Kamis, 05 Januari 2017

Akhlak Yang Buruk dan Al Bukhl / Pelit Bagian 3

by Rory Rachmad  |  in Kitab Jami' at  05 Januari

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 08 Rabi'ul Akhir 1438 H / 06 Januari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 18 | Akhlak Yang Buruk dan Al Bukhl/Pelit (Bagian 3/3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H18-3
~~~~~~~

AKHLAK YANG BURUK DAN AL BUKHL/PELIT (BAGIAN 3/3)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masih masuk dalam penjelasan dari hadits ke-18. Poin berikutnya akan kita bahas yaitu apa definisi dari bukhl (pelit). 

Banyak definisi yang disebutkan oleh para ulama tentang pelit, namun mereka bersepakat pada satu poin yaitu diantara bentuk pelit adalah tidak menunaikan nafkah yang wajib. 

Dia pelit, harusnya dia memberi nafkah ke anak istrinya nama namun kurang dalam memberi nafkah padahal dia mampu. Ini namanya pelit. 

Bahkan sebagian ulama juga menambahkan termasuk nafkah mustahab.

Dia mampu, kita berbicara tentang orang yang mampu.

Bukan orang yang kalau sudah bayar zakat berarti dia sudah tidak pelit.

Dia sudah bayar zakat, alhamdullilah, tapi kenapa dia tidak memberikan kepada tetangganya, kepada orang miskin di depannya, sementara dia mampu?

Maka para ulama juga mengatakan: taksir binnafaqtil mustahabat (kurang dalam memberikan nafkah yang mustahab) padahal dia mampu. Itu juga dikatakan orang yang pelit. 

Demikian juga para ulama menambahkan:

 وآدم توسعة على الأهل والأولاد

Orang pelit terhadap istri dan anaknya.

Dia mampu tapi tidak memberi kelapangan kepada anak istrinya. 

Oleh karenanya dalam Al Quran Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ الله 

"Hendaknya seorang yang diberi kelapangan dia berinfak dengan kelapangannya, adapun jika seorang ternyata disempitkan rezekinya maka dia berinfak sesuai kemampuannya." (QS Ath Thalāq: 7)

Ada orang kaya raya, kenapa dia pelit kepada anak istrinya?

Harusnya dia memberi kelapangan kepada mereka karena kata Allāh: 

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ

"Hendaknya seorang yang diberi kelapangan dia berinfaq sesuai dengan kelapangannya."

Namun ingat Ikhwān dan Akhwāt  yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan berarti kalau seseorang agar tidak pelit kemudian dia menghamburkan uang-uang sampai pada tingkatan mubazir, tentunya tidak boleh. 

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (*) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

"Janganlah kalian berbuat tabdzir. Sesungguhnya orang yang melakukan tabdzir (mubazir) itu teman-temannya syaithan."

(QS Al Isrā: 26-27)

==> Karena syaithan ingin kita menghamburkan uang tidak pada tempatnya. 

Makanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla menguji ibadurrahman (orang-orang yang dipuji oleh Allāh)  pada surat Al Furqan (ayat 67). Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla diantara ciri mereka: 

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

"Yaitu orang-orang yang takkala mereka berinfaq mereka tidak mubadzir (tidak berlebih-lebihkan, tidak israf) namun juga tidak pelit, tapi mereka diantara keduanya."

Maka seseorang hendaknya berusaha menghindarkan dirinya dari sifat pelit namun juga jangan sampai terjerumus dalam sikap mubazir. 

Ini yang berkaitan dengan pelit. 

Adapun perangai yang kedua yaitu kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam سُوْءٌ خُلُقُ  (akhlak yang buruk). 

Aklak yang buruk itu umum. Segala perkara yang merupakan perangai yang buruk maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya terutama yang berkaitan dengan muamalah terhadap orang lain. 

Ingat, kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada Rasulullah shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ 

"Seandainya Engkau Muhammad adalah seorang yang kasar (perkataannya keras dan kasar) dan hatinya keras, maka orang-orang akan berpaling menjauh darimu." (QS Ali Imrān: 159) 

Padahal orang-orang di sini adalah para sahabat, kalau Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam orangnya sikapnya keras dan mulutnya kasar maka para sahabat yang begitu mulia akan lari dari nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Oleh karenanya, ini menunjukkan bahwasanya di zaman sekarang ini kita sangat butuh untuk berhati lembut dan juga untuk bersikap lemah lembut. Apalagi yang kita hadapi bukanlah orang-orang yang setara dengan para sahabat. 

Maka terutama para da'i, para Ikhwān dan Akhwāt yang mereka menyeru pada sunnah, hendaknya mereka berhias dengan akhlak yang mulia. 

Akhlak yang mulia sangat nampak pada lisan. 

Oleh karenanya seseorang hendaknya berusaha untuk berkata-kata yang lemah lembut, tidak mudah menyakiti hati orang lain dan juga berusaha untuk berakhlak mulia dalam segala hal.

Dan akhlak mulia tentunya, sebagaimana pernah kita jelaskan, bisa diusahakan. 

Akhlak yang buruk bisa ditinggalkan dan akhlak yang baik bisa diusahakan. 

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam: 

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً

"Barang siapa yang berusaha untuk sabar maka Allah akan menjadikan dia penyabar." (HR Bukhari nomor 1469)

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

"Aku menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang memperindah akhlaknya."

Berarti akhlak yang indah bisa diusahakan.

Seseorang hendaknya berusaha menghindarkan dirinya dari su'ul khuluq (perangai yang buruk). 

--> Jika seseorang tahu bahwa dirinya pemarah maka dia lawan akhlak tersebut.
--> Jika seseorang tahu dia mulutnya ceplas-ceplos, suka menyakiti orang lain, maka dia lawan akhlak tersebut.
--> Jika seseorang tahu dia pelit, maka dia lawan akhlak tersebut.

Dan berdoa agar Allah menghiaskan kepada dia akhlak yang mulia.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishshawab.

Demikian penjelasan kita  tentang hadits ke 18.
__________

Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh 
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di : 

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


Proudly Powered by Abu Uwais.