Al Imām Az Zuhriy rahimahullāh ta'āla: في علم المغازي علم الآخرة و الدنيا "Dalam ilmu sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ada ilmu akhirat dan ilmu dunia."

Sabtu, 21 Januari 2017

Kajian 71 | Ibadah Shalāt Jenazah

by Rory Rachmad  |  in Matan abu syuja' at  21 Januari

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 22 Rabi'ul Akhir 1438 H / 20 Januari 2017 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 71 | Ibadah Shalāt Jenazah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H071
〰〰〰〰〰〰〰

IBADAH SHALĀT JENAZAH


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuki halaqah ke-71 dan membacakan atau mengikuti apa yang ditulis oleh penulis matan Abū Syujā tentang tatacara "Ibadah Shalāt Jenazah"


قال المؤلف رحمه الله:

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويكبر عليه أربع تكبيرات: يقرأ الفاتحة بعد الأولى))

((Kemudian bertakbir di dalam shalāt jenazah sebanyak empat takbir, kemudian membaca surat Al Fāthihah setelah takbir yang pertama.))

Perlu diketahui sahabat sekalian, bahwasanya membaca surat Al Fāthihah adalah wajib di dalam shalāt jenazah. Dan ini menurut madzhab Syāfi'iyah dan Hanābilah. 

Dalīlnya adalah berdasarkan hadīts Thalhah bin Abdillāh bin Auf radhiyallāhu Ta'āla 'anhum tatkala beliau berkata: 

صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ فَقَالَ: لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ

"Saya shalāt dibelakang Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma tatkala shalāt jenazah, maka beliaupun membaca surat Al Fāthihah dan beliau mengatakan agar mereka mengetahui bahwasanya surat Al Fāthihah adalah sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."

(Hadīts Riwayat Bukhāri No. 1335)

قال المؤلف رحمه الله:

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بعد الثانية))

((Kemudian shalāt atas Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (bershalawat atas Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) setelah takbir yang kedua.))

Dan membaca shalawat, sebagaimana kita membaca shalawat pada saat duduk tahiyat akhir di dalam shalāt kita. 

قال المؤلف رحمه الله:

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويدعوا للميت بعد الثالثة))

((Kemudian mendo'akan mayit setelah takbir yang ketiga)).

Do'a kepada mayit ini termasuk rukun di dalam shalāt jenazah, berdasarkan madzhab Hanābilah dan Syāfi'iyah bahkan madzhab Jumhūr ulamā. 

Dalīlnya hadīts dari Abū Hurairah manakala beliau mendengar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْجَنَائِز فأخلصوا لَهَا الدُّعَاءَ 

"Apabila kalian menshalāti jenazah hendaklah kalian mendo'akan dengan ikhlās mayit tersebut."

(Hadīts Riwayat Abū Dāwūd No. 3197, Ibnu Mājah No. 1497, Al Baihaqi No. 4/40, Ibnu Hibban No. 3077)

Penulis rahimahullāh memberikan contoh do'a yang disebutkan di dalam matan. 

((“اللهم هذا عبدك وابن عبديك خرج من روح الدنيا وسعتها ومحبوبه وأحباؤه فيها إلى ظلمة القبر وما هو لاقيه كان يشهد أن لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك وأن محمدا عبدك ورسولك وأنت أعلم به منا اللهم إنه نزل بك وأنت خير منزول به وأصبح فقيرا إلى رحمتك وأنت غني عن عذابه وقد جئناك راغبين إليك شفعاء له. اللهم إن كان محسنا فزد في إحسانه وإن كان مسيئا فتجاوز عنه ولقه برحمتك رضاك وقه فتنة القبر وعذابه وافسح له في قبره وجاف الأرض عن جنبيه ولقه برحمتك رضاك وقه فتنة القبر وعذابه وأفسح له في قبره وجاف الأرض عن جنبيه ولقه برحمتك الأمن من عذابك حتى تبعثه آمنا إلى جنتك برحمتك يا أرحم الراحمين”.))

((Yā Allāh, dia adalah hambamu dan anak dari hambamu.

Dia telah keluar dari ruhnya dunia dan luasnya dunia dan juga telah meninggalkan orang yang dia cintai di dunia menuju kepada kegelapan (kuburan) dan apa yang akan dia temui di kuburan tersebut. 

Dia dulu bersyahadat bahwasanya tidak ada ilah kecuali Engkau dan tidak ada sekutu bagi Engkau, dan juga Muhammad adalah hamba-Mu dan rasūl-Mu, dan Engkau Maha Mengetahui tentang keadaannya daripada kami.

Yā Allāh, dia telah kembali kepada-Mu dan Engkau adalah sebaik-baik tempat kembali dan dia sangat membutuhkan rahmat Mu dan Engkau tidak membutuhkan untuk mengadzab dia Yā Allāh.

Dan kami datang dan berharap menjadi syafā'at bagi dia.

Yā Allāh, apabila dia sebagai orang baik, maka tambahkanlah kebaikan kepada dirinya, dan apabila dia memiliki keburukan maka ampunilah keburukannya.

Dan berikan dia rahmat-Mu dan ridhā-Mu Yā Allāh.

Dan jagalah dia dari fitnah kubur (ujian kubur) dan adzabnya. Luaskanlah kuburnya Yā Allāh, dan lapangkanlah bumi yang menghimpitnya.

Dan dengan rahmat-Mu, berikanlah keamanan dari adzab-Mu Yā Allāh, sampai dia masuk kedalam surga Mu.

Semoga Engkau memberikan rahmat kepada dia, wahai Maha Pemberi Rahmat.))

Ini adalah salah satu do'a yang dicontohkan oleh penulis sebagaimana sudah disebutkan pada halaqah sebelumnya, bahwasanya yang paling afdhāl adalah do'a yang warid dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Adapun apabila ada do'a yang lain maka tidak mengapa selama kita mendo'akan mayit tersebut. 

قال المؤلف رحمه الله:

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويقول في الرابعة: “اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله”. ويسلم بعد الرابعة.))

((Setelah takbir yang keempat mengucapkan: Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan kami terhalang dari pahalanya, dan jangan jadikan kami terfitnah setelahnya dan ampunilah kami dan juga ampunilah dia.

Kemudian setelah itu salam.))

Di sini para ulamā berselisih pendapat, tentang apakah do'a setelah takbir yang keempat itu masyru' atau tidak. Adapun do'a kepada mayit tempatnya adalah setelah takbir yang ketiga. 

Adapun takbir yang keempat di sana ada perbedaan pendapat. 

• Pendapat Pertama |

Bahwasanya disyariatkan atau disunnahkan berdo'a untuk mayit setelah takbir yang keempat atau sebelum salam. 

Ini adalah pendapat Syāfi'iyyah, Mālikiyyah, dan dipilih oleh Syaikh Utsaimin dan juga Imām Asy Syaukani, Syaikh Albāniy dan lain-lain. 

Dan ini sebagaimana disebutkan di dalam matan, diantara do'anya: 

اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله

• Pendapat Kedua |

Bahwasanya tidak ada do'a setelah takbir yang keempat. 

Ini adalah pendapat Hanābilah. 

Jadi setelah takbir yang keempat kemudian diam sebentar kemudian salam. 

Dan ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz sebagaimana yang sudah disebutkan di dalam ringkasan shalāt sebelum itu. 

Mengenal jumlah salam pada shalāt jenazah maka di sana ada dua pendapat dari para ulamā. 

Apakah satu salam ataukah dua salam? 

• Pendapat Pertama | Mengatakan bahwasanya sunnahnya dua salam. 

Ini adalah pendapat Hanāfiyyah dan juga Syāfi'iyyah, berdasarkan dari Hadīts Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu yang disebutkan di situ bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan salam sebanyak dua kali salam. 

Dan juga mereka mengatakan, ini adalah qiyas terhadap seluruh shalāt, bahwasanya shalāt jenazah disebut shalāt, maka dia sama dengan shalāt yang lain, dan shalāt yang lain disunnahkan dua kali salam. 

• Pendapat Kedua | Bahwasanya salam cukup sekali salam. 

Ini adalah pendapat Mālikiyyah dan juga sebagian para salaf dan pendapat ini dipilih oleh Syaikh Utsaimin dan juga Syaikh Bin Baz di dalam ikhtiar fiqih mereka (pilihan fiqih mereka). 

Dalīlnya diantaranya:

⑴ Atsar dari Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma bahwasanya beliau tatkala melaksanakan shalāt jenazah, maka beliaupun salam satu kali salam yang ringan. 

⑵ Dalīl aqli bahwa shalāt jenazah itu merupakan shalāt yang diringankan, sehingga tidak dilakukan seluruh kewajiban-kewajiban shalāt sebagaimana yang lain. Jadi tidak bisa diqisaskan. 

Oleh karena itu, di dalam salampun diringankan menjadi satu kali salam. 

Tentang hukum salam itu sendiri di sini adalah termasuk rukun di dalam shalāt jenazah. 

Dalīlnya dari sunnah secara umum hadīts yang mengatakan: 

وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

"Dan sebagai penghalalnya (penutupnya) adalah taslim (salam)."

(Hadīts Riwayat Tirmidzi No. 238, Ibnu Mājah No. 276)

Kemudian, hadīts Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā yang menyebutkan tentang shalāt Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وكان يختم الصلاة بالتسليم 

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menutup shalāt dengan taslim (salam)."

(Hadīts Riwayat Muslim No. 498)

Dan ini pendapat Jumhūr para ulamā dan juga pendapat Syāfi'iyyah, Hanābilah dan sebagian besar ulamā Fiqih lainnya. 

Demikian yang bisa disampaikan pada pertemuan ini, semoga bermanfaat. 


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
__________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh 
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di : 
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
------------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.