Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Selasa, 25 September 2018

Halaqah 018 | Hadits 17

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  25 September
BimbinganIslam.com
Rabu, 16 Muharram 1440 H / 26 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 018 | Hadits 17
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H018
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 17


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh. 

Ini adalah halaqah kita yang ke-18 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh. 

Dan kita sampai pada hadīts ke-17 yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Abī Dzar Al Ghifārī radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau mengatakan: 

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ
(رواه الإمام أحمد والترمذي)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: "Bertaqwalah kepada Allāh di manapun dan kapanpun engkau berada, dan iringilah perbuatan yang jelek itu dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik." (Hadīts riwayat Imām Ahmad dan Imām At Tirmidzī) 

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa hadīts ini termasuk hadīts yang mulia, dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan dalam satu konteks, hadīts ini tentang hak Allāh dan hak para hambaNya. 

Adapun hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka yang beliau sebutkan di sini adalah dengan cara menjalankan ketaqwaan kepada Allāh. 

Dan yang dimaksud taqwa adalah menjaga diri agar terhindar dari kemarahan dan Adzāb Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan cara menjauhi hal-hal yang Allāh larang dan menjalankan hal-hal yang Allāh perintahkan dan Allāh wajibkan. Itu adalah hakikat ketaqwaan. 

Ketaqwaan ini adalah wasiat yang Allāh wasiatkan kepada seluruh manusia serta diwasiatkan oleh para rasūl kepada umat-umat mereka. 

Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman ketika menjelaskan tentang ucapan para rasūl kepada umat mereka. 

أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱتَّقُوهُ 

"Sembahlah olehmu Allāh, bertaqwalah kepada-Nya." (QS Nuh: 3)

Karena ketaqwaan itu adalah wasiat yang senantiasa diberikan kepada para rasūl kepada umat-umat mereka. 

Kemudian beliau (rahimahullāh) menjelaskan juga tentang sifat ketaqwaan. Disampaikan bahwasanya sifat orang-orang yang bertaqwa adalah, 

√  Dengan cara berimān terhadap pokok-pokok ajaran Islām serta aqidah-aqidah Islāmiyyah, 
√ Mengamalkan amalan-amalan ibadah yang dhāhir maupun yang bathin, 
√ Bersabar terhadap musibah atau kesusahan yang menimpa dirinya, 
√ Memberikan maaf kepada manusia, 
√ Bersabar dari gangguan yang didapatkan dari mereka, apabila mereka menyakitinya, 
√ Memberikan ihsan kepada orang lain, 
√ Bersegera beristighfār dan bertaubat apabila terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dan kezhāliman. 

Sebagaimana disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla  di dalam surat Al Baqarah ayat 177 dan surat Āli Imrān ayat 134.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan di dalam dua ayat tersebut tentang sifat orang-orang yang bertaqwa. 

Kemudian di dalam hadīts tadi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan, agar seorang senantiasa menjadikan ketaqwaan itu adalah sifat yang ada pada dirinya, pada setiap waktu dan setiap tempat di manapun dia berada. 

Karena manusia butuh kepada ketaqwaan, kapanpun dan bagaimanapun kondisi dirinya. 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts tersebut, agar mengiringkan perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik. 

وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا

Dan iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan hasanah, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk, yang demikian itu dikarenakan manusia ada kalanya bahkan sering lalai di dalam menjalankan ketaqwaan dan kewajiban yang diperintahkan oleh Allāh dan rasūlNya. 

Sehingga dia butuh terhadap sesuatu yang bisa menjadi penghapus kesalahan yang dia lakukan karena kelalaian tersebut. 

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan solusi, memberikan jalan untuk menghapus kesalahan tersebut yaitu dengan cara mengiringi perbuatan jelek yang dia lakukan dengan perbuatan-perbuatan baik. 

Dan beliau (rahimahullāh) menjelaskan bahwanya sebaik-sebaik perbuatan hasanah (perbuatan baik) yang dilakukan yang bisa menghapuskan perbuatan buruk adalah at taubatun nasuha (taubatan nasuha). Karena seorang yang bertaubat dengan taubatan nasuha maka Allāh akan ampuni dosa-dosanya. 

Dan yang termasuk perbuatan hasanah yang bisa menghapuskan kejelekan adalah dengan cara memaafkan kesalahan manusia dan berbuat baik kepada mereka dan berusaha untuk menghilangkan kesulitan yang menimpa manusia, yang demikian itu merupakan perbuatan-perbuatan baik yang bisa menghapuskan dosa-dosa yang pernah dia lalukan karena kelalaian dalam menjalankan ketaqwaan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla . 

Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman: 

إِنَّ ٱلْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ 

"Sesungguhnya perbuatan baik itu akan menghilangkan perbuatan yang buruk." (QS Hūd: 114)

Kemudian beliau juga menyebutkan bahwasanya di antara hal yang juga bisa menghapuskan dosa adalah musibah yang menimpa seorang mukmin. 

Karena tidaklah ada suatu musibah apapun yang menimpa seorang mukmin berupa kesedihan hatinya, kegundah-gulanaannya atau gangguan yang menimpa dirinya bahkan duri yang menyakitinya, melainkan akan Allāh ampunkan dengan sebab musibah tersebut kesalahan-kesalahan dirinya. 

Dan hal tersebut termasuk juga hal-hal yang bisa menghapuskan dosa sebagaimana yang beliau sebutkan. 

Kemudian di dalam hadīts tadi, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga menyebutkan tentang hak sesama manusia. 

Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

 وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ

"Pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik."

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan yang dimaksud dengan akhlaq yang baik, ini terkumpul pada beberapa hal, yaitu: 

⑴ Pergauli manusia dengan cara yang baik, yaitu dengan cara menahan diri untuk tidak menyakiti manusia dengan bentuk apapun. 

⑵ Dengan cara memaafkan kesalahan yang pernah mereka lakukan kepada dirinya. 

⑶ Dan juga dengan memperlakukan mereka dengan ucapan dan prilaku yang baik. 

Dan juga termasuk mempelakukan manusia dengan cara yang baik yaitu dengan mendudukan manusia sesuai dengan posisi dan derajat mereka, sesuai dengan keadaan mereka. 

√ Memperlakukan orang yang dia lebih muda dengan sesuatu yang seharusnya. 

√ Memperlakukan orang yang lebih tua dengan sesuatu yang seharusnya. 

√ Juga memperlakukan orang yang alim dengan seharusnya. 

√ Juga memperlakukan orang yang jāhil dengan seharusnya. 

⇒ Maka ini juga termasuk perkara mempergauli manusia dengan cara yang baik. 

Barangsiapa yang menjaga hak Allāh dengan cara bertaqwa dan dia menjaga haq manusia dengan cara bermuamalah kepada mereka dengan cara yang baik, maka orang tersebut telah mendapatkan seluruh kebaikan. 

Karena dia telah menjaga atau menunaikan semua hak yang harus dia penuhi, baik itu hak Allāh maupun hak para hamba Nya. 

Oleh karena itu kita tahu bahwasanya hadīts ini adalah hadīts yang singkat namun maknanya begitu luas dan begitu agung yang menunjukkan segala bentuk kebaikan dengan cara menjaga hak Allāh dan menjaga hak manusia. 

Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kita kali ini dan in syā Allāh akan kita lanjutkan lagi pada hadīts berikutnya di halaqah mendatang. 

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

_______
🏡 Donasi Markas Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Hanya Via WhatsApp & Informasi ;  0811-280-0606 
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.

Contoh : 100.025
_______


Senin, 24 September 2018

Halaqah 017 | Hadits 17

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  24 September
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 15 Muharram 1440 H / 25 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 017 | Hadits 17
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H017
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 17


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh. 

Ini adalah halaqah kita yang ke-17 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh. 

Dan kita sudah sampai pada hadīts ke-16, hadīts dari Abū Sirmah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, bahwa dia mengatakan. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

مَنْ ضَارَّ ضَارَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ 

"Barangsiapa menimbulkan kemudharatan kepada orang lain, maka Allāh akan menimbulkan kemudharatan bagi dirinya. Dan barangsiapa mempersulit urusan orang lain maka Allāh akan mempersulit urusan dirinya." (Hadīts riwayat At Tirmidzī dan Ibnu Mājah) 

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa hadīts ini mencakup dua azas, di antara azas-azas yang ada di dalam syari'at Islām. 

أن الجزاء من جنس العمل في الخير والشر

⑴ Bahwasanya balasan suatu perbuatan sesuai dengan jenis perbuatan tersebut, baik dalam hal yang sifatnya kebaikan maupun yang sifatnya keburukan. 

Oleh karena itu sebagaimana orang yang dia melakukan suatu amalan yang dicintai oleh Allāh, maka Allāh akan mencintainya. 

Dan barangsiapa yang memudahkan urusan seorang muslim maka Allāh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat, maka begitu juga seorang yang dia menimpakan kemudharatan kepada seorang muslim yang lain, maka Allāh pun akan menimbulkan (menimpakan) kemudharatan kepada dirinya. 

Begitu pula orang yang dia mempersulit urusan orang lain, maka Allāh pun akan mempersulit urusan dirinya, karena balasan atas suatu perbuatan sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan. 

منع الضرر والمضارة

⑵ Larangan untuk menimbulkan kemudharatan atau melakukan sesuatu yang memudharatkan dirinya sendiri. 

Sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda dalam hadīts lain. 

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam)  bersabda: 

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

"Tidak boleh seorang berbuat kemudharatan dan tidak pula dia menimbulkan kemudharat kepada orang lain."

Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dharar itu tidak terlepas dari salah satu dari dua bentuk. 

Dua bentuk tersebut, di antaranya: 

⑴ Dharar yang sifatnya menghilangkan kemaslahatan yang ada (manfaat yang ada), maka dia dikatakan dharar (berbuat dharar) ketika dia menghilangkan suatu kemaslahatan yang sudah ada. 

⑵ Menimbulkan suatu kerusakan, apapun caranya dia menimbulkan kerusakan tersebut. 

⇒ Kedua bentuk dharar ini sama-sama dilarang. 

Kemudian Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh mencontohkan berbagai macam perbuatan yang termasuk dalam kategori menimbulkan kemudharatan. 

Di antaranya beliau sebutkan, 

• Pertama dalam hal muamalah, bermuamalah terhadap sesama manusia, maka kemudharatan terjadi (timbul) kepada kecurangan di dalam bermuamalah atau menyembunyikan cacat pada barang yang dibeli. 

Begitu juga dia membuat penawaran yang palsu untuk menaikan harga atau juga dengan cara membeli sesuatu yang sedang ditawar oleh orang lain. Maka ini merupakan bentuk kemudharatan yang semua ini dilarang di dalam hal muamalah. 

• Di antara bentuk kemudharatan juga, terjadi di dalam lingkungan bertetangga dengan bentuk ucapan atau perbuatan, maka semua yang menimbulkan kemudharatan menghilangkan maslahat atau manfaat yang dimiliki oleh tetangganya atau dia menimbulkan kerusakan pada sesuatu yang dimiliki tetangganya maka itu merupakan perkara yang haram dilakukan, karena itu termasuk dalam kategori menimbulkan kemudharatan. 

• Juga dicontohkan di sini juga dalam masalah tentang hutang piutang, ketika seorang berhutang kemudian dia memiliki harta untuk membayar hutangnya tapi tidak dia gunakan untuk membayar hutang, tetapi malah dia belanjakan untuk hal yang lain, semisal dia bersedekah. 

Padahal dia mempunyai kewajiban untuk membayar hutang, maka yang seperti ini termasuk orang yang menimbulkan kemudharatan kepada orang yang sudah memberikan hutang kepadanya. Dan itu dilarang. 

• Kemudian di antara contoh dharar juga adalah pada kehidupan rumah tangga, seperti seorang suami yang dia sengaja untuk membiarkan istrinya berada di dalam ikatan rumah tangga bersamanya, padahal tidak bisa lagi terjadi maslahat di antara keduanya (tidak ada ketentraman) dengan tujuan supaya istrinya yang minta supaya diceraikan dengan mengembalikan mahar. Ini termasuk seorang suami yang melakukan kemudharatan kepada istrinya dan itu dilarang. 

• Atau seorang yang dia punya dua istri, kemudian dia tidak berbuat adil kepada salah seorang istrinya maka ini juga termasuk kemudharatan yang dilarang, yang dampaknya Allāh akan menimpakan kepada dirinya kemudharatan pula. 

• Dan diantara contoh lagi adalah seorang yang dia ditimpa penyakit yang menular, maka tidak boleh dia bergaul dengan bebasnya dikerumunan orang kalau dia memiliki penyakit yang sangat menular (mudah untuk menular) karena ini termasuk menimbulkan kemudharatan. 

Sedangkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman dalam surat Al Ahzāb 

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا

"Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan orang-orang mukminat dengan sesuatu yang tidak mereka perbuat maka mereka telah melakukan kedustaan dan dosa yang jelas." (QS. Al-Ahzāb: 58)

• Begitu juga Islām melarang orang untuk mengagetkan saudaranya yang sekira itu bisa membahayakan saudaranya tersebut meskipun dalam rangka bercanda, karena itu bisa menimbulkan kemudharatan bagi dirinya. Maka semua itu bentuk kemudharatan yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla . 

Maka barangsiapa melakukan hal-hal tersebut maka balasan yang akan diterima adalah Allāh akan menjadikan  kemudharatan tersebut ada pada dirinya juga atau kemudharatan akan menimpa dirinya juga. Sebagaimana dia menimpakan kemudharatan kepada orang lain. 

Yang terakhir yang beliau sampaikan di sini bahwa dari konteks hadīts ini bisa kita pahami bahwasanya kalau seorang menimpakan kemudharatan kepada orang lain, maka Allāh akan menimpakan kemudharatan kepada dirinya.

Maka sebaliknya apabila seorang dia berupaya untuk menghilangkan kemudharatan dari orang lain atau membantu orang lain terlepas dari suatu kemudharatan dan kesulitan maka balasannya Allāh akan bantu dia pula dari kesulitan atau kemudharatan yang sedang menimpa dirinya. 

الجزاء من جنس العمل

"Balasan suatu perbuatan sesuai dengan jenis perbuatan yang dia lakukan.”

Demikian penjelasan yang beliau sampaikan berkenaan dengan hadīts ini dan in syā Allāh akan kita lanjutkan lagi pada hadīts berikutnya di halaqah mendatang. 

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

_______
🏡 Donasi Markas Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Hanya Via WhatsApp & Informasi ;  0811-280-0606 
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.

Contoh : 100.025
_______


Minggu, 23 September 2018

Halaqah 16 | Hadits 16

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  23 September
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 14 Muharram 1440 H / 24 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 16 | Hadits 16
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H016
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 16


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-16 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita sudah sampai pada hadīts ke-15 yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā. Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

"Perlakukanlah manusia sesuai dengan posisi mereka atau tempatkanlah manusia pada posisi-posisi mereka." (Hadīts riwayat Abū Dāwūd)

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh mengatakan bahwa hadīts ini merupakan hadīts yang mulia yang di dalamnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menganjurkan kepada umat ini agar mereka senantiasa bersikap bijaksana, karena yang disebut dengan bijaksana adalah:

وضع الشيء مواضعها وتنزيلها منازلها

"Menempatkan segala sesuatu pada posisinya."

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Al Hakīm (Maha bijaksana) di dalam penciptaan, dan di dalam pengaturan alam semesta, di dalam syari'at yang Allāh tetapkan, perintah dan larangan semua itu berdasarkan kebijaksanaan yang Allāh miliki.

Oleh karena itu manusiapun diperintahkan untuk bersikap bijaksana di dalam mereka berbuat.

Dan beliau (rahimahullāh) di sini mencontohkan beberapa hal yang termasuk dalam penerapan hadīts ini.

Di antaranya:

⑴ Bermuamalah dengan manusia sesuai dengan kedudukan mereka, maka orang yang lebih tua, dia diperlakukan dengan hormat dan penuh dengan kehormatan serta dimuliakan.

● Dan orang yang lebih muda atau anak-anak yang lebih muda, maka mereka diperlakukan dengan cara kasih sayang dan kelemah-lembutan yang sesuai dengan kondisi mereka.

Seperti anak kecil apabila dia diperintahkan untuk melakukan suatu kebaikan atau dia dilarang dari suatu perbuatan yang buruk, maka dia diperintah atau dilarang dengan cara yang lembut.

Juga diberikan motivasi seperti diberikan hal-hal yang bisa menjadikan dia mau untuk menjalankan perintah atau menjauhi sesuatu yang buruk.

● Adapun orang yang dia lebih mulia, lebih tua atau dia memiliki kedudukan maka dia diarahkan dengan cara yang sopan dengan cara yang penuh dengan kehormatan.

Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan kepada nabi Mūsā dan nabi Hārun ketika Allāh perintahkan mereka mendakwahkan Fir'aun.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ۞ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

"Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas dan ucapkanlah kepadanya dengan ucapan yang layyin (lembut) menghormati dia, semoga saja dia bisa mengambil ibrah dan dia takut akan peringatan tersebut. " (QS Thāhā: 43-44)

Maka ini adalah bentuk penerapan hadīts ini, memperlakukan manusia, bermuamalah dengan manusia sesuai dengan posisi dan kedudukan yang mereka miliki.

⑵ Di dalam memberikan posisi jabatan atau tugas tertentu maka harus dilakukan dengan bijaksana juga, yaitu dengan menugaskan orang yang dia memiliki keahlian dibidangnya bukan dengan memilih orang-orang yang mereka tidak mampu untuk mengerjakan hal tersebut atau bukan bidangnya.

Justru harus dipilih orang-orang yang mereka lebih ahli di dalam bidang tersebut dan ini tentunya lebih diperhatikan oleh setiap orang yang dia memegang suatu kepemimpinan dalam hal apapun.

Baik kepemimpinan yang mencakup lingkup dalam negara atau kepemimpinan di dalam skala yang lebih kecil.

Dia harus memilih orang-orang yang mampu dan memiliki keahlian di bidang tugas tersebut.

Karena ini merupakan suatu bentuk kebijaksanaan yang diperintahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ

"Tempatkan manusia pada posisi-posisi mereka. "

⑶ Contoh ketiga yang beliau bawakan disini termasuk penerapan hadīts ini adalah dalam masalah memberikan hukuman bagi orang yang melakukan perbuatan kejahatan atau kemaksiatan.

Sikap kebijaksanaan dilakukan dengan cara apabila hukuman dari perbuatan tersebut telah ditentukan oleh syari'at ada hukuman hadnya maka pelakunya diberikan hukuman sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh syari'at apabila memang sudah ditetapkan oleh syari'at hukuman tertentu.

Seperti penerapan hukuman had, adapun kalau perbuatan tersebut belum ditentukan secara khusus jenis hukumannnya oleh syari'at, maka disitulah penegak hukum dia menerapkan hukuman yang dia pandang sesuai dengan kejahatan yang dilakukan.

Dia berijtihad di situ yang dinamakan dengan hukuman ta’zir yang tentunya kembali kepada ijtihadnya seorang imām yang dia pandang lebih cocok untuk perbuatan kejahatan tersebut.

Maka ini juga merupakan bijaksana apabila hal tersebut dilakukan.

⑷ Contoh lain yang beliau bawakan di sini yang termasuk perbuatan bijaksana adalah di dalam memberikan suatu sedekah atau hadiah.

Dicontohkan haruslah bijak di dalam memberikannya jangan disamakan antara orang yang dia tidak menjaga kehormatan dirinya dan meminta-minta kepada setiap orang, dengan orang yang dia berusaha menjaga kehormatan dirinya padahal dia sangat butuh.

Seorang yang memberi harus bijak dalam masalah tersebut.

Begitu juga dia bijak dalam memberikan kepada orang yang bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin dibandingkan orang yang manfaatnya hanya terbatas kepada dirinya sendiri.

Dia harus berusaha bijak dan menentukan mana yang lebih dia utamakan dan mana yang lebih dia prioritaskan dalam masalah tersebut.

Orang yang manfaatnya bisa berefek kepada masyarakat umum dengan orang yang kalau dia diberikan hanya sebatas pada kepentingan pribadinya saja, maka seorangpun harus bersikap bijak dalam masalah tersebut.

Ini di antara hal-hal yang beliau bawakan, mencontohkan bagaimana hadīts ini merupakan hadīts yang agung yang lafadznya singkat namun maknanya sangatlah mendalam dan luas dalam penerapan kehidupan sehari-hari.

Semoga apa yang kita kaji pada halaqah kita kali ini bermanfaat dan bisa kita terapkan hal tersebut dalam kehidupan kita dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita orang-orang yang Allāh berikan taufīq untuk bersikap bijak dalam segala perbuatan yang kita lakukan.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ نشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ نسْتَغْفِرُكَ وَنتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______
🏡 Donasi Markas Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Hanya Via WhatsApp & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.

Contoh : 100.025
_______


Halaqah 15 | Hadits 15

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  23 September
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 2 Muharram 1440 H / 12 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 15 | Hadits 15
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H015
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 15


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام  على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-15 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Pada halaqah kita kali ini, kita sudah sampai pada hadīts dari Abū Mūsā Al Asya'rī radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Di mana beliau mengatakan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila didatangi oleh seorang yang meminta-minta atau orang yang memiliki hajah kepada beliau maka beliau mengatakan kepada para shahābat nya:

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ

"Berikanlah syafā'at, maka kalian akan mendapatkan pahala dan Allāh telah menetapkan dari lisān RasūlullāhNya apa yang Allāh kehendaki." (Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Hadīts ini memberikan kepada kita anjuran untuk bersemangat di dalam memberikan syafā'at kepada orang lain yang membutuhkan.

Yang dimaksud dengan syafā'at yaitu dia menjadi perantara antara orang membutuhkan dan orang yang bisa memberikan kebutuhannya.

Dia menjadi penengah di antara keduanya, supaya orang yang mampu memberikan kebutuhan yang dimau, untuk memenuhi hajat orang yang butuh tadi dan memberikan syafā'at merupakan suatu bentuk kebaikan yang diberikan kepada orang lain yang sedang membutuhkan.

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memotivasi para shahābatnya supaya mereka bersemangat untuk memberikan syafā'at kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sehingga kebutuhan mereka bisa dipenuhi oleh orang-orang yang mampu untuk memenehuhi kebutuhannnya. Disampaikan kebutuhannya kepada orang-orang tersebut dan beliau menyatakan bahwasanya memberikan syafā'at ini akan mendapatkan pahala.

Tidak peduli apakah syafā'atnya itu memang diterima (dikabulkan) atau ditolak, maka pahala tetap didapatkan oleh orang yang memberikan syafā'at.

Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

تؤجروا

"Maka kalian akan memdapatkan pahala."

Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga telah menyatakan hal tersebut di dalam surat An Nissā: 85.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

"Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya".

Ini menunjukkan tentang anjuran untuk memberikan syafā'at apabila kita tahu ada orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ternyata hajatnya tidak bisa tersampaikan kepada orang lain. Kita harus menjadi penengah di antara keduanya agar satu sama lain bisa saling membantu.

Dan di dalam hadīts ini kita mengetahui betapa besarnya rahmat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dimana beliau ingin untuk memberikan kebaikan-kebaikan kepada seluruh umat dengan cara apapun.

Oleh karena itu apabila ada orang yang datang kepada beliau secara langsung menyampaikan hajatnya beliau akan berusaha memenuhi.

Begitu pula orang yang memiliki hajat akan tetapi tidak sampai beritanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka beliau menyuruh para shahābat yang mengetahui kondisi orang tersebut supaya menginformasikan kondisinya kepada beliau yaitu menjadi syafā'at bagi mereka di sisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam supaya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Ini menunjukkan betapa luasnya (besarnya) kasih sayang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada umat ini, serta hadīts ini juga memberikan faedah kepada kita berupa anjuran untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan.

Seperti ada orang dia ingin memberikan kebaikan akan tetapi dia tidak tahu kepada siapa dia harus berikan kebaikan-kebaikan ini.

Dia ingin bersedekah dia tidak tahu orang-orang yang membutuhkan, maka orang yang tahu orang-orang yang membutuhkan ini dia memberikan syafā'at kepada mereka, dia sampaikan kepada orang yang ingin memberikan kebaikan ini bahwasanya di sana ada orang yang membutuhkan.

Dia menjadi syafā'at bagi orang-orang tersebut, dia menunjukkan kebaikan kepada orang tersebut dan itu adalah hakikat syafā'at, yaitu dia menjadi perantara dalam kebaikan.

Kemudian di akhir hadīts ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwanya segala apa yang ditetapkan atau terjadi baik bentuknya syafā'at yang diterima atau syafā'at yang tidak diterima, maka semua itu tidak lepas dari taqdir Allāh.

Seorang dia mengabulkan permintaan orang lain maka itupun adalah ketetapan taqdir Allāh yang telah Allāh tetapkan.

Atau dia tidak mampu, tidak mau untuk memberikan pada orang lain, itupun taqdir Allāh.

Oleh karena itu beliau menetapkan dari lisan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam apa yang Allāh kehendaki.

Demikianlah penjelasan singkat tentang hadīts ini, dimana hadīts ini kita tahu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat ingin supaya umat ini, mereka memberikan syafā'at satu dengan yang lain apabila mereka tahu ada orang yang memerlukan untuk diberikan syafā'at.

In syā Allāh, kita lanjutkan lagi halaqah ini pada pertemuan mendatang.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________
🏦 Donasi Dakwah BIAS dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke:  0878-8145-8000

SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)

▪ Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda...
_______


Halaqah 14 | Hadits 14

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  23 September
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 1 Muharrom 1440 H / 11 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 14 | Hadits 14
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H014
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 14


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام  على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-14 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Pada halaqah kita kali ini, kita sudah sampai pada hadīts dari Abū Mūsā Al Asya'rī radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Beliau mengatakan, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا وشبك بين أصابعه
الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ". وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ.

"Seorang mukmin dengan mukmin yang lain ibarat suatu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjalin jari jemari beliau" (Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan hadīts ini, bahwa hadīts ini adalah hadīts yang mulia yang berbicara tentang prinsip utama yang harus dipegang oleh seluruh kaum muslimin.

Yaitu mereka harus tahu bahwasanya kaum muslimin itu adalah saudara, yang harus saling menyayangi dan saling mencintai serta saling mendukung.

Yang satu sama lain harus berusaha untuk memberikan kepada saudaranya apa yang dia senang untuk diberikan kepada dirinya sendiri, serta mereka wajib untuk berusaha merealisasikan maslahat umum yang kembali kepada kaum muslimin secara keseluruhan.

Ibarat sebuah bangunan, yang di mana bangunan tersebut terdiri dari pondasi, tembok, atap dan pintu-pintu yang tidak akan mungkin masing-masing bisa berdiri sendiri begitu juga seorang muslim.

Begitu juga kaum muslimin mereka harus saling mendukung dan saling berpadu untuk mencapai kemaslahatan mereka bersama.

Kemudian beliau sebutkan bahwasanya perkara yang sifatnya fardu 'ain maka masing-masing harus berusaha merealisasikannya, berusaha untuk menjalankannya.

Adapun perkara yang sifatnya fadhu kifayah maka sebagian kaum muslimin harus tetap ada yang menjalankan fardu kifayah tersebut, tidak boleh tidak, maka masing-masing dia harus berusaha untuk menjalankan kewajiban dia sesuai dengan kemampuan dan posisinya.

Sesuai dengan peran dia di dalam tubuh kaum muslimin dan tentunya itu bisa terjadi dengan adanya musyawarah dan juga berusaha untuk menyatukan tekad mengapai maslahat yang sifatnya umum untuk kebaikan kaum muslimin.

Kemudian beliau contohkan di sini, bahwa masing-masing atau setiap golongan dari kaum muslimin harus berupaya untuk menjalankan kewajiban sesuai pada posisinya.

Contohnya ;

√ Ada orang yang kewajiban dia adalah belajar dan mengajarkan,
√ Kemudian kelompok yang lain, kewajiban dia adalah berjihād dan menjaga keamanan wilayah kaum muslimin,
√ Kemudian ada yang lain, yang kewajiban dia adalah berupaya untuk menyokong ekonomi kaum muslimin dengan keahlian-keahlian mereka. Seperti; perdagangan, pertanian atau usaha-usaha yang lain sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

Dan juga ada kelompok yang lain, yang kewajiban mereka adalah mempelajari tentang kepemerintahan atau ketatanegaraan, perkara siasat yang itu di butuhkan oleh kaum muslimin.

Sehingga apabila satu sama lain ini saling mendukung maka itu merupakan suatu wujud upaya untuk memberikan maslahat kepada Islām dan kepada kaum muslimin. Serta upaya untuk memerangi musuh-musuh kaum muslimin.

Maka intinya masing-masing lapisan dari kaum muslimin harus berusaha untuk memberikan maslahat kepada agama dan juga kepada kehidupan mereka seluruhnya dengan saling membantu dan saling mendukung.

Karena meskipun cara-cara (jalan-jalan) mereka berbeda akan tetapi tujuan mereka satu.

Kata beliau rahimahullāh bahwasanya الغاية واحدة وإن تبيانة الترك (tujuannya satu meskipun jalannya bermacam-macam).

Maka hadīts ini memberikan kepada kita suatu faedah yang besar di mana di situ merupakan kunci yang disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk merealisasikan maslahat bagi kaum muslimin.

Semoga Allāh menjadikan hati-hati kaum muslimin ini bersatu dan menjadikan tangan-tangan mereka saling bahu-membahu di dalam mencapai maslahat dalam menegakan syari'at Allāh dan juga memerangi musuh-musuhnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________

🏦 Donasi Dakwah BIAS dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke:  0878-8145-8000

SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)

▪ Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda...
_______



Halaqah 13 | Hadits 13

by Rory Rachmad  |  in Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār at  23 September
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Dzulhijjah 1439 H / 10 September 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto, Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 013| Hadits 13
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H013
〰〰〰〰〰〰〰

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR HADĪTS 13


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-13 dalam mengkaji kitāb بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Pada halaqah kita kali ini, kita masih berada pada penjelasan hadīts ke-12 yaitu hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Kita sudah sampai pada sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, di mana beliau mengatakan:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

"Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa ungkapan di sini adalah ungkapan yang singkat namun maknanya begitu bermanfaat atau diistilahkan sebagai kalāmu jāmi'un.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan dalam ungkapan ini tiga hal yang itu merupakan sebab seorang bisa mendapatkan kebahagiaannya baik di dalam urusan dunia maupun di dalam urusan akhirat.

Tiga hal tersebut adalah:

⑴ Al hirsh  (الحرص) memiliki semangat di dalam perkara-perkara yang dia lakukan, karena semangat adalah modal utama dia melangkahkan kakinya pada suatu amalan.

Adapun orang yang malas maka dia hanya akan menggantungkan dirinya terhadap hal-hal yang dia sendiri tidak berusaha untuk melakukannya.

Sehingga orang yang malas adalah orang yang tidak mungkin bisa mendapatkan kebahagiaan baik di dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.

⑵ Al Istihadu fīmā yanfa, bersungguh-sungguh di dalam melakukan perkara yang bermanfaat.

Karena orang yang hanya bermodal semangat tetapi dia tidak merealisasikan semangatnya dengan upaya yang sungguh-sungguh maka tidak akan bisa mencapai apa yang dia inginkan, sehingga perlu hal yang kedua ini yaitu dia melakukan upaya.

Dan upaya ini harus pada hal-hal yang bermanfaat, karena kalau upaya yang dia lakukan pada perkara yang membahayakan, yang tidak ada manfaat maka semua itu akan menyia-nyiakan umurnya.

Dan hanya akan menjadikan dia ditimpa perkara-perkara yang merugikan dirinya sendiri.

⑶ Al Isti'ānatu billāh, dia iringi upaya tersebut dengan meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena ini merupakan sebab dia bisa berhasil dalam apa yang dia inginkan.

Karena segala sesuatu berada di tangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka selain dia berupaya dia juga harus meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla memudahkan urusannya, agar memudahkan dirinya dalam mengapai apa yang dia inginkan.

Tiga hal ini merupakan sebab kebahagiaan seorang dalam urusan dunia maupun urusan agamanya.

Kemudian beliau juga menyebutkan dalam penjelasan hadīts ini bahwa yang dimaksud hal yang bermanfaat di dalam sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tersebut mencakup hal-hal yang bermanfaat dalam urusan dunia maupun dalam urusan akhirat (agama).

Adapun hal-hal yang bermanfaat dalam urusan agama maka itu berupa dua hal,  yaitu:

⑴ Ilmu yang bermanfaat, karena ilmu yang akan menjadikan dia mampu untuk membersihkan jiwanya.

Yang menjadikan dia mampu untuk mengenal kebaikan bagi dirinya, maka beliau contohkan di sini.

Beliau mencontohkan, mengapai ilmu yang bermanfaat adalah dia berusaha memulai dengan menghapal pelajaran-pelajaran dari mulai yang ringan hingga pelajaran-pelajaran yang lebih mendalam.

⑵ Hal yang bermanfaat dalam urusan agama adalah amal shālih, karena seorang berilmu tanpa beramal, maka sia-sia apa yang dia ketahui.

Dia butuh kepada amal shālih dan beliau sebutkan bahwa yang dimaksud dengan amal shālih adalah amal yang dibangun di atas keikhlāsan dan di atas mutāba'ah terhadap sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam bertaqarub kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah dua perkara yang merupakan hal bermanfaat di dalam urusan agama.

√ Ilmu yang bermanfaat
√ Amal yang shālih

Adapun perkara yang bermanfaat di dalam urusan dunia tidak boleh juga dia tinggalkan, dia harus berupaya menjalankannya, berupaya untuk mengapainya.

Karena sebagaimana manusia butuh kepada perkara akhirat, dia juga butuh kepada perkara-perkara dunia yang bisa menopang dirinya untuk menggapai kebahagiaannya.

Maka seorang harus berusaha, semangat mencari rejeki yang halal supaya bisa membantu dia dalam menjalankan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dia berusaha untuk mencari jalan-jalan rejeki yang Allāh halalkan bukan hal-hal yang haram karena itu justru memudharatkan dirinya, bukan memanfaatkan dirinya.

Kemudian Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadīts tersebut menyebutkan bahwa seorang yang dia telah berusaha kemudian dia tidak berhasil atau dia ditimpa suatu yang tidak menyenangkan yang tidak diharapkan maka beliau berikan solusinya.

Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا . وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ " .

"Dan jika engkau ditimpa sesuatu yang tidak engkau sukai, maka jangan engkau ucapkan, 'Kalau seandainya saya melakukan demikian, niscaya hasilnya demikian, demikian'. Akan tetapi ucapkanlah Qadarallāh wa masyaa fa'ala (apa yang Allāh taqdirkan dan apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi). Karena ucapan “seandainya dan senadainya” akan membuka celah bagi syaithān".

Di sini Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan bahwa apabila upaya telah dilakukan namun belum juga meraih apa yang diinginkan maka seorang tidak boleh dia mengucapkan ungkapan-ungkapan yang di situ menunjukkan ketidakridhāan dia terhadap taqdir.

Yaitu dengan kata lau (seandainya)..... "Seandainya dulu saya demikian maka pasti demikian".

⇒ Karena ini merupakan ungkapan yang bisa membuka celah bagi syaithān.

Maksudnya dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī di sini, maksud ungkapan ini merupakan ungkapan yang bisa menjerumuskan seorang kepada ketidakridhāan terhadap taqdir, akan mengurangi keimanan dia terhadap taqdir dan juga ungkapan ini justru menambah kesedihan kepada dirinya, disamping kesedihan dia di dalam kegagalan atau perkara yang tidak menyenangkan yang dia hadapi.

Oleh karena itu Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam menyarankan menngucapkan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

"Apa yang telah Allāh taqdirkan pasti akan terjadi".

⇒ Yaitu tidak akan mungkin bisa luput dari seorang hamba.

Demikian faedah yang bisa kita ambil dari hadīts yang mulia ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________

🏦 Donasi Dakwah BIAS dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke:  0878-8145-8000

SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)

▪ Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda...
_______


Kajian 107 | I'tikāf Bagian 01

by Rory Rachmad  |  in Matan abu syuja' at  23 September
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 24 Dzulhijjah 1439 H / 05 September 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb I'tikāf
🔊 Kajian 107 | I'tikāf Bagian 01
⬇ Download audio: bit.ly/MatanAbuSyuja-K107
➖➖➖➖➖➖➖

I'TIKĀF, BAGIAN 01 DARI 03


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulilāh, kita kembali mempelajari perkara-perkara di dalam urusan agama, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberkahi kita semua.

Alhamdulilāh, kita masuk pada bab tentang I'tikāf (اعتكاف).

• Secara Bahasa

  الحبس ولزوم  الإقامة علي الشيء

(I'tikāf (اعتكاف) secara bahasa maksudnya) menahan diri, dia berdiam pada satu tempat.

• Secara Syari'at

 حبس النفس في المسجد بنية العبادة

Yaitu berdiam diri di masjid dalam rangka untuk beribadah.

⇒ Jadi yang dimaksud dengan i’tikaf secara syar’i adalah seorang dia berdiam di masjid dengan niat untuk ibadah.

Berkata penulis rahimahullāh:

((والاعتكاف سنة مستحبة وله شرطان))

((Bahwasanya i'tikāf adalah sunnah mustahabah.))

⇒ Hukumnya adalah sunnah yang disukai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dalīlnya adalah hadīts Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّام فَلمَّا كَانَ العَامُ الذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوماً

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beri'tikāf setiap bulan Ramadhān sepuluh hari, dan pada tahun dimana beliau meninggal dunia beliau beri'tikāf selama dua puluh hari."(Hadīts riwayat Bukhāri)

⇒ Ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam senantiasa mendawamkan (kontinue) di dalam ibadah i'tikāf ini.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengqadha tatkala beliau tidak bisa i'tikāf di bulan Ramadhān, beliau qadha dengan i'tikāf di bulan Syawwāl.

Sebagaimana dalam sebuah hadīts bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau i'tikāf di sepuluh hari terakhir di bulan Syawwāl, sebagai qadha dari bulan Ramadhān, hadīts itu diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim.

Namun yang paling afdhal adalah di bulan Ramadhān, terutama di akhir bulan Ramadhān sebagaimana yang disebutkan oleh 'Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā.

كان النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قال كان يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam senantiasa beri'tikāf di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān, sampai Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewafatkan beliau."(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Di dalam hadīts yang lain Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan petunjuk bahwa i'tikāf pun boleh dilakukan tidak harus sepuluh hari, i'tikāf bisa dilakukan satu hari.

Sebagaimana tatkala 'Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta'āla 'anhu bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

"Saya bernadzar waktu saya masih jāhilīyyah untuk beri'tikāf satu hari di masjid harām."

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

"Tunaikanlah nadzarmu (i'tikāf lah satu malam)."

⇒ Ini menunjukkan bahwanya boleh seseorang beri'tikāf walaupun satu malam.

Berapa masa minimal seseorang dikatakan i'tikāf?

√ Pendapat jumhur di antaranya Abū Hanifah dan juga Imām Syāfi'i:

"Tidak ada batas minimalnya, selama seorang berniat untuk i'tikāf, walau hanya satu jam, dua jam maka dia sudah terhitung i'tikāf."

√ Pendapat yang lain ada yang mengatakan:

"Minimal satu hari satu malam, berdasarkan hadīts dari 'Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta'āla 'anhu. Bahwasanya disebutkan di situ satu malam dan disetujui oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan tidak ada dalīl bahwasanya i'tikāf kurang dari satu malam."

Yang jelas apabila seorang mampu untuk melaksanakan i'tikāf terutama di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhān dalam rangka berniat untuk ibadah maka hendaknya dia dawwamkan (rutinkan), karena ini adalah salah satu sunnah yang senantiasa dikerjakan oleh Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Penulis rahimahullāh berkata:

((وله شرطان: النية والبث في المسجد))

((Dan i'tikāf ada dua syarat, yaitu: ⑴ Niat ⑵ Berdiam diri di masjid))

• Niat

Adapun niat sebagaimana hadīts yang umum:

 إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan di dalam hatinya."

Oleh karena itu tatkala seseorang ingin masuk ke dalam masjid dan dia berniat i'tikāf maka dia mendapatkan pahala i'tikāf. Akan tetapi tatkala dia masuk ke dalam masjid tidak meniatkan dalam hatinya untuk i'tikāf walaupun dia berdiam diri di dalam masjid selama sepuluh hari, maka dia tidak terhitung sebagai i'tikāf.

Oleh karena itu perlu diniatkan di dalam hati bahwasanya, "Saya masuk masjid berniat untuk i'tikāf mengikuti sunnah Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam."

• Berdiam di dalam masjid

Karena tidak disyari'atkan i'tikāf selain di masjid, berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

"Dan jangan kamu berhubungan (campuri mereka) sedang kamu beri'tikaf dalam masjid." (QS Al Baqarah: 187)

⇒ Di sini menunjukkan bahwasanya sifat i'tikāf dia adalah berada di masjid.

Dalīl kedua adalah bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam i'tikāf di masjid begitu juga para istri-istri beliau, mereka beri'tikāf juga di masjid.

Seandainya diperbolehkan i'tikāf di rumah atau di tempat lain niscaya istri-istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak i'tikāf di masjid, karena i'tikāf di masjid ada masyaqah (kesulitan) sedangkan di rumah akan lebih nyaman daripada berada di masjid.

Dan masjid yang diperbolehkan adalah seluruh masjid, sebagaimana pendapat jumhur, bukan hanya tiga masjid saja (masjid Harām, masjid Nabawi dan masjid 'Aqsa), tidak terbatas tiga masjid ini.

Selama disebut sebagai masjid maka diperbolehkan untuk i'tikāf di dalamnya berdasarkan keumuman firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

وَأَنتُمْ عَـٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَـٰجِد

"Sedang kamu dalam keadaan i'tikāf di dalam masjid." (QS Al Baqarah: 187)

Demikian yang bisa disampaikan, in syā Allāh akan kita lanjutkan pada pelajaran berikutnya.


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________

🏦 Donasi Dakwah BIAS dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 A.N : YPWA Bimbingan Islam

📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke:  0878-8145-8000

SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)

▪ Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal

📝 Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda...
_______

gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.