PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Kamis, 29 Desember 2016

Tafsir Surat An Nashr bagian 2

by Rory Rachmad  |  at  29 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 06 Rabi'ul Awwal 1438 H / 05 Desember 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Kāfirūn, An Nashr Dan Al Lahab (Bagian 04)
📖 Tafsir Surat An Nashr bagian 02
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0204
~~~~~~~


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita lanjutkan dari tafsir Juz'amma surat An Nashr.

Surat ini dikenal dengan nama lain yaitu surat Al Taudi' (surat perpisahan).

Kenapa?

⇛ Karena setelah turun surat ini maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak lama kemudian datang ajalnya.

Oleh karenanya banyak ulamā menyatakan surat yang terakhir turun secara lengkap adalah surat An Nashr.

Memang ada ayat-ayat yang terakhir turun seperti ayat:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ

"Takutlah kalian kepada hari dimana kalian akan dikembalikan kepada Allāh." (Qs. Al Baqarah :281)

⇛ Ini termasuk ayat yang terakhir turun.

Kemudian, ada juga yang mengatakan ayat yang terakhir turun adalah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian bagi kalian dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al Māidah : 3)

⇛Tatkala ayat ini turun, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sedang berhaji (tatkala wukuf di padang Arafah).

Ini ayat-ayat yang terakhir turun, tetapi surat yang lengkap terakhir turun adalah surat An Nashr,

 إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

Oleh karenanya nama lain dari surat An Nashr adalah surat Al Taudi' yaitu surat perpisahan, karena surat ini menunjukan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam akan meninggal dunia.

Dalam satu riwayat, tatkala Umar bin Khattab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu mengumpulkan ahlul Badr (para shahābat senior), kemudian Umar bin Khattab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu juga mengajak Ibnu Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhuma untuk masuk dalam musyawarah (rapat) tersebut.

Sebagian shahābat agak heran tatkala melihat Umar membawa Ibnu Abbās.

Kenapa?

Karena Ibnu Abbās masih shahābat kecil (masih muda umurnya) sementara shahābat-shahābat lain juga memiliki anak yang hebat sebagaimana Ibnu Abbās.

Akan tetapi:

√ Ibnu Abbās memiliki kelebihan,
√ Ibnu Abbās seorang yang alim,
√ Ibnu Abbās memiliki perhatian khusus tentang tafsir Al Qurān.

Sehingga dikatakan mufasirnya para shahābat.

Tatkala dikumpulkan para shahābat senior bersama Ibnu Abbās, maka Umar bertanya kepada para shahābat senior, bagaimana menurut kalian tentang surat ini:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Maka mereka menafsirkan dengan tafsiran yang dzahir, kata mereka artinya :

√ Allāh memberikan anugerah (kemenangan) kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
√ Allāh memberikan pertolongan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Setelah itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk bertasbih dan beristighfār.

⇛ Ini dzahir dari surat An Nashr.

Kemudian Umar bertanya kepada Ibnu Abbās, "Bagaimana menurut engkau wahai Ibnu Abbās tentang surat ini?"

Maka Ibnu Abbās mengatakan, "Surat ini menunjukan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam akan meninggal dunia."

Kenapa bisa demikian?

Karena ayat ini menunjukan Islām telah jaya.

Buktinya apa?

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

√ Telah datang kemenangan
√ Telah datang pertolongan
√ Dan engkau melihat seluruh orang akan berbondong-bondong masuk Islām.

→ Kalau seluruh orang sedang berbondong-bondong masuk Islām berarti tugas Nabi sudah selesai.

→ Kalau tugas Nabi sudah selesai berarti Nabi akan meninggal dunia.

⇛ Ini merupakan pandangan yang tajam dari Ibnu Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhuma dan benar.

Oleh karenanya setelah turun surat ini kemudian tidak lama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal dunia.

Yang menakjubkan, di akhir surat ini Allāh mengatakan :

وَاسْتَغْفِرْه

"(Wahai Muhammad,) mintalah ampunan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Apakah Nabi berbuat kesalahan?

Setelah Nabi berdakwah selama 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madīnah, apakah Nabi berbuat kesalahan sehingga diperintahkan untuk beristighfār?

Jawabannya :

Ini menunjukan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tetap mengakui bagaimanapun dia beribadah kepada Allāh tidak akan bisa menyamai keagungan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Seseorang, kalau shalāt, bagaimana pun shalātnya, bagaimanapun khusyuknya tidak akan setara dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

• Allāh sungguh sangat agung.
• Allāh sungguh sangat mulia.

Apa yang kita lakukan, ibadah yang kita lakukan tidak bisa menyamai anugerah yang Allāh berikan kepada kita.

Kemudian, hal ini juga menunjukan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak ujub dan tidak bangga dengan apa yang telah dia lakukan.

Bayangkan!

23 tahun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdakwah semua yang dilakukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

• Beliau diusir dari kaumnya.
• Beliau hendak dibunuh oleh kaumnya.
• Beliau sampai menahan rasa lapar, hinaan dan cacian.

Setiap langkah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, setiap nafas Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, semua karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian setelah 23 tahun dakwah beliau berhasil akan tetapi beliau tidak pernah angkuh dan ujub.

Karenanya di akhir hayat beliau, beliau banyak beristighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Beliau akui bahwasanya bagaimanapun apa yang beliau lakukan pasti ada kekurangannya.

Oleh karenanya kita dapati setiap selesai shalāt dzikir yang pertama diucapkan oleh seorang hamba adalah Istighfār 3 (tiga) kali,

اَسْتَغْفِرُ اَلله - اَسْتَغْفِرُ اَلله - اَسْتَغْفِرُ اَلله

Karena seorang hamba sadar bagaimanapun dia shalāt tidak akan sempurna shalātnya. Dia tidak akan bisa melaksanakan perintah Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan sempurna.

Oleh karenanya, kekurangan tadi di tutup dengan I?istighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kalau Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang shalātnya luar biasa khusyuk, diperintahkan untuk beristighfār bagaimana dengan kita-kita yang shalātnya penuh dengan kekurangan?

Kalau Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang dakwahnya 23 tahun, seluruhnya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan berhasil dakwah beliau yang kita rasakan keberhasilannya hingga sekarang, diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk Istighfār, bagaimana dengan para da'i yang lain, yang terkadang dakwahnya belum tentu ikhlas, terkadang dakwahnya belum tentu benar?

Kalau dakwahnya benarpun dia  harus beristighfār kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala beliau masuk ke kota Mekkah untuk menaklukan kota Mekkah, beliau (disebutkan) masuk dengan mengendarai kendaraannya dalam keadaan tawādhū. Beliau menundukan wajah beliau. Beliau tidak masuk ke kota Mekkah dengan keangkuhan, dengan penuh kegagahan dengan menyatakan, "Wahai penduduk Mekkah, saya telah datang kalian telah mengusir saya 8 tahun lalu sekarang saya akan menundukan kalian," sama sekali tidak diucapkan oleh Nabi.

Bahkan Nabi berjalan dengan penuh tawādhū (dengan penuh kerendahan). Sampai-sampai disebutkan dagu beliau hampir mengenai pelana tunggangan beliau, karena beliau  tahu bahwasanya seluruhnya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tidak ada ujub dalam diri beliau, tidak ada merasa bahwasanya beliau punya peran (andil), semuanya diatur oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan ini merupakan contoh bagi kita terutama para da'i, agar tidak pernah ujub, bangga dengan keberhasilan dakwahnya.

Lihat ! Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam 23 tahun berdakwah diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk beristighfār.

Setelah turun surat ini Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memperbanyak Istighfār.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

Beliau membaca doa ini tatkala ruku dan sujud.

Ini diantara dzikir sujud dan ruku yang bisa dibaca bagi orang yang sedang shalāt.

Demikianlah yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini, In syā Allāh kita lanjutkan dengan tafsir surat yang lain.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 __________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


© 2020 Copy Right Abu Uwais. templates by Blogger
Proudly Powered by Abu Uwais