Sabtu, 16 Februari 2019

Pondok Pesantren Imam Syafi'i

by Rory Rachmad  |  at  16 Februari

Pembangunan Masjid Periode 2

suasana santri di dalam masjid sebelum shalat berjama'ah


foto Masjid tampak depan


halaman depan Pondok Pesantren Imam Syafi'i 

*Mau RUMAH di SURGA*
🏠🏡🏘🌇🌃🎇
Yang keindahannya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terbesit di hati manusia 
*Mari berkontribusi Tanah Wakaf*
Silahkan *MENSHARE* info ini, atau *BERINFAK*.
Berapapun yang kita infakkan, Allah akan membalasnya. Semoga Allah Bangunkan Anda rumah di surga.
"Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan bangun baginya rumah di surga". (Muttafaqun ‘Alaihi)

"Barang siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun sebesar sangkar burung, maka Allah akan bangunkan untukknya rumah di surga". (Hadits Riwayat Al-Bazzar, Ibnu Hibban dan Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’ no 6128)

Batam, 20 Muharram 1439 H / 10 Oktober 2017 M

Sebelumnya

Kajian 112 | Rukun-Rukun Haji

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Rabi’ul Akhir 1440 H / 25 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUL HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 112 | Rukun-Rukun Haji
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H112
〰〰〰〰〰〰〰

SYARAT WAJIB HAJI


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita dari Kitāb Al Hajj matan Abū Syujā', pada pertemuan kali ini kita masuk pada halaqah yang ke-112.

Berkata penulis rahimahullāh:

(( وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية ووجود الزاد والراحلة وتخلية الطريق وإمكان المسير))

"Dan syarat wajibnya haji bagi seseorang ada tujuh macam: Islam, baligh, berakal, merdeka, memiliki bekal dan memiliki kendaraan, aman perjalanan, mungkin untuk melakukan perjalanan."

Di sini ada khilāf para ulamā tentang jumlah syaratnya dan yang disebutkan dalam kitāb ini (madzhab Syāfi'i) ada 7 (tujuh) macam.

Di antaranya:

⑴ Islām (الإسلام)

Karena ini terkait dengan ibadah, jadi jelas terkait dengan Islām atau tidaknya seseorang. Karena haji tidak diwajibkan bagi orang-orang kāfir.

⑵ Umurnya mencapai usia bāligh (البلوغ)

Mencapai umur bāligh dan telah kita bahas tentang tanda-tanda seorang mencapai derajat bulūgh atau mencapai usia bāligh bagi wanita dan laki-laki.

Di antara tanda-tanda seseorang sudah mencapai derajat bulūgh (bāligh):

√ Bagi wanita, dia telah hāidh.
√ Bagi laki-laki, dia telah ihtilam atau mimpi basah.

Jika seseorang telah sampai pada derajat bulūgh (bāligh), artinya dia telah dikenakan kewajiban-kewajiban syari'at.

⑶ Berakal (العقل)

Seseorang yang kehilangan akalnya (seperti) seorang yang gila maka tidak wajib bagi dia untuk melaksanakan ibadah haji.

⑷ Merdeka (الحرية)

Merdeka artinya bukan seorang budak karena ibadah haji ini terkait dengan ibadah  badaniyyah dan amaliyyah.

Sementara seorang budak tidak memiliki harta, karena hartanya adalah milik tuannya.

⑸ Dia memiliki bekal dan memiliki kendaraan (وجود الزاد والراحلة)

Dia memiliki bekal dan kendaraan yang mengantarkan dia pergi dan pulang dari tempat tinggalnya menuju tanah harām begitu pun sebaliknya.

Sedangkan pengertian bekal yang cukup disini (maksudnya) adalah;

√ Bekal untuk dia pergi dan pulang dari tempat tinggalnya menuju ke tanah harām.

√ Bekal selama berada di tanah harām.

√ Bekal yang dia tinggalkan untuk keluarganya (keluarga yang wajib dia nafkahi) selama dia berada di tanah harām.

⑹ Aman perjalanannya (تخلية الطريق)

Maksudnya perjalanan yang akan dia tempuh aman, karena pada zaman dahulu tidak ada pesawat seperti sekarang, zaman dahulu seseorang apabila ingin melaksanakan ibadah haji (ke Mekkah) dia harus melalui jalan darat, jalan darat tidaklah aman karena sering terjadi halangan atau gangguan seperti adanya penyamun dan lainnya.

Apabila jalan tersebut tidak aman, maka dia tidak memenuhi syarat dan menjadikan seorang tidak wajib untuk menunaikan ibadah haji.

Kecuali ada alternatif jalan lain, yang menunjukkan bahwasanya jalan tersebut adalah jalan yang aman untuk dilalui oleh orang tersebut.

⑺ Mungkin untuk melakukan perjalanan (وإمكان المسير)

Maksudnya memungkinkan seseorang melakukan (menempuh) perjalanan akan tetapi tidak memungkinkan dia untuk berjalan.

Misalnya:

Seseorang memiliki bekal dan kendaraan pada tanggal 06 Dzulhijjah akan tetapi perjalanan yang harus dia tempuh memerlukan waktu satu minggu.

Berarti orang ini sampai di sana (tanah harām) waktu pelaksanakan ibadah haji sudah selesai, maka orang ini tidak disyaratkan atau tidak diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak terpenuhi syarat ke-7 yaitu إمكان المسير (mungkin untuk melakukan perjalanan) dan sampai ditempat menunaikan ibadah haji tepat sebelum waktu pelaksanaan ibadah haji.

Di sana ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, di antaranya:

⑴ Apabila seorang anak kecil yang belum mencapai derajat bulūgh atau belum mencapai usia bāligh melaksanakan ibadah haji, maka ibadah hajinya belum dianggap sebagai ibadah haji Islām atau haji yang menggugurkan kewajiban dia di dalam melaksanakan rukun ibadah haji.

⑵ Seorang wanita, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah haji tanpa izin dari suaminya dan apabila dia diizinkan oleh suaminya maka dia wajib pergi bersama dengan mahramnya berdasarkan kesepakatan para ulamā.

Dan di dalam madzhab Syāfi'i diperbolehkan juga pergi apabila di sana ada sekumpulan wanita yang tsiqat (yang bisa dipercaya) sehingga dirasa aman di dalam perjalanan ibadah haji tersebut.

⑶ Untuk masalah kemampuan, di sana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan kalimat:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ

"Dan wajib bagi setiap orang untuk melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu untuk melaksanakannya."

Kalimat: ٱسْتَطَاعَة , ditafsirkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai: جود الزاد والراحلة , memiliki bekal dan kendaraan yang bisa mengantarkan dia pulang dan pergi dari tempatnya menuju ke tanah suci.

Istithā'ah ada dua macam yaitu:

⑴ Istithā'ah mubashirah (langsung), yaitu seseorang yang mampu melaksanakan ibadah haji oleh dirinya sendiri.

Dia bisa melaksanakan sendiri dan memenuhi 7 syarat yang telah dijelaskan di atas.

⑵ Istithā'ah ghairu al mubashirah, yaitu seorang memiliki kemampuan tetapi secara tidak langsung, artinya dia tidak mampu untuk melaksankan ibadah haji  (dirinya sendiri tidak mampu) namun mampu mewakilkan kepada orang lain.

Artinya dia memiliki māl yang dia bisa gunakan untuk memberikan satu taukil (mewakilkan) kepada orang lain dengan syarat wakil tersebut diperbolehkan.

Artinya orang tersebut memang sudah tidak mampu untuk melaksanakan ibadah haji maka boleh bagi dia untuk mewakilkan ibadah haji  kepada orang lain.

Hal ini sebagaimana hadīts dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala seorang wanita dari khats'am beliau bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ

"Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya kewajiban haji yang diwajibkan kepada para hamba-Nya telah berlaku bagi ayahku sementara dia dalam kondisi tua renta, tidak mampu berada di kendaraan. Apakah (boleh) saya menghajikan untuknya?" Beliau menjawab, "Ya."

Ini dalīl bolehnya mewakilan ibadah haji bagi orang yang tidak mampu untuk melaksanakan, baik itu karena sakit yang sukar untuk disembuhkan atau karena usia yang sangat tua sehingga tidak bisa melakukan perjalanan.

Demikian yang bisa disampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Kajian 111 | Muqaddimah (bagian 2)

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Rabi'ul Akhir 1440 H / 24 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUSH HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 111 | Muqaddimah (bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H111
〰〰〰〰〰〰〰

MUQADDIMAH HAJI 02


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh kita akan memasuki halaqah yang ke-111, masih pada muqaddimah haji dan kemarin sudah kita sebutkan bahwa apabila seorang mampu untuk melaksanakan ibadah haji, hendaknya dia bersegera untuk melaksanakannya.

Pertama karena dengan bersegera melepaskan dari kewajiban haji tersebut, kemudian di sana banyak keutamaan-keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan bagi orang yang menunaikan ibadah haji.

Bahkan dalam sebuah riwayat dari Umar bin Khaththāb yang diriwayatkan secara marfu':

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا

"Barangsiapa yang memiliki dzat (kemampuan/bekal/kendaraan) untuk sampai ke rumah Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan dia tidak menunaikan ibadah haji tersebut, maka dia tidaklah mati kecuali mati dalam keadaan Yahūdi atau Nashrāni."

Ini menunjukkan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang yang tidak memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji.

Oleh karena itu, para sahabat sekalian, apabila kita memiliki kemampuan dan memiliki niat, maka usahakanlah untuk kita bersegera melaksanakan niat tersebut, karena barangsiapa yang memiliki niat yang kuat maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan membantu niatnya.

Diantara keutamaan-keutamaan haji (untuk menjadikan motivasi bagi kita) agar bersegera melaksanakannya, di antaranya:

⑴ Haji bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barangsiapa melakukan haji ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla tanpa berbuat keji dan kefāsikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya." (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒ Artinya, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  bersihkan dari segala perbuatan dosa

Di dalam hadīts lain dari Amr ibnil Āsh tatkala beliau memba'iat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mensyaratkan agar diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Maka Beliau berkata:

 أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

_"Tidaklah engkau ketahui (wahai Amr bin Āsh, kata Rasūlullāh), bahwasanya Islām itu menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu, menghapuskan semua yang telah lalu, begitu pula hijrah menghapuskan yang telah lalu dan begitu pula haji menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu."_

⑵ Haji adalah sebab seorang dibebaskan dari api neraka.

Dalam sebuah hadīts dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ

"Di antara hari yang Allāh banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malāikat (Hadīts riwayat Muslim nomor 1348)

Artinya, Hari Arafah adalah hari dimana paling banyak Allāh Subhānahu wa Ta'āla membebaskan seorang hamba dari api neraka.

Ini adalah keutamaan yang sangat luar biasa bagi seorang yang pergi berhaji.

⑶ Balasan untuk orang yang berhaji adalah surga.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

"Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya dan haji yang mabrūr tidak ada pahala baginya selain Surga." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri (III/597, nomor 1773) dan  Muslim (II/987, nomor 1349)

⑷ Haji adalah amalan yang afdal.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu:

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya:

"Amalan apa yang paling afdhal?"

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

"Beriman kepada Allāh dan Rasūl-Nya."

Ada yang bertanya lagi:

"Kemudian apa lagi?"

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

"Jihād di jalan Allāh."_:-

Ada yang bertanya kembali:

"Kemudian apa lagi?"

"Haji mabrūr," jawab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1519)

⑸ Haji adalah jihād bagi para wanita yang paling afdhal.

Sebagaiman disebutkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, Āisyah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

"Wahai Rasūlullāh, kami memandang bahwa jihād adalah amalan yang paling afdhal.  Apakah berarti kami harus berjihād?"

“Tidak, jihād yang paling utama (afdhal) adalah haji mabrūr,” jawab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1520)

Demikian yang bisa disampaikan pada muqaddimah yang ke-2 ini, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Kajian 113 | Rukun-Rukun Haji

by Rory Rachmad  |  in Matan Abu Syuja' at  16 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Rabi’ul Akhir 1440 H / 26 Desember 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUL HAJI (كتاب الحاج)
🔊 Kajian 113 | Rukun-Rukun Haji
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H113
〰〰〰〰〰〰〰

RUKUN HAJI


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh pada pertemuan yang ke-113 ini kita masih melanjutkan Kitābul Hajj dan kita masuk pada pembahasan rukun-rukun ibadah haji.

Rukun adalah amalan yang apabila dia ada maka ibadah itu ada dan apabila dia tidak ada maka ibadah itu tidak ada.

Artinya apabila tidak dikerjakan (ditinggal) maka ibadah tersebut dianggap tidak ada atau tidak dianggap sama sekali (tidak sah).

Maka membahas rukun ini adalah perkara yang sangat penting untuk diketahui. Begitu pula pada ibadah-ibadah yang lain selain haji, seperti umrah, shalāt (misalnya).

Apabila seseorang meninggalkan rukun shalāt maka ibadah shalāt tidak dianggap artinya tidak sah.

Di dalam ibadah haji di sana dibedakan antara rukun dan amalan yang wajib, adapun amalan yang rukun apabila ditinggalkan maka tidak bisa ditutup dengan dam.

Adapun amalan-amalan yang masuk dalam kategori wajib maka apabila ditinggalkan dia  bisa digantikan dengan dam.

Berkata mualif rahimahullāh:

وأركان الحج أربعة: الإحرام مع النية والوقوف بعرفة والطواف بالبيت والسعي بين الصفا والمروة.

"Rukun haji ada empat; niat ihram, wuquf, thawāf di ka'bah, sai antara Shafā dan Marwah."

Di dalam madzhab syāfi'i, disebutkan dalam riwayat yang lain bahwa rukun haji ada enam, nanti kita akan sebutkan dua yang lainnya


• Rukun-Rukun Haji

⑴ Ihram dengan Niat (الإحرام مع النية).

Tatkala seorang masuk ke dalam atau ingin melaksanakan ibadah haji maka harus di dalam hatinya menegaskan niat bahwa dia bermaksud melaksanakan ibadah haji (masuk ke dalam nusukh atau ibadah).

Seorang tatkala berada di dalam miqāt, maka dia harus berniat dan menyatakan bahwa dia masuk di dalam nusukh, ini yang dimaksud dengan niat.

Adapun talafuzh hukumnya sunnah, sementara niat hukumnya rukun, ini perlu diperhatikan. Seorang yang berniat di dalam hatinya (dia berazam) untuk masuk ke dalam nusukh tapi dia tidak talafuzh maka hajinya sah, akan tetapi apabila seorang tidak berniat masuk ke dalam nusukh maka hajinya tidak sah.

Bagaimana bila seorang melewati miqāt, dia lupa untuk berniat, kemudian dia baru berniat setelah melewati miqāt ?

⇒ Haji orang tersebut tetap sah akan tetapi dia meninggalkan satu kewajiban yaitu kewajiban berniat di miqāt.

Karena wajibnya berniat di miqāt, dan dia harus membayar dam kecuali apabila dia kembali lagi ke miqāt kemudian dia berniat di situ.

Seorang apabila dia berniat walaupun dia berniatnya di kota Mekkah misalnya maka hajinya sah akan tetapi dia meninggalkan satu kewajiban yaitu berniat di miqāt.

⑵ Wuqūf (الوقوف بعرفة).

Wuqūf ini adalah berdiam diri di Arafah (satu tempat yang disebut dengan Arafah) dan Arafah ini ada batas-batasnya.

Batas-batas Arafah sudah ditentukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diajarkan kepada Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām dan kemudian dilaksanakan oleh orang-orang setelahnya.

Di sana ada beberapa sebab kenapa disebutkan Arafah.

√ Ada yang mengatakan (dalam tafsir) di Arafah Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberitahukan kepada Nabi Ibrāhīm alayhissallām.

√ Ada yang mengatakan di situ ada ta'aruf antara Nabi Ādam 'alayhissallām dengan Hawa.

Wuqūf di Arafah adalah salah satu rukun yang paling penting.

Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

اَلحَجُّ عَرَفَةُ

"Haji itu Arafah,"

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 889, Abū Dāwūd nomor 1949)

Kapan waktunya seorang dikatakan wuqūf di Arafah?

Di sana ditentukan waktunya oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

 الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ

“Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam Arafah sebelum terbit fajar, maka dia telah mendapatkan haji.” (Hadīts riwayat Tirmidzī nomor 889)

Waktunya mulai dari tergelincir matahari sampai waktu sebelum fajar hari berikutnya (hari 'Ied) maka apabila seseorang dia wuqūf di Arafah walau hanya sebentar maka sudah dikatakan sah.

Adapun yang wajib adalah seseorang wuqūf di Arafah dari setelah tergelincirnya matahari sampai terbenam matahari.

Akan tetapi apabila dia hanya sebentar (misalnya) hanya satu jam atau satu menit dan dia pergi sebelum terbenam matahari maka dia harus membayar dam.

Dan boleh apabila seorang yang terlambat (misalnya) seseorang wuqūf di Arafah dan dia baru datang setelah Isyā', maka ibadah hajinya sah karena dia telah melaksanakan rukun dari wuqūf

⑶ Thawāf di Ka'bah  (الطواف بالبيت).

Thawāf yang dimaksud di sini adalah thawāf ifadhah karena thawāf ifadhah adalah rukun haji.

Thawāf adalah mengelilingi kabah dengan tata cara tertentu yang sudah diatur oleh syari'at sebanyak 7 putaran, dimulai dari hajar aswad dan menjadikan Ka'bah disebelah kirinya.

⑷ Sai antara Shafā dan Marwah (السعي بين الصفا والمروة)

Sai yaitu berlari-lari antara Shafā dan Marwah, dia berjalan dari bukit Shafā kemudian ke bukit Marwah sebanyak 7 kali, dimulai dari Shafā dan diakhiri di Marwah.

√ Dari Shafā ke Marwah satu kali.
√ Dari Marwah ke Shafa dua kali.
√ Dari Shafa ke Marwah tiga kali.
√ Sampai tujuh putaran.

Tambahan di dalam madzhab syāfi'i:

⑸ Mengundul atau memendekan rambut

Menurut madzhab syāfi'i ini adalah rukun.

⑹ Tartib

Melakukan secara berurutan, seperti:

√ Niat
√ Wuqūf di Arafah
√ Thawāf Ifadhah
√ Sai haji
√ Mencukur atau mengundul rambut.

Ini adalah enam rukun yang disebutkan di dalam madzhab syāfi'i di dalam rukun haji.

Demikian semoga bermanfaat dan kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya in syā Allāh.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

__________________

Jumat, 04 Januari 2019

Halaqah 022 | Hadits 21

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  04 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 H / 19 November 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 022 | Hadits 21
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H022
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 21


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-22 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai pada hadīts yang ke-21. Hadīts yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ . قَالَ الراوي  وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

"Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, membiarkan jenggot (tanpa dicukur), bersiwak, istinsyāq (menghirup air ke dalam hidung ketika berwudhū'), memotong kuku, membasuh persendian (lipatan pada badan), mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, Istinjā' (bersuci) dengan air."_

Perawi hadīts ini mengatakan, "Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.” (Hadīts riwayat Muslim nomor 261)

Hadīts ini berbicara tentang sepuluh amalan yang dinyatakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam termasuk dari fithrah.

Yang dimaksud dengan fithrah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh adalah:

الخلقة التي خلق االله عباده عليها، وجعلهم مفطورين عليها

"Kondisi penciptaan dimana Allāh menciptakan para hamba-Nya dalam kondisi tersebut (kondisi awal mereka diciptakan) dan Allāh jadikan mereka berada dalam kondisi tersebut."

Kemudian beliau menjelaskan bahwasanya syari'at-syari'at yang Allāh perintahkan kepada manusia secara umum semuanya adalah perkara-perkara yang sesuai dengan fithrah manusia

Dan fithrah tersebut terbagi dalam dua bentuk:

⑴ Amalan atau syari'at yang membersihkan hati dan ruh, (seperti) perintah untuk beriman kepada Allāh.

Ini merupakan syari'at yang sesuai dengan fithrah manusia.

Dimana Allāh menjadikan manusia ketika pertama kali ruh ditiupkan maka ia masih berada dalam keimanan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebelum dia tercemari oleh perbuatan-perbuatan maksiat atau kesyirikan, kekufuran yang dijerumuskan atau dibisikan oleh syaithān.

Ini contoh bentuk syari'at yang sesuai dengan fithrah yang sifat atau fungsinya membersihkan hati dan ruh manusia supaya mereka bersih dari akhlaq-akhlaq yang tercela dan menjadi pribadi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagaimana mereka pertama kali Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan.

⑵ Amalan yang fungsinya membersihkan zhāhir manusia dan menghilangkan kotoran-kotoran dari tubuhnya.

Dan bentuk dua inilah yang dimaksudkan dalam hadīts yang sedang kita bahas pada halaqah kali ini.

Diantaranya adalah sepuluh amalan yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tersebut yang tujuannya adalah membersihkan anggota tubuh manusia dan menyempurnakan keadaannya supaya dia berada dalam kesehatan dan dia kembali kepada kondisi dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakannya.

Di antara amalan yang disebutkan tersebut adalah:

⑴ Berkumur-kumur dan melakukan istinsyāq (menghirup air kehidung) yang ini diperintahkan disyari'atkan ketika seseorang sedang melakukan thahārah. Fungsinya untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada di hidungnya maupun di mulutnya.

Begitu juga dengan bersiwāk (mengosok giginya dengan kayu siwāk atau dengan alat lain yang fungsinya adalah membersihkan mulutnya).

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwāk merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhāan bagi Rabb." (Hadīts shahīh riwayat Ahmad, Irwaul Ghalil no 66)

⑵ Mencukur kumis atau memendekkan kumis agar ketika dia makan atau minum sisa makanan atau minuman tersebut tidak menempel di kumis sehingga diperintahkan untuk dipendekkan (dirapihkan).

⑶ Memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan membersihkan lipatan-lipatan yang ada pada tubuhnya yang itu merupakan tempat kotoran-kotoran.

⑷ Beristinjā' (bersuci) setelah dia buang air besar atau air kecil.

Bahkan Istinjā' ini dijadikan syarat di antara syarat-syarat sahnya shalāt agar najis tidak menempel pada badannya.

Maka perkara-perkara yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadīts tersebut, kalau kita amati semua ini akan menjadikan manusia kembali kepada fithrah mereka.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutnya sebagai amalan fithrah.

Dari sini kita mengetahui bahwasanya syari'at ini memerintahkan agar manusia kembali kepada fithrah baik fithrah secara bathin, dimana diperintahkan perkara-perkara yang membersihkan jiwa manusia dari akhlaq-akhlaq tercela dan mengembalikan kepada akhlaq-akhlaq mulia dan indah yang merupakan fithrah mereka.

Atau amalan-amalan yang mulia dan indah yang merupakan fithrah mereka atau amalan-amalan yang memerintahkan kepada fithrah secara zhāhir yaitu dengan membersihkan diri dari kotoran-kotoran yang ada pada dirinya.

Bahkan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan dalam hadīts lain:

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْـمَـانِ

"Bersuci merupakan setengah dari keimanan."

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al Baqarah: 222)

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh mengatakan:

فالشريعة كلها طهارة وزكاء وتنمية وتكميل

Maka syari'at ini secara keseluruhan adalah memerintahkan kepada kebersihan dan kesempurnaan serta menganjurkan kepada perkara-perkara yang mulia dan mengharamkan dari hal-hal yang sifatnya rendah.

Wallāhu Ta'āla A'lam

Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kali ini in syā Allāh kita lanjutkan pada hadīts berikut di halaqah mendatang.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك

_________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000

📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

___________________


Halaqah 027 | Hadits 25 (bagian 02)

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  04 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 11 Rabi’ul Akhir 1440 H / 19 Desember 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 027 | Hadits 25 (bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H027
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 25 (BAGIAN KEDUA)


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-27 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita masih melanjutkan pembahasan hadīts ke-25, pada poin berikutnya, yaitu:

⑶ Pembahasan berikutnya adalah tentang sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalātlah sebagaimana kalian melihat aku shalāt."

Di dalam ucapan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tersebut, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengajarkan kepada kita tata cara shalāt.

Dimana Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengajarkan shalāt dengan menggabungkan antara perintah dan contoh yang beliau lakukan sendiri.

Sehingga orang yang akan mengerjakan shalāt harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (mencontoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam), baik itu gerakan maupun bacaan shalāt.

Tentunya dari gerakan atau bacaan shalāt tersebut ada yang sifatnya wajib maupun mustahab.

Oleh karena itu Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menyebutkan bahwa segala yang dilakukan atau diucapkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika Beliau shalāt atau ketika Beliau mengajarkan shalāt maka semua itu masuk di dalam makna hadīts:

 صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalātlah sebagaimana kalian melihat aku shalāt)."

Baik itu perintah yang sifatnya wajib atau mustahab.

Rukun shalāt adalah perkataan (bacaan) atau gerakan yang akan membentuk hakikat shalāt yang tidak boleh ditinggalkan ketika shalāt, baik karena lupa atau karena tidak tahu atau bahkan dengan sengaja. Dimana jika rukun shalāt ditinggalkan maka shalātnya tidak sah.

Dan yang termasuk rukun shalāt di antaranya adalah:

√ Takbiratul ihram (mengucapkan Allāhu akbar) ketika pertama kali akan memulai shalāt.

√ Membaca Al Fātihah (secara berurutan di setiap raka'at).

√ Tasyahud akhir dan ucapan salam ketika selesai shalāt.

Adapun yang bentuknya gerakan, seperti:

√ Berdiri
√ Rukuk
√ Sujud
√ Duduk di antara dua sujud
√ Duduk pada tasyahud akhir

Adapun sesuatu yang apabila ditinggalkan karena lupa dan cukup diganti dengan sujud sahwi dan tidak sampai membatalkan shalāt maka ini di istilahkan sebagai kewajiban-kewajiban dalam shalāt.

Termasuk kewajiban shalāt adalah:

√ Tasyahud awal

√ Duduk untuk tasyahud awal.

√ Takbiratul intiqal ketika berpindah gerakan mengucapkan Allāhu akbar, maka itu beliau sebutkan termasuk kewajiban shalāt yang apabila lupa cukup diganti dengan sujud sahwi.

√ Bacaan: سمع الله لمن حمده (Allāh memdengar orang yang memuji-Nya).

√ Bacaan rukuk, sujud dan ketika duduk di antara dua sujud (beliau sebutkan di sini termasuk kewajiban shalāt).

Kemudian ada kategori ketiga di dalam gerakan-gerakan shalāt yang sifatnya atau hukumnya adalah sekedar sebagai penyempurna shalāt.

Dan hukumnya adalah mustahab, apabila seorang melakukannya maka shalātnya menjadi sempurna dan apabila ditinggalkan maka tidak mempengaruhi sah shalātnya (karena hukumnya mustahab).

Jadi,  selain gerakan-gerakan yang tadi disebutkan pada rukun dan kewajiban shalāt maka ia masuk dalam kategori penyempurna atau mustahabah atau sebagian menyebutkan sebagai sunnah-sunnah shalāt.

Maka semua itu baik yang sifatnya rukun, wajib dan sunnah masuk dalam konteks hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini:

 صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalātlah sebagaimana kalian melihat aku shalāt)."

Sehingga ketika seorang mengerjakan shalāt dia harus mengerjakannya sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengerjakan, baik itu rukun shalāt, kewajiban shalāt maupun sunnah-sunnah shalāt.

Termasuk juga di dalam konteks perintah tersebut: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي , adalah hal-hal dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat ketika sedang shalāt, seperti tertawa ataupun berbicara atau banyak bergerak tanpa adanya suatu kebutuhan yang mengharuskan dia untuk melakukan gerakan selain gerakan shalāt. Maka hal-hal tersebut juga harus ditinggalkan.

Karena shalāt tidaklah sempurna kecuali telah terpenuhi syarat, rukun, dan kewajiban shalāt serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan shalāt.

Sehingga seorang yang ingin melakukan shalāt harus mempelajari tentang bagaimana gerakan shalāt dan bacaan shalāt yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Di sini Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh sedikit menjelaskan tentang tata cara shalāt.

√ Beliau sebutkan pertama kali ketika seorang akan melakukan shalāt dia harus menyempurnakan syarat-syarat shalāt, seperti melakukan thahārah kemudian menutup auratnya dan menghadap qiblat.

√ Apabila telah terpenuhi syarat-syarat tersebut, kemudian dia berniat di dalam hatinya untuk melakukan shalāt dan dia mengucapkan takbiratul ihram (Allāhu akbar) sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya.

√ Lalu dia membaca do'a istiftah kemudian membaca ta'awudz dan dilanjutkan dengan membaca surat Al Fātihah yang dimulai dengan بسم اللّه الرحمن الرحيم.

√ Setelah selesai membaca surat Al Fātihah, kemudian membaca surat lain yang ada di dalam Al Qur'ān.

√ Setelah selesai kemudian dia melakukan rukuk dengan mengucapkan, "Allāhu akbar," seraya mengangkat kedua tangannya.

√ Kemudian turun untuk melakukan rukuk, ketika rukuk dia mengucapkan bacaan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ

"Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung."

⇒ Minimal dibaca satu kali.

√ Setelah selesai rukuk kemudian dia mengangkat lagi kepalanya dengan mengucapkan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

"Semoga Allāh mendengar pujian orang yang memuji-Nya."

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

'Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya."

Sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya.

√ Setelah itu baru kemudian dia berpindah ke sujud dengan mengucapkan takbir ("Allāhu akbar") tanpa mengangkat kedua tanganya.

Karena posisi mengangkat kedua tangan ada pada posisi takbiratul ihram, pada saat akan rukuk kemudian bangun dari rukuk dan bangun dari tasyahud awal, adapun selebihnya tidak perlu mengangkat kedua tangan.

Ketika posisi sujud seorang harus menempelkan 7 (tujuh) anggota tubuhnya ke tanah atau ke bumi tempat dia shalāt.

Tujuh anggota tubuh itu adalah:

⑴ Kedua telapak jari-jari kakinya.
⑵ Kedua lututnya.
⑶ Kedua telapak. tangannya
⑷ Dahi bersamaan dengan hidung.

Dia tempelkan tujuh anggota badan itu ke tempat sujudnya kemudian dia renggangkan kedua lengannya dari tubuhnya.

Ketika posisi sujud membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

"Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak)."

⇒ Minimal dibaca satu kali.

√ Kemudian dia mengangkat kepalanya untuk melakukan duduk diantara dua sujud, dengan cara duduk di atas telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya seraya membaca:

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي

"Yā Allāh, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan tunjukilah aku."

⇒ Tata cara duduk seperti itu dinamakan duduk iftirosy.

√ Setelah itu dia lakukan sujud lagi sebagaimana sujud yang pertama. Setelah selesai sujud dia mengangkat kepalanya untuk berdiri dengan bertakbir lalu melakukan raka'at kedua.

Raka'at kedua dilakukan sebagaimana raka'at pertama.

√ Setelah dia sampai pada tasyahud awal dia duduk dengan cara iftirosy dan membaca doa tasyahud:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

"Segala penghormatan hanya milik Allāh, begitu juga shalawat dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat Allāh dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allāh yang shālih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya"

√ Setelah selesai dia bertakbir untuk bangun ke raka'at ketiga dan pada posisi bangun dari raka'at yang ketiga, dia dianjurkan untuk mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya.

√ Setelah itu dia membaca surat Al Fātihah saja, (pada raka'at ketiga dan keempat) tanpa dilanjutkan dengan surat yang lain.

√ Setelah sampai pada tasyahhud akhir maka dia lakukan dengan cara duduk tawarruk yaitu duduk dengan cara mengeluarkan kaki kirinya dari bawah betis kanannya atau dari sisi kanannya, dan dia mendudukkan pantatnya di atas bumi (tidak duduk di atas telapak kaki kirinya lagi).

Kemudian membaca bacaan tasyahhud (seperti bacaan tasyahhud pertama) dan di lanjutkan bacaan tasyahhudnya dengan mengucapkan shalawat Ibrāhīmiyyah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

"Yā Allāh, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrāhīm dan keluarga Ibrāhīm. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Yā Allāh, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrāhīm dan keluarga Ibrāhīm. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia."

Kemudian dilanjutkan dengan do'a:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

"Yā Allāh, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Al masih Dajjal."

Setelah itu boleh dilanjutkan dengan doa lain, yang dia inginkan.

√ Setelah selesai berdo'a kemudian mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri, mengucapkan:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

"Semoga keselamatan atas kalian, demikian juga rahmat Allāh dan berkah-Nya."

Demikian gambaran singkat bagaimana tata cara shalāt yang dilakukan (dicontohkan) oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian yang bisa dibahas pada halaqah kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada hadīts berikutnya pada halaqah yang akan datang.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________________


🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 026 | Hadits 25 (bagian 01)

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  04 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H / 18 Desember 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 026 | Hadits 25 (bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H026
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 25 (BAGIAN PERTAMA)


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-26 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai pada hadīts ke-25 yaitu hadīts yang diriwayatkan dari Mālik bin Al Huwayrits radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ،وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

"Shalātlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalāt, dan apabila telah datang waktu shalāt maka salah satu dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian, dan hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling tua usianya di antara kalian." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts ini terdapat tiga pembahasan penting yang berkaitan dengan shalāt.

⑴ Pembahasan pertama terdapat dalam sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

"Apabila telah datang waktu shalāt, maka salah satu dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian."

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa dalam lafazh ini (konteks hadīts ini) menunjukkan tentang disyari'atkannya adzan dan menunjukkan wajibnya melakukan adzan, apabila telah datang waktu shalāt.

Dan hadīts ini juga menunjukkan bahwa adzan itu boleh dilakukan apabila telah datang waktu shalāt (setiap shalāt lima waktu).

Adzan dilakukan bila sudah datang waktu shalāt kecuali pada shalāt fajar (shubuh) karena pada shalāt shubuh dilakukan dua adzan.

√ Adzan pertama dilakukan sebelum masuknya waktu shalāt shubuh.

Sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

"Sesungguhnya Bilāl beradzan diwaktu malam, maka silahkan kalian makan dan minum, sampai ibnu ummi Maktūm mengumandangkan adzan." (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1092)

Di sini menunjukkan bahwasanya adzan ketika itu dilakukan oleh Bilāl pertama kali sebelum masuk waktu shalāt, yang tujuannya untuk membangunkan kaum muslimin agar mereka bersiap-siap untuk shalāt dan juga untuk bersahūr bagi yang ingin melakukan puasa.

Hadīts ini menunjukkan diwaktu shalāt shubuh boleh mengumandangkan adzan dua kali, (yaitu) yang pertama sebelum masuknya waktu shalāt, kemudian yang kedua setelah datang waktu shalāt shubuh.

Adapun di waktu shalāt lain, selain shalāt shubuh, maka adzan dilakukan jika telah datang waktu shalāt.

Kemudian dari lafazh hadīts ini, perintah untuk melakukan adzan bersifat fardhu kifayyah.

• Fardhu Kifayyah adalah:

"Suatu amalan yang apabila telah dilakukan oleh salah satu dari kalangan kaum muslimin di tempat tersebut maka sudah tidak wajib lagi bagi yang lainnya."

• Fardhu 'Ain adalah:

"Suatu amalan yang harus dilakukan oleh seluruh kaum muslimin tidak terkecuali apabila telah mencapai status sebagai seorang mukallaf."

Kemudian beliau (rahimahullāh) menjelaskan juga di antara kriteria yang sebaiknya terpenuhi oleh seorang muadzin adalah orang yang memiliki suara lantang dan dia dipercaya sebagai orang yang tahu datangnya waktu shalāt.

Karena tujuan dari adzan adalah memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa waktu shalāt telah datang, maka sangat dianjurkan orang yang mengumandangkan adzan adalah seorang yang memiliki suara yang lantang supaya suaranya bisa didengar oleh kaum muslimin.

Selain itu orang yang mengumandangkan adzan harus orang yang tahu tentang datangnya waktu shalāt.

Konteks hadīts ini menunjukkan bahwasanya adzan ini dilakukan baik ketika tidak dalam keadaan safar maupun saat sedang safar.

Maka apabila sedang safar dan tidak ada yang adzan maka sebaiknya salah seorang dari mereka beradzan dan kalau mereka tidak mendengar adzan sama sekali maka salah seorang dari mereka harus melakukan adzan untuk memberitahukan kepada yang lain bahwa telah datang waktu shalāt.

Dan tentang keutamaan adzan tersebut telah datang banyak hadīts yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala orang yang melakukan adzan.

Serta beliau sebutkan bagi orang yang mendengar adzan dianjurkan untuk mengikuti apa yang diucapkan oleh muadzin ketika muadzin adzan (mengikuti lafadz adzan tersebut), kecuali pada lafazh 'Hayya 'alash shalāh" dan "Hayya 'alal falāh".

Karena pada kedua lafazh ini ketika muadzin mengucapkannya, maka orang yang mendengar mengucapkan:

لا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allāh." (Hadīts riwayat Bukhāri 1/152 dan Muslim 1/288)

Dan setelah selesai adzan maka dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam seraya mengucapkan:

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَـٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ

"Ya Allāh, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalāt (wajib) yang didirikan. Berilah Al Wasīlah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan Beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan." (Hadīts riwayat Bukhāri 1/152)

Kemudian setelah itu dia boleh berdo'a dengan apa yang dia inginkan, karena waktu tersebut adalah di antara waktu-waktu dikabulkannya do'a.

⑵ Pembahasan berikutnya adalah:

وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

"Dan hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling tua usianya diantara kali."

Di dalam lafazh ini, Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa ini menunjukkan wajibnya melakukan shalāt secara berjamā'ah karena Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan:

 وَلْيَؤُمَّكُمْ

"Hendaknya mengimami kalian."

Ini artinya dilakukan dengan cara berjamā'ah. Dan beliau sebutkan di sini bahwa konteks ini sebagai dalīl diwajibkannya melakukan shalāt secara berjamā'ah.

Shalāt berjamā'ah minimal dilakukan oleh dua orang, yang satu menjadi iman dan yang lain menjadi makmum.

Adapun orang yang paling berhak atau paling utama menjadi imam adalah sebagaimana  disebutkan di dalam hadīts berikut ini. Dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله، فإن كانوا في القراءة سواء، فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة أو إسلاما

"Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling pandai membaca kitābullāh, kalau seandainya mereka sama dalam hal bacaan, maka hendaknya yang paling berilmu tentang sunnah, kalau seandainya mereka sama dalam keilmuannya tentang sunnah, maka hendaknya orang yang paling dahulu hijrah ke dalam Islām."

Adapun apabila sama dalam semua ini barulah kemudian apa yang disebutkan dalam hadīts yang kita bahas ini (yaitu)  orang yang paling tua usianya.

Karena syari'at menganjurkan untuk memprioritaskan orang yang lebih tua usianya di dalam suatu yang diperintahkan selama orang yang lebih muda tidak memiliki kelebihan daripada orang yang lebih tua.

Kemudian disebutkan apabila shalāt dilakukan secara berjamā'ah, hendaknya makmum mengetahui bahwasanya imam itu harus di ikuti, sehingga apabila imam melakukan gerakan dalam shalāt maka makmum harus mengikuti imam itu.

Dan tidak boleh seorang makmum mendahului imam, karena mendahului imam hukumnya adalah haram bahkan beliau sebutkan itu membatalkan shalāt.

Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "imam itu untuk diikuti oleh para makmum", sehingga makmum tidak boleh mendahului imam di dalam gerakan-gerakan shalāt.

Kemudian beliau sebutkan juga posisi makmum, apabila makmum tersebut dua orang laki-laki, maka posisi yang paling utama keduanya berada dibelakang imam (membuat shaf dibelakang imam).

Namun tidak mengapa jika keduanya berdiri disamping imam) sebelah kanan atau sebelah kanan dan sebelah kirinya imam. Namun yang lebih utama keduanya berdiri dibelakang imam.

Adapun jika makmum tersebut hanya satu orang maka dia berdiri disebelah kanannya imam dan apabila makmum tersebut satu orang wanita, maka makmum wanita tadi berdiri sendiri dibelakang imam.

Kemudian beliau sebutkan seorang imam hendaknya dia membaca bacaan secara jahr pada kondisi-kondisi dimana di situ diperintahkan untuk membaca secara jahr (keras).

Begitu juga ketika bertakbir, berpindah dari gerakan-gerakan shalāt hendaknya dia mengeraskan bacaan takbirnya karena tujuannya agar imam tersebut bisa diikuti oleh makmum, sehingga imam diperintahkan untuk membaca takbir dengan keras.

⑶ Pembahasan berikutnya adalah tentang sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalātlah sebagaimana kalian melihat aku shalāt."

In syā Allāh pembahasan ini akan kita lanjutkan pada halaqah mendatang.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________________


🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Proudly Powered by Abu Uwais.