuti (almuhajirin dan anshar) dengan baik, siapapun yang mengikuti muhajirin dan ansar dengan baik رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ Allah meridhai mereka وَرَضُوا عَنْهُ dan mereka pun puas (ridha) dengan apa yang Allah berikan وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai

Itulah alasannya mengapa kita harus memahami dengan pemahaman salafusshalih, dan tidak boleh apa yang sudah ditafsirkan oleh salafushalih itu kita tentang, hanya dengan istilah tersebut memiliki makna lain dalam bahasa arab, memang bahasa arab itu terkadang dalam memaknai suatu kata itu memiliki beberapa makna, akan tetapi ketika salafushalih telah menjelaskan bahwasanya ayat ini atau hadits ini artinya begini, walaupun secara bahasa kata yang sama memiliki makna yang lain tetap kita tidak boleh memaknainya dengan makna yang lain manakala sudah dijelaskan(disepakati) maknanya oleh salafushalih

ini adalah 3 pokok pertama berkenaan dengan bagaiaman kita menerima suatu dalil dan menerapakan dalil tersebut, mudah-mudahan bermanfaat kita akan lanjutkan pada seri yang berikutnya

والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى  نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip Oleh Abu Uwais
Download kitab Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah




© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais