PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 29 Juli 2020

Halaqah 59 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83 (lanjutan)

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Dzulqa’dah 1441 H / 24 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 59 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-59b
〰〰〰〰〰〰〰

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL (LANJUTAN)


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal adalah (menurut sebagian ulama) agar kita bisa berbuat adil. 

Adil dari sisi mana? 

Adil, agar kaki kita yang tidak menggunakan sandal sama dengan kaki yang menggunakan sandal. Jika menggunakan sandal maka menggunakan sandal keduanya, kalau melepas sandal maka lepas keduanya, biar adil.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa agar tidak terjadi sughrah, yaitu sesuatu yang aneh dalam berpakaian. Takutnya ketika kita berjalan di pasar menggunakan satu sandal pastinya akan dilihat oleh orang-orang. 

Dan ketika kita memakai sesuatu hal yang bisa dilihat oleh orang-orang, kemudian orang-orang merasa janggal sehinggga bisa masuk ke dalam pembahasan berpakaian sughrah (pakaian yang janggal).

Alasan lain yang disebutkan adalah karena syaithan berjalan dengan satu sandal.

Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam Ath Thahawi dan bisa dilihat di dalam Silsilah Hadīts Ash Shahihah karya Syaikh Al Albāniy rahimahullāh nomor 384. 

Karena sebuah alasan yaitu:

إن الشيطان يمشي بالنعل الواحدة

"Sesungguhnya syaithan berjalan dengan satu sandal.”

Sehingga salah satu alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan satu sandal adalah agar tidak meniru syaithan.

Kemudian, yang perlu dicatat di sini adalah bahwa larangan ini berlaku ketika berjalan, tidak saat kita berdiri atau duduk. Terkadang kita duduk dengan satu kaki menggunakan satu sandal dan kaki satunya naik /diangkat ke atas, ini tidak mengapa.

Yang dilarang di sini adalah berjalan dengan menggunakan satu sandal (lebih baik dilepas semuanya atau dipakai semuanya). 

Syaikh Bin Baz rahimahullāh pernah ditanya apabila kita akan memakai sandal, sandal yang satu sudah kita dapatkan ternyata sandal yang satunya berada di satu atau dua langkah berikutnya, maka apakah kita harus berjalan mengambil dulu atau kita boleh memakai satu sandal kemudian kita berjalan satu atau dua langkah untuk mengambil (memakai) sandal berikutnya?

Beliau (Syaikh Bin Baz) menjawab, "Apabila engkau mampu untuk tidak menyelisihi sunnah, maka lakukanlah walau pun hanya satu atau dua langkah."

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Perkara sunnah ini tidak boleh kita sepelekan, kenapa? Karena di dalam sunnah pasti ada pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Kita saja kalau pergi ke mall-mall kemudian ada diskon (bonus) terkadang kita tertarik. Masa dengan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita tidak tertarik lalu kita mengatakan, "Ah, itu hanya sunnah."

Kenapa kita tidak mengatakan, "Ah, itu hanya bonus. Ah, itu hanya diskon," kenapa tidak kita katakan seperti itu? Tetapi kita bersikap tidak konsisten, kalau melihat bonus atau diskon kemudian kita tertarik. Tapi ketika kita melihat bonus dari sisi pahala kita tidak tertarik.

Maka kita harus banyak belajar dan banyak memperbaiki diri untuk bersikap dengan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Walau pun sunnah setidaknya jangan sampai kita menyepelekan walaupun mungkin kita belum bisa melakukan. Tetapi tetap kita harus menghargai dan berusaha untuk menjalankan sunnah tersebut.

Inilah pelajaran kita pada pertemuan ke-58, hendaklah kita berjalan dengan dua sandal atau setidaknya kita lepas semuanya dan jangan sampai kita berjalan dengan satu sandal walaupun hukumnya menurut para ulama tidak sampai haram, namun kita tidak boleh menyepelekan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Semoga kita dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diberi taufiq untuk menjalankan sunnah-sunnahnya.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb 

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________



Halaqah 58 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Dzulqa’dah 1441 H / 23 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 58 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-58
〰〰〰〰〰〰〰

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita dari kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, sekarang kita sudah sampai pada pertemuan ke-58 dan kita masih berada pada pembahasan sandal. 

Sebelumnya kita telah membahas sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas adab-adabnya.

Di antara adab yang disebutkan oleh Imam At Tirmidzī rahimahullāh adalah tidak bolehnya berjalan dengan satu sandal.

Beliau membawakan tiga hadīts.

• Hadīts nomor 81

Sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

لاَ يَمْشِيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعَلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا

"Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan hanya memakai satu sandal, hendaklah ia memakai keduanya atau melepas keduanya.”

• Hadīts nomor 82

Imam At Tirmidzī rahimahullāh membawakan sanad lain, yang mana sanad hadīts ini lebih pendek.

Dari sisi mana pendeknya?

Kalau hadīts nomor 81 Imam At Tirmidzī harus melewati dua rawi untuk (kepada) Imam Mālik bin Annas yaitu harus melewati Ishaq bin Musa Al Anshari kemudian melewati Ma'n baru kepada Imam Mālik. 

Namun pada hadīts nomor 82 ini Imam At Tirmidzī mau mengatakan bahwasanya, "Saya memiliki sanad yang lebih tinggi (lebih: على , kalau dalam bahasa musthalah hadīts) karena saya mendapatkan hadīts dari Qutaibah bin Sa'id Al Baghilani dari Mālik bin Annas langsung. Jadi untuk mencapai Mālik bin Annas saya hanya membutuhkan satu rawi saja."

Jadi hadīts nomor 82 ini hanya menguatkan periwayatan Imam At Tirmidzī rahimahullāh.

• Hadīts nomor 83

Dimana hadīts ini juga hampir sama maknanya tetapi hadīts ini dari shahabat Jabir. Imam At Tirmidzī meriwayatkan dengan sanadnya sampai shahabat Jabir bin Abdillāh radhiyallāhu 'anhu.

Beliau (Jabir bin Abdillāh) berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

نَهَى أَنْ يَأْكُلَ، يَعْنِي الرَّجُلَ، بِشِمَالِهِ، أَوْ يَمْشِيَ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ

"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang seseorang yakni seorang laki-laki makan dengan tangan kiri atau berjalan dengan hanya memakai satu sandal.”

Ini adalah pembahasan kita di pertemuan ke-58  yang mana kita membahas adab dalam berjalan yaitu tidak boleh memakai satu sandal tetapi harus dipakai keduanya atau dilepas semuanya.

Hadīts ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhāri nomor 5855 dan Imam Muslim nomor 2097.

Dan di antara faedah atau pelajaran dari hadīts ini adalah seorang muslim dilarang berjalan dengan satu sandal saja. Solusinya adalah digunakan semuanya atau dilepas semuanya.

• Hukum Memakai Satu Sandal 

Apa hukum memakai satu sandal?

Hukumnya menurut sebagian ulama adalah makruh tanzih (tidak sampai haram). Bahkan menurut Imam An Nawawi rahimahullāh hukumnya adalah makruh saja.

Kenapa? 

Karena ini berkaitan dengan adab-adab dan irsyad (bimbingan) dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi sahabat Bimbingan Islām,

Walaupun ini makruh, setidaknya kita taat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah lebih utama karena di sini nanti ada sebuah riwayat yang menunjukkan alasan kenapa dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb 

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________



Halaqah 57 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 78 dan 80

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 01 Dzulqa’dah 1441 H / 22 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 57 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 78 dan 80
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-57
〰〰〰〰〰〰〰

HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh kita sudah sampai pada pertemuan ke-57 dalam membahas kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah. Dan pada pertemuan ke-57 ini (in syā Allāh) kita akan membaca hadīts nomor 78 dan 80.

Yang mana hadīts ke-78 merupakan hadīts yang memberikan keterangan tentang salah satu sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Yang mana sandal Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah sandal yang tidak ada bulunya lagi.

Jadi sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana yang pernah kita jelaskan bahwasanya sandal beliau terbuat dari kulit.

• Hadīts nomor 78

Hadīts ini merupakan hadīts yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzī sampai kepada 'Ubaid bin Juraij. 'Ubaid bin Juraij pernah bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhu.

Beliau ('Ubaid bin Juraij) berkata:

رَأَيْتُكَ تَلْبَسُ النِّعَالَ السِّبْتِيَّةَ

"Aku melihatmu memakai sepasang sandal sibtiyyah.”

⇒ Sandal sibtiyyah adalah sandal yang terbuat dari kulit dan sudah diolah dengan cara khusus sehingga rambut-rambutnya (bulu-bulunya) sudah hilang.

قَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْبَسُ النِّعَالَ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا شَعَرٌ

Ibnu Umar menjawab, "Sesungguhnya aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai sepasang sandal yang sudah tidak ada bulunya (polos)."

Di sini Ibnu Umar menerangkan makna sibtiyyah yaitu sandal yang sudah tidak ada rambutnya (bulunya) 

وَيَتَوَضَّأُ فِيهَا

"Kemudian ketika itu aku melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berwudhu dengan menggunakan sandal tersebut."

Kata Syaikh Abdurrazzaq rahimahullāh ada dua kemungkinan, 

⑴ Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhu dengan sandal tersebut adalah berwudhu tanpa melepas sandalnya.
⑵ Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhu dengan melepas sandalnya kemudian memakai sandalnya kembali.

Dan ini suatu hal yang sudah biasa kita lakukan, kalau kita berwudhu dan kita menggunakan sandal maka sandal tersebut kita lepas sebentar kemudian kita pakai lagi.

فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَلْبَسَهَا

Kemudian Ibnu Umar mengatakan, "Aku suka menggunakan sandal sebagaimana yang digunakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Dan merupakan hal yang ma'ruf di kalangan shahabat bahwasanya Ibnu Umar sangat semangat meniru kebiasaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, alaupun sesuatu yang simple dan bisa jadi itu suatu yang bukan merupakan ibadah karena hanya dari kebiasaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Misalnya:

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah buang air di suatu tempat dan Ibnu Umar tahu tempat tersebut pernah dijadikan tempat buang air oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka Ibnu Umar pun ikut buang air di tempat itu.

Ini kecintaan Ibnu Umar kepada contoh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadi hadīts ke-78 ini memberikan gambaran kepada kita dan menekankan kepada kita bahwa sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terbuat dari kulit yang sudah tidak ada rambut (bulu-bulunya) lagi. Dan di sini ada tambahan faedah bahwasanya Ibnu Umar suka memakai apa yang dipakai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian kita membaca hadīts berikutnya.

• Hadīts nomor 80

Hadīts ini menyatakan bahwa sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam itu adalah sandal yang sederhana, bahkan sandal beliau terkadang sudah di tambal-tambal.

Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzī sampai kepada Amr bin Huraits radhiyallāhu 'anhu.

Beliau (Amr bin Huraits) berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَتَيْنِ

"Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam shalāt dengan memakai sepasang sandal yang sudah ditambal.”

Jadi sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah ditambal, Beliau adalah orang yang sederhana.

Jangan dikira sandal tersebut ditambal oleh orang lain, sandal tersebut ditambal sendiri oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu 'anhā ketika beliau (radhiyallāhu 'anhā) ditanya apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di rumahnya.

Di antara salah satu jawabannya adalah:

كما يصنع أحدكم: يخصف نعله ويرقع ثوبه

"Beliau melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian yaitu melubangi (mengikat) sandalnya dan menambal bajunya." (Hadīts riwayat Ahmad nomor 24749)

Ini menunjukkan kesederhanaan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, yang mana Beliau mau memakai sandal yang sudah ditambal.

⇒ Di sini juga ada faedah yaitu shalāt di dua sandal atau shalāt dengan tetap menggunakan sandal. 

Dan merupakan sunnah yang diakui oleh para ulama, bahwasanya shalāt dengan menggunakan sandal merupakan sunnah. Akan tetapi, kata Al Lajnah Ad Da'imah, sebagaimana yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrazzaq, kalau zaman sekarang tidak disarankan shalāt memakai sandal kecuali ketika berada di padang pasir (misalnya) atau shalāt di luar (di tanah) atau saat kita shalāt Ied.

Ketika shalāt Ied dan kita sudah tidak kebagian karpet, maka kita bisa mempraktekkan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, akan tetapi ketika kita shalāt di masjid dan di sana tersedia karpet maka tidak sepantasnya kita masuk dengan sandal meskipun dengan alasan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah shalāt menggunakan sandal.

Menurut Al Lajnah Ad Da'imah, kita harus melepas sandal kita untuk menjaga kebersihan dan jangan sampai orang-orang yang shalāt terganggu dikarenakan terdapat kotoran yang menempel di sandal kita.

Inilah 2 hadīts yang kita bahas pada pertemuan ke-57 ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb. 

وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________




Audio 76 | Kunci Kejayaan dan Kemenangan Kaum Muslimin

by Rory Rachmad  |  in Kajian Audio at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 27 Syawwal 1441 H / 19 Juni 2020 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 76 | Kunci Kejayaan dan Kemenangan Kaum Muslimin
🔄 Download Audio: bit.ly/NasihatSingkat-76
〰〰〰〰〰〰〰

🕋 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode Bank [451]
| No. Rekening 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi : cintasedekah.org/donasi

______________________________________





Halaqah 47 | Tidak Memberikan Beban Di Luar Kemampuan Anak Dan Tidak Menyerahkan

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Syawwal 1441 H / 17 Juni 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 47 | Tidak Memberikan Beban Di Luar Kemampuan Anak Dan Tidak Menyerahkan Pekerjaan Di Luar Kesanggupannya.
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-47
~~~~~~~~~~~~

TIDAK MEMBERIKAN BEBAN DI LUAR KEMAMPUAN ANAK DAN TIDAK MENYERAHKAN PEKERJAAN DI LUAR KESANGGUPANNYA


بسم الله الرحمن الرحيم 
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ  الأَنْبِيَاءِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصحبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ:


Para pemirsa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-47 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh. 

Kita lanjutkan dalam kitāb pada halaman 86, di situ penulis membuat satu sub judul: 

▪TIDAK MEMBERIKAN BEBAN DI LUAR KEMAMPUAN ANAK DAN TIDAK MENYERAHKAN PEKERJAAN DI LUAR KESANGGUPANNYA (ولا يكلف الأبناء فوق طاقتهم ولا يعهد إليهم بعمل لا يتحملونه)

Artinya anak-anak  jangan dibebani dengan satu beban, baik itu beban pekerjaan atau ibadah yang di luar batas kemampuan mereka. Jangan pula kita perintahkan mereka untuk mengerjakan satu pekerjaan yang mereka tidak mampu untuk melakukannya.

Dalam hal ini  para pendengar rahīmakumullāh.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 286.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا 

"Allāh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Jadi dalam syari'at Islām, Allāh tidak membebani kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita (pasti kita bisa melakukannya) dan Allāh tidak pernah membebani makhluknya dengan melakukan suatu amalan yang di luar batas kemampuan kita sebagai makhluk.

Dan juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda tentang keadaan para pelayan, sebagaimana di dalam shahīh Bukhāri dan Muslim dari hadīts Abū Dzar Al-Ghifari radhiyallāhu 'anhu.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:  

وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

"Janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan, maka bantulah jika kalian memberikan tugas berat kepada mereka"

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam shahīh Muslim dari Āisyah radhiyallāhu 'anhā tentang waliyul amri (pemimpin) yang membebani rakyatnya secara berlebihan (menyulitkan) kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan waliyul amri (pemimpin) tersebut dengan do'a:

اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا, فَشَقَّ عَلَيْهِ, فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Yā Allāh, siapapun orang yang engkau berikan kekuasaan atas umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah urusannya. Dan siapa saja yang menanggung urusan umatku, lalu dia memudahkannya maka mudahkanlah ia.”

Menunjukkan bahwa seorang pemimpin, (seorang yang berkuasa) atau dalam rumah tangga (seorang ayah), maka tidak boleh ia membebani (memberikan pekerjaan) kepada seorang anak dengan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan oleh anak tersebut.

Dalam hadīts shahīh Al-Bukhāri disebutkan Abdullāh bin Umar pernah menawarkan dirinya untuk berjihad bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada perang Uhud tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menolaknya (karena usia Ibnu Umar saat itu masih 14 tahun). 

Lalu tahun berikutnya Ibnu Umar memcoba kembali pada perang Khandak (Ahzab) kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menerima dan mengizinkannya.

Al-Bukhāri meriwayatkan dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu 'anhu bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengecek satu persatu para sahabat yang akan mengikuti perang Uhud, kemudian Abdullāh bin Umar dicek yang ketika itu berusia 14 tahun kemudian ia mengatakan, 

فَلَمْ يُجِزْنِي،

"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak membolehkan aku untuk ikut perang Uhud"

Kemudian Abdullāh bin Umar mengatakan:

ثُمَّ عَرَضَنِي يَوْمَ الْخَنْدَقِ وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ فَأَجَازَنِي

"Kemudian di tahun berikutnya (tahun ke-4 menjelang ke-5 Hijriyyah) Aku ikut lagi perang Khandak (Ahzab) dan usiaku saat itu 15 tahun dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membolehkanku untuk ikut perang Khandak (Ahzab).“

Ini menunjukkan bahwa kemampuan anak kecil tidak seperti kemampuan orang dewasa (harus dibedakan dan harus diberi batasan) jika kita (orang tua) akan memberikan suatu pekerjaan، baik itu ibadah maupun urusan-urusan duniawi.

Dan juga ada satu hadīts yang diriwayatkan oleh Sunnan An-Nassai dengan sanad yang hasan dari hadīts Al-Hirmas bin Ziyad radhiyallāhu 'anhu (saat itu masih kecil) dia berkata:

مَدَدْتُ يَدِي إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا غُلاَمٌ لِيُبَايِعَنِي فَلَمْ يُبَايِعْنِي

"Ketika masih kecil aku memberikan tanganku kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam agar beliau menerima bai'tku, akan tetapi beliau tidak melakukannya."

Sedangkan di dalam riwayat Al-Bukhāri dari hadīts Abdullāh bin Hisyam radhiyallāhu 'anhu yang ketika itu (masih kecil) dibawa oleh ibunya yang bernama Zainab binti Humaid kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Lalu ibunya berkata kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يا رسول الله بايعه

"Wahai Rasūlullāh, bai'atlah dia.“

⇒ Bai'at adalah mengambil satu perjanjian untuk taat kepada Allāh dan Rasūl, pada syari'at Islām dan seterusnya.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pun bersabda: 

هو صغير 

"Dia masih kecil.”

Ketika kita mengimani shalāt dan kita tahu jama'ah kita ada anak kecil, bahkan ada orang tua, atau orang lemah, maka kita tidak boleh memperpanjang bacaan shalāt kita. 

Sebagaimana hadīts shahīh yang masyhur dalam shahīh Al-Bukhāri dan Muslim,dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu. Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ اَلنَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ

"Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam, maka hendaklah dia meringankan shalātnya.”

 فَإِنَّ فِيهِمْ اَلصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا اَلْحَاجَةِ

Karena sesungguhmya di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah dan orang yang sakit

فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ

Sedangkan jika dia shalāt sendiri maka lakukan lah sesukanya."

Para permirsa rahīmakumullāh, ini semua adalah dalīl apabila kita ingin membebani atau menyuruh anak-anak kita suatu amalan baik itu pekerjaan yang berkaitan dengan ibadah, urusan akhirat maupun dunia, hendaknya kita memperhatikan untuk tidak membebani mereka terlalu berat karena mereka masih kecil. 

Demikian semoga bermanfaat dan in syā Allāh kita lanjutkan pada sesi berikutnya.
 
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________________




Halaqah 46 | Melatih Anak Untuk Melakukan Keta’atan Kepada Allāh ﷻ Sejak Kecil

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Syawwal 1441 H / 16 Juni 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 46 | Melatih Anak Untuk Melakukan Keta’atan Kepada Allāh ﷻ Sejak Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-46
~~~~~~~~~~~~ 

MELATIH ANAK UNTUK MELAKUKAN KETAATAN KEPADA ALLAH ﷻ SEJAK KECIL


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد 

Ma'asyiral mustami'in, para pendengar, pemirsa rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-46 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh. 

Kita lanjutkan dalam kitāb pada halaman 84, penulis membuat satu sub judul: 

▪MELATIH ANAK UNTUK MELAKUKAN KETAATAN KEPADA ALLAH ﷻ SEJAK KECIL ( تدريب الطفل على الطاعات منذ الصغر)

Sejak kecil kita selaku orang tua hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk melatih anak-anak kita untuk taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Karena kalau sejak kecil mereka sudah baik maka akan terus terbawa sampai mereka dewasa, bahkan sampai mereka tua.

Alhamdulillāh, kita sebagai orang tua sudah muslim sehingga mereka (anak-anak) lahir di tengah keluarga muslim. Bahkan para shahabat yang sebagian besar mengalami masa jahiliyah, kalau di masa jahiliyyah mereka baik, maka akan terbawa baik sampai (ketika) mereka masuk Islām.

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada sebagian shahabat yang diriwayatkan oleh Al Bukhāri dan Muslim, dari Hakim bin Hizam radhiyallāhu 'anhu, beliau pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

 أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ ـ أَوْ أَتَحَنَّتُ بِهَا ـ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ، هَلْ لِي فِيهَا أَجْرٌ قَالَ حَكِيمٌ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  " أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ

"Wahai Rasūlullāh bagaimana pendapatmu tentang segala perbuatan baik yang ku lakukan pada zaman jahiliyyah, seperti silaturahmi, membebaskan budak, bershadaqah. Apakah ada pahala untukku baginya?"

Kemudian  Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Perbuatan baik yang dahulu engkau lakukan akan tetap ada setelah engkau masuk Islām.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 2220 dan Muslim nomor 123)

Artinya, kebaikan yang dilakukan sebelum seseorang masuk Islām, Allāh akan pelihara (jaga). Bahkan dalam Islām akan semakin bertambah kebaikan tersebut.

Para orang tua, anak-anak kita kalau kita latih mereka sejak kecil untuk taat kepada Allāh, maka kebaikan tersebut akan terus terbawa sampai mereka dewasa, jika mereka istiqāmah dalam hal itu. 

Tentunya pertama dengan usaha kita, kemudian tawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar anak kita menjadi anak yang terus istiqāmah dan menjadi anak yang shālih dan shālihah).

Di antara perintah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadīts dari Al Bukhāri dan Muslim, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalāt ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka karena meninggalkan shalāt ketika mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Apabila anak-anak kita laki-laki dan perempuan, maka sudah wajib untuk dipisahkan sejak kecil padahal belum bāligh. Baik usia mereka tujuh atau sepuluh tahun dan mereka belum wajib untuk shalāt, tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tetap perintahkan mereka untuk shalāt.

⇒ Orang tua diperintahkan untuk mendidik mereka untuk melakukan shalāt.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengajarkan Hasan dan Husain (keluarga Nabi) yang pernah memakan kurma dari sedekah. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam  mengatakan: 

كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا! أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ؟

“ Kih, kih (keluarkan, keluarkan), kurma itu! Apakah engkau tidak tahu sesungguhnya keluarga kita (keluarga Muhammad) tidak memakan shadaqah.”

Demikian pula seperti pengajaran Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada shahabat yang masih kecil saat itu yang bernama Umar bin Abī Salamah (putra Abū Salamah)  Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts shahīh riwayat Muslim dan yang lainnya.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ 

"Wahai anak, sebutlah Nama Allāh dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah dari makanan yang dekat denganmu."

Umar bin Abī Salamah ketika itu masih kecil dan ketika dihidangkan makanan tangannya kemana-mana, semua makanan diambil. Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menasehati Umar dengan mengatakan, "Nak, bacalah bismillāh, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah dari makanan yang dekat denganmu."
 
Umar bin Abī Salamah setelah mendengar nasehat dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tersebut beliau mengatakan:

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْد

"Sejak saat itu, begitulah cara saya makan (selamanya).”

Ini semua menunjukkan bahwa ketaatan yang dilatih oleh orang tua sejak kecil sangat bermanfaat (in syā Allāh) untuk kelangsungan anak kita sampai dewasa.

Masih banyak contoh hadīts yang lain yang menunjukkan pendidikan anak dari kecil sangat baik dan berpengaruh untuk kebaikan sampai kedewasaan.

Demikian para pendengar rahīmakumullāh atas segala kekurangannya mohon maaf. 

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
______________________________________


 

Halaqah 45 | Terkadang Satu Waktu Dan Terkadang Waktu Yang Lain (ساعة و ساعة)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Syawwal 1441 H / 15 Juni 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 45 | Terkadang Satu Waktu Dan Terkadang Waktu Yang Lain (ساعة و ساعة)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-45
~~~~~~~~~~~~

TERKADANG SATU WAKTU DAN TERKADANG WAKTU YANG LAIN (ساعة و ساعة)


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الحمد لله رب العالمين وصلاة وسلم على اشرف الانبياء المرسلين نبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدي اما بعد


Ma'asyiral mustami'in, para pendengar, pemirsa rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-45 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh. 

Kita lanjutkan dalam kitāb pada halaman 83, di situ penulis membuat satu sub judul: 

▪TERKADANG SATU WAKTU DAN TERKADANG WAKTU YANG LAIN (ساعة و ساعة)

Artinya kondisi kita boleh berubah-ubah selama tidak sampai jatuh kepada hal yang maksiat atau tidak bermanfaat.

Diriwayatkan dalam Shahīh Muslim, dari hadīts Hanzhalah Al Usaidi radhiyallāhu 'anhu, beliau menceritakan:

لَقينَي أَبُو بَكْر رضي اللَّه عنه فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ يَا حنْظلَةُ؟ قُلْتُ: نَافَقَ حنْظَلَةُ، قَالَ: سُبْحانَ اللَّه مَا تقُولُ؟،: قُلْتُ: نَكُونُ عِنْد رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُذكِّرُنَا بالْجنَّةِ والنَّارِ كأَنَّا رأْيَ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرجنَا مِنْ عِنْدِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عافَسنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلادَ وَالضَّيْعاتِ نَسينَا كَثِيراً قَالَ أَبُو بكْر رضي اللَّه عنه: فَواللَّهِ إِنَّا لنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فانْطلقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْر حَتَّى دخَلْنَا عَلى رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم. فقُلْتُ نافَقَ حنْظَلةُ يَا رَسُول اللَّه، فقالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "ومَا ذَاكَ؟ " قُلْتُ: يَا رسولَ اللَّه نُكونُ عِنْدكَ تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ والْجنَةِ كَأَنَّا رأْيَ العَيْنِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسنَا الأَزوَاج والأوْلاَدَ والضَّيْعاتِ نَسِينَا كَثِيراً. فَقَالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:"وَالَّذِي نَفْسِي بِيدِهِ أن لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْر لصَافَحتْكُمُ الملائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُم وَفي طُرُقِكُم، وَلَكِنْ يَا حنْظَلَةُ سَاعَةً وسَاعَةً" ثَلاثَ مرَّاتٍ،

Abū Bakar Ash Shidiq menemuiku dan berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?”

Aku menjawab, "Hanzhalah telah melakukan sebuah kemunafikan."

Abū Bakar bertanya, "Subhānallāh, apa yang engkau katakan?"

Aku menjawab, "Kami berada bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang sedang mengingatkan kami semua tentang Surga dan Neraka. Ketika itu seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi ketika kami keluar dari sisi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, kami bersenda gurau dengan dengan isteri dan anak-anak  juga sibuk dengan pekerjaan, sehingga kami banyak melupakan apa yang telah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terangkan."

Abū Bakar berkata, "Demi Allāh, kami pun mengalami seperti itu!"

Lalu aku bersama Abū Bakar pergi menghadap Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Aku berkata, "Hanzhalah telah melakukan kemunafikan, wahai Rasūlullāh!"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Apa yang telah terjadi?"

Aku berkata, "Wahai Rasūlullāh, aku berada bersamamu, engkau mengingatkan kami semua tentang Surga dan Neraka, ketika itu seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi ketika kami keluar dari sisimu, kami bersenda gurau dengan isteri dan anak-anak, juga sibuk dengan pekerjaan sehingga kami banyak melupakan apa yang telah engkau terangkan."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, "Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya jika kalian selamanya berada di tangan-Nya andaikan kalian dalam keadaan seperti ketika kalian bersamaku dan selalu berada di dalam keadaan dzikir, niscaya para malāikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah ada saatnya dan ada saatnya." (Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan tiga kali)."

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Artinya manusia itu wajar jika iman sedang tinggi kemudian disaat lain imannya turun tetapi tidak sampai melakukan maksiat.

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ 

"Iman itu bertambah dan berkurang.”

Penulis mengatakan:

 ساعة و ساعة 
Maksudnya:

 ساعة المرح مع الأولاد  

"Terkadang kita boleh bermain-main bersama anak-anak (isteri atau keluarga kita)."

 وساعة للإجتهاد في العبادة 

"Terkadang waktu kita juga kita gunakan sebaik-baiknya untuk beribadah."

Yang tidak boleh adalah untuk bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi itulah waktu kita. Kita gunakan untuk hal-hal yang baik. Baik untuk ibadah maupun untuk bermain sekalipun, selama itu  diperbolehkan maka tidak masalah. Dan selama tidak melalaikan kewajiban (in syā Allāh) tidak masalah. 

Demikian para pendengar rahīmakumullāh semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________________



© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais