PESAN-PESAN

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 21 Desember 2019

Halaqah 34 | Candaan dan Kasih Sayang Nabi Bersama Anak Kecil

by Rory Rachmad  |  in Fiqhu Tarbiyatu Al-Abna at  21 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 21 Rabi’ul Akhir 1441 H / 18 Desember 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 34 | Candaan dan Kasih Sayang Nabi Bersama Anak Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-34
~~~~~~~~~~~~

CANDAAN DAN KASIH SAYANG NABI ﷺ  BERSAMA ANAK KECIL


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma'asyiral mustami'in, para pendengar para pemirsa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-33 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīzhahullāh.

صور من مزاح ﷺ مع الصغار ورفقه بهم ورحمته إياهم

▪︎CANDAAN DAN KASIH SAYANG NABI ﷺ  BERSAMA ANAK KECIL

Ada satu riwayat dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim.

Beliau mengatakan:

فاقدروا قدر الجارية

"Ukurlah muamalah kalian ketika bermuamalah dengan anak kecil (anak wanita)."

Maksudnya sesuaikanlah cara bermuamalah kalian sesuai dengan karakter anak-anak kecil pada umumnya. Karena anak kecil memiliki kesenangan sendiri, mereka senang bermain dan bercanda.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallāhu 'anhu berbicara dengan satu kata yang ringkas namun padat dan dalam maknanya.

"Sesungguhnya anak kecil memiliki kesenangan sendiri, daya pikir nalar dan perhatian sendiri."

Sehingga orang dewasa dituntut untuk bisa menyesuaikan cara bermuamalah dengan anak-anak.

Inilah Yang membedakan mereka dengan orang dewasa, sehingga kita harus menyesuaikan dengan mereka.

Anak kecil jangan dibebani sesuatu yang diluar kemampuannya. Mereka tidak boleh diminta untuk melakukan sesuatu diluar kesanggupannya. Mereka tidak boleh dilarang bermain, bergurau dan bersenang-senang karena sudah menjadi hak dan bagian mereka.

Lafazh hadīts diatas adalah :

كَانَ الْحَبَشُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ، فَسَتَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا أَنْظُرُ، فَمَا زِلْتُ أَنْظُرُ حَتَّى كُنْتُ أَنَا أَنْصَرِفُ فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ تَسْمَعُ اللَّهْوَ‏.‏

"Orang-orang Habasy (Ethiophia) bermain dengan tombak-tombak mereka, lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menutupiku sedangkan aku senantiasa melihat mereka sehingga aku sendiri yang pergi. Hargailah keinginan gadis kecil yang menyukai permainan. (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5190 dan Muslim nomor 892)

Dan di dalam riwayat An Nassāi di dalam As Sunanul Kubrā dengan sanad yang shahīh, dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Aisyah berkata :

دخل الحبشة المسجد يلعبون، قال لي: يا حميراء، أتحبين أن تنظري إليهم؟ فقلت: نعم، فقام بالباب، وجئته، فوضعت ذقني على عاتقه، فأسندت وجهي أى خده، قالت: ومن قولهم يومئذ: أبا القاسم طيبا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حسبك، قلت: يا رسول الله لا تعجل، فقام لي ثم قال: حسبك فقلت: لا تعجل يا رسول الله، قالت: وما بي حب النظر إليهم، ولكني أحببت أن يبلغ النساء مقامه لي ومكاني منه

Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid dan bermain, lalu Rasūlullāh berkata kepadaku, "Yā Humairā, maukah engkau melihat mereka?"

Lalu aku menjawab, "'Tentu saja."

Lalu beliau berdiri di depan pintu dan aku datang dengan meletakkan dagu di pundaknya, menyandarkan wajahku di pipinya.

Aisyah berkata, "Di antara perkataan mereka adalah Abal Qassim Thayyiban."

Lalu Rasūlullāh berkata, "Sudah cukup wahai Aisyah engkau melihat."

Aku berkata, "Wahai Rasūlullāh, jangan tergesa-besar."

Lalu Rasūlullāh berdiri kembali dan berkata, "Sudah cukup."

Aku berkata, "Wahai Rasūlullāh jangan tergesa-gesa!"

_Aisyah berkata, "Itu semua bukan karena aku suka melihat mereka, akan tetapi aku ingin sekali para wanita mengetahui kedudukan Beliau di sisiku dan sebaliknya."

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya, An Nassāi di dalam As Sunanul Kubrā dan yang lainnya dengan sanad yang shahīh, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallāhu 'anhā. Beliau berkata:

Aku pergi bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada sebuah perjalanan Beliau. Pada waktu itu aku masih muda dengan badan yang tidak gemuk, lalu Beliau berkata kepada orang-orang, "Majulah kalian!" Akhirnya merekapun maju.

Lalu Beliau berkata kepadaku, "Ayo kita berlomba". Akhirnya aku berlomba dengan Beliau dan aku dapat mengalahkannya, Beliau pun terdiam.

_Sehingga ketika aku sudah memiliki badan yang gemuk dan aku pun sudah melupakannya. Aku pergi bersama Beliau pada sebuah perjalanan. Beliau berkata kepada orang-orang, "Majulah kalian!" Dan merekapun maju. Lalu Beliau berkata, "Ayo kita berlomba!" Lalu aku berlomba dengannya dan Beliau dapat mengalahkanku. Akhirnya Beliau tertawa sambil berkata, "Ini adalah balasan untuk yang lalu."

Ini beberapa contoh bagaimana muamalah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Aisyah radhiyallāhu 'anhā.

Al Bukhāri dan Muslim meriwayatkan dari hadīts Aisyah radhiyallāhu 'anhā, beliau berkata :

"Aku pernah bermain dengan boneka-boneka kecil di dekat Rasūlullāh dan aku melihat beberapa teman yang bermain denganku. Jika Beliau masuk, maka aku bersembunyi, lalu Beliau mengutus mereka kepadaku agar bermain denganku."_

Para ulama mengatakan bahwa anak-anak wanita boleh bermain dengan boneka selama tidak berbentuk asli seperti manusia.

Ini adalah bentuk muamalah Rasūlullāh yang begitu luar biasa kepada anak kecil, khususnya kepada Aisyah radhiyallāhu 'anhā.

Inilah beberapa contoh canda dan muamalah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang penuh rahmah.

In syā Allāh akan kita lanjutkan hadīts lain pada pertemuan berikutnya.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh bermanfaat bagi kita semua. Atas segala kekurangan mohon maaf.

Wallāhu A'lam bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______________


Proudly Powered by Abu Uwais