PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 18 Januari 2020

Kaidah dan Prinsip penerapan dan pengambilan dalil aqidah point 4-7

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  18 Januari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ للهِ  وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Para ikhwan dan akhwat kita akan lanjutkan muqaddimah tentang aqidah ahlussunnah wal jamaah  
masih berkaitan dengan manhaj ahlussunnah dalam menerima dan menerapkan suatu dalil

4. Semua prinsip dasar agama telah dijelaskan oleh Nabi  Tidak dibenarkan siapapun untuk mengadakan esuatu yang baru dan kemudian mengatakannya sebagai bagian dari agama


Ahlussunnah menganggap bahwa semua yang merupakan ushuluddin bagian yang pokok dari agama ini semua telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ

tidak ada satu pun ajarana agama yang tidak dijelaskan oleh Nabi ﷺ sehingga dengan demikian tidak boleh ada orang yang memasuk-masukan mengait-ngaitkan apa yang tidak menjadi agama atau yang tidak dianggap bagian dari agama islam saat di sempurnakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ
 
"...Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian kucukupkan nikmatKu atas kalian dan telah Ku ridhai silam sebagai (diin) agama islam kalian..." (Surat Al-Maidah : 3)

Al Imam Malik رٙحِمٙهُ اللهُ mengatakan

فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا

Apa saja yang hari itu tidak dianggap sebagai ajaran islam (tidak disangkutpautkan dengan islam) setelah turunnya ayat ini maka berikut-berikutnya tidak boleh disangkutpautkan dengan islam 

Siapapun tidak berhak mengaklaim bahwa apa yang dia lakukan adalah bagian dari islam, selagi dia tidak bisa membuktikan bahwasanya Nabi mengajarkan hal tersebut kita harus yakin bahwasanya ajaran itu bukan begian dari islam

sehingga dengan demikian aqidahnya atau manhajnya ahlussunnah itu baku sifatnya tidak seperti sesuatu yang banyak celahnya, orang bisa meyusut dari sana dan dari sini tidak seperti itu


5. Berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya  secara lahir dan batin. Dan tidak menolak sesuatu pun dari Al- Qur’an dan As-Sunnah yang shahih dengan analogi (qyas), perasaan (dzauq), penyingkapan tabir (kasyf),dan tidak juga dengan perkataan syaikh, imam, dan yang semisalnya.


point berikutnya ahlusunnah dalam menghadapi dalil baik Al Quran maupun Sunnah Rasulullah  maka sikap mereka adalah pasrah, tunduk, berserah diri, menurut kepada Allah dan Rasulullah ﷺ secara lahir maupun secara batin



secara lahir dia menurut dengan melaksanakan semampunya dan menjauhi semampunya secara batin dia menerima, dia legowo, tidak jengkel tidak protes dengan aturan Allah ini, dia yakin ini adalah aturan yang hak aturan yang diturunkan oleh Dzat Yang maha Tahu, Dzat Yang maha Adil, Dzat Yang maha Pengasih, Penyayang, Maha Bijaksana sehingga semuanya ada dalam aturan ini, semua keadilan, semua kasih sayang, semua kebijakan terkandung aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى



Sehingga kalau hawa nafsunya protes tapi dia akan tundukan hawa nafsunya itu untuk melawan keputusan Allah dan keputusan RasulNya 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ 

"Tidak boleh seorang mukmin maupun mukminah bilamana Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan mereka tidak diperbolehkan sama sekali untuk memilih ketetapan yang lain..." (Surat Al-Ahzab : 36)



Kalau Allah sudah membuat (menyatakan) keputusan tertentu dalam masalah tertentu maka tidak ada pilihan lain bagi orang yang beriman (laki-laki maupun perempuan) kecuali dia taati apa keputusan Allah tadi, ini yang dimaksud dengan pasrah terhadap Allah dan RasulNya lahir maupun batin


Ahlussunah tidak akan menabrak-nabrakan satu ayat dengan ayat yang lain, atau ayat lain dengan hadits Nabi  ﷺ  kalau dua-duanya telah benar (valid) ayatnya tidak dihapus hukumnya, haditsnya juga tidak dihapus hukumnya, maka satu sama lain akan saling menjelaskan tidak akan saling kontradiksi

apalagi kalau ayat Al Quran dan Hadits Nabi ﷺ ditolak dengan qiyas dengan analogi (logika) tidak akan dilakukan oleh seorang ahlussunnah, demikian menolak dengan perasaannya saja, menurutnya peraturannya tidak adil, menurutnya aturannya tidak sesuai, tidak cocok lagi dengna zaman ini dan lain sebagainya

ini adalah sikap-sikap yang tidak mungkin dilakukan oelh seorang ahlussunnah wal jamaah apalagi dengan mukasyafah, (mengklaim) bahwasanya dia telah ditunjukkan apa telah ditunjukkan untuk selain dirinya, dia bisa melihat dari masa depan yang orang lain tidak bisa melihat, istilah-istilah yang sering kita dengar dikalangan pengikut tasawuf, ini semua bukanlah dalil tidak pernah bisa dijadikan sebagai alasan untuk menolak kitabullah maupun sunnah Rasulullah ﷺ

Dan ahlussunnah juga tidak akan mempertantangkan antara aturan Al Quran dan aturan sunnah dengan pendapat ulama, siapapun ulamanya, kiyainya, ustadznya, dan imamnya karena mereka Allah dan RasulNya

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۖ

Wahai orang-orang yang beriman jangan sekali-kali engkau mendahului Allah dan RasuNya...(Surat Al Hujarat : 1)

Tunggulah apa keputusan Allah, bukan mendahului, menandingi, menentang bukan seperti itu barakallahu fiykum

6. Akal sehat (al-aql mushaarif) sejalan dan membenarkan keshahihan dalil naqli. Apapun yang telah pasti dari kedua dalil itu tidak dapat dipertentangkan selama-lamanya. Jika terdapat pertentangan yang jelas dari keduanya, maka dalil naqli harus didahulukan.

termasuk yang diyakini ahlussunnah adalah bahwasanya akal yang sehat titdak akan bertentang dengan dalil yang shahih, kalau sepintas ada yang bertentangan dengan kontrakdiksi, maka hakikatnya tidak ada kontradiksi hanya saja dia tidak bisa memahami, dia tidak bisa mencerna sehingga itu nampak sebagai sesuatu yang kontradiksi padahal tidaklah demikian

kalaupun dia tetap tidak bisa memahami maka dia harus mendahululan dalil yang shahih, dia harus me-nomor-duakan akal sehatnya, karena apa ayyuhal ikhwa karena hukum akal adalah sesuatu yang nisbi, sesuatu yang relatif apa yang dianggap masuk akal oleh sebagian orang demikian pula sebaliknya yang tidak masuk akal dianggap masuk akal, yang sulit dimengerti oleh sebagian orang sangat mudah dimengerti oleh sebagian yang lain

inilah mengapa kita tidak boleh menjadikan akal sebagai tolak ukur, karena akal kita sangat dengan keterbatasan dan berdifat nisbi, beda dengan Hadits Nabi, Al Quranulkarim dan ijma' yaitu sifatnya adalah qath'i

tidak ayat Al Quran yang salah, tidak ada Hadits Nabi yang salah (keliru), tidak ada ijma' kalaulah benar-benar terjadi ijma' mereka bersepakat untuk sesuatu yang menurut itu tidak mungkin, itu semua telah dijamin oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى


وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا


"...Andai itu berasal selain dari Allah kalian kana temukan perbedaan (perselisihan) yang sangat banyak" (Surat Annisa : 82)

Dan ijma ini sesuatu yang dijaga

إِنَّ أُمَّتِى لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ

Sesungguhnya umatku (Rasulullah) tidak akan berkumpul (bersepakat) sessuatu yang sesat (tidak akan terjadi kespakatan)


7. Wajib untuk berpegang teguh pada lafazh Syariah dalam perkara-perkara yang menyangkut aqidah dan menghindari lafadz-lafadz bid’ah. Adapun lafazh yang mengandung lebih dari satu kemungkinan makna dan mungkin benar atau salah, maka maknanya harus

dipastikan terlebih dahulu, Jika maknanya benar, maka digantikan dengan lafadz syariah. Namun apabila maknanya salah, maka ditolak.

Kita membahas dalam perkara-perkara aqidah harus setia dalam menggunakan lafadzh-lafazdh syar'i ketika mejelaskan perkara aqidah kita harus mencukupkan dengan istilah-istilah yang ada dalilnya saja yang diakui digunakan oleh dalil-dalil syar'i istilah itu

dan kita harus menjauhi lafadzh-lafadzh yang dibuat-buat (bid'ah) misalnya ketika Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى 

Menyebutkan diriNya itu istiwa, maka kita katakan bahwa Allah beristiwa
Menyebutkan diriNya itu begini maka kita sebutkan sesuai dengan lafadzh yang digunakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى 
Menafikan sifat-sifat tertentu dari diriNya kita juga nafikan sifat-sifat itu dengan istilah yang sama digunakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى 

Jangan kita merekayasa istilah baru seperti mengatakan bahwasanya Allah tidak punya jasmani (menafikan) sifat jasmani ini tidak pernah  dibahas dalam dalil-dalil, oleh karena itu kita tidak boleh menggunakan istilah ini baik dengan menetapkan maupun dengan menafikan sifat jasmani

kemudian lafadzh-lafadzh yang memiliki makna ganda kemungkinan bisa dimaknai hak bisa juga dimaknai bathil maka kita harus meminta penafsiran terlebih dahulu dari orang yang menggunakannya, apa maksudnya menggunakan istilah-istilah seperti ini

kalau dia menafsirkannya dengan penafsiran yang benar maka maknanya kita terima, lafadzhnya kita tolak karen lafadzhnya tidak digunakan dalam dalil-dalil syar'i Allah tidak menggunakan isitilah itu bagir diriNya, Nabi juga tidak menggunakan istilah itu untuk Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka kita tolaj lafadzhnya

Namun makna hak yang dia sebutkan itu kita terima, namun sebaliknya jika menyebutkan makna yang bathil maka kita tolak semua lafadzhnya maupun penafsirannya dan ini biasanya ini terkait dengan pembahasan-pembahasan sepitar asma dan sifat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى   dan boleh juga mengenai seputar keimanan secara umum

misalnya ada sebagian kalangan yang menggunakan istilah tauhid, tapi tauhid dalam defini mereka artinya menafikan sifat Allah, tentunya istilah-istilah tauhid adalah istilah yang syar'i (populer) dalam ilmu-ilmu syar'i akan tetapi ketika dia dimaknai dengan makna yang bathil kita harus tolak makna yang bathil itu

mereka juga menggunakan istlah amar ma'ruf nahi munkar kelompok yang dikenal dengan kelompok mu'tazilah itu punya 5 pokok ajaran mereka salah satunya adalah amar ma'ruf nahi munkar dan menurut mereka tauhid itu menafikan sifat-sifat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semua sifat dinafikan

kemudian mereka juga mempunyai konsep amar ma'ruf nahi munkar tapi versi mereka adalah memberontak kepada penguasa jadi lafadzhnya syar'i tapi maknanya bathil maka kita tolak maknanya, adakala sebaliknya maknanya hak tapi lafazdhnya bathil maka kita tolak lafadzhnya, kalau dua-duanya bathil maka kita tolak dua-duanya

ini barangkali bagian kedua dari pembahasan tentang manhaj ahlussunnah wal jamaah dalam menerima dan menerapkan dalil-dalil syar'i, mudah-mudahan bermanfaat

والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى  نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip Oleh Abu Uwais
Download kitab Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah



Selasa, 14 Januari 2020

Halaqah 36 | Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Pernah Bercanda Dengan Anak Yang Masih Kecil

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 19 Jumada Al-Ula 1441 H / 14 Januari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 36 | Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Pernah Bercanda Dengan Anak Yang Masih Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-36
~~~~~~~~~~~~

RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALAM PERNAH BERCANDA DENGAN ANAK YANG MASIH KECIL


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امور الدنيا والدين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين أما بعد

Ma'asyiral mustami'in, para pendengar, pemirsa yang semoga senantiasa di muliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāhi Rabbil'ālamīn.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-36 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi, tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

الرسول ﷺ يداعب طفلة صغيرة

RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALAM PERNAH BERCANDA DENGAN ANAK PEREMPUAN YANG MASIH KECIL_

Di sini penulis membawakan hadīts yang diriwayatkan oleh Al Bukhāri, dari Ummu Khalid binti Khalid radhiyallāhu 'anhā, ia berkata:

أُتِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ " مَنْ تَرَوْنَ نَكْسُو هَذِهِ ". فَسَكَتَ الْقَوْمُ قَالَ " ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ ". فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ " أَبْلِي وَأَخْلِقِي ". وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ فَقَالَ " يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَاهْ ". وَسَنَاهْ بِالْحَبَشِيَّةِ حَسَنٌ

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah diberi kain yang di dalamnya ada satu kain kecil dari sutera atau wol bercorak hitam, lalu Rasul berkata:

"Siapakah yang pantas memakai kain ini?"

Semua terdiam, Rasul berkata: "Bawakan kepadaku Ummu Khalid!"

Lalu Ummu Khalid digendong kepada beliau, beliau mengambil kain sutera tersebut dan memakaikan kain tersebut kepadanya, beliau berkata:

"Kenakanlah pakaian ini sampai rusak dan lusuh."

Di dalam kain tersebut ada tanda hijau dan kuning, selanjutnya Rasul berkata:

"Wahai Ummu Khalid kain ini bagus."

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5823)

Inilah salah satu akhlak Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mencandai anak kecil (Ummu Khalid).


BELIAU SHALLALLĀHU ALAYHI WA SALAM BERCANDA DENGAN MENYEMBURKAN AIR KE MUKA ANAK KECIL

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bercanda dengan menyemburkan air di muka anak kecil yang lain.

Al Bukhāri meriwayatkan dari hadīts Mahmud bin Ar Rabi' radhiyallāhu 'anhu, dia berkata:

عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ.

"Aku ingat sekali dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah semburan air dari mulutnya ke wajahku, yang beliau ambil dari sebuah ember, kala itu aku berumur lima tahun." (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 77)

Para ulama menafsirkan, semburan yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jaraknya jauh karena: المج , artinya semburan air dari mulut. Dan tidak dikatakan: المج , kecuali jika disamburkan dari jauh.

Dan ungkapan ini dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani di dalam Fathul Bāri I/172. Beliau menjelaskan apa yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Mahmud masuk ke dalam kategori bercanda atau sesuatu yang dilakukan oleh Beliau untuk memberikan keberkahan seperti yang dilakukan Beliau kepada putera sahabat yang lain.

Dua hadīts di atas berkenaan dengan candaan dan akhlak mulia Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  kepada anak-anak kecil.

In syā Allāh kita lanjutkan kembali pada halaqah yang berikutnya masih berkaitan dengan contoh-contoh akhlak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terkhusus kepada anak kecil.

Demikian para pendengar rahīmakumullāh semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________


Halaqah 35 | Hadits: “Wahai Abu ‘Umair, Apa Yang Dilakukan Oleh An-l Nughair (Burung Kecil) ?”

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Jumada Al Ula 1441 H / 13 Januari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu AlbAbnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath Athibbāi
🔊 Halaqah 35 | Hadits: “Wahai Abu ‘Umair, Apa Yang Dilakukan Oleh An-l Nughair (Burung Kecil) ?”
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-35
~~~~~~~~~~~~

HADĪTS: "WAHAI ABŪ 'UMAIR, APA YANG DILAKUKAN OLEH AN NUGHAIR (BURUNG KECIL)?”

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma'asyiral Mustami'in, para pemirsa rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-35 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

حدث يا أبا عمير ما فعل النغير وبعض ما فيه من فوائد

▪HADĪTS: "WAHAI ABŪ 'UMAIR, APA YANG DILAKUKAN OLEH AN NUGHAIR (BURUNG KECIL)?” DAN BERBAGAI PELAJARAN YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA


Lihatlah, bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bercanda dengan anak kecil (shahabat yang masih kecil saat itu), dan bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menanyakan burung yang menjadi permainannya.

Dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، لَيُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لأَخٍ لِي صَغِيرٍ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bergaul dengan kami sampai-sampai Beliau berkata kepada saudaraku yang masih kecil, "Wahai Abū 'Umair apa yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?"(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6129 dan Muslim nomor 2150)

Dalam riwayat Ahmad, disebutkan Abū Umair sedih karena burung itu mati, sehingga sebelum Beliau bertanya tentang burung itu Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mencandai Abū 'Umair terlebih dahulu.

Kemudian Beliau bertanya:

 يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

"Wahai Abū 'Umair apa yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?"

Dari sini beberapa ulama memberikan kesimpulan atau beberapa faedah yang bisa kita ambil.

Di antaranya :

⑴ Bolehnya memberikan kun-yah kepada anak kecil. Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا أَبَا عُمَيْرٍ

"Wahai Abū 'Umair."

Jika laki-laki depannya: Abū, jika wanita: Ummu.

⑵ Bolehnya mencandai anak kecil. Sebagian ulama mengatakan hukumnya sunnah bukan hanya sekedar rukhsah, terkhusus anak kecil yang belum tamyiz (mumayiz) supaya mereka senang dan tidak sedih.

⑶ Bolehnya berlemah-lembut dengan teman kecil atau besar, bertanya tentang keadaannya, akrab dengan anak kecil dan menghibur mereka.

⑷ Bolehnya anak kecil bermain-main dengan burung dan kedua orangtua boleh membiarkan anaknya bermain dengan sesuatu yang diperbolehkan. Dan ulama memberikan satu kesimpulan bolehnya memelihara burung dalam sangkar selama dipelihara dengan baik, diberi makanan dan minuman.

⑸ Berbicara dengan anak kecil disesuaikan dengan kemampuan akal mereka.

Demikianlah para pendengar rahīmakumullāh semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____


Audio 62 | Akibat Cinta Dunia

by Rory Rachmad  |  in Kajian Audio at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 15 Jumada Al-Ula 1441 H / 10 Januari 2020 M
👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A.
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 62 | Akibat Cinta Dunia
🔄 Download Audio: bit.ly/NasihatSingkatBiAS-62
〰〰〰〰〰〰〰

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________


Halaqah 052 | Hadits 50

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 13 Jumada Al-Ula 1441 H / 08 Januari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 052 | Hadits 50
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H052
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 50


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-52, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

Kita membahas hadīts yang ke-50 yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu, beliau mengatakan: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

"Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah, jikalau dia membenci dari wanita tersebut sebuah akhlak niscaya dia juga ridhā akhlak lain dari wanita tersebut." (Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Di dalam hadīts mulia ini, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberi kita petunjuk, lebih khusus memberikan petunjuk kepada seorang suami dalam mempergauli istrinya.

Yang mana petunjuk Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ini merupakan sebab terbesar dan faktor yang sangat kuat untuk bisa membawa seorang suami dalam mempergauli istrinya dengan cara yang baik (husnil 'isyrah).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang seorang mukmin berperilaku buruk  kepada istrinya (suil 'isyrah).

Sesuatu yang dilarang oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menuntut kita untuk melakukan hal sebaliknya, yaitu kita diperintahkan untuk berperilaku yang baik (husnil 'isyrah) kepada para istrinya.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan agar para suami memandang kepada akhlak-akhlak indah yang ada pada istrinya dan perkara-perkara yang dia sukai dari istrinya. Serta dia jadikan hal-hal tersebut sebagai pembanding atas hal-hal yang dia tidak sukai dari istrinya.

Karena seorang suami apabila dia perhatikan sesuatu yang ada pada istrinya yang berupa akhlak yang indah dan kebaikan-kebaikan yang dia sukai, kemudian dia melihat kepada sebab yang selama ini menjadikan dia bersikap tidak suka kepada istrinya, tentunya dia akan melihat satu atau dua hal saja dari hal-hal yang tidak dia sukai dari istrinya. Karena dia akan melihat kepada akhlak dan kebaikan istrinya yang  tentunya lebih banyak.

Apabila seorang suami bersikap adil, dia akan menutup matanya dari keburukan-keburukan yang ada pada istrinya.

Karena keburukan tersebut sudah tenggelam di dalam kebaikan-kebaikan yang begitu banyak yang ada pada istrinya. Sehingga kebersamaan di antara mereka berdua tetap langgeng dan hak-hak pun bisa digunakan dengan baik.

Baik hak-hak yang wajib maupun hak-hak yang mustahab. Bahkan bisa jadi sang istri akan berusaha untuk merubah sesuatu yang tidak disenangi oleh suaminya tersebut.

Adapun orang yang menutup mata dari kebaikan-kebaikan yang ada pada istrinya dan hanya melihat kepada keburukan-keburukan dari istrinya, maka orang seperti ini adalah orang yang tidak adil dan hampir-hampir dia tidak akan bahagia bersama istrinya.

Maka orang dalam hal ini terbagi menjadi 3 (tiga) kategori :

⑴ Orang yang paling mulia dalam hal ini.

Yaitu orang yang memperhatikan atau memandang kepada akhlak yang baik dan kebaikan-kebaikan yang ada pada istrinya dan dia menutup mata dari kejelekan-kejelekan yang ada pada istrinya secara total, sehingga dia melupakan kejelekan-kejelekan yang ada pada istrinya.

⑵ Orang yang paling sedikit diberikan taufīq dan sedikit akhlak yang mulia yang ada pada dirinya.

Yaitu orang yang merupakan kebalikan dari orang yang pertama yang dia menyia-nyiakan kebaikan yang ada pada istrinya meskipun kebaikan sang istri begitu banyak. Dan dia senantiasa menjadikan kejelekan-kejelekan atau keburukan-keburukan itu terus ada di hadapan matanya bahkan diperpanjang dan diperlebar. Serta dia tafsirkan dengan prasangka-prasangka dan takwilan-takwilan yang tentunya prasangka-prasangka dan takwilan-takwilan itu akan menjadikan kejelekan yang sedikit berubah menjadi banyak.

⑶ Orang yang memandang kepada dua hal tadi, kebaikan dan keburukan.

Dia melihat kebaikan dan keburukan, kemudian dia menimbang di antara keduanya dan dia perlakukan istrinya sesuai dengan takaran dari masing-masingnya. Seperti orang yang adil namun tidak sesempurna dari orang yang pertama.

Demikianlah adab yang diajarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada seorang suami dan tentunya hal ini patut untuk dia amalkan dan bukan hanya kepada seorang istri namun hal ini berlaku kepada semua orang yang kita diperintahkan untuk muasyarah bil ma'ruf, bergaul dengan mereka dengan cara yang baik. Sehingga hal bisa menjadikan dia menunaikan hak-hak yang wajib dan mustahab.

Demikian penjelasan hadīts yang mulia ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa berlaku adil (inshaf) dalam bermuamalah, di dalam menggauli orang-orang yang kita diperintahkan untuk bergaul dengan cara yang baik kepada mereka sehingga tercipta keharmonisan, tercipta kebaikan dan pergaulan yang baik di tengah-tengah kehidupan kita.

Wallāhu Ta'āla A'lam


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________


Halaqah 051-a | Hadits 49 (lanjutan)

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 12 Jumada Al-Ula 1441 H / 07 Januari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 051-a | Hadits 49 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H051a
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 49 BAGIAN KE-2


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan hadīts yang ke-49 dalam kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

Maksud dari hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini (يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ الْوِلاَدَةِ) adalah orang-orang yang menjadi mahram yang disebabkan adanya sebab melahirkan, hubungan kekerabatan atau nasab, maka orang-orang tersebut apabila diposisikan dalam persusuan, maka orang-orang itupun menjadi mahram bagi anak yang disusuinya.

Adapun kerabat dari anak susuan tadi, dia tidak menjadi mahram bagi ibu susuannya karena persusuan ini hanya dari sisi ibu susuan. Adapun dari sisi anak yang menyusu dari ibu susuan tadi hukum hanya berlaku bagi dia dan keturunannya saja.

Sedangkan bapak bayi tadi tidak menjadi mahram bagi ibu susuannya, begitu pula saudara anak tadi tidak menjadi mahram bagi ibu susuannya. Karena mereka tidak berkaitan dengan ibu susuan dalam hal persusuan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan suatu kaidah di dalam menghukumi siapa yang menjadi mahram yang disebabkan adanya hubungan persusuan ketika bayi menyusu minimal 5 kali susuan dan di umur yang belum melebihi 2 tahun.


▪ Mahram Karena Hubungan Pernikahan

Selain dari hal-hal tersebut (dari orang-orang tadi) ada juga orang-orang yang menjadi mahram disebabkan sesuatu yang lain yaitu disebabkan adanya hubungan pernikahan.

Siapa saja mereka?

⑴ Ibunya istri, termasuk nenek-neneknya.
⑵ Anak-anaknya istri, dengan syarat istri yang sudah dinikahi tadi sudah terjadi hubungan suami istri, sehingga anak dari si istri bisa menjadi mahram bagi laki-laki tersebut.
⑶ Istri dari bapak-bapaknya, maksudnya apabila bapaknya menikah lagi maka istri bapaknya menjadi mahramnya. Termasuk juga Istri dari kakek-kakeknya, karena istilah aba atau bapak dalam bahasa Arab mencakup bapak yang lebih tinggi secara garis keturunan yaitu kakek.
⑷ Istri dari anak-anak, termasuk juga di dalamnya cucu.

⇒ Semua itu menjadi mahram karena pernikahan.

Apabila anak atau istri yang dia nikahi merupakan anak susuannya maka ibu susuannya menjadi mahramnya begitu pula anak susuannya menjadi mahramnya.

Misalkan :

Dia mempunyai bapak sepersusuan maka istri-istri dari bapak sepersusuan itu pun menjadi mahramnya.

Seorang wanita yang memiliki anak susuan atau laki-laki dia memiliki anak sepersusuan dari istrinya, maka istri dan anak-anaknya pun menjadi mahram baginya.

Berdasarkan kaidah ini, seandainya berdasarkan kerabat menjadi mahram, maka begitu pula orang yang menjadi anak dari sisi sepersusuan akan menjadi mahram pada hubungan yang lainnya.

Begitu pula di dalam masalah menjamak atau menggabungkan dua orang yang tidak boleh digabung dalam satu pernikahan. Apabila ada seorang perempuan dia memiliki saudari maka tidak boleh dinikahi bersama-sama.

Contoh :

Seseorang menikahi dua wanita yang mereka merupakan saudara, atau seseorang menikahi seorang wanita dengan bibinya, maka hal itu tidak boleh.

Begitu juga di dalam persusuan.

Misalnya :

Seorang menikah dengan seorang wanita dan wanita ini memiliki seorang saudari sepersusuan, meskipun bukan saudari senasab maka laki-laki ini tidak boleh menikahi saudari sepersusuan dari istrinya selama dia berstatus sebagai suami wanita tersebut.

Begitu juga dengan bibi sepersusuannya.

Semua itu berlaku sebagaimana berlaku pada hubungan nasab.

Demikian permasalahan yang bisa kita simpulkan dari hadīts yang mulia ini, dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan kepada kita suatu kaidah yang penting di dalam mengetahui siapa yang menjadi mahram dikarenakan adanya hubungan persusuan.

Demikian penjelasan hadīts ini.

Wallāhu Ta'āla A'lam


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________


Halaqah 051 | Hadits 49

by Rory Rachmad  |  in Bahjatu Qulubul Abrar at  14 Januari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 11 Jumada Al-Ula 1441 H / 06 Januari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 051 | Hadits 49
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H051
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 49


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan hadīts yang ke-49 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

Hadīts yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu 'anhā. Beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ الْوِلاَدَةِ

"Menjadikan mahram dikarenakan adanya hubungan persusuan (terhadap) orang-orang yang menjadi mahram dikarenakan adanya hubungan kelahiran." (Hadits riwayat Imam Al Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts mulia ini, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang kaidah di dalam mengetahui mahram yang disebabkan karena adanya persusuan yang dilakukan oleh seorang anak bayi yang belum melebihi umur dua tahun. Yang dia menyusu kepada selain ibunya dengan batasan bayi itu telah menyusu sebanyak minimal 5 kali susuan.

Di dalam hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan bahwa orang-orang yang menjadi mahramnya dikarenakan adanya sebab persusuan adalah sama sebagaimana orang-orang yang menjadi mahram di dalam kekerabatan atau di dalam sebab melahirkan.

Kalau di dalam kekerabatan atau nasab, orang-orang atau golongan yang merupakan mahram ada 7 (tujuh) yaitu :

⑴ Al Ummahāt (الأمهات), ibu

Termasuk dalam kategori ibu adalah nenek-neneknya, baik nenek dari pihak bapak ataupun dari pihak ibu.

⑵ Al Banat (البنات), anak perempuan

Termasuk dalam kategori ini adalah cucu-cucu perempuannya.

⑶ Al Akhawāt (الأخوات), saudari-saudarinya

Baik saudari kandung, saudari sebapak maupun saudari seibu, semua merupakan mahram.

⑷ Banatul Ikhwāh (بنات الإخوة)

Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan perempuan) mereka adalah mahram.

⑸ Banātul Akhawāt (بنات الأخوات)

Anak perempuan dari saudari-saudarinya (keponakan) mereka adalah mahram. Termasuk dalam kategori ini adalah cucu-cucu perempuan dari saudarinya tersebut.

 ⑹ Al 'Amāt (العمات)

Saudari dari pihak bapak atau kakeknya.

 ⑺ Khālāt (الخالات)

Saudari dari pihak ibu atau nenek.

Tujuh golongan ini merupakan mahram bagi seorang anak laki-laki yang disebabkan adanya wilādah (ولادة) atau sebab hubungan darah atau kerabat. Selain dari 7 golongan ini bukan merupakan mahram.

Siapa saja mereka ?

Yaitu :

Anak perempuan paman atau bibi (sepupu), meskipun mereka memiliki hubungan kerabat atau memiliki hubungan darah (sepupu bukanlah mahram).

Dari 7 golongan yang disebutkan di atas, apabila hal itu ditempatkan atau dimisalkan sebagai anak dari persusuan, maka 7 golongan itu menjadi mahram bagi anak yang menyusu kepada mereka.

Contoh :

Anak bayi ketika dia berumur belum lebih dari 2 tahun, yang dia menyusu kepada selain ibunya sebanyak 5 kali atau lebih, maka anak ini diistilahkan sebagai anak susuan.

Anak bayi ini diposisikan sebagai anak yang lahir dari rahim ibunya, sehingga kerabat-kerabat ibunya. Apabila di lihat dari sisi anak merupakan saudara. Sehingga paman atau bibinya menjadi mahram bagi dirinya.

Berarti dari sini  kita tahu bahwasanya,

√ Ibu susuannya itu merupakan mahram.

√ Nenek yang merupakan orang tua dari ibu susuannya adalah mahram.

√ Saudara-saudara sepersusuan atau anak-anak yang pernah menyusu kepada ibu tersebut, meskipun tidak ada hubungan kerabat dengan bayi tadi semua itu menjadi mahramnya.

√ Begitu juga suami ibu tersebut, ketika menyusui bayi tersebut merupakan suaminya dan diistilahkan sebagai shahihul laban, maka suami ibu tersebut merupakan mahram bagi anak bayi itu.

√ Saudara-saudara atau saudari-saudari dari ibu susunya (bibi sepersusuannya).

√ Saudari dari bapak sepersusuannya dan bibi sepersusuannya.

√ Begitu juga anak-anak dari saudara maupun saudari sepersusuanya, itupun menjadi mahram bagi bayi tadi.

Wallāhu Ta'āla A'lam


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________


Proudly Powered by Abu Uwais