PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 24 Juni 2020

Perang Badar

by Rory Rachmad  |  in Kajian Serial Kultum Ramadhan at  24 Juni

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Ramadhan 1441 H / 11 Mei 2020 M
👤 Ustadz Rasyid Abu Rasyidah, M.Ag.
📗 Kajian: Serial Kultum Ramadhan ke-18
🔊 Perang Badar
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Ramadhan1441-18
〰〰〰〰〰〰〰 

PERANG BADAR

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه  ومن ولاه. وبعد

Ikhwātal Iman Ahabakumullāh, saudara-saudaraku sekalian yang mencintai sunnah dan dicintai oleh Allāh Azza wa Jalla.

Kembali (in syā Allāh) kita lanjutkan Majelis Syahri Ramadhān kita, pada pertemuan yang ke-18.  

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu kejadian besar dalam sejarah Islām yakni Perang Badar.

Perang Badar lebih dikenal dengan Badr Kubra yakni perang yang terjadi pada bulan Ramadhān pada tahun ke-2 Hijriyyah.

Sejatinya perang Badar ini memiliki beberapa nama, di sana ada Badr Udzma, Badr Qital dan di antara nama yang masyhur adalah Yaumal Furqān. 

Yaumal Furqān ini sejalan dengan apa yang Allāh firmankan dalam surat Al Anfal ketika Allāh mengatakan:

وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ  وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ

"Dan pada hari Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqān, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al Anfāl: 41)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa disebut Yaumul Furqān karena di situlah Allāh tampakkan perbedaan yang jelas antara yang hak dan bathil.

Cerita ringkasnya adalah ketika kaum muslimin mendapatkan kesulitan berkepanjangan (intimidasi yang tiada henti) yang membuat  mereka terusir dari tanah kelahiran (Mekkah) dimana mereka meninggalkan harta dan keluarga.

Ketika kaum muslimin hijrah ke kota Madīnah, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah merencanakan sebuah penyergapan. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam telah merencanakan mengambil harta rampasan, ketika orang-orang kafir Quraisy berdagang ke kota Syām.

Kita tahu bersama bahwa mata pencaharian utama (orang-orang kafir Quraisy) adalah berdagang ke kota Syām atau Yaman.

Dengan jadwal yang sudah diprediksi, dengan waktu yang sudah diperkirakan, saat orang-orang kafir Quraisy pulang dari negeri Syām (turun ke selatan) menuju kota Mekkah mereka membawa perbedaraan yang luar biasa banyak.

⇒ Negeri Syām secara geografis letaknya di utara kota Madīnah.

Sejarah mencatat mereka (orang-orang kafir Quraisy) membawa kurang lebih 50.000 Dinnar dan 1000 ekor unta dengan 40 orang yang menyertainya. 

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajak sebagian kaum muslimin, Beliau telah mempersiapkan dan memprediksi waktunya. Kala itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam hanya mengajak sebagian kaum muslim saja karena Beliau tidak berniat untuk berperang. 

Ketika itu terkumpul pasukan kaum muslimin (rombongan kaum muslimin) sekitar 300 orang.

Ternyata Abū Sufyān mendengar dan mencium rencana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Kemudian dia (Abū Sufyān) mengutus seseorang untuk kembali ke kota Mekkah dan mengabarkan kepada kaumnya bahwa kafilah dagang mereka akan diserang oleh kaum muslimin.

Hal ini membuat amarah murka, kemudian Abū Jahal berangkat bersama rombongannya membawa kurang lebih 1000 orang dengan segala jenis perlengkapannya, ada sekitar 600 orang berpakaian lengkap dengan baju jirahnya, begitu pula pasukan berkuda. 

Ketika Abū Jahal sampai dan berkumpul dengan kafilah dagang mereka, mereka sudah dalam posisi siap tempur, sementara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan pasukan kaum muslimin tidak demikian. 

Ketika kaum muslimin benar-benar dihadapkan pada sebuah peperangan, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pun berdo'a kepada Allāh Azza wa Jalla.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ 

"Yā  Allāh, penuhilah janji-Mu kepadaku. Yā Allāh berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Yā Allāh, jika Engkau membinasakan pasukan Islām ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini." (Hadīts riwayat  Muslim  nomor 1763)

Ini do'a yang masyhur, dalam sebuah riwayat dikatakan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pun mengangkat ridā'nya tinggi-tinggi, bahkan tampak ketiaknya dan terjatuh ridā'nya.

Kemudian Abū Bakar mengatakan: 

"Wahai Nabi Allāh, cukup....cukup, munajatmu telah didengar oleh Rabb-mu. Pasti akan didengar oleh Rabb-mu."

Perang tersebut pecah pada tanggal 17 Ramadhān tahun ke-2 Hijriyyah dan menewaskan kurang lebih sekitar 70 orang dari pasukan Quraisy, di antaranya adalah pemimpin mereka Abū Jahal dan pembesar-pembesar lainnya, seperti Utbah bin Rabi'ah dan lain sebagainya.

Sementara kaum muslimin yang jumlahnya sekitar 300 orang, 14 orang syahid dan mayoritas di antaranya adalah dari orang-orang Anshar.

Ikhwātal Iman Ahabakumullāh,

Kemenangan ini sejatinya adalah hadiah yang luar biasa (special gift) dari Allāh Azza wa Jalla, atas kesabaran kaum muslimin karena kaum muslimin telah menahan derita, menahan intimidasi dan lain sebagainya.

Sehingga kemenangan ini membuat kaum muslimin memiliki wibawa (tidak lagi diremehkan oleh orang-orang Mekkah), kemudian Madīnah memiliki kekuatan dan tidak diremehkan dan dipandang sebelah mata lagi oleh mereka (orang-orang Mekkah).

Apa yang bisa kita petik dari perisitiwa ini?

Satu faedah yang perlu kita garis bawahi adalah tentang *"Takdir dari Allāh Azza wa Jalla"*. 

Seperti kita ketahui, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak meniatkan ini sebagai peperangan, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam meniatkan ini sebagai penyergapan. Tapi ternyata takdir Allāh berkata lain.

Allāh pertemukan dengan momentum perang di sana. Allāh hadapkan dengan sebuah peperangan, hal yang tidak bisa dihindari oleh kaum muslimin. Hingga sesuatu yang menakutkan membuahkan sebuah keberhasilan.

Kita sekarang telah merencanakan Ramadhān tahun ini demikian dan demikian, dengan rencana yang matang bersama dengan orang-orang tersayang.

Kita menyiapkan segala sesuatu yang indah (dalam pandangan kita) tapi ternyata kita dapati Ramadhān ini mungkin berbeda. Adanya kesulitan, adanya ujian, adanya musibah, adanya wabah. 

Bahkan mungkin orang yang kita kasihi sudah tidak ada lagi, padahal Ramadhān tahun lalu masih bersama kita, padahal bulan lalu masih bersama kita.

Kita harus yakin bahwa takdir Allāh yang terbaik, pasti akan ada kemenangan di depan kita semua. Dan harus kita pahami bersama, bahwa takdir Allāh adalah yang terbaik dan tugas kita adalah meyakini segala ketetapan Allāh tersebut.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

____________________


© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais