Minggu, 09 Juni 2019

Halaqah 15 | Memilih Istri Yang Shālihah

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Rajab 1440 H / 20 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 15 | Memilih Istri Yang Shālihah
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-15
~~~~~~~~~~~~

MEMILIH ISTERI YANG SHĀLIHAH


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral mustami'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-15 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul "Memilih istri yang shālihah".

Wajib bagi seorang laki-laki yang ingin menikah untuk memilih isteri yang shālihah yang memiliki agama yang baik, karena dia (wanita) adalah calon ibu dari anak-anaknya.

Dari ibunya, seorang anak akan belajar untuk pertama kali dan darinya pula seorang anak akan mengambil (mengkonsumsi) air susu, sehingga terbentuklah akhlaq dan perilakunya.

Ayah pun berperan, akan tetapi yang pertama kali membentuk karakter anak-anak adalah seorang ibu.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ.....

"Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu..... " (QS Al Baqarah: 221)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga memerintahkan laki-laki yang akan menikah untuk memilih calon isteri yang shālihah.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ؛ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Maka pilihlah seorang wanita yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5090, Muslim nomor 1466)

Selain dia seorang wanita shālihah dan berakhlaq baik, hendaknya pula dia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik dan shālih (artinya kedua orangnya, saudaranya, kerabatnya dikenal sebagai orang yang baik).

Lihat surat Maryam ayat 28.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

_"Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam) ! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina." (QS. Maryam: 28)

Maksudnya adalah, 'Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam), sesungguhnya bapakmu adalah orang mulia lagi shālih, tidak diketahui pernah melakukan perbuatan kejelekan dan tidak pernah melakukan perbuatan keji."

"Begitu pula ibumu, dia adalah wanita shālihah, sama sekali bukan pezina."

"Maka bagaimana bisa engkau membawa bayi ini (tanpa suami tanpa menikah) dan darimana dia datang kepadamu?"

Sekali lagi, anak sangat dipengaruh oleh ibunya. Anak pertama kali belajar dari ibunya, oleh karena itu ibu yang shālihah sangat berpengaruh positif pada anak-anaknya.

Jika ibunya shālihah:

√ Ibunya bisa mengajarkan Al Qurān.
√ Ibunya bisa mengajarkan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
√ Ibunya  yang mengajarkan akhlaq-akhlaq yang mulia.
√ Ibunya  yang mengajarkan mana yang halal mana yang haram.
√ Ibunya  yang mengajarkan (menceritakan) sirah para Nabi 'alayhimusallam dan orang-orang shālih.

Jika keshālihan agama ini diiringi dengan keutamaan rupa yang baik misalnya wanita itu cantik, maka ini merupakan kebaikan di atas kebaikan. Dan ini berpengaruh baik juga pada keturunan.

Tidakkah anda melihat bahwa Fāthimah putri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam datang kepada Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, jalannya bagaikan jalan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan perilakunya pun seperti perilaku Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan sifatnya seperti Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam (hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā).

Dan Nabi Yūsuf alayhissallām yang diberi setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia adalah cucu Sarah. Sarah adalah istri Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām dan beliau termasuk wanita paling cantik.

Di samping mempertimbangkan agama dan kecantikan, mempertimbangkan harta juga tidak dilarang dalam memilih calon isteri, karena harta tersebut biasanya akan kembali kepada anak-anak mereka.

Dan tidak mengapa jika kedudukan menjadi bahan pertimbangan bagi calon ibu karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikan dan agamanya, maka pilihlah agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts ini disebutkan empat hal, yang pertama adalah harta, keturunan, kecantikan dan agama. Jadi jika seorang laki-laki mendapatkan isteri shālihah, lalu cantik, kaya dan berasal dari keluarga yang baik maka ini adalah kebaikan di atas kebaikan (Māsyā Allāh).

Seandainya seorang laki-laki mendapatakan seorang wanita Quraisy yang shālihah, maka sungguh mereka adalah wanita-wanita terbaik. Mereka biasanya memiliki kasih sayang kepada anak dan tanggung jawab kepada para suami yang tidak dimiliki oleh wanita lain.

Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ ـ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

"Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang shālihah. Dia adalah wanita yang paling besar kasih sayangnya kepada anak di waktu kecil dan paling bertanggung jawab kepada suaminya." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 5082 dan Muslim nomor 2527)

Demikian pula seorang wanita hendaknya memilih calon bapak untuk anak-anaknya dari laki-laki yang shālih dengan sifat-sifat yang sama sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Kita harus ingat bahwa pasangan adalah teman seumur hidup, maka jadikanlah pasangan kita orang-orang yang betul-betul shālih atau shālihah, karena pasangan yang baik akan membuat hidup kita menjadi baik di dunia maupun diakhirat.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 14 | Pujian Orang Lain Kepada Anak-Anak Karena Kebaikan Yang Dilakukan Orang Tuanya

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 12 Rajab 1440 H / 19 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 14 | Pujian Orang Lain Kepada Anak-Anak Karena Kebaikan Yang Dilakukan Orang Tuanya
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-14
~~~~~~~~~~~~

PUJIAN ORANG LAIN KEPADA ANAK-ANAK KARENA KEBAIKAN YANG DILAKUKAN ORANG TUANYA


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma'asyiral mustami'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-14 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul "Pujian orang lain kepada anak-anak karena kebaikan yang dilakukan orang tuanya".

Amal shālih yang dilakukan kedua orang tua mendatangkan pujian yang baik bagi anak-anak tersebut. Sebaliknya, perbuatan amal buruk yang dilakukan kedua orang tua akan mendatangkan celaan, penghinaan bagi anak-anak tersebut.

Dan semua ini berpengaruh kepada emosional dan perasaan anak-anak.

Maka, wahai ayah, wahai ibu.

Janganlah menjadi penyebab timbulnya penghinaan orang lain terhadap anak-anak anda, karena sebab anda melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Apakah anda ridhā (wahai ayah, wahai ibu) jika orang lain berkata kepada anak-anak anda, "Hai anak maling, bapakmu adalah seorang maling," atau, "Bapakmu seorang pezina," atau, "Ibumu gampang sekali menerima tamu laki-laki," atau, "Ibumu mudah sekali ngobrol dengan laki-laki asing."

Tentu ucapan seperti ini, akan menghancurkan perasaan dan emosional Si Anak.

Beda halnya kalau anak tersebut dipuji orang-orang (masyarakat).

Misalnya, orang-orang  mengatakan:

"Māsyā Allāh, bapak mu itu orang shālih."

"Subhānallāh, bapak mu itu orang yang suka mendamaikan perselisihan."

"Māsyā Allāh, bapak mu adalah tokoh yang baik."

Jika anak sering mendapatkan pujian atau kata-kata yang baik dari orang-orang disekelilingnya, tentunya perasaannya akan baik. Kesadaran, akhlaq baiknya akan muncul.
Demikian pula keinginan untuk berbuat baik juga semakin bertambah.

Sebaliknya jika anak sering dicela karena perbuatan buruk bapak ibunya, maka dia akan merasa hina dan hatinya akan hancur, anak ini tidak akan memiliki kepercayaan diri.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjelaskan, bahwa orang tua berpengaruh sekali kepada anak-anak. Jika orang tua beramal shālih pengaruh positifnya akan dirasakan oleh anak-anak demikian pula sebaliknya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang Nabi Nūh alayhissallām di dalam surat Al Isrā' ayat 3.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

"(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nūh. Sesungguhnya dia (Nūh) adalah hamba (Allāh ) yang banyak bersyukur." (QS. Al Isrā': 3)

Maksudnya ayat di atas adalah:

"Wahai keturunan orang-orang beriman yang dibawa oleh kapal bersama Nūh! Kalian bisa naik kapal itu karena bapak-bapak kalian dahulu adalah orang-orang yang beriman."

Karena tidak mungkin dibawa oleh Nabi Nūh alayhissallām kecuali orang-orang yang beriman yang mengikuti ajaran Nabi Nūh alayhissallām.

Oleh karena itu bersyukurlah kalian semua, karena sesungguhnya Nabi Nūh alayhissallām adalah seorang hamba Allāh yang bersyukur dan jadilah kalian seperti bapak-bapak kalian yang shālih juga bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla (beriman).

Di dalam surat lain.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ.....۞

"Wahai Banī Isrāil!......." (QS.  Al Baqarah: 47)

Maksudnya adalah Wahai anak-anak Isrāil (keturunan Nabi Ya'qub alayhissallām).

Di dalam ayat ini Allāh memberikan peringatan bagi keturunan seorang ayah yang shālih sekaligus kakek yang shālih (nenek moyang) di antaranya adalah Nabi Ya'qub alayhissallām.

Hal ini agar mendorong keturunan beliau bersemangat melakukan amalan shālih sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyang mereka (bapak dan kakek mereka).

Kemudian perhatikan juga firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam surat Maryam, dimana orang-orang telah menuduh Maryam berbuat zina, karena Maryam telah melahirkan seorang anak (nabi Īsā alayhissallām) tanpa ayah.

Mereka mengatakan:

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

"Wahai saudara perempuan Hārun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina." (QS. Maryam: 28)

Maksudnya, kenapa Maryam, kamu sampai memiliki putra tanpa memiliki suami?

Kisahnya ada di dalam surat Maryam mulai ayat 28 dan seterusnya.

Ini semua menunjukkan bahwa pujian manusia kepada anak-anak karena keshālihan orang tua, sebagaimana sebaliknya celaan atau hinaan orang-orang kepada anak-anak karena perbuatan maksiat dan kejelekan orang tua.

Sebagaimana anak yang shālih akan mendapatkan manfaat dengan sebab keshālihan kedua orang tua.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ

"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath Thūr: 21)

Māsyā Allāh.

Anak menjadi baik dengan sebab orang tua yang baik dan sebaliknya anak menjadi buruk (artinya terkena dampak buruk) jika orang tuanya juga buruk.

Demikian halaqah yang ke-14 ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 13 | Jangan Anda Melarang Sebuah Perbuatan, Sedang Anda Sendiri Melakukannya

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Rajab 1440 H / 18 Maret 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 13 | Jangan Anda Melarang Sebuah Perbuatan, Sedang Anda Sendiri Melakukannya.
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-13
~~~~~~~~~~~~

JANGAN ANDA MELARANG SEBUAH PERBUATAN, SEDANG ANDA SENDIRI MELAKUKANNYA


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَأصحابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral musta'mi'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-13 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul "Janganlah anda melarang sebuah perbuatan, sedangkan anda sendiri melakunya".

Sungguh ini merupakan aib yang sangat besar, jika anda, wahai ayah, wahai ibu, melarang anak-anak anda melakukan perbuatan buruk sementara anda sendiri melakukannya.

√ Anda ingin anak-anak anda berkata jujur.
√ Anda ingin anak-anak anda hidup dalam kejujuran.

Tapi anda sendiri berbohong. Misalnya, kita sering mendapati orang tua yang mengajari anak kecilnya ketika ada tamu datang (mungkin mau menagih hutang atau apa) lalu orang tua itu berpesan kepada anaknya dengan mengatakan:

"Nak, katakan kepada tamu itu kalau ayah dan ibu tidak ada di rumah."

Jika anak diajari berbohong sejak kecil, bagaimana anak tumbuh menjadi anak yang jujur?

Sementara orang tuanya sendiri berbohong dan mengajarkan kebohongan kepada anak-anaknya.

Ingat!

Jangan sampai anda melarang anak-anak anda berakhlaq buruk (bermaksiat), sementara anda sendiri berakhlaq buruk (bermaksiat).

Bagaimana anda melarang anak-anak agar tidak mengeraskan suara dan berkata kasar dan mengajarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

 وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ

"Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS Luqman: 19)

Kemudian ketika anda memarahi anak-anak anda di rumah dengan suara keras (teriak-teriak), bahkan anda caci maki anak-anak, bahkan anda mencaci isteri anda di depan anak-anak anda sendiri.

Ini sangatlah tidak pantas!

Bagaimana anda melarang anak-anak anda untuk tidak merokok sementara anda sendiri merokok?

Bagaimana anda menyuruh anak laki-laki anda shalāt berjamā'ah di masjid, sementara anda santai di rumah menonton televisi?

Tentu anak-anak anda akan bertanya-tanya, ada apa dengan ayah saya?

"Kenapa ayah melarang kami merokok sedang ayah sendiri merokok?"

Atau dia akan mengatakan:

"Mengapa ayah menyuruh kami shalāt berjamā'ah di masjid sedang ayah asyik menonton televisi?"

Akhirnya, tidak ada suri tauladan yang bisa ditiru oleh anak-anak anda.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ۞ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allāh jika kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan." (QS Shaff: 2-3)

Nabi Syu'aib alayhissallām memberikan contoh kepada kita (orang tua), beliau berkata:

وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ

"Aku tidak bermaksud menyalahi kalian terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup." (QS Hūd: 88)

⇒ Itu perkataan Nabi Syu'aib kepada kaumnya.

Juga ada satu hadīts dalam Shahīh Bukhāri yang diriwayatkan oleh shahābat Usamāh bin Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ ". رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنِ الأَعْمَشِ.

Pada hari kiamat akan di datangkan seseorang, lalu ia dilempar ke dalam Neraka, semua ususnya terburai dan dia berputar bagaikan keledai yang mengitari penggilingan, kemudian semua penghuni Neraka berkumpul kepadanya seraya berkata:

"Wahai fulān, apa yang terjadi denganmu ? Bukankah engkau yang telah memerintahkan kebaikan kepada kami dan melarang kemungkaran dari kami ?"

Orang itu menjawab:

"Dahulu aku memerintahkan kalian untuk melakukan yang ma'ruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya dan aku melarang kalian dari yang munkar, tetapi aku sendiri melakukannya." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3267)

Itulah ancaman yang keras dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang orang yang memerintahkan seseorang agar tidak melakukan berbuatan buruk akan tetapi dia sendiri melakukannya.

Jangan sampai kita (na'ūdzu billāhi) wahai orang tua!

√ Kita ingin anak-anak kita baik,
√ Kita ingin anak-anak kita shālih,
√ Kita larang mereka dari berbuat buruk (berbuat maksiat),

Sementara kita sendiri adalah orang yang pertama kali melakukannya di rumah.

Atau,

√ Kita perintahkan mereka untuk shalāt
√ Kita perintahkan mereka untuk taat,
√ Kita perintahkan mereka untuk baik,

Sementara kita sendiri tidak pernah melakukannya.

Jangan sampai kita demikian!

Karena jika kita melakukanya kita akan terancam dengan hadīts di atas dan ini juga akan mendatangkan murka dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mudah-mudahan yang ringkas ini bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 12 | Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 01 Jumādâ Ats-Tsānī 1440 H / 06 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 12 | Anak Meniru Perbuatan Baik Yang Dilakukan Orang Tua
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-12
~~~~~~~~~~~~

DI ANTARA DAMPAK BAIK AMAL SHĀLIH YANG DILAKUKAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK-ANAK ADALAH BAHWA MEREKA MENIRU PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN ORANG TUA


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral musta'mi'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-12 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Mendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dan pada pertemuan ini kita akan membahas sub judul: "Di antara dampak baik amal shālih yang dilakukan orang tua terhadap pendidikan anak-anak adalah bahwa mereka mengikuti perbuatan baik yang dilakukan orang tua".

Seorang anak yang keseharian melihat orang ayahnya selalu berdzikir, bertahlil, bertahmid dan bertasbih maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan:

لاإله إلا الله، سبحان الله، الله اكبر

Akan berdampak positif bagi anak yang melihat tersebut.

Begitu pula seorang anak yang disuruh orang tuanya misalnya untuk memberikan sedekah kepada faqīr miskin pada malam hari secara rahasia, ini akan memberikan dampak positif. Berbeda dengan anak yang disuruh oleh ayahnya misalnya untuk membeli rokok.

Demikian pula seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa Senin Kamis, ikut serta dalam shalāt berjama'ah di masjid, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang melihat ayahnya berada di tempat maksiat (misalnya) perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan lainnya.

Anak yang selalu mendengarkan suara adzan ia akan mengulang-ulang lantunan adzan. Dan anak yang terbiasa mendengarkan lantunan muratal dia akan terbiasa membaca lantunan Al Qurān tersebut bahkan dia akan hapal sejak kecil.

Tapi sebaliknya, na'ūdzubillāhi min dzālik, anak yang terbiasa mendengarkan ayahnya bernyanyi (misalnya) atau memutar lagu lagu, maka anak tersebut akan pintar bernyanyi dan bermain musik kelak.

Jadi lihatlah, dampak dari perbuatan ayah tersebut.

Perbuatan baik maka akan ditiru baik oleh anaknya. Perbuatan kedua orang tua yang buruk maka akan ditiru buruk pula oleh anak-anaknya kelak.

Disebutkan dalam sebuah kitāb yang maknanya, "Apabila seorang ayah senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berdo'a untuk mereka dan memohonkan ampunan kepada Allāh bagi keduanya, selalu memperhatikan keduanya, memastikan ketenangan untuk keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya. Maka si anak pun kelak akan demikian."

Si anak akan mendo'akan kedua orang tuanya dengan mengucapkan:

رَبِّ ارحَمهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Yā Allāh, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil."

Berbakti kepada kedua orang tuanya ketika kedua orang tuanya masih hidup. Kelak ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dia akan berziarah ke makam kedua orang tuanya. Karena anak akan meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

إن خيراً فخير وإن شراً فشر

"Jika yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik maka yang ditirunya juga baik dan jika yang dilakukan kedua orang tuanya buruk maka yang ditiru anaknya juga buruk."

Anak yang dididik shalāt oleh kedua orang tuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, mendengarkan musik atau menonton sepak bola.

Jika seorang anak melihat kedua orang tuanya melakukan shalāt malam, menangis karena takut kepada Allāh dan membaca Al Qurān niscaya dia akan berfikir kenapa ayahku menangis ? Kenapa ayahku melakukan shalāt ? Kenapa ayahku bangun pada sepertiga malam terakhir lalu mengambil air wudhū' ?

Kenapa ayahku meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?

Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain. Dia telah dihiasi dengan rasa malu dengan sikap menjaga kehormatan.

Jika ibunya demikian, niscaya anaknya akan belajar menanamkan rasa malu juga, menjaga kehormatan, kebersihan diri dan kesucian jiwa dari ibunya. In syā Allāh kelak si anak akan menjadi wanita shālihah.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Bertaqwalah kalian kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan contohkanlah amal-amal shālih yang kita lakukan lillāh (karena Allāh).

Ingatlah dampak positif lainnya. Anak-anak kita akan meniru kita. Jika amal kita shālih maka mereka akan meniru kita. Sebaliknya jika kita beramal buruk maka mereka akan meniru juga.

Oleh karena itu jadilah kita sebagai suri tauladan bagi mereka dengan perangai yang baik dan tabi'at yang mulia.

Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama dan rasa cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 11 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 05 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 11 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-11
~~~~~~~~~~~~

PENGARUH KEBAIKAN DAN PERBUATAN BAIK (KESHĀLIHAN) KEDUA ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK (BAGIAN KEDUA)


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma'asyiral musta'mi'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan ke-11 dari kitāb: Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, Fiqih tentang Pendidik Anak-anak dan Penjelasan Sebagian Nasehat dari Para Dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

Dan kita masih melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang: Pengaruh kebaikan dan perbuatan baik (keshālihan) kedua orang tua terhadap anak.

Kemudian Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh membawakan satu ayat dalam surat An Nissā ayat 9, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut (kepada Allāh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allāh, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS An Nissā': 9)

Ayat ini menjelaskan hubungan antara perkataan yang benar (dalam perkara anak-anak yatim) dengan pengaruh ucapan tersebut terhadap keturunan seseorang.

Oleh karena itu kita selaku orang tua (ayah atau ibu), jika kita meninggal lalu khawatir anak keturunan kita tidak ada yang mengurus maka sejak saat ini kita harus beramal shālih, harus bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, harus berkata jujur.

Kesimpulannya, kita harus beramal shālih, menjadi orang yang takut dan bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, supaya kelak anak keturunan kita ketika kita tinggalkan mereka hidup dalam kondisi baik dan dijaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perbaikilah makanan, minuman dan pakaian kita, artinya darimana itu semua kita dapatkan?

Perbaiki, cari dengan cara yang halal, dari mata pencaharian yang syari' (yang halal). Agar ketika kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ketika kita meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita betul-betul mengangkat kedua tangan kita dengan tangan dan jiwa yang bersih lagi suci.

Dan ini akan berdampak positif kepada anak-anak kita kelak, sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memperbaiki dan menjaga mereka kelak (jika kita beramal shālih).

Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam surat Al Mā'idah ayat 27.

 إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allāh hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa."

Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda:

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

Seseorang melakukan perjalanan, rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya kelangit seraya berdo'a, "Yā Rabb! Yā Rabb," sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia tumbuh dengan barang yang haram, maka bagaimana mungkin permohonanya dikabulkan ?" (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1015)

Kita perhatikan! Orang tersebut melakukan empat sebab dikabulkannya do'a:

⑴ Orang tersebut melakukan perjalanan panjang (jauh).

Dalam sebuah hadīts, orang yang safar adalah orang yang mengalami kondisi yang sulit sehingga apabila dia berdo'a maka do'anya mustajab (makbul).

⑵ Orang tersebut dalam kondisi lusuh, kondisi kusut.

Ini juga, sebagaimana dalam Shahīh Muslim, merupakan salah satu sebab dikabulkannya do'a.

⑶ Orang ini menengadahkan kedua tangannya ketika berdo'a.

Mengangkat tangan ketika berdo'a merupakan adab yang dengannya bisa diharapkan dikabulkan do'a tersebut.

⑷ Orang ini memanggil Allāh dengan berkata, "Yā Rabb! Yā Rabb!"

Dan Rabb adalah salah satu nama dari nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita perhatikan! Empat sebab dikabulkanya do'a yang dilakukan oleh orang tersebut tidak bermanfaat sama sekali, tidak membuat do'anya dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kenapa?

Karena makanan, minuman, pakaian dan orang tersebut tumbuh (berasal) dengan yang haram, maka bagaimana mungkin do'a tersebut dikabulkan?

Oleh karena itu, wahai ayah dan ibu.

Perhatikan darimana makan, minum, pakaian anda ?

Keseharian anda dipenuhi dari mana ?

Jika perbuatan kita, na'ūdzubillāhi min dzālik, dari yang haram, hasil dari menzhālimi (kita sering menghibahi orang, mencaci maki orang), lalu kita berdo'a, apakah mungkin bisa dikabulkan do'a kita sebagaimana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah jelaskan?

Bagaimana mungkin do'a kita dikabulkan oleh Allāh jika kita mendapatkan semuanya dari yang haram?

Ingat, semua itu berdampak kepada anak-anak kita. Jika amalan kita baik, amalan kita shālih maka semua itu akan berdampak positif bagi anak keturunan kita.

Sebaliknya jika kita menjadi orang yang bermaksiat ini pun akan berdampak negatif terhadap anak-anak kita.

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwasanya mereka berkata kepada anak-anak mereka, "Wahai anakku, sungguh aku akan menambahkan shalāt (sunnah) yang aku lakukan untuk kebaikanmu."

Sebagian ulamā menjelaskan, "Maknanya adalah aku akan memperbanyak melakukan shalāt dan memperbanyak berdo'a untukmu di dalam shalāt tersebut."

Demikian pula berbuatan shālih lainnya, misalnya orang tua yang senantiasa membaca Al Qurān atau membaca surat-surat yang khusus seperti surat Al Baqarah, surat Al Mu'awidzatain (An Nās dan Al Falaq) dan yang semisal, maka in syā Allāh para malāikat akan turun kepadanya untuk mendengarkan Al Qurān.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim:

"Apabila suatu kaum berkumpul di satu rumah dari rumah-rumah Allāh (masjid) lalu mereka membaca Al Qurān dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Dan kasih sayang Allāh akan menyelimuti mereka, para malāikat akan menaungi mereka dan Allāhpun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di dekat-Nya."

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2699)

Turun malāikat berarti turun rahmat, turun sakinah. Dan ini sangat berdampak positif bagi anak-anak kita.

Berbeda dengan rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qurān di dalamnya, tidak pernah berdzikir kepada Allāh. Maka yang turun adalah syaithān, yang turun adalah keburukan-keburukan.

Sebagian bahkan ada orang tua yang memutar musik, memajang gambar-gambar makhluk bernyawa yang diharamkan, maka ini akan memberikan dampak yang buruk kepada anak-anak mereka.

Itulah lanjutan dari halaqah yang ke-10, in syā Allāh nanti kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.

Demikian atas kekurangannya mohon maaf.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 10 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 01)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 04 Februari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 10 | Pengaruh Keshalehan dan Perbuatan Baik Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-10
~~~~~~~~~~~~

PENGARUH KEBAIKAN DAN PERBUATAN BAIK (KESHĀLIHAN) KEDUA ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK BAGIAN PERTAMA


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ


Ma'asyiral musta'mi'in wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-10 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pertemuan yang lalu telah kita membahas tentang larangan mendo'akan buruk atau jelek kepada anak-anak kita dan ini telah kita jelaskan pada pertemuan yang lalu.

Pada pertemuan kali ini, kita akan membawakan pembahasan penulis yaitu Pengaruh baik keshālihan kedua orang tua dan amalan shālih mereka terhadap pendidikan anak-anak.

Pendengar rahīmakumullāh.

Keshālihan orang tua dan amal shālih mereka berdua memiliki dampak (pengaruh) yang sangat besar terhadap keshālihan anak-anak dan sangat berpengaruh terhadap manfaat kehidupan anak-anak kelak di dunia ketika mereka dewasa bahkan ketika mereka sudah meninggal di akhirat kelak (in syā Allāh).

Sebaliknya para pendengar rahīmakumullāh. Amalan-amalan buruk orang tua (dosa-dosa orang tua atau maksiat yang dilakukan orang tua) memiliki dampak yang sangat buruk (negatif) terhadap pendidikan anak.

Dan tentunya dampak ini muncul (baik dampak positif) akibat dari perbuatan shālih kedua orang tua akan membuat anak menjadi shālih juga, sebaliknya dampak negatif (akibat maksiat orang tua) berdampak buruk pula pada anak.

Ini bisa kita lihat karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyukai dan memberkahi amal-amal shālih dan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla membalas amal shālih dengan balasan yang baik sebagaimana amalan-amalan buruk (maksiat) Allāh tidak menyukainya dan Allāh akan membalasnya dengan balasan yang buruk juga.

Oleh karena itu jelas dampak atau pengaruh perbuatan orang tua jika itu baik maka akan berakibat baik untuk anak-anaknya. Jika perbuatan orang tua buruk (selalu bermaksiat) maka akan berpengaruh buruk terhadap anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua perbanyaklah amal-amal shālih, maka in syā Allāh dampak positifnya akan dirasakan, akan Allāh berikan kepada anak-anak kita.

Dampak positif bagi anak-anak yang in syā Allāh orang tuanya shālih bisa berupa (misalnya);

√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menjaganya.
√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menjamin rejeki anak-anak tersebut dimasa depannya.
√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan membuat mereka senantiasa sehat wal'afiat.

Begitu pun dampak negatif akibat berbuatan orang tua yang suka bermaksiat bisa dirasakan oleh anak-anak mereka (misalnya);

√ Anak menjadi anak yang durhaka.
√ Rejeki anak tersebut susah.
√ Banyak musibah yang akan menimpa anak-anaknya.
√ Banyak penyakit yang akan diderita oleh anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua, wahai ayah, wahai ibu.

Perbanyaklah beramal shālih, in syā Allāh akan kita rasakan jika kita selaku orang tua beramal shālih, maka dampak positifnya akan kita rasakan.

Dan ini bisa kita lihat dalīlnya di dalam surat Al Kahfi ayat 82. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shālih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya." (QS Al Kahfi: 82)

⇒ Yang perlu digaris bawahi وَكَانَ أَبُوهُمَا bahwanya kedua orang tua mereka adalah orang tua yang shālih.

Dan ini merupakan kisah antara nabi Mūsā dan nabi Khidir 'alay (kisahnya bisa dilihat dalam surat Al Kahfi mulai kurang lebih ayat ke-70 sampai ayat ke-82) di situ di antara percakapan antara nabi Mūsā dan nabi Khidir 'alayhumassallām.

Mereka berdua melewati satu perkampungan (negeri) lalu mereka berdua meminta kepada penduduk daerah tersebut jamuan sebagaimana layaknya seorang tamu kepada penduduk negeri tersebut, akan tetapi mereka menolaknya.

Kemudian mereka berdua berjalan dan mereka mendapati dikampung (negeri) tersebut rumah yang hampir roboh temboknya kemudian nabi Khidir 'alayhissallām menegakkan kembali rumah tersebut

Kemudian nabi Mūsā alayhissallām bertanya, "Untuk apa engkau memperbaiki (menegakkan)  rumah yang sudah hampir roboh ini ?"

Lalu nabi Khidir menjawab:

"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shālih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu"

Maka perhatikanlah, para pendengar rahīmakumullāh.

Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjaga harta anak yatim dan perbendaharaan harta mereka dengan sebab keshalehan kedua orang tua mereka (padahal rumah tersebut sudah hancur akan tetapi harta mereka tetap tersimpan).

Sehingga tidak mungkin kita berprasangka atau mengira bahwasanya bapak mereka orang yang tukang maksiat, karena Allāh menjaga harta dari orang yang shālih (orang yang baik)  sehingga dampak positif dari keshālihan orang tua baik bapak atau ibu dirasakan oleh anak-anak mereka.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla terus jaga hartanya sampai anak tersebut dewasa dan menemukan kembali peninggalan harta orang tuanya.

Ini dalīl yang sangat jelas bahwa keshālihan orang tua berdampak positif terhadap anak-anak mereka.

Demikian halaqah yang ke-10 ini, mudah-mudahan bermanfaat, in syā Allāh kita lanjutkan pada halaqah berikutnya yang masih menjelaskan masalah ini.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 27 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  09 Juni
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 19 Rajab 1440 H / 26 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 27 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Memyisir Rambut Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-27
〰〰〰〰〰〰〰

HADĪTS YANG BERKAITAN DENGAN MENYISIR RAMBUT RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Alhamdulilāh, Allāh masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk kembali mengkaji hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta'āla.

Alhamdulillāh, pada pertemuan kali ini, (pertemuan ke-27) kita akan masuk pada hadīts nomor 33.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ هُوَ الرَّقَاشِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ دَهْنَ رَأْسِهِ وَتَسْرِيحَ لِحْيَتِهِ، وَيُكْثِرُ الْقِنَاعَ حَتَّى كَأَنَّ ثَوْبَهُ، ثَوْبُ زَيَّاتٍ.

Shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata:

"Adalah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sering meminyaki rambut Beliau. Begitu juga Beliau banyak menyisir jenggotnya dan Beliau juga sering memakai kain pelindung saat meminyaki rambut. Karena seringnya Beliau meminyaki rambut, baju Beliau seperti baju pen jual minyak."

Hadīts ini merupakan hadīts yang dhaif begitu juga kata Syaikh Albāniy rahimahullāh dan Syaikh Abdur Razzaq Al Badr, karena dalam hadīts tersebut ada berita yang mungkar tidak mungkin ada pada diri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Di dalam hadīts disebutkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam karena seringnya memakai minyak rambut sampai baju Beliau seperti baju yang dipakai oleh oleh penjual minyak.

Tentu ini merupakan hal yang tidak layak bagi Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Bagaimana tidak,  ada shahābat yang datang kepada Beliau dalam keadaan bajunya kotor, kemudian Beliau menegur shahābat tersebut dengan cukup tegas sebagaimana dalam hadīts Abū Dāwūd nomor 4062 yang di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

 أ ما كانَ يجدُ هذا ما يغسِلُ بهِ ثوبَهُ؟

"Apakah orang ini tidak menemukan benda yang bisa mencuci bajunya?"

Sehingga bisa disimpulkan ini merupakan hadīts yang dhaif sebagaimana kata para ulamā.

Kemudian hadīts ke-34, Imām At Tirmidzī rahimahullāh berkata:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنِ الأَشْعَثِ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ، وَفِي تَرَجُّلِهِ إِذَا تَرَجَّلَ، وَفِي انْتِعَالِهِ إِذَا انْتَعَلَ

Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā berkata:

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci dan saat menyisir atau merawat rambut, begitu juga saat beliau memakai sandal."

Sahabat BiAS rahīmakumullāh,

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh yang diriwayatkan juga oleh Imām Bukhāri dalam hadīts nomor 168, dengan tambahan lafazh:

وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

"Dan Beliau senang mendahulukan yang kanan dalam setiap urusan Beliau."

Imām Muslim pun meriwayatkan dengan tambahan lafazh yang sama dengan nomor hadīts 268, sehingga hadīts ini merupakan hadīts yang bisa dijadikan dalīl.

Pelajar dari hadīts ini adalah :

⑴ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam suka mendahulukan yang kanan saat bersuci baik itu wudhū', mandi ataupun tayammum.

Ketika Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) membasuh, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Misalkan Beliau berwudhū', maka Beliau membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri, kaki kanan sebelum kaki kiri.

Begitu juga ketika Beliau menyisir rambut, Beliau mendahulukan bagian kanan sebelum bagian kiri.

Begitu juga ketika Beliau memakai sandal, Beliau memasukan kaki kanan terlebih dahulu sebelum kaki kiri.

Alasan kenapa hadīts ini dimasukan dalam bab menyisir rambut adalah:

√ Karena dalam hadīts tersebut bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan saat Beliau menyisir rambut.

Dan sunnah ini masuk dalam berbagai hal yang baik termasuk memberi, menerima, makan, memakai baju,  memakai celana, dan lain sebagainya.

Adapun untuk hal-hal yang kotor Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menggunakan yang kiri.

Misalnya: Saat beristinjā, istijmār dan yang lainnya.

Imām An Nawawi rahimahullāh berkata:

قاعدة الشرع المستمرة استحباب البداءة باليمين، في كل ما كان من باب التكريم والتزين وما كان بضدها استحب فيه التياسر

"Kaidah syar'iat yang telah baku, sunnahnya memulai dari kanan dalam setiap hal yang di situ ada kemuliaan dan berhias. Adapun lawannya disunnahkan menggunakan yang kiri terlebih dahulu.”

Inilah agama Islām, ada banyak adab indah yang terkadang tidak ditemukan di dalam agama lain, bahkan dalam hadīts ini untuk menggunakan atau mendahulukan anggota badan yang kananpun ada hadīts nya. Itulah agama Islām.

Pertemuan kali ini cukup sampai disini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Proudly Powered by Abu Uwais.