Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Kamis, 29 Desember 2016

Kajian 64 | Fiqh Shalāt Kusūf Dan Khusūf

by Rory Rachmad  |  in Matan abu syuja' at  29 Desember

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 15 Rabi'ul Awwal 1438 H / 14 Desember 2016 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 64 | Fiqh Shalāt Kusūf Dan Khusūf
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H064
〰〰〰〰〰〰〰

MATAN KITAB

وصلاة الكسوف سنة مؤكدة فإن فاتت لم تقض
ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين في كل ركعة قيامان يطيل القراءة فيهما وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود ويخطب بعدها خطبتين ويسر في كسوف الشمس ويجهر في خسوف القمر.

Dan shalāt kusūf adalah sunnah muakkadah, maka apabila tertinggal tidak perlu mengqadha' atau menggantinya. Dan jumlah raka'at shalāt gerhana matahari (kusūf) dan gerhana bulan (khusūf) adalah 2 (dua) raka'at.

⇒ Disetiap raka'at ada:

- 2 (dua)  kali berdiri yang panjang bacaannya.
- 2 (dua) kali ruku' yang panjang dengan bacaan tasbih (selain sujud).

⇒ Kemudian setelah selesai shalāt, dilaksanakan khutbah dengan 2 (dua)  kali khutbah.

√  Pada shalāt gerhana matahari dibaca dengan sirr (suara perlahan)
√  Pada shalāt gerhana bulan dibaca dengan jahr (suara keras).

➖➖➖➖➖➖➖

SHALĀT KUSŪF DAN KHUSŪF


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله  وبعة

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sekarang kita memasuki halaqah yang ke-64 dan kita masuk pada pembahasan tentang shalāt Kusūf dan Khusūf.

▪ Shalāt kusūf adalah shalāt gerhana matahari.
▪ Shalāt Khusūf adalah shalāt gerhana bulan.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وصلاة الكسوف سنة مؤكدة فإن فاتت لم تقض
ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين في كل ركعة قيامان يطيل القراءة فيهما وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود ويخطب بعدها خطبتين ويسر في كسوف الشمس ويجهر في خسوف القمر.

Dan shalāt kusūf adalah sunnah muakkadah, maka apabila tertinggal tidak perlu mengqadha' atau menggantinya. Dan jumlah raka'at shalāt gerhana matahari (kusūf) dan gerhana bulan (khusūf) adalah 2 (dua) raka'at.

⇒ Disetiap raka'at ada:

- 2 (dua)  kali berdiri yang panjang bacaannya.
-2 (dan)  dua kali ruku' yang panjang dengan bacaan tasbih (selain sujud).

⇒ Kemudian setelah selesai shalāt, dilaksanakan khutbah dengan 2 (dua)  kali khutbah.

√  Pada shalāt gerhana matahari dibaca dengan sirr (suara perlahan)
√  Pada shalāt gerhana bulan dibaca dengan jahr (suara keras).

Shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Diantara shalāt yang disunnahkan adalah shalāt gerhana matahari yang disebut shalāt kusūf dengan huruf ك (kaf)  dan shalāt gerhana bulan atau shalāt khusūf dengan huruf خ (kha).

Hikmah disyariatkan shalāt kusūf dan khusūf, bahwasanya gerhana matahari maupun gerhana bulan adalah salah satu tanda kekuasaan Allāh untuk menakuti hamba-hamba-Nya agar mereka bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan ketahuilah Allāh mampu untuk melakukan segala sesuatu yang Allāh kehendaki.

Oleh karena itu apabila seorang muslim manakala dia merasa takut kepada Allāh dan merasakan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka semestinya dia untuk tunduk bersimpuh dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ جل وعلا يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا كُسِفَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ (رواه أبو داود)

"Sesungguhnya tidaklah terjadi gerhana matahari atau bulan di karenakan kematian seseorang atau pun karena kelahiran orang tertentu, akan tetapi keduanya adalah salah satu tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allāh Jalla Wa 'Ala untuk menakuti hamba-hamba Nya, maka apabila telah kembali bersinar, apabila terjadi gerhana, sinarnya hilang maka  bersegeralah untuk melaksankan shalāt."

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd)

Demikian pula hadīts yang senada diriwayatkan Imām Bukhāri dan Muslim.

▪Hukum Shalāt Kusūf Dan Khusūf

Hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, sebagaimana disebutkan oleh penulis  bahwa ini adalah pendapat dari madzhab Syāfi'i dan seluruh fuqaha.

▪ Waktu Shalāt Gerhana

Waktu shalāt gerhana adalah sejak mulai  gerhana sampai berakhirnya gerhana tersebut.

√ Shalāt tetap disempurnakan sampai selesai, walaupun seandainya gerhana telah selesai dan shalāt belum berakhir.

√ Seandainya shalāt telah selesai dan gerhana belum selesai maka tidak perlu mengulang kembali shalātnya.

Namun kaum muslimin dianjurkan untuk melanjutkan dengan berdzikir dan berdo'a dan beristighfār sampai gerhana tersebut selesai.

▪ Tata Cara Shalāt Kusūf dan Khusūf

Tata cara shalāt gerhana agak sedikit berbeda, karena disetiap raka'at ada 2 (dua) kali berdiri dengan membaca Al Fātihah dan surat dan ada 2 (dua) kali ruku'.

Adapun sujud maka sama dengan shalāt lainnya.

Secara ringkas tata cara shalātnya sebagai berikut :

→ Setelah takbiratul ihram membaca Al Fātihah dan surat yang panjang.
→ Ruku' (membaca tasbih dengan bacaan yang panjang).
→ Bangkit dari ruku' dan membaca rabbana wa lakal hamd.
→ Berdiri kembali dengan membaca Al Fātihah dan tambahan surat dari Al Qurān.
→ Kemudian ruku' lagi yang kedua dengan bacaan yang panjang.
→ Kemudian bangkit dari kedua ruku' (i'tidal).
→ Kemudian sujud.
→ Kemudian duduk diantara dua sujud.
→ Kemudian sujud kembali.
→ Kemudian  bangkit dari sujud untuk raka'at yang kedua.

⇒ Dan pada raka'at yang kedua dilakukan hal yang sama.

⇒ Pada raka'at kedua panjang bacaan tidak sepanjang seperti dalam raka'at pertama, begitu juga pada saat ruku' di raka'at kedua panjangnya tidak seperti di raka'at pertama.

→ Kemudian tasyahud lalu salam.

Hal ini berdasarkan hadīts dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, dimana beliau menjelaskan:

عنْ عَائِشَةَ –رضي الله عنها- أَنَّهَا قَالَتْ: «خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ بِالنَّاسِ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوع الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأولَى، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدِ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ الله وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا الله وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا» (رواه البخاري).

Dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā  berkata:

Manakala terjadi gerhana dizaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka beliau shalāt bersama orang-orang (berjama'ah), beliaupun berdiri dan memperlama bacaannya, kemudian ruku' dan memperlama bacaannya.

Kemudian berdiri lagi dan memperlama bacaannya, namun tidak selama yang pertama, kemudian ruku' dan memperlama bacaannya namun tidak selama yang ruku' yang pertama.

Kemudian sujud dan memperlama sujud, kemudian beliau melakukan hal yang sama pada raka'at kedua.

Kemudian selesai shalāt dan matahari telah tampak kembali, kemudian beliau berkhutbah, beliau berkuthbah memuji Allāh Subhānahu wa Ta'āla kemudian berkata:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda kekuasaan Allāh, tidaklah terjadi gerhana dikarenakan matinya atau lahirnya seseorang, apabila kalian melihat itu (gerhana) maka berdoalah kepada Allāh, bertakbirlah, dan shalātlah kalian dan bersedekahlah."

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Oleh karena itu apabila terjadi gerhana bulan atau matahari, maka diseru  الصلاة جامعة (shalāt berjama'ah).

▪ Sunnah-sunnah sholat gerhana:

1. Sholat berjama'ah, namun apabila sendirian tetap sah.

2. Hendaknya di masjid, dan tidak mengapa para wanita untuk hadir mengikuti, namun di luar masjid pun tidak mengapa.

3. Memperlama sholat baik manakala berdiri, ruku’dan sujud selama gerhana, namun apabila telah terang atau hilang gerhana, bisa dipercepat.

4. Rakaat kedua lebih pendek dari rakaat yang pertama. Dan berdiri yang kedua lebih pendek dari pada yang pertama.

5. Membaca secara jahr (keras) baik pada shalat kusuf maupun shalat khusuf, ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah.

Adapun pendapat Syafi'iyah sebagaimana disebutkan penulis di dalam matan Abu Suja', bahwasanya membaca sir (perlahan) pada shalat kusuf atau gerhana matahari.

6. Khutbah setelahnya dan mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allāh, dan dorongan untuk berbuat keta'atan dan meninggalkan keburukan.

7. Memperbanyak berdo'a dan mohon ampun kepada Allāh.

8. Diperbolehkan mengangkat tangan pada saat berdoa, sebagaimana hadits Abdurrahman bin Samurah.

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah ini, semoga bermanfaat.


 وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم, وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ الله رَبِّ الْعَالَمِينَ
__________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

⑴ Pembangunan dan Pengembangan Rumah Tahfizh
⑵ Support Radio Dakwah dan Artivisi
⑶ Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia

📝 Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
-----------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.