Senin, 25 Maret 2019

Halaqah 06| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rabi’uts Tsani 1440 H / 12 Desember 2018 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 06| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 04)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-06
~~~~~~~~~~~~

PARA NABI TIDAK MEMILIKI HIDAYAH TAUFĪQ (BAGIAN 04)


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral muslimin rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi yang keenam ini kita masih melanjutkan tentang pembahasan yang artinya bahwa para nabi sekalipun mereka tidak memiliki hidayah taufīq bagi seorangpun.

Kita sudah bahas beberapa kisah para nabi dan pembahasan kemarin kita membahas kisah Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām.

Kemudian yang berikutnya adalah kisah Nabi Yūsuf 'alayhissallām.

Nabi Yūsuf 'alayhissallām adalah nabi yang dikenal sangat tampan rupawan, dengan ketampanan yang sangat luar biasa. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Yūsuf 'alayhissallām adalah setampan-tampan dan seindah-indah makhluk Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Beliau diberikan separuh keindahan sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam Shahīh Muslim dari hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أُعْطِيَ يُوسُفُ شَطْرَ الْحُسْنِ

"Yūsuf diberi setengah ketampanan." (Hadīts riwayat Ahmad nomor 14050 dan dishahīhkan Syu'aib Al Arnauth)

Bagaimana masa kecil beliau (alayhissallām) yang penuh dengan kesulitan, dimana saudara-saudaranya memiliki hati yang hasad kepada beliau (alayhissallām) di karenakan ayahnya terlalu menyayangi Nabi Yūsuf 'alayhissallām, sampai akhirnya saudara-saudaranya sepakat untuk melempar Nabi Yūsuf 'alayhissallām kedalam sumur.

Kemudian Nabi Yūsuf 'alayhissallām dipungut (diambil) oleh orang-orang yang lewat sumur tersebut untuk mengambil air,  lalu Nabi Yūsuf dijual dipasar budak (hamba sahaya)  sampai akhirnya diambillah Nabi Yūsuf 'alayhissallām oleh raja mesir pada saat itu.

Tidak sampai disitu ujian Nabi Yūsuf 'alayhissallām. Ujian Nabi Yūsuf alayhissallām dari kecil bahkan hingga dia tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda.

Ketika beliau menjadi pemuda yang sangat tampan terjadilah fitnah lagi. Istri raja telah menggodanya, akan tetapi Nabi Yūsuf 'alayhissallām di jaga oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga Nabi Yūsuf tidak tergoda wanita itu. 

Kemudian beliau (alayhissallām) dipenjara selama beberapa tahun ditengah-tengah para pemabuk, pencuri, pelaku kriminal lainnya.

Hidup Nabi Yūsuf dari kecil sampai dewasa penuh dengan ujian, namun Allāh Subhānahu wa Ta'āla  selalu menjaga dan melindunginya dari segala keburukan dan kemaksiatan.

Nabi Yūsuf tumbuh dengan kelemahlembutan dan keindahan dan beliau juga pandai dalam menafsirkan mimpi.

Siapa yang membuat semua ini?

Nabi Yūsuf 'alayhissallām sendiri sejak kecil, diasingkan, terusir, hidup tanpa ayah dan ibu, tanpa saudara laki-laki maupun perempuan, tanpa paman, tanpa kakek tanpa kerabat ditengah-tengah lingkungan yang asing

√ Siapa yang mengajarkan ilmu padanya?

√ Siapa yang mensucikannya?

√ Siapa yang mendidik dan membimbingnya?

√ Siapa yang melakukan semua itu?

Yang melakukan itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sebagaimana firman-Nya:

 فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

"Allāh adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS  Yūsuf: 64)

Kemudian kita lihat Nabi Mūsā 'alayhissallām.

Sejak bayi Nabi Mūsā 'alayhissallām dihanyutkan oleh ibunya, karena beliau (ibunda Nabi Mūsā) ingin menjaga Nabi Mūsā 'alayhissallām.

Nabi Mūsā kecil diletakkan di dalam sebuah kotak lalu dihanyutkan ke sungai, kemudian akhirnya Mūsā kecil diambil oleh orang-orang kerajaan yang zhālim yang suka membunuh, yaitu keluarga Fir'aun.

Tentunya secara zhāhir ini adalah musibah, karena anak-anak laki-laki di zaman Fir'aun semuanya dibunuh tapi justru inilah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh kembalikan lagi Mūsā kecil kepada ibunya untuk disusui kembali oleh ibunya agar ibunya tidak sedih.

√ Siapa yang menjaga dari keburukan?

√ Siapa yang menjaga Nabi Mūsā alayhissallām dari musibah ini, sehinga Nabi Mūsā tidak dibunuh oleh orang-orang Fir'aun?

Itu semua karena  Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Siapa yang membuat Nabi Mūsā alayhissallām tumbuh kemudian menjadi seorang nabi ditengah-tengah keluarga Fir'aun yang sangat sesat,  yang dia mengaku sebagai Tuhan?

Itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian pula kisah anak muda yang disebutkan di dalam surat Al Kahfi ayat 80-81,
dimana kedua orang tua mereka adalah mukmin tetapi anak muda ini Allāh taqdirkan kāfir.

√ Bagaimana Nabi Khidir membunuhnya.

√ Bagaimana pula Nabi Mūsā mengingkari perbuatan Nabi Khidir alayhissallām.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  jelaskan kisahnya dalam surat Al Kahfi 74-75:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Mūsā) berkata, "Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar." (QS Al Kahfi : 74)

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Dia berkata, "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?" (QS Al Kahfi : 75)

Kisahnya dijelaskan di dalam Al Kahfi ayat 80 sampai 81.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak muda (kāfir ) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekāfiran." (QS Al Kahfi: 80)

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya). (QS Al Kahfi: 81)

Lihat disini! Kedua orang tua anak ini seorang mukmin akan tetapi dia (anak tersebut) kāfir.

Dan kita lihat kisah Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. Beliau adalah sebaik-baik nabi dan sebaik-baik manusia, Beliau tumbuh dalam keadaan yatim dan tumbuh dalam kondisi faqīr, sampai-sampai tidak ada yang mau memeliharanya, sampai akhirnya Beliau dipelihara pamannya (Abū Thālib) yang tidak mau masuk Islām.

√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan iman kepada Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan mu'zijāt Al Qur'ān.

Itulah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang Maha memberikan hidayah kepada siapapun yang Allāh kehendaki.

Demikian, semoga yang singkat ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 05| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 03)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Rabi’uts Tsani 1440 H / 11 Desember 2018 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 05| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 03)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-05
~~~~~~~~~~~~

PARA NABI TIDAK MEMILIKI HIDAYAH TAUFĪQ (BAGIAN 03)


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral muslimin rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi yang kelima ini kita masih melanjutkan tentang pembahasan yang artinya bahwa para nabi sekalipun mereka tidak memiliki hidayah taufīq bagi seorangpun. Hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla saja yang menetapkan hidayah taufīq kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Kita lihat kisah Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla  abadikan didalam surat Maryam: 42-45.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengisahkan perkataan Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām ketika beliau mendakwahi ayahnya.

Dipertemuan sebelumnya telah kita jelaskan bagaimana Nabi Nūh 'alayhissallām mendakwahi putranya akan tetapi beliau (alayhissallām) tidak berhasil.

Pada pertemuan kali ini kita akan menceritakan bagaimana Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām mendakwahi ayahnya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan perkataan Nabi Ibrāhīm alayhissallām kepada ayahnya.

 يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

"Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun ?"

Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām kembali mengatakan:

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

"Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus."

Kemudian Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām mengatakan kembali:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

"Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah syaithān. Sungguh, syaithān itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih."

Kemudian Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām mengatakan:

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

"Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi syaithān." (QS Maryam: 42-45)

Lihat disini! Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām merengek, meminta ketika beliau mendakwahi ayahnya, meminta dengan tulus kepada ayahnya agar ayahnya mengikuti hidayah (petunjuk) beliau dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dengan mengucapkan:

يَا أَبَتِ....... يَا أَبَتِ...... يَا أَبَتِ...... يَا أَبَتِ

Hingga empat kali beliau alayhissallām mengucapkanya (Yā Abatiy.... adalah pangilan dari anak yang shālih kepada ayahnya).

Tetapi ayahnya menolak, dengan penolakan yang begitu keras bahkan mengancam putranya dengan mengatakan:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Dia (ayahnya) berkata, "Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrāhīm ? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama." (QS Maryam: 46)

Nabi Ibrāhīm alayhissallām diusir bahkan diancam oleh ayahnya jika beliau (alayhissallām) tidak berhenti berdakwah.

Lihat ! Nabi Ibrāhīm alayhissallām berdakwah kepada ayahnya dan ayahnya tidak mau mengikuti dakwah beliau (alayhissallām).

Tapi lihat, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan yang lain, ketika Nabi Ibrāhīm alayhissallām mengajak putranya yang bernama Ismāil alayhissallām, Allāh sebutkan dalam Al Qur'ān surat Maryam 54: صَادِقَ ٱلْوَعْدِ , janji yang sangat benar.

Ketika Nabi Ibrāhīm alayhissallām diperintah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk menyembelihnya putranya Ismāil alayhissallām sebagaimana diceritakan didalam surat Ash Shāffāt: 102. Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!"

(Nabi Ismāil pun menjawab,) “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allāh) kepadamu, in syā Allāh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS  Ash Shāffāt : 102)

Perhatikan jawaban Nabi Ismāil alayhissallām sangat berbeda dengan ayah Nabi Ibrāhīm alayhissallām. Lihat ! Hidayah hanya ditangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Benarlah janji Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bahwasanya Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismāil adalah orang-ora yang sabar, dan termasuk nabi dan rasūl yang sangat mulia.

Oleh karena itu, para ayah dan ibu betapa pun anda memiliki kemahiran, memiliki ilmu, memiliki kemampuan dalam mendidik anak-anak.

Sehebat apapun anda, Ingat !  Anda hanya sekedar melakukan dan menjalankan sebab dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di antara sebab-sebab yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla perintahkan untuk kita lakukan adalah menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka.

Lakukanlah sebab itu, adapun hidayah kita kembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sekali lagi, kita hanya meniti dan menempuh jalan, cara, syari'at.

Siapapun anda, jangankan hanya orang tua biasa, seorang shālih atau ulamā, bahkan seorang nabi dan rasūl pun hanya sekedar menjalankan perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang menentukan hidayah kepada anak keturunan kita hanyalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman bahwasanya di antara keturunan para nabi sekalipun ada yang berbuat baik dan berbuat zhālim.

وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌۭ وَظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ مُبِينٌۭ

"Dan di antara anak cucunya (nabi Ibrāhīm dan nabi Ishāq) ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhālim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (QS Ash Shāffāt : 113)

Demikian, semoga bermanfaat, in syā Allāh kita lanjutkan kembali kisah nabi yang lainnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 04| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 02)

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Rabi’ul Akhir 1440 H / 10 Desember 2018 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 04| Para Nabi Tidak Memiliki Hidayah Taufiq (bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-04
~~~~~~~~~~~~

PARA NABI TIDAK MEMILIKI HIDAYAH TAUFĪQ (BAGIAN 02)


بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ


Ma'asyiral muslimin rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pada sesi yang lalu, kita sudah sampai pada pembahasan yang artinya bahwa para nabi sekalipun mereka tidak memiliki hidayah taufīq bagi seorangpun.

Hidayah taufīq artinya hidayah yang sifatnya Allāh lapangkan dada seseorang untuk menerima petunjuk dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla (petunjuk Islām).

Karena hidayah ada dua macam, yaitu:

⑴ Hidayah Dalālah wal Irsyād.

Hidayah yang dimiliki nabi dan rasūl serta orang-orang yang berdakwah untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan (sekedar menunjukkan saja).

Ini dimiliki oleh setiap kita yang berusaha untuk berdakwah (mendakwahi) orang lain.

Adapun perkara nanti hasil dari dakwah tersebut belum bisa ditentukan, bahkan para nabi sekalipun.

⑵ Hidayah Taufīq.

Hidayah ini hanyalah dimiliki Allāh semata, hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki dengan rahmat-Nya.

Kita sebelumnya sudah membahas sebagian hadīts dan ayat dalam surat Al Qashshash: 56. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allāh memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Maksud dari ayat, "Engkau tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi," yang dimaksud adalah paman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang bernama Abū Thālib. Paman yang sangat sayang kepada Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam semasa hidup beliau.

Bahkan ketika pamannya (Abū Thālib) meninggalpun Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak bisa memberikan hidayah taufīq, karena hidayah taufīq dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla saja.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِين

"Akan tetapi Allāh lah yang memberi petunjuk (memberi taufīq ) siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Dan sudah kita bahas tentang kisah kematian paman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Abū Thālib) di dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim.

Demikian pula para nabi yang lainnya. Kita bisa lihat misalnya Nabi Nūh 'alayhishālatu wa sallām, bagaimana beliau ingin sekali anaknya mengikuti beliau. Sebagaimana disebutkan didalam surat Hūd: 42.

 يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

"Wahai anakku ! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kāfir."

Namun Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berkehendak lain, Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menghendaki hidayah untuk putra Nabi Nūh 'alayhissallām. Bahkan putranya membantah dengan mengatakan:

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Dia (anaknya) menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!"

(Nūh ) berkata, "Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allāh pada hari ini selain Allāh yang Maha Penyayang."

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan." (QS Hūd: 43)

Walaupun begitu Nabi Nūh 'alayhissallām tidak putus asa, pada ayat berikutnya beliau berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Dan Nūh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, "Yā Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil." (QS Hūd: 45)

Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta'āla menegur nabi Nūh 'alayhissallām (padahal beliau ingin agar putranya mendapatkan petunjuk).

Dalam hal ini Allāh Subhānahu wa Ta'āla  mengatakan:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dia (Allāh ) berfirman, “Wahai Nūh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh." (QS Hūd : 46)

Akhirnya Nabi Nūh 'alayhissallām menerima nasehat ini dan beliau mengatakan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dia (Nuh) berkata, "Yā Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi." (QS Hūd: 47)

Contoh lain, Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām, dalam Al Qur'ān banyak disebutkan tentang kisah beliau, in syā Allāh nanti kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang.

In syā Allāh, yang bisa ambil kesimpulan dari penjelasan di atas bahwa nabi sekalipun bahkan beberapa nabi (in syā Allāh nanti akan dijelaskan) hanya bisa berusaha, adapun hidayah dikembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla .

Hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla  yang memberikan hidayah kepada hamba-Nya.

Demikian, wabillāhut taufīq, semoga bermanfaat.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Halaqah 18 | Hadits 19

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Rabi’ul Akhir 1440 H / 02 Januari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 18 | Hadits 19
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-18
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 19


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita masih diberi kesempatan untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta'āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts nomor 19 yang merupakan potongan dari hadīts ke-7 yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-7).

Dan telah kita sampaikan pada pertemuan tersebut bahwa hadīts ini adalah hadīts yang dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrazāq dan Syaikh Al Albāniy rahimahullāh.

Adapun hadīts tersebut adalah:

Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حدّثنا أَحمَدُ بْنُ عَبدَةَ الضَّبِّيُّ وَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ وَغَيرُوا حِدٍ، قَالُوا: حدّثنا عِيسى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللّه،  مَولَى غُفْرَةَ. قَالَ حَدَّثَنِي إبراهيمُ بن مُحَمَّدٍ مِن وَلَدِ عَلِيِّ بن أبي طالِبٍ رضى الله عنه، قَالَ كَانَ عَلِيِّ إذَا وَصَفَ رَسُول اللّه ﷺ فَذَكَرَ الحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: بَينَ كَتِفَيهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ و هو خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

Imām At Tirmidzī rahimahullāh, pada hadīts ini kembali membawakan potongan hadīts nomor 7 sesuai dengan sanad yang Beliau miliki, bahwa dahulu shahābat Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta'āla 'anhu jika sedang bercerita tentang sifat-sifat Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadīts tersebut beliau sebutkan dengan panjang lebar.

Dan salah satu sifat yang beliau sebutkan adalah:

"Di antara pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ada cap kenabian yang mana Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah penutup para nabi."

Tujuan imām At Tirmidzī menyebutkan hadīts ini adalah untuk membawakan hadīts yang sesuai dengan bab yang beliau buat, yaitu bab tentang cap kenabian.

Bahwa cap kenabian itu benar adanya dan berada diantara dua pundak Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan telah berlalu penjelasannya bahwa cap itu tidak ditengah-tengah akan tetapi lebih dekat dengan pundak kiri Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Walaupun hadīts ini dhaif akan tetapi didukung oleh banyak hadīts shahīh yang menyatakan bahwa ada cap kenabian di antara kedua pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Kemudian Imām At Tirmidzī rahimahullāh kembali menyebutkan sebuah hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang menjelaskan bahwa salah satu cirinya adalah cap kenabian tersebut ada pada rambutnya.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh ta'āla berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّار، قال حَدَّثَنَا أَبُو عَصِمٍ، قَالَ حدَّثَنَا عَزْرَةُ بن ثَابِتٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بن أَحْمَر قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ عَمْرُو بن أَخْطَبَ الأَنْصَارِي رضي اللّه عنه قالَ لِي رسو اللّه ﷺ يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟ قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ

Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ini lengkap dengan sanad yang beliau miliki hingga Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab Al Anshāry radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau bercerita:

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah berkata kepadaku, "Wahai Abū Zaid, mendekatlah. Coba kamu usap punggungku."

Akupun mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dan secara tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian.

(Al 'Ilbā' perawi dari Abū Zaid berkata,) "Apa itu cap kenabian?"

Abū Zaid menjawab, "Kumpulan rambut-rambut."

Syaikh Albāniy rahimahullāh mengatakan bahwa sanad hadīts ini shahīh sebagaimana syarat Imām Muslim.

Kemudian kita akan membahas sedikit demi sedikit lafazh-lafazh dan kalimat-kalimat yang terdapat pada hadīts ini.

(( يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي))

"Wahai Abū Zaid mendekatlah, coba kamu usap punggungku."

Pada kalimat ini kita mengetahui akan adab Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau tidak memanggil shahābatnya dengan namanya langsung, akan tetapi Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memanggil dengan kunyahnya.

Dan sebagian ulamā mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kesantunan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada para shahābatnya.

Kemudian saat Abū Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu diperintahkan untuk mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam), ia mungkin beranggapan bahwa ada sesuatu di punggung Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang membuatnya tidak nyaman dan ternyata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan hal tersebut hanya ingin memuliakan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab radhiyallāhu ta'āla 'anhu dengan memegang jasad beliau yang mulia.

Bahkan memegang cap kenabian yang Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) miliki. Dan ini semua menunjukkan akan kedekatan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab kepada Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Atau menunjukkan tentang kedekatan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab dengan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.

(( فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ))

"Aku pun mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dan tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian."

Kalimat ini menunjukkan bahwa shahābat Abū Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu melaksanakan apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam perintahkan dengan segera. Dan saat melaksanakan apa yang diperintah oleh Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam Abū Zaid secara tidak sengaja menyentuh cap kenabian yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam miliki.

(( قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟))

"Aku bertanya, apa itu cap kenabian?"

Yang bertanya adalah murid atau rawi dari Abū Zaid yang bernama 'Ilbā'.

Pada penggalan hadīts ini kita ambil pelajaran, di antaranya:

⑴ Hendaknya seorang murid bertanya kepada guru, apa yang belum mereka pahami.

⑵ Hendaknya seorang murid juga bersemangat untuk mendapatkan faedah-faedah serta pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dari guru-gurunya.

((  قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ))

Ia menjawab, "Kumpulan rambut-rambut."

Maksudnya adalah rambut yang berkumpul pada satu tempat mungkin disekeliling cap atau di atasnya (Wallāhu A'lam).

Jangan disalah artikan bahwa cap kenabian tersebut hanya berupa rambut-rambut yang berkumpul pada satu tempat, akan tetapi hadīts ini adalah hadīts yang menyebutkan sifat tambahan bagi pelajaran yang telah lalu yang menyatakan bahwa cap kenabian adalah sebuah kelenjar atau potongan daging yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.

Sehingga hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts-hadīts yang lainnya atau yang telah lalu.

Wallāhu Ta'āla Bishawāb.

Semoga bermanfaat.


🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islām Yogyakarta

______________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

__________________


Halaqah 17 | Hadits 17 dan 18

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Rabi’ul Akhir 1440 H / 01 Januari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 17 | Hadits 17 dan 18
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-17
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 17 DAN 18


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita telah menyelesaikan 16 (enam belas) hadīts dari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah. Kali ini kita akan mencoba membahas hadīts-hadīts selanjutnya yaitu hadīts nomor 17 yang menggambarkan tentang warna dan ukuran dari cap kenabian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.


• Hadīts ke-17


Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالْقَانِيُّ ، قَالَ : حدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ جَابِرٍ ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ، قَالَ : " رَأَيْتُ الْخَاتَمَ بَيْنَ كَتِفَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , غُدَّةً حَمْرَاءَ , مثل بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ "

Al Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts ini sesuai dengan jalur periwayatan yang beliau miliki hingga shahābat Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta'āla 'anhumā. Beliau bercerita:

"Aku pernah melihat cap kenabian yang terletak di antara dua pundak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam (kelenjar merah seukuran telur burung merpati)."

√ Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh, yang dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

√ Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Imām At Tirmidzī di dalam Sunnan beliau dengan nomor 3644.

√ Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Imām Muslim dengan nomor 2344.

Pelajaran dari hadīts ini:

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki cap kenabian yang berupa kelenjar (sepotong daging) yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.

Hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts Imām Muslim yang menyatakan bahwa warnanya seperti warna kulit Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) karena sebagaimana telah berlalu bahwa warna kulit Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah putih kemerahan.


• Hadīts yang ke-18


Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حدّثنا أبو مثعب المديني، قالت حدثنايُوسُفُ بْنُ الْمَاجِشُونِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ , عَنْ جَدَّتِهِ رُمَيْثَةَ قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ أَشَاءُ أَنْ أُقَبِّلَ الْخَاتَمَ الَّذِي بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِنْ قُرْبِي لَفَعَلْتُ يَقُولُ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ يَوْمَ مَاتَ اهْتَزَّ لَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ

Pada hadīts ke-18 ini, Imām At Tirmidzī membawakan hadīts dengan sanad yang beliau miliki hingga Rumaytsah radhiyallāhu ta'āla 'anhā. Beliau berkata:

Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, saat itu aku sangat dekat dengan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam), seandainya aku mau mencium cap kenabian yang berada di antara kedua pundak beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) pasti bisa, ketika itu Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengatakan tentang Sa'ad Ibnu Mu'ādz waktu meninggal, " 'Arsyurahman bergoncang dengan kematiannya."

Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh, dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy dan hadīts ini dikeluarkan oleh Imām Ahmad nomor 26793 dan dishahīhkan oleh Syu'aib Al Arnaut.

Rumaytsah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, adalah seorang shahābat yang memiliki dua hadīts:

⑴ Hadīts ini (sedang kita bahas).
⑵ Hadīts tentang shalāt dhuha yang beliau riwayatkan dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā.

Pada hadīts ini beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhā) ingin meriwayatkan perkataan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang Sa'ad bin Mu'ādz, pemimpin kaum Anshār dan seorang yang sangat disegani dan dituruti oleh kaumnya.

Beliau (Sa'ad bin Mu'ādz) meninggal dalam usia 37 tahun, pada saat perang Khandaq karena panah yang menancap pada tangan beliau yang menyebabkan darah tidak berhenti mengalir hingga berbentuk genangan.

Dan hadir pada prosesi penguburannya, 70 ribu malāikat dan saat itu pintu langit terbuka untuknya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts dari An Nassā'i nomor 2055 yang di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh. Hal ini menunjukkan akan keutamaan beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhu).

Pada saat meriwayatkan hadīts ini, beliau menyelipkan sebuah kabar tentang cap kenabian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang berada di antara dua pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Dan ini menguatkan akan keberadaan cap kenabian tersebut.

Itulah yang bisa kita ambil dari hadīts ini.

Kemudian sebelum kita akhiri, perlu ada catatan ketika kita mendengar hadīts-hadīts yang semisal dengan hadīts ini.

" 'Arsyurahman berguncang " dan sebagainya, kita imani sebagaimana datangnya, tidak perlu ditanyakan bagaimana bergoncangnya, tidak perlu dipermisalkan dengan sesuatu, karena kita belum pernah melihat 'Arsyurahman yang mana dia adalah makhluk yang paling besar dari ciptaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jika kita tidak bisa tahu bagaimana listrik itu bergetar tanpa alat bantu, bagaimana mungkin kita bisa menggambarkan bergetarnya makhluk Allāh yang sangat besar ini.

Kemudian, kita tidak boleh mengingkarinya dengan mengatakan, " 'Arsyurahman tidak bergetar, yang bergetar adalah para malāikat pembawanya."

Atau ucapan-ucapan semisalnya.

Kita pun tidak perlu menyelewengkan maknanya sebagaimana contoh tadi.

√ Cukup imani.

√ Tanpa ditanyakan.

√ Tanpa dimisalkan.

√ Tanpa ditolak.

√ Dan tanpa diselewengkan maknanya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb



🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islām Yogyakarta

__________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

__________________


Halaqah 16 | Hadits 16

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  25 Maret
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Rabi’ul Akhir 1440 H / 31 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 16 | Hadits 16
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-16
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 16


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita telah menyelesaikan hadīts-hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan kali ini kita akan memasuki bab baru yaitu bab tentang cap kenabian.

Pada hari ini kita akan masuk pada hadīts ke-16.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، عَنِ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، قَالَ : سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ , يَقُولُ : ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ . فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ، وَتَوَضَّأَ ، فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ، " وَقُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ ، فَنَظَرْتُ إِلَى الْخَاتَمِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ، فَإِذَا هُوَ مثل زِرِّ الْحَجَلَةِ "

Imām At Tirmidzī mengeluarkan hadīts ini lengkap dengan sanad yang beliau miliki hingga As Sāib Ibnu Yazid radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau  berkata:

Aku dibawa bibiku menuju Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, lalu bibiku berkata:

"Wahai Rasūlullāh, putra saudariku ini sedang menderita sakit."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun mengusap kepalaku lalu mendo'akan ku dengan keberkahan.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) pun berwudhū' sehingga aku bisa minum dari sisa air wudhū Beliau. Kemudian aku berdiri dibelakang Beliau sehingga aku bisa melihat cap kenabian di antara kedua pundaknya,  ternyata cap itu seperti telur burung hajalah.

Hadīts ini merupakan hadīts yang shālih. Minimal Imām Bukhāri menyebutkan sebanyak empat kali di dalam kitāb Shālihnya. Beliau menyebutkan hadīts ini dengan nomor 190, 3541, 5670 dan 6352.

Dan Imām Muslim juga meriwayatkan hadīts ini dengan nomor 2345, sehingga kita simpulkan bahwa hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh (muttafaqun 'alayhi).

Kemudian kita akan mencoba mengambil beberapa pelajaran dari hadīts tersebut.

Di antaranya:

(( سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ , يَقُولُ))

⑴ Aku mendengar Sāib Ibnu Yazid berkata:

Sāib Ibnu Yazid, beliau adalah seorang shahābat yang lahir pada tahun 2 (dua) Hijriyyah, beliau juga meriwayatkan beberapa hadīts.

Dalam Shahīh Al Bukhāri bisa ditemukan setidaknya lima hadīts dan dalam Shahīh Muslim satu hadīts.

(( ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ))

⑵ Bibiku membawaku kepada Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ibnu Hajar rahimahullāh berkata:

"Aku tidak menemukan sebuah referensi yang menyebutkan nama bibinya."

Para ulamā mengatakan, jika Ibnu Hajar rahimahullāh sudah mengatakan tidak menemukan nama seseorang dari sebuah hadīts maka kita tidak perlu mencarinya karena kita akan susah mencarinya, bahkan kita tidak akan mungkin menemukannya, karena banyaknya referensi-referensi Ibnu Hajar di dalam mensyarah kitāb Shahīh Al Bukhāri.

Kemudian lafazh hadīts tersebut:

(( يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ ))

⑶ (Kemudian bibiku berkata:) "Wahai Rasūlullāh, anak saudariku ini sedang sakit."

Sebagian ulamā mengatakan bahwa sakit yang diderita oleh As Sāib berada pada kakinya, hal itu berdasarkan hadīts Shahīh Al Bukhāri.

Namun sebagian ulamā lain mengatakan bahwa sakitnya berada pada kepala As Sāib radhiyallāhu ta'āla 'anhu. Berdalīlkan karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengusap kepala beliau sebagaimana di sebutkan di dalam hadīts ini.

Dan sebagian yang lain mengatakan antara sakit kaki dan kepala, tidak ada pertentangan padanya. Keduanya bisa disatukan, mungkin sakit pada kaki beliau memberikan rasa sakit kepada badan yang lainnya hingga kepala beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhu).

(( فَمَسَحَ رَأْسِي))

⑷ "Kemudian beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengusap kepalaku."

Sebagaimana telah berlalu penjelasannya, sebagaian ulamā menggunakan lafazh ini untuk menyatakan bahwa sakit yang diderita oleh As Sāib berada pada kepala beliau dan telah kita sampaikan antara pendapat yang menyatakan bahwa beliau sakit kaki ataupun sakit kepala bisa digabungkan dan tidak saling bertentangan.

Usapan seorang dewasa kepada kepala anak kecil memberikan rasa kasih sayang, perasaan dekat dan ketenangan dan ini sangat memberikan efek yang baik bagi seorang yang sakit tentunya.

(( وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ))

⑸ "Lalu beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mendo'akan ku dengan keberkahan:"

Para ulamā menerangkan bahwa berkah adalah tergapainya kebaikan dengan selalu bertambah dan berkembang.

Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akannya dengan mengatakan: بارك الله فيك (demoga Allāh memberkahimu).

Dan do'a ini dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga beliau tetap segar bugar hingga akhir hayatnya, sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhu) tetap segar bugar dan seluruh fungsi pendengaran serta penglihatannya dalam keadaan optimal hingga beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhu) berumur 94 tahun. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahīh Bukhāri nomor 3540.

Dan beliau (radhiyallāhu ‘anhu) menyampaikan bahwa sebab kekuatan, kebugaran dan kesehatan beliau karena do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karena itu hendaknya kita berusaha bersemangat untuk melakukan sesuatu yang ada do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam padanya.

Kita ambil contoh (misalnya):

√ Membangunkan suami /istri untuk bangun malam kemudian shalāt.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan mereka dengan rahmat:

"Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla  merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari dan shalāt kemudian membangunkan istrinya, jika ia enggan ia percikan air pada wajah istrinya."

"Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla merahmati seorang istri yang bangun malam hari lalu shalāt kemudian membangunkan suaminya, jika ia engan maka ia percikan air pada wajah suaminya."

Dan hadīts-hadīts lain yang semisal dengan hadīts ini.

Pada intinya hendaknya kita bersemangat untuk meraih do'a Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, karena do'a beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah do'a mustajābah.

(( وَتَوَضَّأَ ))

⑹ "Lalu beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) berwudhū."

Sebagian ulamā mencoba mencari sebab wudhū Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Sebagian mengatakan bahwa wudhū Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah murni wudhū untuk menghilangkan hadats, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa wudhū Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ini sengaja agar shahābat As Sāib radhiyallāhu ta'āla 'anhu bisa mengambil bārakah dari air wudhū yang Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) gunakan.

Dan tabarruk (mencari berkah) dari tubuh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam merupakan sesuatu yang diperbolehkan dan ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, tidak bisa diqiyāskan kepada yang lainnya.

(( فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ))

⑺ "Lalu aku minum dari bekas air wudhū beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam)."

Sebagaimana telah berlalu bahwa mencari keberkahan dari tubuh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam (air ludah, keringat, rambut, sisa air wudhū yang beliau gunakan) merupakan hal yang diperbolehkan.

Dan dalam hadīts ini shahābat Sāib radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau mencari bārakah dengan minum bekas air wudhū dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan sekali lagi, ini merupakan kekhususan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

(( وَقُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ))

⑻ "Kemudian aku berdiri di belakang beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam)."

Mungkin beliau melakukan ini karena alasan adab, ada juga yang mengatakan bahwa beliau (Sāib radhiyallāhu ta'āla 'anhu) sengaja berdiri dibelakang Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dengan tujuan untuk melihat cap kenabian dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

(( فَنَظَرْتُ إِلَى الْخَاتَمِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ))

⑼ "Aku pun melihat cap kenabian berada di antara dua pundak beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam)."

Ketika mengatakan ini beliau (Sāib radhiyallāhu ta'āla 'anhu) tidak memaksudkan bahwa cap kenabian berada ditengah-tengah, karena dalam riwayat lain cap kenabian ini lebih dekat kepada pundak kiri (maksudnya dibelakangnya).

Dan sebagian ulamā mencoba mencari hikmah kenapa cap kenabian dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini berada dibelakang pundak kiri.

Sebagian mengatakan tujuannya agar lebih dekat dengan jantung, ada juga yang mengatakan tujuannya untuk menutup pintu masuk syaithān, karena tempat tersebut di sinyalir sebagai tempat masuk syaithān ke dalam tubuh, Wallāhu Ta'āla A'lam

(( فَإِذَا هُوَ مثل زِرِّ الْحَجَلَةِ ))

⑽ "Ternyata cap kenabian itu seperti telur burung hajalah,"

Telur burung hajalah besarnya hampir sama dengan telur burung merpati, sehingga pada pembahasan ini kita bisa mengambil kesimpulan.

Bahwasanya:

① Cap kenabian berada di antara pundak Beliau, namun tidak di tengah-tengah dan lebih dekat dengan pundak kiri.

② Ukuran cap kenabian ini kurang lebih seperti telur burung merpati.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawāb.


🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_________________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam.

📱Silakan konfirmasi via WhatsApp
0878-8145-8000

📝 Format Donasi :
Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal

__________________


Senin, 18 Februari 2019

Halaqah 15 | Kesimpulan

by Rory Rachmad  |  in Syamail Muhammadiyah at  18 Februari
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 27 Rabi’ul Awwal 1440 H / 05 Desember 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 15 | Kesimpulan
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-15
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, KESIMPULAN


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد


Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita telah membaca hadīts -hadīts yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam kitāb Asy Syamāil dari hadīts nomor  1 hingga nomor 15.

Setelah kita membaca hadīts-hadīts tersebut dapat kita simpulkan beberapa hal diantaranya :

√ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah seorang yang memiliki tinggi ideal (tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, akan tetapi lebih dekat dengan ketinggian).

√ Kulit Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam putih kemerahan, rambut Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sedikit bergelombang, dan saat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal uban Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak lebih dari dua puluh helai.

√ Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam juga memiliki mulut yang relatif besar.

⇒ Kata para ulamā itu menunjukan akan kefasihan yang Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam miliki.

√ Putih Mata Beliaupun ada sedikit warna merahnya, sebagian shahābat mengatakan bahwa wajah Beliau seperti bulan, dalam bentuk dan pancaran sinarnya bukanlah seperti pedang, walaupun sebagian ulamā mengatakan bahwa wajah Beliau tidak bundar seratus persen.

√ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun juga seorang yang kuat dan perkasa, dada Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bidang (luas), persendian Beliau besar, bahkan kepala Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam juga besar.

Saat berjalanpun Beliau berjalan cukup cepat, seakan-akan sedang berjalan menurun.

Terkadang rambut Beliau mencapai pundak terkadang sampai pada daun telinga, dengan tumit yang tidak banyak dagingnya. Setiap orang yang memangdangnya akan merasa sejuk dan bahagia.

Demikian sifat-sifat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam yang bisa saya rangkungkan dari hadīts-hadīts yang dinyatakan shahīh oleh sebagian ulamā.

Dan pembahasan sifat-sifat fisik Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, akan bermanfaat bagi seseorang ketika ia bermimpi atau saat nanti diakhirat.

Jika  ia melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan ciri-ciri tersebut maka orang tersebut telah benar-benar melihat Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Akan tetapi, jika ada orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam lalu ciri-ciri yang disebutkan tidak sama dengan hadīts-hadīts shahīh yang kita perlajari atau orang tersebut hanya mengatakan:

"Saya bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam mimpi dan Beliau berbentuk seperti cahaya dan mengatakan perkataan seperti ini.'

Maka kita katakan kepada orang tersebut bahwa, "Ia tidak bermimpi bertemu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, bisa saja ia bertemu dengan syaithān yang mengaku dengan nabi."

Lalu jika ada yang bertanya, setelah pembahasan-pembahasan yang dilalui ini, "Bagaimana dengan sifat-sifat beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadīts-hadīts yang dhaif?"

Kita katakan bahwa sifat-sifat beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam yang teriwayatkan dalam hadīts dhaif, tetap kita fahami dan kita hafalkan, namun kita tidak tidak bisa memastikan kebenarannya 100%.

Yang bisa kita katakan adalah, "Mungkin atau boleh jadi atau bahasa-bahasa yang semisalnya".

Dan sebagaimana telah lalu penjelasannya, bahwa selain halal dan haram serta hukum-hukum agama, para ulamā hadīts sedikit memberikan kelonggaran dalam meriwayatkan hadīts.

Kemudian dalam pertemuan selanjutnya kita akan membaca hadīts-hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang berada pada punggung Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana bentuknya, apa wujudnya, dimanakah tempatnya dan apa warnanya?

Al Imām At Tirmidzī memberikan judul untuk pembahasan tersebut dengan mangatakan:

بَابُ مَا جَاءَ فِي خَاتَمِ النُّبُوَّةِ

_"Bab yang menyebutkan riwayat-riwayat tentang khātam atau cap kenabian"_

Dalam bab ini, Al Imām At Tirmidzī akan membawakan sekitar delapan hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian ini.

Dari delapan hadīts ini, tujuh hadīts dihukumi shahīh atau kuat oleh sebagian ulamā, dan satu hadīts yang lainnya dihukumi dhaif dengan dua sebab yang menjadikan hadīts tersebut dhaif.

Untuk pembahasan rincinya, in syā Allāh akan kita bahas pada pertemuan selanjutnya.

Wallāhu A'lam Bishawāb

Semoga bermanfaat.

🖋 Akhukum Fillāh, Ratno
Dikantor Bimbingan Islām Yogyakarta

_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :

• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*

📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*

▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...


Proudly Powered by Abu Uwais.