Senin, 18 Februari 2019

Halaqah 15 | Kesimpulan

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  18 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 27 Rabi’ul Awwal 1440 H / 05 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 15 | Kesimpulan
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-15
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, KESIMPULAN


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita telah membaca hadīts -hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil dari hadīts nomor  1 hingga nomor 15.

Setelah kita membaca hadīts-hadīts tersebut dapat kita simpulkan beberapa hal diantaranya :

√ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah seorang yang memiliki tinggi ideal (tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, akan tetapi lebih dekat dengan ketinggian).

√ Kulit Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam putih kemerahan, rambut Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sedikit bergelombang, dan saat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal uban Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak lebih dari dua puluh helai.

√ Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam juga memiliki mulut yang relatif besar.

⇒ Kata para ulamā itu menunjukan akan kefasihan yang Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam miliki.

√ Putih Mata Beliaupun ada sedikit warna merahnya, sebagian shahābat mengatakan bahwa wajah Beliau seperti bulan, dalam bentuk dan pancaran sinarnya bukanlah seperti pedang, walaupun sebagian ulamā mengatakan bahwa wajah Beliau tidak bundar seratus persen.

√ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun juga seorang yang kuat dan perkasa, dada Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bidang (luas), persendian Beliau besar, bahkan kepala Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga besar.

Saat berjalanpun Beliau berjalan cukup cepat, seakan-akan sedang berjalan menurun.

Terkadang rambut Beliau mencapai pundak terkadang sampai pada daun telinga, dengan tumit yang tidak banyak dagingnya. Setiap orang yang memangdangnya akan merasa sejuk dan bahagia.

Demikian sifat-sifat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam yang bisa saya rangkungkan dari hadīts-hadīts yang dinyatakan shahīh oleh sebagian ulamā.

Dan pembahasan sifat-sifat fisik Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, akan bermanfaat bagi seseorang ketika ia bermimpi atau saat nanti diakhirat.

Jika  ia melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan ciri-ciri tersebut maka orang tersebut telah benar-benar melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Akan tetapi, jika ada orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam lalu ciri-ciri yang disebutkan tidak sama dengan hadīts-hadīts shahīh yang kita perlajari atau orang tersebut hanya mengatakan:

"Saya bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam mimpi dan Beliau berbentuk seperti cahaya dan mengatakan perkataan seperti ini.'

Maka kita katakan kepada orang tersebut bahwa, "Ia tidak bermimpi bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, bisa saja ia bertemu dengan syaithān yang mengaku dengan nabi."

Lalu jika ada yang bertanya, setelah pembahasan-pembahasan yang dilalui ini, "Bagaimana dengan sifat-sifat beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadīts-hadīts yang dhaif?"

Kita katakan bahwa sifat-sifat beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam yang teriwayatkan dalam hadīts dhaif, tetap kita fahami dan kita hafalkan, namun kita tidak tidak bisa memastikan kebenarannya 100%.

Yang bisa kita katakan adalah, "Mungkin atau boleh jadi atau bahasa-bahasa yang semisalnya".

Dan sebagaimana telah lalu penjelasannya, bahwa selain halal dan haram serta hukum-hukum agama, para ulamā hadīts sedikit memberikan kelonggaran dalam meriwayatkan hadīts.

Kemudian dalam pertemuan selanjutnya kita akan membaca hadīts-hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang berada pada punggung Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana bentuknya, apa wujudnya, dimanakah tempatnya dan apa warnanya?

Al Imām At Tirmidzī memberikan judul untuk pembahasan tersebut dengan mangatakan:

بَابُ مَا جَاءَ فِي خَاتَمِ النُّبُوَّةِ

_"Bab yang menyebutkan riwayat-riwayat tentang khātam atau cap kenabian"_

Dalam bab ini, Al Imām At Tirmidzī akan membawakan sekitar delapan hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian ini.

Dari delapan hadīts ini, tujuh hadīts dihukumi shahīh atau kuat oleh sebagian ulamā, dan satu hadīts yang lainnya dihukumi dhaif dengan dua sebab yang menjadikan hadīts tersebut dhaif.

Untuk pembahasan rincinya, in syā Allāh akan kita bahas pada pertemuan selanjutnya.

Wallāhu A'lam Bishawāb

Semoga bermanfaat.

🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 13 | Hadits 14

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  18 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 25 Rabi’ul Awwal 1440 H / 03 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 13 | Hadits 14
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-13
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 14


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada pertemuan ke-13 ini, kita akan membaca hadīts ke-14 yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Beliau berkata :

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، الْمَعْنَى وَاحِدٌ، قَالَا: أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الطُّفَيْلِ يَقُولُ: «رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا بَقِيَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ رَآهُ غَيْرِي» ، قُلْتُ: صِفْهُ لِي، قَالَ: «كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحًا مُقَصَّدًا»

Imām At Tirmidzī rahimahullāh membawakan hadīts keempatbelas dari shahābat Abū Thufail radhiyallāhu ta'āla 'anhu (shahābat yang paling terakhir meninggal) lengkap dengan sanad periwayatannya.

Abū Thufail radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata:

"Aku adalah seorang yang berkesempatan melihat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.  Di atas muka bumi ini, tidak ada lagi orang yang pernah melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam yang masih hidup kecuali aku saja."

Said Al Jurairi bertanya kepada Abū Thufail:

"Tolong gambarkan sosok Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada ku!"

Abū Thufail radhiyallāhu ta'āla 'anhu menjawab :

"Beliau adalah seorang yang berkulit putih, tampan, dan ideal."

(Hadīts shahīh riwayatkan Imām Muslim nomor 2340)

Pembahasan lafazh hadīts:

⑴ Beliau adalah seorang yang berkulit putih.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa Nabi kita, Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki kulit yang putih, akan tetapi ada sedikit warna merah pada kulit Beliau. Sebagian ulamā mengibaratkan dalam bahasa arab: بياض مشرب بالحمرة (putih yang ada warna merahnya).

⑵ Tampan.

Kata "malīhan" (مليحا) dalam hadīts ini saya artikan tampan, karena Syaikh Abdurrazāq ketika menerangkan lafazh ini beliau  mengatakan:

 الجمال والحسن في هيئته وصفته وبشرته

"Tampan dan indah baik dari penampilan, sifat sampai kulit Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam."

⑶ Ideal.

Kata "muqashadan" (مقصدا) saya artikan dengan ideal, karena makna kata tersebut lebih dekat kepada makna ideal.

Jika dilihat dari sisi ketinggian, maka ketinggian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) merupakan ketinggian yang ideal, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, namun pertengahan, di antara keduanya. Dan lebih dekat kepada ketinggian.

Kemudian dari sisi warna kulitnya, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga ideal, tidak putih murni juga tidak hitam atau coklat, akan tetapi kulit Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berwarna putih yang bercampur dengan sedikit warna merah.

Kemudian dari sisi rambut, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berambut ideal, tidak keriting dan juga tidak lurus 100%, akan tetapi rambut Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam lurus dengan sedikit bergelombang.

Dari sisi bentuk badan, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam pun ideal, tidak kurus juga tidak gemuk. (Wallāhu A'lam)

Kemudian ada sedikit pelajaran tentang perkataan Abū Thufail radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata:

"Tidak ada lagi shahābat yang pernah melihat beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, yang saat ini masih hidup, kecuali aku saja."

Perkataan beliau ini, merupakan isyarat bahwa tidak ada orang yang pernah melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam keadaan hidup sekarang kecuali beliau sendiri.

Dan ini membantah beberapa orang yang mengatakan bahwa Nabi Khidir 'alayhissallām masih hidup, bahkan ada sebagian pendapat yang mengatakan, bahwa orang yang akan dibunuh oleh Dajjāl dengan digergaji kemudian dihidupkan lagi adalah Nabi Khidir 'alayhissallām.

Padahal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda :

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةٍ، لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ اليَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ أَحَدٌ

"Apa pendapat kalian tentang malam ini ? nanti seratus tahun lagi, orang-orang yang sekarang hidup, tidak akan tersisa lagi (semuanya akan mati)." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 601 dan Muslim nomor 2537)

⇒ Maksudnya adalah orang-orang yang hidup di saat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan itu, akan mati maksimal seratus tahun lagi.

Adapun orang-orang yang terlahir setelah beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan itu, tidak termasuk dalam hadīts ini.

Demikian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat, dan bisa diambil pelajaran.

Wallāhu A’lam.



🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 14 | Hadits 15

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  18 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Rabi’ul Awwal 1440 H / 04 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 14 | Hadits 15
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-14
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 15


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tidak terasa kita telah memasuki pertemuan yang ke-14, dari kitāb yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah.

Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts terakhir (hadīts nomor 15) dari pembahasan tentang sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Hadīts kelima belas ini akan menyampaikan kepada kita bagaimana sifat gigi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mulia serta keindahan yang bisa dinikmati oleh seorang yang melihatnya, saat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berbicara.

Beliau (rahimahullāh) berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ الزُّهْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ابْنُ أَخِي مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ كُرَيْبٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَجَ الثَّنِيَّتَيْنِ، إِذَا تَكَلَّمَ رُئِيَ كَالنُّورِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ ثَنَايَاهُ»

Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam hadīts ini membawakan riwayat dari Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā lengkap dengan sanad yang beliau miliki, ketika mensifati gigi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَجَ الثَّنِيَّتَيْنِ

"Gigi seri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam أفلج (memiliki jarak)."

Maksudnya, pada gigi seri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam baik atas maupun bawah yang semuanya berjumlah delapan, memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain ada celah di antara gigi-gigi seri Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⇒ Dan ini menunjukan keindahan pada gigi yang Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam miliki.

Kemudian Abdullāh ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā juga menyampaikan keindahan yang bisa terlihat dari keduanya saat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berbicara :

إِذَا تَكَلَّمَ رُئِيَ كَالنُّورِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ ثَنَايَاهُ

"Jika Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang berbicara seakan-akan ada cahaya (nūr) yang yang terlihat dari gigi seri Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Kedudukan Hadīts:

Hadīts ini merupakan hadīts yang dhaif, Imām At Tirmidzī pun tidak mengeluarkannya dalam kitāb Sunnan beliau.

Namun hadīts ini selain tercantum dalam kitāb Syamāil, Al Imām Ath Thabarani juga mencantumkannya dalam Al mu'jam Al Kabīr dengan nomor 12181 dan Al Mu'jam Al Ausath dengan nomor 767.

Apa sebab hadīts ini didhaifkan?

⇒ Kedhaifan hadīts ini disebabkan karena Abdul Azīz ibnu Abī Tsābit Al Juhriy, dia adalah seorang rawi yang matrūk (ditinggalkan hadītsnya).

Dan beliau berubah menjadi dhaif (lemah)  karena  kitāb-kitāb yang beliau miliki terbakar.
Setelah kitāb-kitāb beliau terbakar, beliau memberikan hadīts dari hafalannya, sehingga banyak sekali kesalahan yang beliau timbulkan. (Hal ini bisa dilihat dalam kitāb Taqrib At Tahdzib dengan nomor 4114)

Jika hadīts ini dhaif apa yang bisa kita simpulkan ?

Jika hadīts ini dhaif, maka saat kita mengambil pelajaran hadītsnya, kita cukup memahaminya, tanpa harus memastikan kebenaran isi hadītsnya.

Dengan kata lain, kita hanya bisa mengatakan "mungkin atau bisa jadi", gigi seri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya.

Dan kita pun tidak bisa memastikan bahwa gigi seri Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak memiliki jarak antara satu dengan yang lainnya.

Apalagi jika dalam hadīts dhaif tersebut, masih didukung hadīts-hadits yang lain.

Dan dahulu para ulamā hadīts semisal Imām Ahmad dan Abdurrahman bin Mahdi rahimahumāllāh mengatakan :

إذا روينا في الثواب والعقاب وفضائل الأعمال تساهلنا في الأسانيد والرجال، وإذا روينا في الحلال والحرام والأحكام تشددنا في الرجال

"Saat kami meriwayatkan hadīts yang berkaitan dengan pahala, hukuman dan fadhail a'mal (keutamaan amalan) kami mempermudah syarat rawinya. Namun jika kami meriwayatkan pada permasalahan halal dan haram serta hukum-hukum agama, kami memberikan kriteria dan syarat-syarat yang ketat terhadap para perawi hadītsnya."

Dan untuk memahami kaidah ini dengan baik, dan tidak terjadi salah faham, maka anda bisa memperlajari ilmu hadīts lebih dalam lagi.

Catatan :

Ketika dikatakan ada cahaya yang bisa terlihat melalui celah gigi seri Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ataupun wajah Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam seperti bulan.

Sebagian orang meyakini bahwa cahaya tersebut adalah cahaya asli, cahaya yang bisa menerangi sekelilingnya, ini merupakan keyakinan yang keliru.

Bahkan yang lebih parah lagi, ada orang yang berkeyakinan bahwa Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak memiliki bayangan, dikarenakan cahaya-cahaya tersebut.

Sekali lagi ini merupakan keyakinan yang keliru.

Coba kita simak kisah Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā berikut ini:

Suatu malam aku pernah kehilangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari ranjangku, ku coba untuk mencari Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dan akhirnya aku bisa menemukan kedua telapak kaki Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang tegak (karena sujud).

Saat itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berdoa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَبِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

"Yā Allāh.... Aku berlindung dengan keridhāan Mu dari kemurkaan Mu, aku juga berlindung dengan sifat pengampun Mu dari hukuman Mu, Aku pun berlindung kepada Mu dari Mu, aku tidak mampu untuk menghitung pujian yang harus aku berikan kepada Mu, Engkau terpuji, sebagaimana pujian Mu atas diri Mu."

Dari hadīts ini kita faham, bahwa sekeliling Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam saat itu tidak terang, sehingga Ibunda Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā harus berjalan meraba-raba.

Seandainya apa yang sebagian orang yakini itu benar, bahwasanya cahaya yang terdapat dalam hadīts-hadīts tersebut merupakan cahaya asli, tentu Ibunda Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā tidak perlu susah-susah meraba-raba untuk menemukan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam. (Kisah ini shahīh diriwayatkan oleh Imām Muslim dalam hadīts nomor 486)

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb

🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Sabtu, 16 Februari 2019

Pondok Pesantren Imam Syafi'i

by Rory Rachmad  |  at  16 Februari

Pembangunan Masjid Periode 2

suasana santri di dalam masjid sebelum shalat berjama'ah


foto Masjid tampak depan


halaman depan Pondok Pesantren Imam Syafi'i 

*Mau RUMAH di SURGA*
🏠🏡🏘🌇🌃🎇
Yang keindahannya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terbesit di hati manusia 
*Mari berkontribusi Tanah Wakaf*
Silahkan *MENSHARE* info ini, atau *BERINFAK*.
Berapapun yang kita infakkan, Allah akan membalasnya. Semoga Allah Bangunkan Anda rumah di surga.
"Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan bangun baginya rumah di surga". (Muttafaqun ‘Alaihi)

"Barang siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun sebesar sangkar burung, maka Allah akan bangunkan untukknya rumah di surga". (Hadits Riwayat Al-Bazzar, Ibnu Hibban dan Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ no 6128)

Batam, 20 Muharram 1439 H / 10 Oktober 2017 M

Sebelumnya

Kajian 112 | Rukun-Rukun Haji

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Rabi’ul Akhir 1440 H / 25 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUL HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 112 | Rukun-Rukun Haji
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H112
〰〰〰〰〰〰〰

SYARAT WAJIB HAJI


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita dari Kitāb Al Hajj matan Abū Syujā', pada pertemuan kali ini kita masuk pada halaqah yang ke-112.

Berkata penulis rahimahullāh:

(( وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية ووجود الزاد والراحلة وتخلية الطريق وإمكان المسير))

"Dan syarat wajibnya haji bagi seseorang ada tujuh macam: Islam, baligh, berakal, merdeka, memiliki bekal dan memiliki kendaraan, aman perjalanan, mungkin untuk melakukan perjalanan."

Di sini ada khilāf para ulamā tentang jumlah syaratnya dan yang disebutkan dalam kitāb ini (madzhab Syāfi'i) ada 7 (tujuh) macam.

Di antaranya:

⑴ Islām (الإسلام)

Karena ini terkait dengan ibadah, jadi jelas terkait dengan Islām atau tidaknya seseorang. Karena haji tidak diwajibkan bagi orang-orang kāfir.

⑵ Umurnya mencapai usia bāligh (البلوغ)

Mencapai umur bāligh dan telah kita bahas tentang tanda-tanda seorang mencapai derajat bulūgh atau mencapai usia bāligh bagi wanita dan laki-laki.

Di antara tanda-tanda seseorang sudah mencapai derajat bulūgh (bāligh):

√ Bagi wanita, dia telah hāidh.
√ Bagi laki-laki, dia telah ihtilam atau mimpi basah.

Jika seseorang telah sampai pada derajat bulūgh (bāligh), artinya dia telah dikenakan kewajiban-kewajiban syari'at.

⑶ Berakal (العقل)

Seseorang yang kehilangan akalnya (seperti) seorang yang gila maka tidak wajib bagi dia untuk melaksanakan ibadah haji.

⑷ Merdeka (الحرية)

Merdeka artinya bukan seorang budak karena ibadah haji ini terkait dengan ibadah  badaniyyah dan amaliyyah.

Sementara seorang budak tidak memiliki harta, karena hartanya adalah milik tuannya.

⑸ Dia memiliki bekal dan memiliki kendaraan (وجود الزاد والراحلة)

Dia memiliki bekal dan kendaraan yang mengantarkan dia pergi dan pulang dari tempat tinggalnya menuju tanah harām begitu pun sebaliknya.

Sedangkan pengertian bekal yang cukup disini (maksudnya) adalah;

√ Bekal untuk dia pergi dan pulang dari tempat tinggalnya menuju ke tanah harām.

√ Bekal selama berada di tanah harām.

√ Bekal yang dia tinggalkan untuk keluarganya (keluarga yang wajib dia nafkahi) selama dia berada di tanah harām.

⑹ Aman perjalanannya (تخلية الطريق)

Maksudnya perjalanan yang akan dia tempuh aman, karena pada zaman dahulu tidak ada pesawat seperti sekarang, zaman dahulu seseorang apabila ingin melaksanakan ibadah haji (ke Mekkah) dia harus melalui jalan darat, jalan darat tidaklah aman karena sering terjadi halangan atau gangguan seperti adanya penyamun dan lainnya.

Apabila jalan tersebut tidak aman, maka dia tidak memenuhi syarat dan menjadikan seorang tidak wajib untuk menunaikan ibadah haji.

Kecuali ada alternatif jalan lain, yang menunjukkan bahwasanya jalan tersebut adalah jalan yang aman untuk dilalui oleh orang tersebut.

⑺ Mungkin untuk melakukan perjalanan (وإمكان المسير)

Maksudnya memungkinkan seseorang melakukan (menempuh) perjalanan akan tetapi tidak memungkinkan dia untuk berjalan.

Misalnya:

Seseorang memiliki bekal dan kendaraan pada tanggal 06 Dzulhijjah akan tetapi perjalanan yang harus dia tempuh memerlukan waktu satu minggu.

Berarti orang ini sampai di sana (tanah harām) waktu pelaksanakan ibadah haji sudah selesai, maka orang ini tidak disyaratkan atau tidak diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak terpenuhi syarat ke-7 yaitu إمكان المسير (mungkin untuk melakukan perjalanan) dan sampai ditempat menunaikan ibadah haji tepat sebelum waktu pelaksanaan ibadah haji.

Di sana ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, di antaranya:

⑴ Apabila seorang anak kecil yang belum mencapai derajat bulūgh atau belum mencapai usia bāligh melaksanakan ibadah haji, maka ibadah hajinya belum dianggap sebagai ibadah haji Islām atau haji yang menggugurkan kewajiban dia di dalam melaksanakan rukun ibadah haji.

⑵ Seorang wanita, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah haji tanpa izin dari suaminya dan apabila dia diizinkan oleh suaminya maka dia wajib pergi bersama dengan mahramnya berdasarkan kesepakatan para ulamā.

Dan di dalam madzhab Syāfi'i diperbolehkan juga pergi apabila di sana ada sekumpulan wanita yang tsiqat (yang bisa dipercaya) sehingga dirasa aman di dalam perjalanan ibadah haji tersebut.

⑶ Untuk masalah kemampuan, di sana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan kalimat:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ

"Dan wajib bagi setiap orang untuk melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu untuk melaksanakannya."

Kalimat: ٱسْتَطَاعَة , ditafsirkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai: جود الزاد والراحلة , memiliki bekal dan kendaraan yang bisa mengantarkan dia pulang dan pergi dari tempatnya menuju ke tanah suci.

Istithā'ah ada dua macam yaitu:

⑴ Istithā'ah mubashirah (langsung), yaitu seseorang yang mampu melaksanakan ibadah haji oleh dirinya sendiri.

Dia bisa melaksanakan sendiri dan memenuhi 7 syarat yang telah dijelaskan di atas.

⑵ Istithā'ah ghairu al mubashirah, yaitu seorang memiliki kemampuan tetapi secara tidak langsung, artinya dia tidak mampu untuk melaksankan ibadah haji  (dirinya sendiri tidak mampu) namun mampu mewakilkan kepada orang lain.

Artinya dia memiliki māl yang dia bisa gunakan untuk memberikan satu taukil (mewakilkan) kepada orang lain dengan syarat wakil tersebut diperbolehkan.

Artinya orang tersebut memang sudah tidak mampu untuk melaksanakan ibadah haji maka boleh bagi dia untuk mewakilkan ibadah haji  kepada orang lain.

Hal ini sebagaimana hadīts dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala seorang wanita dari khats'am beliau bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ

"Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya kewajiban haji yang diwajibkan kepada para hamba-Nya telah berlaku bagi ayahku sementara dia dalam kondisi tua renta, tidak mampu berada di kendaraan. Apakah (boleh) saya menghajikan untuknya?" Beliau menjawab, "Ya."

Ini dalīl bolehnya mewakilan ibadah haji bagi orang yang tidak mampu untuk melaksanakan, baik itu karena sakit yang sukar untuk disembuhkan atau karena usia yang sangat tua sehingga tidak bisa melakukan perjalanan.

Demikian yang bisa disampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Kajian 111 | Muqaddimah (bagian 2)

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Rabi'ul Akhir 1440 H / 24 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUSH HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 111 | Muqaddimah (bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H111
〰〰〰〰〰〰〰

MUQADDIMAH HAJI 02


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh kita akan memasuki halaqah yang ke-111, masih pada muqaddimah haji dan kemarin sudah kita sebutkan bahwa apabila seorang mampu untuk melaksanakan ibadah haji, hendaknya dia bersegera untuk melaksanakannya.

Pertama karena dengan bersegera melepaskan dari kewajiban haji tersebut, kemudian di sana banyak keutamaan-keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan bagi orang yang menunaikan ibadah haji.

Bahkan dalam sebuah riwayat dari Umar bin Khaththāb yang diriwayatkan secara marfu':

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا

"Barangsiapa yang memiliki dzat (kemampuan/bekal/kendaraan) untuk sampai ke rumah Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan dia tidak menunaikan ibadah haji tersebut, maka dia tidaklah mati kecuali mati dalam keadaan Yahūdi atau Nashrāni."

Ini menunjukkan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang yang tidak memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji.

Oleh karena itu, para sahabat sekalian, apabila kita memiliki kemampuan dan memiliki niat, maka usahakanlah untuk kita bersegera melaksanakan niat tersebut, karena barangsiapa yang memiliki niat yang kuat maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan membantu niatnya.

Diantara keutamaan-keutamaan haji (untuk menjadikan motivasi bagi kita) agar bersegera melaksanakannya, di antaranya:

⑴ Haji bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barangsiapa melakukan haji ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla tanpa berbuat keji dan kefāsikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya." (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒ Artinya, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  bersihkan dari segala perbuatan dosa

Di dalam hadīts lain dari Amr ibnil Āsh tatkala beliau memba'iat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mensyaratkan agar diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Maka Beliau berkata:

 أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

_"Tidaklah engkau ketahui (wahai Amr bin Āsh, kata Rasūlullāh), bahwasanya Islām itu menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu, menghapuskan semua yang telah lalu, begitu pula hijrah menghapuskan yang telah lalu dan begitu pula haji menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu."_

⑵ Haji adalah sebab seorang dibebaskan dari api neraka.

Dalam sebuah hadīts dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ

"Di antara hari yang Allāh banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malāikat (Hadīts riwayat Muslim nomor 1348)

Artinya, Hari Arafah adalah hari dimana paling banyak Allāh Subhānahu wa Ta'āla membebaskan seorang hamba dari api neraka.

Ini adalah keutamaan yang sangat luar biasa bagi seorang yang pergi berhaji.

⑶ Balasan untuk orang yang berhaji adalah surga.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

"Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya dan haji yang mabrūr tidak ada pahala baginya selain Surga." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri (III/597, nomor 1773) dan  Muslim (II/987, nomor 1349)

⑷ Haji adalah amalan yang afdal.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu:

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya:

"Amalan apa yang paling afdhal?"

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

"Beriman kepada Allāh dan Rasūl-Nya."

Ada yang bertanya lagi:

"Kemudian apa lagi?"

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

"Jihād di jalan Allāh."_:-

Ada yang bertanya kembali:

"Kemudian apa lagi?"

"Haji mabrūr," jawab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1519)

⑸ Haji adalah jihād bagi para wanita yang paling afdhal.

Sebagaiman disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, Āisyah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

"Wahai Rasūlullāh, kami memandang bahwa jihād adalah amalan yang paling afdhal.  Apakah berarti kami harus berjihād?"

“Tidak, jihād yang paling utama (afdhal) adalah haji mabrūr,” jawab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1520)

Demikian yang bisa disampaikan pada muqaddimah yang ke-2 ini, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Kajian 113 | Rukun-Rukun Haji

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Rabi’ul Akhir 1440 H / 26 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUL HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 113 | Rukun-Rukun Haji
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H113
〰〰〰〰〰〰〰

RUKUN HAJI


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh pada pertemuan yang ke-113 ini kita masih melanjutkan Kitābul Hajj dan kita masuk pada pembahasan rukun-rukun ibadah haji.

Rukun adalah amalan yang apabila dia ada maka ibadah itu ada dan apabila dia tidak ada maka ibadah itu tidak ada.

Artinya apabila tidak dikerjakan (ditinggal) maka ibadah tersebut dianggap tidak ada atau tidak dianggap sama sekali (tidak sah).

Maka membahas rukun ini adalah perkara yang sangat penting untuk diketahui. Begitu pula pada ibadah-ibadah yang lain selain haji, seperti umrah, shalāt (misalnya).

Apabila seseorang meninggalkan rukun shalāt maka ibadah shalāt tidak dianggap artinya tidak sah.

Di dalam ibadah haji di sana dibedakan antara rukun dan amalan yang wajib, adapun amalan yang rukun apabila ditinggalkan maka tidak bisa ditutup dengan dam.

Adapun amalan-amalan yang masuk dalam kategori wajib maka apabila ditinggalkan dia  bisa digantikan dengan dam.

Berkata mualif rahimahullāh:

وأركان الحج أربعة: الإحرام مع النية والوقوف بعرفة والطواف بالبيت والسعي بين الصفا والمروة.

"Rukun haji ada empat; niat ihram, wuquf, thawāf di ka'bah, sai antara Shafā dan Marwah."

Di dalam madzhab syāfi'i, disebutkan dalam riwayat yang lain bahwa rukun haji ada enam, nanti kita akan sebutkan dua yang lainnya


• Rukun-Rukun Haji

⑴ Ihram dengan Niat (الإحرام مع النية).

Tatkala seorang masuk ke dalam atau ingin melaksanakan ibadah haji maka harus di dalam hatinya menegaskan niat bahwa dia bermaksud melaksanakan ibadah haji (masuk ke dalam nusukh atau ibadah).

Seorang tatkala berada di dalam miqāt, maka dia harus berniat dan menyatakan bahwa dia masuk di dalam nusukh, ini yang dimaksud dengan niat.

Adapun talafuzh hukumnya sunnah, sementara niat hukumnya rukun, ini perlu diperhatikan. Seorang yang berniat di dalam hatinya (dia berazam) untuk masuk ke dalam nusukh tapi dia tidak talafuzh maka hajinya sah, akan tetapi apabila seorang tidak berniat masuk ke dalam nusukh maka hajinya tidak sah.

Bagaimana bila seorang melewati miqāt, dia lupa untuk berniat, kemudian dia baru berniat setelah melewati miqāt ?

⇒ Haji orang tersebut tetap sah akan tetapi dia meninggalkan satu kewajiban yaitu kewajiban berniat di miqāt.

Karena wajibnya berniat di miqāt, dan dia harus membayar dam kecuali apabila dia kembali lagi ke miqāt kemudian dia berniat di situ.

Seorang apabila dia berniat walaupun dia berniatnya di kota Mekkah misalnya maka hajinya sah akan tetapi dia meninggalkan satu kewajiban yaitu berniat di miqāt.

⑵ Wuqūf (الوقوف بعرفة).

Wuqūf ini adalah berdiam diri di Arafah (satu tempat yang disebut dengan Arafah) dan Arafah ini ada batas-batasnya.

Batas-batas Arafah sudah ditentukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diajarkan kepada Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām dan kemudian dilaksanakan oleh orang-orang setelahnya.

Di sana ada beberapa sebab kenapa disebutkan Arafah.

√ Ada yang mengatakan (dalam tafsir) di Arafah Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberitahukan kepada Nabi Ibrāhīm alayhissallām.

√ Ada yang mengatakan di situ ada ta'aruf antara Nabi Ādam 'alayhissallām dengan Hawa.

Wuqūf di Arafah adalah salah satu rukun yang paling penting.

Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

اَلحَجُّ عَرَفَةُ

"Haji itu Arafah,"

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 889, Abū Dāwūd nomor 1949)

Kapan waktunya seorang dikatakan wuqūf di Arafah?

Di sana ditentukan waktunya oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

 الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ

“Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam Arafah sebelum terbit fajar, maka dia telah mendapatkan haji.” (Hadīts riwayat Tirmidzī nomor 889)

Waktunya mulai dari tergelincir matahari sampai waktu sebelum fajar hari berikutnya (hari 'Ied) maka apabila seseorang dia wuqūf di Arafah walau hanya sebentar maka sudah dikatakan sah.

Adapun yang wajib adalah seseorang wuqūf di Arafah dari setelah tergelincirnya matahari sampai terbenam matahari.

Akan tetapi apabila dia hanya sebentar (misalnya) hanya satu jam atau satu menit dan dia pergi sebelum terbenam matahari maka dia harus membayar dam.

Dan boleh apabila seorang yang terlambat (misalnya) seseorang wuqūf di Arafah dan dia baru datang setelah Isyā', maka ibadah hajinya sah karena dia telah melaksanakan rukun dari wuqūf

⑶ Thawāf di Ka'bah  (الطواف بالبيت).

Thawāf yang dimaksud di sini adalah thawāf ifadhah karena thawāf ifadhah adalah rukun haji.

Thawāf adalah mengelilingi kabah dengan tata cara tertentu yang sudah diatur oleh syari'at sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad dan menjadikan Ka'bah disebelah kirinya.

⑷ Sai antara Shafā dan Marwah (السعي بين الصفا والمروة)

Sai yaitu berlari-lari antara Shafā dan Marwah, dia berjalan dari bukit Shafā kemudian ke bukit Marwah sebanyak 7 kali, dimulai dari Shafā dan diakhiri di Marwah.

√ Dari Shafā ke Marwah satu kali.
√ Dari Marwah ke Shafa dua kali.
√ Dari Shafa ke Marwah tiga kali.
√ Sampai tujuh putaran.

Tambahan di dalam madzhab syāfi'i:

⑸ Mengundul atau memendekan rambut

Menurut madzhab syāfi'i ini adalah rukun.

⑹ Tartib

Melakukan secara berurutan, seperti:

√ Niat
√ Wuqūf di Arafah
√ Thawāf Ifadhah
√ Sai haji
√ Mencukur atau mengundul rambut.

Ini adalah enam rukun yang disebutkan di dalam madzhab syāfi'i di dalam rukun haji.

Demikian semoga bermanfaat dan kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya in syā Allāh.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Proudly Powered by Abu Uwais.