PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 09 Agustus 2019

Halaqah 05 | Pelajaran Penting Di Bulan Dzulhijjah

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 08 Dzulhijjah 1440H / 09 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 05 | Pelajaran Penting Di Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H5
〰〰〰〰〰〰〰

PELAJARA PENTING DIBULAN DZULHIJJAH


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Dari bulan Dzulhijjah ini, kita mengambil pelajaran yang cukup banyak di antaranya adalah, ternyata yang terpenting dalam ibadah kita harus mengikuti SOP (Standart Operasional Peribadahan) atau yang kita kenal dengan syar'iat.

Dalam ibadah qurban (misalnya) kita pernah mendapatkan sebuah kisah yang memiliki pelajaran berharga. Dalam hadīts riwayat Muslim, shahābat Jābir bin Abdillāh radhiyallāhu ta'āla 'anhumā bercerita:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ النَّحْرِ بِالْمَدِينَةِ فَتَقَدَّمَ رِجَالٌ فَنَحَرُوا وَظَنُّوا أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَدْ نَحَرَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيدَ بِنَحْرٍ آخَرَ وَلاَ يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم

_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah shalāt Ied bersama kami di Madīnah pada tanggal 10 Dzulhijjah, lalu beberapa orang menyembelih hewan qurbannya, mereka mengira bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyembelih hewan qurbannya._

_Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

"Siapa yang menyembelih sebelum Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam agar  mengulangi ibadah qurbannya. Dan jangan sampai ada yang menyembelih sampai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyembelih hewan qurbannya." (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor: 1964)

Dari kisah ini kita tahu bahwa ibadah qurban pada masa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam harus dilakukan setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam qurban.

Kalau sekarang, kita melakukan ibadah qurban harus setelah shalāt Ied.

"Barangsiapa menyembelih hewan qurbannya sebelum shalāt Ied maka ibadah kurbannya tidak sah."

Sahabat BiAS,

Anda sudah terbayang, apa masalahnya?

Coba ada pikirkan!

Berapa jarak antara penyembelihan dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan penyembelihan dari shahābatnya?

Dan zaman sekarang, berapa jarak penyembelihan sebelum shalāt ataupun sesudah shalāt, adakah satu jam? Saya kira tidak sampai satu jam, tapi ternyata ibadah tersebut dikatakan tidak sah.

Ini menandakan dalam ibadah, jalan yang lebih selamat adalah:

√ Mengikuti contoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Mengikuti SOP (Standart Operasional Peribadahan) yang disampaikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,

Jangan berusaha untuk berinovasi di dalam beribadah, karena inovasi dalam ibadah merupakan hal yang dilarang dalam agama kita.

Dalam ibadah kita hanya boleh melakukan duplikasi (meniru atau mencontoh) saja.

Jangan lupa diberi garis bawah kalimat tadi! Beri tanda " jangan lupa ditebalkan.

”IBADAH ITU DUPLIKASI BUKAN INOVASI”

Dan hal ini kita dapat juga mengambil pelajaran dari puasa yang diharamkan pada tanggal 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah hadīts dari Abī Said Al Khudriy radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ، يَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ النَّحْرِ

"Sesungguhnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang puasa pada dua hari, yaitu hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adhā." (Hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim)

Dalam hadīts lain. Hadīts dari Nubaisyah Al Hudzali radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

"Hari-hari Tasrīq adalah hari makan-makan dan minum.” (Hadīts riwayat Muslim)

Kita mengerti bahwa puasa adalah ibadah yang agung, tetapi ibadah itu harus dibangun di atas aturan-aturan syar'iat, tidak bisa kita membuatnya (membangun) ibadah dengan perasaan atau prasangka. Kita harus tahu dengan benar mana ibadah dan mana kemaksiatan dengan menggunakan dalīl-dalīl.

Bahkan terkadang ibadah yang besar seperti puasa,  akan menjadi kemaksiatan dan dosa di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla, jika kita melanggar aturannya.

Sehingga dari ini semua kita tahu yang terpenting adalah bagaimana kita tunduk dan taat kepada Allāh dan Rasūl-Nya. Bukan bagaimana kita banyak ibadah atau target ibadah kita banyak.

Ibadah harus diletakkan di bawah ketaatan dan ketundukan, di bawah aturan atau SOP syar'iat.

√ Ketika kita diminta berpuasa, maka kita berpuasa.

√ Ketika kita diminta tidak berpuasa maka kita jangan berpuasa.

Karena yang terpenting seorang harus tunduk dan patuh kepada Allāh dan Rasūl-Nya.

Ketika kita tidak berpuasa karena tunduk dan patuh kepada Allāh dan Rasūl-Nya, kita pun akan mendapatkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, (in syā Allāh).

Kita tutup dengan sebuah kalimat yang disarikan dari hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mungkin kita sudah sering mendengarnya, bahwa:

√ Kita tidak akan memasuki surga Allāh dengan amal ibadah kita.

√ Kita tidak akan memasuki surga Allāh dengan shalāt kita, dengan puasa kita.

Akan tetapi kita masuk surga Allāh karena keridhāan dan rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga pembahasan ini bermanfaat, semoga ini menjadi bekal kita dalam beramal, untuk memperbanyak bekal menuju Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan mengapai surga-Nya.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________


Halaqah 04| Ibadah Qurban

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 07 Dzulhijjah 1440H / 08 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 04| Ibadah Qurban
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H4
〰〰〰〰〰〰〰

IBADAH QURBAN


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Di bulan Dzulhijjah ini, banyak sekali ibadah. Baik ibadah besar seperti haji atau berqurban, ataupun ibadah ringan seperti berdzikir.

Adapula ibadah yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sabda dan praktik langsung.

Di antara ibadah yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam secara langsung adalah ibadah qurban. Ibadah qurban, langsung dicontohkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Shahābat Annas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu dalam hadīts yang diriwayat Al Bukhāri dan Muslim menceritakan.

ﺿَﺤَّﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺑِﻜَﺒْﺸَﻴْﻦِ ﺃَﻣْﻠَﺤَﻴْﻦِ ﺃَﻗْﺮَﻧَﻴْﻦِ ﺫَﺑَﺤَﻬُﻤَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﺳَﻤَّﻰ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﻭَﻭَﺿَﻊَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺎﺣِﻬِﻤَﺎ


"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing yang putih kehitaman (bercampur hitam pada sebagian anggota tubuhnya) dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan Beliau sendiri. Beliau mengucapkan Bismillāh serta bertakbir dan meletakkan kaki Beliau di badan kedua hewan tersebut." (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri dan Muslim)

Pada hadīts ini kita tahu bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan langsung ibadah qurban ini.

Hukum ibadah qurban ini diperselisihkan oleh para ulamā, ada yang mengatakan wajib, ada yang mengatakan sunnah muakadah. Apapun itu hukumnya, hendaknya kita berusaha untuk berqurban ketika kita memiliki keluasan rejeki.

Dan Alhamdulillāh, untuk ikut berqurban tidak harus mahal. Dengan uang di bawah satu juta,  kita bisa mendapatkan hewan yang mencukupi. Bahkan diprogram cinta sedekah, dengan uang 850 ribu seorang sudah ikut andil di dalam ibadah ini.

Dengan uang sebesar itu, dia akan mendapatkan kambing  betina yang sah untuk diqurbankan, karena untuk. berqurban tidak diharuskan kambing jantan.

Dan batas usia minimal hewan qurban berbeda-beda. Ada pun hewan domba (kambing yang berbulu keriting berwarna putih) batas usia minimalnya adalah 6 bulan dan itu lebih murah daripada domba yang tua dan besar. Sehingga bagi yang tidak memiliki uang banyak, masih bisa ikut andil dalam ibadah ini.

Yang perlu diperhatikan!

Dalam ibadah qurban yang terpenting adalah mengalirkan darah dalam rangka beribadah.

Di sinilah sisi ibadah terbesar dalam ibadah qurban (bukan dagingnya) walaupun di dalam dagingnya juga ada nilai ibadah, baik untuk dihadiahkan atau disedekahkan untuk orang lain.

Akan tetapi nilai ibadah terbesar dalam ibadah qurban ini adalah pengaliran darah tersebut, karena mengalirkan darah atau menyembelih ini adalah ibadah yang besar.

Para jinn pasugihan atau yang semisalnya, mereka sangat senang apabila manusia-manusia yang tertipu dengan tipu dayanya menyembelih hewan dan mempersembahkan darahnya untuk mereka.

Jinn-jinn tersebut tidak tertarik dengan daging ayam cemani, namun mereka suka apabila ada orang yang menyembelih ayam dan mempersembahkan darahnya.

Karena mengalirkan darah ini merupakan ibadah yang agung. Maka barang siapa yang menyembelih sesuatu dalam rangka beribadah kepada selain Allāh, dalam rangka menundukkan dirinya, merendahkan dirinya, menghinakan dirinya kepada selain Allāh, maka dia telah mendapatkan laknat dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

"Siapa yang menyembelih dalam rangka beribadah kepada selain Allāh, dia mendapatkan laknat.”

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 لعن الله من ذبح لغير الله

"Allāh melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allāh.”

Sahabat Bimbingan Islām.

√ Belajarlah untuk menyembelih kambing.

√ Belajarlah untuk menyembelih sapi.

Belajarlah menyembelih!

Dan ketika itu, hadirkanlah rasa peribadahan kepada Allāh. Rasakan bahwa Allāh sedang menyaksikan anda menyembelih hewan qurban anda dengan mengucapkan, "Bismillāh….. Allāhu Akbar," goreskan pisau yang ada di tangan anda yang sudah anda asah dengan tajam. Goreskan dengan cepat di lehernya, sehingga sang hewan tidak merasakan penyiksaan.

Dan kemudian yang perlu diingat oleh kita semuanya adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

"Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhāan) Allāh, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al Hajj: 37)

Semoga pembahasan ini bermanfaat, dan semoga kita dimudahkan untuk melakukan ibadah qurban dengan takwa dari lubuk hati terdalam kita untuk mengharapkan keridhāan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

_________


Halaqah 03| Puasa Sunnah Di Bulan Dzulhijjah

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Dzulhijjah 1440H / 07 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 03| Puasa Sunnah Di Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H3
〰〰〰〰〰〰〰

PUASA SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Di bulan Dzulhijjah ini ada sebuah ibadah yang agung, sebuah ibadah yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sebuah ibadah yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, (yaitu) puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau lebih dikenal dengan puasa 'Arafah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah ditanya tentang puasa 'Arafah.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:

يكفر السنة الماضية والباقية

_"Puasa tersebut menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1162)

Itulah fungsi dari puasa 'Arafah, sehingga jangan sampai kita terlewatkan dalam melaksanakannya.

Kita memohon pertolongan kepada Allāh, semoga Allāh memberikan taufīq dan memudahkan urusan kita.

Di samping puasa 'Arafah, di bulan Dzulhijjah ini, ada juga puasa sunnah yang dianjurkan oleh sebagian ulamā kita, (yaitu) puasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah.

Ini merupakan pendapat Syaikh Bin Bazz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Sulaimān Ar Ruhaili, Syaikh Sa'ad bin Nassir Asy Syatsri  dan yang lainnya.

Dalīlnya adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ (يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ)

_"Tidak ada hari yang melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal-amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah."_

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 2438)

Sisi pendalīlan dari hadīts ini adalah:

"Kita tahu bahwasanya puasa termasuk amal shālih, tidak ada di antara kita yang mengatakan bahwasanya puasa bukan amal shālih. Dan kata amal shālih inilah yang dipakai dalam hadīts di atas."

Sehingga jika ada seorang yang mengatakan bahwa puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah tidak disyari'atkan (tidak disunnahkan) maka hendaknya ia mendatangkan dalīl untuk mengeluarkan puasa dari amal shālih yang disebutkan dalam hadīts di atas. 

Memang tidak ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada awal bulan Dzulhijjah namun kita dapat menjawabnya, "Mungkin Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki alasan lain dan Beliau lebih memilih untuk tidak berpuasa guna melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.”

Namun Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) telah mensyari'atkan umatnya dalam keumuman sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan ini sudah dimaklumi karena kitapun disunnahkan puasa daud namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga tidak melakukannya. Padahal itu adalah puasa yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun Nabi kitapun tidak melakukannya karena memiliki alasan-alasan lain yang mungkin kita tidak mengetahuinya.

Sehingga para ulamā mengatakan, "Disunnahkan untuk berpuasa bagi yang mampu, pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut."

Sekali lagi!

Disunnahkan, bukan diwajibkan!

Bagi yang dapat melakukannya tentu akan menjadi amal shālih yang agung pahalanya dan bagi yang tidak dapat melakukannya karena satu dan lain hal, maka tidak ada dosa baginya namun hendaknya dia berdo'a.

"Semoga Allāh memudahkannya untuk melakukan amalan-amalan yang disyari'atkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan rasūl-Nya"

Semoga Allāh memudahkan kita untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah dan pahala sebagaimana banyak dari kalangan manusia yang mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak harta dunia walaupun dia tidak tahu akan dikemanakan hartanya.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.


وصلى الله على نبينا محمد

________


Halaqah 02 | Amalpun Bertingkat-Tingkat

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 05 Dzulhijjah 1440H / 06 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 02 | Amalpun Bertingkat-Tingkat
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H2
〰〰〰〰〰〰〰

AMALANPUN BERTINGKAT-TINGKAT


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد


Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sebagaimana telah kami sampaikan pada pertemuan yang lalu, bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda, baik hari, bulan hingga amalan.

Dan setelah kita tahu bahwa siang hari yang paling utama untuk beramal adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Kita harus tahu juga bahwa setiap amal memiliki kedudukan berbeda di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di sana ada:

√ Amalan yang sangat dicintai Allāh.
√ Amalan yang dicintai Allāh.
√ Amalan yang dibenci Allāh Subhānahu wa Ta'āla.


⑴ AMALAN YANG SANGAT DICINTAI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Amalan yang sangat dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah amalan yang wajib, seperti shalāt 5 waktu, puasa Ramadhān, zakāt māl dan amal-amal wajib lainnya.

Dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam hadīts qudsi.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ

"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dari amalan yang aku wajibkan." (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6502)

Maksud hadīts ini adalah Allāh lebih cinta dengan amalan yang wajib daripada amalan lainnya.


⑵ AMALAN YANG DICINTAI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Selain ada amalan yang sangat dicintai Allāh, di sana juga ada amalan yang masih dicintai Allāh namun kedududukannya di bawah amalan wajib ini. Yaitu amalan-amalan sunnah (seperti) shalāt rawatib, puasa sunnah senin-kamis, puasa Dāwūd.

Ini semua adalah amalan yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tetapi tidak bisa mengalahkan kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amalan wajib.

Dalam hadīts qudsi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya." (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6502)


⑶ AMALAN YANG DIBENCI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Selain amalan yang dicintai oleh Allāh, disana ada amalan yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla (yaitu) amalan yang tidak disyari'atkan oleh Nya.

Contoh:

√ Amalan-amalan bid'ah (misalnya)
√ Amalan-amalan yang tidak sesuai dengan SOP (standart operasional peribadahan) yang dituntunkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Contoh:

Ada seorang berpuasa namun dia hāidh (misalnya), maka dia tidak akan mendapatkan pahala akan tetapi mendapatkan dosa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allāh yang mensyar'iatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allāh?" (QS. Asy Syūrā: 21)

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallampun telah memperingatkan umatnya tentang amalan yang tidak ada syar'iatnya ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1718)

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Sebelum kita melakukan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allāh, pilihlah amalan yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla terlebih dahulu, kemudian baru amalan yang di bawahnya.

Dan hindarilah amalan yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena selain Allāh membencinya kita juga tidak akan mendapatkan pahalanya hanya capai yang kita dapatkan, bahkan bisa jadi Allāh Subhānahu wa Ta'āla murka kepada kita.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.


وصلى الله على نبينا محمد

_________


Halaqah 01| Amalan Yang Hampir Menyamai Pahala Berjihad

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 04 Dzulhijjah 1440H / 05 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 01| Amalan Yang Hampir Menyamai Pahala Berjihad
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H1
〰〰〰〰〰〰〰

AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda. Ada orang mulia, ada orang hina, ada ahli surga, ada ahli neraka, ada orang baik adapula orang jaha. Ada hari yang mulia ada juga hari yang biasa saja, ada bulan mulia ada pula bulan yang biasa saja.

Hanya saja tidak ada hari dan tidak ada bulan yang ada kesialan padanya.

Dan tidak terasa kita memasuki sebuah bulan, yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki hari-hari yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari selainnya (yaitu) 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Kita hidup di dunia ini, ingin mencari apa?

Pasti jawaban kita,

√ Kita ingin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Kita ingin diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sahabat Bimbingan Islām.

Pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, kesempatan untuk dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghampiri kita.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ اْلأيَّامِ الْعَشْرِ

"Tidak ada hari yang bisa melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama dibulan Dzulhijjah." (Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, At Tirmidzī dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Dari hadīts ini, kita mengetahui bahwa amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ada hari-hari yang bisa mengalahkannya.

Bahkan menurut para ulamā, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (yaitu) pada siang harinya tidak bisa dikalahkan dengan 10 hari siangnya bulan Ramadhān.

Perlu diingat! Yang kita bicarakan adalah siangnya, adapun malamnya maka pembahasannya berbeda.

Sehingga ketika kita bersedekah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan uang 10 ribu, maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada sedekah 10 ribu diluar 10 hari ini.

Ketika kita shalāt dhuhur atau shalāt ashar di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada shalāt dhuhur atau shalāt ashar di luar 10 hari pertama bulan ini.

Ketika kita puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada puasa sunnah di luar 10 hari ini.

Menurut para ulamā keutamaan ini mencakup seluruh amal shālih (apapun itu) baik puasa, shalāt, sedekah, dzikir dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ketika disampaikan hadīts ini para shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّ

"Wahai Rasūlullāh, apakah pahala jihād fī sabīlillāh juga tidak bisa mengalahkan amal shālih pada hari ini?"

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

"Iya, jihād dijalan Allāh tidak bisa mengalahkannya."

Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memberikan catatan tambahan:

إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

"Kecuali orang yang berjihād fī sabīlillāh dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (maksudnya ia mati syahīd).”

Itulah amalan yang dapat mengalahkan kecintaan Allāh yaitu amalan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun amalan yang lainnya, maka tidak bisa mengalahkannya sesuai dengan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Mari kita memperbanyak do'a.

Mari kita memperbanyak isti'ānah (meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla) agar kita dimudahkan, agar kita diberikan taufik untuk menciptakan pundi-pundi pahala amal shālih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla a'lam bishawāb


وصلى الله على نبينا محمد

_________



Audio 41 | Lihatlah Dari Siapa Engkau Mengambil Ilmu Agamamu

by Rory Rachmad  |  at  09 Agustus
🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 01 Dzulhijjah 1440 H / 02 Agustus 2019 M
👤 Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 41 | Lihatlah Dari Siapa Engkau Mengambil Ilmu Agamamu
🔄 Unduh : bit.ly/NasihatSingkatBIAS-41
〰〰〰〰〰〰〰

🔜 *Jangan lupa untuk muroja'ah materi & mengerjakan Kuis Evaluasi Pekanan Bimbingan Islam, klik  https://evaluasi.bimbinganislam.com/index.php/login !!!*

_______________



Selasa, 30 Juli 2019

Halaqah 24 | Aqiqah Bagi Anak

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  30 Juli
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 28 Dzulqa’dah 1440 H / 31 Juli 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath Athibbāi
🔊 Halaqah 24 | Aqiqah Bagi Anak
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-24
~~~~

AQIQAH BAGI ANAK


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأنبياء الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ أَصَحابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أما بعد

Ma'āsyiral mustami'in para pendengar rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-24, dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi ini kita membahas satu sub judul yaitu:

▪ 'AQIQAH BAGI ANAK

Hukum 'Aqiqah adalah sunnah (mustahab).

Disunnahkan untuk melaksanakan 'aqiqah pada hari ketujuh setelah kelahiran, sebagaimana hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd, AtvTirmidzī, An Nassā'i, Ibnu Mājah dan yang lainnya.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بَعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَومَ سَابِعِهِ و يٌحلَقُ ويُسمَّى

"Setiap anak tergadaikan dengan 'aqiqahnya, disembelihkan hewan 'aqiqah pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama."

At Tirmidzī setelah mentakhrij hadīts ini beliau berkata, "Hadīts ini hasan shahīh, menurut para ulamā pelaksanaannya berdasarkan hadīts ini, mereka mengajurkan penyembelihan 'aqiqah dilakukan pada hari ketujuh, jika belum mampu maka pada hari keempat belas dan jika belum bisa juga maka pada hari kedua puluh satu."

Penulis mengatakan tiga hal yang dilakukan pada seorang anak di hari ke tujuh yaitu 'aqiqah, dicukur dan diberi nama.

Adapun untuk pemberian nama penulis mengatakan, "Boleh memberi nama seorang anak pada hari pertama kelahirannya."

Sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau berkata bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وُلِدَ لِي اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيتُهُ بِاسمِ أَبِي إبراهيم

"Tadi malam aku dikaruniai seorang anak, lalu aku beri nama dengan nama bapakku, Ibrāhīm."

⇒ Jadi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam langsung memberi nama puteranya malam itu dengan nama Ibrāhīm (jadi tidak harus menunggu hari yang ketujuh).

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسۡمُهُۥ يَحۡيَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِيّٗا

"Wahai Zakariyyā' ! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahyā, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya." (QS Maryam: 7)

'Aqiqah dilakukan dengan memotong dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Hadīts yang membicarakan hal itu banyak dan keseluruhan hadīts tersebut adalah shahīh diantaranya Sunnan An Nassā'i, Sunnan Abī Dāwūd dan disebutkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh di dalam kitāb Irwā-ul Ghalīl.

Demikian semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________________________




Proudly Powered by Abu Uwais.