Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baiknya apa yang ditinggalkan oleh seseorang setelah ia meninggal dunia adalah tiga hal, yang pertama anak shaleh yang mendoakannya, sedekah jariyah yang terus mengalir pahalnya kepadanya, dan ilmu yang diamalkan setelahnya.” (HR Ibnu Majah)

Pilih Bahasa

Kamis, 18 Januari 2018

Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil Bagian 04

by Rory Rachmad  |  in Hadits Arba'in at  Kamis, Januari 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 01 Jumadal Ūla 1439 H /18 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 04 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0227
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 4 DARI 12)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lihat, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengharāmkan banyak perkara terhadap kaum muslimin agar terjauh dari orang-orang musyrikin, baik dalam perkara ibadah maupun perkara adat.

Contoh perkara ibadah:

⇒ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang kita meniru gaya-gaya ibadah orang-orang musyrikin.

Sampai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyuruh para shahābat shalāt menggunakan sandal-sandal (sepatu-sepatu) mereka, karena orang-orang Yahūdi tatkala mereka shalāt mereka tidak menggunakan sandal dan sepatu (di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Dalam soal ibadah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyuruh para shahābat menyelisihi orang-orang Yahūdi.

Bahkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang kita untuk mengerjakan shalāt setelah shalāt 'ashar dan shalāt shubuh, karena pada waktu itu penyembah matahari (orang-orang Majusi) sedang beribadah kepada matahari. Puncak ibadah mereka tatkala matahari tenggelam dan matahari terbit.

Tidak hanya dilarang meniru bentuk ibadahnya, waktu ibadahnya pun kita dilarang meniru adat. Kita umatnya diminta jauh-jauh dari bentuk kesyirikan, jangan sampai menyamai orang-orang musyirikan.

Perkara adatpun Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang kita menyerupai (tasyabbuh) dengan mereka.

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

_“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”_

(Hadīts riwayat Ahmad 2: 50 dan Abū Dāwūd nomor  4031. Syaikhul Islām dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadīts ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albāniy mengatakan bahwa hadīts ini shahīh sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil nomor1269)

Contohnya dalam perkara jenggot, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

_"Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majūsi."_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 626)

Dan banyak hadīts-hadīts yang seperti ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyuruh kita menyelisihi orang-orang musyrikin, karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak ingin kita dekat kepada kesyirikan.

Bahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyunnahkan kita membunuh cicak.

Kenapa kita disunnahkan membunuh cicak?

Karena cicak adalah hewan yang meniup apinya Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām (bapaknya tauhīd).

Tatkala itu Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām sedang dimusuhi oleh orang-orang musyrikin ternyata ada cicak yang ikut membantu orang-orang musyrikin meniup api (menyalakan api) untuk membakar nabi Ibrāhīm 'alayhissallām.

Orang mungkin mengatakan, "Apa salah cicak?"

Nabi ingin menghidupkan kebencian (peperangan) terhadap orang-orang musyrikin, bahwasanya orang yang bertauhīd harus berbeda dengan orang-orang musyrikin, tidak boleh sama. Tauhīd harus istimewa tidak boleh sama dengan orang-orang musyrikin.

Terlebih lagi yang berkaitan dengan syirik langsung, sampai-sampai kita lihat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menghukumi lafal-lafal yang mengarah kepada kesyirikan dengan kesyirikan (dihukumi dengan kesyirikan).

Ada beberapa perkara yang merupakan syirik ashghar (شرك الأصغر) dan dia hanya sekedar lafal, tetapi dilarang oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam karena lafal tersebut mengandung makna kesyirikan meskipun pengucapnya tidak berbuat kesyirikan.

Contohnya:

Tatkala ada seseorang berkata kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

 ما شاء الله وشئت

"Māsyā Allāhu wasyi'ta"

_"Karena kehendak Allāh dan kehendakmu."_

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pun marah, Nabi mengatakan:

 أجعلتني لله نداً

_"Apakah kamu menjadikan aku tandingan bagi Allāh?"_

Katakanlah:

قل ما شاء الله وحده

_"Hanya karena kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_

Atau katakan:

ما شاء الله ثم شئت

_"Karena kehendak Allāh kemudian karena kehendakmu."_

Shahābat yang mengatakan, "Karena kehendak Allāh dan kehendakmu wahai Rasūlullāh," sama sekali tidak ada kesyirikan dalam hatinya, dia tidak mungkin menggandengkan Nabi dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tetapi lafalnya mengandung makna kesyirikan.

Seandainya dia meyakini Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyertai Allāh dalam mengatur alam semesta, maka dia musyrik (kāfir). Para shahābat tidak demikian, akan tetapi sekedar lafal yang menyatakan:

 ما شاء الله وشئت

_"Karena kehendak Allāh dan kehendak engkau wahai Rasūlullāh."_

Ini sekedar lafal tapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam marah, karena lafal tersebut mengandung makna kesyirikan meskipun pelakunya sama sekali tidak punya i'tikad kesyirikan (tidak ada niat syirik sama sekali), namun dilarang.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________




Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil Bagian 03

by Rory Rachmad  |  in Hadits Arba'in at  Kamis, Januari 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Rabi’ul Akhir 1439 H /17 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua |
Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 03 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0226
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 3 DARI 12)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Perbedaan syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر), adalah:

⑶ Sebagian ulamā (ada khilāf diantara para ulamā) mengatakan bahwasanya di antara perbedaan antara syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر) adalah syirik akbar tidak akan diampuni.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ

_"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu."_

(QS An Nissā': 48)

Adapun syirik kecil sebagian ulamā mengatakan termasuk ke dalam kehendak Allāh, bisa diampuni bisa juga tidak sebagaimana dosa-dosa yang lain.

Pada poin ketiga ini ada khilāf, sebagian ulama seperti Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Banyak perkataan-perkataan beliau yang mengisyaratkan bahwasanya beliau berpendapat syirik kecilpun tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Adapun murid beliau Ibnu Qayyim rahimahullāh cenderung kepada pendapat bahwasanya syirik kecil bisa diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mereka yang mengatakan syirik kecil tidak akan diampuni oleh Allāh mereka berdalīl dengan keumuman firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

_"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa kesyirikan."_

Disini Allāh menyebutkan syirik secara umum, sehingga mencakup syirik besar dan juga syirik kecil.

Dan yang dimaksud oleh para ulamā syirik kecil tidak akan diampuni bukan berarti orang yang melakukan syirik kecil akan masuk ke dalam neraka Jahanam kekal di dalamnya selama-lamanya (bukan seperti ini maksudnya).

Maksudnya syirik kecil jika tidak diampuni artinya pelakunya harus ditimbang ke dalam timbangan keburukan, kemudian dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh hamba tersebut.

Artinya tidak diampuni bukan berarti orang yang melakukan syirik asghar kemudian kekal di dalam neraka jahanam, tidak! tetapi dia harus diletakkan dalam timbangan amal keburukan.

Namun pendapat yang lebih rajīh, Wallāhu a'lam bishawāb, adalah pendapat yang menyatakan syirik kecil di bawah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sebagaimana dosa-dosa yang lain.

Jika Allāh berkehendak untuk mengampuni maka Allāh ampuni atau jika Allāh berkehendak untuk tidak mengampuni maka Allāh tidak akan ampuni dan akan diletakkan ke dalam  timbangan keburukan.

Kenapa?

Karena banyak ayat-ayat dalam Al Qur'ān yang menyebutkan syirik secara umum tetapi maksudnya syirik akbar.

Contohnya seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

_"Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allāh maka Allāh harāmkan surga baginya dan tempat kembalinya neraka Jahanam dan tidak ada penolong baginya."_

(QS Al Mā'idah: 72)

Disini Allāh mengatakan:

"Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan."

Maksudnya syirik akbar bukan syirik kecil. Karena Allāh mengatakan, "Allāh harāmkan surga baginya."

Yaitu, tidak mungkin masuk surga selamanya. Padahal lafalnya umum.

Contoh lain firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

_"Jika engkau berbuat kesyirikan maka akan gugur seluruh amalanmu."_

(QS Az Zummar: 65)

Maksudnya kesyirikan disini adalah adalah syirik akbar padahal lafalnya umum, dengan ijmā' ulamā maksudnya syirik akbar.

Demikian pula firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ

_"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa kesyirikan."_

Maksudnya syirik akbar.

Meskipun dinyatakan dengan nama syirik kecil, bukan berarti dia merupakan dosa yang ringan, dia termasuk dari dosa besar. Walaupun dia disebut dengan syirik kecil tapi dia termasuk dari keumuman kesyirikan dan termasuk dari dosa besar dan bisa mengancam pelakunya terjerumus dalam neraka jahannam.

Bukankah telah kita sampaikan pada pertemuan yang lalu tentang tiga orang yang diadzāb oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla  karena riyā'.

√ Yang berjihād karena riyā'.
√ Yang bershadaqah karena riyā'.
√ Yang menjadi ustadz ('alim) karena riyā'.

Dimasukan ke dalam neraka jahannam.

Oleh karenanya syirik ashghar meskipun dikatakan syirik kecil dia termasuk dosa besar.

Barangsiapa yang memperhatikan bagaimana perhatian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terhadap tauhīd, maka dia akan sadar bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin menjauhkan umatnya dari segala bentuk kesyirikan, sejauh-jauhnya.

Oleh karenanya
Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām berdo'a:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

_"Yā Rabb, jauhkan aku dan anak-anakku dari penyembahan berhala."_

(QS Ibrāhīm: 35)

"Jauhkan aku dari penyembahan berhala, jauhkan aku dan anak-anakku dari kesyirikan." Artinya Nabi Ibrāhīm dan anak-anaknya jauh, bukan hanya sekedar tidak melakukan kesyirikan, tetapi Nabi Ibrāhīm berdo'a agar dijauhkan, dijauhkan sejauh-jauhnya dari segala bentuk kesyirikan. Bukan sekedar jangan membuat kami terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak!

Bukan hanya tidak terjerumus bahkan jauh dari kesyirikan dan ini do'anya Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengharāmkan banyak perkara terhadap kaum muslimin agar terjauh dari orang-orang musyrikin, baik dalam perkara ibadah maupun perkara adat.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.


وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_____________________


Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil Bagian 02

by Rory Rachmad  |  in Hadits Arba'in at  Kamis, Januari 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1439 H /16 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 02 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0225
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 2 DARI 12)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita sama-sama berusaha untuk membersihkan jiwa kita dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil dan ini perlu perjuangan.

Perjuangan yang tiada hentinya, karena hal-hal yang bisa memalingkan hati kita dari keikhlāsan sangat banyak. Hal-hal yang bisa menjerumuskan hati kita ke dalam syirik kecil banyak.

Oleh karenanya barangsiapa yang berjuang dan mentahqiq ikrar dia yang selalu dia ucapkan dalam shalātnya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

_"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."_

(QS Al Fatihah: 5)

Maka dia akan selamat dari segala bentuk kesyirikan, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau (Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh) mengatakan:

_"Barangsiapa yang mentahqiq (mewujudkan): إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkaulah yang kami beribadah) maka dia akan bersih dari riyā'."_

Kenapa?

Karena setiap dia melakukan ibadah, dia selalu ingat bahwasanya, "Kami tidak beribadah kecuali hanya kepada Engkau yā Allāh. Kami tidak bersedekah kecuali hanya untuk Engkua yā Allāh. Kami tidak shalāt. Kami tidak berdakwah, kami tidak berinfāq kecuali karena Engkau yā Allāh."

Maka dia akan selamat dari dosa riyā'.

_"Dan barangsiapa yang mewujudkan: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan), maka dia akan selamat dari penyakit ujub."_

Menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, ujub merupakan syirik kecil, karena seseorang tatkala meraih keberhasilan kemudian dia merasa memiliki peran dalam keberhasilan tersebut, dia merasa karena kecerdasannya, dia merasa karena pengalamannya, dia merasa karena kehebatannya, kepandaiannya, maka dia terjerumus ke dalam ujub.

Orang yang bebas dari ujub dia sadar bahwasanya segala sesuatu berdasarkan isti'ānah (pertolongan) dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Memang dia punya pengalaman, punya kecerdasan, tetapi pengalaman dan kecerdasan tersebut dari Allāh. Allāh siapkan pengalaman tersebut sehingga dia berhasil.

Oleh karenanya barangsiapa mentahqiq (mewujudkan): إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , maka dia akan bersih dari segala bentuk kesyirikan, riyā' maupun ujub.

Pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah tentang syirik asghar (الشرك الاصغر) dan kita telah jelaskan bahwasanya para ulamā telah membagi syirik menjadi dua, yaitu:

⑴ Syirik Asghar (الشرك الاصغر)
⑵ Syirik Akbar (الشرك الأكبر)

Bedanya apa?

Kita sepakat bahwasanya syirik merupakan dosa besar, sebagaimana telah saya jelaskan bahwa Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

_"Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar?"_

_Beliau bertanya ini 3x._

_Para shahābat mengatakan:_

_"Tentu wahai Rasūlullāh."_

_Nabi bersabda:_

_"Syirik kepada Allāh dan durhaka kepada orang tua."_

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ؟

_“Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”_

Maka kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ.

_"Engkau menjadikan tandingan bagi Allāh (menyekutukan Allāh ) padahal Allāh-lah yang telah menciptakanmu."_

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Perbedaan syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر) adalah:

⑴ Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik akbar maka dia keluar dari Islām.

Syahadah '
"Lā ilāha illallāh" batal, sebagaimana wudhū bisa batal, shalāt bisa batal, haji bisa batal, puasa bisa batal, demikian juga rukun peryama 'Lā ilāha illallāh bisa batal. Batalnya dengan kesyirikan dan kekufuran.

Adapun syirik kecil tidak.

Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik kecil (in syā Allāh akan kita jelaskan bentuk-bentuk syirik kecil) maka dia tidak keluar dari Islām (kāfir) dia hanya terjerumus dalam dosa, dosa yang berbahaya namun tidak sampai pada derajat kekāfiran.

Ini perbedan pertama.

⑵ Jika seseorang terjerumus ke dalam syirik akbar maka seluruh amalan perbuatan dia gugur.

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

_"Jika engkau melakukan kesyirikan maka akan gugur seluruh amalanmu."_

(QS Az Zummar: 65)

Adapun syirik kecil maka dia hanya mengugurkan amalan yang tercampurnya saja tidak semua amalan.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_____________________


Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil Bagian 01

by Rory Rachmad  |  in Hadits Arba'in at  Kamis, Januari 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 28 Rabi’ul Akhir 1439 H /15 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Hadits Arba’in Nawawī
🔊 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 01 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0224
-----------------------------------

*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 1 DARI 12)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Alhamdulilāh pada pertemuan yang lalu kita telah membahas:

* Tauhid rubūbiyah dan berbagai macam bentuk kesyirikan dan kekufuran yang menyimpang dari tauhīd rubūbiyah.

* Tauhīd ulūhiyah dan kesyirikan-kesyirikan yang menyimpang dari tauhīd ulūhiyah yaitu syirik-syirik akbar.

In syā Allāh, pada kesempatan hari ini kita akan membahas tentang: الشرك الاصغر , syirik kecil.

Karena di antara kesempurnaan tauhīd adalah membersihkan hati dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil.

Membersihkan hati dari syirik besar maupun syirik kecil dengan berbagai macam rupa dan warnanya merupakan perkara yang berat, perlu perjuangan.

Perjuangan tersebut tidak akan selesai kecuali setelah meninggal dunia.

Akan tetapi barangsiapa meninggal dunia dalam kondisi bertauhīd tidak berbuat syirik sama sekali (syirik besar maupun syirik kecil) maka dia akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar. Di antara ganjaran tersebut adalah dia akan diampuni dosa-dosanya.

Oleh karenanya di dalam hadīts qudsi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

_"Wahai anak Ādām, kalau engkau datang menemuiku dengan membawa dosa sebesar bumi ini, kemudian engkau bertemu dengan Ku dalam kondisi tidak berbuat syirik sama sekali, maka aku akan mendatangi engkau dengan sebesar bumi pula berupa ampunan."_

(Hadīts hasan riwayat At Tirmidzī)

Ini merupakan ganjaran yang luar biasa bagi orang yang memurnikan hatinya, bersih dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik akbar maupun syirik kecil.

Meskipun dosa sebesar apapun yang dia bawa maka Allāh akan datangkan dengan ampunan sebesar dosa tersebut.

Sungguh menakjubkan hadīts shahībul bithāqah yang mashyur yang disebutkan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

_"Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amal keburukannya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang._

_Kemudian Allāh menanyakan padanya:_

_"Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?"_

_Ia menjawab:_

_"Tidak sama sekali wahai Rabbku."_

_Allāh bertanya lagi:_

_"Apakah yang mencatat hal ini berbuat zhālim padamu?"_

_Lalu ditanyakan pula:_

_"Apakah engkau punya udzur atau ada kebaikan di sisimu?"_

_Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak."_

_Allāh pun berfirman:_

_"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezhāliman atasmu hari ini."_

_Lantas dikeluarkanlah satu bithāqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat "'Lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasūluh"._

_Lalu ia bertanya:_

_"Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?"_

_Allāh berkata padanya:_

_"Sesungguhnya engkau tidaklah zhālim.”_

_Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘'Lā ilāha illallāh" di daun timbangan lainnya._

_Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘'Lā ilāha illallāh" tadi._

(HR Ibnu Majah 4300)

Setiap muslim memiliki kartu 'Lā ilāha illallāh, tetapi tidak semua kwalitasnya sama, barangsiapa yang tauhīdnya tinggi, hatinya bersih dari segala bentuk kesyirikan maka sinar tauhīdnya akan semakin kuat dan akan mudah menghancurkan dosa-dosa yang lain.

Memang berat untuk bisa memurnikan tauhīd dari segala bentuk kesyirikan baik syirik besar maupun syirik kecil. Akan tetapi jika seseorang meninggal dunia dalam kondisi demikian maka ampunan telah menantinya, surga telah menantinya.

Syafā'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menantinya.

Dalam hadīts Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

 لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

_"Setiap nabi ada do'a yang dikabulkan, dan setiap nabi bersegera berdo'a agar dikabulkan. Akan tetapi aku simpan do'aku untuk dapat memberikan syafā'at kepada umatku pada hari Kiamat._

_Dan sesungguhnya, syafā'atku ini akan diperoleh, in syā Allāh bagi orang yang mati dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun."_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 199)

Oleh karenanya orang yang tidak berbuat syirik sama sekali maka dia akan meraih syafā'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.


وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________


Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah Bagian 6

by Rory Rachmad  |  in sirah nabawiyah at  Kamis, Januari 18, 2018
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 26 Rabi’ul Akhir 1439 H / 13 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 10 | Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 6 dari 11)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-1006
~~~~~~~~~~~~~~~

*HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHĀBAT KE HABASYAH (BAGIAN 6 DARI 11)*


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian kita akan lanjutkan kisah hijrah para shahābat ke negeri Habasyah (Ethiopia)

Kemudian raja Najāsyī berkata:

 هَلْ مَعَكَ مِمَّا جَاءَ بِهِ عَنْ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

_"Apakah ada sesuatu yang dibawa oleh nabimu?"_

Maka Ja'far bin Abī Thālib berkata:

 نَعَمْ,

_"Iya."_

Kemudian raja Najāsyī berkata:

 فَاقْرَأْهُ عَلَيَّ 

_"Bacakan kepadaku."_

Kemudian Ja'far bin Abī Thālib membacakan surat Maryam.

Dan kita tahu bahwasanya surat Maryam, indah kisahnya. Di awal disebutkan tentang kisah Nabi Zakariyyā yang sudah tua,  kemudian sudah lemah, rambutnya sudah memutih dan berkata, "Aku tidak pernah putus asa dari berdo'a kepada Engkau."

Jadi Allāh menyebutkan dua kisah yang menakjubkan.

⑴ Allāh memberikan anak kepada seorang yang sangat tua (Nabi Zakariyyā) istrinyapun mandul (sudah tidak produktif).

Bagaimana bisa memiliki keturunan? Tetapi Allāh mengatakan, "Bisa."

⑵ Kisah Nabi 'Īsā 'alayhissallām.

Bagaimana seorang wanita tidak bersuami tiba-tiba memiliki anak.

Kalau antum baca kisahnya sangat menyedihkan dalam surat Maryam.

Tatkala datang malāikat Jibrīl 'alayhissallām kemudian mengabarkan kepada Maryam bahwasanya dia akan punya anak, kemudian Maryampun hamil lalu menjauh dari kaumnya sampai akhirnya tiba waktu melahirkan dan dia merasakan rasa sakit ketika akan melahirkan dan tatkala pulang ke kaumnya dituduh sebagai wanita pezinah. 

Semua dibacakan oleh Ja'far bin Abī Thālib dan didengar oleh raja Najāsyī.

Kemudian tatkala mendengar bacaan ini raja Najāsyī pun menangis.

Kata Ummu Salamah, "Demi Allāh, Raja Najāsyī menangis sampai air matanya membasahi jenggotnya dan pendeta-pendeta disekitarnyapun ikut menangis sampai air mata mereka membasahi mushaf-mushaf mereka (Injīl-Injīl mereka) tatkala mereka mendengar bacaan Ja'far bin Abī Thālib."

Kemudian raja Najāsyī berkata:

"Sesungguhnya yang saya dengar ini dan apa yang dibawa oleh Nabi Mūsā, sama-sama keluar dari sumber yang sama. Pergilah kalian berdua wahai Amr bin Āsh dan 'Abdullāh bin Rabī'ah. Demi Allāh saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua."

Maka para shahābatpun selamat, setelah dialog yang dilakukan oleh raja Najāsyī dan Ja'far bin Abī Thālib.

Namun 'Amr bin Āsh tidak putus asa, dia mengatakan, "Besok saya akan mencari cara lain."

'Amr bin Āsh cerdas, dia ingin memprovokasi raja Najāsyī agar raja Najāsyī mengusir para shahābat.

Dia mengatakan, "Saya akan kabarkan kepada mereka (Raja Najāsyī) bahwasanya ini, shahābat Muhammad, mengatakan Īsā  itu hamba, ini membuat jengkel orang Nashrāni (raja Najāsyī)."

Orang Nashrāni menganggap Nabi 'Īsā adalah tuhan.

Kemudian keesokan harinya  'Amr bin Āsh dan 'Abdullāh bin Rabī'ah menemui raja Najāsyī dan mengatakan:

"Wahai Raja, sesungguhnya mereka telah berbicara tentang 'Īsā bin Maryam dengan perkataan yang besar. Engkau tanya sendiri wahai raja apa yang mereka katakan tentang 'Īsā bin Maryam?"

'Amr bin Āsh cerdas, dia tidak mengatakan perkataannya, melainkan menyuruh raja Najāsyī bertanya sendiri kepada para shahābat.

Raja Najāsyī penasaran apa yang telah dikatakan tentang tuhannya, maka diutuslah utusan untuk menemui para shahābat.

Dan para shahābat bermusyawarah lagi, waktu pertemuan pertama para shahābat membicarakan masalah muamalah, tidak boleh zinah, tidak boleh memutuskan silaturahmi sedangkan sekarang berbicara tentang aqidah.

"Apa yang harus kita katakan?"

Para shahābat sekarang dalam bahaya, bila Raja Najāsyī marah, mereka pasti diusir, saatnya mereka untuk mujamalah, untuk mudahanah. Tetapi lihat bagaimana para shahābat, mereka tetap santai menjelaskan tentang tauhīd, tidak basa basi dalam hal ini.

Mereka bersepakat, apabila kita ditanya oleh raja Najāsyī, kita mengatakan, "Demi Allāh, kami akan mengatakan sebagaimana perkataan Allāh dan apa yang dibawa oleh Nabi kita."

Kemudian para shahābat datang menemui raja Najāsyī dibawah pimpinan Ja'far bin Abī Thālib.

Kemudian raja Najāsyī bertanya, "Apa perkataan kalian tentang Īsā bin Maryam?"

Kemudian Ja'far bin Abī Thālib berkata,

"Kami berbicara tentang Īsā bin Maryam sebagaimana perkataan Nabi kita, dia adalah hamba Allāh dan rasūlnya dan dia adalah kalimat yang Allāh kirimkan ke dalam rahim Maryam dengan mengatakan: Kun Fayakun."

Kemudian Raja Najāsyī memukulkan tangannya di tanah dan kemudian dia mengambil semacam kayu dan berkata, "'Īsā bin Maryam tidak melebihi hal ini."

(Artinya benar, 'Īsā adalah sebagai hamba dan rasūl-Nya)

Maka pembesar-pembesar Najāsyī tatkala itu menghembuskan nafas (jengkel) maka raja Najāsyī mengatakan, "Pergilah kalian wahai shahābat-shahābat Muhammad, kalian bebas di negeriku."

Inilah dialog yang terjadi antara Ja'far bin Abi Thālib dengan Raja Najāsyī yang menunjukkan bagaimana hasadnya orang-orang kāfir Quraisy, mereka berusaha agar raja Najāsyī memulangkan para shahābat ke Mekkah, namun mereka tidak berhasil.

Dan dikatakan dalam hadīts yang shahīh bahwa Raya Najāsyī kemudian masuk Islām.

Dan tatkala meninggal dunia ternyata anak buahnya masih dalam agama Nashrāni sehingga tidak ada yang menyalātkannya, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyalātkannya dengan shalāt ghāib.

Oleh karenanya di antara keyakinan yang sangat mendasar bahwasanya 'Īsā 'alayhissalām adalah hamba Allāh dan rasūl- Nya, bukanlah Tuhan atau anak Tuhan.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


🖋Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________


Proudly Powered by Blogger.