PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Jumat, 29 Mei 2020

Bagaimana Sikap Orang Awam Saat Bingung Memilih Fatwa?

by Rory Rachmad  |  at  29 Mei

Bismillah

Dalam masalah fikih lumrah terjadi perbedaan pendapat para ulama. Karena kesimpulan fikih mereka dibangun melalui kaidah umum, yang wajar terjadi perbedaan saat menerapkannya pada masalah-masalah yang ada. Ditambah tingkat keilmuan para ulama yang berbeda-beda. Sehingga melahirkan perbedaan kesimpulan hukum. Lebih-lebih, pada masalah-masalah kontemporer. Sikap yang bijak menyikapi perbedaan pendapat fikih adalah, toleransi dan saling menghormati.

Contoh yang paling real di hadapan kita, tentang masalah-masalah fikih di masa Pandemi Corona saat ini. Tentang sholat jama’ah di masjid dan sholat Jum’atnya, ada yang tetap keukuh sholat Jum’at dan wajib jama’ah di masjid, ada yang berpandangan sholat Jumat dan jama’ah di masjid gugur saat ada kekhawatiran tertular virus Corona seperti saat ini.

Seringkali kita sebagai orang awam bingung mau memilih pendapat yang mana. Yang satu bilang iya, yang satu bilang tidak. Tidak mungkin kedua pendapat yang berlawanan ini diamalkan bersama dalam satu waktu. Bila harus menimbang dalil, tentu orang awam tidak memiliki kemampuan dalam hal ini.

Oleh karenanya, perlu sebuah metode yang dapat kita gunakan untuk memilih pendapat yang tepat khusus bagi orang awam.

Berikut kami sampaikan paparan Syekh Prof. Dr. Sa’ad bin Nashir As-Tsitsri hafidzohullah (Anggota ulama senior Saudi Arabia dan dewan penasehat Raja Salman) tentang metode memilih atau mentarjih pendapat para ulama bagi orang awam :

الترجيح بين المجتهدين قد يظهر للعامي بالتسامع أو رجوع العلماء إليه, أو لكثرة المستفتين، أو لتقديم العلماء له

“Bagi orang awam bisa memilih (tarjih) pendapat para ulama, dengan mempertimbangkan ulama yang pendapatnya didengar atau dijadikan referensi oleh ulama lainnya, atau banyaknya ulama yang menfatwakan atau karena rekomendasi ulama lainnya.” (Lihat : Al-Qawaid Al-Ushuliyyah Al-Muta’alliqoh bil Muslim Ghoiril Mujtahid, hal. 27)

Dari penjelasan beliau di atas, bisa kita tarik ada tiga metode tarjih yang bisa digunakan oleh orang awam :

1. Memilih pendapat ulama/ustadz yang pendapatnya dijadikan referensi oleh para ulama/ustadz lainnya.

2. Memilih pendapat yang dipegang mayoritas ulama/ustadz.

3. Memilih pendapat ulama/ustadz yang direkomendasikan oleh ulama/ustadz lainnya.

Kita coba aplikasikan pada perbedaan fatwa dalam hal sholat Jumat dan jama’ah di masjid saat Pandemi.

Pendapat pertama mengatakan tetap wajib di masjid. Wabah Corona bukan uzur.

Pendapat kedua, tidak wajib di masjid dan sholat Jumat diganti sholat dhuhur di rumah. Karena wabah Corona adalah uzur.

Kemudian mari kita timbang melalui tiga metode di atas, untuk memilih pendapat yang ada.

Maka tampak bahwa, pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yang menyatakan wabah Corona adalah uzur syar’i tidak sholat Jumat dan jama’ah di masjid.

Alasannya adalah pendapat ini kuat berdasarkan tiga metode di atas :

– para ulama/ustadz yang memegang pendapat ini adalah ulama/ustadz yang pendapatnya banyak dijadikan referensi oleh ulama/ustadz lainnya.

Sebut saja seperti Lajnah Da-imah Saudi Arabia, Prof. Sholih Al-Fauzan, Prof. Sulaiman Al RuhailiProf. Sa’ad bin Nashir As-Tsitsri dan yang lainnya. Di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. Syafiq Reza BasalamahDr. Firanda AndirjaDr. Muhammad Arifin Badri, Dr. Musyaffa’ Ad-Darini, Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan dll.

– pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama/ustadz.

Di dunia Islam internasional sangat jelas, pendapat ini dipegang oleh mayoritas para ulama baik yang terhimpun dalam lembaga atau majelis fatwa atau perorangan.

Di tanah air juga demikian, pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ustadz di negeri ini.

– para ulama yang memegang pendapat ini adalah ulama-ulama sangat kredibel, direkomendasikan oleh banyak ulama lainnya untuk didengar fatwanya.

Sebut saja seperti nama-nama di atas, adalah deretan para ulama yang direkomendasikan oleh banyak ulama lainnya.

Baca juga : Tiga Kali Tidak Jumatan Karena Corona, Bisa Munafik?

Jika kesusahan menggunakan seluruh metode di atas untuk menimbang pendapat yang kuat, maka cukup dengan menggunakan salahsatunya. Yang paling mudah dan akurat insyaallah,memilih pendapat mayoritas. Mana pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama atau Ustadz, itulah yang dipegang oleh orang awam. Karena jika sudah dipilih oleh mayoritas ahli ilmu, insyaallah sebagai indikasi terpenuhinya dua metode sisanya.

Demikian.

Wallahua’lam bis showab.


Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Sabtu, 21 Maret 2020

Tanya jawab seputar shalat berjamaah dimasjid (COVID-19)

by Rory Rachmad  |  at  21 Maret
SHALAT DI RUMAH KARENA TAKUT CORONA

SOAL :

Apakah berdosa kaum laki- laki tidak salat berjama'ah dimasjid,  karena takut tertular virus corona? dan saya mendengar kalau kita meninggalkan masjid,  Allah akan segera menurunkan adzab-Nya.  (082131012xxx)

JAWAB :

Jika waliyul amri/ penguasa, atau pihak yang berwenang telah mengumumkan adanya suatu bahaya, seperti penyakit menular,  dan salah satu penyebab penularannya adalah berkumpulnya seseorang dengan orang lain,  lalu pihak terkait menghimbau untuk tidak menghadiri salat berjamaah,  maka salat dirumah bagi kaum laki- laki dalam kondisi ini adalah rukhshah/ keringanan dan tidak berdosa,  hal ini dikuatkan dengan beberapa hal; 

1-Menjaga jiwa dari bahaya termasuk kewajiban setiap Muslim,  Allah berfirman; 

{وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إلى التَّهْلُكَة}

"Jangan menceburkan diri dalam kebinasaan" (QS. Al-Baqarah 195)

2-Membunuh jiwa dalam bentuk apapun,  secara cepat atau lambat dilarang agama, Allah berfirman; 

 {وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً} 

"Dan jangan membunuh diri- dirimu,  sesungguhnya Allah maha merahmatimu" (QS. An-nisa 29)

3-Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda; 

 "لا يُورِد ممرض على مصح"

"Tidak boleh dicampurkan Yang berpenyakit menular dengan Yang sehat" (HR. Bukhari dan Muslim. 

4-Beliau juga bersabda;

 "فرّ من المجذوم كما تفر من الأسد"

"Jauhi yang penderita kusta seperti engkau menjauhi singa" (HR. Bukhari) 

5-Nabi bersabda tentang wabah menular berupa tha'un; 

  "إذا سمعتم الطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم فيها فلا تخرجوا منها" 

"Jika engkau mendengar wabah tha'un disuatu daerah,  maka jangan memasukinya,  dan jika engkau berada didaerah yang terjangkiti tha'un,  maka jangan keluar darinya" (HR. Bukhari dan Muslim) 

6-Rasulullah bersabda;

"لا ضرر ولا ضرار". 

"Jangan melakukan tindakan bahaya dan tindakan Yang membahayakan" (HR. Muslim) 

7-Jika Rasulullah mengizinkan kaum laki-laki salat dirumah ketika hujan deras, maka ketika terjadi wabah menular jelas lebih diperbolehkan untuk salat dirumah,  Rasulullah  pernah menyuruh muadzinnya saat hujan,  sebagai ganti ucapan "hayya 'alas-salah", diganti dengan ucapan; 

"صلوا في بيوتكم"

"Salatlah kalian dirumah kalian" (HR. Bukhari dan Muslim) 

8- Diantara rahmat-nya,  Allah tetap mencatat pahala salat dimasjid sempurna, ketika hamba mendapati udzur/ halangan sehingga tidak bisa salat dimasjid,  Rasulullah bersabda; 

"إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيماً صحيحاً" 

"Jika seorang hamba terhalang oleh sakit atau bepergian, maka ia tetap ditulis seperti  melakukannya disaat muqim dan sehat" (HR. Bukhari)

9-Menta'ati penguasa dalam hal positif, termasuk melaksanakan perintah Allah dalam firmannya; 

 {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}

"Dan tolong- menolonglah dalam kebaikan dan taqwa,  dan jangan tolong- menolong dalam dosa dan kedzaliman" (QS. Al-Ma'idah 2)

10-Menghindari wabah dan mengantisipasi penularan penyakit termasuk bagian dari ikhtiyar yang diperintahkan agama. 

نسأل الله تعالى أن يرفع هذا الوباء عن عباده، ويحفظ المسلمين من كل سوء

Kita mohon kepada Allah untuk segera mengangkat wabah menular ini,  dan melindungi kaum muslimin dari segala keburukan. 

 وصلى الله وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين.

(Jawaban ini kami sarikan dari fatwa kibar ulama Saudi,  
lihat;   https://mobile.sabq.org/mr376W)

Dijawab oleh Al Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM. hafidzahullah

Sabtu, 15 Februari 2020

Audio 14 Tauhid dalam niat dan tujuan (Tauhid Uluhiyah), Point 13

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  15 Februari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwah wal akhwat rahimanallahu jami'an kembali kita lanjutkan prinsip-prinsip aqidah Ahlussunah Wal Jama'ah point yang ke 13 tentang Wasilah

Wasilah atau sarana disebutkan bahwasanya wasilah-wasilah hukumnya sesuai dengan tujuannya alias tiap sarana itu dihukumi sesuai dengan tujuannya, oleh karena itu setiap wasilah yang mengantarkan kepada perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah atau wasilah yang membuka pintu bid'ah dalam agama atau bersifat bid'ah dalam agama maka keduanya harus dihentikan (dihalangi) tidak boleh dibiarkan

Sebagai contoh dimasa dahulu sifat mengultuskan orang-orang shalih itu diwujudkan dengan menggambar mereka atau membuat simbol-simbol mereka yang dikenal dengan istilah berhala, oleh karena itu mengabadikan gambar orang-orang shalih atau membuat replika mereka berupa patung adalah perbuatan yang diharamkan karena itu bisa mengarah atau menjadi wasilah untuk mengultuskan mereka

Demikian juga apabila gambar-gambar orang shalih tersebut atau patung-patungnya itu diperlakukan secara terhormat seperti ditempatkan ditempat yang tinggi, dipajang maka ini lebih terlarang lagi daripada  ketika dari pada gambar tersebut tidak ditempatkan di tempat-tempat yang terhormat karena kesan pengultusannya akan jauh lebih kecil

Demikian juga ketika seseorang ingin melakukan ibadah akan tetapi dia melakukannya dengan cara yang tidak disyariatkan seperti misalnya mengkhususkan bacaan-bacaan tertentu sebagai wirid (dzikir) dengan jumlah yang tidak diajarkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan batasan jumlah tertentu atau pada waktu-waktu tertentu yang tidak diajarkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau ditempat-tempat tertentu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau mengaitkan ritual ibadah tadi dengan alasan (sebab-sebab) tertentu yang juga tidak diajarkan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ maka ibadah-ibadah tersebut menjadi wasilah untuk terbukanya pintu bid'ah dalam agama sehingga ibadah itu dihukumi perbuatan bid'ah itu sendiri, walaupun pada dasarnya ritual tersebut tidak dilarang

Contoh misalkan ada seseorang yang mengkhususkan bacaan tasbih 100 kali setiap hendak tidur, dia mengkhususkan (meyakini) dianjurkannya membaca tasbih 100 kali tidak kurang tidak lebih kapan dibaca setiap hendak tidur alasanya apa? dia menganggap bahwa dzikir seperti ini bermanfaat atau dianjurkan bagi orang yang hendak tidur atau menjadikan tidurnya semakin nyenyak menghindarkan dari godaan syaithan

Maka dzikir (bacaan) tasbih ini menjadi wasilah untuk berbuat bid'ah sehingga diapun dihukumi sebagai perbuatan bid'ah karena memang tidak ada anjuran dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mengkhususkan bacaan tasbih bagi yang hendak tidur dalam bilangan 100 kali yang ada adalah dibaca sebanyak 33 kali kemudian diikuti dengan bacaan tahmid 33 kali kemudian ditutup dengan bacaan takbir 34 kali

Demikian pula ketika yang dikhususkan adalah tempatnya misal ada orang yang mengkhususkan bacaan tertentu ketika dia memasuki masjid padahal tidak diajarkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kecuali sebatas

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ,اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Atau dengan doa yang lain


أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Namun misalnya dia menambah bacaan tertentu seperti takbir 3 kali, tasbih 3 kali, tahmid 3 kali baru dia masuk masjid maka ini juga menjadi perbuatan yang hukumnya bid'ah dan tidak boleh dilegalkan (harus dihapus) karena setiap perkara-perkara yang diada-adakan terkait dengan tata cara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ statusnya dalam agam adalah bid'ah dan sesesuatu yang dianggap bid'ah menurut defisni syar'i maka pasti dia merupakan kesesatan, jangan sampai ada anggapan bahwa ada bid'ah yang tidak sesat (bid'ah hasanah) ini adalah anggapan yang keliru karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan hal tersebut ini adalah penggalan dari hadits Nabi


كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
setiap perbuatan bid'ah secara (dalam pengertian) syar'i adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu akan mengantarkan pelakunya ke neraka oleh karena itu seorang muslim Ahlussunnah Wal Jama'ah harus meyakini bahwa setiap bid'ah adalah kesesatan, karena bid'ah bertentangan dengan sunnah, sesuatu tidak mungkin  dikatakan sebagai bid'ah namun dia dianggap sunnah

Apa yang dinyatakan setiap bid'ah dan benar-benar bid'ah dalam kacamata syari'at maka dia adalah lawan dari sunnah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ karena memang Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjadikan bid'ah sebagai lawannya dalam hadits yang sangat terkenal, haditsnya irbath ibn syariyah beliau mangatakan

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً

Kelak siapa diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku dia akan menyaksikan banyak sekali perselisihan (perbedaan) pendapat
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِ

Maka hendaklah (kewajiban) kalian adalah berpegan teguh dengan sunnahku dan sunnahnya al-khulafa ar-rasyidin sepeninggalku...

lihat bagaiman Nabi mengajarkan sepeninggal beliau sebagai sunnah, demikian pula yang diterapkan al-khulafa ar-rasyidun juga dianggap bagian dari sunnah yang kita juga harus berpegang teguh dengannya, kemudian Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melanjutkan
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ

Dan waspadailah oleh kalian perkara-perkara yang baru yang diada-adakan yang sebelumnya tidak dijumpai dizamanku tidak sesuai dengan sunnahku 

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَاتِ بِدْعَةٍ

Karena setiap perkara yang baru tadi dalam hal beragama baik dari segi ideologi, ibadah maupun yang semisalnya

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَاتِ بِدْعَةٍ

Setiap perkara yang baru-baru dalam agama adalah bid'ah 


وَ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dan setiap kebid'ahan adalah kesesatan 


Jadi inilah keyakinan ahlusunnah wal jama'ah, mereka senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan sunnahnya al-khulafa ar-rasyidun, serta apa yang menjadi kesepakatan para salafusshalih dan mereka senantiasa waspada terhadap segala bentuk hal-hal yang baru dalam agama, dalam memahami, mengamalkan, memperjuangkan agama yang itu tidak jarang bertentangan dalam sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu sendiri , oleh karena itu kita harus mewaspadai hal-hal seperti ini dan harus mengenal apa ciri-ciri sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan apa ciri-ciri bid'ah

Ciri-siri sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah dia memiliki dalil yang jelas, sesuatu yang dianjurkan berdasarkan Al Quran maupun Hadits yang bisa divalidasi (dipertanggung jawabkan) keabsahannya bukan berdasarkan hadits-hadits yang lemah apalagi hadits-hadits yang palsu (bathil) justru ciri khas daripada bid'ah adalah manakala dia tidak bersandar kepada hadits yang valid setiap bentuk peribadatan yang dasarnya hanyalah hadits-hadits yang lemah maka ini adalah merupakan ciri khas bid'ah adapun ahlussunnah tidak melandaskan ibadah mereka pada hadits-hadits yang lemah apalagi yang bathil tersebut

Kemudian ciri khas bid'ah yang lain adalah manakala suatu ibadah tadi sebab-sebab keberadaannya telah ditemukan dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan tidak ada yang menghalanginya untuk diwujudkan akan tetapi tidak dilakukan dimasa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ jadi setiap perbuatan yang sebabnya sudah ada dimasa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan tidak ada penghalangnya namun tidak diwujudkan dimasa beliau maka ini dinamakan bid'ah

lain halnya dengan apa yang dikenal sebagai al-maslahatul mursalah atau permaslahatan yang bersifat tidak dibahasa secara tegas tidak ada dalil yang menyuruhnya tidak ada pula yang melarangnya ciri khas al-maslahatul mursalah adalah penyebabnya belum ditemukan dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau kalaupun penyebabnya telah ditemukan dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ maka ada sesuatu yang menghalanginya untuk diwujudkan dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sehingga walaupun antara bid'ah dengan maslahatul mursalah keduanya memiliki kemiripan yakni sama-sama tidak dijumpai dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

Akan tetapi ada yang membedakan antara bid'ah dengan maslahatul mursalah yaitu bahwa tidak ditemukannya maslahat mursalah karena penyebabnya belum ada dimasa Nabi atau penyebab sudah ada maka ada yang menghalanginya, 

sebagai contoh adalah pembukuan (penulisan) Al Quran dalam satu mushaf hal ini sebabnya belum ditemukan dimasa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ karena apa? karena dia (Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) masih hidup, mereka tidak mengkhawatirkan Al Quran itu akan dilupakan oleh umat karena orang yang kepada turun Al Quran masih hidup, mereka setiap saat bisa bertanya  kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ disamping itu ada sesuatu yang menghalangi yakni karena Al Quran belum tuntas turunnya masih ada ayat-ayat yang mungkin saja lafadzhnya itu dihapus dikemudian hari atau hukumnya dihapus walaupun lafadzh tetap ada oleh karena itu tidak memungkinkan untuk ditulis 

Demikian pula ada surat-surat yang belum lengkap turunnya sebagaimana kita ketahui wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 tidak lengkap ayat 1 sampai terakhir kemudian setelah itu turun penggalan surat Al-Mudatsir sebagian saja tidak seluruhnya, oleh karena itu tidak bisa dibukukan dimasa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ karena wahyu itu belum tuntas 

Contoh lainnya adalah perkembangan ilmu-ilmu keislaman seperti ilmu hadits, tafsir, ushul fiqih,  fiqih, nahwu, sharaf dan lain sebagainya tentunya ini semua tidak termasuk kategori bid'ah karena belum ada sesuatu yang mengharuskan ilmu itu dirumuskan sejak zaman Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

Seiring dengan bertambahnya populasi kaum muslimin dari kalangan non arab maka mulailah ilmu tentang bahasa arab itu perlu dirumuskan

Seiring dengan bertambahnya mata rantai periwayatan hadits tidak hanya hadits itu diriwayatkan oleh sesama sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ namun juga beralih generasi kedua, ketiga dan seterusnya maka mulailah diperlukan ilmu hadits untuk meverikasi hadits 

Demikian pula ilmu ushul fiqih bagaimana kita memahami makna dan maksud dibalik dalil-dalil syar'i ini juga tidak diperlukan dimasa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika ada sesuatu yang belum dipahami mereka langsung bertanya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lain halnya orang-orang yang hidup sepeninggal beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentunya tidak akan mampu memahami maksud dari suatu dalil syar'i kecuali dia menguasai ilmu ushul fiqih 

Dengan demikian ini adalah hal-hal yang tidak bisa dikategorikan sebagia bid'ah namun hakikatnya dia adalah masuk kategori al maslahat mursalah



والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip Oleh Abu Uwais

Jumat, 14 Februari 2020

Halaqah 39 | Di Antara Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Kepada Anak Kecil

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  14 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 17 Jumada Al-Akhir 1441 H / 11 Februari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 39 | Di Antara Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Kepada Anak Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-39
~~~~~~~~~~~~

DI ANTARA KASIH SAYANG RASŪLULLĀH ﷺ KEPADA ANAK KECIL

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma'asyiral Mustami'in, kaum muslimin para  pemirsa, para pendengar yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah halaqah yang ke-39 Ini dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dalam kitāb, kita akan lanjutkan pada halaman ke-73 masih berkaitan seperti sesi sebelumnya.

ومن رحمته أيضا بالصغار و عطفه عليهم ودعائه لهم

Diantara hadīts-hadīts yang menerangkan contoh-contoh kasih sayang Rasūlullāh kepada anak-anak kecil dan kelembutan beliau dan bagaimana beliau mendo'akan anak-anak kecil (para sahabat radhiyallāhu ' anhum ajmain)

Diantaranya hadīts dalam shahīh Bukhāri dan Muslim dari sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallāhu 'anhu, beliau menceritakan :

ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ‏.‏ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ، ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ، فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلِ زِرِّ الْحَجَلَةِ‏.‏

"Suatu hari bibiku membawaku kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, lalu ia berkata,'Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya putera saudaraku terkena penyakit'. Kemudian beliau mengusap kepalaku dan memohon keberkahan bagiku, setelah itu beliau berwudhu dan aku minum air wudhu'nya. Selanjutnya aku berdiri dibelakang pundaknya dan melihat cap kenabian di antara dua pundaknya bagaikan kancing tenda besar." (Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5670 dan Muslim nomor 2345)

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi زِرِّ الْحَجَلَةِ‏ adalah kancing yang ada pada tenda besar dan ini adalah penafsiran jumhur ulama.

Intinya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyayangi As-Saib bin Yazid yang saat itu masih kecil karena bibinya membawa beliau kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan dengan keberkahan.

وانظر إلى فعل أبي بكر رضى الله عنه مع الحسن بن علي

Lihat apa yang dilakukan Abū Bakar radhiyallāhu 'anhu  bersama Hasan bin Āli radhiyallāhu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari hadīts dari Uqbah bin Al-Harits, dia berkata :

رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ ـ رضى الله عنه ـ وَحَمَلَ الْحَسَنَ وَهْوَ يَقُولُ بِأَبِي شَبِيهٌ بِالنَّبِيِّ، لَيْسَ شَبِيهٌ بِعَلِيٍّ‏.‏ وَعَلِيٌّ يَضْحَكُ‏

"Aku melihat Abū Bakar radhiyallāhu 'anhu yang sedang memangku Al-Hasan, dia berkata, 'Bapakku sebagai tebusannya, dia mirip Nabi dan tidak mirip Āli dan Āli pun tertawa'." (Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 3750)

Itu para pendengar rahīmakumullāh tambahan contoh-contoh dari hadīts  bagaimana akhlak mulia Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan sahabat (Abū Bakar) ketika bercanda kepada Al-Hasan bin Āli radhiyallāhu 'anhu.

In syā Allāh pada halaqah berikutnya kita membahas hadīts-hadīts tentang anak-anak hendaknya dilatih bermain dengan permainan-permainan yang bermanfaat.

Atas segala kekurangan mohon maaf sebesar-besarnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________


Halaqah 38 | Di Antara Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Kepada Anak Kecil

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  14 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Jumada Al-Akhir 1441 H / 10 Februari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 38 | Di Antara Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Kepada Anak Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-38
~~~~~~~~~~~~

DI ANTARA KASIH SAYANG RASŪLULLĀH ﷺ KEPADA ANAK KECIL

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma'asyiral Mustami'in, para pendengar, pemirsa yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-38 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita masih melanjutkan sesi sebelumnya, masih membahas hadīts yang berkenaan dengan rahmat dan kasih sayang Rasūlullāhshallallāhu 'alayhi wa sallam kepada umatnya terkhusus kepada anak-anak kecil.

Diantara hadīts yang menerangkan bahwa nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat memperhatikan hak dan kasih sayang terhadap anak-anak kecil adalah sebuah hadīts di dalam shahīh Muslim.

Hadīts dari Bura'idah bin Al Hushaibah Aslami  radhiyallāhu 'anhu tentang diakhirkannya hukuman rajam terhadap seorang wanita dari Ghamidiyyah yang mengaku berzinah dan hamil.

Bura'idah radhiyallāhu 'anhu berkata:

Ma'iz bin Mālik datang menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam seraya berkata,

"Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar engkau berkenan membersihkan diriku" Namun beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menolak pengakuannya.

Hadīts ini diringkas oleh penulis.

Kemudian Bura'idah berkata :

Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam  seraya berkata, “Wahai Rasūlullāh  diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.”

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menghindar dengan mengatakan: "Pulanglah kamu lalu beristighārlah memohon ampun kepada Allāh dan bertaubat kepada Allāh"

Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  sambil berkata, “Wahai Rasūlullāh, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya engkau menolak pengakuanku sebagaimana engkau telah menolak pengakuan Ma’iz. Demi Allāh, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.”

Mendengar pengakuan ter sebut  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.”

Tentunya ini bentuk irab bentuk bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  tidak mau menghukum rajam wanita tersebut. Sebaiknya seseorang yang berzina itu bertaubat saja antara dirinya dengan Allāh.

Namun apabila sudah sampai kepada beliau, karena beliau adalah imam, waliyul amri disini berarti harus dirajam tetapi nant setelah bayi tersebut lahir.

Ini menunjukkan kasih sayang Allāh kepada anak kecil bahkan kepada yang masih di dalam perut sekalipun.

Sampai akhirnya disebutkan di dalam hadīts bahwa wanita itu akhirnya melahirkan dan diberikan jaminan oleh sebagian sahabat Anshar (maksudnya) diberi nafkah sampai wanita tersebut  melahirkan.

Dan setelah wanita tersebut melahirkan Nabi pun bersabda lagi,

"Tentunya kami tidak akan merajamnya sekarang, tidak mungkin kami meninggalkan anak itu sementara ibunya dirajam sehingga tidak ada yang menyusuinya nanti"

Akhirnya setelah itu ada seorang laki-laki dari Anshar yang mengatakan bahwasanya anak tersebut akan dicarikan ibu susu.

Setelah itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam merajamnya.

Hadīts ini diriwayatkan oleh shahīh Muslim dan
di dalam riwayat lain ada tambahan sedikit peristiwa bahwa anak tersebut setelah lahir oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ibunya diminta menyusui dulu sampai bayu tersebut  disapih.

Berarti disini versinya berbeda kalau tadi sampai ada sahabat yang menanggungnya kalau  disini betul-betul disusui sampai disapih dan sampai akhirnya datang lagi kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Coba bayangkan!

Wanita ini betul-betul ikhlas.

Itulah bedanya sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, seandainya pun mereka bermaksiat mereka segera bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya (taubatan nasuha)

Sampai wanita tersebut mendatangi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan bayi yang sudah tidak menyusui lagi dan sudah memegang sepotong roti.

Dan wanita tadi mengatakan, "Wahai Rasūlullāh,  anak saya sudah besar dan sudah saya sapih"

Kemudian diberikanlah  anak tersebut kepada salah satu sahabat untuk diurus.

Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diperintahkan untuk menggali lubang untuk membenamkan sebagian tubuh wanita itu,  akhirnya Nabi-pun merajamnya (radhiyallāhu 'anhā).

Ini contoh yang sangat jelas bagaimana Nabi sangat memiliki rahmat dan juga kasih sayang kepada umatnya.

Dari satu sisi beliau harus merajam wanita tersebut karena memang itu adalah hukuman dalam syari'at Allāh bagi orang yang berzina. Dan hukuman bagi  zina mukhsan adalah dengan dirajam.

Namun disini nabi juga memperhatikan hak anak kecil yang tidak bersalah. Karena yang bersalah adalah kedua orang tuanya yang telah melakukan zina.

Demikian Semoga bermanfaat bagi kita semua dan In syā Allāh kita lanjutkan pada sesi yamg akan datang masih dalam pembahasan yang mirip dan serupa.

Wallāhu A'lam bishawab

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________


Audio 13 Tauhid dalam niat dan tujuan (Tauhid Uluhiyah), Point 12

by Rory Rachmad  |  at  14 Februari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwah wal akhwat kita lanjutkan kembali pembahasan tentang prinsip-prinsip aqidah ahlussunah wal jama'ah memasuki pint yang ke 12 seputar ziarah kubur

Disebutkan oleh Al muallif bahwa perbuatan manusia terhadap kubur dan ketika berziarah atau mengunjungi kuburan terbagi menjadi 3 jenis :

1. Perbuatan yang Masyru' (disyariatkan)

Yaitu ziarah kubur itu sendiri namun tujuannya adalah untuk mengingatkan kehidupan akhirat, mengingat kematian agar kita memiliki sifat zuhud kepada dunia dan lebih ter obsesi untuk akhirat, 

Demikian juga tujuannya bilamana untuk menyampaikan salam dan mendoakan mereka yang sudah meninggal dunia semua tujuan atau perbuatan yang kita lakukan dikuburan yang saya disebutkan yaitu mengingat kematian (akhirat) agar kita zuhud kepada dunia demikian pula yang kita lakukan saat kita dikuburan  dan apabila itu mengucapkan salam kepada mereka dan mendoakan mereka, maka ini adalah perbuatan yang disyariatkan 

Dalilnya adalah hadits Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang di riwayatkan oleh imam muslim dalam shahihnya dari sahabat Abu Hurairah hadits no 976

bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengunjungi kuburan ibundanya tepatnya ketika beliau hendak berangkat ke kota mekkah pada saat penaklukan kota mekkah beliau berangkat kesana, melewati sebuah daerah di situ ada kuburan ibunda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

Kemudian beliau itu menangis dan membuat orang-orang sekelilingnya menangis makanya di tanya oleh sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yaa Rasulullah apa yang membuatmu menangis

Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي في أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي

Aku tadi sempat minta izin kepada Allah untuk memintakan ampun bagi ibuku namun Allah tidak mengizinkan 
وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي

Kemudian aku minta izin kepada Allah lagi untuk menziarahi kuburnya, maka Allah izinkan (HR. Muslim no. 976 dan lainnya)



فزوروا القبور فإنها تذكركم الموت



Maka ziarahilah kubur karena ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian terhadap kematian (HR. An Nasai dan lainnya) 

Jadi jelas sekali dalam hadits ini bahwa ziarah kubur tujuannya untuk mengingat kematian (akhirat) sebagaiman dalam riwayat yang lain riwayatnya Buraidah bin Hasib juga dalam shahih muslim

Ada pun yang dilakukan dikuburan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam haditsnya Abu Hurairah atau haditsnya 'Aisyah رضي الله عنها No 974 bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika mendatangi pekuburan Baqi, beliau mengucapkan 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، وَغَدًا مُؤجَّلونَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيْعِ الْغَرْقَدِ

Salam sejahtera bagi kalian wahai penghuni negerinya orang-orang beriman akan datang kepada kalian apa yang dijanjikan selama ini bagi kalian dan kami in syaa Allah kami akan menyusul kalian, kemudian Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan yaa Allah ampunilah penduduk makam Baqi al gharqad (kuburan baqi yang terkenal di madinah)

Ini adalah doa dan ucapan selamat (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) kepada orang-orang yang sudah mati saat berkunjung ke kuburan mereka, inilah perbuata-perbuatan yang di syariatkan bilamana seseorang berkunjung ke kuburan 

2. Perbuatan Bi'dah 

Mengurangi kesempurnaan tauhid bahkan dia menjadi wasilah untuk yang bisa menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, apakah itu? apabila dia sengaja melakukan suatu ibadah atau bertaqarub kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى didekat (didaerah) pekuburan walaupun yang dia tuju bukan yang dikubur akan tetapi yang dituju adalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى hanya saja dia menyengaja melakukan ibadah itu dikuburan 

Atau maksud dia berada didekat kuburan adalah dalam rangka mengharapkan keberkahan kuburan itu alias tabaruk dengan kuburan tersebut atau dia bermaksud untuk menghadiahkan pahala amal shalihya didekat kuburan bukan bagi yang sudah meninggal tapi dia bermaksud mendatangi kuburan itu untuk menghadiahkan pahala amal shalihnya disana 

Demikian juga perbuatan yang dilarang terkait kuburan adalah membangun kuburan untuk mendirikan suatu bangunan seperti dikeramik, di pagari atau bahkan diberi penutup dan semisalnya 

Demikian juga mengecat kuburan, menggamping kuburan, memberikan penerangan pada kuburan semata-mata karena dia adalah kuburan diberi penerangan, diistimewakan disinari oleh lampu oleh pelita atau lilin dan semisalnya atau memperlakukan kuburan sebagai tempat ibadah dengan cara mengkhususkan ibadah disana atau mengubur dalam tempat ibadah itu sendiri misalnya ada sebuah masjid yang biasa digunakan untuk ibadah lalu ke dalam area masjid tadi di kubur seseorang, ini termasuk menjadikan kuburan sebagai masjid yang makna masjid disini adalah tempat ibadah walaupun tidak seperti bangunan seperti masjid 

Kemudian sengaja melakukan tour perjalan jauh semata-mata untuk berziarah kubur, tidak bersifat numpang lewat artinya tujuan dia bukan ke kuburan namun saat dia melewati kuburan dia mampir untuk berziarah bukan itu yang dimaksud tapi yang dianggap perbuatan bid'ah terkait kuburan manakala dia sengaja dari jauh datang hanya untuk berziarah

Demikian pula hal-hal lain tidak pernah disyariatkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau justru Nabi melarangnya secara terang-terangan ini semua perkara-perkara yang dikategorikan sebagai bid'ah, bahkan ada sebuah riwayat dari salah ahli baitnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Sa'id ibnu Manshur didalam sunannya dengan sanadnya kepada al Hasan ibnu husain ibnu Ali bin Abi thalib, jadi putera dari husain bin 'ali bin abi thalib atau putra dari cucu Nabi alias masih cicitnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa ketika itu beliau melihat seseorang yang mendatangi kuburan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kemudian dipanggil dan diajak oleh al Hasan ibnu Ali untuk makan malam akan tetapi dia menolak atau tidak menghendaki makan malam dan mengatakan 

لا ٲحتخ البك

aku tidak berhajat untuk makan malam kemudian dia mengatakan

ما لر ءيتك عند قبر

Mengapa aku melihat engkau didekat kuburan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, kata orang ini

سلمت على نبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku menyampaikan salam kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Maka kata cucunya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

اذ دخلت مسخد فسلم ثم قال ان رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقال لا تتخذقبر عيد و لا تتخذ بيو ثكم قابر
لَعْنَه اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
و صل علي فان صلتكم تضلون حيث كنتم ما انت وما ب الأندلسي الى السو

Dalam riwayat ini al Hasan ibnu husain ibnu ali ibnu abi thalib mengatakan kalau engkau hendak menyalami Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  maka salamilah saat engkau masuk masjid sudah cukup, tidak perlu engkau datang ke kuburan beliau untuk sekedar mengucapkan salam  karena nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengatakan 
لاتخعل قبر عيد

Beliau berdalil dengan hadits yang sangat terkenal bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang orang-orang menjadikan kuburan beliau sesuatu yang rutin dikunjungi (bulak-balik) didatangi karena itu berarti menjadikan kuburan beliau sebagai 'ied, 'ied adalah ajang perayaan atau sesuatu yang diulang-ulang tapi kalian jangan jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan maksudnya kalian tidak beribadah dirumah kalian, karena kalu kalian tidak beribadah maka rumah kalian seperti kuburan, kalau kalian tidak isi rumah kalian dengan ibadah maka dia akan bersifat seperti kuburan 

Ini jelas menyatakan kuburan bukanlah tempat ibadah, tempat ibadah itu bukan dikuburan  kecuali ibadah-ibadah yang disyariatkan sebatas itu saja seperti tadi mengucapkan salam ketika ziarah kubur, kemudian mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, lalu mengingat-ingat kematian itu saja ibadah yang dianjurkan dilakukan dikubur selain itu tidak dianjurkan (disyariatkan) makanya masuk kategori bid'ah 

Kemudian beliau juga mengutip sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  yang terkenal, yang shahih

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُود

Semoga Allah melaknat orang-orang yahudi yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah 

Kalian silahkan bershalawat kepadaku و صل علي banyak-banyaklah bershalawat untukku

fainna shalatukum tabluguni haitsuma kuntum

maka shalawat kalian akan mencapai ku dimana pun kalian berada

Ini kata nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

kemudian al Hasan ibnu Husain ibnu ali ibnu thalib menimpali 

maa anta bil andalus ilassawa 

Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sudah mengatakan silahkan bershalawat kepadaku dimana pun kalian berada dan itu akan sampai kepadaku maka sesungguhnya engkau (yang berada dikuburan nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) maupun orang lain yang ada di andalusia sana sama saja sebetulnya

Nah itu beberapa yang berkait dengan ziarah atau ritual-ritual bid'ah disekitar kuburan, membangun kuburan juga sangat dilarang oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagaiman di dalam hadits 

an yujassasal qobr wa an yuktaba 'alayh wa an yubna alayh 

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang kuburan di tulis-tulisi atau dibangun diatasnya suatu bangunan ini semua dilarang oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

3. Perbuatan Syirik 

Bisa membatalkan tauhid itu sendiri dan mengeluarkan pelakunya dari islam, apakah itu? yaitu manakala orang yang berziarah kubur ini menujukan salah satu bentuk ibadah apapun bentuknya, entah itu doa, shalat, nazdar, menyembelih sesuatu, yang jelas itu ditujukan kepada yang sudah mati (yang dikubur) dia minta-minta kepada orang yang sudah mati, 

wahai fulan tolong saya, 
wahai fulan mintakan syafaat untuk saya, 
wahai fulan berikan saya jodoh, lapangkan rezeki saya atau sembuhkan saya dari penyakit 
dan lain sebagainya

Ini jelas perbuatan syirik akbar (besar) yang sangat dimurkai oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atau dia istighasah apalagi istighasah adalah sesuatu yang intinya minta tolong dalam kondisi yang sangat genting (darurat) ini tentunya hanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  yang bisa melakukan tidak ada selain Allah yang bisa melakukan ha tersebut 

Demikian juga apabila dia melakukan tawaf (mengelilingi) kuburan, mendekatkan diri kepada yang sudah dikubur dengan cara berkeliling di kuburan, ini juga sesuatu yang dikategorikan sebagai syirik akbar atau dia mengucapkan nadzar kepada yang dikubur atau dia menyembelih yang dikubur 

Jadi ini harus di waspadai jangan sampai seseorang melakukan hal tersebut 


والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip Oleh Abu Uwais

Audio 10 Tauhid dalam Niat dan Tujuan (Tauhid Uluhiyyah) point 6

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  14 Februari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwa wal akhwat kita lanjutkan pembahasan seputar prinsip-prinsip aqidah ahlussunah wal jama'ah, masih berkaitan dengan masalah Tauhid

sedang proses transkrip......


والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip editor Oleh Abu Uwais


Audio 12 Tauhid dalam Niat dan Tujuan (Tauhid Uluhiyyah) point 10 & 11

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  14 Februari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خير خلق لله محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwa wal akhwat kembali kita lanjutkan pembahasan tentang prinsip-prinsip aqidah ahlussunah wal jama'ah

10. Berkah berasal dari Allah تَعَالَى Allah memilih siapa yang dikehendaki diantara mahluknya. Dan tidak ada yang memastikan atas sesuatu kecuali dengan dalil. Berkah adalah kebaikan yang banyak dan tambahannya atau keberlanjutan kebaikan dan keutamaan kebaikan tersebut. Keberkahan hanya didapatkan pada waktu-waktu tertentu seperti pada malam Qadar. Di tempat- tempat tertentu seperti di ketiga masjid Pada benda-benda tertentu seperti air Zam-zam. Pada amalan, setiap amal  shalih diberkahi. Pada orang-orang tertentu, seperti dzat para nabi, dan tidak diperbolehkan untuk memohon berkah dari orang-orang tertentu, baik terhadap zat mereka, benda-benda peninggalakan (atsar) mereka, kecuali dengan zat dan atsar Nabi ﷺ Hal ini karena tidak ada dalil untuk  elakukannya kecuali terhadap beliau. Namun demikian mencari keberkahan melalui Nabi  telah berakhir dengan kematian beliau dan dengan hilangnya peninggalan beliau

Disebutkan oleh Al muallif (penulis) bahwa berkah itu berasal dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Allah memilih sebagian makhluknya yang ia kehendaki untuk diberi berkah dan berkah tidak bisa di klaim bahwa sesuatu itu memiliki berkah melainkan kalau kita memiliki dalil tentangnya jadi ada yang bisa memastikan adanya berkah dengan sesuatu kecuali kalau ada dalilnya

Tentang berkah ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menjelaskan dan menyifati dirinya dengan Tabaraka (Maha Berkah) artinya kebaikan itu senantiasa ada padanya dalam jumlah yang sangat banyak itu artinya tabarak (Maha Berkah)

Kemudian dalam Al Quran Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyifati diriNya dengan kata Tabarak sebanyak 6 kali

Surat Al A'raf ayat : 54
Surat Al Furqan ayat 1
Surat Al Furqan ayat 10
Surat Al Furqan ayat 61
Surat Ar-rahman ayat 78
Surat Al Mulk ayat 1

Terkadang sifat Maha Berkah (tabarak) tadi, Allah sematkan kepada diriNya dan terkadang kepada salah satu namaNya dan berkah itu hanya berasal dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى 

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ‌ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

"Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Surat Ali Imran : 26)


Disini Allah mengatakan بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ ditangan Engkaulah segala kebaikan, dan berkah itu sendiri artinya kebaikan yang banyak yang terus menerus sehingga jelaslah bahwa asal muasal keberkahan adalah dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى 

Disebutkan berkah adalah kebaikan yang banyak dan bertambah atau kebaikan yang langgeng dan senantiasa di jumpai, berkelanjutan keberkahan itu di dapatkan pada waktu tertentu contohnya seperti keberkahan malam lailatul qadar, kenapa dikatakan dia malam yang diberkati, karena malam itu memiliki kebaikan yang luar biasa yang tidak dimiliki malam-malam lainnya لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬ (malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada 1000 bulan) yang tidak ada lailatul qadarnya artinya jelas dia memiliki kebaikan yang sangat banyak sekali sehingga dikatakan سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ (salam sejahtera pada malam itu hingga terbitnya fajar)

Ada juga keberkahan yang Allah berikan kepada tempat tertentu, contohnya keberkahan pada masjid yang tiga (masjidil haram, masjid nabawi, masjidil aqsa) masjidil haram dikatakan berkah karena shalat disana dilipat gandakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى   sehingga 100.000 kali bahkan lebih dari 100.000 kali atau 100.000 kali lebih baik dari pada shalat di tempat lain selain masjid nabawi, shalat di masjid nabawi dilipat gandakan hingga 1000 kali lebih baik dari pada tempat lain selain masjidil haram adapun terkait dengan masjidil aqsa tidak ada riwayat khusus yang valid yang menyebutkan berapakah pelipat gandaan ketika shalat di sana, riawayat-riawayat yang menceritakan tentang shalat di masjidil aqsa tidak terlepas dari kelemahan, tapi cukuplah dari kita firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya..." (Surat Al Isra : 1)

Disini Allah menjelaskan bahwa disekeliling masjidil haram dan masjidil aqsa yaitu Allah berkati artinya ada kebaikan lebih banyak disana

Ada juga keberkahan pada benda-benda tertentu seperti air zam-zam sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi 

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Sesungguhnya zam-zam itu diberkahi (mengandung banyak kebaikan0 dan dia adalah makan yang mengenyangkan

air zam-zam salah satu kebaikannya adalah dia bisa di minum dan di harapkan akan memberikan kesahatan bagi peminumnya, apabila kita berdoa sebelum meminumnya maka إِنْ شَاءَ اللَّهُ di kabulkan doa kita, kemudian air zam-zam jelas air yang senantiasa di ambil dalam jumlah yang sangat besar sejak ribuan tahun lalu dan tidak pernah kering sumurnya dan tidak pernah habis, ini jelas sekali bahwasanya sumur zam-zam adalah sumur yang sangat diberkahi, airnya menyehatkan tidak mengandung kuman, air mineral dan khasiatnya luar biasa

Ada juga keberkahan pada amalan contohnya amal shalih, setiap amal shalih adalah amalan yang di berkahi karena amal shalih itu oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى diberi pahala berlipat ganda

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang mengamalkan suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan 10 kali lipat dari pahala

jelaslah bahwa amal shalih adalah amal yang mengandung berkah karena dia memberikan manfaat bagi pelakunya baik berupa kebaikan di dunia maupun keberkahan dari rezeki yang dia dapatkan ketenangan hidup dan lain sebagainya

Ada juga berkah-berkah yang Allah diberikan kepada manusia tertentu seperti tubuhnya para Nabi dan bagian tubuhnya para Nabi, rambutnya misalnya atau apa-apa yang menjadi peninggalan para Nabi contohnya pakaian, sarungnya, dan semisalnya kenapa?, karena memang para sahabat رضي الله تَعَالَى عنهم sejak Nabi masih hidup tidak pernah menyia-nyiakan apa yang berasal dari Nabi bahkan ludah beliau pun dibiarkan begitu saja oleh para sahabat apabila meludah, para sahabat mereka menangkap ludahnya dengan tangan mereka, kemudia menggosok-gosokkannya dibadan mereka dalam rangka mengharapkan adanya kebaikan yang Allah berikan pada ludah Rasulullah ﷺ tersebut 

Demikian juga ketika Rasulullah ﷺ berwudhu atau meminum sesuatu maka mereka juga merebut untuk meminum dan memanfaatkan sisa air wudhunya atau sisa air minumnya Rasulullah ﷺ ketika Nabi melakukan tahalul (mencukur rambutnya) maka beliau bagi-bagikan kepada para sahabatnya dan mereka menyimpan baik-baik di tempat minyak wangi bahkan ketika Nabi sudah meninggal ada sahabat yang sakit maka merka memcampurkan air dengan rambutnya Rasulullah ﷺ di jadikan sebagai obat di harapkan Allah memberikan berkah dan memang itu memang sesuatu yang dibolehkan, Nabi membiarkan hal tersebut dilakukan oleh para sahabatnya dan berarti Nabi menyetujui dan ini hanya berlaku dengan dzatnya Nabi, tidak boleh berlaku bagi selain Nabi

Siapapun selain Nabi maka tubuhnya tidak mengandung berkah, penginggalannya juga tidak mengandung berkah, hanya Nabi ﷺ yang tubuhnya di berkahi oleh Allah dan peninggalannya atau barang-barang yang beliau tinggalkan itu juga di berkahi oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, karena memang dalilnya hanya menyebutkan Nabi dan peninggalan-peninggalannya Nabi ﷺ

Adapun peninggalan-peninggalan Nabi telah hilang seiring dengan wafatnya Beliau dan lamanya waktu yang memisahkan antara kita dengan masa itu, sehingga bekas-bekas peninggalan Nabi pun telah sirna

Oleh karena itu kita tidak di perbolehkan bertabaruk dengan benda-benda yang memang tidak ada dalilnya secara langsung bahwasanya benda itu memiliki berkah, salah satu yang di berkahi juga seperti pohon kurma, pohon zaitun, buah zaitun dan apapun yang banyak kebaikan maka sejatinya ia adalah sesuatu yang diberkahi

11. Bertabarruk adalah sesuatu yang hanya dapat ditegaskan melalui taufiqiyah. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bertabarruk, kecuali apabila terdapat dalil megnenainya.

bahwa mencari berkah atau bertabaruk itu adalah perkara yang sifatnya taufiqiyyah artinya perkara ini hanya bisa kita lakukan sesuai dengan dalil yang ada di tegaskan berdasarkan dalil, tidak bisa berkreasi sendiri mengklaim sesuatu mengandung berkah kemudian berkahnya di klaim bisa pindah dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh syariat, tidak diperbolehkan melakukan tabaruk kecuali ada dalil 

Dan perlu kita pahami juga bahwa tidak semua yang di katakan itu mengandung berkah oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berkah itu bisa berpindah ke tubuh diri kita atau tidak bisa kita pindahkan kecuali bila kita menggunakan cara-cara yang benar sebagai contoh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan

قُلۡ أَٮِٕنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِى يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُ ۥۤ أَندَادً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٩

"Katakanlah apakah kalian hendak kafir (ingkar) terhadap Allah yang telah menciptakan bumi dalam 2 hari dan menjadikan baginya tandingan-tandingan  padahal Dia lah rabul 'alamin" (Surat Fushshilat : 9)

وَجَعَلَ فِيہَا رَوَٲسِىَ مِن فَوۡقِهَا وَبَـٰرَكَ فِيہَا

"Kemudian Allah menciptakan gunung-gunung diatas bumi sebagai pasak, gunung-gunung yang tegar, dan Allah memberikan berkahnya kepada bumi..." (Surat Fushshilat : 10)

Artinya bumi itu di berkahi oleh Allah, tapi tidak berarti kita ngalap berkah bumi semau kita, dengan mengusap-ngusap tanah atau berguling-guling di atas tanah supaya berkahnya berpindah ke badan kita bukan dengan cara seperti itu, tentunya mengambil berkahnya bumi dengan memanfaatkan bumi sehingga bumi itu bisa memberikan banyak manfaat, contohnya dengan menanaminya apabila dia di tanami makan dia akan menumbuhkan bisa menghasilkan buah, buahnya bisa di nikmati, demikian  juga dengan digali diambil airnya dari dalam bumi (digali sumur) atau ditambang barang-barang tambangnya ini adalah bentuk-bentuk memanfaatkan kebaikan yang Allah simpan dalam bumi, jadi harus menggunakan dengan cara-cara yang tepat tidak bisa kita berkreasi, berkhayal, menganggap bahwa itu bisa pindah dengan cara-cara yang kita ada-adakan sendiri

Demikian mudah-mudahan bermanfaat


والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip Oleh Abu Uwais

Audio 11 Tauhid dalam Niat dan Tujuan (Tauhid Uluhiyyah) point 9

by Rory Rachmad  |  in Prinsip-prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah at  14 Februari
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى محمد ابن عبد الله وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمنْ وَالَاهُ ، اَمَّا بَعْدُ

Ayyuhal ikhwa wal akhwat kita lanjutkan pembahasan seputar prinsip-prinsip aqidah ahlussunah wal jama'ah, masih berkaitan dengan masalah Tauhid

9. Wasilah yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an adalah apa-apa yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala dari ketaatan yang telah disyariatkan. Ada tiga jenis bertawasul kepada Allah:

Secara syar’i: yaitu bertawasul kepada Allah Ta’ala enggan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau dengan menyebutkan amal shalih seseorang, atau melalui oa orang-orang shalih yang masih hidup.

bahwa wasilah yang diperintahkan di dalam Al Quran adalah apa-apa yang mendekatkan diri kita kepada Allah تَعَالَى dari ketaatan-ketaatan yang memang telah di syariatkan sebagaiman firman Allah


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَـٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan carilah wasilah kepadanya dan berjihadlah di jalannya agar kalian beruntung" (Surat Al Maidah : 35)

ayat ini menceritakan kepada kita untuk mencari wasilah, wasilah yang dimaksud adalah perbuata-perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada Allah dan wasilah dalam pengertian yang umum di maksyarakat itu tidak sama ada wasilah yang masuk kategori di perintahkan syariat (wasilah yang syar'i) yaitu bertawasul kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah yang indah atau dengan sifat-sifatNya yang Mulia seperti kita berdoa kepada Allah, kemudian kita minta ampunan dari Allah, kita panggil nama Allah yang  sesuai
يا غفر اغفرلي، يا غا فر اغفلي


kita ingin di rahmati oleh Allah maka kita panggil Allah dengan nama yang mengandung pengertian kasih sayang seperti


يا رحمن ارحمن

kita ingin diperlakukan dengan lemah lembut maka kita katakan

يا لطيف ٲلطف بي

kita ingin agar kaum muslimin di tolong oleh Allah dalam peperangannya maka kita berdoa menyebutkan dengan nama-namaNya yang sesuai juga

يا قوي، يا عزيز، ٲنصر اخوننا لمجاهدين في سبلك

Wahai yang Maha Kuat, Yang Maha Perkasa menangkanlah saudara-saudara kami yang berjihad di jalanMu

ini adalah salah satu bentuk tawasul atau menggunakan wasilah yang di syariatkan bentuk lain dari wasilah yang di syariatkan atau contoh lainnya adalah manakala seseorang meminta kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan menyebutkan salah satu amal shalihnya dia, seperti yang di ceritakan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang 3  orang yang terjebak dalam goa dan hadits ini riwayat imam bukhari dan muslim

Tiba tiba ada sebongkah jatuh yang jatuh menutup mulut goa dan mereka bertiga tidak bisa keluar maka di usulkan oleh salah satunya agar masing-masing dari mereka bertiga berdoa dengan menyebutkan amalan yang paling dia harapkan menjadi amal shalih

Maka salah satunya mengatakan (menyebutkan) bahwa dia atau seorang yang berbakti kepada orang tuanya dan seterusnya satu lagi menyebutkan tentang bagaimana dia menyimpan gaji pegawainya yang tiba-tiba kabur tidak, mengambil gaji sehingga di investasikan di belikan kambing kemudian kambungnya beranak pinak sekian tahun kemudian datang meminta gajinya dan gajinya telah di wujudkan kambing dalam jumlah yang sangat besar, kemudian di ambil semuanya oleh si pegawai tanpa menyisakan apa-apa dan itu di lakukan ikhlas karena Allah, si majikan tidak merasa kecewa ataupun sedih sedikitpun dan itu dia lakukan ikhlas karena Allah, yang ketiga adalah menghindari perzinaan dengan wanita idamannya saat si wanita sudah ada di depannya dia karena takut dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى maka dia tinggalkan kesempatannya untuk berzina ini adalah amal-amal shalih dan setelah masing-masing minta kepada Allah dengan menyebutkan amal shalihnya masing-masing batunya itu bergeser sedikit demi sedikit sehngga akhirnya terbukalah jalan bagi mereka, adapun bertawasul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya Yang Mulia itu disebutkan dalam Al Quran 

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

"Bagi Allah nama-nama yang paling baik maka berdoalah kamu dengan menyebut nama-nama itu..." (Surat Al A'raf : 180)

3.  Minta doa dari orang shalih yang masih hidup, 

syaratnya orang itu masih hidup dan dia mendengar permintaan kita seperti dia ada di hadapan kita atau di dekat kita atau kita sedang berbicara lewat telepon dengannya dan semisalnya, doanya orang shalih agar yang bersangkutan mendoakan kebaikan bagi kita ini adalah satu satu bentuk tawasul yang di perbolehkan sebagaimana di dalam ash-shahihain ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  sedang berkhutbah jumat, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri kemudian mengatakan yaa Rasulullah harta benda telah musnah ,ternak telah binasa, jalan-jalan telah merekah (saking lamanya dilanda kemarau) doakan agar Allah menurunkan hujan bagi kita

Disini lelaki ini meminta kepada Rasulullah agar berdoa kepada Allah minta turunnya hujan demikian pula apabila itu di mintakan kepada orang shalih sebab sepeninggal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  kota madinah kembali di landa musim paceklik (kemarau) itu tepatnya di masa kekhalifahan umar bin khaththab رضي الله عنه maka sayyidina umar mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalatul istisqa (shalat meminta hujan) 

kemudian usai shalat umar bin khatththab mengatakan

ٲللهم انا كنا نستسق من نبيك ف سقيتنا و اننا ليوم نستسق بعم نبيك فسقنا

yaa Allah kami dahulu minta hujan melalui NabiMu dan engkau beri kami hujan dan kami minta hujan melalui pamannya NabiMu maka berikablah hujan kepada kami

setelah itu umar meminta kepada abbas bin abdul muththalib yang sepeninggal beliau memang masih hidup di minta oleh umar agar berdoa

wahai abbas قم فدعه (bangunlah dan doakan) agar Allah memberikan hujan

Dan ini di lakukan oleh sayyidina umar di hadapan para sahabat  dan tidak ada yang mengingkari, jadi menunjukan para sahabat pun sepakat bahwa orang shalih yang masih hidup boleh di mintai doanya, tidak ada masalah di situ, ini bentuk tawasul yang di syariatkan atau di bolehkan oleh syariat

2. Tawasul bid’ah: yaitu bertawasul kepada Allah Ta’ala enggan apa-apa yang tidak diperbolehkan di dalam syariat, seperti bertawasul dengan kemuliaan para nabi, dan orang-orang shalih, atau dengan derajat mereka, atau dengan hak-hak mereka, atau dengan kehormatan mereka, dan yang semisalnya.

Tawasul yang di nyatakan sebagai bid'ah, apakah tawsul yang di anggap bid'ah itu yaitu bertawasul kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan apa-apa yang tidak di perbolehkan dalam syariat tidak ada anjuran / izin dari syariat agar seseorang menjadikan hal itu sebagai wasilah, namun di jadikan sebagai wasilah maka ini sifatnya bid'ah 

contohnya bertawasul dengan mengatas namakan kedudukan seseorang di sisi Allah, yaa Allah berkat kehormatan nabimu, maka aku minta kepadamu agar engkau menyembuhkanku misalnya yaa Allah dengan kemuliaan fulan yang shalih atau dengan hak mereka dan yang semisalnya atau dengan kehormatan mereka ini semua adalah cara-cara tawasul yang tidak di syariatkan hukumnya bid'ah

3. Tawasul Syirik: yaitu mengambil orang yang mati sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, berdoa kepada mereka dan memohon pemenuhan kebutuhan seseorang dari mereka, memohon pertolongan dengan mereka, dan perbuatan- perbuatan yang semisal lainnya.

yaitu menjadikan orang yang sudah mati sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, artinya si mayyit ini, di anggap bisa mendekatkan seseorang kepada Allah sedekat-dekatnya, walaupun orang yang bersangkutan itu tidak meminta secara langsung kepada si mayyit misalnya berdoa di dekat kuburannya si mayyit ini atau dia melakukan shalat di dekat kuburannya si mayyit shalatnya dia lakukan lillahi ta'ala akan tetapi dia berharap melalui mayyit ini atau dia berharap si mayyit ini akan mendekatkan dia kepada Allah sedekat-dekatnya, dia mengharapkan bahwa dengan beribadah di dekat kuburannya akan lebih baik lebih mengandung berkah atau dia mengharapkan syafa'at dari orang-orang yang sudah meninggal dunia 

Demikian juga apabila si mayyit itu langsung di mintai doa atau syafa'at berarti ini jelas-jelas mengarahkan beribadah kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sebagaiman di dalam surat yunus ayat 18, Allah menceritakan hakikat tujuan dan maksud orang-orang musyrik beribadah didekat berhala-berhala mereka 

...وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan..." (Surat Yunus : 18)

mereka mengibadahi / mengabdikan diri mereka kepada selain Allah, mempersekutukan Allah dengan apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat kepada mereka dan tidak juga memberikan manfaat kepada mereka lantas apa maksud dari ibadah mereka

Jadi di sini ibadahnya ini bukan dalam rangka mengharapkan manfaat dari yang di ibadahi secara langsung dan bukan karena berharap bahwa yang di ibadahi itu akan  melindungi mereka dari bahaya bukan

Tapi tujuan mereka وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ mereka mengatakan yang kami sembah-sembah ini semata-mata kami mengharapkan syafa'atnya Allah di hadapannya nanti, jadi mereka kira bahwa berhala-berhala itu yang merupakan jelmaan atau simbol dari orang-orang shalih yang telah meninggal dunia itu tidak di anggap bisa memberikan manfaat dan mudharat secara langsung tidak, akan tetapi di harapakan meminta untuk mereka sesuatu yang bermanfaat bagi mereka atau memintakan agar mereka di hindarkan dari hal-hal yang berbahaya, ini yang dimaksud dengan syafa'ah jadi yang di harapkan dari berhala itu adalah syafaatnya

Maksudnya jasanya si orang shalih yang telah meninggal tadi yang di simbolkan dalam berhala tadi di harapakan untuk memintakan manfaat bagi yang mengibadahinya memintakan manfaatnya kepada Allah demikiann juga di harapkan agar si berhala memintakan perlindungan bagi orang yang mengabdi kepadanya alias di harapkan syafaatnya atau sebgaimana yang di jelaskan dalam surat az-zumar ayat 3

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ

Adapun orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali mereka, pelindung-pelindung, penolong-penolong mereka,

Alasannya mereka memperlakukan selain Allah perlakuan seperti itu apa adalah karena diyakini mereka itu bisa mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya

Jadi inilah hakikat perbuatan syirik yang di lakukan oleh orang-orang jahiliyyah, tarolah mereka mempersekutukan Allah dengan apa yang mereka namakan alihah maka hari ini yang di persekutukan dengan Allah itu tidak lagi di namai dengan alihah namun hakikatnya adalah alihah, alihah jamak dari ilah aritnya yang di ibadahi

Jadi yang di ibadahi hari ini tidak di gelari sebagai tuhan, akan tetapi gelarnya adalah jauh berbeda walaupun hakikatnya mereka itu di pertuhankan oleh para penyembahnya mungkin gelarnya adalah sayyid, gelarnya adalah kiyai, gelarnya adalah wali, atau siapapun itu gelarnnya yang jelas apabila perlakuan seseorang kepada orang yang sudah meninggal itu seperti perlakuannya orang-orang musyrik terhadap berhala mereka, maka sesungguhnya orang yang sudah meninggal itu di anggap sebagai tuhan (ilah), dan ini jelas perbuatan yang sangat besar bahayanya 

Demikian

والله تَعَالَى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemateri : Ustadz Dr, Sufyan Baswedan LC, MA
Transkrip editor Oleh Abu Uwais

    Popular Post

Proudly Powered by Abu Uwais