PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Selasa, 23 Maret 2021

Halaqah 7 | Memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  23 Maret
🌍 BimbinganIslam.com

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 7 | Memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

~~~~~~~~~~~~

DO’A ORANG-ORANG SHĀLIH DAN KETURUNANNYA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-7 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi hafīdzahullāh.

Di pertemuan yang lalu, kita telah membahas satu pembahasan bahwasanya para nabi dan rasūl sekalipun tidak memiliki hidayatul taufīq.

Kita sudah jelaskan, hidayah itu ada dua macam, yaitu:

⑴ Hidayah  Dalalah Wal Irsyād

Hidayah ini hanya sekedar memberikan bimbingan dan petunjuk, hidayah ini dimiliki oleh kita (manusia dan orang-orang yang menginginkan orang lain mendapatkan hidayah Allāh).

Hidayah al irsyād ini dimiliki juga oleh para nabi, rasūl, orang-orang shālih, ulamā yang berdakwah di jalan Allāh untuk memberikan bimbingan dan petunjuk kepada orang lain.

⑵ Hidayah Al Taufīq

Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (maksudnya) hati seseorang diberikan hidayah al taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Hidayah al taufīq tidak dimiliki oleh siapapun dari makhluknya, baik para nabi dan rasūl sekalipun.

Dan ini telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sekalipun tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abū Thālib.

Abū Thālib sangat membela Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika Beliau berdakwah, sampai Beliau diangkat menjadi seorang rasūl.

Kemudian turunlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Qashshah: 56.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

”Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allāh memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Demikian pula Nabi Nūh ‘alayhissallām, beliau tidak bisa memberikan hidayah taufīq kepada putranya, agar putranya beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (putranya menolak dan membangkang seruan ayahnya).

Demikian pula Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām, beliau juga mendakwahi ayahnya.

Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām dengan ucapan sangat lembut mendakwahi ayahnya dengan panggilan, “Yā abatiy….. yā abatiy….. yā abatiy, (hingga tiga kali).” Sebagaimana disebutkan di dalam surat Maryam ayat 42 - 45,.

Namun ayahnya tidak mengubris Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām. Dan ini tidak membuat ayahnya mendapatkan hidayah taufīq dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebaliknya Nabi Yūsuf ‘alayhissallām, beliau kecil tanpa mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari siapa pun, baik dari orang tuanya, saudaranya.

Nabi Yūsuf sudah di usir sejak kecil bahkan dibuang kedalam sumur yang dalam kemudian beliau dipunggut dan dibeli oleh keluarga kerajaan, namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah taufīq kepadanya. Sampai akhirnya beliau menjadi seorang nabi dan rasūl.

Demikian pula Nabi Mūsā ‘alayhissallām, tanpa pendidikan dari keluarganya. Karena dari bayi nabi Mūsā ‘alayhissallām telah dipelihara oleh keluarga Fir’aun. Fir’aun adalah orang yang sangat membangkang kepada Allāh, keluarga yang dikenal suka membunuh.

Namun beliau tumbuh berkembang menjadi seorang nabi dan rasūl ditengah-tengah keluarga Fir’aun. Tentunya yang memberikan hidayah ini adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini yang pernah kita bahas pada pertemuan lalu.

Adapun sesi pertemuan yang sekarang kita akan membahas sub judul yang diberikan oleh penulis yaitu:

“Hendaknya kita banyak-banyak berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar diberikan keturunan yang shālih.”

Maka anda, Wahai Muslim, Wahai Ayah, Wahai Ibu.

Apabila anda sudah mengetahui dan meyakini bahwasanya yang memberikan hidayah taufīq hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka sudah selayaknya dan seharusnya kita memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar kita diberikan keturunan yang shālih. Dan apabila kita telah diberikan keturunan yang shālih, maka kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memperbaiki keturunan kita.

Agar Allāh menjadikan keturunan kita semua keturunan yang shālih dan menjaga mereka dari syaithān, jinn maupun manusia.

Dan inilah contoh sebagian do’a yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla hikayatkan di dalam Al Qur’ān. Do’a-do’a orang-orang shālih, baik itu do’a-do’a hamba-hamba Allāh yang shālih secara umum maupun do’a para nabi dan rasūl secara khusus.

⑴ Do’a hamba-hamba Allāh yang shālih.

Do’a hamba-hamba Allāh yang shālih, bisa kita lihat di dalam surat Al Furqān: 74.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

”Yā Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

⑵ Do’a Nabi Zakariyyā ‘alayhissallām.

Nabi Zakariyyā ‘alayhissallām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana disebutkan didalam surat Maryam: 5-6.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا۞ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

”Yā Allāh, anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qūb dan jadikanlah dia, yā Tuhanku, seorang yang diridhāi.”

Demikian pula disebutkan di dalam surat Āli Imrān: 38.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

”Yā Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

⑶ Do’a Nabi Ibrāhīm ‘alayhissallām

Nabi Ibrāhīm alayhissallām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tentunya do’a nabi dan rasūl dikabulkan.

Nabi dan rasūl (in syā Allāh) mereka adalah orang-orang shālih namun mereka tetap berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk memberikan contoh kepada kita umatnya.

Nabi Ibrāhīm berdo’a:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

”Yā Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS Al Baqarah: 128)

Demikian pula do’a beliau dalam surat Ash shaffat : 100.

Beliau berdo’a:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

”Yā Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shālih.”

Dan beliau juga berdo’a di dalam surat Ibrāhīm : 40

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

”Yā Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalāt, Yā Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Beliau juga berdo’a di dalam Ibrāhīm: 35:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

”Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

⑷ Do’a orang yang sudah mencapai usia 40 tahun.

Demikian pula do’a orang yang sudah mencapai usia 40 tahun, sebagaimana disebutkan di dalam surat Al Ahqaf: 15.

Mereka berdo’a:

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

”Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhāi, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang muslim.”

Jadi perbanyaklah do’a !

√ Wahai hamba Allāh.
√ Wahai orang yang menghendaki kebaikan untuk dirinya, keluarganya dan keturunannya.
√ Wahai orang yang ingin keluarganya dijadikan oleh Allāh keluarga orang-orang yang shālih.

Perbanyaklah berdo’a kepada Allāh agar Allāh memberikan kebaikan, karunia, keshālihan kepada kita semua yang benar-benar berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian untuk pertemuan ini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________________________

Halaqah 08| Contoh Doa Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  23 Maret

🌍 BimbinganIslam.com

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 08|  Contoh Doa Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka


BEBERAPA CONTOH DO’A-DO’A NABI SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM UNTUK KETURUNAN BELIAU DAN SELAIN MEREKA

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-8 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dipertemuan yang lalu, telah kita bahas masalah: Hendaknya kita memperbanyak do’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla , memintanya kepada-Nya agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla karuniakan kepada kita anak-anak (keturunan) yang shālih.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan kita orang tua yang baik. Dan anak-anak kita pun Allāh berikan taufīq agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dan shālihat.

Pada pertemuan ini penulis memberikan judul, “Beberapa contoh do’a-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan selain mereka.”

Di sini bisa kita lihat bagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan cucunya (Al Hasan dan Al Husain).

Dalam hadīts shahīh Bukhāri dan Muslim Beliau mendo’akan Al Hasan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

”Yā Allāh, sungguh aku mencintai dia, maka cintailah dia yā Allāh.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3749 dan Muslim nomor 2422)

Nabi meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencintai Al Hasan bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Artinya jika Allāh mencintai seseorang berarti:

√ Allāh meridhāi orang tersebut.
√ Allāh memberikan kebaikan (keshālihan).
√ Allāh luruskan hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim dari hadīts Usamah bin Zaid, disebutkan di sana bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggendong Al Hasan bin Āli dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

”Yā Allāh, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua.”

Do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada keturunan Beliau dan kepada anak-anak yang lain dari para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula do’a kepada Al Husain bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, disebutkan dalam hadīts cukup panjang, namun di situ Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a sampai tiga kali yang berbunyi :

اللَّهُمَّ أَهْلي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

”Yā Allāh hilangkanlah dari mereka semua kenajisan (kotoran) sucikan mereka dengan sebenar-benar kesucian.”

(Hadīts riwayat Ahmad, dinyatakan hasan atau shahīh oleh pentahqiqnya)

Juga do’a untuk Usamah bin Zaid radhiyallāhu ta’āla ‘anhu secara khusus.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga berdo’a sebagaimana dalam Musnad Imām Ahmad dengan do’a yang mirip dengan yang sebelumnya disebutkan riwayat Bukhāri dan Muslim.

Demikian pula kepada Abdullāh bin Ja’far (sepupu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam), Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ ، وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

”Yā Allāh, tinggalkanlah untuk Ja’far kebaikan untuk keluarganya dan berkahilah untuk anaknya (Abdullāh bin Ja’far) dalam usahanya.”

Ini adalah do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri disebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan seorang anak kecil (wanita) sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Ummu Khālid binti Khālid bin Saīd radhiyallāhu ta’āla ‘anhā.

Beliau membawakan putrinya itu lalu mengatakan, “Ini baju yang bagus, baju yang baik.”

Setelah itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan anak kecil ini dengan berkata:

أَبلِي وَأَخْلِقِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِفِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِقِي

”Pakailah pakaian ini sampai betul-betul usang (hilang).

Artinya menurut Al Hafīzh Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam syarah Shahīh Bukhāri yaitu Kitab Fathul Barī.

“Kalau ada do’a (perkataan) seperti itu, maksud do’a tersebut adalah agar orang yang dido’akan panjang umur dan diberkahi hidupnya”

Ini adalah do’a yang baik dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada anak kecil tersebut agar anak tersebut panjang umur dan hidup dalam keberkahan.

Kemudian do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada shahābat yang mulia Anas bin Mālik radhiyallāhu ta’āla ‘anhu yang merupakan shahābat Anshār yang cukup lama berkhidmah mendampingi dan melayani keluarga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendo’akan Anas bin Mālik:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

”Yā Allāh, perbanyaklah hartanya, dan anaknya dan berkahilah dia di dalamnya.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2481)

Anas bin Mālik betul-betul mendapatkan keberkahan yang luar biasa, sampai-sampai beliau mengatakan bahwasanya beliau adalah orang yang paling banyak harta dan keturunannya dari kalangan Anshār.

Itulah doa-do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhum ajma’īn, keturunan Beliau maupun anak-anak shahābat yang lainnya.

Kita harus mencontoh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendo’akan putra putri kita secara khusus dan secara umum anak-anak kaum muslimin, agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian, semoga yang ringkas ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________________

Halaqah 09| Larangan Mendo’akan Keburukan Untuk Anak Keturunan Kita

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  23 Maret

🌍 BimbinganIslam.com

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 09 | Larangan Mendo’akan Keburukan Untuk Anak Keturunan Kita 

~~~~~~~~~~~~


LARANGAN MENDO’AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK KETURUNAN KITA

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma’asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-9 dari pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā’ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh Ta'ala

Pertemuan yang lalu telah kita sampaikan contoh-contoh do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada keturunan-keturunan beliau (Al Hasan dan Al Husain) dan anak-anak shahābat radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ajma’īn.

Kita dianjurkan mencontoh Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) untuk memperbanyak mendo’akan untuk putra putri agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah taufīq dan menjadikan anak-anak kita shālih dan shālihat.

Pada kesempatan kali ini, penulis memberikan judul “Larangan mendo’akan keburukan kepada anak keturunan kita”.

Kita dilarang mendo’akan keburukan untuk anak keturunan kita atau siapapun karena:

√ Dikhawatirkan do’a buruk tersebut dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Di khawatirkan ketika kita berdo’a yang buruk bertepatan dengan waktu di ijabah do’a (na’ūdzubillāhi min dzālik).

Dan ini tidak diharapkan tentunya, karena akan mengakibatkan penyesalan dan kita akan mendapatkan hasil yang buruk karena kesalahan kita sendiri (mendo’akan kejelekan untuk anak keturunan kita).

Dan di dalam Shahīh Muslim dari hadīts Jābir radhiyallāhu ta’āla ‘anhu (hadīts ini cukup panjang) namun penulis meringkas hadīts ini. Disebutkan ada seorang shahābat berkata kepada untanya.

Dia berkata:

شَأْ ! لَعَنَكَ اللَّهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ هَذَا اللاعِنُ بَعِيرَهُ ؟ ” قَالَ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ” انْزِلْ عَنْهُ ، فَلا تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ ، لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لا تُوَافِقُوا مِنَ السَّاعَةِ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

”Wahai unta terlaknatlah kamu!”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

”Siapakah yang telah melaknat untanya?”

Kemudian shahābat tadi mengatakan, “Saya, wahai Rasūlullāh.”

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

”Kalau begitu turunlah kamu dari untamu itu, jangan kamu mengikuti kami (bersama kami) dengan sesuatu yang telah terlaknat.”

⇒ Inilah adalah larangan yang keras dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kita tidak diperbolehkan berdo’a sembarangan atau berkata buruk, apalagi dengan sengaja mendo’akan keburukan.

Ketika shahābat ini melaknat untanya, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat khawatir, dan Nabi pun telah melarang mendo’akan keburukan untuk diri sendiri, anak-anak, harta kita.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Jangan sampai kalian meminta sesuatu atau berdo’a sesuatu yang jelek di saat waktu-waktu diijabah do’a oleh Allāh (waktu Allāh Subhānahu wa Ta’āla kabulkan do’a tersebut).”

Jadi berbahaya jika kita berkata-kata buruk kepada apapun dan siapapun, terutama kepada anak-anak kita.

Sering kita dapati orang tua ketika dibuat marah atau saat dia emosi kepada anak-anaknya, dia berkata dengan kata-kata yang kurang baik, bahkan mengatakan dengan kata-kata kotor (keji). Dan dia akan menyesali perkataannya ketika dia sudah tidak dalam kondisi marah.

Bagaimana bila saat itu Allāh kabulkan do’a tersebut?

Bagaimana bila do’a jelek itu, melekat pada anak tersebut?

Tentu penyesalan tidak ada gunanya.

Oleh karena itu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kita mendo’akan buruk kepada diri sendiri, anak-anak dan harta kita, karena bisa jadi yang kita ucapkan (do’akan) bertepatan dengan waktu do’a diijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian yang ringkas ini, semoga bermanfaat, dan memberikan pelajaran kepada kita.

Hendaknya kita menjaga lisan kita dari kata-kata kotor atau do’a-do’a tidak baik yang akan menjadi penyesalan buat kita nanti.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________________________







Rabu, 17 Maret 2021

Rincian Kesalahan-kesalahan dalam Adzan

by Rory Rachmad  |  at  17 Maret
بسم الله الرحمن الرحيم
Suara : al Ustadz Abu Hazim Muhsin Bin Muhammad Bashariy (Alumni Darul Hadits Dammaj Yaman)

Alhamdulillah pernah mendatangi majelis beliau (hanya sekali) ketika itu Al-Ustadz di Cianjur. nama beliau terkenal kurang lebih di tahun 2000 keatas dari ilmu qira'ahnya

di antara guru beliau waktu di yaman yaitu :

1. al-‘Allamah Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy
2. al-Muhaddits Abu ‘Abdirrohman Yahya bin ‘Aly al-Hajuri


Belajar Ta'awudz 17 menit  (أَعُ (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ



 

awal
Macam - Macam Kesalahan
Audio  
01 - Menyambung kalimat dengan huruf (و) الله أكبر الله أكبر  kesalahan besar
01 - Memanjangkan Huruf Alif أكبر    kesalahan besar
01 - Menghilangkan huruf HA الله   kesalahan besar
0101 - Menghilangkan huruf Hamzah الله   kesalahan besar
0101 - Memendekkan Lafadzh (اللهkesalahan kecil
0102 - Memanjangkan Hamzah  الله kesalahan besar
0103 - Menambah huruf (و) setelah  Hamzah kesalahan besar
0104 - Menipiskan lafadzh الله kesalahan kecil
0105 - Memanjangkan huruf Ha kesalahan besar
0106 - Memanjangkan kalimat (الله) kesalahan kecil
0107 - Tidak menjaga tebal dan tipis kesalahan kecil
0108 - Mengganti huruf Ha dan Ha (hams) kesalahan besar
0110 - Berlebihan dengan huruf Hu kesalahan kecil
0111 - Memanjangkan huruf Ba  (أكبر) kesalahan besar
0112 - Qalqalah huruf Kaaf (أكبر) kesalahan besar
0114 - Mendhammahkan Huruf Ba kesalahan besar
0115 - Banyak menggetarkan Huruf Ra (أكبر) kesalahan kecil
0116 - Menghilangkan hams huruf Kaaf (أكبر) kesalahan kecil
0117 - Qalqalah huruf Ra (أكبر
0118 - Mengganti huruf Ra dengan Wau
0120 - Mengganti huruf Hamzah dengan Wau dan memanjangakannya kesalahan besar
0121 - 0123 Merubah dan memanjangkan harakat huruf Ra

 


Macam - Macam Kesalahan
Audio  
02 - lafadz أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
03 - Lafadzh اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
03 - Lafadzh اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
04 - Lafadzh حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
05 - Lafadzh حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ



Copyright 2021

Rabu, 29 Juli 2020

Halaqah 59 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83 (lanjutan)

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Dzulqa’dah 1441 H / 24 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 59 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-59b
〰〰〰〰〰〰〰

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL (LANJUTAN)


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal adalah (menurut sebagian ulama) agar kita bisa berbuat adil. 

Adil dari sisi mana? 

Adil, agar kaki kita yang tidak menggunakan sandal sama dengan kaki yang menggunakan sandal. Jika menggunakan sandal maka menggunakan sandal keduanya, kalau melepas sandal maka lepas keduanya, biar adil.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa agar tidak terjadi sughrah, yaitu sesuatu yang aneh dalam berpakaian. Takutnya ketika kita berjalan di pasar menggunakan satu sandal pastinya akan dilihat oleh orang-orang. 

Dan ketika kita memakai sesuatu hal yang bisa dilihat oleh orang-orang, kemudian orang-orang merasa janggal sehinggga bisa masuk ke dalam pembahasan berpakaian sughrah (pakaian yang janggal).

Alasan lain yang disebutkan adalah karena syaithan berjalan dengan satu sandal.

Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam Ath Thahawi dan bisa dilihat di dalam Silsilah Hadīts Ash Shahihah karya Syaikh Al Albāniy rahimahullāh nomor 384. 

Karena sebuah alasan yaitu:

إن الشيطان يمشي بالنعل الواحدة

"Sesungguhnya syaithan berjalan dengan satu sandal.”

Sehingga salah satu alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan satu sandal adalah agar tidak meniru syaithan.

Kemudian, yang perlu dicatat di sini adalah bahwa larangan ini berlaku ketika berjalan, tidak saat kita berdiri atau duduk. Terkadang kita duduk dengan satu kaki menggunakan satu sandal dan kaki satunya naik /diangkat ke atas, ini tidak mengapa.

Yang dilarang di sini adalah berjalan dengan menggunakan satu sandal (lebih baik dilepas semuanya atau dipakai semuanya). 

Syaikh Bin Baz rahimahullāh pernah ditanya apabila kita akan memakai sandal, sandal yang satu sudah kita dapatkan ternyata sandal yang satunya berada di satu atau dua langkah berikutnya, maka apakah kita harus berjalan mengambil dulu atau kita boleh memakai satu sandal kemudian kita berjalan satu atau dua langkah untuk mengambil (memakai) sandal berikutnya?

Beliau (Syaikh Bin Baz) menjawab, "Apabila engkau mampu untuk tidak menyelisihi sunnah, maka lakukanlah walau pun hanya satu atau dua langkah."

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Perkara sunnah ini tidak boleh kita sepelekan, kenapa? Karena di dalam sunnah pasti ada pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Kita saja kalau pergi ke mall-mall kemudian ada diskon (bonus) terkadang kita tertarik. Masa dengan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita tidak tertarik lalu kita mengatakan, "Ah, itu hanya sunnah."

Kenapa kita tidak mengatakan, "Ah, itu hanya bonus. Ah, itu hanya diskon," kenapa tidak kita katakan seperti itu? Tetapi kita bersikap tidak konsisten, kalau melihat bonus atau diskon kemudian kita tertarik. Tapi ketika kita melihat bonus dari sisi pahala kita tidak tertarik.

Maka kita harus banyak belajar dan banyak memperbaiki diri untuk bersikap dengan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Walau pun sunnah setidaknya jangan sampai kita menyepelekan walaupun mungkin kita belum bisa melakukan. Tetapi tetap kita harus menghargai dan berusaha untuk menjalankan sunnah tersebut.

Inilah pelajaran kita pada pertemuan ke-58, hendaklah kita berjalan dengan dua sandal atau setidaknya kita lepas semuanya dan jangan sampai kita berjalan dengan satu sandal walaupun hukumnya menurut para ulama tidak sampai haram, namun kita tidak boleh menyepelekan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Semoga kita dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diberi taufiq untuk menjalankan sunnah-sunnahnya.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb 

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________



Halaqah 58 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Dzulqa’dah 1441 H / 23 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 58 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-58
〰〰〰〰〰〰〰

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita dari kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, sekarang kita sudah sampai pada pertemuan ke-58 dan kita masih berada pada pembahasan sandal. 

Sebelumnya kita telah membahas sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas adab-adabnya.

Di antara adab yang disebutkan oleh Imam At Tirmidzī rahimahullāh adalah tidak bolehnya berjalan dengan satu sandal.

Beliau membawakan tiga hadīts.

• Hadīts nomor 81

Sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

لاَ يَمْشِيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعَلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا

"Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan hanya memakai satu sandal, hendaklah ia memakai keduanya atau melepas keduanya.”

• Hadīts nomor 82

Imam At Tirmidzī rahimahullāh membawakan sanad lain, yang mana sanad hadīts ini lebih pendek.

Dari sisi mana pendeknya?

Kalau hadīts nomor 81 Imam At Tirmidzī harus melewati dua rawi untuk (kepada) Imam Mālik bin Annas yaitu harus melewati Ishaq bin Musa Al Anshari kemudian melewati Ma'n baru kepada Imam Mālik. 

Namun pada hadīts nomor 82 ini Imam At Tirmidzī mau mengatakan bahwasanya, "Saya memiliki sanad yang lebih tinggi (lebih: على , kalau dalam bahasa musthalah hadīts) karena saya mendapatkan hadīts dari Qutaibah bin Sa'id Al Baghilani dari Mālik bin Annas langsung. Jadi untuk mencapai Mālik bin Annas saya hanya membutuhkan satu rawi saja."

Jadi hadīts nomor 82 ini hanya menguatkan periwayatan Imam At Tirmidzī rahimahullāh.

• Hadīts nomor 83

Dimana hadīts ini juga hampir sama maknanya tetapi hadīts ini dari shahabat Jabir. Imam At Tirmidzī meriwayatkan dengan sanadnya sampai shahabat Jabir bin Abdillāh radhiyallāhu 'anhu.

Beliau (Jabir bin Abdillāh) berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

نَهَى أَنْ يَأْكُلَ، يَعْنِي الرَّجُلَ، بِشِمَالِهِ، أَوْ يَمْشِيَ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ

"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang seseorang yakni seorang laki-laki makan dengan tangan kiri atau berjalan dengan hanya memakai satu sandal.”

Ini adalah pembahasan kita di pertemuan ke-58  yang mana kita membahas adab dalam berjalan yaitu tidak boleh memakai satu sandal tetapi harus dipakai keduanya atau dilepas semuanya.

Hadīts ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhāri nomor 5855 dan Imam Muslim nomor 2097.

Dan di antara faedah atau pelajaran dari hadīts ini adalah seorang muslim dilarang berjalan dengan satu sandal saja. Solusinya adalah digunakan semuanya atau dilepas semuanya.

• Hukum Memakai Satu Sandal 

Apa hukum memakai satu sandal?

Hukumnya menurut sebagian ulama adalah makruh tanzih (tidak sampai haram). Bahkan menurut Imam An Nawawi rahimahullāh hukumnya adalah makruh saja.

Kenapa? 

Karena ini berkaitan dengan adab-adab dan irsyad (bimbingan) dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi sahabat Bimbingan Islām,

Walaupun ini makruh, setidaknya kita taat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah lebih utama karena di sini nanti ada sebuah riwayat yang menunjukkan alasan kenapa dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb 

Semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________



Halaqah 57 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 78 dan 80

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  29 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 01 Dzulqa’dah 1441 H / 22 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 57 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 78 dan 80
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-57
〰〰〰〰〰〰〰

HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM


بسم الله 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh kita sudah sampai pada pertemuan ke-57 dalam membahas kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah. Dan pada pertemuan ke-57 ini (in syā Allāh) kita akan membaca hadīts nomor 78 dan 80.

Yang mana hadīts ke-78 merupakan hadīts yang memberikan keterangan tentang salah satu sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Yang mana sandal Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah sandal yang tidak ada bulunya lagi.

Jadi sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana yang pernah kita jelaskan bahwasanya sandal beliau terbuat dari kulit.

• Hadīts nomor 78

Hadīts ini merupakan hadīts yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzī sampai kepada 'Ubaid bin Juraij. 'Ubaid bin Juraij pernah bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallāhu 'anhu.

Beliau ('Ubaid bin Juraij) berkata:

رَأَيْتُكَ تَلْبَسُ النِّعَالَ السِّبْتِيَّةَ

"Aku melihatmu memakai sepasang sandal sibtiyyah.”

⇒ Sandal sibtiyyah adalah sandal yang terbuat dari kulit dan sudah diolah dengan cara khusus sehingga rambut-rambutnya (bulu-bulunya) sudah hilang.

قَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْبَسُ النِّعَالَ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا شَعَرٌ

Ibnu Umar menjawab, "Sesungguhnya aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai sepasang sandal yang sudah tidak ada bulunya (polos)."

Di sini Ibnu Umar menerangkan makna sibtiyyah yaitu sandal yang sudah tidak ada rambutnya (bulunya) 

وَيَتَوَضَّأُ فِيهَا

"Kemudian ketika itu aku melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berwudhu dengan menggunakan sandal tersebut."

Kata Syaikh Abdurrazzaq rahimahullāh ada dua kemungkinan, 

⑴ Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhu dengan sandal tersebut adalah berwudhu tanpa melepas sandalnya.
⑵ Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhu dengan melepas sandalnya kemudian memakai sandalnya kembali.

Dan ini suatu hal yang sudah biasa kita lakukan, kalau kita berwudhu dan kita menggunakan sandal maka sandal tersebut kita lepas sebentar kemudian kita pakai lagi.

فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَلْبَسَهَا

Kemudian Ibnu Umar mengatakan, "Aku suka menggunakan sandal sebagaimana yang digunakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Dan merupakan hal yang ma'ruf di kalangan shahabat bahwasanya Ibnu Umar sangat semangat meniru kebiasaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, alaupun sesuatu yang simple dan bisa jadi itu suatu yang bukan merupakan ibadah karena hanya dari kebiasaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Misalnya:

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah buang air di suatu tempat dan Ibnu Umar tahu tempat tersebut pernah dijadikan tempat buang air oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka Ibnu Umar pun ikut buang air di tempat itu.

Ini kecintaan Ibnu Umar kepada contoh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadi hadīts ke-78 ini memberikan gambaran kepada kita dan menekankan kepada kita bahwa sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terbuat dari kulit yang sudah tidak ada rambut (bulu-bulunya) lagi. Dan di sini ada tambahan faedah bahwasanya Ibnu Umar suka memakai apa yang dipakai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian kita membaca hadīts berikutnya.

• Hadīts nomor 80

Hadīts ini menyatakan bahwa sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam itu adalah sandal yang sederhana, bahkan sandal beliau terkadang sudah di tambal-tambal.

Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzī sampai kepada Amr bin Huraits radhiyallāhu 'anhu.

Beliau (Amr bin Huraits) berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَتَيْنِ

"Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam shalāt dengan memakai sepasang sandal yang sudah ditambal.”

Jadi sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah ditambal, Beliau adalah orang yang sederhana.

Jangan dikira sandal tersebut ditambal oleh orang lain, sandal tersebut ditambal sendiri oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu 'anhā ketika beliau (radhiyallāhu 'anhā) ditanya apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di rumahnya.

Di antara salah satu jawabannya adalah:

كما يصنع أحدكم: يخصف نعله ويرقع ثوبه

"Beliau melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian yaitu melubangi (mengikat) sandalnya dan menambal bajunya." (Hadīts riwayat Ahmad nomor 24749)

Ini menunjukkan kesederhanaan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, yang mana Beliau mau memakai sandal yang sudah ditambal.

⇒ Di sini juga ada faedah yaitu shalāt di dua sandal atau shalāt dengan tetap menggunakan sandal. 

Dan merupakan sunnah yang diakui oleh para ulama, bahwasanya shalāt dengan menggunakan sandal merupakan sunnah. Akan tetapi, kata Al Lajnah Ad Da'imah, sebagaimana yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrazzaq, kalau zaman sekarang tidak disarankan shalāt memakai sandal kecuali ketika berada di padang pasir (misalnya) atau shalāt di luar (di tanah) atau saat kita shalāt Ied.

Ketika shalāt Ied dan kita sudah tidak kebagian karpet, maka kita bisa mempraktekkan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, akan tetapi ketika kita shalāt di masjid dan di sana tersedia karpet maka tidak sepantasnya kita masuk dengan sandal meskipun dengan alasan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah shalāt menggunakan sandal.

Menurut Al Lajnah Ad Da'imah, kita harus melepas sandal kita untuk menjaga kebersihan dan jangan sampai orang-orang yang shalāt terganggu dikarenakan terdapat kotoran yang menempel di sandal kita.

Inilah 2 hadīts yang kita bahas pada pertemuan ke-57 ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb. 

وصلى الله على نبينا محمد
______________________________________




© 2021 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais