PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 14 Februari 2020

Audio 11 Tauhid dalam Niat dan Tujuan (Tauhid Uluhiyyah) point 9

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  14 Februari

بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwa wal akhwat kita lanjutkan pembahasan seputar prinsip-prinsip aqidah ahlussunah wal jama'ah, masih berkaitan dengan masalah Tauhid

9. Wasilah yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an adalah apa-apa yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala dari ketaatan yang telah disyariatkan. Ada tiga jenis bertawasul kepada Allah:

Secara syar’i: yaitu bertawasul kepada Allah Ta’ala enggan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau dengan menyebutkan amal shalih seseorang, atau melalui oa orang-orang shalih yang masih hidup.

bahwa wasilah yang diperintahkan di dalam Al Quran adalah apa-apa yang mendekatkan diri kita kepada Allah تَعَالَى dari ketaatan-ketaatan yang memang telah di syariatkan sebagaiman firman Allah


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَـٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan carilah wasilah kepadanya dan berjihadlah di jalannya agar kalian beruntung" (Surat Al Maidah : 35)

ayat ini menceritakan kepada kita untuk mencari wasilah, wasilah yang dimaksud adalah perbuata-perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada Allah dan wasilah dalam pengertian yang umum di maksyarakat itu tidak sama ada wasilah yang masuk kategori di perintahkan syariat (wasilah yang syar'i) yaitu bertawasul kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah yang indah atau dengan sifat-sifatNya yang Mulia seperti kita berdoa kepada Allah, kemudian kita minta ampunan dari Allah, kita panggil nama Allah yang  sesuai
يا غفر اغفرلي، يا غا فر اغفلي


kita ingin di rahmati oleh Allah maka kita panggil Allah dengan nama yang mengandung pengertian kasih sayang seperti


يا رحمن ارحمن

kita ingin diperlakukan dengan lemah lembut maka kita katakan

يا لطيف ٲلطف بي

kita ingin agar kaum muslimin di tolong oleh Allah dalam peperangannya maka kita berdoa menyebutkan dengan nama-namaNya yang sesuai juga

يا قوي، يا عزيز، ٲنصر اخوننا لمجاهدين في سبلك

Wahai yang Maha Kuat, Yang Maha Perkasa menangkanlah saudara-saudara kami yang berjihad di jalanMu

ini adalah salah satu bentuk tawasul atau menggunakan wasilah yang di syariatkan bentuk lain dari wasilah yang di syariatkan atau contoh lainnya adalah manakala seseorang meminta kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan menyebutkan salah satu amal shalihnya dia, seperti yang di ceritakan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang 3  orang yang terjebak dalam goa dan hadits ini riwayat imam bukhari dan muslim

Tiba tiba ada sebongkah jatuh yang jatuh menutup mulut goa dan mereka bertiga tidak bisa keluar maka di usulkan oleh salah satunya agar masing-masing dari mereka bertiga berdoa dengan menyebutkan amalan yang paling dia harapkan menjadi amal shalih

Maka salah satunya mengatakan (menyebutkan) bahwa dia atau seorang yang berbakti kepada orang tuanya dan seterusnya satu lagi menyebutkan tentang bagaimana dia menyimpan gaji pegawainya yang tiba-tiba kabur tidak, mengambil gaji sehingga di investasikan di belikan kambing kemudian kambungnya beranak pinak sekian tahun kemudian datang meminta gajinya dan gajinya telah di wujudkan kambing dalam jumlah yang sangat besar, kemudian di ambil semuanya oleh si pegawai tanpa menyisakan apa-apa dan itu di lakukan ikhlas karena Allah, si majikan tidak merasa kecewa ataupun sedih sedikitpun dan itu dia lakukan ikhlas karena Allah, yang ketiga adalah menghindari perzinaan dengan wanita idamannya saat si wanita sudah ada di depannya dia karena takut dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka dia tinggalkan kesempatannya untuk berzina ini adalah amal-amal shalih dan setelah masing-masing minta kepada Allah dengan menyebutkan amal shalihnya masing-masing batunya itu bergeser sedikit demi sedikit sehngga akhirnya terbukalah jalan bagi mereka, adapun bertawasul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya Yang Mulia itu disebutkan dalam Al Quran 

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

"Bagi Allah nama-nama yang paling baik maka berdoalah kamu dengan menyebut nama-nama itu..." (Surat Al A'raf : 180)

3.  Minta doa dari orang shalih yang masih hidup, 

syaratnya orang itu masih hidup dan dia mendengar permintaan kita seperti dia ada di hadapan kita atau di dekat kita atau kita sedang berbicara lewat telepon dengannya dan semisalnya, doanya orang shalih agar yang bersangkutan mendoakan kebaikan bagi kita ini adalah satu satu bentuk tawasul yang di perbolehkan sebagaimana di dalam ash-shahihain ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  sedang berkhutbah jumat, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri kemudian mengatakan yaa Rasulullah harta benda telah musnah ,ternak telah binasa, jalan-jalan telah merekah (saking lamanya dilanda kemarau) doakan agar Allah menurunkan hujan bagi kita

Disini lelaki ini meminta kepada Rasulullah agar berdoa kepada Allah minta turunnya hujan demikian pula apabila itu di mintakan kepada orang shalih sebab sepeninggal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  kota madinah kembali di landa musim paceklik (kemarau) itu tepatnya di masa kekhalifahan umar bin khaththab رضي الله عنه maka sayyidina umar mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalatul istisqa (shalat meminta hujan) 

kemudian usai shalat umar bin khatththab mengatakan

ٲللهم انا كنا نستسق من نبيك ف سقيتنا و اننا ليوم نستسق بعم نبيك فسقنا

yaa Allah kami dahulu minta hujan melalui NabiMu dan engkau beri kami hujan dan kami minta hujan melalui pamannya NabiMu maka berikablah hujan kepada kami

setelah itu umar meminta kepada abbas bin abdul muththalib yang sepeninggal beliau memang masih hidup di minta oleh umar agar berdoa

wahai abbas قم فدعه (bangunlah dan doakan) agar Allah memberikan hujan

Dan ini di lakukan oleh sayyidina umar di hadapan para sahabat  dan tidak ada yang mengingkari, jadi menunjukan para sahabat pun sepakat bahwa orang shalih yang masih hidup boleh di mintai doanya, tidak ada masalah di situ, ini bentuk tawasul yang di syariatkan atau di bolehkan oleh syariat

2. Tawasul bid’ah: yaitu bertawasul kepada Allah Ta’ala enggan apa-apa yang tidak diperbolehkan di dalam syariat, seperti bertawasul dengan kemuliaan para nabi, dan orang-orang shalih, atau dengan derajat mereka, atau dengan hak-hak mereka, atau dengan kehormatan mereka, dan yang semisalnya.

Tawasul yang di nyatakan sebagai bid'ah, apakah tawsul yang di anggap bid'ah itu yaitu bertawasul kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan apa-apa yang tidak di perbolehkan dalam syariat tidak ada anjuran / izin dari syariat agar seseorang menjadikan hal itu sebagai wasilah, namun di jadikan sebagai wasilah maka ini sifatnya bid'ah 

contohnya bertawasul dengan mengatas namakan kedudukan seseorang di sisi Allah, yaa Allah berkat kehormatan nabimu, maka aku minta kepadamu agar engkau menyembuhkanku misalnya yaa Allah dengan kemuliaan fulan yang shalih atau dengan hak mereka dan yang semisalnya atau dengan kehormatan mereka ini semua adalah cara-cara tawasul yang tidak di syariatkan hukumnya bid'ah

3. Tawasul Syirik: yaitu mengambil orang yang mati sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, berdoa kepada mereka dan memohon pemenuhan kebutuhan seseorang dari mereka, memohon pertolongan dengan mereka, dan perbuatan- perbuatan yang semisal lainnya.

yaitu menjadikan orang yang sudah mati sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, artinya si mayyit ini, di anggap bisa mendekatkan seseorang kepada Allah sedekat-dekatnya, walaupun orang yang bersangkutan itu tidak meminta secara langsung kepada si mayyit misalnya berdoa di dekat kuburannya si mayyit ini atau dia melakukan shalat di dekat kuburannya si mayyit shalatnya dia lakukan lillahi ta'ala akan tetapi dia berharap melalui mayyit ini atau dia berharap si mayyit ini akan mendekatkan dia kepada Allah sedekat-dekatnya, dia mengharapkan bahwa dengan beribadah di dekat kuburannya akan lebih baik lebih mengandung berkah atau dia mengharapkan syafa'at dari orang-orang yang sudah meninggal dunia 

Demikian juga apabila si mayyit itu langsung di mintai doa atau syafa'at berarti ini jelas-jelas mengarahkan beribadah kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sebagaiman di dalam surat yunus ayat 18, Allah menceritakan hakikat tujuan dan maksud orang-orang musyrik beribadah didekat berhala-berhala mereka 

...وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan..." (Surat Yunus : 18)

mereka mengibadahi / mengabdikan diri mereka kepada selain Allah, mempersekutukan Allah dengan apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat kepada mereka dan tidak juga memberikan manfaat kepada mereka lantas apa maksud dari ibadah mereka

Jadi di sini ibadahnya ini bukan dalam rangka mengharapkan manfaat dari yang di ibadahi secara langsung dan bukan karena berharap bahwa yang di ibadahi itu akan  melindungi mereka dari bahaya bukan

Tapi tujuan mereka وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ mereka mengatakan yang kami sembah-sembah ini semata-mata kami mengharapkan syafa'atnya Allah di hadapannya nanti, jadi mereka kira bahwa berhala-berhala itu yang merupakan jelmaan atau simbol dari orang-orang shalih yang telah meninggal dunia itu tidak di anggap bisa memberikan manfaat dan mudharat secara langsung tidak, akan tetapi di harapakan meminta untuk mereka sesuatu yang bermanfaat bagi mereka atau memintakan agar mereka di hindarkan dari hal-hal yang berbahaya, ini yang dimaksud dengan syafa'ah jadi yang di harapkan dari berhala itu adalah syafaatnya

Maksudnya jasanya si orang shalih yang telah meninggal tadi yang di simbolkan dalam berhala tadi di harapakan untuk memintakan manfaat bagi yang mengibadahinya memintakan manfaatnya kepada Allah demikiann juga di harapkan agar si berhala memintakan perlindungan bagi orang yang mengabdi kepadanya alias di harapkan syafaatnya atau sebgaimana yang di jelaskan dalam surat az-zumar ayat 3

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ

Adapun orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali mereka, pelindung-pelindung, penolong-penolong mereka,

Alasannya mereka memperlakukan selain Allah perlakuan seperti itu apa adalah karena diyakini mereka itu bisa mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya

Jadi inilah hakikat perbuatan syirik yang di lakukan oleh orang-orang jahiliyyah, tarolah mereka mempersekutukan Allah dengan apa yang mereka namakan alihah maka hari ini yang di persekutukan dengan Allah itu tidak lagi di namai dengan alihah namun hakikatnya adalah alihah, alihah jamak dari ilah aritnya yang di ibadahi

Jadi yang di ibadahi hari ini tidak di gelari sebagai tuhan, akan tetapi gelarnya adalah jauh berbeda walaupun hakikatnya mereka itu di pertuhankan oleh para penyembahnya mungkin gelarnya adalah sayyid, gelarnya adalah kiyai, gelarnya adalah wali, atau siapapun itu gelarnnya yang jelas apabila perlakuan seseorang kepada orang yang sudah meninggal itu seperti perlakuannya orang-orang musyrik terhadap berhala mereka, maka sesungguhnya orang yang sudah meninggal itu di anggap sebagai tuhan (ilah), dan ini jelas perbuatan yang sangat besar bahayanya 

Demikian

والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip editor Oleh Abu Uwais

Proudly Powered by Abu Uwais