PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 25 Oktober 2021

Jasa Badal Umroh 2021

by Rory Rachmad  |  at  25 Oktober
Dari Abu Razin Al’Uqaili bahwasanya ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, tidak dapat menunaikan haji dan umrah serta safar”, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Hajikanlah ayahmu dan umrahkanlah.”(H.R Ibnu Majah)



Insya Allah Nakheels bersama para penuntut ilmu di Arab Saudi siap membantu pelaksanaan badal umroh dengan pelaksanaan tanggal 5 November 2021 dengan petugas;

✔️Berilmu sesuai syariat
✔️Amanah
✔️Berpengalaman melaksanakan badal umroh.


Biaya Per Orang @Rp.3.000.000

📚Termasuk ;
– E-Sertifikat
– Dokumentasi foto dan video

Segera amankan kuota badal umroh untuk orang tua atau keluarga tercinta yang telah meninggal.. Semoga Allah menerima pahala umrohnya 🤲🏻

📲Info Hubungi ;
+6282195161922 (Ust. Andri Astiawan Azis)

+6289674245040 (Yusuf)

+6281275852110 (Abu Uwais) 





Rabu, 25 Agustus 2021

Kitab PDF karya Syaikh Allamah Dr: Shalih Al Fauzan

by Rory Rachmad  |  at  25 Agustus

 Mengunduh buku-buku yang berguna ini, apa pun yang Anda inginkan

(39 Kitab PDF karya Syaikh Allamah Dr: Shalih Al Fauzan-Semoga Allah melindungi-)

1-Sinopsis Faqih
2-Aqidah Tauhid
3-Membimbing ke keyakinan yang benar
4-Salah satu aset Aqidah Ahlussunnah Wal Jama ' ah
5-Lampu dari Fatawa Shaykhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Aqidah
6-Aliansi Orang-Orang Beriman di Majelis Bulan Ramadan
7-Q & A dalam masalah iman, kekafiran
8-Iman kepada malaikat dan pengaruhnya dalam kehidupan bangsa
9-Pernyataan dengan dalil tentang apa yang ada dalam nasihat Rifai dan Buthi dari kebohongan yang jelas
10-Pernyataan untuk kesalahan beberapa buku
11-Perbedaan antara penjualan dan riba
12-Riset Faqih
13-Pernyataan apa yang dilakukan Haji dan Muammar
14-Menabung Al-Qur ' an
15-Fakta Tasawuf
16-Merayakan peringatan Maulid Nabi
17-Pelajaran dari Al-Qur ' an
18-Pemberitahuan tentang ketentuan yang berkaitan dengan perempuan
19-Sekilas Tim Stray
20-Total Doktrin Salaf Salaf
21-Kuliah di Dogma & Undangan
22-Pendek Bekal Pemakaman
23-PERSOALAN DALAM KEIMANAN
24-Artinya tidak ada Tuhan selain Allah
25-Dari Fiqh Transaksi
26-dari masalah pemuda dan bagaimana pengobatannya dengan Islam
27-cahaya di atas jejak
28-Wajib membuktikan dari berita dan menghormati para ilmuwan
29-Harus mengendalikan apa yang Allah turunkan dan melarang pengendalian terhadap orang lain
30-Pemilih dari Fatawa Fadhilah Sheikh
31-Subsidi penerima manfaat dengan menjelaskan kitab tauhid
32-Media dengan mengkritik kitab halal dan haram dalam Islam
33-Komentar singkat tentang Dogma Tahawiyah
34-Peringatan Anarki, Godaan, dan Demonstrasi
35-Meningkatkan Rawa _ Bagian II
36-Penjelasan Tiga Aset
37-Penjelasan Aqidah Wasit
38-Penjelasan Buku Pengungkapan Kecurigaan
39-menjelaskan gemerlap keyakinan

Selasa, 13 Juli 2021

Ibnu Daqiq Al-‘Ied (wafat 702 H)

by Rory Rachmad  |  in Biografi Ulama at  13 Juli

 Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha’idi al-Maliki asy-Syafi’i, banyak menulis kitab dan dia juga pensyarah arbai’in Nawawi.

Kelahirannya

Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625, dekat Yanbu’, Hijaz. Ia mendengar dari Ibnul Muqirah, tetapi ia ragu mengenai cara pengambilan. Ia menuturkan dari Ibnu al-Jumaizi, Sabth as-Salafi, al-Hafizh Zakiyuddin, dan sejumlah kalangan. Sementara di Damas-kus dari Ibnu Abdid Da’im dan Abul Baqa’ Khalid bin Yusuf.

Karta Tulisnya

Ia menulis Syarh al-Umdah, kitab al-Ilmam, mengerjakan al-Imam fi al-Ahkam, yang seandainya selesai tulisannya niscaya menca-pai 15 jilid, dan mengerjakan kitab mengenai ilmu-ilmu hadits.

Ia salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa berjaga (untuk shalat malam), senantiasa dalam kesibukan, tenang lagi wara’. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.

Ia memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai ushul dan ma’qul, serta ahli mengenai ilat-ilat manqul. Menjabat sebagai qadhi di negeri Mesir beberapa tahun hingga meninggal dunia. Ia, berke-naan dengan masalah bersuci dan air, sangat ragu-ragu.

Al-Hafizh Quthbuddin mengatakan, “Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya, dan termasuk orang yang tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan sejawatnya. Tahu mengenai dua madz-hab, imam mengenai dua prinsip madzhab, hafidz dan seksama dalam hadits dan ilmu-ilmunya. Ia dijadikan perumpamaan mengenai hal itu. Ia simbol dalam hafalan, keseksamaan dan ketelitian, sangat besar rasa takutnya, senantiasa berdzikir, dan tidak tidur malam kecuali sedikit. Ia menghabiskan malamnya di antara menelaah, membaca al-Qur’an, dzikir, dan tahajjud, sehingga berjaga menjadi kebiasaannya. Seluruh waktunya diisi dengan suatu yang berguna. Ia banyak belas kasih kepada orang-orang yang sibuk lagi banyak berbuat kebajikan kepada mereka.

Ia wafat pada tahun 702 H.

Disalin dari Biografi Daqiq al-Ied dalamTadzkirah al-Huffazh adz Dzahab

Az Zikr Studio




Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad

by Rory Rachmad  |  in Biografi Ulama at  13 Juli

 Beliau adalah al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-’Abbad al-Badr -semoga Allah memelihara beliau dan memperpanjang usia beliau dalam ketaatan kepada-Nya dan memberkahi amal dan lisan beliau-, dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah Azza wa Jalla. Beliau lahir di ‘Zulfa’ (300 km dari utara Riyadh) pada 3 Ramadhan tahun 1353H. Beliau adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan saat ini beliau masih memberikan pelajaran Sunan Turmudzi. Beliau adalah seorang ‘Alim Robbaniy dan pernah menjabat sebagai wakil mudir (rektor) Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah al-Imam Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-.

Beliau sangat dekat dengan al-Imam al-Allamah Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-, bahkan karena kedekatan beliau dengan al-Imam, ketika Imam Bin Bazz tidak ada (tidak hadir) maka Syaikh Abdul Muhsinlah yang menggantikan beliau, sehingga tak heran jika ada yang mengatakan bahwa Universitas Islam Madinah dulu adalah Universitasnya Bin Bazz dan Abdul Muhsin.

Semenjak kecil beliau telah biasa berkutat dengan ilmu, sehingga ketika beliau telah menginjak dewasa, tampak pada beliau perangai dan skill sebagai seorang muhadits yang ulung, yang sering dirujuk oleh masyaikh dan thullabul ilmi lainnya. Kedekatan beliau dengan masyaikh kibar telah mengukir keilmuan beliau hingga saat ini, dimana usia beliau saat ini kurang lebih 73 tahun dan beliau masih sanggup untuk memberikan muhadharah dan nasihat dan menyampaikan pelajaran hadits (terutama Sunan Abi Dawud) baik riwayah maupun dirayah. Beliau juga masih menjadi dosen di Universitas Islam Madinah dengan izin khusus kerajaan yang mana hal ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam berdakwah dan menuntun ummat ke jalan yang lurus dan benar.

Diantara guru-guru beliau adalah :

    • al-Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim -rahimahullahu-
    • al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman al-Ghaits -rahimahullahu-
    • al-Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -rahimahullahu-
    • al-Allamah asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy -rahimahullahu-
    • al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman al-Afriqy -rahimahullahu-
    • al-Allamah asy-Syaikh Abdur Razaq Afifi -rahimahullahu-
    • al-Allamah asy-Syaikh Umar Falatah -rahimahullahu-

dan masih banyak lagi. Yang disebutkan di atas adalah guru-guru beliau yang paling mempengaruhi diri beliau.

Beliau memiliki putra yang juga ‘alim yang bernama Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, yang produktif dan cemerlang. Beliau memiliki banyak murid, diantaranya adalah :Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly, Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry, Syaikh al-Allamah Abdul Malik Ramadhani al-Jazairy, Syaikh al-Allamah Sulaiman ar-Ruhaily, Syaikh al-Allamah Ibrahim ar-Ruhaily, Dan masih banyak lagi.

Az Zikr Studio



Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ibn Fauzan

by Rory Rachmad  |  in Biografi Ulama at  13 Juli

 Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah dari keluarga Fauzan dari suku Ash Shamasiyyah.Beliau lahir pada tahun 1354 H/1933 M. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih muda, jadi beliau dididik oleh keluarganya. Beliau belajar al Quran, dasar-dasar membaca dan menulis dengan imam masjid di kotanya, yaitu yang mulia Syaikh Hamud ibn Sulaiman at Tala’al, yang kemudian menjadi hakim di Kota Dariyyah (bukan dar’iyyah di Riyadh) di sebuah wilayah Qhosim.

Syaikh Fauzan kemudian belajar di sekolah negara bagian ketika baru dibuka di Ash Shamasiyyah pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan studinya di sekolah Faisaliyyah di Buraidah pada tahun 1371 H/1950 M. Kemudian, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah taman kanak-kanak. Selanjutnya, beliau masuk di institute pendidikan di Buraidah ketika baru dibuka pada tahun 1373 H/1952 M, dan lulus dari sana tahun 1377 H/1956 M. Beliau kemudian masuk di Fakultas Syari’ah (Universitas Imam Muhammad) di Riyadh dan lulus pada tahun 1381 H/1960 M. Setelah itu, beliau memperoleh gelar master di bidang fiqih, dan meraih gelar doctor dari fakultas yg sama, juga spesialis dalam bidang fiqih.

Setelah kelulusannya dari Fakultas Syari’ah, beliau ditugaskan sebagai dosen di institut pendidikan di Riyadh, kemudian beralih menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah. Selanjutnya, beliau ditugasi mengajar di departemen yang lebih tinggi, yaitu Fakultas Ushuluddin. Kemudian beliau ditugasi untuk mengajar di mahkamah agung kehakiman, di mana beliau ditetapkan sebagai ketua. Beliau lalu kembali mengajar di sana setelah periode kepemimpinannya berakhir. Beliau kemudian menjadi anggota Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam (Kibaril Ulama), sampai sekarang.

Yang mulia Syaikh adalah anggota ulama kibar, dan anggota komite bidang fiqih di Mekkah (cabang Rabithah), dan anggota komite untuk pengawas tamu haji, sembari juga mengetuai keanggotaan pada Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam. Beliau juga imam, khatib, dan dosen di Masjid Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar.

Beliau juga ikut serta dalam surat-menyurat untuk pertanyaan di program radio “Noorun ‘alad-Darb”, sambil beliau juga ikut serta dalam mendukung anggota penerbitan penelitian Islam di dewan untuk penelitian, studi, tesis, dan fatwa Islam yang kemudian disusun dan diterbitkan. Yang mulia syaikh Fauzan juga ikut serta dalam mengawasi peserta tesis dalam meraih gelar master dan gelar doctor.

Beliau mempunyai murid-murid yang sering menimba ilmu pada pertemuan dan pelajaran tetapnya.

Beliau sendiri termasuk bilangan para ulama terkemuka dan ahli hukum, yang mayoritas para tokohnya antara lain:

Yang mulia Syaikh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah ibn Humayd (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh Saalih Ibn ‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;Yang mulia Syaikh Muhammad Ibn Subayyal;Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;Yang mulia Syaikh Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;

Beliau juga pernah belajar pada sejumlah ulama-ulama dari Universitas al Azhar Mesir yang mumpuni dalam bidang hadist, tafsir, dan bahasa Arab.

Beliau mempunyai peran dalam menyeru atau berdakwah kepada Allah dan mengajar, memberikan fatwa, khutbah, dan membantah kebatilan.

Buku-buku beliau yang diterbitkan banyak sekali, namun yang disebutkan berikut hanya sedikit antara lain Syarah al Aqidatul Waasitiyya, al Irshadul Ilas Sahihil I’tiqad, al Mulakhkhas al Fiqih, makanan-makanan dan putusan-putusan berkenaan dengan sembelihan dan buruan, yang mana ini merupakan bagian gelar doktornya. Juga kitab at Tahqiqat al Mardiyyah yang merupakan bagian gelar master beliau. Lebih lanjut judul-judul yang masuk putusan-putusan berhubungan dengan kepercayaan wanita, dan sebuah bantahan terhadap buku Yusuf Qaradhawi berjudul al Halal wal Haram.

Az Zikr Studio



Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I (Wafat 1423 H)

by Rory Rachmad  |  in Biografi Ulama at  13 Juli

 Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi bin Qayidah Al-Hamdany Al-Wadi’I Al-Khilaly rahimahullah.

Kelahirannya

Beliau rahimahullah dilahirkan pada tahun 1352 H di Damaj Yaman di sebuah lingkungan Zaidiyah (Salah satu sekte Syi’ah) yang bercirikan tasawuf, mu’tazilah, dan berbagai bid’ah lainnya.

Pertumbuhan Ilmiahnya

Beliau rahimahullah memulai pelajarannya di Maktab di sebuah desa yang bernama Al-Wathan Damaj Yaman beberapa lama kemudian berhenti karena tidak ada yang membantunya belajar.

Kemudian beliau safar ke Riyadh Saudi Arabia dan tinggal di sana sekitar sebulan setengah. Ketika cuaca Riyadh berubah maka beliau berangkat ke Makkah. Beliau meminta petunjuk kepada sebagian penceramah tentang kitab-kitab yang bermanfaat yang akan beliau beli, maka beliau dinasehati agar membeli kitab Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadhush Shalihin, dan Fathul Majid.

Beliau bekerja sebagai penjaga sebuah gedung di Hajun sambil menelaah kitab-kitab tersebut. Beliau sangat tertarik dengan kandungan kitab-kitab tersebut karena apa yang dilakukan manusia di negerinya sangat berbeda dengan yang ada dalam kitab-kitab tersebut.

Setelah beberapa lama beliau pulang ke negerinya Yaman dan mulai mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Seperti menyembelih untuk selain Alloh, meminta kepada orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan, dan kesyirikan-kesyirikan lainnya.

Reaksi yang muncul dari kaumnya begitu keras, lebih-lebih dari orang Syi’ah yang memandang Syaikh Muqbil sudah mengganti agamanya sehingga pantas dibunuh. Mereka memaksa Syaikh Muqbil untuk belajar di Masjid Jami’ Al-Hadi untuk menghilangkan syubhat-syubhatnya.

Kemudian beliau berangkat ke Najran dan tinggal di sana selama dua tahun belajar kepada Majduddin Al-Muayyid. Setelah itu berangkatlah beliau ke Makkah bekerja di waktu siang dan belajar di waktu malam.

Ketika dibuka Ma’had Al-Haram Al-Makky beliau mendaftarkan diri dan diterima sehingga beliau menyelesaikan pendidikan Mutawassithah dan Tsanawiyah. Kemudian beliau menuju ke Madinah dan masuk ke Universitas Islam Madinah di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin.

Ketika dibuka Fakultas Pasca Sarjana di Universitas Islam Madinah, Beliau mendaftarkan diri dan diterima. Risalah Magisternya adalah tahqiq kitab Ilzamat dan Tatabbu’ oleh Al-Imam Daruquthni.

Dakhwahnya di Yaman

Ketika terjadi fitnah kelompok Juhaiman di Masjidil Haram, beliau rahimahullah dituduh termasuk kelompok mereka sehingga beliau dipenjara dan dipulangkan ke Yaman.

Sesampainya beliau di Yaman, beliau memulai dakhwahnya dengan mengajari Al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya. Beliau dengan gigih mendakwahkan dakwah salafiyah, dakhwah tauhid dakwah yang haq, meski begitu banyak rintangan yang menghadangnya dari kelompok syi’ah, sufiyah, dan sekuler. Beliau rahimahullah mulai dakwahnya dari kampungnya yang kecil yang dikelilingi gunung-gunung tetapi cahaya dakwah beliau memancar hingga ke pelosok-pelosok yang jauh di Yaman.

Dengan pertolongan Alloh ’Azza wa Jalla, kemudian dengan kegigihan beliau mulailah dengan manusia meninggalkan kesyirika-kesyirikan dan kemungkaran-kemungkaran yang sebelumnya merupakan kebiasaan mereka sehari-hari.

Ketika dakwah beliau mulai terdengar ke seluruh penjuru, berbondong-bondonglah manusia menuju tempat beliau untuk mengambil ilmu. Datanglah para penuntut ilmu dari daerah-daerah sekitarnya,bahkan dari luar negeri Yaman seperti Mesir, Kuwait, Haramain, Najd, Libia, Al-Jazair, Maghrib (Maroko), Turki, Inggris, Indonesia, Amerika, Somalia, Belgia, dan negeri-negeri lainnya.

Keberaniannya Dalam Mengingkari Kemungkaran

Beliau rahimahullah dikenal pemberani di dalam mengucapkan kebenaran dan mengingkari kemungkaran. Tidak takut kepada siapa pun di dalam membela kebenaran. Siapa saya yang membaca tulisan-tulisan dan mendengarkan kaset-kaset beliau akan mengetahui hal itu.Beliau berbicara tentang bid’ah-bid’ah, kesyirikan-kesyirikan, kezhaliman-kezhaliman, dan kerusakan-kerusakan. Beliau memiliki banyak bantahan-bantahan kepada para pemilik kebathilan di dalam tulisan-tulisan dan kaset-kaset beliau.

Perhatian Kepada Para Penuntut Ilmu

Beliau begitu besar perhatiannya kepada para penuntut ilmu. Beliau sangat bersedih jika ada dari para murid-muridnya membuthkan sesuatu kemudian tidak bisa mendapatkannya. Beliau pernah berkata di dalam majelisnya, ”Beban terberat yang aku hadapi yang aku rasakan lebih berat daripada menghadapi ahli bid’ah dan menulis adalah kebutuhan murid-murid kami”.

Keluhuran Jiwanya

Beliau rahimahullah begitu luhur jiwanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak pantas, menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain, sampai-sampai beliau merasa berat memintakan kepada para muhsinin (dermawan) untuk kepentingan para muridnya. Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengetahui hal itu maka beliau mengirim surat kepada Syaikh Muqbil yang isinya, ”Tulislah permohonan wahai Abu Abdurrahman, engkau akan mendapatkan pahala darinya!”

Beliau latih para muridnya pada sifat yang agung ini. Beliau mencela dan memperingatkan dari orang-orang yang meminta-minta kepada manusia atas nama dakwah, dan ini bukan berarti beliau rahimahullah menyeru para penuntut ilmu agar meninggalkan taklimnya untuk berdagang. Maksud beliau, makan dari hasil usaha sendiri lebih baik daripada meminta-minta. Beliau rahimahullah juga berkata, ”Aku menasehatkan kepada ahli sunnah agar bersabar atas kefaikiran, karena itulah keadaan yang Alloh pilihkan kepada Nabi-Nya Shollallahu ’Alayhi wa Sallam.

Kesabarannya

Beliau rahimahullah memiliki kesabaran yang sulit dicari bandingannya. Beliau begitu sabar atas bebrbagai penyakit yang menimpanya, bersabar atas penyakit busung air yang bertahun-tahun dideritanya. Demikian pula atas penyakit lever yang menimpanya. Merupakan hal yang menakjubkan bahwa beliau dalam keadaan sakit tidak pernah meninggalkan taklimnya. Pernah suatu saat beliau menyampaikan pelajarannya dalam keadaan tangannya diikat dengan perban ke lehernya.

Kezuhudan, Kesederhanaan, Kedermawanan, dan Wara’nya.

Beliau dikenal dengan kezuhudannya dan beliau biasakan para muridnya atas sifat yang mulia ini. Beliau sampaikan kepada mereka bahwa dengan sifat inilah mereka akan mendapatkan ilmu. Beliau sangat sederhana dalam tempat tinggal, pakaian dan makanannya.

Di antara hal yang menunjukkan kezuhudannya pada dunia, beliau wakafkan tanag belia yang luas untuk tempat tinggal para muridnya yang sekarang ditempati sekitar 250 rumah.

Beliau memiliki sifat tawadhu’ yang sulit dicari bandingannya. Jika beliau sedang berjalan kemudian dipanggil oleh seorang anak kecil maka beliau langsung berhenti, menyapanya, dan menanyakan apa yang dikehendaki. Ketika beliau di majelis taklimnya datanglah seorang anak kecil, beliau hentikan pelajarannya dan berkata anak kecil itu kepadanya, ”Aku ingin membaca sebuah hadits di mikrofon.” maka beliau dudukkan anak kecil tersebut di depannya untuk membaca hadits yang dikehendakinya.

Beliau dikenal dengan sifat wara’, tidak pernah tersisa dana dakwah disisinya karena selalu beliau serahkan kepada penanggungjawabnya.

Kegigihan Dalam Berdakwah

Beliau rahimahullah begitu gigih dalam berdakwah meskipun begitu padat kesibukannya daalam mengajar dan menulis. Beliau arahkan para muridnya dengan mengatakan, ”Janganlah kalian hanya menuntut ilmu dan meninggalkan dakwah, wajib atas kalian mendakwahkan ilmu yang kalian pelajari!”

Beliau melakukan perjalanan dakwah di kota-kota dan desa-desa Yaman, mendaki gunung-gunung dan menuruni lembah-lembah. Beliau mengalami vabyak rintangan dari para musuh-musuhnya seperti jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jam’iyah Hikmah dan Ihsan, kelompok sekuler, Sufiyah, dan selain mereka, tetapi beliau tidak pernah surut dalam dakwahnya kepada Kitab dan Sunnah.

Ceramah-ceramah dakwah beliau dihadiri oleh jumlah yang sangat besar hingga di sebagian tempat ceramah diadakan di tanah lapang karena masjid yang ada tidak mampu memuat jumlah hadirin.

Beliau peringatkan manusia dari kesyirikan, kebid’ahan, demokrasi dan parlemen. Beliau ingatkan kaum muslimin agar tidak memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Islam, dan meninggalkan fitnah hizbiyyah yang telah menceraiberaikan umat.

Kegigihannya Dalam Mempelajari dan Menyampaikan Ilmu

Beliau begitu gigih di dalam mengajarkan ilmu. Satu jam sebelum Zhuhur beliau mengajarkan kitabnya Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, setelah itu kitab Jami’ Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain. Sesudah sholat Zhuhur belia mengajarkan Tafsir Ibnu Katsir dua hari sekali bergantian dengan kitab Shahih Musnad min Asbabin Nuzul. Ketika kitab yang akhir ini selesai beliau ganti dengan kitab Jami’ Shahih. Sebelum Zhuhur beliau menelaah pelajaran di rumahnya selama seperempat jam.

Sesudah Ashar beliau mengajarkan kitab Shahih Bukhary, dan sesudah Magrib mengajarkan Shahih Muslim dan Kitabnya Ahaditsu Mu’allah Zhahiruha Shihhah. Selesai dari kitab yang akhir ini beliau menggantinya dengan kitabnya Gharatul Fishal alal Mu’tadin ala Kutubil Ilal.Selesai dari kitab yang akhir ini beliau mengajarkan kitabnya Dzammul Mas’alah, kemudian setelah selesai diganti dengan kitab Shahih Musnad min Dalail Nubuwwah. Bersama kedua kitab ini beliau ajarkan juga kitab Mustadrak dan kitabnya Shahih Musnad fil Qadar. Demikianlah urut-urutan taklim beliau hingga beliau wafat.

Jika beliau berbicara tentang rijal maka beliau adalah pakarnya, jika beliau sedang diskusi dengan murid-muridnya dalam masalah nahwu maka seakan-akan tidak ada selsain beliau yang mengetahui disiplin ilmu ini, jika beliau berbicara tentang ilal maka membuat terhenyak orang yang ada dihadapannya. Demikian juga beliau memiliki kecepatan luar biasa di dalam menghadirkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah.

Guru-gurunya

Beliau mempelajari ilmu-ilmu syar’i dari para ulama besar dizamannya seperti : SYAIKH Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany, Syaikh Abdullah bin Humaid, Syaikh Muhammad As-Sabil, Syaikh Abdul Aziz Ar-Rasyid, Syaikh Yahya Al-Bakistany, Syaikh Muhammad bin Abdullah ASH-Shamaly, Syaikh Muhammad Hakim Al-Mishry, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Mishry.

Murid-muridnya

Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washshaby Al-Abdaly, Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajury, Syaikh Muhammad bin Abdullah Ar-Rimy Al-Imam, Syaikh Abdul Aziz bin A;-Bar’i, Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah putrinya, Ummu Syu’aib Al-Wadi’iyah istri keduanya, Ummu Salamah istri ketiganya, dan masih banyak lagi selain mereka.

Tulisan-tulisannya

Diantara tulisan-tulisannya adalah Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, Tarajim Rijal Al-Hakim fil Mustadrak, Tatabbu’ Auham Al-Hakim allati Sakata Alaiha Adz-Dzhaby, Tarajim Rijal Sunan Daruquthni, Shahih Musnad min Dalail Nubuwwah, Gharatul Fishal ’alal Mu’tadin ’ala Kutubil Ilal, Jami’ Shahih fil Qadar, Sha’qatu; Zilzal Linasfi Abathil Rafdhi wal I’tizal, Ijabatus Sail’an Ahammil Masail, Asy-Syafa’ah, Riyadhul Janna fi Raddi ’ala A’dai Sunnah, Tuhfatul Arib ’ala As’ilatil Hadhir wal Gharib, Al-Makhraj minal Fitnah, Shahih Musnad min Asbabin Nuzul, Rudud Ahlil Ilmi ’ala Tha’inin fi haditsi Sihr, Mushara’ah. Ilhad Khomeni fi Ardhil Haramain, Al-Ba’its ala Syarhil Hawadits, Irsyad Dzawil Fathan Liib’adi Ghulati Rwafidh ’anil Yaman, Jami’ Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, Gharatul Asyrithah ’ala Ahlil Jahli wa Safsathah, Fawakih Janiyah fil Khuthab wal Muhadharat Saniyah, Qam’ul Mu’anid wa Zajrul Haqidil Hasid, Majmu’atu Rasail Ilmiyah, Tuhfatusy Syab Rabbany, Fatwa fi Wihdatil Muslimin ma’al Kuffar, Iqamatil Burhan ala Dhalali Abdur Rahim Ath-Thahhan, Dibaj fi Maratsy Syaikhul Islam Abdul Aziz bin Baz, Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah, Muqtarah fi Ajwibati As’ilatil Musthalah, Fadhaih wa Nashaih, Maqtal Syaikh Jamilurrahman, Iskatul Kalbil’Awi, Tahqiq Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Musnad mimma Tafsir bil Ma’tsur, dan Kitab Ilzamat wa Tatabbu’ lil Imam Daruquthni dirasah wa tahqiq.

Wafatnya

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat di Jedda pada malam Ahad 1 Jumadil Ula tahun 1422 H dalam usia sekitar 70 tahun dan dimakamkan di Makkah di samping Syaikh Abdul Aziz bin Baz dab Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalan keluasan jannah-Nya.

Sumber: Nubdzah Yasir min Hayati Ahadi ’Alamil Jazirah oleh Abu Hammam Muhammad bin Ali bin Ahmaf Ash-Shauma’i Al-Baidhani.




Syaikh Muhammad Aman Al-Jami (1349-1416 H)

by Rory Rachmad  |  in Biografi Ulama at  13 Juli

 Nama Dan Nasabnya

Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa Thagha Thab daerah Harar, Habasyah (Ethiopia), Afrika.

Pertumbuhan Ilmiah Dan Guru-Gurunya

Beliau rahimahullah tumbuh di desanya, Thagha Thab. Di situ, beliau belajar al-Qur’an hingga khatam kemudian belajar fiqh Madzhab Syafi’i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh Muhammad Amin al-Harari.

Kemudian beliau meninggalkan desanya guna menuntut ilmu. Hingga bertemu sahabatnya dalam menuntut ilmu, Syaikh Abdul Karim. Keduanya pergi belajar Nazhm Zubad karya Ibnu Ruslan kepada Syaikh Musa dan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanya mempelajari beberapa bidang ilmu lainnya.

Keduanya lantas sepakat pergi ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah haji dan menuntut ilmu. Mereka berdua melakukan perjalanan darat dari Habasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan perjalanan lewat laut hingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga Mekkah.

Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau rahimahullah memulai belajarnya dengan menghadiri halaqah-halaqah di masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah, Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulama lainnya.

Beliau berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz rahimahullah (mantan mufti ‘am kerajaan Arab Saudi-red) dan menemaninya dalam perjalanan ke Riyadh ketika beliau masuk ke Ma’had Ilmi di Riyadh. Di antara rekan beliau ketika belajar di Ma’had Ilmi adalah Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad dan Syaikh Ali bin Muhanna.

Di samping belajar di Ma’had Ilmi, beliau juga menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau menghadiri mejelis Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Syaikh Hammad al-Anshari.

Beliau rahimahullah juga belajar kepada Syaikh Abdur Razzaq Afifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras dan Syaikh Abdullah al-Qar’awi.

Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin

Beliau diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Saudi Arabia waktu itu, agar ditugaskan mengajar di Ma’had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan. Usulan ini disetujui Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

Ketika Universitas Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliau dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai salah seorang pengajarnya dalam mata kuliah aqidah.

Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidang aqidah.

Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan di luar negeri Saudi selama kurang lebih 40 tahun, menjelaskan aqidah salafiyah dan membantah ahli bid’ah serta orang-orang yang menyeleweng dari jalan yang lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskan perbedaan-perbedaan yang mendasar antara manhaj salafi dan manhaj-manhaj bid’ah yang hendak memalingkan umat dari manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena kegigihan dakwah inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidak henti-hentinya para pemilik kesesatan melontarkan tuduhan-tuduhan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-sampai ada yang berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi, tidak henti-hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuh kesabaran dan mengharap keridhaan Alloh, hingga beliau wafat.

Akhlaknya

Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarang bergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan. Beliau selalu menjaga waktu-waktunya. Kebiasaan beliau dikenal banyak orang; keluar dari rumahnya mengajar di Jami’ah, kemudian pulang ke rumah, lalu ke masjid Nabawi menyampaikan ta’limnya sesudah Ashar, sesudah Maghrib, sesudah Isya’ dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau, sampai beliau mengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal menjaga lisannya, tidak mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkan beliau tidak mengizinkan seorangpun melakukan ghibah dan menyebut aib manusia di hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada sebagian panuntut ilmu pada suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan atau membacanya. Jika nampak bagi beliau kesalahan tersebut, beliau lakukan nasihat terhadapnya. Beliau dikenal lembut dan pemaaf. Dengan kelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian, makar dan gangguan. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar kepada murid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan mereka. Menanyakan keadaan mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka. Ringkasnya, beliau membantu mereka dengan harta, waktu dan kedudukannya.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Beliau dikenal dengan keilmuannya, keutamaannya, kelurusan aqidahnya dan kegigihan dakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan dari bid’ah dan khurafat. Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya, memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua dan beliau di negeri kemuliaan-Nya.”

Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata. “Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal dengan keilmuan, keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telah wafat pada malam kamis 27 Sya’ban tahun ini. Aku berwasiat agar dipelajari kitab-kitab keduanya. Aku memohon agar Alloh memberikan taufiq kepada kita semua pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.”

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata, “Aku mengenal Syaikh Muhammad Aman al-Jami ketika belajar di ma’had ilmi Riyadh dan sebagai dosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal beliau dengan kelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan dari kebid’ahan di dalam ta’lim-ta’limnya, ceramah-ceramahnya dan tulisan-tulisannya. Semoga Alloh mengampuninya, merahmatinya dan memberikan pahala yang berlimpah kepadanya.”

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang yang berilmu dan memiliki ijazah ilmiah banyak sekali. Tetapi sedikit dari mereka yang bisa memanfaatkan dan memberikan faedah dari ilmunya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami termasuk kelompok sedikit dari para ulama yang mengarahkan ilmu dan upaya mereka memberikan faedah dan mengarahkan kaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh melalui ta’lim-ta’limnya di Jami’ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam perjalanan dakwahnya di dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan aqidah yang shahih, mengarahkan para pemuda umat ini kepada manhaj salafush shalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang merusak dan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnya secara langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dan kaset-kasetnya yang bermanfaat, yang menampakan keluasan ilmunya. Beliau terus melanjutkan kebaikan amalnya hingga beliau wafat. Beliau tinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang terwujud pada murid-muridnya dan kitab-kitabnya. Semoga Alloh merahmatinya dan membalasnya dengan kebaikan.”

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata, “ Adapun Syaikh Muahammad Aman, aku tidak mengetahui beliau kecuali seorang yang beriman, bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan mempuni dalam ilmu aqidah. Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan aqidah. Beliau telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah saat di marhalah Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebih bagus dari beliau dalam memahamkan para murid. Kami mengenal beliau dengan akhlak yang mulia, tawadhu dan kewibawaan. Kami memohon kepada Alloh agar mengangkat derajat beliau di surga dengan sebab celaan-celaan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas dari ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) kepadanya. Terakhir, beliau meninggal dengan berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih, berwasiat kepada para ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Ini menunjukan kejujurannya –insya Alloh- dalam keimanannya dan dalil atas khusnul khatimahnya. Semoga Alloh selalu mencurahkan kepada kita dan beliau rahmat dan keridhaanNya.”

Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, “Beliau adalah seorang ulama salafi. Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah. Beliau memiliki ceramah-ceramah di masjid-masjid dan pertemuan-pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Beliau memiliki tulisan-tulisan dalam masalah aqidah dan yang lainnya. Semoga Alloh memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau dan mencurahkan pahala yang banyak di akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Banna berkata, “Beliau adalah sebaik-baik yang kami cintai dalam keluhuran akhlaknya, kelurusan aqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.”

Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, “Aku mulai mengenal Syaikh Muhammad Aman al-Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabia mendirikan Universitas Islam Madinah. Beliau termasuk para pengajar yang pertama ditugaskan di Universitas tersebut, sedangkan aku salah seorang mahasiswanya. Beliau termasuk diantara para masyayikh yang memberikan perhatian yang khusus kepada para murid sehingga mereka tidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada kebanyakan ta’limnya, beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salafush shalih dalam pelajaran aqidah maupun yang lainnya.

Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannya dalam jiwa para muridnya yang berasal dari seluruh penjuru negeri, beliau sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti. Karena beliau telah merasakan keindahan aqidah salaf dan menelaah kedalamannya, sampai-sampai seorang yang mendengar dan menyaksikan beliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan hatinya merasa cinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak rihlah dakwah dan ta’lim di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatu kesempatan melainkan beliau gunakan untuk menjelaskan keagungan dan kejernihan aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yang membaca tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenaran dakwahnya. Saya hadir ketika beliau mempertahankan disertasi doktornya di Darul Ulum cabang Universitas Kairo Mesir. Beliau berupaya di dalam disertasinya tersebut menjelaskan kejernihan aqidah salaf dan keselamatan manhaj salaf. Beliau singkapkan keborokan setiap manhaj yang menyeleweng dari aqidah salaf serta kebatilan setiap tuduhan yang diarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang menghabiskan umurnya menyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga mematahkan setiap perkataan dan syubhat para pemilik kebatilan yang berusaha menjatuhkan manhaj salaf.

Ringkasnya, beliau begitu mendalam kecintaannya terhadap aqidah salafush shalih, ikhlas dalam mendakwahkannya, begitu gigih dalam membelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan kebenaran. Semoga Alloh mengampuni beliau dan kita semua.”

Murid-Muridnya

Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah as-Sindi, Syaikh Shalih bin Sa’d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh Falih bin bin Nafi’ al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa’i, Syaikh Falah Isma’il, Syaikh Falah bin Tsani, Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.

Tulisan-Tulisannya

Di antara tulisan-tulisan beliau: Sifat Ilahiyyah fil Kitab was Sunnah Nabawiyyah fi Dhau’il Itsbat wa Tanzih, Manzilatus Sunnah fi Tasyri’ Islami, Majmu’ Rasa’il Jami’ Fil aqidah was Sunnah, Aqidah Islamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa Annaha Laisat minal Islam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa’ ‘ala Thariqi Da’wah fil Islam, Tahhih Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa’iyyah anis Sunnah Muhammadiyyah, aql wa Naql ‘inda Ibnu Rusyd, Thariqatul Islam fi Tarbiyyah, Masyakilu Da’wah wa Du’at fi Ashril Hadits Islam fi Afriqia Abra Tarikh, dan yang lainnya.

Wafatnya

Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat di Madinah pada waktu pagi hari Rabu 26 Sya’ban 1416 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi’ Madinah. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.

Az Zikr Studi



© 2021 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais