PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 10 Februari 2020

YORDANIA DALAM KENANGAN

by Rory Rachmad  |  at  10 Februari

Kami tiba di bandara Queen Alia ketika malam mulai merambat tengah malam. Suhu Udara kala itu 8 derajat celsius, cukup dingin bagi saya orang Batam yang selalu berpanas ria dengan suhu udara yang rata-rata di atas 20-30 derajat.

Pemandangan awal yang kami lihat adalah wajah-wajah sebagian orang Yordania yang lebih mirip dengan wajah orang turki dan Eropa. Putih bersih dan gagah-gagah. Boleh jadi telah terjadi percampuran dengan turki dan Eropa Wallahu a'lam.

Yordania klasik adalah negeri tempat berbagai kerajaan besar masa lalu,silih berganti mulai dari kerajaan Edom, Mua'ab, kerajaan Ammon dan kerajaan Nabath.

Dalam perjalanannya silih berganti bangsa-bangsa besar pernah menguasainya, dari Mesir kuno setelah menaklukkan Babilonia dan Hitti, Bani Israel yang kemudian dikalahkan oleh Bangsa Mu'ab, pernah pula dibawah kendali kekaisaran-kekaisaran kuno Yunani,Persia, Romawia maupun Bizantium.

Lepas dari itu Setelah fase kemunduran Kekaisaran Romawia, Yordania berada di bawah kendali kerajaan Arab Ghassan di abad ke-7.

Karena kedekatannya dengan Damaskus, Yordania pernah menjadi salah satu daerah penting bagi Kekhalifahan Bani Umayyah di era keemasannya.

Pada abad ke-11 Yordania pernah porak poranda disebabkan perang Salib yang berhasil mengalahkan dinasti Bani ayyub, pernah pula jadi sasaran kekejaman pasukan Mongol yang datang bagai air bah mengalahkan dinasti Mamluk. Terakhir-sebelum era Yordania modern negeri ini pernah dibawah kendali Dinasti Turki Utamani sejak tahun 1516 hingga 1918.

Yordania era baru di bawah pimpinan Raja Abdullah II yang merupakan keturunan dari Syarif Husain yang pernah berkuasa di Mekah sebelum dikalahkan pasukan Muhammad Bin Saud pendiri Saudi I.

Dinegeri yang tak memiliki sumber daya alam minyak maupun gas sebagaimana kebanyakan negeri Arab lainnya ini, Yordania hanya mampu bergantung dengan sektor pariwisata dan pajak belaka. Kalaupun ada sektor pertanian dan industri maka jumlahnya kecil sekali. Karena itulah pemerintah bekerja keras membangun sektor pariwisata ini dengan sungguh-sungguh.

MENGUNJUNGI PETRA

Hari kedua di Yordania kita berkunjung ke Petra yang jaraknya 4 jam dari hotel. petra adalah bangunan yang di pahat dalam gunung-gunung yang dilembah tersebut.

Menurut DR Ali Akbar Arkeolog dari UI,
Petra di Yordania merupakan salah satu peninggalan arkeologi terkemuka di dunia. Situs ini masuk dalam daftar Warisan Dunia (World Heritage) UNESCO dan salah satu The New Seven Wonders of the World.

Petra atau Batra ibu kota Bangsa Nabatea atau Nabataean atau Anbath. Bangsa ini menguasai wilayah luas yakni selatan Suriah, Yordania, sampai Aqaba. Nabatea berjaya pada abad ke-4 Sebelum Masehi (SM) sampai abad ke-1 Masehi. Petra menjadi perlintasan dagang antara Suriah di timur, Laut Tengah dan Eropa di utara, Mesir di barat, dan Arab Saudi di selatan.

Di Petra banyak bangunan monumental yang dibuat dengan cara memotong dan memahat dinding batu atau tebing gunung. Sebagai kota dengan banyak pedagang antar-bangsa, maka bangunannya pun percampuran gaya Suriah, Mesir, Yunani, Romawi, dan lainnya. Kemampuan dan keterampilan mengukir batuan sandstone menghasilkan istana megah, altar, rumah, makam, gedung teater, tempat religi, termasuk sistem pengairan.

Kemampuan memahat dinding batu menjadi bangunan disebutkan dalam Al Quran berkenaan Nabi Saleh عليه السلام dan Kaum Tsamud. Apakah mereka tinggal di Petra? Peradaban Petra runtuh pada abad ke-1 M dan hanya tinggal puing bangunannya saja. Pada tahun 1812, J.L. Burckhardt, datang ke Petra dan melaporkan kepada masyarakat Eropa. Petra pun kembali ke pentas dunia. Apakah Petra merupakan sisa peninggalan Kaum Tsamud?

Dalam Al Quran Surah Al-A’raf (7): 73-79 dinyatakan Nabi Saleh عليه السلام diutus kepada Kaum Tsamud agar kaum tersebut menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Kaum ini mendirikan istana-istana dan memahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Namun, kaum ini membuat kerusakan di muka bumi dan tidak percaya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Kaum Tsamud ditimpa gempa dan menjadi mayat-mayat bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

Lokasi tempat tinggal Kaum Tsamud dapat diketahui dari hadits Nabi Muhammad ﷺ ketika Perang Tabuk tahun 630 M. Berkenaan perang ini, antara lain turun ayat Alquran Surah At-Taubah (9): 117-118. Tabuk saat ini provinsi di utara Arab Saudi dan di utara Arab Saudi terdapat Yordania. Tabuk berbatasan dengan Provinsi Madinah di selatan. Dalam Perang Tabuk, Rasulullah ﷺ melintasi Al-Hijr sekitar 400 kilometer dari Madinah dan 500 kilometer dari Petra.

Hijr atau Al-Hijr atau Hegra oleh Pemerintah Arab Saudi didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site (Mada’in Salih).

Dikutip dari buku Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia mengatakan ketika Rasulullah ﷺ singgah bersama mereka di Hijr dekat bekas permukiman Kaum Tsamud, maka orang-orang mencari air dari sumur-sumur yang dahulu Kaum Tsamud meminumnya.

Hijr atau Al-Hijr atau Hegra oleh Pemerintah Arab Saudi didaftarkan sebagai World Heritage dengan nama Al-Hijr Archaeological Site (Mada’in Salih). Mada’in Salih merupakan bahasa Arab yang berarti Kota Salih. Al-Hijr diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO pada 2008.

Al-Hijr sarat berbagai peninggalan arkeologi yang dibuat dengan cara memahat dinding batu. Peninggalan yang dapat disaksikan saat ini mirip yang terdapat di Petra. Selain itu, di daerah Al-Hijr yang kering ini ditemukan kota tempat tinggal yang dilengkapi dengan sumur sebagai sumber air dan oasis untuk kegiatan bercocok tanam.

Dengan mengacu pada hadits, maka Petra bukan tempat tinggal Kaum Tsamud. Kaum Tsamud tinggal di Al Hijr. Namun, peninggalan arkeologi yang dapat disaksikan saat ini di Al-Hijr sebagian besar merupakan peninggalan Bangsa Nabatea.

Wilayah Bangsa Nabatea mencakup Al-Hijr sebagai kota terbesar kedua setelah Petra. Dalam dokumen penominasian Al-Hijr sebagai Warisan Dunia, disebutkan Al-Hijr merupakan peninggalan peradaban Nabatea dari abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M.

Patut diperhatikan, periode Nabi Saleh lebih tua dibandingkan Nabi Ibrahim dan nabi lainnya seperti Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Musa, dan Nabi Isa عليهم السلام Nabi Ibrahim hidup pada peradaban Mesopotamia. Peradaban Mesopotamia tertua sekitar abad ke-40 SM atau 4000 SM. Sementara, peradaban Nabatea pada abad ke-1 M kurang lebih merupakan masa hidup Nabi Isa.

Situs atau lokasi Kaum Tsamud telah diketahui, tetapi peninggalannya masih dapat ditelusuri lagi. Dalam arkeologi, situs yang berkali-kali ditempati disebut multicomponent site.

Terdapat kemungkinan bagian luar dinding batu telah berkali-kali dipahat selama beberapa kali peradaban, sehingga pahatan yang tampak saat ini merupakan yang termuda usianya.

Peninggalan Kaum Tsamud kiranya dapat ditelusuri di area terbuka dekat dengan sumber air atau sumur dan berada di lapisan tanah di bawahnya yakni yang usianya lebih tua.

Kaum Tsamud merupakan pendahulu Bangsa Nabatea dalam konteks kemampuan memahat dinding batu. Singkatnya, Kaum Tsamud jauh lebih tua dibandingkan Bangsa Nabatea.

MENGUNJUNGI MU'TAH

Mu'tah adalah nama tempat bersejarah yang terletak di privinsi Alkara' Yordania, tempat terjadinya peperangan antara kaum Muslimin pada tahun ke 8 Hijriah yang berjumlah 3000 pasukan, melawan Kaisar Romawi di bawah pimpinan Heraklius dengan jumlah 200.000 pasukan gabungan dari orang-orang Romawia dan suku-suku Arab yang di bawah jajahannya.

Adapun sebab peperangan ini terjadi karena Syarhabil bin Amru Alghassani membunuh utusan Rasulullah Al-Harist bin Umair yang membawa surat kepada raja Romawia atau peguasa Negeri Bushra.

Tentunya tindakan membunuh duta adalah tindakan brutal yang membuat Nabi menuntut balas kematian tersebut dengan mengirimkan pasukannya.

Perang Mutah yang tak seimbang ini membuat 3 jendral kaum muslimin kala itu-Zaid bin Haritsah, Ja'far bi Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah tewas terbunuh sebagai syuhada.

Maka setelah itu pasukan Islam diambil alih kepemimpinannya oleh Khalid bin Walid si pedang Allah yang terhunus dan berhasil menyelamatkan tentara dari kehancuran.

Khalid merubah strtegi tempur dengan tetap bertahan di hadapan lautan musuh dengan cara memindahkan setiap pasukan dari tempatnya. Beliau menjadikan pasukan yang di belakang menjadi di depan dan pasukan di kana menjadi di kiri, hingga membuat Romawia ketakutan karena mengira bantuan dari Madinah telah datang.

Dengan kecerdasannya Khalid mundur teratur tampa membelakangi musuh , sementara musuh tak berani mengikuti ke belakang karena khawatir kaum muslimin membuat jebakan untuk mereka dan menghabisi mereka di tengah padang pasir.

Dengan itu selamatlah pasukan kaum muslimin. Adapun jumlah yang terbunuh dari kaum muslimin hanyalah 12 orang saja, tak sebanding dengan banyaknya korban terbunuh dari pihak Romawia.

KUBURAN JA'FAR DAN ZAID BIN HARITSAH

Konon dikabarkan Zaid dan Ja'far dikuburkan di Mu'tah yang dibangun di seberangnya Masjid, Wallahu a'lam dengan kebenarannya, Apalagi katanya kuburan Ja'far dipindahkan tulang belulalngnya ke lantai atas, membuat kita semakin meragukan kebenaran hal tersebut, sebab para syuhada tidak akan hancur tubuhnya di makan tanah.

Hal lainnya yang membuat tanda tanya besar, mengapa hanya dua kuburan, mana kuburan Abdullah bin rawahah dan sembilan sahabat lainnya yang gugur di sana?

LEMBAH SYUAIB DAN MADYAN

Sepulang dari Jerusaleem kami bertolak menuju lembah Syuaib di di daerah yang bernama Madyan. Konon kabarnya di sana ada maqam atau tempat Nabi Syuaib mertua Nabi Musa.

ketika Musa melarikan diri dari kejaran Firaun. Sesampainya di Madyan, Nabi Musa keletihan dan bersandar di batang sebuah pohon yang rindang dalam keadaan lapar dan haus ketakutan.

Kala itu Musa melihat sekawanan pengembala yang sedang mengembalakan domba-dombanya. Di sisi yang jauh Musa melihat dua orang wanita menunggu antrian pengembala yang sedang mengiai wadah-wadah air. Musa segera membantu kedua wanita tersebut dan mengisi kantong-kantong air mereka dengan cekatan hingga keduanya kembali ke rumah lebih dini dari biasanya. Nabi Syu'aib heran dan menanyakan apa yang terjadi dengan mereka.

Singkat cerita Syu'aib menawarkan Musa menikahi salah seorang puterinya dengan bekerja mengembalakan kambing-kambingnya selama 8 tahun. Musa menyempurnakannya menjadi 10 tahun, selepas itu Musa pun bertolak menuju Mesir.

Sebagaimana di Yordania ada kota Madyan, Anehnya di Saudi juga ada kota Madyan, semua mengklaim di tempat merekalah Madyan yang orIginal, wallahu a'lam kita tak tau mana yang benar.

Boleh saja semuanya tak benar dan yang lebih penting dari itu, bahwa kita beragama tidak pernah dikaitkan dengan maqam Nabi maupun orang soleh. Sekalipun benar adanya itu maqam Nabi atau Shabat, tak ada hubungannya dengan sikap berlebihan dalam menziarahi makam mereka, dengan memgambil berkah ataupun berdoa meminta pada mereka. Apalagi jelas-jelas kebanyakan maqam tersebut-menurut pemandu tempatan-kosong dari jenazah,hanya simbol belaka.

Bangunan Islam telah sempurna, tidak bergantung pada maqam Nabi ataupun Sahabat, kita hanya disuruh untuk meneladani mereka dan ikut cara beragama mereka secara utuh tampa menambah-nambahi ataupun mengurang-ngurangi

Ummat disuruh Allah agar bergantung pada Al Quran dan Sunnah Nabi, menjadikannya sebagai pedoman, bukan hiasan ataupun retorika tanpa amal.

GUA ASHABUL KAHFI

Sejak dari Jerussaleem hujan terus menerus turun tiada henti, cuaca dingin minus -2 derajat, jalan-jalan mengenang air bahkan sesekali turun hujan salju mengenai kaca depan mobil kita. Bus kami tetap bertolak menuju Yordania.

Setelah melewati Lembah Syuaib kami bertolak menuju Gua Ashabul Kahfi yang termuat dalam Al Quran. Tujuh pemuda yang beriman kepada Tuhannya melarikan diri dari kejaran Kaumnya dan tidur digua tersebut selama 309 tahun.

Para pemandu wisata menyebutkan di dalam gua itu ada kuburan dan ada tulang-tulang mereka yang diperlihatkan dari sisi kaca transparan ukuran kecil.

Saya mencoba melihat apa yang mereka sebut tulang belulang, namun yang saya temukan ada dua tulang kaki kecil yang tak jelas apakah asli atau tidak, tulang kaki binatang atau manusia, semua serba tak jelas karena gelap dan terbatasnya cahaya senter HP.

Sekiranya itu tulang Ashabul Kahfi, logika saya menolaknya sebab kalaulah para syuhada saja dijaga agar jasad mereka tidak hancur di makan tanah, apalagi sekaliber Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang termuat dalam Alquran.

Lebih aneh lagi ternyata gua Ashabul Kahfi juga di klaim ada di Turki dan adapula di Iraq, subhanallah, yang mana satu yang original, atau malah semuanya tak ada yang original hanya sebagai bentuk talbis mengelabui orang awan agar ramai datang berkunjung. Wallahu a'lam.

Orang awam bagaikan kerbau dicocok hidungnya, meski ingin selalu berbuat kebaikan, namun terkadang niat mereka tak sampai karena menyelisihi syariat nabi. Begitu mudahnya mereka percaya, apapun yang disebutkan dan diceritakan pemandu, karena mereka tidak punya timbangan ilmu.Di mana ada tempat yang dianggap ada maqam atau peninggalan bersejarah, disana pula mereka mengambil berkah dengan mengusap-ngusap dinding, maupun tanah, berdoa bahkan terkadang sholat.

Alhamdulillah atas nikmat ilmu dan nikmat sunnah.

Hotel Ramada, tepian Laut Mati Yordania
15 Jumadal Akhir 1440/ 9 Feb 2020
Abu Fairuz






© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais