https://pontrenisbatam.wordpress.com/

Selasa, 03 April 2018

Kajian 99| Perkara Yang Membatalkan Puasa

by Rory Rachmad  |  in Matan abu syuja' at  Selasa, April 03, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 15 Rajab 1439 H / 02 April 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | KITĀBUSH SHIYĀM (كتاب الصيام)
🔊 Kajian 99| Perkara Yang Membatalkan Puasa
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H099
〰〰〰〰〰〰〰

*PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد


Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Alhamdulilāh, segala puji bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang membuat kita tetap istiqāmah di dalam menuntut ilmu. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memasukan kita ke dalam surga-Nya, Āmīn.

Kita lanjutkan pembahasan kita dalam matan Abī Syujā' terkait dengan fiqih puasa. Dan kita masuk kepada perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Berkata penulis rahimahullāh:

((والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء: ما وصل عمدا إلى الجوف والرأس,  والحقنة في أحد السبيلين,  والقيء عمدا,  والوطء عمدا في الفرج, والإنزال عن مباشرة, والحيض والنفاس,  والجنون والإغماء كل اليوم والردة))

"Dan perkara-perkara yang membatalkan puasa seseorang ada 10 (sepuluh) macam: sesuatu yang masuk secara sengaja baik baik ke dalam rongga perut ataupun kepala, memasukan sesuatu dari kedua lubang baik depan maupun belakang (dubur maupun qubul),  muntah secara sengaja, berhubungan secara sengaja di dalam farajnya, baik dihalal maupun harām, keluar mani karena bersentuhan, hāidh dan nifās, orang yang gila, orang yang pingsan dikeseluruhan harinya, murtad."

ما وصل عمدا إلى الجوف والرأس

(1) Sesuatu yang masuk secara sengaja baik baik ke dalam rongga/perut (الجوف) ataupun kepala.

 والحقنة في أحد السبيلين

(2) Memasukan sesuatu dari kedua lubang baik depan maupun belakang (dubur maupun qubul).

Dua hal ini intinya adalah memasukan dari luar sesuatu ke dalam hal-hal yang tadi disebutkan (perut, kepala, dubur dan qubul). Oleh karena itu seperti makan dan minum memasukan barang sesuatu dari luar ke dalam (seperti infus) dengan tujuan menguatkan, ini membatalkan puasa.

⇒ Intinya adalah memasukan sesuatu dari luar ke dalam tubuh seseorang membuat puasa seseorang menjadi batal.

 والقيء عمدا

(3) Muntah secara sengaja.

Sebagaimana telah disebutkan di dalam hadīts yang telah lalu;

“Barangsiapa yang sengaja untuk berpuasa maka hendaknya dia mengfantikan.”

(Artinya) puasanya batal dan harus diqadhā pada saat setelah selesai.

 والوطء عمدا في الفرج

(4) Berhubungan secara sengaja di dalam farajnya, baik dihalal maupun harām.

والإنزال عن مباشرة

(5) Keluar mani karena bersentuhan.

Bila seorang suami atau istri bersantuhan, memegang atau berciuman kemudian menyebabkan keluar maninya, maka inipun membatalkan puasa, baik yang halal maupun yang harām.

Ataupun seorang yang sengaja mengeluarkan maninya baik laki-laki maupun perempuan, secara halal maupun secara harām baik sendirian maupun bersama-sama maka ini juga membatalkan puasa seseorang.

والحيض والنفاس

(6) Hāidh dan

(7) Nifās

Hāidh dan nifās termasuk perkara-perkara yang membatalkan puasa seseorang, apabila seorang sedang berpuasa tiba-tiba keluar hāidh maka dia batal puasanya.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, tatkala ditanya oleh Muadz, beliau mengatakan:

مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِي الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ . قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ .

"Kenapa orang yang hāidh, dia harus mengqadhā' puasanya, sementara dia tidak mengqadhā' shalātnya?"

Maka Āisyahpun mengatakan, "Apakah kamu orang Haruriyyah (orang khawarij, orang khawarij biasanya menakar syari'at dengan aqal)?"

Orang itupun menjawab:

“Saya bukan orang Haruriyyah, saya hanya bertanya.

Kemudian Āisyah menjawab, "Hal itupun pernah kami alami, maka kamipun diperintahkan untuk mengqadhā (mengganti) puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalāt." (Hadīts riwayat Imām yang lima)

Ini pertanyaan keheranan, kenapa orang hāidh harus mengganti shaumnya sedangkan shalāt (yang merupakan rukun yang kedua) tidak di qadhā'?

(8) Orang yang gila ( والجنون)

Orang yang puasa kemudian dia menjadi gila maka puasanyapun menjadi batal, karena dia sudah keluar dari daerah (area taklif) pembebanan kewajiban, maka tidak wajib lagi bagi dia untuk melaksanakan ibadah puasa.

(9) Orang yang pingsan dikeseluruhan harinya (والإغماء كل اليوم)

Orang yang puasa dan dia pingsan seharian (dari awal sampai akhir) maka para ulamā mengatakan puasanya batal.

Akan tetapi dia pingsan disebagian hari maka puasanya sah, begitu juga orang yang tidur sebagian ulamā mengatakan orang yang tidur dari pagi sampai selesai (maksudnya) dari terbit fajar yang kedua sampai tengelam matahari dia tidur (misalnya) maka puasanya tidak sah karena di qiyaskan dengan orang yang pingsan. Tetapi sebagian mengatakan puasanya tetap sah.

Apabila seorang tidur disebagian harinya walaupun dia hanya bangun beberapa menit saja maka ijmā' para ulamā puasanya tetap sah.

(10) Ar Riddah (والردة) (seorang yang keluar dari Islām / murtad).

Tatkala dia puasa kemudian dia murtad maka puasanya batal walaupun kemudian dia kembali lagi masuk Islām maka puasanya dianggap batal dan harus diganti dengan hari yang lain, apabila dia kemudian masuk kembali Islām.

Demikian yang dapat disampaikan pada materi kali ini semoga bermanfaat.

Kita akan lanjutkan pada materi berikutnya pada pertemuan berikutnya (in syā Allāh).

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
_____________________



Halaqah 006| Hadits 06

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 13 Rajab 1439 H / 31 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 006| Hadits 06
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H006
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 6*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-6 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Pada pertemuan kita kali ini, kita akan membahas hadīts ke-6, yaitu hadīts dari Abdullāh bin 'Amr radhiyallāhu ta'āla 'anhumā.

Beliau mengatakan, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 " الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ "

"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat dari kejahatan lisan dan tangannya dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara-perkara yang Allāh larang." (Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Imām At Tirmidzī dan An Nassā'i menambahkan dalam riwayat yang lain:

والمؤمن من أمنه الناس على دمائهم وأموالهم

"Seorang mukmin adalah orang yang manusia merasa aman atas darah dan harta mereka dari kejahatan dirinya."

Imām Baihaqī menambahkan:

والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله

"Dan seorang mujāhid adalah orang yang melawan dirinya di dalam mengerjakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Hadīts ini menjelaskan tentang kesempurnaan Islām, imān, hijrah dan jihād, sebagaimana penulis di sini menjelaskan bahwa Islām yang hakiki adalah:

الاستسلام الله، وتكميل عبوديته والقيام بحقوقه،

"Menyerahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Serta menyempurnakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Serta menunaikan hak-hak Allāh dan juga hak-haknya (kaum muslimin)."_

Sehingga tidak sempurna Islām sampai dia mencintai kaum muslimin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Dan itu tidak akan bisa terealisasi kecuali apabila kaum muslimin merasa selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan hakikat seorang muslim yang haqiqi (sempurna) adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat atau mendapatkan keselamatan dari kejahatan tangan dan lisannya.

Kemudian beliau menjelaskan tentang seorang mukmin yaitu orang yang manusia merasa aman atas darah dan harta mereka dari dirinya.

Beliau katakan yang demikian itu karena imān itu apabila telah melekat dan memenuhi hati seseorang maka keimānan tersebut akan menjadikan orang tersebut menunaikan hak-hak keimānan, yaitu menjaga amanah juga jujur dalam bermuamalah serta memiliki sifat wara' (kehati-hatian), merasa waspada kalau-kalau dia menzhālimi orang lain.

Maka orang yang memiliki sifat seperti ini, maka manusia akan merasa aman dari dirinya.

Adapun tentang hijrah maka beliau sebutkan bahwasanya hijrah yang disebutkan di dalam hadīts ini adalah hijrah yang wajib bagi setiap muslim.

Yang maknanya adalah:

هجرة الذنوب والمعاصي

"Meninggalkan dosa-dosa dan kemaksiatan."

Maka yang seperti ini adalah hukumnya wajib, bagi setiap orang di dalam keadaan apapun. Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengharamkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.

Kemudian tentang mujāhid maka beliau sampaikan di sini bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan bahwa seorang mujāhid adalah orang yang melawan hawa nafsunya di dalam melakukan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Yang demikian itu karena jiwa ini cenderung kepada sifat malas untuk mengerjakan kebaikan serta senantiasa mengajak kepada perkara yang buruk dan sangat cepat terpengaruh apabila dia ditimpa satu musibah.

Maka yang demikian ini butuh kepada kesabaran dan butuh kepada jihād agar dia senantiasa berada di atas ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Maka ini adalah jihad yang wajib bagi setiap muslim.

Yaitu:

مجاهدة نفسه عن معاصي الله

"Dia melawan hawa nafsunya agar tidak bermaksiat kepada Allāh serta melawan hawa nafsunya agar dia sabar di dalam menjalankan keta'atan serta sabar di dalam menghadapi musibah."
Maka beliau menjelaskan:

فهذا الحديث من قام بما دل عليه فقد قام بالدين كله: من سلم المسلمون من لسانه ويده، وأمنه الناس على دمائهم وأموالهم، وهجر ما نهى الله عنه، وجاهد نفسه على طاعة الله

_Barangsiapa dia merealisasikan hal-hal yang yang disebutkan dalam hadīts ini, maka dia sungguh telah menjalankan agama secara keseluruhan, yaitu:

(1) Dia menjadikan kaum muslimin mendapatkan keselamatan dari kejahatan tangannya dan lisannya.

(2) Serta dia menjadikan manusia merasa aman atas darah dan juga harta mereka.

(3) Kemudian dia berhijrah dari perkara-perkara yang telah Allāh larang.

(4) Dia melawan hawa nafsunya agar senantiasa berada di atas keta'atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan kembali pada halaqah berikutnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________


Metode Belajar Para Ulamā Salaf

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  Selasa, April 03, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 06 Rajab 1439 H / 24 Maret 2018 M
📝 Materi Tematik | Metode Belajar Para Ulamā Salaf
_____________________

*METODE BELAJAR PARA ULAMĀ SALAF*


Tidak sedikit orang yang merasa sudah lama belajar namun ilmu yang ia peroleh belum mengurangi dahaganya. Masih banyak masalah-masalah pokok yang belum ia mengerti.

Terkadang ada yang tertipu (salah paham) dengan sebuah ungkapan Imām Asy Syāfi'i, bahwa menuntut ilmu diperlukan waktu yang cukup lama. Padahal problem yang ia hadapi bukan terletak pada permasalahan waktu.

Betapa kita menyadari bahwa sekedar mengerti Bahasa Arab saja belumlah memadai untuk menguasai ilmu syari'. Ia baru merupakan salah satu pokok mengerti syari'at Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Sudah demikian, malakah (baca: kecakapan) berbahasa Arab pun tak seberapa mencukupi. Terbukti dengan adanya sejumlah materi Bahasa Arab yang masih jauh dari gambaran atau malah namanya saja tidak tahu.

Paling tidak, sharaf dan nahwu harus betul-betul dikuasai oleh seorang pembelajar sehingga dalam membaca dan menulis tidak lagi keliru.

Ketahuilah bahwa ketika Anda sudah merasa mampu membaca kitāb-kitāb fatwa untuk memecahkan problem kemasyarakat, bukan maknanya Anda sudah menjadi ustadz.

Sebab orang yang rujukannya fatwa-fatwa praktis atau pendapat rajīh dalam setiap permasalahan yang dihadapi atau ditanyakan padanya, menunjukkan ia tidak memiliki malakah fiqih.

Seharusnya ia bisa mencari sendiri dalam kitāb-kitāb fuqahā', mengumpulkan komentar para ulamā, serta dalīl-dalīl mereka lalu kemudian menganalisis masing-masing pendapat itu.

Sayangnya kawan-kawan penuntut ilmu terlalu puas dengan sebuah produk instan daripada menghasilkan produk sendiri.

Sudah begitu ia sudah berani mengelilingi mimbar-mimbar masjid serta mengobral fatwa secara serampangan.

Padahal ia tak lebih dari predikat orang awam. Kalau sekedar membaca fatwa berbahasa Arab, apa bedanya ia dengan orang awam yang membaca buku-buku fatwa versi terjemah?! Toh hasilnya sama.

Sehingga orang model di atas masih dikategorikan sebagai muqallid meski orang yang dia taqlīd kepadanya membawakan dalīl-dalīl dari Al Qur'ān dan As Sunnah Ash Shahīhah.

Kenapa demikan?

Sebab boleh jadi ia tidak mengerti cara pendalīlan ulamā yang diikutinya.

Sedangkan segi pendalīlan ini tidak kalah penting dari membaca dalīl itu sendiri.

Dan pintar membaca dalīl bukan berarti benar. Masih diperlukan ilmu pengambilan hukum dari dalīl itu.

Kalau sekedar membaca dalīl sudah dikategorikan orang hebat, tentu tidak ada orang di muka bumi ini yang sesat.

Sebab baik Mu'tazilah, Khawarij, Murji'ah dan bahkan Liberal pun masing-masing pandai membaca dalīl.

Oleh sebab itu jangan berbangga dahulu apabila baru sekadar bisa membaca kitāb walau inipun sangat perlu disyukuri.

Jika demikian, bagaimanakah metode belajar para ulamā salaf?

Secara ringkas, metode belajar yang benar dapat ditempuh dengan cara tadarruj. Ini adalah metode belajar yang disepakati oleh semua orang.

Dalam pembahasan ini akan penulis contohkan belajar fiqih.

Metode Belajar Fiqih Para ulamā

(1) Dimulai dengan kitāb ringkas (matan) tanpa dalīl.

Para ulamā menyebutkan, sebagaimana yang disinggung oleh Syaikh Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithi dan Syaikh Abdussalam Asy Syuwai’ir, bahwa pembelajar harus memulai dari kitāb ringkas (matan) tanpa dalīl.

Kewajibannya hanyalah membacanya berulang kali dan jika memungkinkan menghafalnya.

(2) Memahami dalīl dari tiap bagian dalam kitāb matan.

Langkah berikutnya setelah berulang kali membaca dan mengerti maksud matan tersebut, membaca dalīl-dalil dari setiap masalah yang terkadung dalam matan tersebut.

Sangat tidak disarankan dalam jenjang ini masuk dalam area khilāf ulamā.

Problem sebagian orang pelajar pemula, membandingkan fatwā ustadz-ustadz yang ia jumpai.

Sesekali bertanya ulamā A, esoknya bertanya kepada ustadz/ulamā B dalam masalah yang sama. Inilah yang kemudian yang menyebabkan keberkahan hilang.

(3) Bersabar dalam satu pendalīlan terlebih dahulu

Kemudian seyogyanya seorang thālib membuang rasa terlalu percaya diri. Sehingga manakala ia masih pada jenjang matan, sekali-kali tidak pergi ke kitāb-kitāb perbandingan madzhab macam Al Majmu’, Al Mughni, atau mungkin Shahīh Fiqh As Sunnah.

(4) Memilih kitāb matan yang umum diajarkan di daerah asal.

Berkaitan dengan kitāb matan apa yang dipilih, Asy Syuwa’ir menyarankan kitāb matan yang terkenal di negeri tempat tinggal pelajar agar ulamā setempat dapat menjelaskan kepadanya.

Dalam kontek Indonesia, Matan Al Ghayah wa At Taqrib karya Al Qadhi Abu Syujā' bisa dijadikan pilihan.

(5) Belajar mulai dari madzhab yang umum digunakan.

Jika ada yang bertanya, apakah boleh konsisten dengan satu madzhab tertentu?

Syaikh Asy Syinqithi menyatakan bahwa memegang satu madzhab adalah jalan salaf shālih.

Oleh karena itu, seyogyanya kita berjalan sebagaimana mereka berjalan. Kita mengambil dari mana mereka mengambil.

Tidak ada seorang ulamā hebat pun melainkan membaca satu madzhab tertentu. Sementara orang-orang yang mempermasalahkan madzhabiyyah, kalau ditanya tentang madzhab-madzhab ulamā pasti ia paling bodoh akan madzhab-madzhab itu.

Pepatah mengatakan, "Orang yang tidak mengerti sesuatu, maka ia akan memusuhi sesuatu tersebut."

Tidak menutup kemungkinan orang-orang yang melarang bermadzhab hanya ingin menutupi kejāhīlan dan kebodohannya dengan melarang orang-orang disekelilingnya dari belajar melalui satu madzhab.

Jangan disangka matan-matan ringkas ini tak bersandar Al Qur'ān dan As Sunnah. Padahal siapa pun tahu matan-matan itu sudah berusia tua, sudah berabad-abad lamanya.

Apa akan ada orang belakangan ini yang mengatakan kitāb-kitāb itu bagian dari kemungkaran sedangkan sudah sekian lama ulamā-ulamā sebelumnya diam dari kemungkaran tersebut?

Tidak pula mengingatkan umat?

Artinya kita lebih memiliki kesadaran daripada ulamā-ulamā sebelum kita?

Jika demikian, kita adalah bagian orang yang tidak mengerti kadar keulamāan salaf.

Kalau ada yang bertanya lagi, kenapa harus menempuh satu madzhab dalam manhaj belajar fiqih?

Sebab masing-masing madzhab memiliki satu suara pendapat yang dikenal dengan pendapat muktamad. Ketika kita belajar dari kitāb matan, kemudian ke kitāb yang agak berbobot dalam lingkaran madzhab yang sama, maka apa yang kita peroleh pendapat sebelumnya akan dikuatkan dalam kitāb berikutnya.

Sementara orang yang belajar tidak melalui madzhab tertentu, maka apa yang ia pelajari dari kitāb sebelumnya akan diruntuhkan oleh kitāb yang ia pelajari sekarang.

Karena masing-masing penulis kitāb itu memiliki pendapat yang tidak sewarna. Akhirnya ia akan bingung karena dia seorang pemula.

Demikian, in syā Allāh artikel selanjutnya akan disampaikan referensi kitāb dalam belajar 'Aqidah dan Fiqih.

'Aqidah sebagai ilmu dasar keyakinan seorang muslim dan Fiqih sebagai ilmu dasar dalam seorang muslim beramal sehari-hari. Wallāhu A'lam.


🖋 Ustadz Firman Hidayat Marwadi
______________________

🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
-------------------------------------


Senin, 02 April 2018

Halaqah 005| Muqaddimah - Muqaddimah Penulis Kitab (Bagian 02)

by Rory Rachmad  |  in ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah at  Senin, April 02, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 05 Rajab 1439 H / 23 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 005| Muqaddimah - Muqaddimah Penulis Kitab (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H005
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB  (BAGIAN 2)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita telah sampai di halaqah yang ke-5 dari kitāb "Al 'Aqidah Al Wāsithiyah" (العقيدة الواسطية), kita telah sampai pada muqaddimah yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitābnya.

Pada halaqah sebelumnya beliau membuka kitāb ini dengan: بسم اللّه الرحمن الرحيم, maka pada halaqah ini kita lanjutkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah di dalam pembukaan kitāb ini (العقيدة الواسطية).

Beliau rahimahullāh berkata:

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا

"Segala puji bagi Allāh, yang telah mengirim rasūl-Nya, dengan ilmu dan agama atau dengan amal shālih untuk mengangkat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, mengangkatnya di atas seluruh agama-agama yang ada dan cukuplah Allāh sebagai saksi."

Di sini Ibnu Taimiyyah memulai setelah mengucapkan basmallāh beliau melanjutkan dengan hamdallāh.

⇒ Alhamdulilāh artinya Segala puji bagi Allāh 'Azza wa Jalla.

Setiap perkataan atau perbuatan yang berkenaan dengan pujian, maka ketika kita mengucapkan alhamdulilāh maka seluruhnya dihaturkan kepada Allāh 'Azza wa Jalla.

Jadi cukup kita mengucapkan "Alhamdulilāh" maka segala pujian yang ada di dunia ini bagaimanapun bentuknya, perkataannya, maka itu dihaturkan (sudah dicakup) dengan alhamdulilāh.

Membuka sebuah kitāb atau ceramah dengan alhamdulilāh, memiliki dasar hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

كل أمرٍ ذي بال لا يبدأ فيه: بالحمد لله فهو أقطع

"Segala urusan yang tidak dimulai dengan alhamdulilāh maka dia terputus."

(Hadīts hasan riwayat Abū Dāwūd nomor 1394 dan yang lainnya)

Apa maksud terputus?

Maksudnya tidak ada berkahnya atau berkahnya hilang (terputus) dan sebagainya. Maka sunnah untuk memulai tulisan, ceramah dan lainnya selain dengan "Basmallāh" yaitu dengan "Alhamdulilāh".

Kita mengatakan Alhamdulilāh memuji Allāh karena sifat-sifat dan nama-nama-Nya dan juga karena nikmat yang Allāh berikan kepada kita.

Dan salah satu nikmat yang Allāh berikan sebagaimana yang diucapkan oleh (ditulis) oleh Ibnu Taimiyyah disini adalah:

الذي أرسل رسوله بالهدى

"Segala puji bagi Allāh yang telah mengutus rasūlnya dengan ilmu."

Maksud بالهدى adalah hidayah atau ilmu-ilmu yang bermanfaat, (seperti) hadīts atau khabar Nabi tentang hari kiamat atau bagaimana Nabi mengajarkan kita shalāt. Ini semua adalah Hudā (هدى).

Jadi, Allāh mengutus Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak cukup dengan ilmu saja tetapi dengan ilmu yang bermanfaat dan juga dengan amal shālih (دين الحق).

ليظهره على الدين كله 

Allāh mengangkat (meninggikan) Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari segala agama.

Jadi tidak ada lagi agama yang lebih tinggi dari agama yang dibawa oleh Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam. Semua agama sudah dihapus dan semua orang wajib untuk beragama Islām (wajib untuk mengimāni Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam).

وكفى بالله شهيدا

Dan cukuplah Allāh sebagai saksi (bagi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Inilah pembukaan setelah Basmallāh yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah, in syā Allāh pembukaan berikutnya beliau akan memulai dengan syahadat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan juga kepada Rasūl Nya.

In syā Allāh akan kita lanjutkan dihalaqah berikutnya.

Demikian.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________



Halaqah 004| Muqaddimah - Muqaddimah Penulis Kitab

by Rory Rachmad  |  in ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah at  Senin, April 02, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 04 Rajab 1439 H / 22 Maret 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 004| Muqaddimah - Muqaddimah Penulis Kitab
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H004
〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADDIMAH;  MUQADDIMAH PENULIS KITAB (BAGIAN 1)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita kembali lagi pada kajian kitāb "Al 'Aqidah Al Wāsithiyah" (العقيدة الواسطية) yang sekarang memasuki halaqah ke-4.

Pada halaqah yang lalu telah disampaikan garis besar bahasan kitāb Al 'Aqidah Al Wāsithiyah yang dikarang oleh Imām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan masuk pembahasan apa yang dibahas oleh Imām Ibnu Taimiyyah.

Sahabat BiAS sekalian,

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di awal bukunya berujar:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Syaikhul Islām Ibnu dalam pembukaannya memulai dengan:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Sebelum kita melangkah lebih lanjut membaca muqaddimah yang akan disampaikan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh maka pada halaqah kali ini kita sempatkan dahulu untuk membahas arti dari:

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Bismillāhirrahmānirrahīm

Sebagaimana yang sudah tidak asing lagi bagi kita, sering kita baca atau dengar dengan artian, "Dengan menyebut nama Allāh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Itu adalah tafsiran atau terjemahan secara umum. Kita sedikit mendalami tafsiran ini, kita mulai dari "Bismillāh".

"Bismillāh" dalam artian "Dengan nama Allāh", tentu kalau kita mengartikan dengan nama Allāh, maka kalimatnya tidak sempurna, harus ada yang menyempurnakannya.

Misalnya:

Orang mengatakan, "Dengan sendok."

Kita tidak paham apa yang dia maksud "dengan sendok". Kita akan paham ketika kalimatnya menjadi, "Saya makan dengan sendok," atau, "Dengan perantara sendok," dan sebagainya.

Begitu pula dengan "Bismillāhirrahmānirrahīm", yang kalau kita artikan secara harfiah (leterlex) maka artinya adalah "Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm".

Maksud dari "dengan nama Allāh" disini adalah "dengan nama Allāh saya memulai aktifitas saya".

Maka ketika Ibnu Taimiyyah meletakkan "Bismillāhirrahmānirrahīm" di dalam muqaddimah kitāb ini, berarti: "Dengan menyebut nama Allāh yang Rahmān dan Rahīm, maka saya memulai kitāb ini."

Dengan demikian Ibnu Taimiyyah meminta pertolongan Allāh 'Azza wa Jalla dalam menulis kitāb ini, karena manusia satu detikpun dia tidak bisa lepas dari taufīq dan bantuan Allāh 'Azza wa Jalla.

Tindakan Ibnu Taimiyyah memulai kitābnya dengan "Bismillāhirrahmānirrahīm" merupakan (mencontoh) dari Al Qur'ānul Karīm yang dimulai dengan "Bismillāhirrahmānirrahīm".

Begitu pula dengan mencontoh surat-surat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang dikirimkan kepada raja-raja yang dimulai dengan "Bismillāhirrahmānirrahīm".

Selanjutnya arti lafadz Jalallāh ("Allāh" Subhānahu wa Ta'āla).

Artinya adalah dzat yang memiliki hak (patut) untuk diibadahi. Sebagaimana perkataan Ibnu 'Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Selanjutnya Ar Rahmān Ar Rahīm.

Sering kita dapati yang diartikan "Maha Pengasih dan Maha Penyayang".

Namun sejatinya, kalau kita membaca (membuka) buku-buku tafsir para ulamā, maka Ar Rahmān Ar-Rahīm ini, diartikan dengan lebih dalam di dalam buku-buku tersebut.

Ulamā mengartikan Ar Rahmān Ar Rahīm ini sejatinya sama. Dia adalah nama Allāh yang menunjukkan Allāh memiliki sifat Rahmān (kasih sayang).

Namun apa yang membedakannya?

Ar Rahmān dipakai untuk menunjukkan bahwa Allāh memiliki sifat rahmāh, Allāh Maha Penyayang, Allāh memiliki sifat kasih sayang.

Ar Rahīm dipakai di dalam redaksi (kalimat-kalimat) yang menunjukkan perbuatan Allāh atau menunjukkan rahmat Allāh terhadap makhluknya.

Jadi seakan-akan: kalau Ar Rahmān itu secara Dzat, Allāh Maha Pengasih. Sedangkan Ar Rahīm, Allāh melakukan kasih sayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Kalau kita lihat di Al Qur'ān ketika menyebutkan bahwa Allāh mengasihi makhluknya maka menggunakan kata Rahīm bukan Rahmān.

Misalnya:

Firman Allāh 'Azza wa Jalla:

وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا

"Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang berimān."

(QS Al Ahzāb: 43)

⇒ Artinya Allāh mengasihi mereka, Allāh menggunakan "Rahīm" bukan "Rahmān".

Dalam ayat yang lain, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌۭ رَّحِيم

"Sesungguhnya Allāh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."

(QS Al Baqarah: 143 dan QS Al Hajj: 65)

Itulah perbedaan Rahmān dan Rahim.

Yang tentunya kenapa diartikan menjadi Maha Pengasih dan Maha Penyayang, (Wallāhu A'lam) jika diartikan secara mendalam maka akan panjang dan sulit dipahami apalagi bagi kita yang mungkin tidak terlalu paham dengan bahasa Arab.

Maka untuk memudahkan, ulamā-ulamā kita hanya mencukupkan menafsirkan Ar Rahmān Ar Rahīm dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf, in syā Allāh kita lanjutkan dihalaqah berikutnya.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________


Proudly Powered by Blogger.