Rabu, 18 Juli 2018

Bagaimana Para Salaf Menyambut Bulan Ramadhan bagian 04

by Rory Rachmad  |  at  Rabu, Juli 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 11 Sya’ban 1439 H / 27 April 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Bagaimana Para Salaf Menyambut Bulan Ramadhan bagian 04
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-MenyambutRamadhan-04
----------------------------------

*BAGAIMANA PARA SALAF MENYAMBUT BULAN RAMADHĀN, BAGIAN 04*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang berbahagia.

Kita masih membahas tentang bagaimana para salaf di dalam Ramadhān mereka.

Para salaf juga menjadikan Ramadhān sebagai madrasah untuk membiasakan diri untuk menghilangkan penyakit-penyakit kebakhilan, membiasakan diri menjadi orang yang penuh dengan kedermawanan.

Di bulan Ramadhān para salaf memperbanyak shadaqāh, memperbanyak infāq, mereka bersegera di dalam kebaikan-kebaikan. Membantu saudara-saudaranya baik yang dikenal maupun tidak dia kenal.

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbās radhiyallāhu
Ta'āla 'anhu, beliau mengatakan:

كَانَ رسوالله صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وكان أَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhān. Ketika Jibrīl alayhissallām bertemu dengannya, jibrīl menemuinya setiap malam Ramadhān untuk saling mempelajari Al Qur'ān, sungguh, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus." (Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dan di dalam riwayat Ahmad ada tambahan:

لَا يُسْأَلُ عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَعْطَاهُ

"(Pada saat bulan Ramadhān) Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah di minta segala sesuatu apapun kecuali pasti memberikan."

✎ Berkata Imām Adz Dzahabi rahimahullāh:

وبلغن أن حمادا بن أبي سليمان كان ذا دنيا متسعة، وأنه كان يفطر في شهر رمضان خمسمائة إنسان ، وأنه كان يعطيهم بعد العيد لكل واحد مائة درهم

"Bahwasanya sampai pada beliau seorang shālih yang bernama Hamād ibni Abī Sulaimān, beliau adalah orang kaya. Dibukakan dunia untuk dia dan beliau senantiasa memberikan makan 500 orang yang berbuka di bulan Ramadhān. Dan beliau senantiasa memberi pada hari 'Ied hari di mana kaum muslimin berbahagia setiap orang diberi 100 Dirham."

✎ Imām Hasan Al Basri rahimahullāh:

يقول الحسن :-
إن الله جعل شهر رمضان مضمارا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته فسبق قوم ففازوا وتخلف آخرون فخابوا فالعجب من اللاعب الضاحك فى اليوم الذى يفوز فيه المحسنون ويخسر فيه المبطلون

Berkata Imām Hasan Al Basri rahimahullāh:

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan Ramadhān sebagai tambang bagi hamba-hambanya. Dimana pada bulan tersebut orang-orang berlomba-lomba dengan ketaatan mengharapkan keridhāan Allāh.

Maka ada sekelompok kaum yang mereka berlomba dan memenangkan perlombaan tersebut dan sekelompok kaum yang dia tertinggal dibelakang dan dia rugi.

Maka sangat mengherankan bagi orang-orang yang senantiasa bermain-main, tertawa-tawa di bulan Ramadhān, di mana pada bulan tersebut orang-orang yang berbuat baik, taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla mereka memenangkan perlombaan ini. Dan juga orang-orang yang dia tidak berbuat ketaatan senantiasa berbuat kesia-siaan, dia merugi.”

Oleh karena itu, begitulah keadaan para salaf, sekelumit kecil kehidupan para salaf di bulan Ramadhān. Mereka menjadikan bulan Ramadhān sebagai tambang untuk bisa menambang emas dan perak, menambang pahala untuk dipersembahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar mendapatkan keridhāan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karena itu hendaklah kita berusaha berbuat seperti mereka, berlomba-lomba di dalam kebaikan menyambut Ramadhān, melaksanakan amal-amal ibadah dengan sebaik mungkin di bulan Ramadhān.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita orang yang beruntung mendapatkan kemulian bulan Ramadhān.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
_____________________



Halaqah 011 | Hadits 11

by Rory Rachmad  |  at  Rabu, Juli 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 04 Sya’ban 1439 H / 20 April 2018
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 011 | Hadits 11
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H011
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 11*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد


Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-11 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Halaqah kita kali ini membahas hadīts ke-11 yaitu hadīts dari Mu'āwiyyah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, dia beliau mengatakan:

قال رسول االله صلى الله عليه و سلم: من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allāh akan jadikan ia fāqih (paham) tentang agamanya." (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Syaikh Abdurrahmān As Sa'dī rahimahullāh mengatakan bahwa hadīts ini merupakan hadīts yang berisi tentang keutamaan ilmu yang paling utama.

√ Ilmu merupakan tanda kebahagian seorang hamba.

√ Ilmu merupakan sebab Allāh menginginkan kebaikan pada hamba tersebut.

Kemudian beliau (rahimahullāh) sebutkan bahwa yang dimaksud dengan: يفقهه في الدين di dalam hadīts ini mencakup paham dalam semua urusan agama. Baik itu merupakan perkara keimānan atau 'aqidah, juga termasuk hukum-hukum syari'at, juga termasuk hal-hal yang merupakan ihsān.

Termasuk dalam konteks hadīts ini: "Orang yang belajar atau mempelajari perkara-perkara 'aqidah".

'Aqidah yang benar yang harus diyakini sebagai seorang muslim. Dan dia mengenal 'aqidah yang bathil yang harus dia jauhi yang menyelisihi Al Kitāb dan Sunnah.

Serta tercakup juga makna dalam hadīts ini adalah orang yang mempelajari ilmu fiqih, baik itu ushul fiqh maupun ilmu fiqih itu sendiri yang merupakan hukum-hukum amalan.

Serta termasuk juga di dalam hadīts ini adalah orang yang belajar tentang akhlaq-akhlaq yang diperintahkan oleh syari'at Islām yang dianjurkan oleh Allāh dan dicintai oleh Allāh, yang itu merupakan wujud (realisasi) dari keimānan.

Juga termasuk dalam makna hadīts ini adalah belajar ilmu-ilmu yang merupakan wasilah untuk memahami agama. Seperti mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu alat yang lain yang di situ bisa menjadikan dia paham tentang ilmu-ilmu agama yang lain.

Maka barangsiapa Allāh kehendaki pada dirinya suatu kebaikan, maka Allāh akan jadikan dia paham tentang hal-hal tersebut.

Dan Allāh akan memberikan taufīq kepada dia di dalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

Dan sebaliknya, barangsiapa dia berpaling dari mempelajari ilmu-ilmu ini, maka itu tandanya Allāh tidak menginginkan kebaikan kepada dirinya, karena dia tidak menempuh sebab yang di situ merupakan jalan kebaikan dan sebab kebahagiaan dia di dunia dan di akhirat.

Demikian yang bisa kita kaji dalam pembahasan hadīts kali ini, in syā Allāh kita akan lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*

Contoh : 100.025
_____________________


Fiqih Ringkas Di Hari 'Iedul Fitri Bagian 02

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  Rabu, Juli 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Ramadhan 1439 H / 12 Juni 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Fiqih Ringkas Zakat Fitri Bagian 02
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-DiAkhir-Ramadhan-03
----------------------------------

*FIQIH RINGKAS ZAKĀT FITRAH, BAGIAN 02*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Secara ringkas ada beberapa poin tambahan tentang zakātul fithr atau zakāt fithrah.


⑴ Zakāt fithrah tidak dikeluarkan dengan uang.

Ini berdasarkan pendapat jumhur ulamā dan kebanyakan para ahlul 'ilm, karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mewajibkan mengeluarkan dalam bentuk makanan pokok, sebagaimana disebutkan di dalam hadīts.


⑵ Tidak boleh mengeluarkan sesuatu yang buruk pada zakāt fithrah, misalnya kita berzakāt dengan beras yang kwalitasnya buruk (jelek) sedangkan kita biasa mengkonsumi beras yang kwalitasnya baik.


⑶ Zakāt fithrah yang ditunaikan sebelum waktu shalāt 'Ied adalah zakāt yang diterima,  sedangkan zakāt fithrah yang ditunaikan setelah shalāt 'Ied maka hanya bernilai sebagai sedekah, (kecuali) ada udzur syari' yang diterima oleh syari'at maka dia tidak mengapa.


⑷ Boleh seseorang mewakilkan zakāt fithrahnya, seperti seseorang yang mempunyai hajah sehingga dia tidak bisa melakukan sendiri maka dia bisa mewakilkan kepada temannya, dan ini sah.


⑸ Barangsiapa yang lupa mengeluarkan zakāt fithrah maka dia tetap wajib mengeluarkannya tatkala dia ingat, sebagai qadhā' bagi apa yang sudah terlewat.

Karena zakāt fithrah ini tidak gugur kewajibannya bagi setiap muslim.


⑹ Barangsiapa yang sengaja meninggalkannya atau dia bermalas-malasan sampai keluar waktu maka wajib baginya untuk mengeluarkannya dan dia wajib bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla  atas dosa yang dia buat.


⑺ Paling afdhal menunaikan zakāt fithrah ditempat dia tinggal.

Dia lihat fuqarā yang ada di sekelilingnya, tetangganya (misalnya), kemudian dia keluarkan zakātnya maka ini lebih afdhal.

Akan tetapi apabila ada kesulitan sehingga dia wakilkan kepada orang lain atau muasasah-muasasah atau lembaga-lembaga yang terpercaya maka hal itu sah dan cukup, artinya tidak mengapa.


⑻ Mustahiq atau yang berhak mendapatkan zakāt adalah fuqarā dan masākīn (orang faqīr dan miskin).

Boleh seorang mendapatkan lebih bagiannya dari satu zakāt misalnya dikumpulkan untuk satu orang beberapa bagian, itu tidak mengapa.

Boleh dibagikan masing-masing satu shā' boleh juga lebih dari satu shā', karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membatasi atau menentukan kadar wajib yang dikeluarkan tapi tidak menentukan kadar minimal yang diberikan. Oleh karena itu tidak mengapa.


⑼ Boleh bagi seorang faqīr apabila dia menerima zakāt fithrah (mungkin di malamnya dia menerima zakāt fithrah) kemudian  dia mengeluarkan zakāt fithrah untuknya dari zakāt fithrah yang dia telah terima. Ini tidak mengapa.

Mungkin seorang tidak memiliki apa-apa, lalu dia mendapatkan zakāt fithrah dan dia telah cukup, artinya dia bisa mengeluarkan zakāt fithrah dari zakāt yang dia terima. Maka ini diperbolehkan.

Demikian yang bisa disampaikan pada pertemuan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
💢 Yuk Konsultasikan dan Salurkan Zakat Maal Anda di Cinta Sedekah...

💳 *ZAKAT : Bank Syariah Mandiri (BSM)*
⏳ *Kode Bank : (451)*
💰 *No. Rek. : 7814 5000 25*
🏬 *a.n : Cinta Sedekah Zakat*

√Konfirmasi transfer:
*082237966923 ( SMS / WA )*

√CP Konsultasi
*🍃08125000160 ( ikhwan )*
*🌹0811766606   ( akhwat )*

[Via WA / SMS / Telepon]
_____________________


Fiqih Ringkas Di Hari 'Iedul Fitri Bagian 01

by Rory Rachmad  |  in Kajian Tematik at  Rabu, Juli 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 28 Ramadhan 1439 H / 13 Juni 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Fiqih Ringkas Di Hari 'Iedul Fitri Bag 01

⬇ Download Kumpulan Materi Ramadhan 1439 (Full Audio, Transkrip pdf, & Image) : http://bit.ly/BIASMateriRamadhan1439H

----------------------------------
*FIQIH RINGKAS DI HARI 'IEDUL FITRI, BAGIAN 01*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita berdo'a kepada Allāh, agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla  terus memberikan kenikmatan kepada kita, agar kita bisa menyempurnakan puasa di bulan Ramadhān dan kita berbahagia bersama kaum muslimin di hari 'Ied.

Dan perlu diketahui di sana ada sunnah-sunnah atau adab-adab yang terkait dengan hari 'Ied, diantaranya:

⑴ Disunnahkan mandi sebelum berangkat shalāt 'Iedul Fithri.

Hendaknya seorang muslim bersemangat tatkala hari 'Ied tiba, dia persiapkan diri dengan membersihkan diri (mandi) kemudian memakai minyak wangi, karena ini adalah hari kebahagiaan, bukan hari biasa.

Hendaknya seorang mempersiapkan dirinya, mempersiapkan keluarganya untuk menemui hari bahagia ini.

Oleh karena itu para ulamā, mereka menjadikan mandi ini perkara yang sunnah, sebagaimana diriwayat oleh Ibnu Umar radhiyallāhu ta'āla 'anhumā:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

"Bahwasanya 'Abdullāh Ibnu 'Umar biasa mandi di hari 'Iedul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang."

(Hadīts riwayat Mālik dalam Muwatha’ 426. An Nawawi menyatakan bahwa ātsār ini shahīh)

Para ulamā menganjurkan dan merupakan sunnah untuk membersihkan atau memotong rambut-rambut, baik rambut yang ada diketiak maupun yang lainnya, begitu pula memotong kuku dan lainnya yang menyempurnakan persiapan seseorang dalam menghadapi hari bahagia ini.

Ini diqiyāskan juga kepada sunnah-sunnah yang ada pada hari Jum'at, karena hari Jum'at termasuk hari 'Iedul usbu (pertemuan perkumpulan setiap minggunya) dan di sana ada sunnahnya, begitu pula pada saat 'Iedul Fithr.

Riwayat dari Ibnu Umar juga:

 أَنَّهُ كَانَ يَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ فِي اَلْعِيدَيْنِ

"Bahwasanya beliau memakai pakaian yang terbaik pada saat dua hari 'Ied ('Iedul fithri dan 'Iedul Adhā)." (Hadīts riwayat Baihaqī)

Kemudian berkata Ibnul Qayyim rahimahullāh:

وكان صلى الله عليه وسلم يلبس لهما أجمل ثيابه وكان له حلة يلبسها للعيدين والجمعة

"Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau memakai untuk dua hari 'Ied ('Iedul Fithri dan 'Iedul Adhā) pakaian yang terbaik dan beliau memiliki, hulah (gelang)  yang khusus beliau pakai pada 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adhā dan hari Jum'at."

Ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari 'Iedul Fithr (hari kebahagiaan).

⑵ Dianjurkan sebelum kita keluar menuju tempat 'Ied untuk makan tiga butir tamr atau lima atau tujuh butir tamr (ganjil).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dalam Shahīhnya.

Dari Anas bin Mālik  radhiyallāhu ta'āla 'anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidaklah keluar pada hari 'Iedul Fithri (ke tempat shalāt) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil." (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 953)


⑶ Disunnahkan melewati jalan pergi dan pulang berbeda

Disunnahkan untuk pergi dari satu jalan dan kembali dengan jalan yang lain (tidak dengan jalan yang sama).

Sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri di dalam Shahīhnya.

Dari Jābir radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

"Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika berada di hari 'Ied (ingin pergi ke tempat shalāt), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang." (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 986)


⑷ Shalāt 'Ied ditempat terbuka bukan di masjid (jika memungkinkan).

Karena ini yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, akan tetapi jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa shalāt 'Ied di masjid.

Namun yang lebih afdhal jika memungkinkan shalāt 'Ied ditempat terbuka, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Untuk menunjukkan bagaimana idzhar menampakkan kekuatan kaum muslimin.


⑸ Tidak ada riwayat dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau shalāt nāfilah (shalāt sunnah) dilapangan baik sebelum shalāt 'Ied ataupun sesudahnya.

Sebagaimana hadīts shahīh yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri.

Dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā, beliau berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج يوم الفطر، فصلى ركعتين لم يصل قبلهما ولا بعدهما

"Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar pada hari 'Iedul Fithr, kemudian beliau shalāt dua raka'at  (shalāt 'Ied) dan beliau tidak shalāt sebelum dan sesudahnya."

Akan tetapi, apabila shalāt 'Ied ini dilakukan dimasjid maka disunnahkan untuk melakukan shalāt tahiyatul masjid, berdasarkan hadīts yang lain.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

"Apabila kalian masuk masjid maka janganlah kalian duduk sampai shalāt dua raka'at."


⑹ Apabila sudah kembali kerumahnya maka disunnahkan untuk shalāt dua raka'at dirumah.

Berdasarkan dari hadīts sunnah riwayat Ibnu Mājah dalam Sunnannya.

Dari Abī Saīd Al Khudriy radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau berkata:

 كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لا يُصلّي قبل العيد شيئا، فإذا رجع إلى منزله صَلّى ركعتين

"‌Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak shalāt sebelum shalāt 'Ied sedikitpun (artinya hanya shalāt 'Ied) bila beliau pulang kerumah beliau shalāt dua raka'at."


⑺ Dianjurkan untuk bertakbir.

Dianjurkan untuk bertakbir mulai dari tengelam matahari atau malam 'Ied sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla .

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allāh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS Al Baqarah: 185)

Hendaknya seorang bertakbir mulai dia keluar dari rumahnya sampai tempat shalāt 'Ied dan takbir ini adalah perkara yang dianjurkan sebagaimana kesepakatan ulamā.

Berdasarkan hadīts Ibnu 'Umar, beliau berkata:

عن ابن عمر: أنه كان يخرج للعيديْن من المسجد، فيكبر حتى يأتي المُصلَّى, ويكبِّر حتى يأتي الإمام

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar untuk shalāt 'Ied, baik 'Iedul Fithri maupun 'Iedul Adhā kemudian beliau bertakbir sampai beliau tiba ditempat shalāt dan beliau bertakbir sampai datangnya imām." (Hadīts riwayat Ad Dāruquthiy)

Dari Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau bertakbir:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, 'Lā ilāha illallāh  wallāhu akbar. Allāhu akbar walillāhil hamd.

Artinya:

"Allāh Maha Besar, Allāh Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allāh dan Allāh Maha Besar. Allāh Maha Besar, segala puji bagi-Nya"

Dan disunnahkan untuk terus bertakbir baik dimasjid, dirumah-rumah maupun di jalan-jalan.

Demikian yang bisa disampaikan pada pertemuan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
 ___________

💢 Yuk Konsultasikan dan Salurkan Zakat Maal Anda di Cinta Sedekah...

💳 *ZAKAT : Bank Syariah Mandiri (BSM)*
⏳ *Kode Bank : (451)*
💰 *No. Rek. : 7814 5000 25*
🏬 *a.n : Cinta Sedekah Zakat*

√Konfirmasi transfer:
*082237966923 ( SMS / WA )*

√CP Konsultasi
*🍃08125000160 ( ikhwan )*
*🌹0811766606   ( akhwat )*

[Via WA / SMS / Telepon]
_____________________


Selasa, 10 Juli 2018

HSI 10 - 50 Hijrah ke Madinah Bagian 5

by Rory Rachmad  |  in HSI 10 at  Selasa, Juli 10, 2018
Download Audio : goo.gl/W2iaWh

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Lima Puluh dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah Adalah ”Hijrah ke Madinah Bagian yang kelima"

Rasulullãh ﷺ dan Abu Bakar radiallahu anhu sangat berhati² ketika berbicara dengan manusia selama perjalanan hijrah.

Abu Bakar radiallahu anhu setiap kali ditanya tentang Rasulullãh ﷺ, beliau mengatakan

"laki-laki ini menunjukkan aku jalan" (Hadits riwayat Al Bukhari)

Orang menyangka bahwa maksud beliau adalah orang yang mahir & mengetahui jalan², padahal maksud beliau radiallahu anhu adalah yang menunjukkan jalan kebaikan. Dan telah shahih bahwa beliau & Abu Bakar mengambil jalan dekat dengan pantai, bukan jalan yang biasa dilewati oleh manusia (sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori).

Dan diantara kisah yang terjadi ketika hijrah adalah kisah singgah nya Nabi ﷺ & Abu Bakar dikemah nya Abu Makbad.

Berkata Abu Makbab

Demi Allāh kami tidak punya kambing, kambing² kami dalam keadaan bunting tidak memiliki susu

Rasulullãh ﷺ berkata berkata : bagaimana dengan kambing yang itu

Maka didatangkan kepada beliau & beliau mendoakan dengan barokah & diperaslah susu nya kemudian mereka pun meminumnya.

Berkata Abu Makbad

apakah engkau adalah yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy, bahwa engkau keluar dari agama mereka, Rasulullãh ﷺ menjawab : sesungguhnya mereka telah mengatakan

Berkata Abu Makbad : aku bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar & aku akan mengikutimu

Nabi berkata : jangan sampai engkau mendengar bahwa kami telah menang

Maka Abu Makbad pun mengikuti Nabi ﷺ setelah itu
Hadīts riwayat Al Bazar dengan sanad yang Hasan.

Diantara faedah yang bisa kita ambil dari hijrah ini

① Di syariat kan hijrah dari negeri syirik menuju negeri Tauhid untuk menyelamatkan agama & aqidah seseorang.

② Mengambil sebab dengan keselamatan tidak bertentangan dengan beriman dengan Takdir & tawakal kepada Allāh ajja wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullah Roy
Di kota Pandeglang

*Materi audio ini disampaikan didalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah HSI Abdullah Roy


kepada Anggota HSI dilarang menyebarkan transkrip ini di Group HSI yang sedang berjalan

Proudly Powered by Blogger.