Rabu, 18 Oktober 2017

Bagaimana Mengimani Nabi ﷺ Bagian 05

by Rory Rachmad  |  in Tematik at  18 Oktober

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 23 Muharam 1439 H / 13 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, Lc MA
📗 Safari Dakwah | Bagaimana Mengimani Nabi ﷺ  (Bagian 05 dari 06)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-SB-BagaimanaMengimāniNabi-05
~~~~

BAGAIMANA MENGIMANI NABI ﷺ? BAGIAN (5 DARI 6)


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ونستهديه، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ  من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليّاً مرشداً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الذي قد بلّغ الرسالة وأدى الأمانة , ونصح الأمة , وجاهد في الله حق جهاده حتى أتاه اليقين , صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم أجمعين

Ayyuhal Ikhwāh wa akhawāt.

Poin yang kedua adalah ta'at kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadi, semua yang beliau sampaikan itu adalah haq, wahyu yang wajib kita ta'ati.

Kalau berkaitan dengan maklumat, informasi, berita-berita tentang kisah-kisah yang terjadi dimasa lalu, atau kejadian-kejadian yang akan terjadi dimasa depan maka sikap kita mempercayainya

Dan kalau beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menyampaikan sesuatu yang nadanya perintah maka kita harus ta'ati. Jika nadanya melarang maka kita jauhi.

Ini konsekuensi lain dari mengimāni Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Karena imān itu ucapan dan perbuatan. Ucapan lisan maupun hati (keyakinan). Dan perbuatan bisa perbuatan hati maupun perbuatan badan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfiraman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur'ān) menurut keinginannya. Tidak lain (Al Qur'ān) itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS An Najm: 3-4)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, jadi kalau Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintah, itu merupakan perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan perintah yang sifatnya subjektif.

Kalau beliau melarang, itu merupakan larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla (wahyu).

Beliau juga menyampaikan berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada surat Al Hasyr ayat 7.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan Rasūl kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allāh. Sungguh, Allāh sangat keras hukuman-Nya."

Apasaja yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada kalian ambil, telan mentah-mentah, ikuti dengan membabi buta, jangan banyak berpikir, asal betul itu dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Jelas, laksanakan. Itu konsekuensi.

Ada sebuah kisah menarik diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim di dalam Shahīhnya:

قَالَ كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ فَقَالَ رَجُلٌ لَوْ أَدْرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَاتَلْتُ مَعَهُ وَأَبْلَيْتُ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنْتَ كُنْتَ تَفْعَلُ ذَلِكَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ الأَحْزَابِ وَأَخَذَتْنَا رِيحٌ شَدِيدَةٌ وَقُرٌّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَلاَ رَجُلٌ يَأْتِينِي بِخَبَرِ الْقَوْمِ جَعَلَهُ اللَّهُ مَعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ " .

 فَسَكَتْنَا فَلَمْ يُجِبْهُ مِنَّا أَحَدٌ ثُمَّ قَالَ " أَلاَ رَجُلٌ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ جَعَلَهُ اللَّهُ مَعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ " . فَسَكَتْنَا فَلَمْ يُجِبْهُ مِنَّا أَحَدٌ ثُمَّ قَالَ " أَلاَ رَجُلٌ يَأْتِينَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ جَعَلَهُ اللَّهُ مَعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ " . فَسَكَتْنَا فَلَمْ يُجِبْهُ مِنَّا أَحَدٌ فَقَالَ " قُمْ يَا حُذَيْفَةُ فَأْتِنَا بِخَبَرِ الْقَوْمِ " . فَلَمْ أَجِدْ بُدًّا إِذْ دَعَانِي بِاسْمِي أَنْ أَقُومَ قَالَ " اذْهَبْ فَأْتِنِي بِخَبَرِ الْقَوْمِ وَلاَ تَذْعَرْهُمْ عَلَىَّ " .

 فَلَمَّا وَلَّيْتُ مِنْ عِنْدِهِ جَعَلْتُ كَأَنَّمَا أَمْشِي فِي حَمَّامٍ حَتَّى أَتَيْتُهُمْ فَرَأَيْتُ أَبَا سُفْيَانَ يَصْلِي ظَهْرَهُ بِالنَّارِ فَوَضَعْتُ سَهْمًا فِي كَبِدِ الْقَوْسِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْمِيَهُ فَذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " وَلاَ تَذْعَرْهُمْ عَلَىَّ " . وَلَوْ رَمَيْتُهُ لأَصَبْتُهُ فَرَجَعْتُ وَأَنَا أَمْشِي فِي مِثْلِ الْحَمَّامِ فَلَمَّا أَتَيْتُهُ فَأَخْبَرْتُهُ بِخَبَرِ الْقَوْمِ وَفَرَغْتُ قُرِرْتُ فَأَلْبَسَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ فَضْلِ عَبَاءَةٍ كَانَتْ عَلَيْهِ يُصَلِّي فِيهَا فَلَمْ أَزَلْ نَائِمًا حَتَّى أَصْبَحْتُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ قَالَ " قُمْ يَا نَوْمَانُ " .

Suatu ketika kami berada di dekat Hudzaifah, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkata:

"Seandainya aku mendapatkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, niscaya aku akan berperang bersama beliau dan aku akan bersungguh-sungguh."

Hudzaifah berkata:

"Betulkah kalian akan berbuat seperti itu? Aku sendiri pernah mengalami perang bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika perang Ahzab. Saat itu kami diserang oleh angin yang sangat kencang dan udara yang dingin.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

'Adakah seseorang yang sanggup mencari berita tentang musuh maka Allah akan menempatkannya bersamaku kelak di hari Kiamat.'

Semuanya diam, dan tidak ada satupun yang menjawab. Kemudian beliau bertanya lagi:

'Adakah seseorang yang sanggup mencari berita tentang musuh, maka Allah akan menempatkannya bersamaku kelak di hari Kiamat.'

Semuanya diam, dan tidak ada satupun yang menjawab. Kemudian beliau bertanya pula:

'Adakah seseorang yang sanggup mencari berita tentang musuh maka Allah akan menempatkannya bersamaku kelak di hari Kiamat.'

Kami masih terdiam semuanya, dan tidak ada satupun yang menjawab. Lalu beliau bersabda:

'Wahai Hudzaifah, berdiri dan carilah kabar mengenai musuh!'

Maka tidak bisa tidak, aku harus berdiri, karena beliau jelas memanggil namaku.

Beliau bersabda:

'Pergi dan carilah kabar mengenai musuh, dan jangan kamu mengagetkan mereka tentang diriku.'

Tatkala aku telah berpaling dari sisi beliau, seakan-akan aku berjalan dengan kehangatan (tidak seperti yang lain dalam kedinginan-red), sehingga aku mendatangi mereka, lantas aku melihat Abu Sufyan yang sedang menghangatkan badannya dengan api, maka aku langsung menaruh anak panah pada busurnya dan hendak memanahnya.

Sekiranya aku tidak ingat dengan pesan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

'Jangan kamu mengagetkan mereka dengan diriku.'

Niscaya aku telah panah dan akan mengenainya.

Lalu aku kembali sambil berjalan kaki dengan kehangatan, kemudian aku menemui beliau dan melaporkan mengenai kondisi musuh, setelah itu aku pergi.

Tiba-tiba diriku mulai merasakan kedinginan, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memakaikanku kain burdah yang biasa dipakai beliau untuk shalat. Kemudian aku tertidur sampai pagi, keesokan harinya beliau bersabda:

'Bangun wahai orang yang banyak tidur'." (HR Muslim nomor 3343, versi Syarh Muslim nomor 1788)

==> Seorang lelaki pada hadits di atas dari kalangan tābi'in. Tabi’in bukan dari shahābat Nabi sehingga dia tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Hidup setelah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal dunia.

==> Hudzaifah Ibnul Yaman adalah seorang shahābat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

==> Perang Ahzab, perang urat syaraf terbesar dalam sejarah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Tidak banyak terjadi kontak fisik. Peristiwa ini betul-betul diuji keimānan dan ketabahan serta kesabaran kaum muslimin, sampai turun satu surat namanya surat Al-Ahzab. Hampir 1/2 juz panjangnya itu surat, bercerita tentang perang Ahzāb ini.

Tidak ada surat Uhud, tidak ada surat Badar, tidak ada surat Fathu Mekkah. Surat Al Fath itu Hubaibiyyah bukan Fathu Mekkah. Yang ada hanya surat Al Ahzāb karena ini peristiwa yang luar biasa, Allāh ceritakan di situ bagaimana gentingnya.

Sebelum perang kondisinya sudah tidak enak. Kaum muslimin sudah ditimpa kelaparan. Ketika menggali parit, parit itu panjangnya 6 km. Parit ini tidak bisa dilompati oleh kuda dan kalau ada yang nekad melompat dan masuk ke dalam parit tersebut maka tidak akan bisa naik lagi karena dalamnya parit tersebut.

Ketika itu shahābat menggali bukan dalam keadaan kenyang, logistik tersedia. Ketika itu di perut Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terdapat dua batu untuk mengganjal perut beliau karena menahan lapar.

Dan ketika itu ada satu batu yang sangat keras, linggis para shahābat tidak ada yang bisa memecahkan batu itu. Akhirnya Rasūlullāh turun tangan. Beliau memukul batu tersebut dengan 3 (tiga) kali pukulan dan masing-masing pukulan ada kilatan cahaya.

Ketika itu Allāh wahyukan nanti bahwa kekaisaran Romawi akan kita kuasai.

Ketika pukulan kedua dilakukan ada kilatan lagi lalu beliau mengatakan: "Kekaisaran Persi akan kita kuasai."

Ketiga kali beliau mengatakan: "Kerajaan Herac kita akan kuasai."

Pecahlah batu itu sampai parit itu selesai, setelah itu datanglah musuh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allāh (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu (Malaikat). Allāh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

(QS Al Ahzāb: 9)

Musuh pada perang Ahzāb ada 12.000 personel. Sedangkan penduduk Madīnah kira-kira hanya 2000 orang ketika itu. Jelas tidak bisa menghadapi musuh.

Bahkan jantung ini sampai ketenggorokan (seperti mau lepas jantung itu). Dan kamu sampai mempunyai dugaan yang macam-macam terhadap Allāh.

Ketika itulah orang-orang berimān diuji dan digoncang dengan goncangan yang dahsyat.

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munāfiq dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata:

“Yang dijanjikan Allāh dan Rasūl-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.” (QS Al Ahzāb: 12)

⇒ Orang-orang munāfiq keliatan aslinya ketika diuji seperti ini.

Itu gambaran betapa mencekamnya perang Ahzāb.

Kembali ke cerita Hudzaifah, dia berkata:

"Saya masih ingat ketika malam itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menawarkan kepada kami dan malam itu angin bertiup sangat kencang, hawanya dingin luar biasa (dingin padang pasir itu dingin yang kering yang menusuk tulang). Rasūlullāh mengatakan begini dihadapan para shahābatnya:

'Adakah relawan yang siap memata-matai musuh dan menyampaikan apa rencana mereka? Semoga Allāh menjadikannya bersamaku nanti pada hari kiamat',"

Janjinya, "Dia akan bersama ku pada hari kiamat."

Kira-kira aman tidak bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Aman

Kata Hudzaifah tidak ada yang bangun dari yang ada ketika itu. Semua shahābat tidak ada yang siap menjadi relawan karena sifatnya masih berupa tawaran.

"Kok ente tadi bilang ana siap berperang bersama Rasūlullāh?"

"Kita saja yang sudah bertemu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika itu tidak ada yang mau jadi relawan."

Diulang oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, "Adakah relawan yang siap memata-matai musuh dan menyampaikan apa rencana mereka? Semoga Allāh menjadikannya bersamaku nanti pada hari kiamat,  diulang sampai tiga kali tetap sama."

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengubah strategi, "Bangun engkau wahai Hudzaifah!"

Apa kata Hudzaifah?

Huzdaifah berkata, "Berhubung nama saya sudah disebut, tidak ada pilihan lain saya harus taat kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Dia tahu, ini konsekuensi syahadat, "Percuma kalau saya bersyahadat lalu ditunjuk, tidak mau bangun. Bedanya apa dengan yang tidak bersyaha?"

Ini Hudzaifah, paham betul, "Bangunlah saya dan saya bangun dalam keadaan mengigil seperti orang yang baru keluar kamar mandi karena angin yang dingin."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"Bangun, dan berangkatlah wahai Hudzaifah. Mata-matai apa rencana mereka. Dengarkan apa rencana mereka sampaikan kepadaku, tapi jangan melakukan tindakan-tindakan yang mengagetkan mereka, yang memicu mereka untuk melakukan serangan."

Cukup nguping saja, ada perintah untuk menguping dan ada larangan untuk melakukan tindakan-tindakan yang memprovokasi musuh.

Sampailah Hudzaifah kepasukan musuh:

"Aku lihat ketika itu Abū Sufyan yang merupakan komandan pasukan Ahzāb, ketika itu masih musyrik, sedang menghangatkan pungungnya didekat api ungun."

Orang yang sedang membalikkan badan itu enak banget kalau diserang, dia tidak melihat, kita bisa melihat. Hudzaifah juga punya pikiran begitu:

"Aku ambil sebatang anak panah aku bidikan, ketika saya akan membidik, saya ingat nasehat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, 'Jangan engkau provokasi, jangan engkau kageti mereka, jangan bertindak.'

Demi Allāh kalau aku lepaskan anak panah itu pasti meninggal Abū Sufyan. "

Abū Sufyan adalah komandan. Perhitungan matematisnya, kalau komandan sudah terbunuh dengan cara seperti ini, tidak ada yang tahu, juga siapa yang memanah. Tetapi Rasūlullāh sudah melarang.

Tidak banyak berpikir ketika ingat larangan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam akhirnya Hudzaifah membatalkan membidik Abū Sufyan.

Intinya, itulah konsekuensi. Jadi jangan asal ngomong.

Misalnya:

"Yā Rasūlullāh, andai aku bertemu, kami cinta kepadamu, kami siap membela."

Apa iya? Benar siap membela?

Kalau kita benar-benar siap membela kita jadi shahābat semua, karena Allāh tahu kita tidak siap maka tidak jadi shahābat nabi.

Jadi Allāh sudah tahu tidak semua orang bisa seperti itu.

Jadi sebagai kesimpulan, ta'at kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu sifatnya mutlaq.


Wallāhu Ta'āla A'lam.

Wa shallallāhu 'ala nabiyyinā Muhammad wa 'ala ālihi wa shahbihi wa sallam.


والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

________
◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA /SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
________


Proudly Powered by Abu Uwais.